"Kau baik baik saja?" Ucap Hima kahwatir setelah melihat rupa anak itu. Apalagi matanya.
Q terdiam. Lalu menoleh kemana arah tangan Hima menyentuh lengannya, dan tersenyum padanya.
"Seharusnya kau tak menyentuhku" dia tersenyum, kian mendalam.
"Dazai berhenti tolol! Hei, jika kau lari lagi, aku benar benar akan menendangmu!"
"Kakimu pendek, tak bisa menyentuh kepalaku"
"Sial!"
Lelaki lebih pendek itu mempercepat langkahnya dan berhasil membongkar opini Dazai.
Tapi melihat Dazai yang tak kunjung memberikan respon berdiri atau apapun, Chuuya kecil mulai curiga dan menuruni tangga untuk berjongkok memeriksa temannya itu. Walaupun ada rasa gengsi, rasanya tidak lengkap kalau pria jingga ini tak menolong.
Ia mendekati Dazai dan memegangi punggungnya curiga, "oi, kau tak apa apa?"
Pria kopi merespon, kakinya bertumpu dan duduk masih setengah membungkuk, sedangkan satu tangannya memegangi hidungnya yang memerah, dan mengalir darah.
"Chu kun, sudah kubilang saya alergi dengan wajahmu, makanya saya jadi mimisan" tutur Dazai.
"Baka!" Kepalan tangan kanan Chuuya terlempar, tepat menimbulkan lebam di pipi kiri temannya.
Dan bertepat dengan itu, sebuah sofa berukuran jumbo terbang dengan kecepatan tinggi menghantam Chuuya dan Dazai. Keduanya terlempar cukup jauh dan membuat lelaki mungil berjaket navy itu berteriak sakit pada kaki kanannya yang tertimpa pinggiran sofa, terkilir.
Keringat berjatuhan dan makian sakit ia luapkan saat rasa sakit itu menjalar, beresiko membuat kepalanya melayang. Tapi iris safirnya mengecil kala melihat darah yang merembes dari ujung sofa. Ia berusaha sekuat tenaga memindahkan sofa berdebu itu untuk menyelamatkannya dan Dazai yang hanya tampak kakinya saja di mata Chuuya.
Sofa terpindah dan ia melihat temannya duduk kesakitan memegang tangan dan kaki kanannya terkoyak. Sungguh, tangannya itu bersimbah darah, bahkan daging kemerahan yang masih segar terekspos jelas.
Chuuya mendekati, dan mengkoyakan jubah jas yang sebelumnya ia pakai, mengambil kayu kecil di dekat sana-bekas sofa yang rusak terlempar, dan memelilitkan kain itu membuat gips darurat di tangan temannya.
Chuuya panik, walau ia harus tenang bagaimanapun situasinya. Ia tau penanganan seperti ini dari bos besarnya sendiri, karena misinya untuk melindungi Dazai, ia harus wajib mempelajari teknik medis seperti ini. Sementara terus menerus melakukan penanganan pertama pada tubuh temannya, Chuuya berkali kali membentak temannya, menasehatinya untuk tidak lebih ceroboh. Wajah bersihnya berkali kali memandang Dazai Osamu.
"Chu kun, saya tau kau mencemaskan saya, tapi sudah saya bilang, saya alergi dengan wajahmu" ucap Dazai datar. Hanya saja kata pertamanya dimainkan secara innocent.
"Berisik! Sudah kubilang, aku geli mendengar kau mengucapkan itu" seru Chuuya, saking geramnya ia sengaja menarik keras lilitan gips yang di balutnya hingga Dazai mengeluarkan wajah kesakitan lucunya.
Namun, untunglah Dazai mempunyai indra yang lebih tajam daripada Chuuya. Ia dengan cepat mengaba aba temannya untuk menjauh, dan selamat dari tumpukan kursi kayu yang terbang dengan kecepatan cepat hampir melindas mereka.
Dazai menarik kerah jaket Chuuya untuk menjauh dan menghindar setelah tumpukan kursi itu membentur ujung lorong, dan kepulan debu yang bertebangan.
"Menjauh!!"
Suara kasar itu membuat lirikan mata chestnut dan safir mereka melirik ke kiri, tepat di mana seorang anak mungil berjalan tertutupi oleh debu. Kedua tangannya terangkat mengacak acak rambutnya frustasi. Seakan akan ada seseorang yang sedang menganggunya saat ini.
"Hima?"
"Conan chan? Oi, kau tak apa apa?" Kini kecemasan Chuuya berpindah pada perempuan kecil itu. Dia berusaha berdiri, tanpa bantuan Dazai dan kakinya yang terkilir. Sempat merintih, namun ia tetap terus berjalan walaupun tersandung dan sempat terpincang.
"Hei, jika yang tadi menyakitimu, aku minta maaf Conan chan"
"Pergi!!! Menjauh kau b*d*bah!!"
Chuuya membelalak. Bagaimana bisa temannya sendiri yang selalu manis dan sopan bisa mengungkapkan kalimat seperti itu di hadapannya, yang bahkan dirinya dan menunjukan amarah atau kekesalan yang berarti. Dazai mendekati, dan menegur Chuuya dari belakang.
"Awas, dia mungkin menyerangmu"
Prediksi bocah itu selalu benar, sebuah kursi dengan berbahan kayu melayang cepat, disusul bunyi retakan dinding yang terlepas, menjadi serpihan serpihan yang siap di arahkan kepada Chuuya.
Hanya dengan menyentuhnya, semua serangan itu dapat dihentikan oleh telapak tangan mungil Nakahara. Ia membuka matanya lagi setelah tadi menutupnya rapat rapat, berdiri seperti biasa.
"Oi Chuuya, saya punya misi untukmu sekarang"
Chuuya berbalik, menemui gelap nya mata sang eksekutif. Dazai melirik, dengan mata sekilat silet.
"Jika kau kali ini ingin membantu saya, bantulah saya dengan memanggil Mori san atau Ane san, se...ka..rang"
Alis Chuuya bertaut, wajahnya sarat sekali dengan ekspresi tidak terima. Bahunya naik dan menyingkirkan jari temannya yang menghinggap, mengetuk bahunya.
"Hah?! Mana mungkin! Aku tidak mungkin meninggalkan Conan chan dan, dan kau sendiri disini. Dalam bahaya!"
Keadaan malah berbalik, Nakahara Chuuya membentak Dazai.
"Saya senang kau mengkhawatirkan saya, setidaknya pikirkan dirimu sendiri. Harus ada yang melapor kepada yang lebih kuat agar masalah cepat terselesaikan. Kau mengerti?"
Dazai mengambil langkah satu, dan mulai menekankan kata terakhirnya.
"Tapi, Dazai-!"
"Ini perintah"
Chuuya sudah muak. Ia mendecih kesal tak ingin memandang lagi wajah atasannya yang mulai berubah, kini menatapnya dingin dan dekat. Tangannya mengepal, dan meninju bahu kanan Dazai kuat, hingga eksekutif berkemeja itu mundur selangkah.
"Jika kau mundur seperti aku menepukmu, aku akan membunuhmu dan tak akan menangisi kepergianmu"
Dazai tersenyum, sedikit membungkuk, "saya menantikannya"
Setelah Chuuya pergi sedikit berlari-karena kakinya masih terkilir, Dazai berjalan santai, secara tenang menghadapi teman perempuannya ini.
Di belakang Hima, tak jauh darinya, bersembunyi dalam gelap, seorang anak kecil bermonokrom duduk sambil memegangi boneka yang sudah rusak mengeluarkan busa putih dari kepalanya. Ia tampak senang sekali, kadang tersenyum pada Dazai saat kedua mata itu bertemu.
"Nah..."
Dazai menengadahkan tangannya, membuka perban yang melilit lengan tangannya. Dan seketika saat ia mendangak kembali, perban putih yang menutupi kepalanya jatuh, lepas sejak lama tak dibuka.
"...Yumeno,"
Bocah itu tersenyum, Q mengarahkan bidak karakternya, melesat cepat kearah teman lamanya.
"...sampai dimana urusan kita?"
Di tengah keramaian, malam yang gelap dan banyak mobil sirine yang berkemuuh, seseorang bermantel seterang pasir emas lewat dengan santai, menembus keramaian, menatap kanan kiri korban berjatuhan.
"Aku tak akan pergi jika tak mengenakan ini!"
"Tapi Hima san,..."
"Tidak!!"
Terkadang, seorang tak dikenal itu mengibaskan surai pinknya untuk mengencangkan posisi headset kecil, tersembunyi di sampingnya. Bicara kecil, hingga teriakan besar ia terima, tapi ia tak peduli. Tujuannya hanya berjalan menuju lima gedung tinggi yang menjadi pusat Yokohama.
"Aku sudah memberikan dosis yang tepat. Apa kau yakin, dia akan membutuhkan ini?"
"Terimakasih. Ya, aku yakin Yosano sensei"
Seorang lelaki besar berseragam lengkap datang berhadapan menghentikan langkah laju perempuan berikat satu ini. Sepatu coklat gelapnya berhenti. Pria itu sempat menanyakan banyak hal, tapi dengan badge yang ditunjukkannya, polisi itu terkejut, mempersilahkan perempuan berperan tinggi itu untuk masuk kedalam garis polisi.
"Bagaimana kau bisa yakin? Kau tidak butuh bantuan kami?"
"Aku butuh bantuan kalian. Sangat, tapi adakalanya nanti."
"Hima..."
Perempuan itu melanjutkan jalan. Memasuki pagar besi besar, dan berhadapan dengan banyak mafia. Ia memasang tudung hitam hoodienya dan betingkah layaknya seseorang yang biasa memakai mantel ini. Dan ajibnya, ia di izinkan masuk dengan lancar. Bahkan para penjaga terus menunduk, tak ingin melihat perempuan yang mereka kira sebagai mantan eksekutif terkejam sepanjang sejarah Port Mafia.
"Bagaimana kau bisa yakin?"
"Aku tidak ragu. Aku percaya. Selain rencana sudah disusun rapi, kami sudah mempertimbangkan segala risiko, akibat-sebab, untung-ruginya nanti"
"Aku takut. Hanya saja..."
"Aku akan baik baik saja. Dazai sensei dan aku pasti akan baik baik saja"
"Kenapa?"
"Entahlah, rasanya disini, di dada ini, hatiku berdebar kuat"
"(kekehan) kau jatuh cinta"
Tuttttt
(Jaringan terputus)
"...Mungkin."
Hima berlari kencang menyelusuri seluk beluk gedung tinggi yang dulunya sebagai tempatnya bermain, lari dari pengawasan Fukuzawa dan kakanya sendiri. Tempat di mana ia akan bernostalgia lagi dengan orang pertama yang berani menyentuhnya. Walau itu sudah 9 tahun yang lalu, kejadian besar seperti itu bukanlah mudah.
Dia Ranpo Sachou dan beberapa ide dari anggota agensi lain juga ikut merumuskan isi rencana dibantu dengan Kyoka yang sudah berpengalaman. Ia yang sebagai Assassin akan masuk mengendap ngendap kedalam memastikan keadaan Himawari untuk aman.
Tak lupa, Hima memakai satu set jam tangan digital yang ia pakai di pergelangan tangannya untuk membagi rencananya. Di jam tangan itu, menunjukan stopwatch yang menghitung mengurang mundur angka 15-menit lebih.
"Aku merasakannya! Dazai sensei sedang ada di bawah, ruangan yang gelap. Tunggu, aku pernah melihat ruangan ini sebelumnya" tutur anak kecil itu sambil memegangi surai kuning emasnya.
Hima tersentak, "sel lama Q?"
Lama tak ada jawaban, Hima meneruskan kembali langkahnya.
"Iya... Yemeno telah di dalam"
"Lapor Himawari san, aku juga sudah di posisi"
Hima tersenyum kala mendengar respon dari Elise yang berjaga jaga dan Kyouka yang telah sampai di titik checkpoint. Ia terus berlari membiarkan mantel karamel Dazai tertiup angin malam. Ia tak bisa masuk dengan mudah lewat pintu utama gedung, maka Hima memutar jalan tapi tampaknya niatnya harus di urungkan kala melihat keganjilan terjadi disini.
Para penduduk Yokohama berkerumun datang ke gedung utama Port Mafia dan memasukinya bagaikan ada jamuan pesta besar besaran di sana. Hima yang sedang bersembunyi menyadai sesuatu, jika tanda tersebut memang benar...
"Kyouka chan, Elise chan, Yumeno, semuanya!! Misi di batalkan! Ulangi, misi di batalkan!" Hima tetap bersembunyi, ia berteriak kencang mencoba untuk mengendap endap mencari tempat sinyal yang lebih bagus.
Tapi sayangnya, nada putus tetap menjadi jawaban di sebrang sana. Tidak ada yang bisa mendengarnya, entah karna tiadanya sinyal atau memang ada seseorang yang memblok jaringan.
Sampai pada suatu pilar yang besar, Hima bersembunyi di baliknya, mengintip kearah keramaian yang terang menderang. Mungkin, sebagian besar penduduk Yokohama ada di sana. Mereka sibuk dengan urusannya, menari kecil dan berjamu makan.
"Sial!...eh?"
Pandangan manik emerald Hima menurun menjumpai sebuah bulu putih yang tampak rapuh. Hampir seperti kelopak bunga dandellion. Ia mengambilnya dan memperhatikannya dengan teliti. Dan sialnya, ia tau milik siapa sebuah bulu yang terpisah, meninggalkan jejaknya disini.
"Ha ha ha, rupanya kau iblis"
Ia tersenyum ganjil, tampak sekali wajah yang tak senang berusaha di sembunyikannya. Bulu itu ia hempaskan asalan ketika melihat gerbang besar yang terbuka lebar, tertutup dengan suara berdebum antara besi dan besi.
"Nah, pestanya dimulai" ia segera bangkit berdiri, mengendap endap lagi masuk dalam diam ke bangunan besar di pelabuhan Yokohama ini.
Matanya langsung disuguhi warna klasik pesta yang terang, kuning emas mendominasi, meja bar dan cangkir wine, lalu jangan lupakan penduduk yang saling bertukar cerita.
Apa mereka gila? Insiden pengebomam tahun baru barusan terjadi beberapa hari yang lalu, dan sekarang mereka berpesta megah di gedung haram besar ini. Padahal banyak dari mereka yang berjabatan pemerintah. Ironi.
Tanpa buang waktu lagi, Hima segera melepaskan jam tangannya, dan menaruhnya di selipan-bawah jendela, kaca besar yang jauh dari kerumunan orang. Ia sempat mempretelinya sebelum meninggalkannya begitu saja, hingga timbullah bunyi beep panjang disetiap detik.
Malam ini, Dewi Fortuna memihak padanya. Tidak ada penjaga di sepanjang lorong menuju ruang penjara. Dan langkahnya sempat berhenti sebelum ia mengangkat kerah mantel coklat Dazai menutupi hidung dan mulutnya. Perasaannya langsung menyambar tak enak kala menciumi sedikit, sedikit saja bau racun.
"Ini sarin"
Langkahnya di percepat, menuju lurus ke ruang bawah tanah, sel lama Q yang sekarang di gunakan untuk menahan si serigala yang jinak. Pintu terbuka sangat pelan saat ia memasuki ruangan terakhir yang lembab dan pengap.
Srrerttt...
Sebuah tali menyambar kaki Hima dan membuatnya terkejutnya, tapi tubuhnya lebih duluan terbalik dengan kepala di bawah, barulah ia bisa terkejut, berteriak.
"Oh! Dazai san, Hima datang menghadiri pesta!"
Hima tau benar suara itu, ia mengabaikan posisinya dan langsung menatap bujur, menembus hitamnya besi sel, dengan lentera sebegai penerangan satu satunya. Mata emeraldnya membelalak, terkejut walaupun ia tau ini pasti akan terjadi semenjak awal.
"Dazai san!"
Di ujung tembok batu bata, seorang pria dewasa terduduk bersandar pada dinding dengan kepala yang tak siap tegak. Di sampingnya ada seorang anak kecil, bertopi lengkap dengan boneka terkutuknya. Hima langsung tersenyum menyeramkan kala wajah itu memberinya kenangan lama di memorinya.
"Hai, Iblis"
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
