~ Chapter 1: Awal ~
Akashi mendongak melihat hujan yang semakin deras. Dia menempatkan tasnya ke atas kepala dan berlari menuju halte bus terdekat. Di tengah hujan lebat, matanya menangkap sosok yang tergeletak tidak jauh dari persimpangan jalan. Berlari melupakan tujuan awal untuk mencari perlindungan dari hujan, Akashi berlutut di sebelah sang remaja. Dia memeriksa nadi yang berdetak lemah pada pergelangan tangan yang kurus. Akashi mengecek wajahnya sebelum kedua mata merah itu membulat. Sosok yang dikenalnya sebagai dewa kehancuran kini ada di hadapannya, terkulai lemas. Tanpa berpikir panjang, Akashi mengangkat tubuh Furihata dengan mudah dan bergegas menuju klinik terdekat. Langkahnya terhenti saat menyadari bahwa sosok yang tengah dirangkulnya bukanlah manusia biasa. Akan mencurigakan jika kondisi Furihata dinyatakan tidak normal. Dia berlari menuju halte terdekat dan segera menghubungi supir pribadinya untuk menjemput.
Furihata mengerang kencang, terisak saat dia melihat sabit yang digunakan untuk menghancurkan dunia diarahkan padanya. Alam semesta yang seharusnya lahir perlahan dalam beribu abad diciptakan Furihata dalam satu sampai tiga detik. Dia sudah melanggar tugasnya sebagai dewa kehancuran dunia. Sang dewa semesta, dewa tertinggi dari semua dewa-dewi mencabut jiwa abadinya. Dirinya dihempaskan dari istana langit dan jatuh menuju dunia yang baru saja diciptakannya. Suatu hari dunia itu akan sakit dan akan dihancurkan kembali berikut dirinya dan sang dewa bumi.
Di tengah dera hujan yang lebat, Furihata kehilangan kesadaran sebelum ia mencapai daratan.
Akashi Seijuurou, sosok yang ingat akan siapa dirinya dan statusnya bagi bumi, menatap Furihata yang belum sadarkan diri. Dokter yang baru saja memeriksanya sudah meninggalkan kamar Akashi. Dia mengatakan bahwa Furihata demam tinggi dan kemungkinan harus dirawat di rumah sakit, namun Akashi bersikeras memaksa dan membawa infus ke rumahnya.
Pandangannya menatap tajam Furihata selagi berbagai pikiran muncul. Akashi yang dunianya dibangun oleh Furihata dengan cepat menciptakan manusia-manusia baru demi perkembangan kotanya. Dia merahasiakan jati dirinya dan hanya beberapa orang yang mengetahui sosok yang sesungguhnya. Dengan menyembunyikan jati dirinya, Akashi hidup berbaur dengan mereka
"Akashi, kau yakin dia...?" Sang dokter yang dimintai tolong Akashi yang merupakan dewa kesembuhan, memberanikan diri bertanya.
"Dia yang menolong kita semua, Midorima."
"Aku tidak bisa merasakan apa pun darinya selain sosoknya sebagai manusia biasa." Midorima berkata.
"Itu yang kutakutkan." Akashi berbisik, matanya tidak lepas dari Furihata.
Keduanya memandang dalam diam sosok yang belum siuman. Sesaat tidak ada yang bicara sampai Midorima menekan pertengahan kacamatanya.
"Panggil aku saat dia bangun."
Akashi mengangguk dan menarik kursi mendekati tempat tidurnya. Dia menutupi mata kanannya, mata kirinya berubah kuning. Mencoba untuk membaca aura Furihata. Detak jantung Akashi berdebar lebih cepat saat dia tidak menemukan tanda-tanda adanya kekuatan spiritual yang tersimpan. Akashi bangkit dari kursi dan menarik tangan Furihata. Dia menggenggam dan berkonsentrasi penuh mencoba memanggil kekuatan itu. Seperti tidak diperbolehkan untuk menyelam lebih dalam, Akashi dilontarkan keluar. Akashi mundur selangkah dan mencoba menarik nafas dalam-dalam.
"Furihata-san, apa yang terjadi?" Dia berbisik.
Seolah terpanggil, alis Furihata berkerut. Mata coklat itu perlahan terbuka, menatap bingung ke sekelilingnya sebelum dia bangun terduduk.
"Furihata Kouki!" Akashi memanggil namanya.
Sosok remaja di hadapannya melonjak kaget mendengar panggilan nama itu. Dia menatap Akashi takut dan menjaga jarak.
"S-Si-Siapa? A-aku dimana?" Furihata bertanya dengan gugup.
"Syukurlah kau akhirnya sadar. Kau berada di rumahku saat ini. Terima kasih telah menolongku."
Furihata mengerjap bingung. Akashi menunggu reaksinya. Sesaat tidak ada yang bicara.
"Tunggu sebentar, biar kupanggil Midorima kemari." Akashi buru-buru balik badan.
Furihata mengangguk ragu. Dia tidak mengendurkan sikap siaganya sampai Akashi meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian, Akashi kembali dengan pria yang disebut Midorima. Pria berambut hijau itu membungkuk di hadapan Furihata sebelum meminta ijin untuk memeriksanya.
"Umm… Aku…" Furihata bergumam ragu.
"Furihata-san, apa kau ingat bahwa kau baru saja ditemukan pingsan beberapa jam yang lalu?"
Bibir Furihata mengerucut. "F-Furihata…? Itu… n-namaku?" Menerima pandangan shock dari Akashi dan Midorima, Furihata merepet ke sandaran tempat tidur. "M-maaf-"
"Midorima, coba diperiksa."
Sang dokter tidak perlu diberitahu dua kali, dia segera memeriksa keseluruhan Furihata. Sambil memeriksanya, dia juga menanyakan beberapa hal yang diharapkan dapat terjawab. Namun semua itu nihil. Furihata seperti sama sekali tidak mengetahui siapa dirinya dan apa gerangan yang terjadi.
"Apa kau ingat detik-detik sebelum kau pingsan di tengah hujan?"
Furihata menggeleng. "Aku tidak ingat sama sekali."
Midorima dan Akashi berpandangan.
Akashi menepuk pundak Furihata, mencoba menenangkannya. Dia menarik tangannya saat Furihata melonjak kaget pada sentuhan Akashi. Akashi memicingkan matanya sebelum berdeham dan melanjutkan. "Kau boleh tinggal di sini, Furihata-san. Akan kupanggilkan pelayan untuk membawakanmu makan."
Akashi lalu segera menarik Midorima menjauh.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Dia berbisik setelah mereka keluar kamar.
"Apa benar dewa kehancuran yang kau saksikan itu dia? Hitungan 3 detik dalam keadaan itu berarti sudah 300 tahun berlalu sejak dunia ini diciptakan, Akashi. Sekarang sudah tahun 2999. Kemana sisa tahun yang hilang? Ada yang tidak masuk di akal."
"Aku menyaksikannya sendiri dengan mata kepalaku. Dia bahkan melahirkan dunia baru dengan tumpahan air matanya." Sesaat terbesit ingatan akan paras manis sang dewa kehancuran saat itu. Matanya yang coklat berlinang air mata, bintang bersinar menyelubungi kepalanya. Akashi terdiam.
"Akashi?" Midorima mengernyitkan dahi.
"Maaf, aku hanya mengingat detik-detik saat dunia dihancurkan dan dibentuk kembali olehnya. Jiwaku seharusnya perlu beberapa waktu sebelum menciptakan yang baru sampai beberapa abad. Furihata-san punya kekuatan yang sangat besar untuk menciptakan dunia seorang diri."
"Menurutmu apakah dia tidak melanggar hukum semesta?" Midorima memotong.
Akashi mendongak dari gumamannya sendiri.
"Kau tahu pasti bahwa selama ini kejadian terus berulang. Hancurnya dunia dan kelahirannya punya jangka waktu yang berbeda. Kau sebagai anak pertama dewa semesta sering terlahir kembali beserta bumi yang baru membutuhkan waktu berabad lamanya untuk pulih seperti semula. Namun yang Furihata Kouki lakukan… Kurasa dia dihukum dewa semesta."
Akashi mengepal tangannya. "Kau mungkin benar."
"Jika memang benar begitu, ingatannya sudah terkunci. Dia tidak akan mungkin bisa kembali sebagai immortal, Akashi."
"Aku ingin mengembalikan waktu…"
"Kau gila?!"
"Kise… Dia bisa melakukannya."
"Hentikan, Akashi! Ini bukan masalah sepele!"
Akashi meninju dinding dengan kesal.
"Apa perlu kuingatkan bahwa sesama dewa tidak diijinkan jatuh cinta?" Mata Midorima menajam, dia tidak menggubris pandangan murka Akashi. "Apalagi antara manusia dan dewa. Camkan itu baik-baik." Midorima menambahkan tanpa ampun.
"Aku akan membiarkannya tinggal di sini."
"Lakukanlah sesukamu." Midorima berbalik dan menuju pintu keluar rumah Akashi.
Setidaknya sekarang sudah jelas. Hukuman yang diterima oleh seorang dewa penghancur hanya karena dia merasa iba dan jatuh hati pada dewa bumi. Furihata Kouki tidak hanya melanggar hukum cinta, namun dia juga melanggar aturan pemulihan dunia baru dalam waktu 3 detik atau 300 tahun waktu bumi. Meskipun sisa tahun yang cukup tidak masuk di akal karena bumi saat ini menginjak usia 2999 tahun. Kemana sosok Furihata Kouki pada sisa waktu 2.699 lamanya sejak dia melahirkan bumi?
Tidak hanya bumi, Furihata juga melahirkan planet-planet di luar bumi yang tidak mempunyai dewa untuk mengawasi. Planet-planet itu terdampar dan hanya berputar dalam orbit tanpa sebab yang jelas. Kemungkinan suatu saat planet-planet itu akan bertabrakan satu dengan lainnya sampai bumi mengalami tubrukan dahsyat. Saat itu dinamakan kiamat. Seluruh dewa akan dimusnahkan akibat perbuatan dewa kehancuran.
Midorima mengepal tangannya.
Apakah mungkin bisa memperlambat proses kehancuran berikutnya dengan memperlambat waktu? Atau mengembalikan waktu sebelum detik-detik kehancuran dilakukan oleh Furihata? Yang mana yang lebih baik dilakukan?
Makanan yang dihidangkan tidak memikat hati. Furihata membiarkan para pelayan membereskan sisa makanan yang ditinggalkannya. Akashi sudah memaksanya untuk menelan sedikit demi mengisi perutnya yang kosong. Furihata hanya mengangguk lemah dan mematuhinya. Saat Akashi keluar ruangan, Furihata meninggalkan meja makan dan menyuruh para pelayan itu untuk membereskannya selagi Akashi tidak melihat.
Pandangan Furihata tertuju pada jendela, hujan yang mulai reda. Sudah berapa jam sejak dia pingsan di tengah hujan? Dia bahkan tidak dapat mengingat siapa dirinya dan apa yang dilakukannya sebelum kehilangan kesadaran. Tangannya menyentuh kaca jendela, menempelkan dahi pada permukaan kaca yang dingin. Nafasnya menciptakan embun tipis. Mata coklat itu menyapu keadaan sekitar kota yang bahkan tidak pernah dilihatnya.
"Bagaimana aku bisa berada di sini?" Dia bergumam pada dirinya sendiri.
"Itu yang ingin kutanyakan."
Suara di belakangnya membuatnya melonjak. Dahi Kouki membentur kaca, dia merintih nyeri sambil mengusap dahinya. Suara tawa rendah membuatnya sadar bahwa Akashi sudah kembali ke dalam ruang tidurnya dan tengah mengawasi gelagat Furihata tanpa sepengetahuannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu."
"T-Tidak masalah."
"Aku membawakan puding untukmu. Kudengar kau tidak menghabiskan makanannya. Apa tidak sesuai dengan lidahmu?"
"Tidak, aku hanya tidak lapar, itu saja." Namun mata Furihata menatap penuh minat mangkuk puding manis yang dibawakan Akashi. Melihat tatapan itu, Akashi tersenyum kecil.
"Kau boleh menghabiskannya. Kau perlu lebih banyak gula agar lebih mendapat energi." Akashi menyerahkan puding itu beserta sendok kecil.
"Terima kasih, umm…"
"Akashi. Akashi Seijuurou."
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Kita pernah bertemu sebelumnya, aku yakin kau lupa. Midorima mengatakan bahwa kau kehilangan ingatanmu." Akashi berhenti sejenak saat mata Furihata membesar. Dia melanjutkan saat Furihata tidak berkata apa pun. "Kau perlu banyak istirahat."
"A-anu… rumahku…?"
"Tinggalah disini sampai ingatanmu pulih. Aku menginjinkannya. Rumah ini milikku." Akashi mengangguk sambil menepuk pundak Furihata.
"K-kau yakin?"
Akashi hanya tersenyum dan melambai pergi.
Furihata menunduk melihat puding di tangannya. "Siapa aku sebenarnya…? Kenapa diperbolehkan tinggal di sini?" Furihata berjalan ke tempat tidurnya dan duduk pada pinggir ranjang. Dia menyendok puding dan mulai menyantap. Rasa manis membuat senyum Furihata mengembang. Dia melahap puding hingga habis dan mulai mengantuk. Berguling pada tempat tidurnya setelah menaruh mangkuk kosong di meja kecil, Furihata menutup matanya dan tertidur.
Beberapa sosok berkumpul di tengah redupnya cahaya dengan lilin sebagai penerang. Mata biru langit menatap tajam ke arah datangnya Akashi. Satu persatu membalikkan badan melihat teman lama yang memanggilnya terlihat begitu serius.
"Kuroko, terima kasih sudah membawa mereka kemari."
"Tidak masalah, Akashi-kun." Pemuda yang bernama Kuroko membungkuk rendah. Rambutnya biru terang sesuai dengan warna mata. Satu-satunya orang yang paling dipercaya Akashi, Kuroko Tetsuya. Dewa Angin.
"Akashicchi! Sudah lama tidak bertemu!" Suara ceria menyambutnya, pria berambut pirang itu melambaikan tangannya dengan riang ke arah Akashi. Dewa yang dikenal suka bermain dengan waktu itu nyengir lebar saat Akashi mengangguk padanya. Kise Ryouta, Dewa Waktu.
"Senang bertemu denganmu lagi, Ryouta."
"Ada perlu apa kau memanggil kami kemari, Akashi?" Pria bertubuh tinggi tegap berjalan mendekati cahaya lilin yang diletakkan pada meja kopi bundar. Warna kulitnya lebih gelap dari semua dewa di sekitarnya. Aomine Daiki, Dewa Laut.
"Aku belum menceritakan semuanya pada mereka, Akashi." Midorima Shintarou, dewa penyembuh yang berperan sebagai dokter terhandal, berkata sambil menekan pertengahan kacamatanya.
"Apa benar kau menemukan dewa penghancur, Akacchin?" Dewa termalas dari semua dewa yang tengah berkumpul berdiri. Tingginya menyaingi semua dewa. Rambut ungunya tergerai panjang. Murasakibara Atsushi, Dewa Bencana. Dirinya dikatakan terlalu malas untuk menjalankan tugasnya dengan menciptakan banyak musibah yang seharusnya terjadi di bumi.
"Seperti apa sosok dewa penghancur itu? Bagaimana kau bisa menyaksikan kehancuran dunia dan melihat sosoknya yang bahkan terlalu terang untuk dilihat semua orang?" Kagami Taiga, Dewa Api bertanya penasaran. Rambutnya yang merah membuatnya tambah mencolok dengan tinggi badannya yang setara Aomine.
Momoi Satsuki, Dewi Pengetahuan. Tidak ada info yang luput perhatiannya. Dia bisa berguna untuk mengumpulkan informasi mengenai Furihata Kouki. Mungkin sebab kehadiran Furihata saat ini sudah diketahui olehnya.
"Aku perlu bantuan kalian." Akashi tidak menjawab pertanyaan mereka.
Semuanya berpandangan satu dengan yang lain sebelum mengangguk.
"Baiklah, ceritakan." Kuroko membalas.
"Furihata Kouki… kau dihukum karena telah melanggar peraturan semesta. Kau melenceng dari tugasmu sebagai dewa penghancur dan malah menciptakan planet-planet baru tak bertuan dengan kekuatanmu. Kau tidak layak menjadi seorang dewa penghancur. Dalam hatimu masih ada cinta dan kepedulian. Seharusnya perasaan itu sudah dimusnahkan."
Furihata menunduk, tubuhnya gemetar. Dia tahu dia sudah melakukan kesalahan fatal.
"Sebagai hukumannya, kau akan menjalani hidup sebagai manusia. Tentu kau tahu bahwa manusia dan dewa tidak diijinkan bersatu?"
Mata Furihata membesar. Jantungnya berdebar lebih keras. Sang dewa semesta mengetahuinya. Tahu bahwa dia telah menolong dewa bumi yang memiliki tampang menawan itu.
"A-aku…"
Sang dewa semesta mencabut sabit raksasa yang digunakan Furihata saat menghancurkan dunia. Tanpa aba-aba, dia mengayunkan sabit tersebut ke arah Furihata.
Furihata menjerit.
"FURIHATA-SAN!" Akashi menampar pipinya.
Furihata mengerjap bangun dan melihat wajah Akashi sangat dekat dengannya.
"A-Akashi-san…?"
"Kau berteriak dalam mimpimu."
Mimpi…? Tapi terlihat seperti kenyataan.
"Pakai handuk ini. Tubuhmu berkeringat." Akashi menaruh handuk kecil pada pangkuan Furihata.
Menyadari bahwa dia berkeringat dingin, Furihata menyeka lehernya.
"Maaf, aku membangunkanmu."
"Tidak masalah. Sepertinya mimpimu sangat buruk, aku kewalahan membangunkanmu."
Furihata tidak menjawab.
Akashi mengambil gelas air dingin dari meja kecil dan duduk di samping Furihata. "Minumlah." Dia senang saat Furihata menurutinya. Mengambil gelas kosong yang sudah dihabiskan Furihata, Akashi menaruhnya ke tempat semula.
"Berisitrahatlah sebanyak yang kau perlukan. Jika perlu apa pun, aku di sini." Akashi mengelus rambut halus Furihata dengan senyum. Mata mereka bertemu, Furihata mengangguk tanpa suara.
Akashi menolong Furihata berbaring dengan nyaman dan menarik selimutnya.
"Terima kasih, kau sangat baik." Furihata bergumam sebelum kemudian menutup mata.
"Aku mengembalikan apa yang telah kau lakukan untukku Furihata-san."
"Kouki." Furihata berkata tanpa membuka matanya.
"Maaf?"
"Panggil Kouki saja."
"Baiklah, Kouki. Kau panggil aku Sei saja."
Furihata mengangguk dengan senyum tipis. Merasakan tangan besar Akashi membelai rambutnya, Furihata merasa lebih nyaman untuk tidur. Kali ini dia tidak bermimpi aneh.
TBC
