Oke ini dia minna, last chap dari Reason Living.
Dan Sakin peringatin kalian akan ada adegan T disini. Maaf kalau gak suka•︹•;
Enjoy.
Recommend song : Dazai Osamu-Eien Misui Ni Good Bye
(babang Da chan yang nyanyi!!XD)
3421 words. The longest chapter
5 Maret – 2 bulan setelah tragedi pengeboman.
Damai dan udara sejuk menyelimuti Yokohama sehari setelah pengebomam besar besaran itu. Ternyata bukan hanya gedung Mafia yang menjadi korbannya, beberapa pangkalan minyak yang terletak di pelabuhan kota tercinta ini juga bernasib buruk. Para pendukung Fyodor Dostoyevsky meluncurkan rencana kedua untuk menghasilkan gelombang penyerangan lainnya. Sayangnya mereka salah langkah dan berakhir di kepolisian. Terimakasih kepada Ranpo Edogawa dan Dazai Osamu yang memikirkan matang matang semua ini akan terjadi.
Sekarang, mereka tidak perlu gelisah lagi. Tidak ada keributan, kerusuhan, ataupun ancaman perselisihan, setidaknya untuk sekarang. Helaan nafas lega telah bisa di rasakan semua orang di kota Mafia ini. Walaupun sebagian dari mereka harus bersedih karena pesta tahun baru kali ini tak bisa semeriah seperti yang lalu.
Tepat pada pukul 9 pagi ini, sebuah berita nasional mengenai Yokohama di sebarkan ke seluruh Nihon. Mereka melaporkan semua kejadian yang berlalu, kronologi kejadian yang di malam yang panjang itu juga penyebutan nama tokoh masyarakat yang ikut membantu. Dan bahkan seorang detektif yang berlagak jika ia adalah detektif terpintar hadir di wawancara singkat itu. Siapa lagi kalau bukan Edogawa Ranpo.
Semua orang tertawa saat melihat tingkah di pria berkacamata itu yang sebagian besarnya mengarah kekanakan, dan bahkan pembawa berita itu kewalahan membawa topik karena Ranpo yang terus menerus menstatement dirinya jika ialah yang terbaik, mengambil peran besar dalam kasus kali ini.
"Akulah Edogawa Ranpo! Aku adalah detektif pertama yang tidak membutuhkan observasi ataupun pengamatan lapangan! Semua itu ialah cara kuno yang di lakukan tikus bodohh, di masa lampau. Heh!"
Setidaknya begitulah topik dominan yang di bicarakannya. Hingga ia sendiripun yang menonton siaran ulang, tertawa terbahak bahak dan tetap memberitahu bahwa ia yang terbaik.
"Mereka semua bodoh. Aku mengira mereka akan menanyakan kemampuan luar biasaku, tapi mereka malahan menanyakan perihal yang jauh dari diriku. Lalu untuk apa mengundangku jauh jauh ke Tokyo?!" ucap Ranpo dengan nada tinggi setiap di akhir kalimat. Ia tak mengalihkan fokusnya pada sebuah buah di tangan kirinya dan sebuah pisau yang memotong kulit apel di tangan kanannya. Mulutnya terus meracau tak jelas walaupun tangannya terus bergerak tanpa salah.
"Mungkin host itu salah membacakan pertanyaan. Tenang saja Ranpo ni, Hima selalu mengakui kemampuanmu terbaik dari yang terbaik."
Ranpo langsung membuka matanya saat suara lembut itu masuk ke indra pendengarannya yang sukses membuat dua emerald itu mengatup sedih. Ia kembali menunduk melihat sebuah buah apel yang kini bersih dari kulit kemerahannya. Tangan kirinya beralih ke meja kecil dan meletakkan pisau itu begitu buah tersebut telah di potong 8 bagian.
"Aku tau itu Hima. Kau yang terbaik bagiku."
Ranpo kembali menggerutu kuat untuk menyelaraskan suaranya. Ia bahkan tidak tau kenapa suaranya tiba tiba merasa begitu dalam dan berat, sangat parau seperti ingin menangis. Ia kembali terdiam tanpa suara atau tindakan setelahnya, ia dihipnotis oleh sebuah lullaby pemikiran di kepalanya. Hingga saat sebuah suara kembali datang ke arahnya, Ranpo merespon.
"Ya?"
Tidak ada suara lagi setelahnya. Tapi muncullah suara yang penuh akan rasa cemberut, tapi cukup tenang untuk kakak seperti Ranpo.
"Bagaimana...setelahnya?" sebuah suara pelan dan lemah datang dari perempuan pink di sebelahnya, duduk lemah dengan separuh tubuhnya yang tertutup selimut.
Ranpo memutuskan untuk menaruh piring penuh dengan buah apel yang telah ia kupas di depan adiknya. Ada sebuah empat penaruh makanan khusus di depannya. Saat kedua mata imitasinya beralih ke suapan sebuah potongan apel yang di tawarkan Ranpo, lalu menelannya, barulah ia menjawab.
Oh astaga, Himawari bisa merasakan hawa kekecawaan mencuat dari belakang kakaknya.
"Fyodor telah di temukan dan memutuskan untuk di bawa ke peradilan. Karna kondisinya yang tidak stabil, ia di rawat di rumah sakit, yang berbeda." Ada sebuah jeda selama Hima mengunyah apel itu dan Ranpo yang menyiapkan suapan ke dua. "Lalu si megane itu menemukan si bakka Dazai dan engkau. Tim penyelamat segera datang, dan kalian berdua di rawat. Sampai sekarang. Ini sudah 2 bulan setelah kejadian itu."
Kedua kelopak mata Ranpo terbuka saat ia menunduk untuk membiarkan poninya menutupi wajah sedihnya. Ia sebenarnya tak ingin memberitahu sebanyak ini, tapi sisi lain dirinya ingin memberitahu kabar yang mungkin mengejutkan bagi adiknya.
"Lalu, bagaimana Dazai san?" Hima bertanya cepat, ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang nanti di ucapkan kakaknya.
Kedua alis Ranpo terangkat begitu juga dengan poni kelamnya saat wajah santainya menghadap Hima. "Ia koma selama 4 minggu dan menjalani operasi untuk kelima kalinya dua hari yang lalu. Mungkin sekarang ia sudah siuman."
Hima sendiri memutuskan untuk diam, dan menelan kunyahan terakhirnya saat ia menolehkan kepalanya memandang ke arah jendela. Dimana sebuah dahan besar menempel di kaca jendela, dan angin dingin yang menerpa.
"Dan Dazai..." sebuah jeda panjang itu memaksa Hima memutar kepalanya dan memberikan kakaknya tatapan sedih. Ia mengelus sebuah gips besar yang menutupi tangan kanannya.
"...Dan dazai kehilangan tangan kirinya."
Serupa dengan kakaknya, Himawari menundukkan kepalanya sedih lurus menuju sebuah sling biru yang menggantung di bahunya dan menjadi topangan gip tangannya. Ia tau ini akan terjadi, ia tau ini akan terjadi bahkan sebelum dari semua ini di mulai. Dan kini ia menyesalinya. Biarpun tau menyesal itu tiada gunanya, ia tetap kecewa dengan keraguannya. Andai saja waktu itu ia tidak ragu dengan prediksinya.
Pasti semua ini tidak akan terjadi.
Kedua pikiran kakak adik ini sekaan buyar setelah ketukan di pintu kamar Hima terdengar beberapa kali. Hima yang pertama menyadarinya segera mengusap air mata dari pipinya dan memegang tangan kakaknya yang bergetar. Ranpo segera menegakkan kepalanya dan berkedip beberapa kali sebelum tersenyum kepada adiknya yang tersenyum manis kepadanya. Ia segera menaruh semua peralatan yang ia pegang dan mengarah kepintu setelah ketukan kelima terdengar.
Saat Ranpo membuka pintu berwarna krim itu, dua orang pria langsung langsung masuk dengan seorang yang dibelakangnya, mendorong sebuah kursi roda yang di pakai seorang lagi. Ranpo memarahi orang yang memakai kacamata coklat disana yang sibuk memposisikan kursi roda di tempat yang aman. Ia tak memperdulikan omongan blak blakkan Ranpo selama dirinya berjalan ke arah jendela dan menutupnya agar tak ada lagi angin dingin masuk.
Hima sendiri tak bisa berkata apa apa setelah melihat seorang pria bermahkota kopi yang duduk di kursi roda-disampingnya-yang sibuk memamerkan senyuman cerianya. Setiap kali melihat kedua netra chestnut itu, Hima tak mampu meluncurkan kata apapun dan jatuh dalam kediaman. Ia menundukkan kepalanya untuk memposisikan poni merah mudanya agar menutupi air mata yang menetes jatuh ke selimut tebalnya.
Ia bahkan tak bisa mengangkat kepalanya, untuk melihat kenyataan bahwa satu tangan Dazai telah hilang. Dan Dazai tak berekspresi apa apa selain tersenyum. Bagaikan tak ada apa apa yang terjadi padanya, semuanya terlihat baik baik saja.
Dan itu membuat hati seorang putri Edogawa retak.
"Kukira kau sudah mati, Dazai." Ranpo memulai pembicaraan. Ia kembali duduk dan mengambil sebuah apel yang di lemparkan kepada Dazai. Tapi sebelum Dazai menangkapnya, Kunikida bertindak cepat dengan menangkap apel merah yang melayang itu. Lalu menggelengkan kepalanya.
Seiiring dengan sebuah tawa Dazai, Kunikida Doppo menggerakkan kembali kakinya untuk mendekati meja dan mengambil sebuah pisau di sana, mengupasnya.
"Saya inginnya begitu. Tapi tidak akan seru jika saya melakukannya sendirian. Kan Hima chan?"
Wanita itu mengusap wajahnya menggunakan punggung tangannya dan hendak menjawab Dazai di sampingnya, tapi Kunikida keburuan memotongnya.
"Tidak akan! Jika kau mau mati, mati saja sana sendiri!" serunya tinggi sehingga suaranya nampak naik satu oktaf. Hima tertawa sejenak saat mendengarnya.
"Kalau saya mati, apa Kunikida kun tidak akan mengkhawatirkan saya? Hm..." sebuah ekspresi keseharian si maniak bunuh diri muncul begitu saja selama ia mengucapkannya. Kunikida tersentak sedikit, dan melirikkan kedua matanya menuju seorang pria di kursi roda. "Saat itu saja, kau menangis histeris gara gara saya tidur sejenak. Saya sungguh tidak tenang dan kembali hidup saat kau berteriak keras di telinga saya dan membatalkan diri saya untuk mati. Ironi..."
Kali ini Dazai bisa tertawa bebas dan keras tanpa peduli partnernya akan memukulnya ataupun membantingnya seperti biasa. Kunikida tak bisa berbuat apa apa selain menahan amarahnya dan terus mengupas buah apel itu. Jika Dazai tidak sedang dalam masa penyembuhan maka ia akan membebaskan kedua tangannya untuk melakukan hal yang belum pernah Dazai sendiri pikirkan. Tapi saat ini, ia tetap diam dan menelan kembali kehendaknya untuk memukul.
Tak beberapa lama kemudian pintu di depan sana kembali terketuk dan perhatian mereka teralih seketika. Setelah Ranpo memberi izin untuk masuk, seorang berkacamata bulat melangkah masuk bersama dengan seorang pria berjas lainnya di belakang. Begitu melihat pria berkacamata itu, bibir Dazai langsung melengkung menyeringai bersamaan dengan aslinya yang menaut.
"Halo Dazai, Himawari san. Kalian sehat?" ucap pria itu seraya mempersilahkan bawahannya menaruh dua baket bunga dan sebuah keranjang penuh buah buahan sebagai buah tangan mereka. Setelahnya pria berkacamata hitam itu keluar dari ruangan sehabis tugasnya usai.
"Saya merasa deja vu. Saya juga pernah mengunjungimu seperti ini bukan, Ango?" Dazai membalas, ia menunjuk teman lamanya itu dan mengedipkan sebelah matanya.
"Memang. Dan untuk Himawari san, kepolisian Yokohama dengan senang hati mengundangmu untuk datang ke Departemen kami."
"Bakka! Kau tidak melihat dia sedang dirawat?!" Ranpo mendesis, ia memberikan Ango deathglare sementara ia membetulkan kacamata miliknya. Ango hanya diam menatap dan mengangguk menyetujui.
"Dan Himawari san, saya juga tidak menyangka anda akan melakukan hal sebegitu nekatnya." Ucap Ango kembali. Kini seutas senyuman tipis terbit di wajahnya. Melihatnya Himawari terdiam sejenak dan terseyum juga.
"Aku sudah tidak punya pilihan lain selain rencana bunuh diri." Hima menggelengkan kepalanya untuk menyembunyikan senyuman dan pipinya yang merona. Dazai hanya bisa mengeluarkan kekehan pelan dan kembali melihat Ango.
"Baiklah. Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan." Ango menunduk memberikan salam pamit dan menggeser pintu sebelum ia kembali berbalik dan menaikkan kacamatanya.
"Dan Dazai, aku juga turut berduka dengan lenganmu." Suaranya begitu parau dan terdapat sedikit bumbu sedih di sana. Ia kembali menundukkan tubuhnya dan keluar dari ruangan.
Kepergian Ango disana hanya menyisakan suasana yang sunyi dan tidak ada satupun yang ingin berbicara. Ranpo dan Kunikida masih sibuk dengan potongan buahnya dan dua pasien ini terdiam memandangi sudut random di dalam ruangan yang tak lebih besar daripada kantor agensi itu.
Setelah beberapa saat, nada dering berbunyi dari saku Kunikida dan ia segera mengangkat ponsel mendekati telinganya. Yang menelponya saat ini ialah Yukichi Fukuzawa yang menyuruhnya untuk pergi menghadap dirinya di Agensi bersama dengan Ranpo. Dazai menaikkan alisnya sebelah dalam keheranan beitu juga Ranpo melirik ke arahnya saat Kunikida menjelaskan pesan yang di sampaikan oleh Sachou tadi.
Ranpo Edogawa segera berdiri dan membersihkan tubuhnya dari potongan buah buahan lalu menghampiri adiknya untuk menciumi pucuk surai merah mudanya. Hima hanya bisa mengeluarkan ekspresi zonk dan rona tipis di masing masing pipinya.
Si megane kembali bersiual lembut saat melihat dua garis merah tercipta di pipi lembut partnernya dengan wajahnya yang selurus memandang si tuan putri Edogawa.
Dua orang Agensi itu akhirnya pergi dan Ranpo mengeluarkan pesan peringatan kepada Dazai jika ia berani macam macam dengan adiknya. Tapi Kunikida mencegatnya dan menanyakan kepada Dazai jika ia ingin pergi atau tidak. Ia tak menjawab tapi Hima yang menjawab jika ia membutuhkan teman. Karna itulah rona di pipi tembem Dazai semakin bertambah dan Kunikida harus menggigit bibir bawahnya untuk meredam tawanya.
Sekalinya ruangan benar benar hening, Dazai Osamu bergerak sejenak memposisikan tangannya di pegangan kursi roda dan mencoba menggerakan kakinya yang di tutupi gips tebal. Dua emerald berharga itu menatapnya pilu saat dua chesnut itu menutup sakit. Sebuah rintihan lolos dari mulutnya saat Dazai merasa tubuhnya tak berpihak padanya, terasa sakit semua.
"Nee, Hima chan, bisa ambilkan kruk di sampingmu?"
Hima menoleh untuk melihat sebuah tongkat pembantu untuk berjalan di sisi kiri kasurnya, bersandar dengan meja tak jauh. Jadi ia menggapainya dan memberikannya pada Dazai. Setelah ia mendapatkannya, dua kaki perbalut perban itu bergerak dan Dazai tak lagi dalam posisi duduk.
Ia merintih sedikit dan mengeluarkan suara yang lucu menurut Hima dalam prosesnya berdiri sejenak lalu kembali duduk di tepi kasur Himawari. Perempuan berusia 22 tahun itu terdiam sejenak heran apa yang hendak pria detektif ini lakukan. Ia kembali mengeluarkan nafas lega saat ia kembali duduk dengan tenang dan menyandarkan tongkat yang tiba tiba terasa berat itu di sampingnya. Lalu kedua mata mereka bertemu lagi.
"Nah, kalau begini jadi lebih dekat." Dazai menyeringai dan Hima terdiam tanpa ekspresi. Mengambil kesempatan, sang pria menyingkirkan sebuah nampan besar yang melingkari ranjang Hima dan tak sengaja menjatuhkannya ke sisi kanan ranjang, mengenai kursi roda Dazai, lalu mengeluarkan bunyi keras.
Wajah Dazai kembali cemberut saat melihat kursi rodanya kini semakin jauh dari jangkauannya dan terpaksa ia harus duduk di sini hingga ada seorang yang masuk. Hima sendiri membulatkan mulutnya dan membiarkan kedua netra indahnya membulat terkejut saat melihat sebuah piring di lantai diikuti beberapa potongan apel yang terbuang sia sia.
"Mou! Dazai san bakka! Aku baru makan tiga potong!"
"Maaf maaf. Saya tidak sengaja. Nah Hima chan, bagaimana keadaanmu?"
Kata kata itu mampu membuat perhatian Hima kembali kepadanya dan menatap lurus dua netra sempurna Dazai.
"Aku hidup. Dibandingkan dengan luka yang kau dapat, aku baik baik saja. Bagaimana denganmu?"
Dazai memutar dua iris chesnutnya dalam tampilan mencari jawaban yang tepat.
"Lebih baik sekarang. Apalagi saya juga harus mentraktir Kenji kun makan yakiniku. Lalu hutang saya pada Ranpo san dan-"
"Aku minta maaf Osamu kun."
Dazai mengenali kata kata itu. Ia spontan menolehkan kepalanya dan menatap Hima yang lebih rendah darinya. Karna sang perempuan menunduk dan surai pinknya yang dibiarkan tergerai tanpa ikat rambut merah yang biasanya ia pakai, ia tak bisa melihat jelas ekspresi kasar Himawari. Tapi tak perlu melihat Dazai tau segalanya. Kedua matanya melembut dan sebuah helaan nafas lega lolos dari hidungnya.
"Tak perlu meminta maaf. Lihat saya baik baik saja. Racun itu sudah hilang akibat kemarahan dari Yosano sensei dan penanganan para dokter hebat di rumah sakit. Justru saya berterimaksih padamu, Hima chan. Mungkin jika kau tidak menahan beton kecil waktu itu, kepala saya sudah hancur, dan saya tak bisa tenang karna saya mati sendirian." Dazai tertawa renyah, berharap ia bisa mencairkan susana tapi ia salah besar. Ia langsung menghentikan tawanya saat ia mendengar sebuah tangis sedu dari Edogawa Himawari.
"Akulah yang merencanakan ini semua Dazai san. Aku juga sudah tau jika ini akan terjadi dari awal, bahkan sebelum pesta tahun baru terjadi. Tapi aku-"
"Saya juga melakukan hal yang sama Hima chan."
Mata Hima membelalak dan menurunkan beberapa tetes air mata di atas selimut putihnya sebelum sebuah kulit bersentuhan dengan dagunya. Sebuah jari telunjuk Dazai yang melengkung menuntun wajah sembab itu untuk mendangak bangkit, memaksanya melihat wajah oval Dazai. Hima tak keberatan dan menyesuaikan pandangannya saat kedua netra itu bertemu.
Lagi lagi Dazai Osamu melembutkan pandangannya saat dua iris elmerald yang dulunya secerah mentari sekarang buram seperti bunga mentari yang layu. Ia bahkan takut untuk melihat masuk ke dalam sana, bagaikan jika dilihat saja dua keindahan itu akan hancur saking rapuhnya.
Sebelum ia berbicara, tangan kanan Dazai menelusur pipi chabi Hima dan mengusap beberapa air mata yang jatuh di sana. Entah seberapa banyak pun dazai mengusap bulir bulir itu, Hima tetap tak bisa menghentikan laju air matanya. Setiap netra kepunyaannya menemui Dazai, ia akan menangis pilu. Ia baru menyadarinya sekarang, dan sekaranglah waktu yang tepat.
Tidak ada rasa sakit di dalam sana, hanya sebuah rasa kasihan dan dan sedih yang mendalam di dua chesnut indah itu.
"Karna itulah saya berusaha untuk bunuh diri Hima chan. Dan itulah kemauan ayah saya. Ia bahkan sudah tau jika anak yang semata wayangnya akan menjadi mesin pembunuh di masa depan, dan mencoba beberapa kali untuk membunuh anaknya sendiri. Demi keselamatan Yokohama." Ada sebuah jeda disana. Dazai menundukkan pandangannya untuk menelan beberapa titik salivia agar air matanya tak jatuh kali ini.
"Sebagai seorang anak yang di karuniai sebuah otak yang di atas rata rata dan hadiah mengerikan, saya harus bisa memposisikan diri saya di tempat di mana saya seharusnya. Tapi tetap saja saya tidak bisa menemukannya. Saya tidak menghendaki semua karunia ini. Dan sekarang, Kami Sama mengambil tangan kiri saya." Ia kembali menjeda dan memeluk tangan kirinya yang diatas sebatas siku. "Saya menerimanya. Dan saat dokter menawarkan sebuah tangan palsu, saya juga tidak menolaknya."
"Karna akan dibutuhan nanti."
Dazai diam sejenak sebelum ia mengangguk dan menutup kedua matanya. "Ya. Beberapa tahun kedepan akan terjadi peristiwa yang bahkan lebih buruk dari sekarang. Kau juga telah memprediksinya bukan, Hima chan?"
Hima mengangguk ragu bersamaan dengan Dazai yang kembali mengunci pandangan kepadanya. Tiba tiba keduanya tersenyum tipis merasa sedikit bahagia. Akhirnya mereka mendapatkan waktu mereka yang tenang dan damai.
Perempuan pink itu tidak protes saat sebuah tangan Dazai menggenggam tangannya dan membawaya mendekati dada bidang Dazai yang tertutupi yukata rumah sakit. Di kulitnya yang halus, Hima tersenyum lebar kepada Dazai saat ia merasakan beberapa detak jantung si pria kopi.
Untuk membalas senyumanya, Dazai terkekeh kecil dan menyandarkan dahinya ke dahi Himawari. Begitu mereka berdua bersentuhan, Hima terlonjak kaget karna wajah mereka yang terlalu dekat.
Seiiring dengan waktu, pipi Hima kian merona saat hembusan nafas hangat Dazai menyentuh pipinya. Untung saja dua buah iris coklat itu tak terbuka normal.
"Tenang saja, Dazai chan, kau juga sudah mempredeksi ini akan terjadi kan?"
Bushh!! Kini seluruh kulit wajah Hima kian merona seperti buah apel. Bagaimana tidak, Dazai sengaja merefer marganya menjadi marga Dazai sendiri. Ada apa ini? Hah!
Sebelum bisa berkata apa apa, Hima sudah dibuat merona lagi dengan sebuah ciuman yang mendarat di bibir mungilnya. Kedua matanya membola seketika melihat dua mata Dazai yang tertutup tenang tampak menikmati ciuman mereka. Hima tak suka ini. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi sedetik setelahnya ia merasakan lidah Dazai yang telah berlumur salivia mengoles bibir bawahnya lembut.
Astaga Dazai!!! Kau akan mati di tangan Ranpo!
Hima tau ini, Hima tau ini! Dazai meminta lebih dengan mamaksanya untuk membuka mulutnya membiarkan sang maniak bunuh diri beradu lidah dengannya. Tidak, Himawari tidak menginginkan ini.
Ia menutup matanya kuat dan cukup kuat untuk melawan hawa nafsunya agar tak tergoda tawaran Dazai. Tak mau melukainya dengan menggigit lidahnya, Hima mengeluarkan semua tenaganya di tangan kirinya dan mendorong dada Dazai menjauh.
Dan Hima harus berterimakasih dengan Kami Sama karna Dazai tak bisa menggunakan seluruh tenaganya untuk melawan karena tubuhnya yang masih lemah.
Akhirnya Dazai tersentak kebelakang dengan kuat dan jatuh dengan kepala membentur lembutnya selimut. Hima mengambil kesempatan ini untuk mengatur nafasnya dan menurunkan tempo cepat yang di hasilkan jantungnya. Dan ia yakin satu hal, ia tak akan bisa meredam rona merah di wajahnya-bahkan di telinganya-hingga Dazai keluar dari kamarnya.
Selesai dengan pengaturan nafasnya, dan merasa rona merah itu kembali meredam, Hima mendengar suara rintihan kecil dan kembali melihat Dazai yang berusaha untuk bangkit duduk. Ia mencoba berapa kali untuk duduk tapi gravitasi kasur lebih besar dari dugaannya. Melihatnya Hima terlebih dahulu menggigit bibir bawahnya untuk meredamkan tawanya tapi malah tak sengaja merasakan salivia Dazai yang tersangkut di sana.
Alhasil. Pipinya. Memerah. Lagi.
Biarpun beberapa menit mereka berdua menunggu dalam sunyi, Hima tak berbuat apa apa selain membiarkan wajahnya yang full red terekspos, ia ingin sekali menyembunyikan rona memalukan ini dengan tangannya tapi sayangnya ia terlalu lemah untuk menggerakkan tangan kirinya. Dazai telah mengambil semua energinya.
Dan Dazai sendiri telah dapat duduk dengan pas saat Hima akhirnya mendapat energinya kembali dan menutupi wajahnya menggunakan bantal di belakangnya.
Dan sebuah suara di hadapan mereka mengintrupsi, sontak mereka berdua menoleh dan melihat tv yang menggantung menyala, menayangkan sebuah tayangan.
Oh, ini yang waktu itu di janjikan Elise. Pikir Dazai sambil menyeringai.
Di layar besar itu menayangkan seorang yang berjalan gontai menuju pintu besi yang sepertinya tidak bisa terbuka dan pria dengan topi hitam itu memegang permukaanya, seakan akan bisa membukanya.
Para tamu yang tidak terikut fokus dan terkena blur semuanya menunjukan ekspresi yang sama, yaitu ketakutan saat melihat si cebol Mafia hendak membuka pintu itu.
"Aku adalah anggota Mafia, salah satu dari Lima Eksekutif Utama!"
Mendengar statement Chuuya saat itu membuat Dazai tertawa keras dan Hima yang melebarkan senyumannya. Lumayan, kini ia terlalihkan oleh rona merah di pipinya.
Dazai berpikir, bagaimana hal seperti itu tidak lucu?! Lihatlah si cebol itu berjalan gontai dengan tangan yang memegang jaz hitam, makin mirip seperti gantungan baju dan topi diatasnya! Huuu...Lima Eksekutif Utama...lol ia pikir ia bisa berlagak memamerkan kekuatannya dengan tangan kecilnya, lalu lalu wajahnya...MWAAHAHHAHA!!!
Tepat saat itulah, sebuah tawa lolos dari Dazai dan cukup mengejutkan Himawari. Tak lama juga mereka tertawa bersama. Bertepatan dengan Hima mengusap sebuah air mata kesenangan di pelupuk matanya, Dazai berbalik melihatnya dan tersenyum manis lagi.
"Apa yang kau berikan sebagai gantinya?"
"Tak banyak. Si Cengeng dari Port Mafia, lebih dari cukup."
To Be Countinue
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
