~ Chapter 2: Kewajaran ~
Furihata bersenandung selagi mengelap kaca jendela. Sudah beberapa minggu dia tinggal di rumah Akashi, mencoba untuk melakukan yang terbaik untuk pria yang mengijinkan Furihata tinggal di rumahnya. Tersenyum melihat kilauan kaca yang memantulkan cahaya sinar matahari bersih dari segala debu dan bercak yang bandel, Furihata mengangguk puas. Dia hendak mengembalikan peralatan kebersihan yang dibawanya ketika tidak sengaja menyenggol gelas berisi air minum yang diletakkan di meja kopi. Gelas tersebut pecah saat mendarat pada lantai marmer.
"Astaga, aku hanya bersyukur bahwa ini air mineral, bukan jus atau semacamnya." Furihata buru-buru mengangkat pecahan kaca tersebut.
"Bunyi apa barusan?"
Suara Akashi membuat Furihata terkejut. "Aw!" Dia melihat darah menetes pada pecahan gelas.
"Kouki!" Panggilan akrab yang saat ini digunakan Akashi untuk memanggilnya terdengar khawatir melihat tetesan darah.
"Ah, maaf, aku tidak sengaja memecahkan gelas." Furihata menunduk salah tingkah.
"Lukamu lebih penting. Biar kuambilkan P3K." Akashi beranjak keluar kamar.
Furihata menunduk melihat lukanya. Matanya membulat melihat bahwa tetesan darah tersebut menghilang dan lukanya perlahan menutup dengan sendirinya. Bingung, Furihata mengerjap beberapa kali, menggosok matanya untuk melihat bahwa jarinya sudah tidak lagi tergores. Bersih seperti tidak pernah terluka sama sekali. Khawatir bahwa dia akan membuat Akashi takut, Furihata buru-buru menutupi tangannya dengan kain saat mendengar langkah kembalinya Akashi menuju ruang kerja.
"Kouki, lukamu-"
"… baik-baik saja. Sudah kubersihkan, Akashi-san." Furihata langsung berdiri dan berjalan keluar kamar.
Akashi menyambar lengannya dan mengernyitkan dahi. "Setidaknya tutupi dulu lukanya, nanti infeksi."
"Aku baik-baik saja." Protesnya tidak digubris Akashi saat dia menarik jarinya yang terluka.
"Yang mana yang terluka?" Akashi memeriksa jarinya satu per satu.
"Aku tidak terluka." Furihata melepaskan tangannya dari cengkeraman Akashi.
"Aku melihat darah."
"Kau salah lihat."
Akashi menatap tidak percaya, namun dilihatnya dengan jelas bahwa jemari Furihata tidak menunjukkan adanya luka goresan. Apa benar dia salah lihat?
"Baiklah, beritahu aku jika kau terluka." Akashi menyerah. "Akan kupanggil pelayanku saja untuk membereskan gelas ini. Kau tidak usah melakukan apa pun lagi. Bersantai sajalah."
Menganggap bahwa itu perintah untuk tidak mengacau lagi, Furihata mengangguk sedih dan keluar sambil menenteng peralatan kebersihan.
Akashi melihat gelas yang semula terkena tetesan darah. Dia mengambil pecahan beling dan mengamati. Menemukan adanya bekas darah yang tertinggal, dia tertegun. Akashi menggores jarinya sendiri pada pinggiran beling tersebut dan mendapati darahnya menetes. Dia melihat lukanya sembuh dengan sendirinya, tanda bahwa dia immortal. Sedangkan Furihata… Dewa yang seharusnya kehilangan kekuatannya dan tidak lagi immortal tidak mungkin bisa sembuh dengan sendirinya.
Akashi melirik pintu masuk dan mendapati pelayan perempuan mengetuk pintu sebelum masuk dan menghampirinya.
"Ah, tolong dibersihkan. Kouki tidak sengaja memecahkan gelasnya."
Pelayan tersebut mengangguk dan segera membereskan.
Akashi menarik ponselnya setelah keluar kamar kerja, menghubungi Midorima. Dia mendengar nada panggil sebelum mendapati bahwa ponsel rekannya sedang tidak diaktifkan. Berdecih kecewa, Akashi memutuskan untuk menghubunginya nanti. Dia berjalan menuju taman dan mendapati Furihata tengah melamun sambil duduk pada bangku taman.
"Kouki." Akashi tersenyum.
"A-Akashi-san."
"Sudah kubilang berhenti memanggilku seperti itu.
Aku ingin kau lebih santai."
"Maaf, maksudku, Sei."
Akashi mengangguk puas dan menatap sekeliling taman. Cuaca sedang cerah, air mancur di tengah taman dan bunga-bunga yang bermekaran membuat suasana damai terasa. Dia tersenyum melihat dunia yang dibuatnya kian hari semakin indah. Bukan, yang membuat dunia ini adalah Furihata sendiri, dia hanya membuat bumi semakin berkembang menjadi seperti sekarang.
"Kau suka taman ini, Kouki?"
Mata Furihata menyapu sekelilingnya. Keadaan yang sangat damai ini perlahan akan menjadi…
"Semuanya akan membusuk dalam waktu singkat." Furihata bergumam, matanya berkilat kosong.
Akashi terperanjat mendengar pernyataan tersebut. Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum mata Furihata membesar.
"Ah… maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang baru saja kukatakan ini-"
"… Tidak apa-apa." pandangan matanya masih menatap Furihata tidak percaya. Apa yang baru saja dikatakan oleh Furihata sendiri seperti sebuah ramalan yang akan menjadi kenyataan. Apakah kekuatan
Furihata yang saat ini terkunci adalah sebuah awal dari kehancuran dunia berikutnya? Menelan ludah, sesaat terlintas pemikiran bahwa sosok dewa kehancuran yang membaur menjadi manusia tidak pernah terjadi sebelumnya. Apa kali ini Furihata mengawasi dunia buatannya sebelum akhirnya menghancurkannya?
"Apa kau ingat sesuatu?" Akashi berjalan mendekati Furihata.
Mata coklat itu menatapnya heran sebelum menggeleng. "Sama sekali tidak."
"Sungguhkah?"
Furihata memilih tidak menjawab.
"Aku suka dunia ini." Dunia yang kau buat dan aku yang memelihara sampai seperti ini. Akashi menambahkan. Dia menatap dingin Furihata sebelum membalikkan badan dan berjalan kembali ke rumah.
Furihata yang membaca raut wajah Akashi mengernyitkan dahi. Dia tidak bermaksud mengatakan hal tersebut. Dia sendiri tidak tahu apa yang baru saja dikatakannya. Furihata mengepal tangannya, berdiri dan berlari menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Furihata mengunci pintu kamar dengan tangan gemetar. Dia merosot ke lantai, sekujur tubuhnya keringat dingin. Mimpi-mimpi yang kian diperlihatkan padanya bahwa dunia akan hancur dalam waktu dekat sangat mengerikan. Dia tidak mungkin menceritakan hal tersebut pada Akashi. Itu hanya mimpi, bukan? Itu bukan kenyataan.
Furihata menggeleng kepala dan menutup matanya. Dia mengatupkan telinganya saat mendengar keramaian yang didengarnya dalam mimpi. Jeritan dari manusiamanusia yang seharusnya sudah punah, runtuhan gedung-gedung yang mengakibatkan kekacauan dan berbagai retakan jalan seolah perlahan terbelah akibat sabetan sabit raksasa. Pemandangan itu lebih mengerikan sebab manusia dalam dunia ini masih hidup dan harus dihabisi. Dunia yang sebelumnya dihancurkan hanya terdapat beberapa manusia yang sudah sekarat dan menunggu ajal. Tidak terkecuali dewa bumi…
Pemikiran tersebut membuatnya terkejut. 'Sebelumnya? Apa-apaan aku ini? Darimana
munculnya imajinasi itu? Ini gila! Aku tidak normal.'
Furihata mencengkeram bajunya. Hanya satu hal yang harus dipikirkan sekarang. Jika dia tetap di sini, tidak akan baik untuk Akashi.
Malam tiba lebih lambat dari biasanya. Furihata menapak keluar perlahan. Matanya mengawasi kirikanannya sebelum menarik tutup kepalanya untuk menyembunyikan wajah. Dia tidak membawa apa pun selain pakaian yang dikenakannya. Yakin bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya, Furihata berjalan menuju pintu gerbang. Suara langkah kakinya terdengar sangat besar di tengah keheningan malam. Berjalan menyusuri taman dengan bantuan hanya dari sinar bulan, Furihata berjalan kagok menuju pintu gerbang. Dia menelan ludah, gugup melihat pintu yang terkunci. Tangannya yang gemetar menyentuh gembok emas.
'Akashi tidak akan tahu, bukan? Aku yakin tidak akan ada masalah apa pun…' Furihata membuka gembok tersebut dengan kunci yang dibawanya. Kunci yang sengaja diberikan Akashi apabila ia igin keluar rumah dan pulang larut. Namun Furihata tidak pernah berpikir untuk berjalan keluar tanpa sepengetahuan Akashi. Baru kali ini…
"Jalan-jalan malam?"
Pertanyaan tersebut membuat Furihata terperanjat. Dia balik badan dan mundur selangkah saat melihat sosok Akashi berdiri tepat di belakangnya. Terhuyung menabrak pintu yang sudah dibukanya, Furihata hanya menatap Akashi panik. Akashi mengernyitkan dahi, menunggu jawaban Furihata.
"Y-ya, malam ini bintangnya cerah dan aku ingin berjalan sebentar saja…"
"Kau bisa menyaksikannya di taman, tidak usah keluar rumah malam-malam begini." Akashi menyilangkan tangan di depan dada, masih mengernyit.
"Ah, tidak sebenarnya…" Furihata mengalihkan pandangan, tidak berani menatap lekat-lekat penyelamatnya.
Akashi tidak menunggu Furihata menyelesaikan kata-katanya. Dia meraih lengan Furihata dan menariknya menjauh dari pintu gerbang. Menggandeng pemuda berambut coklat itu sambil berjalan mendekati air mancur, Akashi menengok dan melihat kebimbangan tidak juga meninggalkan ekspresi Furihata.
"Kau sedang gundah?"
"Aku tidak apa-apa…" Furihata membantah.
"Jangan bohong."
"…" Pemuda itu membuka mulutnya namun bingung untuk menjelaskan keadaannya yang tidak normal, Furihata menunduk.
"Katakan bagaimana aku bisa membantu."
"Aku… tidak normal." Tubuh Furihata gemetar. Dia takut akan reaksi yang akan diberikan Akashi padanya. Terisak menatap tangannya yang semula terluka sekarang sudah tidak ada bekas luka, dia bahkan bingung bagaimana hal itu bisa terjadi. Ditambah lagi beberapa kali dia mengatakan hal yang aneh pada Akashi. Mimpimimpi yang sangat tidak masuk akal seperti menghancurkan dunia.
"Maksudmu?"
Furihata mengangkat wajah, terkejut melihat ekspresi khawatir yang ditujukan padanya. Tidak ada tanda-tanda mencemooh atau mengejek sedikit pun.
Furihata menggigit bibirnya sendiri.
"Seperti yang kukatakan, aku tidak normal. Lukaku pulih dengan sendirinya dalam hitungan detik. Aku mengatakan hal-hal yang aneh padamu. Mimpi-mimpi yang aneh juga tentang kehancuran dunia. Aku tidak paham apa yang terjadi dengan diriku dan bagaimana aku bisa berada di tengah hujan lebat beberapa minggu yang lalu. Aku-"
Furihata tidak mampu meneruskan kata-katanya saat Akashi menariknya ke dalam rangkulan. Merasakan pelukan erat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, Furihata merasakan gemuruh menyakitkan di dada.
"S-Sei …?"
"Kau normal. Kau sangat normal! Itu bukan sesuatu yang dianggap aneh."
"T-tapi-" Furihata menatap mata Akashi saat dia melepaskan rangkulan, bingung campur lega karena Akashi mengatakan bahwa dia normal.
"Sudahlah, ikut aku." Akashi menarik tangan Furihata dan membawanya kembali ke dalam rumah.
"Aku sudah lama ingin menanyakan perihal ini padamu, tapi kulihat kau tidak juga menujukkan tanda-tanda yang bisa kudiskusikan. Ini saat yang tepat."
Furihata mengikuti langkah Akashi. Mereka masuk ke dalam rumah dan Furihata menutup pintu sepelan mungkin. Hampir seluruh penghuni rumah sudah di alam mimpi. Kedua dewa berjalan menuju ruang tamu. Akashi meminta Furihata untuk duduk menunggu selagi dia mengambil minuman beralkohol. Untuk beberapa saat, Furihata hanya merenung, pikirannya terhenti ketika Akashi kembali dengan nampan. Di atas nampan terdapat dua gelas wine dan sebilah pisau. Dia menaruh gelas itu pada meja rendah di hadapan Furihata. "Apa kau tahu siapa aku sebenarnya?" Akashi tersenyum tipis saat Furihata menggelengkan kepala. Tatapan Furihata yang bingung membuatnya Akashi gemas. Bagaimana seseorang yang terlihat sangat imut ini menjadi dewa penghancur dunia, Akashi tidak habis pikir. Setelah mengingat akan sosoknya yang sangat rupawan dan bercahaya di tengah porak poranda bumi, Akashi dapat mengerti mengapa setiap orang terpukau akan sosok misterius ini.
"Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, tapi karena kau memperlihatkan tanda-tanda bahwa kau juga termasuk immortal, maka kau berhak tahu." Ucapannya terhenti saat Furihata menatap sambil mengernyitkan dahi.
"Aku immortal?"
"Yah, kau bisa bilang begitu." Akashi mengambil sebilah pisau yang dibawanya bersama dengan gelas wine. "Meskipun ingatan dan kekuatanmu tampaknya masih terkunci."
Semakin bingung dengan jawaban yang diberikan Akashi, Furihata hanya dapat menatap heran pria dihadapannya. Rasa heran tersebut berganti menjadi ngeri ketika Akashi mendekatkan pisaunya pada telapak tangannya sendiri.
"S-Sei?!"
Akashi tidak berkata apa pun, dia menyayat telapak tangannya sendiri. Darah menetes sebelum luka tersebut tidak sampai dua detik kembali menutup seperti tidak pernah terluka. Takjub akan kejadian yang terjadi di depan matanya, Furihata menarik tangan Akashi untuk memeriksa lukanya. Akashi tersenyum dan menangkup tangan Furihata.
"Ini yang terjadi padamu hari ini, bukan?"
"Kau benar, itu terjadi padaku…" Furihata mengaku.
"Untuk immortal seperti kita, itu hal yang normal."
"Kau juga immortal?"
"Aku dewa bumi." Akashi membenarkan. Dia melipat bagian lengan bajunya dan menunjukkan tanda berbentuk bulat yang menyerupai bumi. "Hanya para immortal yang dapat melihat tanda ini."
"A-aku dapat melihatnya dengan jelas." Furihata meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya itu sangat jelas. Jarinya menyentuh tanda itu.
Akashi mengawasi sebelum dia terkekeh melihat reaksi Furihata saat tanda itu tampak bersinar. "Tanda ini bereaksi terhadap sentuhan." Katanya menjelaskan. "M-Maaf…" Furihata menarik telunjuknya malumalu. Dia tersipu saat Akashi menggeleng kepala.
"Aku ingin kau menceritakan apa yang terjadi saat kau mengatakan ramalan yang secara tidak langsung kau katakan hari ini."
"Aku juga tidak mengerti. Yang kutahu, kulihat beberapa adegan yang sangat tidak menyenangkan. Dunia seperti sakit, tidak ada yang dapat dilakukan lagi. Seperti sebaiknya dihancurkan daripada terus menerus membusuk dalam hitungan detik. Ada sebuah benturan dahsyat yang terjadi dari luar dunia ini."
Keduanya berpandangan sesaat setelah Furihata mengatakan hal tersebut. Akashi mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh sang dewa penghancur sendiri. Dia seperti tidak punya pilihan selain menerima nasib dari bumi yang akan kembali dihancurkan. Mau sampai kapan kejadian ini terus berulang? Tidak bisakah sesuatu dilakukan? Siapa penyebab sakitnya dunia ini kali ini? Yang pasti tidak ada alasan untuk membuat bumi ini sakit, terkecuali… Akashi sendiri menginginkan demikian.
"Baiklah, kalau kukatakan bahwa kau memiliki kekuatan untuk mengubah keadaan, apa kau sanggup menerima tugas tersebut?"
Terperanjat terhadap kata-kata Akashi, Furihata langsung menggeleng kepala. "A-A-Aku? Tidak mungkin! Itu mustahil!"
"Kouki, kau punya kekuatan untuk itu. Sebab asal muasalmu juga adalah dewa."
"Aku… dewa?" Sang titisan dewa melongo tidak percaya pada pengakuan Akashi.
Murasakibara melempar apel yang baru saja digenggamnya ke udara dan menangkapnya lagi. Dia memasang tampang bosan seperti biasa, ditengah-tengah para dewa yang berkumpul untuk sekedar mengisi waktu luang dan mengobrolkan berbagai hal-hal yang terjadi di sekitar mereka. Berbagai permasalahan dunia yang kian terjadi dan berbagai informasi masa kini dirembukkan bersama agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagai Dewa pencipta musibah, kerja Murasakibara tidak banyak. Dia terkenal sebagai dewa yang paling malas menciptakan bencana meskipun itu tugasnya. Yang dilakukannya saat ini hanyalah menunggu amukan dari dewa semesta bahwa dia tidak melakukan tugasnya dengan benar.
Murasakibara menggigit apelnya, tidak memperdulikan tawaan Kise yang menggelegar memecah keheningan malam. Bosan akan tugasnya yang sangat tidak menyenangkan, Murasakibara menghela nafas dan berbaring di atap apartment tertinggi di kota itu, menatap langit yang cerah dipenuhi bintang-bintang berkelip.
"Bosan?"
Suara Kuroko membuat dirinya sadar bahwa Kuroko sudah duduk di sampingnya entah sejak kapan. Dewa yang satu ini cukup lihai menyembunyikan hawa kehadiran dirinya sendiri.
"Tidak juga." Sahutnya pendek. Murasakibara kembali menatap langit.
"Apa kau sudah jenuh dengan tugasmu?"
"Menurutmu apa harus aku lagi yang menciptakan wabah untuk membuat bumi ini busuk?"
Kuroko tidak menyahut. Dia menatap langit yang cerah dan tersenyum. "Aku suka dunia ciptaan Furihatasan ini. Tidak seperti dunia yang sebelumnya, penuh dengan orang-orang yang congkak dan berbagai manusia yang menyebalkan. Dunia ini berbeda. Manusianya saling membantu, aku tidak melihat kenapa dunia ini harus kembali dihancurkan."
Kise dan Midorima yang mendengarkan percakapan mereka menatap satu sama lain.
"Kurasa ada bagusnya jika kau melakukan permintaan Akashi, Murasakibara." Aomine angkat bicara.
Murasakibara cemberut. "Bagaimana kalau kau yang menggantikan posisiku?"
"Yah, mau bagaimana lagi? Kau 'kan dewa bencana." Aommine mengorek telinganya yang gatal kemudian menyandar pada dinding. Dia melipat tangannya lalu memejamkan mata.
"Aominecchi! Jangan tidur! Kita harus berjaga!"
"Diam kau, dewa juga butuh tidur!"
"Kau sudah tidur seharian, Aomine!" Midorima menendang kaki Aomine yang meraung kesakitan.
"Oi, Midorima! Kau cari ribut ya?!"
"Hey! Jangan buat gaduh malam-malam begini." Suara Kagami membuat dewa-dewa yang sedang berkumpul melihat ke pintu keluar menuju atap.
"Akhirnya kau bawa makanan juga! Aku lapar!" Aomine bangun dan menyita kantong plastik yang dibawa Kagami.
"Bodoh, itu bukan hanya untukmu!" Kagami protes.
"Berisik, kau lama sekali aku bisa menghabiskan seplastik ini sendirian!"
"Dai-chan!" Satsuki yang baru keluar dari belakang Kagami memarahinya.
Kuroko tersenyum. "Damai ya, coba ini terus berlanjut dan tidak ada yang namanya kehancuran dunia."
"Hei, apa kita tidak harusnya melenyapkan Furihata Kouki?" Murasakibara bicara tanpa pikir panjang.
Semua mata menatapnya, namun tidak ada yang angkat bicara.
"Jika kau lakukan itu, Akashi-kun akan murka." Kuroko menyahut.
Murasakibara tidak menjawab.
TBC
