~ Chapter 4: Rencana ~
Furihata jelas takut, dia tidak berani berkata-kata di hadapan sosok yang katanya dewa bumi. Ini semua tidak masuk akal. Terutama bahwa dirinya adalah dewa. Kalau Akashi dewa bumi, lalu dia adalah…?
"S-Sei, aku dewa apa?"
"Kau Dewa Penghancur."
Hati Furihata mencelos, ternyata benar. Jadi yang selama ini dilihatnya adalah perbuatannya sendiri. Dari semua tugas, kenapa dia menjadi dewa penghancur, dia tidak mengerti.
"Kau perlu tahu bahwa kau punya kekuatan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran."
"Aku tidak punya!" Furihata berseru sebelum menyadari bahwa dia baru saja spontan menyuarakan keberatan. Menutup mulutnya sendiri, Furihata menundukkan kepala.
"Kurasa kau mulai lelah, tidurlah dahulu." Akashi menepuk kepala Furihata dan mengusapnya. Akashi beranjak dari kursinya dan meninggalkan dewa berambut coklat itu sendirian merenung. Butuh beberapa jam sampai Furihata mengalah pada matanya yang semakin berat.
Di saat matanya tertutup, Furihata melihat dunia yang hampir mati. Dia melihat kenyataan yang mengerikan, keadaan yang sudah tidak tertolong dan makhluk hidup yang sudah tidak punya keinginan untuk meneruskan hidup. Bumi sangat sakit, penghuninya sudah tidak ingin merawat kondisi pesakitan itu. Seperti menunggu seseorang yang akan mengambil nyawa mereka satu per satu. Suatu cahaya terang membutakan mata, Furihata memicing untuk melihat jelas sosok yang turun dari langit. Matanya membesar melihat sosok itu adalah dirinya sendiri, membawa sabit besar di tangan.
"Tu-tunggu, apa yang kulakukan?" Furihata mencoba merentangkan tangannya, mencoba menghentikan ayunan sabit itu.
Dengan satu sabetan, bumi terbelah, keadaan menjadi porak poranda. Seperti terhisap ke suatu lubang dimana semuanya menghilang, bumi beserta isinya perlahan menjadi debu.
Di tengah keramaian itu, Furihata melihat Akashi yang sudah tercabik-cabik.
"A-Akashi-san… SEEEIIII!"
Pita suaranya seolah akan putus. Tangan Furihata menggapai udara. Matanya melihat gelap. Dia terbangun dari mimpi. Sekujur tubuhnya keringat dingin. Furihata bangun dan menyalakan lampu tidur. Matanya menatap telapak tangannya yang baru saja memegang sabit raksasa dalam mimpi.
Mimpi…? Dewa? Menghancurkan dunia? Itu tidak seperti suatu yang terjadi dalam mimpi. Itu terlihat sangat nyata seperti kejadian yang baru dialami kemarin.
Menggenggam kepalan tangannya, Furihata mengerang. Entah kenapa dia merasa bersalah. Dia merasa tidak seharusnya dia melakukan hal itu, namun dia harus melakukannya. Bumi sudah sangat sakit, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menghancurkannya. Itu seperti keputusan yang paling tepat yang harus dilakukan meskipun itu berarti dia harus menghancurkan semuanya.
Air matanya menetes. Ternyata memang, dialah penyebab semua kekacauan yang terjadi di dunia yang sebelumnya. Apabila Akashi benar bahwa dia adalah dewa, berarti tidak salah lagi, dirinya adalah dewa yang telah menghancurkan semuanya. Dialah yang telah membunuh Akashi dengan tangannya sendiri.
'Sei, maafkan aku…'
Keinginan untuk meninggalkan semuanya kembali merayapi benak Furihata. Dia turun dari ranjangnya, mengambil pakaian pergi dan sehelai lagi untuk berjagajaga. Lalu mengambil tas kecil dan memasukkan barang seperlunya. Kali ini sudah pasti dia tidak akan berhenti apabila Akashi mencoba untuk menghentikannya.
Pemuda berambut coklat itu tidak heran ketika membuka pintu kamarnya dan melihat Akashi tengah bersandar pada dinding, menutup matanya dan menyilangkan kedua lengannya, berjaga.
Menutup pintu kamar perlahan, Furihata tidak bergeming, mengawasi Akashi di hadapannya. Kedua mata merah itu membuka, bibirnya menyungging tipis menangkap basah Furihata yang mencoba kabur.
"Apa kau segitu inginnya berpisah denganku, Kouki? Jangan membuatku mengurungmu."
Detak jantungnya memompa lebih cepat mendengar kalimat terakhir Akashi. Sejak kapan pria ini menjadi lebih posesif?
"Kau tidak akan bisa menghentikanku, Sei. Aku… aku tidak layak ada di sini."
Akashi menatapnya sejenak sebelum menghela nafas. Dia berjalan mendekati Furihata dan mendekatkan wajahnya. Furihata mundur dan menabrak pintu, terkesiap akan jarak kedekatan wajah mereka.
"Baik, kutanya sekali lagi. Apa kau mengingat sesuatu?"
Kali ini Furihata mengangguk. "Aku yang membunuhmu, kau tahu hal itu dan kau mencoba untuk membalas dendam, bukankah begitu?"
Akashi menaikkan alis kanannya. Dia menjauhkan diri dan menyapu telapak tangan pada wajahnya, menghela nafas singkat. "Kau salah paham, Kouki. Mungkin kau tidak ingat tapi kita pernah bertemu. Meski dalam waktu 3 detik, kau yang justru menyelamatkan nyawaku. Apa yang kau lihat?"
"Aku melihatnya dalam mimpi, itu masa lalu. Aku tahu itu adalah masa laluku. Mungkin? Semuanya belum jelas. Aku melihat jelas bahwa aku membunuhmu dengan sabit raksasa. Jelas sudah mengapa kau ingin menahanku-" Kata-kata Furihata terpotong ketika Akashi menarik dagunya lalu menciumnya.
"Hnngh!" Furihata shock menerima ciuman dari seseorang yang dikira adalah musuhnya, pria yang telah menolongnya di tengah kebingungan dan hilangnya ingatan. Pria yang perlahan mulai mengisi hatinya. Salah satu penyebab bahwa Furihata ingin menghindari pria ini.
Cinta yang mulai tumbuh semakin menyesakkan dada.
Furihata lemas, dia mendorong Akashi menjauh sekuat yang dia bisa.
Akashi memutuskan ciuman mereka, matanya mencari harapan bahwa perasaannya tidak sepihak.
"Sei, lepaskan…"
"Tidak akan kulepaskan. Kau tahu perasaanku tidak main-main. Sudah hampir dari 2000 tahun aku menunggu untuk bertemu denganmu lagi. Kukira aku hanya dapat bertemu denganmu apabila bumi ini diambang kehancuran."
Membelalakkan mata menerima kenyataan bahwa
Akashilah yang…
"Kau gila…?! Jadi selama ini, bumi yang sakit…"
"Aku akan melakukan apa pun untuk bertemu denganmu, Kouki." Akashi mengelus pipi halus Furihata sebelum mengecup lembut bibir ranum yang baru saja dijamahnya.
"Kita tidak bisa bersatu!"
"Akan kubuat kita bisa bersatu." Akashi mengelus lembut rambut Furihata sebelum Furihata menangkis tangannya.
"Dengar, aku berterima kasih kau mencoba untuk menolongku, tapi kau lebih tahu soal percintaan dewa. Lepaskan aku… jangan buat aku… jatuh hati semakin dalam padamu. Hubungan kita tidak akan bisa lebih dari ini…"
Akashi seperti tidak memperdulikan ucapannya. Dia menghentikan omongan Furihata dengan kecupan lembut pada bibir. Furihata mengerang saat Akashi menjulurkan lidahnya untuk menjilat bibir atas, meminta masuk.
"S-ssei… mmph—" rintihan lemah diikuti dengan bunyi basah, Furihata menyesal memanggil nama itu. Dengan mudah Akashi membuatnya patuh. Saat lidah mereka bertemu, Furihata tidak sadar kapan dia sudah melingkarkan lengannya pada tengkuk Akashi.
Malam itu Furihata melepaskan segala keinginannya untuk menjauh dari pria yang telah hadir dalam hatinya, bahkan sejak dia menghancurkan bumi dan dunianya yang lama. Meskipun yang bersangkutan tidak menyadarinya.
Furihata terbangun saat merasakan belaian lembut pada pinggangnya. Dia mengerjap beberapa kali. Pria yang baru saja memberikan cinta padanya mengecup sayang bibir Furihata, membuat pipi titisan dewa kehancuran itu memerah. Akashi terkekeh melihat tingkah lakunya, dia menarik Furihata ke dalam pelukannya, membelai lembut rambut halus kekasihnya.
"Sei, kau yakin kau ingin melanggar hukum? Kukira kau termasuk sosok yang selalu patuh pada peraturan apa pun."
"Apa pun akan kulakukan untuk bersamamu, Kouki.
Kau tahu itu." Akashi menatap Furihata dan mengecup pipinya.
Furihata menatap Akashi sebelum tersenyum. Dia menjilat bibir Akashi, menerima balik jilatan sayang itu padanya. Jilatan singkat berubah menjadi ciuman panas sebelum Furihata mendapati dirinya berada dalam rengkuhan Akashi. Dia merintih saat Akashi menyerang lehernya, bergumam untuk melanjutkan aktifitas malam mereka. Akashi tidak menolak.
Furihata menghela nafas sambil menyeka rambutnya yang basah. Pipinya memerah saat Akashi memeluknya dari belakang, menghirup bau segar sabun dari kekasihnya.
"Keringkan rambutmu dengan benar, Kouki."
Furihata terkekeh melihat tingkah Akashi yang bersikap seperti induk semang. "Aku… tidak sepenuhnya ingat bagaimana kita bisa bertemu. Apa yang harus kulakukan untuk mengingat semua itu? Yang kurasakan hanyalah sakit yang tidak menentu saat mengingat mimpi menjelang hancurnya dunia lama."
"Kita bertemu dalam waktu tiga detik sebelum kehancuran dunia. Sebelum kau mengayunkan sabitmu, kulihat sosok yang sangat manis dan menawan. Walaupun misimu menghancurkan dunia, tapi sebenarnya kau justru menolong untuk memulihkan dunia yang sakit. Mengembalikan segala sesuatunya menjadi baru, melahirkan benih dunia baru dengan air matamu. Kau menciptakan bumi ini, Kouki."
Furihata menutup matanya. Sepertinya kisah ini memang benar adanya. Dia telah melanggar aturan semesta. Kepalanya sakit. Furihata mengerang sambil memegangi kepalanya.
"Kouki!"
"S-Sakit… sepertinya…" Mata Kouki menggelap.
Akashi merasakan kekuatan yang luar biasa besar di hadapannya perlahan bangkit. Mata berubah kuning, ini kesempatan membangkitnya kekuatan Furihata yang terkunci. Dia bisa menyelam ke dalam jiwa yang tertidur. Akashi menarik tangan Furihata, memaksanya untuk menatap matanya.
"Katakan padaku, apakah dunia ini akan kembali hancur? Kau yang menciptakan, namun kau sendiri yang merusaknya."
"Tugasku hanya menghancurkan sesuai dengan perintah Dewa Semesta."
Kerongkongan Akashi serasa mengering.
"Dunia yang kuciptakan seharusnya tidak lahir. Dewa Semesta menghukumku menjadi manusia biasa agar bisa hancur bersamaan dengan dunia ini."
Ingatan yang tidak diinginkan muncul kembali. Furihata merasakan sakit yang luar biasa. Sabit yang digunakan untuk menghancurkan dunia diarahkan padanya lalu tubuhnya yang sudah tidak bertenaga dihempaskan ke bumi seperti seonggokan kain kotor.
Mata Akashi membesar saat Furihata mulai menjerit.
"KOUKI!" Akashi memeluknya, berusaha membuatnya tenang. Ingatan Furihata menyatu dengannya. Sekarang dia tahu kenapa Furihata tiba-tiba muncul di bumi dalam keadaan sekarat. Dia tahu kemana hilangnya masa 2.699 tahun lamanya. Dia tengah mengalami penyiksaan jiwa dan raga, sosoknya sebagai dewa yang immortal membuatnya sengsara.
"Sei…" Furihata menangis dalam dekapan Akashi.
"Aku tahu, aku merasakannya juga. Maafkan aku sudah membangunkan masa-masa pahit di atas sana.
"Bumi akan hancur pada waktu genap 3000 tahun."
Akashi merasa dirinya seperti dihantam kekuatan yang sangat besar, membuatnya sulit bernafas.
"Saat itu adalah saat kita semua beserta dewa-dewa yang lain dilenyapkan. Planet-planet yang tak bertuan yang kuciptakan akan menabrak bumi satu per satu. Aku tidak diijinkan mengingat apa pun sampai bumi ini hancur sebab aku akan membeberkan rencana besar Dewa Semesta."
Mata Akashi berkilat murka. Seharusnya dia tahu dalang semua ini adalah tidak lain Akashi Masaomi, dewa dari para dewa. Raja Semesta.
Akashi mengangguk.
"Ini berarti saatnya menjalankan strategi perang."
TBC
A/N: Jika ingin melihat gambarnya, bisa menuju link berikut: / 2T6SPpQ (Just delete the space and brackets). Terima kasih sudah membaca :)
