Nyonya Ahn menghentikan dorongannya pada kursi roda ketika samar-samar mendengar seseorang memanggil putranya. Ia mengedarkan pandangan sekeliling dan matanya berakhir pada sosok gadis mungil yang melambaikan tangan ke udara.
Ia mengernyit manakala gadis itu mendekat. Jujur saja, ia tak tahu-menahu siapa gadis itu. Baik Sehun maupun anggota keluarga lainnya tak pernah memperkenalkan dia.
"Anyeong Sehun!" gadis itu melambaikan kedua tangannya sembari menyapa.
Nyonya Ahn was-was melihat respon sang anak. Ia tersenyum singkat pada Luhan dan mengalihkan pandangannya pada sang anak yang sudah menatap lekat gadis itu.
"Kau Siapa?" Tanya Sehun dengan tatapan dinginnya yang menusuk.
Nyonya Ahn dapat melihat perubahan air muka gadis itu. Ia menghela napas.
"Kau lupa? Aku Lu Han! Kekasihmu. Ke-ka-sih-mu," ucap Luhan kesal. Gadis itu bahkan sampai mengeja dan menekankan kata kekasihmu.
Kedua wanita yang berdiri disana shock. Terlebih Nyonya Ah yang tak tahu menahu tentang gadis mungil yang terduduk di kursi roda itu.
Nyonya Ahn menghela napasnya kembali. Ia menatap sang perawat seakan meminta izin membawa Luhan sebentar.
Wei Fei mengangguk. Sedetik kemudian kedua wanita itu sudah bertukar posisi. Nyonya Ahn memutuskan membawa Luhan ke area taman.
"Namamu Luhan 'kan?" tanyanya ramah. Ia menyejajarkan tubuhnya dihadapan Luhan. Mengusap lembut kedua tangan gadis itu.
Luhan mangangguk, "Ne, ahjumma"
"Sehun sangat beruntung mendapatkan kekasih semanis dirimu," goda Nyonya Ahn yang tak sadar membuat sang gadis merona. Ia mencubit pelan hidung Luhan.
"K-kamsahamnida ahjumma" jawabnya tersipu.
"Luhan, jika Sehun tidak bisa mengenalimu, apa kau masih mau bersamanya?" Nyonya Ahn menatap sendu sang gadis. Kedua tangannya menangkup pipi gadis itu sambil mengusapnya pelan.
"A-apa maksud ahjumma? Tentu saja aku akan tetap bersamanya! Aku akan membuatnya kembali mengingatku!" ia menjawabnya dengan penuh keyakinan. Pikiran gadis itu hanya mengaggap ucapan Nyonya Ahn sebagai bahan candaan.
"S-sehun amnesia," lirihnya pelan.
.
A fiction by Hyrrokkin,
.
"SCHICKSAL"
.
HunHan
.
The story is pure mine. The characters are belongs to their own families.
.
Chapter 2
"Antar aku ke kamar, eonni" pinta Luhan dengan pandangan kosong.
Wei Fei awalnya ingin bertanya ada apa, tapi melihat kacaunya Luhan, ia urungkan niatnya.
Setelah mengucapkan salam pada Nyonya Ahn, Wei Fei mendorong kursi roda Luhan. Menyisakan tatapan sendu Nyonya Ahn dan tatapan penasaran Sehun.
Luhan sendiri tidak tahu kenapa airmata bisa dengan mudah menetes ketika mendengar pernyataan itu. Ia bahkan jarang sekali menangis sebelum kecelakaan itu terjadi. Yang ia lakukan hanyalah bermanja-manja dan menganggap semua kesedihan sebagai bahan candaan semata.
Sampai di kamar, Luhan mendudukkan dirinya di atas kasur. Meminta sang perawat pergi setelah membuka tirai serta jendelanya agar ia leluasa memandang langit gelap yang perlahan-lahan menumpahkan tetesan-tetesan air.
Bersamaan dengan derasnya hujan, airmata Luhan setetes demi setetes membasahi pipi gembulnya. Dinginnya udara yang menusuk kulit Luhan seakan menambah kepedihan yang dirasakannya.
Gadis itu menyembulkan kepalanya keluar. Membiarkan airmata serta air hujan bersatu padu dalam kepedihan hatinya. Membuat gadis itu semakin rapuh, seperti gelas kaca yang hancur berkeping-keping jika kita tidak hati-hati memegangnya.
"Luhan!" seorang gadis memekik histeris tatkala melihat sosok yang disayanginya bermandi hujan. Ia berlari dan bergegas menarik kedalam kepala gadis mungil itu.
"Apa yang kau lakukan?!" ia kembali memekik. Kedua tangannya menepuk pelan pipi gadis itu sebelum turun memegang pundaknya.
Menatap lemah, Luhan menyunggingkan senyum tipisnya pada sosok dihadapannya. Ia kembali menangis.
"B-baekki," lirihnya dan dengan tiba-tiba ia sudah mendaratkan tubuhnya di tubuh sosok itu, memeluknya erat dan memberitahu bahwa ia sedang lemah.
"Hei, hei, aku kesini untuk menjengukmu! Bukan untuk melihatmu menangis dan membasahi bajuku dengan airmata serta wajahmu yang kuyup!" Baekhyun melepaskan pelukan Luhan dan menatap kesal sembari memprotes gadis itu.
"Huh, kau–" tunjuk Luhan di wajah Baekhyun. "Menyebalkan!" pekik Luhan kesal.
"Oke. Maafkan aku Ludeer," sesalnya sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
Luhan menghela napas, "Ne, kumaafkan"
Jika kalian bingung kenapa mereka bisa bercakapan, jawabannya adalah Baekhyun sudah mengetahui perihal kondisi Luhan. Sang bibi yang menelponnya dan dengan jahatnya menyuruh Baekhyun mengambil penerbangan terdekat ke Beijing saat itu juga.
Baekhyun sendiri adalah campuran tiongkok dan korea, namun keluarganya memutuskan menetap di Korea walau sesekali mudik saat hari-hari perayaan tiba.
"Kau tahu betapa gilanya aku ketika Imo-nim menelpon dan menyuruhku kemari? Ahh benar-benar, kau ini pembuat kalut orang-orang" curhat Baekhyun yang terkesan blak-blakan
"Oh iya," Baekhyun menatap wajah Luhan sembari memicingkan matanya. "Kenapa kau melakukan hal tadi?" tanyanya.
"Seseorang melupakanku" lirihnya. Baekhyun yang menasaran langsung mendudukkn dirinya di samping Luhan, "Siapa?"
"Kekasihku"
"Eh? Kekasihmu disini?"
Luhan mengangguk lemah dan menatap Baekhyun polos lalu menjawab, "Ia sama sepertiku; baru bangun dari koma. Tapi, dia amnesia"
Baekhyun mulai kebingungan. Terakhir gadis itu bilang kekasihnya dipindah tugaskan ke luar negeri, lalu kenapa bisa berakhir disini?
Baekhyun berdehem; berusaha menormalkan ekspresinya, lalu menjawab, "Nugu?"
"Oh Sehun"
Bang! Baekhyun tersedak ludahnya sendiri. Bocah ini masih waras atau tidak sih?, Baekhyun membatin.
Sepengetahuan Baekhyun, Oh Sehun adalah salah satu mahasiswa tingkat akhir yang cukup populer saat ia baru memasuki bangku kuliah. Sosok pria yang dipuja-puja kalangan wanita, sosok idaman bagi para mahasiswi, dan musuh terberat bagi para mahasiswa di kampusnya.
T-tapi bagaimana bisa? Dia bahkan sama sekali bukan orang China.
SCHICKSAL
Di sebuah ruangan, perundingan yang sangat sengit tengah berlangsung. Di satu sisi, seorang wanita memohon-mohon pada wanita lain di hadapannya agar diperbolehkan membawa anak gadisnya.
Wanita itu putus asa. Ia bahkan sudah berjanji agar memenuhi segala kebutuhan gadis itu termasuk perawatan serta beberapa terapi agar mendapatkan izin. Namun, wanita itu bersikeras menolak.
"Saya mohon Nyonya Qian," ucapnya memohon dengan tatapan sendu dan airmata yang masih mengalir.
"Anak saya masih membutuhkan perawatan Nyonya," tolaknya halus
"Saya akan menanggung segalanya sebagai bentuk pertanggung jawaban jika Anda memperbolehkan saya membawa gadis Anda ke Korea" ucapnya lagi
Nyonya Qian menghela napas, "Semua keputusan ada di tangan anak saya," jawabnya pasrah yang dengan demikian menyelesaikan perundingan pelik itu.
"Terima kasih Nyonya Qian"
SCHICKSAL
Segerombolan orang masuk ke dalam ruang rawat Luhan. Raut wajahnya bermacam-macam: ada yang bahagia, takut, dan juga cemas.
"Lu, ada yang ingin ahjumma tanyakan," ucap Nyonya Ahn memecah kebingungan.
Luhan menautkan alisnya.
"Apakah kau mau jika –kau ikut ahjumma ke Seoul? Ahjumma ingin kau turut andil membantu kesembuhan Sehun," pintanya penuh harap dengan ukiran senyuman tipis terpantri di wajahnya.
"Apakah tidak apa untuk eomma?" Tanya Luhan. Ia menatap was-was ke arah sang ibu yang balik menatapnya sendu.
Baekhyun lantas membisikkan apa yang baru saja Luhan katakan. Nyonya Qian yang mengetahuinya hanya bisa tersenyum tipis dan membalas, "Gwaenchana," setidaknya itulah bahasa korea yang ia tahu.
"Tapi," Nyonya Qian melirik ke arah Tuan Oh. "Bisakah kalian juga membawa Baekhyun bersama? Hanya dia yang paling dekat dan mengerti anakku," jelas Nyonya Qian.
Tuan Oh dan Nyonya Ahn mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih. Tapi bisakah kalian membiarkan ia mendapat perawatan disini selama beberapa hari kedepan? Maksudku, ia baru sadar dan ya.. teman-temannya pasti juga ingin menjenguk rusa nakal itu yang hampir setahun berhibernasi," jelas Nyonya Qian diselingi candaan. Mereka semua tertawa, kecuali Luhan yang tentunya tidak mengerti sama sekali apa yang diucapkan sang eomma.
"Menyebalkan sekali. Kalian pasti membicarakan aku" gerutu Luhan.
SCHICKSAL
At Luhan's House
Baekhyun mengerutu setelah sang bibi menyuruhnya pulang. Ya, pulang dan merapihkan baju Luhan yang akan dibawanya ke Seoul.
"Benar-benar tak punya belas kasihan, huh" umpatnya kesal
"Aku bahkan baru menginjakkan kaki di Beijing setengah hari lalu," lagi, ia mengumpat. Niatnya ingin menendang udara, justru tak disengaja ia membuat tumpukan box kecil berserakan di lantai.
"Eh? Apa ini," gumamnya penasaran.
Tangannya menarik sebuah tali dan tanpa sepengetahuannya, tali itu terhubung dengan isi box merah muda di pinggir kakinya.
"Woah, apa ini pacar jiejie?"
Baekhyun mengambil robekan foto itu. Ia memekik histeris. Pria itu memiliki sorotan mata yang tajam dan kharismanya yang benar-benar mampu memikat siapapun. Di foto itu, tampak si pria merangkul pundak Luhan, sedangkan Luhan seperti tengah mencium pipi pria itu.
"Benar-benar romantis," Baekhyun terkekeh. Sedetik kemudian wajahnya berubah muram dengan kedua alisnya yang sudah mengeryit, "Eh, tunggu,"
"Dia bukan Oh Sehun!"
SCHICKSAL
Hari demi hari terus berlalu. Beberapa sanak saudara maupun teman-teman dekat Luhan bergiliran menjenguk gadis rusa itu.
Mereka hanya sekedar menjeguk, sesekali menanyakan keadaan Luhan tanpa sedikitpun menyinggung perihal masa lalunya.
Sebagian dari mereka memandang sedih gadis itu. Bagaimana tidak? Gadis itu benar-benar kacau. Mungkin tepatnya kacau setelah mendengar pernyataan Nyonya Ahn. Kantung matanya benar-benar kentara. Wajahnya pucat pasi tak berekspresi. Terkadang, ketika ditanya malah menangis, membuat yang menjenguk merasa bersalah; takut-takut ada omongan yang menyinggung.
"Wei Fei eonni," panggilnya
"Nona Luhan mau apa?"
"Sehun. Antar aku ke ruangnya," pinta Luhan. Lihatlah, gadis itu tengah merajuk sambil menunjukkan wajah menuntut serta tatapan mata memelas andalannya.
"Dia akan berteriak zombie jika aku mengantarmu kesana," canda Wei Fei yang dibalas tatapan sengit Luhan.
"Ara-ara. Cuci muka dan sikat gigimu dulu! Baru aku mengantarkanmu pada sang pangeran," titah Wei Fei yang disambut wajah sumringah gadis itu.
"Gomawo eonni!"
.
.
Di lain ruangan, seorang pria tampak tengah tiduran di paha seorang wanita. Sesekali pria itu melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang wanita.
Keduanya terkekeh.
"Eomma,"
"hm?"
"Luhan –siapa dia?" Tanya pria itu hati-hati.
"Kekasihmu," jawab sang ibu. Melihat wajah bingung sang anak, ia lantas melanjutkan, "Jujur saja, eomma sama sekali tak tahu dia. Salah siapa kau tidak pernah membawanya ke rumah," canda sang ibu. Belaian lembut pada surai Sehun telah berganti menjadi sebuah jitakan.
Sehun meringis sambil mengusap-usap rambutnya.
"Eomma, bisakah –kau menceritakan bagaimana aku dahulu?" pinta Sehun. Sang eomma sontak terkejut dan was-was. Sang suami sudah memperingatkannya untuk tidak membeberkan kisah-kisah anaknya yang bisa memicu reaksi pada kepala sang anak.
Sehun menangkap kegelisahan sang ibu. Ia perlahan bangun dan menangkup pipi tirus sang ibu seraya berucap, "Aku yang memintanya eomma. Aku akan menanggung resikonya agar eomma tak kena marah appa,"
Nyonya Ahn menghela napasnya, "Baiklah,"
Kemudian yang terjadi setelahnya hanya keheningan serta sikap-sikap manja sang anak. Sesekali mereka berdua tertawa atau bahkan saling melontarkan ejekan.
SCHICKSAL
Di sebuah rumah, seseorang tengah bermalas-malasan di sofa sambil menonton tv dengan banyak snack berada di dekapannya.
Sesekali ia memekik, menggerutu, dan tertawa bak orang gila sampai sebelum seseorang mengusik keasikannya.
"Hey, kau sudah dengar Oh Sehun sudah sadar?" temannya datang dengan membawa dua kaleng cola yang telah dibukanya.
"Aku dengar dia akan kembali ke Seoul besok. Kau tidak berniat menjemputnya?" lanjut temannya.
"Sial. Kenapa kau baru memberitahuku sekarang bodoh!" umpatnya kesal.
Menengguk colanya hingga habis, sang teman lantas tersenyum remeh ke arah orang yang terduduk di sofa, "Aku pikir kau sudah mengetahuinya. Kau 'kan kekasihnya," ia kembali menyunggingkan senyumnya.
SCHICKSAL
Luhan datang ke kamar Sehun sore hari. Ia terlalu sibuk memilih pakaian hanya untuk sekedar menjenguk. Benar-benar anak ini seperti tengah kasmaran-_-
Luhan menggeser pintu ruangan, menampilkan sesosok pria yang tengah bersender di kepala tempat tidur dengan mulut yang penuh. Disampingnya ada sang ibu dengan piring berisikan makanan di tangannya.
"Huh, kau umur berapa sih? Makan saja masih disuapi," ejek Luhan
"Itu karena tidak ada kau disini," godanya yang tak sadar membuat si gadis bersemu. Oh ayolah, baru beberapa hari tidak bertemu pria ini, kenapa sikapnya benar-benar sudah berubah?
"Kalau tahu kau kemari, aku tidak akan meminta eomma menyuapiku. Melainkan aku akan menunggumu untuk menyuapiku," lanjutnya santai.
Sial. Sial. Sial. Luhan, tidak seharusnya kau melontarkan ejekan itu! Sekarang kau dibuat menyesal olehnya. Lihatlah betapa merahnya wajahmu yang melebihi lobster rebus.
. Oh Sehun benar-benar menjadi perayu ulung selepas bangun dari koma.
"Kemarilah," Sehun memberi gestur dengan tangannya yang menepuk-nepuk ruang kosong di tempat tidurnya. "Wae? Tidak mau?" Tanya Sehun karena Luhan masih diam membeku di tempatnya begitu juga dengan Wei Fei karena Luhan tak memintanya bergerak.
"Nunna, bawa Luhan kemari untukku" pinta Sehun yang membuat Wei Fei mengangguk dan terkekeh.
"Eomma, sekarang suapi Luhan juga, ne" Sehun memandang sang ibu hingga mendapat anggukan sebelum menatap pujaan hatinya (?)
"Besok kita kembali ke Seoul. Kita akan membuat kisah baru disana," ujar Sehun yang terkesan cheesy.
Sang ibu seketika tersedak air liurnya sendiri, sedangkan Wei Fei hanya bisa membekap mulutnya menahan tawa sambil membalikkan tubuhnya.
"Ada apa dengan kalian?" Tanya Sehun polos. Sang ibu berusaha menetralkan ekspresinya, lalu menjawab, "Tidak ada. Eomma hanya bangga anak eomma ternyata sudah dewasa," ia beralasan.
.
.
Keesokan harinya, mereka sudah berkumpul di bandara. Ibu Luhan dengan tak rela melepas kepergian anaknya walau ia sendiri berjanji akan sesering mungkin menjenguknya.
Wei Fei? Perawat itu sedaritadi terperangkap dalam dekapan Luhan. Bajunya bahkan sudah basah oleh airmata gadis itu. Ia meregek agar Wei Fei juga ikut ke Seoul namun apa daya, Wei Fei lebih memilih mengabdikan dirinya di negeri asalnya.
"Baekhyun, pastikan anak ini sehat selalu! Kabari bibi setiap hari!" titah Nyonya Qian
"Aish Imo-nim.. kenapa harus selalu aku sih," dengusnya sebal
Mereka yang berada di sana hanya bisa tertawa karenanya.
SCHICKSAL
Di lain tempat, seseorang mendengus kesal karena lampu merah yang tak kunjung berubah serta kecelakaan di depannya yang memperparah kemacetan. Ia memukul stirnya berkali-kali.
"Yeoboseyo. Kapan penerbangan dari Beijing tiba?" Tanya orang itu tak sabaran
"10 menit lagi,"
"Baiklah. Ambil mobilku di kawasan Heukseok-dong! Aku akan naik subway" titahnya. orang itu lantas memutuskan panggilan sepihak.
SHICKSAL
Pesawat sudah mendarat beberapa saat lalu. Sembari menunggu jemputan, mereka memilih menghabiskan waktu untuk makan bersama.
Sambil diselingi canda tawa, mereka seperti keluarga yang sangat bahagia. Oh, mungkin lebih tepatnya kalimat itu diperuntukkan bagi Luhan dan Sehun.
Lihatlah betapa mesranya mereka. Luhan tampak menyuapi Oh Sehun dan Sehun sendiri memilih menggoda Luhan. Menyisakan tatapan sebal gadis mungil lain yang duduk disana –Byun Baekhyun.
Terus saja lupakan aku jie,huh
"Yak Baekki, kenapa wajahmu seperti itu eoh?" suara Luhan menginterupsi pendengarannya.
"Aku? Lihat saja sendiri" jawab Baekhyun ketus
"Kau cemburu, ahahaha" goda Luhan. Ia melanjutkan, "Kau harus cepat-cepat mencari jodoh! Kau sudah kuliah semester 3 tapi sama sekali belum pernah berpacaran," ejeknya
"Yak jie! Jangan membuka aib aish" protesnya kesal. Yang lainnya malah justru tertawa.
Baekhyun yang kesal justru menatap ke arah jendela dan kembali menggerutu.
Setengah jam berlalu, mereka memutuskan bangkit dan pergi ke parkiran. Namun ditengah perjalanan mereka justru dihadang oleh seseorang dengan wajahnya yang panik, "Ah, Anyeonghaseyo ahjumma. Saya mencari kalian kemana-mana sedaritadi karena tak kunjung datang," ucapnya sopan.
Pria itu tampak sedikit kaget dengan kehadiran dua sosok gadis mungil. Ia lantas mendekati keduanya setelah rombongan mereka sudah jalan duluan.
"Luhan? Kenapa kau bisa ikut bersama mereka?" Tanya pria itu shock. Dan ia lebih shock lagi mendengar jawaban Luhan, "Kau –siapa?"
Pria itu berdehem berusaha menetralkan kegugupan dan keterkejutannya, "Perkenalkan, aku –Kris Wu" ia mengulurkan tangannya seraya tersenyum.
Disisi lain, seseorang yang berdiri disana menatap kedunya tak suka. Lebih tepatnya tatapan itu ditunjukkan untuk si pria.
"Bisakah kita bicara sebentar?" pinta Baekhyun dengan nada tegas terkesan menuntut.
.
.
.
TBC
Pertama-tama saya ingin berterima kasih atas respon kalian di chapter pertama. Benar-benar diluar prakiraan saya XD saya pikir untuk ukuran fanfic ini responnya gaakan lebih dari 10 dan ternyata.. Jeongmal kamsahamnida~
Dan ini chapter 2 nya. Yang minta fast update, ini termasuk fast kan? xD
Maaf jika chapter keduanya ancur atau diluar perkiraan kalian. Oh iya, fanfic ini rencananya berakhir di chapter 5 atau 6 /? Yang jelas gasampe 10 chap kok. Takut-takut gabisa ngelanjut kalau kebanyakan, apalagi udah mau masuk sekolah /masih lama-_-
Sekali lagi, terima kasih untuk kalian semua yang sudah meluangkan membaca, mereview, memfollow, dan memfav fanfic yang masih banyak kekurangannya ini. Kritik dan saran kalian saya tunggu.
Sedikit balasa review :
NonaLu : Iya, Sehun orang korea asli
Lisasa Luhan : Harapan kamu sepertinya belum terkabul /lirik pacarnya Sehun/
Ruixi1 : gapapa modus, kan Luhan si rusa centilnya Oh Sehun seorang xD
RZHH 261220 II : Maklum abis bangun koma sifat genitnya bangkit lagi /g
Oh Juna93 : Saya juga baru tau xD tenang, itu jiwa Luhan gak seperti sinetron putri yang tertukar kok/?
Prince Changsa : kelakuan Luhan kenapa atuh? :(
Mongkalee : terima kasih~ sudah dilanjut ya :)
Ariviavina6 : jiwa Luhan salah naik pesawat makanya nyasar ke soukor nih /gak
Kimyori95 : kalau tertukar kasian Sehun dong nanti jadi ngondek /gak
Byul Hun.K : terima kasih~ gak gimana-gimana kok/?
N. : hmm,, bisa jadi xD
Rah : Terima kasih~
Yang minta lanjut, ini sudah saya lanjut ya~
