Akhirnya kepala Hima menengadah melihat iris Violet Fyodor penuh amarah. Sang pria tak berreaksi lain selain tersenyum dan mulai mundur ke belakang, mengangkat tangan kanannya dan memencet tombol merah di atasnya.

Tet.

Hanya ada satu suara setelah itu, suara yang menggelegar di langit Yokohama.

Ranpo, Kunikida dan Chuuya terdiam. Ketiga pasang mata mereka menatap tak percaya pada bangunan besar di hadapan mereka, yang telah luluh penuh disertai gumpalan asap dan reruntuhan yang di tarik gravitasi. Degub jantung Ranpo berhenti sesaat saat menyadari mereka terlalu lambat, gedung tinggi itu telah hancur, mengubur adik kandungnya di sana.

Amarah pria detektif itu membludak. Perasaannya campur aduk, ia seperti di permainkan oleh waktu. Tangan putihnya terjulur meraba raba angin di depannya, sebelum akhirnya kedua kakinya melangkah dan semakin cepat menuju tepat ke reruntuhan gedung terbesar di Yokohama.

Kunikida tersadar, ia melihat silhoute dari pangeran Edogawa yang nekat menerobos garis polisi. Pria itu berlari menyusulnya meninggalkan pria Mafia bertopi yang masih syok, masih tak percaya rencana mereka terjadi secepat ini.

"MINGGIR BAKKA!! ADIKKU, ADIKKU MASIH DI SANA!! TERJEBAK DI SANA!! AKU HARUS MENOLONGNYA! HIMA, HIMAWARI!!!!"

Ranpo Edogawa bukanlah Ranpo Edogawa yang sering kalian lihat. Ia berubah 180 menjadi monster yang memberontak dengan wajah tak bersahabat. Ia memekik lantang saat Kunikida mencegatnya, membuat seluruh perhatian di sekitarnya terpaku kepada dua orang Agensi ini.

Megane juga tak bisa apa apa, ia menundukkan kepalanya sambil kedua tangannya meredakan amarah. Permukaan lensa bening itu menjadi putih. Tapi ia tak bisa menyembunyikannya, tampak secucur garis putih jatuh melintasi kedua pipinya.

"Aku kakak yang buruk...aku kakak yang bodoh, yang bahkan tak bisa memprediksi hal ini akan terjadi...Hima...kumohon, biarkan aku...kumohon..." Ranpo memohon.

Dia akhirnya tak lagi melawan dan Kunikida Doppo membiarkannya jatuh, berlutut dengan tubuhnya yang membungkuk. Telapak tangannya menulusuri wajah halusnya, mengusap air mata pertamanya setelah bertahun tahun tak pernah ia keluarkan.

Hima membuka matanya lelah, alisnya menaut tegas mempersilahkan aliran keringan meluncur dari celah celah rambutnya. Tubuh dan kepalanya tertunduk, dalam posisi menungging, Hima berusaha untuk bangun setidaknya berlutut untuk melihat keadaan dua lelaki yang ia lindungi. Tapi tampaknya ia akan kesusahan, punggungnya begitu sakit dan berbunyi saat beberapa tulangnya retak, tak kuat menahan kayu di atasnya.

Yumeno membuka matanya sedikit dan heran melihat sekelilingnya. Tubuhnya tak hancur tertimpa oleh beton atau kayu penopang di atasnya, tapi benda tersebut melayang, di selimuti dengan manik merah muda di permukaannya. Menyadari ini bukan hal yang kebetulan, dua mata hitamnya memandang lurus seorang wanita yang berusaha untuk berdiri dengan kayu besar di atasnya.

Itulah Edogawa Himawari, perempuan yang menyelamatkan mereka.

Tanpa basa basi, ia merangkak menuju ke arahnya dan memegang bahunya membuat gadis terluka itu tersentak. Yumeno menenangkan, tersenyum menenangkan. Hima tak melihat adanya rasa sakit di matanya itu, perawatan yang ia lakukan beberapa menit lalu dan perlindungan spontan kepada Yumeno membuatnya puas. Suara berdebum, dan debu berterbangan saat Hima melepaskan hadiahnya sedikit, tanpa mengurangi yang lain.

Lelaki shota itu bergerak menggeser kayu besar di atas Hima lalu membantunya duduk, walaupun menghasilkan bunyi lain dan sakit yang menyebar, ia berusaha untuk tetap kuat. Hima menghela nafas dan mengusap keringat sebesar biji jagung di pelipisnya.

"Yumeno chan, kau harus pergi sekarang." Titahnya. Suaranya sangatlah lemah seperti perempuan yang berbisik.

Yumeno menunduk mengusap telapak tangannya yang di perban. "Tapi aku tak ingin meninggalkan Hima dan Dazai san. Aku ingin membantu."

"Ya, kau bisa...membantu."

Kedua mata menyedihkan itu menatap emerald pudar Hima.

"Bukan cuma kita korban disini. Kau harus menjelajahi ruangan bawah tanah untuk mencari Kyouka dan Mori san."

"Tapi aku ingin-"

"Kau bisa membantu."

Yumeno tersentak kebelakang dengan ekspresi tak percaya. Jika Hima telah mengeluarkan statement seperti itu, tidak ada kata lain yang bisa berunding denganya. Sudah mutlak, berstampel resmi.

Maka Yumeno Kyusaku bangkit berdiri dan berlari keluar ruangan tanpa melihat ke samping ataupun ke belakang. Ya, setidaknya ia bisa berguna. Ia akan membantu bos sialannya dan partner Mafianya.

Sementara di ruangan kecil yang setengah hancur itu, seorang perempuan bergerak perlahan-penuh kesakitan-menuju lurus kearah lelaki berpeluh darah. Ia merangkak menyadari punggungnya tak bisa selurus seperti dulu. Dan perlahan namun pasti, ia bahkan telah sampai di depan sang pria yang pingsan bersandar di dinding batu bata merah.

Hima mengerang. Berusaha menahan lebih lama beban berpuluhan kilo yang belayang di atas mereka. Sebuah besi beton kecil. Melihat ke atas dan kembali menunduk ke Dazai, Hima memegang tangan kanannya yang mulai kebiruan. Dingin. Pucat. Dan kasar. Seperti mayat yang siap di kuburkan.

"Dazai...Dazai san." Hima memanggil dengan suara paruhnya, matanya memohon agar pria didepanya bangun segera memberitahu dirinya bahwa semuanya akan baik baik saja. Tapi sayangnya, panggilan itu tak mempan. Degub jantung Hima berdetak dua kali lebih cepat saat merasakan tidak ada satupun nafas yang keluar darinya.

Apa ia telah terlambat? Tidak.

Tak mau menyerah, Hima memanggil lagi. Kali ini, ia yakin pria di depannya akan memberikannya dua pasang netra chesnut indah miliknya.

"Osamu-kun . . ."

Nama itu terdengar seperti nada, melody indah yang berdengung berkali kali tanpa henti di gendang telinga pria bermarga Dazai tersebut. Membangunkannya seperti alarm yang tak bisa di nonaktifkan, memaksanya untuk bangun memenuhi janjinya. Dazai Osamu tak keberatan. Ia melawan rasa sakitnya hanya untuk menemui wajah indah idamannya, yang selalu ia mimpikan.

Dan kedua mata itu bertemu. Bersinar bening dan berkaca kaca tak percaya mereka di pertemukan kembali setelah bertahun tahun menjalani hari hari palsu mereka. Himawari dan Osamu tau dan mengingat jelas momen berharga ini.

Momen di mana mereka berdua berkenalan, bertatap muka, menukarkan dua pasang emerald dan chesnut indah itu di dasar sungai yang gelap, dingin, 10 tahun yang lalu.

Sang gadis tersenyum. Manis sekali senyumannya hingga membuat sebuah semburat merah tercipta di masing masing pipi pria tampan tersebut. Tak bisa menolak betapa tangguh dan cantiknya wanita yang dulu pernah berjanji padanya, berteman padanya, mencintainya.

Tapi sayang, kenyataan yang pahit membuat mereka berpisah. Mereka tidak punya waktu untuk ini, mereka harus keluar dari sini, memberitahu yang lainnya, dan mencari cara agar 2 menit ini bisa di gunakan tanpa terbuang percuma.

Hanya tersisa 2 menit.

Hidup Dazai Osamu hanya tersisa 2 menit.

Tanpa memudarkan senyumnya, Hima menangkis semua kemungkinan terburuk itu dan berpikir positif bahwa mereka berdua akan keluar dengan selamat. Harus.

"Osamu kun, kita harus pergi dari sini. Tidak ada waktu, akupun sudah tak kuat menahan beban di atas kita."

"Kemarikan tanganmu. Aku akan membantumu berdiri..."

"...maafkan aku."

Tanpa sadar Hima mengucurkan air mata pilu saat melihat kenyataan yang begitu kejam. Efek dari racun sarin telah sangat menyebar dan sangat berpengaruh. Buktinya, suara merdu Dazai Osamu telah terebut.

Ia tak bisa lagi membuat suara dari bibir pucatnya.

Setelah Hima menggapai tangan kiri Dazai, ia merasakan rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Bangkit seperti puluhan pisau yang menusuk dirinya. Tanpa sadar, beton besar yang berada tepat di depan mereka jatuh, menimpa tangan kiri Dazai Osamu dan tangan kanan Himawari Edogawa. Hadiah Hima langsung menghilang begitu tubuhnya tak lagi kuat menanggungnya.

Karna saking sakit dan cepatnya kejadian itu terjadi, Hima tak bisa memekik, suaranya tersangkut di tenggorokan seperti tersedak tak tercerna. Kepalanya menunduk dan tangan kirinya mengepal sebagai penyalur rasa sakit yang teramat sangat itu. Lama kelamaan matanya terbuka sebab setetes dan setetes cairan merah merembes keluar dari bawah beton itu. Ia yakin, tangannya tak akan selamat.

Tak menerima apa apa dari Dazai-apapun itu-membuat Hima heran dan melihat ke arahnya. Dazai memandanginya, tersenyum. Dua mata emerald itu membola.

Ia tak melihat apa apa selain rasa senang dan penghibur dalam satu raut wajah. Tidak ada wajah memerah atapun tangis kesakitan yang lolos dari matanya. Menyadari semua itu, Hima mengabaikan rasa sakit di tangannya yang mana Dazai melindunginya lagi.

Karna ia tahu, telapak tangan Dazai telah hancur terburai melindungi telapak tangan mungilnya, di bawahnya.

"Osamu kun...kau..."

Dazai mengangguk. Membenarkan dugaan yang Hima harap tak akan pernah terjadi. Tapi ini sungguhlah nyata, bagai cambukkan rotan yang menebas hatinya.

Dazai telah kehilangan suaranya, kehilangan daya topang kakiknya, dan bahkan kehilangan susunan saraf kesakitannya.

Dan sebentar lagi, ia akan kehilangan semuanya.

Dengan senyuman manis menuju lurus sebagai hadiah terakhir untuknya, Hima tak lagi bisa melihatnya. Dua kelopak matanya memerah dan sedikit membengkak, bahkan hingga ia tak bisa mengeluarkan bulir bulir kristal bening itu.

Hatinya teriris, sakit, dan terpotong potong setipis lembaran kertas begitu melihat senyuman itu. Sungguh miris dan menyakitkan. Ia tak bisa melihatnya. Untuk mengalihkan perhatiannya, Hima memandang ke arah kirinya dan menemui sekelebat banyangan hitam berdiri di pintu sel. Hima tau siapa dia. Di tangannya, terletak sebuah walkie talkie yang siap terhubung ke pusat sana, siap menerima komando.

Dua iris Violet itu membungkam Hima dan Dazai yang sama sama melirik ke arahnya. Menuju ke tempat tertentu, Hima memutar balikkan kepalanya dan melihat sepaket hadiah yang entah sejak kapan terletak di sana.

Bom rakitan.

"Nee Ango..."

Gaya gravitasi terhadap suara itu membuat Hima tertarik dan kembali menolehkan kepalanya. Itu suara Dazai. Tapi bukan Dazai.

Fyodor Dostoyevsky sedang menjalankan rencana busuknya.

"Bomnya sudah siap diledakkan."

Hima membelalak. Dan Dazai yang terdiam. Mereka tidak tau jika si Iblis merencanakan hal busuk ini. Heh, setidaknya. Dan mic kecil yang berada di salah satu jarinya itu ialah alat pengubah suara. Ia menghubungi Sakaguchi Ango menggunakan suara Dazai Osamu.

Diam beberapa saat, dan alat itu segera terlempar, berpindah tangan. Sialnya Hima harus mengambilnya. Sebelum benar benar membalas pria di sebrang sana, dua mata indah itu mengikuti gerakan Fyodor yang hendak keluar dari ruangan tapi,

Sebuah sel besi jatuh mengurung mereka. Bagai sebuah kandang burung besar yang mengurung mereka bertiga. Tidak membiarkan siapapun keluar, dan membuat Fyodor terkejut tak percaya. Ia melihat ke arah Hima yang menatap tajam ke arahnya.

Terimakasih, Kyouka chan. Pikir Hima diam diam. Dazai tersenyum karenanya. Bagaimanapun ialah tuan putri cerdas Edogawa.

"Edogawa san, aman?" panggil Ango, dan cukup untuk membuat Fyodor membelalak, Hima tersenyum. Dalam hati ia merasa puas senyuman memuakkan itu membungkamnya.

Ia melihat ke arah Dazai terlebih dahulu, dan mendapatkan senyuman manis darinya. Hima tak mau kalah, ia juga tersenyum lebar. Meskipun di dalam dasar hatinya ia tahu ini akan menyakitkan orang sekitarnya, apalagi kakaknya yang ia yakin sudah menangis sedu. Mereka yakin jika meledakkan bom ini, mereka tak akan terpisahkan-toh tangan mereka telah bersatu.

Double Suicide.

"Yap. Kau bebas meledakkannya."

Sebelum sang Iblis bisa berkata apa apa lagi, sebuah suara mengintrupsi mereka.

Ledakkan.

Sesampainya rombongan Kyouka di peristirahatan Agensi, sebuah gelegar ledakan terdengar nyaring, mengejutkan siapa saja di sekitar tempat kejadian. Seperti gelombang pertama, ratusan warga yang melihat di sana berkerumun panik dan berteriak kencang. Para polisi mencoba menenangkan masa dan sebagiannya mengecek masuk, termasuk para anggota Agensi.

Kunikida, Ranpo dan Chuuya yang masih belum bergerak kembali di kejutkan dengan hal yang sama. Kali ini Ranpo Edogawa tak bisa melakukan apa apa, bahkan untuk mengeluarkan nafas dan menghirupnya saja ia mulai kewalahan. Si pria berkacamata dan surai orange memahaminya.

Chuuya mendekati sang detektif terhebat dan membantunya untuk lebih tenang. Entah terkena angin apa, Chuuya rela bersusah payah mengantarkan Ranpo kembali ke mobil mereka, untuk di periksa Yosano sensei.

Sang penyair tak bergerak secentipun. Mulutnya terbuka dengan perasaan yang campur aduk kala melihat para polisi bergerak mendekati puing puing gedung Port Mafia. Awalnya ia yakin jika partnernya masih hidup di sana, saat ledakan pertama. tapi melihat ledakan kedua ini, entah kenapa ia ingin berteriak kencang. Sangat kencang, mengeluarkan semua emosi kekesalannya, kesedihannya, kemarahannya, penyesalannya. Semuanya berkecamuk.

Dan, kedua kakiknya bergerak berjalan lurus menuju reruntuhan kacau balau itu. Setidaknya ia ingin melihat partnernya sekali lagi.

Seorang pria membuka matanya sipit dan kembali tertutup saat melawan matahari pagi. Ia menganggukkan kepalanya kecil tak menyadari malam telah berganti fajar. Pria berkemeja merah itu berusaha menggerakkan satu persatu jarinya lalu siku tangannya hingga akhirnya ia bisa menganyunkannya. Sebuah senyum lolos dari bibirnya sementara ia berusaha untuk duduk. Punggungnya terangkat dengan topangan dari tangan kirinya. Hanya bisa setengah duduk.

Pandangannya mulai menyeluruh dan menemui dua manusia lainnya yang tergeletak, bersimbah darah. Perempuan yang terdekat darinya itu terbaring tengkurap dengan tangan kanannya terluka dan sebuah besi menancap di bahunya, wajahnya tak terlihat tertutup surai merah mudanya. Edogawa Himawari.

Di sebelah kanannya, seorang pria berbaju putih dan bersurai gelap duduk pada sandaran tembok, wajahnya juga sama sama tak terlihat tertutup oleh surai panjangnya. Tapi yang jelas ia bisa melihat setitik darah yang jatuh dari ujung dagunya. Fyodor Dostoyevsky.

Melihat ke arah kanannya lagi, pria berlumuran darah ini bisa mendengar suara keramaian yang membesar, dan bayang bayang yang mendekat. Ia bisa bebas melihatnya semenjak bom memporak porandakan semuanya termasuk dirinya dan besi kandang di sekeliling mereka.

Sebuah netra chesnut kepunyaannya mengecil saat mengenali sebuah figur jauh di sana, berjalan gontai menjauhinya. Tapi terlalu buram, ia tak bisa melihat dengan jelas. Bahkan mata kirinya telah tak berfungsi karna efek sarin yang mengusainya. Namun, ia harus kuat dan mencari cara agar bala bantuan mengetahui bahwa dia dan temannya masih disini, hidup.

Tak perlu waktu lama, isi kepalanya yang belum teracuni itu mendapatkan sebuah ide menjijikan dan ia tersenyum karenannya. Ia berusaha menoleh ke samping kirinya, dan percuma. Ia menyadari ia tak bisa menggerakkan persendian yang ada di lehernya, kepalanya bagaikan di kekang dengan kuat. Tak bisa menoleh.

Pria ini tak menyerah. Ia berusaha mengerahkan tenaga terakhirnya dan mengambil sesuatu yang di balut perban putih plus tercampur hanyirnya darah. Di angkatnya tangan kanannya, dan melemparkan sesuatu itu ke depan sana, sekuat tenaga yang tersisa. Lemparan itu membuatnya jatuh, keposisi semula dimana ia terbangun tadi.

Tak sia sia, pria di sebrang sana langsung memutar tubuhnya heran sekaligus terkejut saat menerima sebuah ketukan di punggungnya. Dadanya berdegub kencang saat melihat apa yang ia temukan dan teriakan orang orang di sekelilingnya terdengar kembali.

Sebuah tangan. Tanpa telapak tangan juga jari jari.

Kunikida membelalak dan terkejut lalu memandang ke depannya, di mana sebuah benda tak lazim ini terlemparkan. Ia mengenali dengan sangat siapa pemilik tangan pucat ini. Dazai Osamu. Maka ia berlari, kencang, tak memperdulikan siapapun di depannya.

Diantara reruntuhan, Dazai berusaha untuk tetap bernafas, tetap sadarkan diri. Ia menyadari jika tubuhnya tak lagi ia dapat rasakan dan nafasnya yang mulai memendek. Saat ia berusaha untuk membuka matanya, ia tak lagi dapat membedakan objek yang benar.

Semuanya terlalu abstrak dan ia hanya bisa melihat warna. Tak jelas. Tapi tetap saja, bibir pucatnya bergerak memanggil sebuah nama.

Kuni...kida...

"DAZAI! DAZAI!"

Iya. Lelaki itu mendengarnya namanya terpanggil, samar samar. Ia mencoba kembali berbicara untuk memberi tanda bahwa ia sedang ada di sini, terbaring lemah, sekarat. Ironinya, tidak ada suara yang keluar.

Kunikida...

Tidak ada hasil, tapi ia tetap mencoba.

"DAZAI! AKU DATANG SOBAT!"

Sebuah tangis lolos dari matanya. Ia mengasihani dirinya sendiri yang bahkan tak bisa ia kendalikan dan terlalu lemah. Ia mengasihani dirinya karena ia harus mendengar suara itu, suara yang bisa ia lihat di dalam pikiran gelapnya. Penuh rasa simpati, tangisan, penyesalan, dan rasa takut kehilangan dari sahabat karibnya.

"Ku...Kuni..."

"DAZAI!! DAAZAAIII!!!"

Suara itu mendekat, Dazai Osamu berusaha lebih keras lagi.

"Kuni...kida..." matanya terbuka.

"Kunikida..." kepalanya terangkat.

"DAZAI!!"

"KUNIKIDA!!"

Dazai mengeluarkan semua tenaga terakhirnya dan membiarkan dadanya menyentuh tanah kembali, dan dunianya yang menjadi hitam. Kedua matanya yang kembali tertutup setelah sebuah teriakan mustahil itu lolos dari mulutnya. Keajaiban ia bisa mengeluarkan volume suara sekeras itu.

Tapi tak apa, yang penting temannya sudah tau di mana ia dan bahkan sebelum benar benar tidur, ia merasakan kedua tangan melingkar di sisi tubuhnya, membawa kepala bermahkota kopi itu ke pelukan si megane.

Sang penyair menangis dalam diam. Kedua matanya tertutup rapat membiarkan belasan air mata melintasi kedua pipinya. Kepalanya tertunduk, poni blonde itu menutupi wajah memerahnya, yang tersenyum sedih melihat segaris senyum yang dibuat partnernya.

Seiring dengan tangis diamnya yang membludak menjadi histeris, Kunikida mengeratkan pelukannya. Membiarkan sebuah nafas panjang Dazai lolos setelah mendengar kata kata terakhir yang ia dengar.

"Kita pulang, Dazai."

SAKIN HAMPIR NANGIS PAS BACA INI T︵T

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.

すべてを読んでくれてありがとう

Subete o yonde kurete arigatō

(Terimakasih sudah membaca semuanya)