Sesuai janji, Sakin akan mempersembahkan kalian satu chap bonus.
Dan ini murni ide imajinasi Sakin. I'm warning you there can be hurt and fatherson moment.
Sebenarnya Sakin mau buat Dazai diganti dengan Tsushima, karna itulah marga sebenarnya Osa. Tapi karena sudah biasa, dan itupun sudah termasuk ke line cerita, apa daya Sakin ini ω
Hope you like ω
"Tou san! Tou san, hentikan!"
Anak lelaki itu berteriak tanpa henti melindungi tubuhnya menggunakan kedua lengan dari cabukan rotan yang terasa perih dan panas itu. Seakan tak peduli teriakan si bocah mungil itu, lelaki dewasa yang tepat di depannya tetap mencambukinya menggunakan rotan dengan gerigi di sisinya. Ia melayangkan ke kulit putih nan halusnya, memaksa sebuah teriakan keras berdengung di sisi ruangan.
"Tou san! Kumohon, sakit..."
Satu cambukan kembali melayang dan membuat anak itu berteriak menangis lebih keras. Air mata telah membendungi kedua matanya hingga kelopak matanya membengkak, memerah. kedua matanya tertutup dan wajahnya memerah marun menahan sakit. Keringat dan air matanya bersatu melembabkan pipi chabi itu.
Sementara satu cambukan lagi mendarat di tangan halus si bocah, lelaki didepannya berdiri tegap. Dada yang tertutupi kemeja putih nan basah itu naik turun berusaha menetralkan degub jantungnya. Nampak dari ujung rambut sampai tangannya yang memegang cambuk panjang, basah karena keringat. Ia telah melakukan kegiatan ini selama 30 menit yang lalu dan tanpa berhenti.
Melihat balita di bawahnya, yang duduk memeluk tubuhnya menggunakan tangan kanannya dan tangan kirinya menggantung berusaha melindungi tubuhnya dari serangan yang akan datang. Wajah ovalnya sama sekali tidak tampak karena ia menunduk dan rambut kopinya yang lebat. Dengan satu pandang saja, pria dewasa itu bisa melihat luka sayatan, darah menetes, dan lebam di mana mana. Khususnya di lengannya dan kaki yang memakai celana sepaha itu.
Pria dewasa itu bergetar saat melihat balita di depannya, anaknya sendiri sedang menangis di pojokan, dan perasaan takut yang berlebihan.
Melihat ke samping kirinya, tepatnya di jam besar nan megah itu, menunjukan kepada pria dewasa ini bahwa waktunya telah usai. Ia membetulkan kacamatanya dengan jari tengahnya dan pergi ke meja jati terdekat. Di taruhnya sebuah cambuk itu sebelum di betulkan ke posisi semula dan mengambil sebuah botol berwarna putih dan sebuah gelas penuh air putih. Lalu ia kembali berjalan ke pojok ruangan.
Selama melangkah mendekatinya kembali, ia berpikir kali ini.
Ia gagal. Ia telah gagal ke 56 kalinya. Ia telah mencoba membunuh darah daginya sendiri selama itu, dan ia masih belum bisa merelakan hatinya berkehendak demikian. Apakah jiwa sang ayah yang masih melengket di dadanya? Ataukah masih ada perasaan kasih sayang saat kedua mata chesnut-kesakitan itu melihatnya, memohon untuk tetap hidup?
Pria itu tak tau. Tapi yang penting, ia harus bisa menyingkirkan jiwa sang ayah pada dirinya, harus. Dan dia juga harus membunuh putra tunggalnya sendiri. Karena takdir tanah air tercintanya ini akan terubah di tangannya. Jika ia membiarkannya, Yokohama akan jatuh ke dalam jurangnya sendiri.
Dazai Tsushima sudah tau akan hal itu pasti datang. Ia sudah memprediksikan sejauh 15 tahun ke depan, dimana sebuah organisasi mafia akan bangkit, dan anaknya ini, akan menjadi landasan pokok, bahkan menjadi tangan kanan sang otak dari Mafia itu sendiri.
Ya, Dazai Osamu-lah anak itu. Anak berumur 5 tahun yang meringkuk kesakitan, menangis atas keperihan luka lukanya.
Sang ayah mendekat, terpaksa ia harus menginjak kembali cairan merah yang hampir kering di telapak kakinya. Ia langsung turun berlutut dan mendekat pada anaknya yang masih menangis itu, bergetar berusaha menutupi lukanya yang semakin mengeluarkan banyak darah.
"Osamu chan, minum obatnya oke? Nanti kamu akan sembuh."
Pria mungil bernama Osamu itu menolehkan sedikit kepalanya untuk melihat ayahnya yang menawarkannya sebuah pil obat di tangannya bersama segelas air putih. Osamu kembali meringkuk bersama kepalanya tenggelam di siku tangannya yang memeluk lutut kakinya sebelum ia menggeleng tanpa suara.
Sang ayah menghela nafas kasar. Ia memutar iris chesnutnya sebelum meremas kuat obat putih bersih di tangannya hingga menimbulkan bunyi retak yang membuat Osamu menoleh kembali. Saat ia membuka genggaman tangannya, sang ayah mengulurkannya pada Osamu untuk membuktikan ini bukanlah obat pil besar yang susah di telan.
Lama setelahnya, balita mungil itu mengangguk dan menerima sebuah suapan dari ayahnya yang berisi satu sendok air dan remahan obat pil yang di larutkan bersama air itu. Lalu, sang ayah dengan pelan memberikan anaknya gelas berisi air sambil membantunya minum secara perlahan.
"Jika kau minum ini Osamu chan, kau akan sembuh dan tak akan mengingat ini lagi. Selamanya."
Yang bisa anak itu lakukan hanyalah mengangguk lemah sebelum sebuah air mata jatuh dari mata kirinya. Ia sedih, ia marah, ia kesal, dan juga bingung di waktu bersamaan. Kenapa Tou san-nya melakukan semua ini kepadanya? Apa ia telah menjadi anak nakal hingga Tou san-nya menghukumnya sedemikian beratnya?
Osamu tidak tau. Pandangannya kosong menatap lurus cairan merah yang tersebar di tatami hijau hadapannya. Ia tidak tau harus berpikir apa lagi, berbuat apa lagi. Yang pasti ia terlalu kecil untuk ini. Apalah daya, ia hanya seorang anak mungil berusia 5 tahun yang dikurung di lingkungan keluarga Dazai.
Tak lama setelahnya, tangan mungil Osamu naik memegang pelipis kepalanya, menyingkirkan milyaran rambut di kepalanya. Ia merasa pusing dan pandangannya berkunang kunang. Ia tak tau apa yang membuatnya begini, dan yang ingin ia lakukan ialah tidur. Matanya sangat mengantuk dan berat untuk di buka lebih lama.
Yang pasti ia ingin semua ini usai. Yang ia tau, ini hukuman pertama Tou san-nya yang sangat kejam kepadanya. Dan ia berharap ayahnya tidak akan melakukan hal seperti ini kepadanya lagi. Ini sungguh sakit dan menakutkan.
Dan akhirnya matanya tertutup perlahan sebelum sebuah tangan menopang punggung belakangnya. Ia tidur.
Tsushima menghela nafasnya. Andai saja anaknya tau jika ia telah mencoba melakukan hal seperti ini berkali kali, bahkan sering. Dan ia harus berterimakasih kepada pil putih itu. Obat terlarang itulah yang di gunakannya untuk menyegel ingatan Osamu yang lalu, dan membuatnya tidak merasakan apa apa selama seminggu.
Ia pernah mencoba memberikan anaknya sendiri sebotol obat tersebut untuk di makan sekali lahap. Ia tau itu tidak benar, tapi ia harus melakukannya. Hatinya sakit saat melihatnya, sangat sakit, teriris dan hancur berkeping keping. Tapi Osamu lagi lagi menunjukan reaksi yang tak berbeda dengan percobaan yang lalu, ia tetap hidup. Seperti tidak ada senjata ataupun obat obatan di dunia ini yang bisa membunuhnya.
Saat ia yakin obat itu mulai berkerja, ia membawa anaknya keluar ruangan dan meletakkan tubuhnya di atas futon yang telah di siapkan sebelumnya. Ia kembali lagi kebelakang untuk membawa kotak P3K dan sibuk membersihkan luka luka si malang Osamu.
Sebuah air mata terbit dan meluncur jatuh dari matanya saat ia melihat luka sayatan besar di pergelangan tangan anaknya. Ia ingat ia pernah melakukan ini. Tapi ia tak ingin mengingatnya lagi. Setiap kali kepingan memori itu muncul, air mata selalu hadir menemaninya.
Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah ayah terkejam di satu bumi ini.
Tapi inilah dirinya, apa yang telah di lakukannya.
Lelaki berkacamata itu mengusap air matanya dan mengambil sebuah gulungan perban yang baru, dan mengganti perban yang telah rusak dan kotor penuh darah pada anaknya itu. Osamu tetap tertidur, wajahnya sangat tenang walaupun air mata masih mengalir dari salah satu sudut matanya. Tsushima tak bisa melihatnya, ia melayangkan pandangannya kepada objek lain selain wajah bayi yang bersih tanpa setitik noda itu.
Ia adalah ayah yang terburuk di dunia. Dan ia telah mengakui itu.
"Osamu chan, makan siangmu!"
9 hari setelah kejadian itu, semuanya kembali normal seperti sedia kala. Ruangan yang berada di pojok rumah, yang digunakan sebagai tempat penyiksaan Osamu itu telah di kunci rapat. Dan semua bekas darah ataupun alat yang mencurigakan segera di singkirkan.
Pernah saat itu, ayahnya lupa menyingkirkan cambuk hitam besarnya, dan Osamu menghampirinya lalu bertanya tentang cambuk yang di gunakannya.
Ayahnya menjawab seadanya dan menaruhnya di tempat seharusnya. Dan yang menjadi menakjubkan, Osamu selalu menanyakan tentang cambuk hitam itu setiap kali ayahnya membawanya ke ruangan penyiksaan. Seakan akan Osamu telah mengetahui jika Tou san-nya mempunyai motiv untuk membunuhnya.
Dan sekarangpun, Osamu masih terbaring di futon hangatnya lengkap dengan satu set piyama garis garis putih dan coklat. Di lengan kanannya, ia masih tetap memeluk beruang koalanya dari kemarin ayahnya berkunjung ke kamarnya.
Ya, Osamu si malang kita sedang sakit. Suhu tubuhnya sangat tinggi.
Ia membuka kelopak matanya dan melihat Tou san-nya yang masuk ke kamarnya dengan sebuah nampan kayu di tangannya. Ia menutup pintu geser di belakangnya dan hendak menuju ke putra semata wayangnya dengan senyuman hangat, tak ragu, Osamu kecil menghadiahkan Tou san-nya senyuman terbaiknya.
Pria dewasa tersebut akhirnya duduk dengan melipat kedua kakinya kebelakang dan menaruh nampan di sampingnya agar ia bisa membantu anaknya untuk duduk. Dengan pelan dan suara rintihan dari anaknya, Tsushima membantu anaknya untuk duduk dan berhasil membuatnya tersenyum duduk secara tegap, merenggangkan ototnya yang kaku setelah seharian tidur di atas futon.
Melihat senyuman Osamu yang secerah mentari itu, membuat Tsushima yakin jika obatnya berkerja seperti biasanya.
"Hee~ bubur kacang hijau, Tou san?" Osamu kecil bertanya sambil melihat ke dalam mangkuk yang mengeluarkan kepulan asap putih di atasnya. Mulutnya membingkai furuf 'o' saat melihat asap itu terbang dan menghilang.
Ayahnya mengangguk lemah sambil tersenyum. Ia mengelus mahkota kopi Osamu sebelum mengambil mangkuk berwarna hijau gelap itu dan menyendok untuk mengaduknya perlahan-sesering mungkin meniupnya agar cepat dingin. Ia menyendok sebuah suapan dan mengarahkannya menuju mulut anaknya yang telah siap terbuka. Ia kembali tersenyum saat ia berhasil duduk tegap dan mempersiapkan suapan lainnya.
"Setelah ini, Osamu chan minum obat lagi ya."
Anak lelaki itu menoleh pensaran. "Bukannya tadi Osamu chan sudah minum obat?"
Mendengar ini, memancing tawa dari Tsushima. "Yang tadi itu suplemen. Bukan obat."
Ada kesenjangan hening di antara mereka dan saat hendak Osamu membuka mulutnya untuk bertanya, sebuah suapan masuk ke dalam mulutnya diikuti suara kekehan dan seringai dari Tou san-nya.
Setelah beberapa menit kemudian, bubur kacang hijau itu telah habis, dan sang ayah pergi ke dapur untuk membersihkannya dan menyiapkan obat sementara ia membiarkan anak lelakinya untuk istirahat sebentar.
Dan mungkin selamanya. Karna obat ini bukanlah obat.
Sebuah racun. Yang cukup kuat untuk membunuh anaknya dalam hitungan menit.
Seorang Tsushima kembali bergetar, ragu dengan keputusannya. Apakah ini baik? Tentu tidak. Apakah ini jalan satu satunya yang ia punya? Mungkin iya. Dua pertanyaan itu terus saja bergiang di kepalanya, menanyakan keputusannya dua kali.
Ia menutup matanya. Ia harus bisa dan ia harus melakukannya. Jika tidak, penduduk Yokohama akan...ia bahkan tak bisa membayangkannya. Ribuan nyawa yang akan melayang di tangan anaknya begitu ia tumbuh besar, besar, dan besar.
Sebuah nyawa, tidak akan pernah bisa sebanding dengan hidup kota indah Yokohama.
Jadi inilah keputusannya. Ia membuka bungkus obat tersebut, dan membiarkan air di gelas bambu mencampurkan zatnya bersama dengan serbuk racun yang telah ia tebar tanpa ragu. Ia segera mengaduknya dan melangkahkan kakinya menuju kamar anaknya.
Peristirahatan sekaligus tempat terkahir kali ia melihat anaknya tersenyum.
Dengan berat hati, ia menggeser pintu itu dan menggesernya kembali begitu ia sudah masuk. Saat ia berbalik badan, ia melihat anaknya yang pucat sedang memukul mukul boneka koalanya. Kedua netra Tsushima membola dan segera duduk untuk menenangkan anaknya. Ia menaruh gelas itu di sampingnya.
"Ada apa Osamu chan?"
Osamu menoleh cepat ke belakangnya di mana ayahnya melihatnya dalam ekspresi heran. Pria mungil itu mengembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.
"Poo san hendak membunuh saya! Jadi saya menjauhkannya dari saya dan tak akan membiarkannya menang!"
Mendengar ini membuat kedua mata Tsushima semakin membelalak. Hatinya terasa berhenti berdetak sejenak saat ia merasakan kepolosan di mata lucu anaknya itu.
Apakah Poo san itu dirinya?
"Tou san Tou san!! Dimana obatnya? Osamu juga ingin sembuh."
Kesadaran sang ayah kembali ke dirinya dan mengedipkan matanya berkali kali untuk beradaptasi dengan pertanyaan Osamu tadi. Ia tidak lagi tersenyum dan langsung duduk kembali dengan tegap. Ia menoleh ke samping kananya dan melihat sebuah gelas bambu. Suasana kembali sunyi sejenak dan Osamu yang terdiam, penasaran dengan perubahan sikap ayahnya.
Tsushima bisa merasakan air mata terkumpul di pelupuk matanya. Ia juga bisa merasakan hidungnya yang memerah gatal. Ia segera mengedipkan matanya lagi berkali kali dan menjewer batang hidungnya yang terasa gatal dan mulai berair. Apakah ini kekebalan tubuhnya, kekebalan mentalnya? Ia belum melakukan apa apa dan fisiknya telah menolaknya keras.
"Tou san?" Osamu berkata dengan pelan, dan ayahnya yang terlonjak memandangnya.
"Ah? Iya iya~ ini dia...obatmu."
Sebelum meminuman segelas obat itu, ekspresi anak lelakinya langsung berubah saat ayahnya merapatkan kedua tangannya di belakang leher Osamu dan satunya lagi di perutnya, sehingga memaksanya untuk berbaring di pangkuan ayahnya. Setelah menyesuaikan posisinya dan yukata hitam yang di pakai ayahnya, Osamu akhirnya dapat menghela nafas lega namun belum bisa menyingkirkan raut penasaran itu.
Saat ia menemui netra imitasinya itu, Tsushima hanya berbalas senyum kepada raut wajah heran anaknya. Sebelum menjawab ia mendekapkan kepala anaknya lebih dekat dengan dadanya yang hangat dan kepalanya yang tertunduk untuk mencium dahi halus Osamu.
Awalnya sang balita hanya terdiam dan akhirnya bisa menerima kelakuan ayahnya dengan ia yang semakin merapatkan wajahnya di pelukan ayahnya hingga kepalanya hampir hilang tertutupi lengan yukata ayahnya yang lebar.
Tsushima tidak ingin menyianyiakan kesempatan terkahir ini. Ia tau dan sudah pasti, anak semata wayangnya ini akan meninggalkannya beberapa menit kemudian. Ia berusaha mati matian untuk tidak menjatuhkan air matanya ataupun menggetarkan tubuhnya saat ia mencium anaknya dengan kasih sayang terakhirnya. Ia meluapkan semuanya dalam satu sentuhan itu dan membiarkan tindakan selanjutnya di lakukan tanpa ampun.
Tidak, ia tak bisa melakukannya. Kasih sayang ayah, adalah kasih sayang ibu. Kasih sayangnya untuk pangeran kecilnya tiada akhir dan tak pernah menemui ujung. Ia tidak ingin darah dagingnya terluka, tersiksa lebih lama dengan semua kelakuannya. Ia tau ia salah dan ia akan segera memperbaikinya. Ia sudah berjanji kepada dirinya bahwa ini akan di lakukan secara cepat dan tanpa kasih sayang seorang ayah.
Betapa malangnya Osamu kecil, yang harus terbunuh di tangan ayahnya sendiri, dan tanpa ucapan selamat tinggal dari ayahnya.
"Tou san, kepalaku sakit. Aku ingin obatku sekarang..."
Ia tak bisa menahannya lagi. Walaupun ia tetap menciumi dahi sang putra tercintanya, ia tak bisa menahan air matanya saat satu serangan memukul hatinya. Suara si kecil Osamu semakin melemah setiap detiknya, dan Tsushima bisa merasakan jika Osamu kecil kesakitan dan menangis di dalam dekapannya, di dalam suara paraunya.
Saat sang ayah membuka kedua matanya, tanpa sengaja ia membiarkan sebuah air mata jatuh ke pipi kanan anaknya dan membuat kedua netra imitasinya terbuka lemah, hingga iris chestnut itu memandanginya dengan penuh rasa sakit di sana.
Osamu mengeluarkan senyuman tipisnya saat kedua mata mereka bertemu. Sebuah tangannya naik dan menyentuh sisi wajah tirus ayahnya sambil mengusap air matanya yang terus berjatuhan.
"Saya ingin sakit ini hilang ayah. Ini terasa sangat sakit setiap detiknya."
Melihat wajah memerah sang putra, sang ayah tak bisa membantunya selain tersenyum dan membalas balik mengenggam tangan mungil yang menyentuh sisi wajahnya itu. Ia akhirnya membuat gerakan dan mengambil gelas bambu di sampingnya dan mengangkat gelas itu dengan tangannya yang bergetar, hingga anaknya sendiri bisa melihatnya.
Osamu tersenyum lemah, mengangguk penuh harapan pada sang ayah. Ia juga perlahan merasakan lehernya terdorong pelan menyebabkan tubuhnya untuk ke posisi duduk. Sementara Osamu menutup matanya, mencoba memfokuskan pandangannya saat terlihat kembali berkunang kunang, Tsushima mendekatkan gelas bambu berisi air putih itu kepada anaknya, dengan tangannya yang bergetar, tidak bisa berhenti.
Kenapa ini sangat berat?
Dan kenapa ia harus melakukan ini?!
Dan setelah pikirannya tenang sedikit, ia berusaha mendorong tangannya untuk maju membantu Osamu untuk meminumnya.
Dan, ia meminumnya. Hanya beberapa teguk sampai akhirnya si kecil Osamu menunjukan reaksi tak wajarnya. Ia mulai batuk batuk dan wajahnya yang tadi memerah menjadi membiru; pucat. Tsushima juga bisa merasakan kulit sensitif putranya yang berubah drastis. Dari panas tinggi menuju dingin.
Ia mengacaukannya. Dengan panik, sang ayah menaruh sembarang gelas di atas tatami hingga cairan itu bertebaran. Ia segera memeluk anaknya erat dan mengerahkan tangan kirinya untuk mengelus bingkai wajah oval Osamu.
Keringat sebesar biji jagung dan ekspresi kebingungan tercetak di wajah sang ayah saat melihat pangeran kecilnya terus menerus batuk. Dua iris imitasinnya itu bahkan tidak melihatnya, membuatnya semakin panik.
Ia sudah tau ini akan terjadi. Dan ia sudah tau ia tak akan pernah bisa melakukan ini.
Dengan sedikit memaksa, pria beryukata hitam ini memegang pelan wajah sang putra untuk menghadap tepat di wajahnya. Saat kedua chestnut itu melihatnya, detak jantungnya berhenti sejenak dan wajahnya yang memucat pasi.
Tidak ada tanda tanda kehidupan di sana. Sungguh kosong seperti...
Dia sudah pergi.
Dengan tangisan yang membanjirinya, Tsushima mengguncangkan tubuh anaknya dan memanggil nama putra kecilnya berkali kali. Saat mendapat respon berupa tatapan lemah juga senyuman kecilnya, sang ayah terdiam, tersenyum.
"Saya...akan, sembuh?" ucap si kecil Osamu pelan. Matanya terbuka setengah, sangat mengantuk.
Tsushima mengangguk, dengan senyuman kesakitan di wajahnya. "Iya anakku. Kau akan segera sembuh."
Sekarang, Dazai Osamu tau segalanya. Ayah kandungnya mencoba membunuh dirinya. Berkali kali, dan inilah puncaknya. Dan disaat saat terakhir nafasnya, ia merasa sangat bahagia. Ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Dengan tenaga yang tersisa, ia melawan rasa kantuk itu untuk membuka matanya kembali.
Ia harus mengucapkan selamat tinggal. Kepada ayahnya dan kota tercinta ini.
"Saya...mengantuk...Tou san." Untuk sang ayah tercinta.
Tidak ada kata kata lain setelah itu. Ia dan ayahnya terdiam setelahnya, membiarkan kesenjangan waktu melahap sisa sisa kehidupan Dazai mungil.
Ia menutup matanya mengantuk dan terbatuk kecil, sebelum tersenyum dan menyampaikan pesan terakhirnya.
"Setidaknya...Yoko chan...terse-lamatkan..." dan untuk si indah Yokohama.
Ia harus tersenyum, ia akan berusaha mempertahankan senyumannya hingga semuanya terasa damai baginya. Dan sayangnya, ia sedikit kecewa pada ayahnya. Di saat terakhirnya, sang ayah masih belum bisa menaruh kedua netra chestnut yang Osamu kagumi itu padanya. Saat pandangannya mulai kaburpun, ia tak bisa melihat wajah ayahnya ataupun senyuman hangatnya.
Ia tersenyum sekali lagi. Ia tersenyum sekali lagi saat rasa kantuknya menang, dan semuanya menjadi gelap. Ia tak bisa melihat ayahnya ataupun Poo san yang sudah tak bisa ia rasakan lagi. Si kecil Osamu merasakan angin sejuk menerpanya, dan ketenangan menghampirinya.
Saat ia membuka matanya lagi, sekelilingnya langsung berubah putih kosong dan ia melihat seseorang dari kejauhan, melambai padanya.
Tentu Osamu mengenalinya. Ia tersenyum kecil, dan semakin membesar kala siluet putih itu semakin mendekatinya. Dengan haru, kedua tangan putih memeluknya dan memberikannya sentuhan hangat. Osamu kecil tersenyum, tanpa ragu memeluk balik.
Ibunya.
Kedua alis yang berkedut dan wajahnya yang memerah menjadi ekspresinya saat menyadari ruangan begitu hening dan tanpa kehidupan di sekelilingnya. Kini, ia bisa menyadari jika semuanya telah hilang darinya, pergi menjauh. Ia bahkan menyesali tangan hinanya, kedua tangan nodanya yang memeluk anak lelakinya yang telah terdiam, yang telah pergi.
Ia seperti ingin mengeluarkan sesuatu darinya, sebuah batu besar yang mengganjal emosinya kali ini.
Sedetik setelahnya, ia tak bisa mendengar apa apa lagi. Ia mersakan mulutnya terbuka dan otot wajahnya tegang saat ia berteriak keras.
Hingga sampai kehangatan menyelimutinyapun ia tak peduli. Ia tak peduli jika ia harus mati dan terbakar di rumahnya sendiri. Ia akan pergi bersama pangeran kecil tercintanya.
Saking khusuknya, ia bahkan tak menyadari jika mereka berdua dikelilingi oleh api yang perlahan melahapnya.
"Ah! Dia bangun!"
Suhu normal, temperatur normal, keadaan mental fisik dan psikologi normal, dan kesadaran perlahan meningkat. Seorang lelaki mungil membuka mata besarnya perlahan dan menutupnya kembali saat sebuah sinar putih memberikan pukulannya. Ia merasakan ada seseorang yang mendekat dan berhenti di sampingnya, menghadangi datangnya sinar menyilaukan itu.
Saat hendak mengusap matanya yang terasa perih, sebuah ketukan menghampiri siku kananya, dan membuatnya ingin berteriak karena rasa sakitnya. Ia bahkan tidak bisa berteriak, tidak dengan semua perban yang menutupi kulit perihnya. Ia merakan semua tubuhnya sakit dan panas. Ia merasa terbakar.
Saat ia bisa membuka matanya, ia melihat seorang pria berjubah putih, bersurai raven sepundak sedang tersenyum ramah padanya. Mulutnya terbuka sedikit saat mengumpulkan kembali kepingan memorinya beberapa detik lalu. Tidak mungkin pria didepannya yang mengeluarkan suara perempuan manis bukan?
Tidak. Tapi ia mengenali pria ini.
"Selamat datang, Dazai kun. Namaku Mori Ogai."
Ya, Dazai Osamu ingat. Ia adalah teman ayahnya.
Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanficDazai ini.
すべてを読んでくれてありがとう
Subete o yonde kurete arigatō
(Terimakasih sudah membaca semuanya)
Sakin out!
