Mau flasback lagi?

Maaf jika ada yang gak suka, dan Sakin senang banget kalau ada yang seneng.

Keep respect guys

2009 words

"Chu..."

"Chu kun?"

"CHUUYA BANGUN!!"

Lelaki kecil itu terperangah terbuka matanya. Ia langsung memandang asal suara tepat di sampingnya, seorang wanita muda sepantarannya menatapnya gelisah. Ia juga yang menyebabkan lelaki kecil bernama Chuuya ini bangun.

"Himawari san? Kenapa kau disini? Baha-ssthh" suaranya berdesis, tangannya beralih ke lengan lainnya untuk menangkap rasa sakit yang belum kunjung pudar.

Bocah mungil bersurai pink itu ikut gelisah, ia menyobek bagian bawah dreesnya hingga lututnya tampak, dan melilitkan kainnya pada lengan kecil bocah tanpa topi itu.

"Aku tidak tau tanganmu juga ikut terluka. Sebenarnya apa yang terjadi?" Seraya membetuli posisi kain yang terus dililit itu, Chuuya menunduk, memikirkan apa boleh sesuatu ini diketahui oleh orang luar.

Baiklah, Chuuya akan mencoba.

"Aku melihat, Dazai sedang disiksa tadi"

Kepala perempuan itu mendongak melihat iris biru Chuuya tak sengaja.

"Apa? Oleh siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan bos kami. Dia di seret paksa masuk kedalam ruangan gelap, dan hanya terdapat sebuah ranjang porselen, beberapa alat bedah dan alat lainnya tak kuketahui"

Hima melemas. Kedua tangannya tadi untuk membantu Chuuya, jatuh seketika. Ia menatap nanar temannya yang juga ikut kahwatir. Bahkan Chuuya yang saat ini sedang terduduk, tak memperdulikan rasa sakitnya lagi dan bergetar setiap kali mengingat saat ia membela teman separtnernya itu.

"Kenapa tak kau hentikan Chu kun?!"

"Aku mencoba!"

Chuuya menoleh keras. Sehingga tuan putri Edogawa itu mundur sedikit kebelakang.

"Aku telah mencoba seluruh cara yang kubisa Himawari san. Tapi mereka terlalu kuat, sementara aku hanyalah anjing kecil Port Mafia!"

"Tidak benar! Chu kun adalah Chu kun, anjing adalah anjing! Aku tak pernah mengganggap Chu kun seperti itu, aku bersumpah. Jangan pernah menganggap dirimu rendah, Chu kun!"

Kini Himawari yang bertindak. Ia sekarang tepat di depan Chuuya, mengulur tangannya untuk mengelap air mata yang jatuh dari sudut mata sahabatnya, lalu membuat temannya kembali tenang.

"Apa yang akan mereka lakukan? Jika itu sangat buruk, maka aku akan menjemput Dazai san" Hima bertanya.

"Aku tak tau. Ini begitu aneh, untuk apa bos kami merawat Dazai itu, padahal aku melihatnya baik baik saja"

"Untuk sekarang mungkin ia tak baik baik saja. Aku akan pergi menemuinya" Ujar Hima, keluar dari rumah kecil disusul Chuuya mengekor dibelakang.

Sayangnya, saat mereka baru saja melangkahkan kaki keluar, sekelebat banyangan muncul dan mengitari mereka berdua. Chuuya dan Hima panik. Dan kepanikan Chuuya bertambah saat salah seorang pria tinggi berjas itu menusukkan pisau ke perut temannya, dan membuat Himawari terbaring bersimbah darah di tanah kering.

Malam begitu gelap. Pria berrambut jingga itu hanya melihat temannya, berusaha menghentikan usaha kekerasan salah seorang pria utusan atasannya kepada bocah oranye ini. Namun, setelah di beri sesuatu berujung lancip yang tertusuk di lengan tuan muda Nakahara, iapun tertidur.

Tak tau lagi, apa yang akan dilakukan bawahan bos Port Mafia itu padanya, dan lebih buruknya pada teman perempuannya.

Little Hima POV

Pria itu pernah menggunakanku. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Bahkan hampir setiap malam aku terus gelisah bermimpi hal yang sama. Sebuah mimpi yang sama, mimpi buruk yang membuatku bertingkah seperti orang gila setiap aku terbangun.

Terasa nyata, mimpi itu, dimana semua pakaianku dilucuti, dipertontonkan berjam jam di dekat jendela terbuka, sedangkan salju menghujam. Diriku pingsan, berkali kali.

Aku percaya, ia pasti telah menodaiku. Sama seperti perempuan mungil bernama Elise. Teman satu nasib denganku.

Demo...

Aku memasuki ruangan, berpintu besar dan berinterior mewah. Beberapa orang berpakaian serba hitam hanya mengantarku hingga di luar pintu. Aku dipaksa masuk. Dengan tangis, aku memekik kuat. Menggapai perapian di ujung ruangan yang besar ini, berharap siapapun itu, bisa menyelamatkanku keluar dari neraka ini.

Diluar sana sedang hujan. Lebat. Sedangkan aku hanya bermodalkan pakaian dalam. Tak lebih. Karna pria itu, telah menodaiku tanpa henti kemarin malam.

Aku kembali menangis. Bantuan yang kuharapkan tak kunjung datang. Kakakku, ayahku, temanku, siapapun itu. Aku benar benar sendirian diruangan gelap ini.

Aku menoleh kesamping, dimana ada sebuah logam panas yang terbakar dalam api. Aku mempertimbangkan.

Aku akan bunuh diri.

Tanganku bergerak, mengambil ujung tongkat itu lalu mengangkatnya, mendekatkannya ke depan tenggorokanku. Sekali lagi aku menutup mataku pasrah dan menangis. Setidaknya aku masih berharap jika ada orang baik yang datang menolongku.

Seseorang datang, besi panas itu langsung terhempas jauh begitu tangan lainnya menepis jauh dariku. Aku membalikkan tubuh, dan melihat seorang pria sepantaran denganku, memakai baju hijau seperti orang selesai operasi besar, juga kantong infus yang menggantung.

Wajahnya oval, dibingkai dengan surai selebat kopi, juga perban yang membalut dirinya. Tanpa emosi. Begitu datar.

Aku kenal pria kurus itu, dia adalah

"DAZAI SAN!!"

Panik. Aku tiba tiba terduduk semangat, kepalaku menoleh ke segala arah tergesa gesa mencari sesuatu. Aku berkeringat dingin, entah sejak kapan terjadi. Sampai pada seulur tangan menyapa bahuku, aku mengerjap.

"Hima chan, tenanglah kau sudah aman"

Seorang wanita. Surai merahnya di sanggul rapi kebelakang, memakai yukata bercorak bunga kamelia terpampang di kiri dadanya, dan tak lupa senyuman yang menghiasi. Ia memegangi bahuku lembut, dan melepaskannya saat tubuhku mulai menenang. Aku berhela nafas.

"Kau aman. Tidak ada yang perlu di cemaskan" ia meneruskan kalimatnya. Tampak sekali dari aromanya yang hangat dan menenangkan.

"Ano, di dimana aku? A, anda siapa?" Aku bertanya malu malu.

"Mhm, sebelum kau menanyakan itu, alangkah lebih baiknya lukamu kurawat dulu"

Kalimatnya membuatku menyadari sesuatu yang membuatku tak sadarkan diri berhari hari. Aku mendongak ke bawah, dan merasakan perban yang melilit rapi di sekitar perutku. Anehnya, tak ada rasa sakit. Seakan tak pernah ada luka tembakan disana.

"Anda yang..."

"Namaku Kouyou. Secara singkat kau bisa memanggilku Ane san. Kau gadis manis-"

Ia mencubit pipiku dan tertawa tenang.

"-kau ada di rumah perawatanku. Chuuya ada di kamar sebelah. Baik baik ya"

Ia berdiri, melepaskan cubitannya dengan menciumiku hangat lalu pergi ke salah satu meja terdekat. Mengambil beberapa peralatan kurasa.

Aku menunduk, melihat kedua tanganku yang terperban.

"Bagaimana dengan Chu kun? Dazai san?"

"Chuuya hanya tetidur, ia trauma besar karena bawahan Mori menyuruhnya untuk membunuh dirinya sendiri..." ia mengangkat sesuatu jarum, lalu mengecek kadar di dalamnya dengan memencetnya keluar berkali kali. Lalu menatapku tersenyum. Tapi itu menyeramkan bagiku, aku benci jarum suntik.

"Tapi tenang saja, ia baik baik saja. Kau juga, Hima chan"

Aku melihatnya nanar. Bukannya takut, tapi aku benci. Meskipun aku tau, ada yang ia sembunyikan dari tadi.

"Dazai san..."

"Ini protein. Kau sudah koma selama seminggu lebih, dan belum menerima apa apa selain gizi infus"

"Tapi, Dazai san..."

"Hima chan, kau tidak takut dengan jarum suntikkan?" Ia mendekatiku, duduk.

"Dazai..."

"...Nah, aku tau kau pemberani, mari"

"DAZAI SAN!!!"

Hening, aku meneriakinya keras. Matanya membulat, pupilnya mengecil terkejut. Mulutnya sedikit terbuka masih memandangi terkejut tak berkesudahan. Aku tersengal sengal, meneriaki dengan keras seperti tadi membutuhkan tenaga yang banyak seperti diriku yang baru sadar dari koma.

"Aku tau, Ane san, kau menyembunyikan sesuatu. Aku tau, Chu kun tau, Dazai san sendiri juga. Ia butuh pertolongan kami" aku meluruskan suasana, dengan ia yang masih terdiam.

"Aku tau ini lancang, tapi inilah ketetapanku bersama Chu kun. Kami kemari, untuk mencari tau apa yang terjadi pada Dazai san, teman kami"

Aku ngotot, terus berusaha untuk menyakinkan perempuan dewasa bersikap ramah dan anggun ini. Tak berapa lama setelahnya, ia menunduk tersenyum, mengerti.

"Ikut aku"

Ia berdiri kembali, tak jadi menyuntikkan alat mematikan itu. Jika ia menuju pintu keluar, maka aku akan mengikuti sesuai apa yang dikatakannya tadi. Kami berada diluar, tempat dimana semua orang berlalu lalang..

Di belakangnya, aku mengikuti setiap langkahnya yang menyusuri lorong. Baru beberapa langkah keluar ruangan, tubuhku tanpa sengaja menabrak seorang wanita memakai baju putih dokter, bersurai ungu gelap, dan memakai jepit kupu kupu kuning emas. Wajahnya yang cerah, tersenyum padaku.

Maaf, katanya. Tampaknya ia adalah dokter muda. Wajahnya tampak sekali kalau ia berumur 3 tahun lebih tua daripada aku yang berumur 13 tahun.

Hampir aku kehilangan Kouyou Ane san, ia memandangku memastikan, dan menyuruhku masuk duluan ke pintu yang tak berbeda dari pintu ruanganku. Aku membuka kenopnya, memasukinya dan terdiam melihat kedua lelaki mungil di dalamnya.

Chu kun sedang duduk mengangkat tangannya di atas kasur, melamun. Sedangkan Dazai san yang tertidur memakai katub oksigen di wajahnya, perban yang tak wajar, selang berbelit belit, dan alat besar yang mengerumuninya.

Aku langsung berlari, memanggil Chu kun yang masih melamun.

"Chu kun!! Chu kun!!" Seru ku, ia menoleh. Sempat tersenyum kecil, berdiri lalu menyambut tanganku yang hampir memeluknya.

"Kau tidak apa apa? Bagaimana dengan Dazai san" ucapku, memandangnya kasihan.

"Kau bisa melihatnya. Bagamana denganmu, kau baikkan?" Tanyanya cemas. Tampak sekali dari cara ia memegang pergelangan tanganku.

Aku mengangguk. Lalu menatap menoleh kepada pria lainnya yang tertidur di ranjang. Aku menyelinap duduk di kursi yang tak tadi diduduki Chu kun, lalu kembali melihat Dazai.

Wanita dewasa itu bergerak, aku bisa mendengar langkah kakinya yang lantai.

"Ada apa Wappa? Bukannya tadi Dazai sudah bangun"

Aku menoleh kebelakang, melihat Chu kun bersama Kouyou.

"Memang. Atau memang banyak waktu yang terbuang. Saat bangun tadi, Dazai menggelepar kesakitan dan salah seorang dokter muda datang dan menyuntikan semacam cairan." Chu kun memandang Dazai san nanar. Tampaknya bukan hanya aku yang sangat kahwatir sekarang.

"Baiklah. Wappa, apa tidak apa apa aku menitipkan Dazai kepada kalian? Ada seseorang yang harus kutemui"

Kami berdua memandangnya. Lalu mengangguk saling tatap. Perempuan beryukata itu tersenyum hangat lalu meninggalkan ruangan. Chu kun juga, tapi ia mengambil salah satu kursi di pojokan dan membawanya disampingku. Ia mempersilahkanku untuk duduk.

"Kenapa, kenapa Dazai san bisa jadi seperti ini? Tidak bisa dipercaya" itu perkataanku. Jujur saja saat mengatakan itu, aku sedikit bergetar menahan tangis.

Chu kun memegang bahuku, "aku menemukannya tak jauh dari markas Mafia, dibawah gedung tinggi itu"

Ia kembali menengadahkan kepalanya kearah teman kami. Wajahnya tenang, pucat dan sedikit mengkhawatirkan. Surai coklatnya menyebar memenuhi bantal.

"Mungkin Dazai si bodoh ini terjun dari atas karena sesuatu"

Aku menyangkal, "ah masa?! Dazai san saja pernah terjun dari atas papan kolam berenang untuk berenang!"

Tuk!

"Ittai!! Mo..Chu kun!"

Ia memukul kepalaku dan dengan reflek aku memegangi ujung kepalaku yang berdenyut sakit.

"Itu wajar. Dia itu manusia tanpa jenis yang mesum"

"Oi, siapa manusia tanpa jenis mesum itu?"

Kami membelalak. Suara itu bukanlah suara kami berdua atau suster yang masuk kemari. Aku menolehkan kepalaku 50 dan bertemu si pemilik netra chestnut yang sedang memekarkan bunganya.

Dazai san sudah siuman.

"O oi Dazai, kau tak apa apa?!" Chuuya panik.

Tapi Osamu tak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke samping melihatku. Aku yang masih terdiam.

"Aku bertanya, siapa manusia tanpa jenis yang mesum itu?" Dazai tetap melihatku, walaupun jelas jelas kalimat tanyanya untuk Chu kun. Aku terdiam, membentuk huruf o di mulutku.

"Siapa? Jelas jelas itu k..."

"Mori Ogai!"

Diam menjadikan waktuku untuk berpikir. Diam meresapi arti kalimat dan gestur lengkap dengan mimik yang Dazai san berikan. Dan diam untuk memahami setidaknya secuil dari masa masa kritis bocah kopi ini yang direbut secara paksa oleh seseorang yang haram untuknya.

Luka luka di seluruh tubuhnya telah menjadikan saksi tetap untuk Mori Ogai atas perbuatan illegal, sangat illegal pada anak kecil seperti Dazai san! Tak bisa dibohongi, hanya dokter berpengalaman ataupun spesialis bedah yang bisa menjahit luka operasi serapi itu. Tentu saja, ada sekitar belasan luka jahit besar di perut, dada, lengan, dan paha temanku.

Sekarang aku mengerti, kenapa Dazai san selama ini memakai seluruh perban di tubuhnya, menutupi kenyataan sadis yang terpaksa di terimanya, menjadi teman hingga akhir hayatnya.

Sama sepertiku, Dazai san, dan aku... kami sama sama sang tikus percobaan bagi raja di lingkungan bawah tanah.

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mempir di FanfiDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)