"

Sial!"

Pria yang berkesaharian memakai perlengkapan dektetif itu menghentakkan semua yang ada padanya di atas meja dan sukses membuat semua perhatian Agensi mengarah padanya, Atsushi melihatnya kahwatir. Ia tau mereka telah hilang kontak dengan 3 orang utama yang bermain di garis depan, dan itulah yang membuatnya kahwatir, Himawari.

Seorang pria berkacamata menghamprinya yang menepi memandangi tepian jendela Agensi, melihat riuk priuknya gedung tinggi Mafia dari kejauhan.

"Ranpo san, kita akan berangkat lima menit lagi. Kumohon bersiaplah." Kunikida menyarankan, Ranpo hanya diam sebelum sebuah pertanyaan meluncur darinya.

"Bagaimana dengan si Fancy hat?"

Kunikida memerlukan waktu untuk berpikir sebentar sebelum mengenali siapa yang ia maksud dan menjawab dengan anggukan. "Begitu Hima. . .kehilangan kontak, ia segara pergi menuju lokasi kejadian."

Ranpo Edogawa kembali melihat ke luar sana, mata tajamnya terbuka melihat indahnya pemandangan kota Yokohama saat ini. Nafasnya terbuka hingga menimbulkan bunyi kasar walaupun perapian Agensi sudah di hidupkan beberapa jam yang lalu. Tak lama ia merasakan emua orang menjauh darinya, dan sang detektif berbalik badan untuk melihat kepala Agensi mereka yang terburu buru pergi, tapi di tahan oleh pertanyaan Kunikida, si pria penuh idealis.

Ranpo dapat melihatnya dengan sangat jelas, ada pantulan rasa kekahwatiran di mata Yukichi Fukuzawa, dan sisanya, amarah yang siap membludak. Meskipun semuanya melihat tenang pada kepala organisasi mereka, Yukichi tetap saja memberikan tatapan seram seperti biasanya. Tidak, Ranpo sangat menyangkalnya. Itu bukanlah tatapan kesehariannya, tapi sebuah perasaan yang sering kita sebut, kekahwatiran.

"Ranpo, kau ingin ikut atau hanya diam membiarkan adikmu terbunuh?" Ranpo terlonjak, satu statement dari ayahnya mampu mengeluarkan sifat elitnya dan membuat seorang Ranpo Edogawa tertunduk menyetujui. Yah, itulah kewajibannya.

Mereka mulai bergerak, dan meninggalkan Agensi untuk siap bertarung di garis depan. Meskipun ia sudah tau ini akan terjadi, tapi ia tetap tak bisa mengubah takdir yang terjadi dan kedepannya.

Dan pada saatnya nanti, ia tau hanya satu dari mereka yang selamat.

Di atas sana, sunyi berdebu melawan dengan suara bincangan berpadu dengan indahnya nanyian khas era '80 an. Mereka tetap meneruskan kegiatan mereka tanpa ada yang tau bahaya mengancam di bawah sana, si otak dari semua dalang. Suara ketukan sepatu elegan beriringan dengan ritme alunan nada lagu. Mereka terbutakan, termakan oleh buaian. Sayangnya, atau lebih tepatnya menguntungkan, mereka semua adalah sebuah kulit cabai di susunan gigi depan.

Seorang gadis mungil berjalan di antaranya, berusaha berkamuflase dengan lingkungan mewah, jamuan pengecoh di rumahnya sendiri. Ia bercelinga celinguk ke sana dan kemari memastikan jika semuanya berada dalam kendali dan memerhatikan suasana.

2 orang berjaga di depan tangga utama, dan masing masing berdiri tegap tanpa berkedip di semua akses masuk. Ia menekuk seuatu di telinganya dan meyingkirkan rambut blonde yang menjuntai hingga ke bawah pinggangnya, wajahnya tetap bersiaga walau ia berusaha untuk tidak bersikap aneh.

Sebuah suara statis masuk ke pendengarannya, dan suara wanita yang begitu dingin membuka pembicaraan singkat mereka.

"Elise sama, ini aneh, tidak apa penjaga sama sekali. apa aku harus menggunakan jalur utama?" sebuah transmisi masuk, dan wanita bernama Elise ini mengangkat alisnya saat salah seorang tamu tersenyum padanya.

"Jangan. Tetap saja seperti ini. Aku tau jalannya, dan teruskan saja, Kyouka chan." Ia berbisik.

Di lain tempat, Kyouka terus berlari dan waspada terhadap semua persimpangan lorong panjang dan sempit ini. Ia harus terus berjaga dan siap siaga begiu ada seseorang yang memunculkan diri, baik musuh atapun teman. Kyouka, terus mendengar arahan dari Elise di atas sana yang memberitahukannya jalan rahasia menuju ruang kontrol gedung mewah Mafia ini. Sebenarnya ia terus bertanya tanya, untuk apa Himawari menyuruhnya untuk pergi dengan cepat menuju ruang kontrol dan penuh siap siaga. Tapi ia harus percaya, semua orang di Agensi adalah detektif, yang berarti kecermataan dan daya prediksi mereka di atas manusia rata rata.

Kakinya yang terus berlari terpaksa behenti sejenak saat dirinya di hadapi banyak cabang dari lorong ini. Yang mana semua jalan menuju ke arah gelap, ia tak yakin.

"Elise sama, ada banyak jalur disini. Yang mana yang menuju ruang kendali?" wanita mungil bergaun merah anggun itu menekuk kepalanya pusing dan kembali tegak mengingat sesuatu, hingga sebuah ingatan terlintas di kepalanya, bersama dengan seseorang yang berjalan ke arahnya. Ia membelalak. "Kau, kau hanya perlu lurus dan berbeloklah kekiri begitu melihat tangga dengan sebuah vas antik di sebelahnya." Elise berusaha untuk tenang kala melihat sosok yang tak di kenalinya semakin mendekat ke arahnya.

"Baiklah...setelahnya aku harus kemana Elise sama?"

"Elise sama?"

"Hallo? Elise sama!"

Anak perempuan itu tak merespon, dan tetap berusaha tenang begitu pria bertopi itu mendekatinya, tak berhasil, ia berusaha lari. Ia berhasil lari menjauh dan terlus berlari begitu sampai di salah satu pilar yang besar dan bersembunyi di belakangnya, di dalam bayangan. Belum sempat hatinya untuk bernafas lega, sebuah tangan memegang bahunya kasar, dan mulutnya segera ditutup menggunakan tangan yang sama untuk meredam rasa teriak akan terkejutannya.

Malang sekali anak perempuan ini, ia tetap terus bernafas dalam ketakutan begitu lelaki yang mengejanya tadi ikut bersembunyi dengannya di kegelapan, menghindari dirnya dari sorotan lampu sinar yang memusingkan kepala. Akhirnya, pria dengan setelah jas hitam lengkap dengan dasi kupu kupu merah miliknya, menoleh lurus ke mata biru laut Elise dan menyingkap topi coklat miliknya, memamerkan iris birunya dan diakhiri dengan membesarnya bola mata Elise karna mengenal dengan baik siapa pria yang berani beraninya membekapnya ini. Tangannya terlepas, membuat simbol diam di bibir Elise dengan senyuman kahwatir di wajahnya.

"Shh...semua akan baik baik saja, Chuuya sudah disini."

"Tik..."

"...Tik...tok..."

"Tik...tok...tik, he eh..."

"Rise and shine my beloved doll, 20 dan tetap menghitung."

Hima membuka matanya, terasa mengantuk sekali tapi ia harus bangun sekarang. Matanya memicing kesakitan saat melihat lurus ke arah cahaya di ruangan ini, dan melihat kebawah, dimana darah berkumpul membentuk sebuah kolam darah dan beberapa gigi yang bertebaran seperti batu yang mengambang. Hima dengan ragu memegang pipinya sendiri, dan terlonjak sakit saat merasakan lebam yang teramat sangat dipipinya, apalagi ia merasa yakin beberapa gigi graham yang mengambang di adalam darah itu ialah kepunyaannya.

Ia hanya diam saat ia kehilangan 3 gigi terbesarnya dan men-deathglare si Iblis yang duduk santai, tersenyum padanya. Tak lama matanya memicing ke arah sel, dan Hima mengikuti.

Wanita malang ini berusaha berdiri walaupun ia tau kakinya patah dan tetap terjatuh beberapa kali. Persetan dengan itu, ia lebih mengkhawatirkan seorang anak kecil yang bersembunyi di kegelapan dan meringkuk kesakitan. Dari bawahnya Hima yakin darah segar terus membesarkan wilayahnya.

Q sedang menahan luka tembakannya oleh Fyodor.

Hima mencoba untuk berjalan pelan pelan menuju sisi sel dimana Yumeno meringkukkan sakitnya, dan seraya terus melirik pada Fyodor yang hanya senyum senyum dengannya. Tampak sangat tak keberatan jika Hima mendekati si tawanan berharganya. Dan juga, yang membuat Himawari keheranan ialah kenapa Yumeno tidak memakai hadiahnya untuk mengutuk balik Fyodor yang telah menembak lengannya? Ada apa?

Begitu banyak pertanyaan di kepalanya saat ia tak sadarkan diri tadi.

Ia terus memandang ke arah Yumeno dengan kahwatir. Segala yang bisa ia lihat hanyalah punggung mungilnya yang meringkuk dan gemetaran menahan tangis dan sakit. Sedetik kemudian ia menolehkan pandangannya pada seorang pria lain yang terus tertunduk di sisi lain sel.

Kakinya berselonjor ke depan dan tangannya tergeletak lemah di samping sisi tubuhnya. Hima terus memegangi dinginnya jeruji sel dan melihat lebih jelas kondisi Dazai yang samakin parah setiap detiknya, ia bahkan sulit melihat pria itu bernafas, menggerakkan perutnya untuk naik turun. Apalagi kakinya, tulang mata kakinya yang telah hancur, menjadikan kedua punggung kakinya jatuh lemah ke samping kanan dan kiri, seperti jelly yang lemah tanpa topangan.

"18 Menit tersisa Himawari chan. Apa yang akan kau lakukan?" suara gelap Fyodor membawa Hima kembali ke real lifenya dan memicingkan matanya tajam ke arah Iblis dengan di balas seringai yang tak kalah mengancam.

Mencoba sejenak menghindari kontak dengan The Devil, Hima kembali menatap lantai di mana sebuah pecahan botol bertebaran dan sebuah cairan hijau mengalir dari sisinya, sedikitnya mereka bercampur dengan darah merahnya Yumeno. Penawar itu sudah hancur, satu satunya penawar yang ia punya. Mungkin saat Yumeno hendak menyuntikkan penawar sarin ke tubuh Dazai, Fyodor dengan ketepatannya menembak Yumeno di lengannya untuk menghentikkan kesalahan yang fatal.

Hima kembali memandang Yumeno, bocah itu tidak berhenti berhentinya menangis. Jika Dazai semakin buruk setiap detiknya, maka Yumeno semakin menyedihkan setiap detiknya.

"Yumeno chan. . ." panggilnya lembut. Q hanya diam, tak merespon apa apa selain rintihan.

"Suruh semua mematikan seluruh power sumber daya di gedung ini, dan kunci semua akses masuk. Jangan ada biarkan tamu kita yang membantah."

Edogawa menoleh pelan, tepat menuju wajah memuakkan Fyodor dan terus seperti itu selama beberapa menit. Fyodor memerengkan kepalanya heran.

"Ada yang bisa kubantu Hima chan?"

Himawari tak suka nama itu di sebutkan olehnya. Ia hanya suka nama itu di gunakan oleh orang yang di cintainya. Ia menepis pikiran itu jauh jauh, dan menundukkan kepalanya. "Aku tak tau apa yang kau rencanakan, tapi tolong biarkan aku merawat Yumeno."

Senyuman itu naik ke permukaaan, seringai iblis Fyodor kembali tampak. "Jika aku menolak?"

"Kau tak akan bisa memanfaatkanku lagi." Jawab Hima tajam, matanya menyipit menusuk gelapnya netra violet Dostoyevkey.

Pria bertopi ushanka itu menimbang sebentar dan mengangguk mengiyakan. "Baiklah. Kau bisa merawatnya."

Tak ada kata lain setelah itu. Hima tak begitu terkejut setelah suara besi berderit kencang dan pintu jeruji terbuka setengah. Di tatapnya kembali wajah pucat Fyodor yang sibuk memamerkan senyum, dan ia melangkah ke dalam, untuk mendengar kembali peringatan sang iblis.

"Tapi jika kau berjalan ke arahnya satu langkahpun, kepalanya akan bocor tanpa kau sadari." Fyodor tertawa kali ini.

Hima kembali bertemu dengan manik gelap itu yang memicing ke arahnya, di tangannya sebuah revolver silver berputar santai di kedua jari telunjuk dan tengahnya. Hima sudah tau itu. Ia pasti akan mengeluarkan ancaman itu jika ia berani mendekati Dazai, maka tanpa ragu lagi sebuah peluru revolver akan melubangi kepalanya. Sebenarnya Himawari tak memperdulikannya, ia bahkan sudah pernah mendengar yag lebih buruk dari kepala Dazai yang berlubang, malah sudah menjadi kabar sehari harinya dulu. Dan tentu, ia masih bisa bernafas.

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)