Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC tingkat akut, Gaje, OC dan masih banyak kekurangannya.
Disini Orihime jadi Ichigo dan Ichigo menjadi Orihime. Jadi jangan heran, bingung, aneh pas membacanya nanti karena disini mereka berdua bertukar sifat dan karakter gara-gara bertukar jiwa.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Siang ini kelas Ichigo ramai di datangi oleh para pengunjung khususnya para siswi dari Alice Gakuen yang tertarik pada kostum cosplay yang dipakai dan banyaknya pemuda tampan dikelas Ichigo yang menjadi daya tarik lain dicafe ini.
"Renji, bawa pesanan ini ke meja nomor sepuluh." teriak Yumichika dari dapur.
"Baik." Renji langsung menyambar nampan yang berisikan makanan dan minuman itu.
Dengan cepat pemuda bersurai merah ini berjalan menuju meja sepuluh yang tidak diduga kalau dimeja itu ada sang kekasih Rukia berserta beberapa teman sekelasnya. Wajah Renji merona merah karena malu dengan penampilannya saat ini. Dirinya tidak tahu kalau sang kekasih akan datang ke cafenya dengan mengajak teman-temannya juga.
"Renji, kau sangat cantik sekali dengan pakaian itu," Rukia tersenyum kecil memandangi penampilan sang kekasih.
"Kau membuatku malu Rukia. Ini pesananmu," Renji menaruh makanan dan minuman yang dipesan oleh Rukia.
"Terima kasih Renji," gadis cantik bersurai hitam ini memandangi sang kekasih penuh cinta.
"Selamat menikmati hidangannya dan istirahat nanti aku akan menghubungimu." Ucap Renji sesaat sebelum pergi dari meja Rukia.
"Hmm..." sahutnya.
"Renji," panggil Rukia.
"Ya," sahut Renji bingung.
"Bekerjalah dengan penuh semangat." Rukia memperlihatkan seyuman manisnya pada sang kekasih.
KYUNG~~
"Rukia-chan, kau sangat cantik sekali!" jerit Renji dalam hatinya.
Hati Renji langsung berbunga-bunga dan luluh melihat senyuman manis sang kekasih yang melumerkan hatinya. Ingin rasanya ia berlari memeluk tubuh sang kekasih namun saat ini dirinya harus menahan segala gejolak perasaan dihatinya agar tidak lepas kendali. Buru-buru Renji pergi kembali ke dapur untuk mengantar pesanan yang lainnya.
*#*
Setelah pergi hampir dua puluh menit Ichigo kembali ke cafe dengan membawa beberapa kantong gula yang diminta oleh ketua kelas.
"Ketua ini gulanya, aku sudah membawanya," Ichigo menghampiri seorang pemuda bersurai hitam pendek yang tengah asik membuat minuman didapur.
"Terima kasih Ichigo sekarang kau tolong Renji dan yang lainnya untuk melayani para tamu." Ucapnya seraya membuka kantong gula yang diberikan oleh Ichigo.
"Ya." Ichigo langsung keluar dari dapur dan mulai menyambut tamu yang datang bersama dengan Renji.
Tanpa diduga sama sekali oleh Ichigo kalau sang kakak, akan datang ke acara festifal ini. Dengan ramah dan penuh kehangatan Ichigo menyambut kedatangan gadis bersurai orange kecokelatan itu yang hari ini tampil sangat manis dengan rambut yang dikuncir satu kesamping.
"Selamat datang dicafe kami, Nona." Sambut Ichigo ramah.
Wajah Orihime terlihat syok dan pucat pasi saat melihat dandanan Ichigo yang memakai pakaian gadis gotic lolita ditambah rambut palsu berwarna biru panjang yang dipakai dan membuat penampilan Ichigo mirip seperti seorang gadis.
"Hime kenapa kau diam saja?!" Ichigo mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Orihime yang berdiri diam mematung.
Tak lama setelah mengibas-ngibaskan tangannya diwajah Orihime, terdengar teriakkan keras dari bibir gadis bersurai orange kecokelatan itu.
"TIDAAKKK! Pakaian macam apa itu, yang tengah kau pakai? Cepat lepaskan!" Orihime menarik-narik kencang pakaian Ichigo.
"Hime, jangan tarik bajuku." Ichigo berusaha mencegah perbuatan sang kakak.
Dan hal yang dilakukan oleh Orihime menarik perhatian para pengunjung yang datang, mengetahui kalau dirinya dan sang kakak menjadi tontonan Ichigo membawa Orihime ke meja dan memaksanya untuk duduk dengan tenang juga tidak membuat keributan. Setelah menjelaskan, merayu sang kakak akhirnya Orihime bisa tenang dan tidak berteriak-teriak protes dengan kostum yang dipakai oleh Ichigo.
"Ini yang pertama dan terakhir kalinya kau memakai kostum itu," Orihime menatap tajam Ichigo.
"I-iya..." jawabnya takut.
"Ya sudah jangan marah lagi, kau mau memesan apa?" tanya Ichigo ramah seraya memberikan kertas menu pada Orihime.
"Makanan dan minuman apa yang kau suka?" tanya balik Orihime.
"Cokelat panas dan kue kuje," jawab Ichigo cepat.
Orihime langsung memberikan kertas menu pada Ichigo, "kalau begitu aku pesan itu saja." Ucapnya.
"Kalau begitu mohon tunggu sebentar, pesananmu akan tiba beberapa menit lagi." Ichigo membungkukkan tubuhnya lalu pergi ke dapur untuk memberikan pesanan Orihime pada Yumichika.
Dan diam-diam teman-teman Ichigo memperhatikan kedekatan pemuda bersurai orange itu dengan gadis cantik bermata abu-abu itu, yang menurut mereka adalah gadis yang cantik juga manis.
"Psst...Siapa gadis itu?" bisik Ggio pada Kira.
"Entahlah, aku juga baru melihat gadis itu. Mungkin kenalannya Ichigo." sahut Kira cuek.
"Sejak kapan Ichigo punya kenalan seorang gadis manis dan cantik." Gumam Ggio.
"Jangan kau pikirkan hal itu, lebih baik kau kembali dengan tugasmu. Lihat banyak tamu yang datang." Omel Kira.
Ggio-pun kembali bekerja kembali dan membantu teman-temannya melayani para tamu yang datang. Sebenarnya bukannya hanya Ggio saja yang penasaran dengan gadis yang terlihat akrab dengan Ichigo, karena selama mengenal Ichigo mereka tidak pernah melihat sikap Ichigo yang seramah dan sebaik itu pada seorang gadis karena biasanya pemuda tampan bersurai orange itu akan bersikap dingin, ketus pada setiap gadis yang berusaha mendekatinya.
Baru juga Ichigo pergi kedapur, Grimmjow dan teman-temannya datang ke cafe yang membuat keadaan didalam cafe sedikit menegang.
"Apa yang kau inginkan Grimmjow?" Renji menghampiri pemuda bersurai biru itu dan beberapa teman-temannya.
"Begitukah kau menyambut tamu Renji," lirik Grimmjow sinis.
Renji meremas erat nampan yang tengah dipegangnya.
"Aku kesini untuk menikmati hidangan di cafe ini," Grimmjow langsung duduk didekat Orihime.
Gadis cantik bermata abu-abu ini menatap malas pada pemuda bersurai biru yang tengah duduk didekatnya, "ini mejaku, duduklah ditempat yang lain," usir Orihime ketus.
Bukannya pergi Grimmjow malah tertawa kecil mendengarnya dan semakin mendekatkan tubuhnya pada Orihime, "jangan galak-galak seperti itu, Nona cantik," goda Grimmjow seraya memegang dagu Orihime.
PATS...
Gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini menepis kasar tangan Grimmjow dan menatap tajam pada pemuda bersurai biru yang tangannya telah berani menyentuh dirinya.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu," desis Orihime.
"Sombong sekali kau Nona," kali ini Grimmjow memegangi kedua pipi Orihime dan menatapnya tajam.
Orang-orang yang berada didalam cafe tidak bisa berbuat banyak bahkan Rukia hanya diam melihat Grimmjow mengganggu gadis bersurai orange kecokelatan itu karena ia harus bisa menjaga sikap dan perilakunya mengingat dirinya yang seorang Nona bangsawan juga adik dari Byakuya Kuchiki, sang ketua Osis di Empire Gakuen.
BUK...
Tiba-tiba kepala Grimmjow dipukul keras dengan nampan dari belakang. Pemuda bersurai biru ini meringis kesakitan dan kepalanya agak sedikit pusing karena menerima pukulan dikepalanya.
Saat dirinya menoleh kebelakang ia melihat seorang gadis bersurai biru panjang dengan pakaian gotic lolita tengah menatapnya dengan penuh amarah.
"Jangan ganggu Hime-ku," teriaknya dengan kesal.
Grimmjow diam termangu sesaat mendengarnya dan setelah mendengar suara dari gadis itu dirinya baru sadar kalau ternyata gadis berkostum gotic lolita itu adalah Ichigo Kurosaki.
"Rupanya itu kau Ichigo, aku sampai tidak mengenalimu karena penampilanmu yang cantik," Grimmjow bangun dari posisi duduknya dan berdiri menatap tajam Ichigo.
"Pergi dari sini dan jangan buat onar di cafe kami," usir Ichigo ketus.
BUAGH...
Tiba-tiba saja Grimmjow meninju wajah Ichigo hingga pemuda tampan itu jatuh tersungkur kelantai.
BRUK...
"Aaaa..." rintih Ichigo.
Sementara itu Orihime yang sebenarnya adalah Ichigo melihat sang adik dipukul didepan matanya membuat darahnya mendidih dan dengan cepat Orihime langsung menendang keras Grimmjow hingga tubuh pemuda bersurai biru itu jatuh tersungkur kelantai.
"Ketua!" teriak para anak buah Ichigo panik.
"Jangan berani-beraninya melukainya." Orihime menatap garang pada Grimmjow.
"Boleh juga tendanganmu Nona," Grimmjow bangun dari posisinya.
Pemuda bersurai biru ini berdiri menatap Orihime tajam, "kau harus membayar mahal apa yang sudah kau lakukan Nona,"
"Aogi hajar gadis itu," perintah Grimmjow.
Dan dengan capet pemuda bersurai hitam cepak itu melayangkan tinjunya pada Orihime namun belum juga sampai pukulannya diwajah gadis bersurai orange kecokelatan itu. Pemuda itu sudah keburu jatuh ditinju oleh Renji.
BUAGH!
BRUK...
"Jangan pernah berani-berani memukul seorang gadis. Kira bawa seluruh pengunjung cafe keluar termasuk Orihime dan Rukia." Pinta Renji pada temannya.
"Baik." Kira langsung meminta seluruh pengunjung untuk pergi dari cafe termasuk Rukia dan Orihime yang ia paksa untuk keluar karena keadaan disini berbahaya.
"Aku tak mau pergi. Aku ingin membantu Kak Ichi." ronta Orihime.
"Maafkan aku Nona tapi kau harus pergi dari sini." Kira mendorong kuat tubuh Orihime dan Rukia lalu menutup pintu kelas.
BLAM...
Setelah semua pengunjung pergi meneyelamatkan diri karena takut dan tak mau terluka.
"Majulah kalian para pria lemah." Ledek Renji.
"Kau..."
"Serang dia teman-teman." Teriak Grimmjow lantang.
Dan seketika suasana didalam cafe langsung kacau balau karena terjadi perkelahian antara teman-teman Grimmjow dan Renji.
"Rasakan ini!" Renji melayangkan tinju pada salah satu teman Grimmjow.
Kali ini bukan hanya Renji dan Ichigo saja yang ikut berkelahi melawan Grimmjow dan teman-temannya tapi semua teman sekelasnya membantunya, bahkan Yumichika yang dikenal feminin dan berhati lembut itu juga ikut berkelahi membantu.
"Cih! Kenzo, panggilkan teman-teman kita." Teriak Grimmjow pada salah satu temannya.
Setelah salah satu teman Grimmjow pergi meminta bantuan tak lama teman-teman sekelas Grimmjow datang ke kelas Ichigo dan membantu untuk berkelahi. Para pengunjung festifal yang berada dilantai dua langsung berlari ketakutan dan diungiskan sementara waktu bahkan acara festifal sekolah dihentikan sementara waktu karena adanya perkelahian ini.
"Cepat panggilkan para anggota Osis juga para guru untuk menghentikan perkelahian ini." teriak Kira pada salah satu temannya untuk meminta bantuan karena keadaan saat ini benar-benar sangat kacau bahkan bisa dibilang kelas ini sudah hancur berantakan dengan kursi, meja yang patah dan banyaknya pecahan beling dari gelas dan piring diatas lantai.
.
.
.
Cinta pada pandangan pertama hal ini-lah yang tengah dialami dan dirasakan oleh Byakuya Kuchiki, sang ketua Osis Empire Gakuen pemuda paling populer dan terkenal di kalangan para siswi Alice Gakuen, sekolah para putri bangsawan.
Dan perasaan cinta, mampu mengubah sifat dan hati seseorang yang tadinya dingin menjadi hangat. Terkadang membuat seseorang menjadi berbeda atau aneh dan hal itu juga dialami oleh Byakuya saat ini.
"Siapakah namamu Nona." Batin Byakuya.
Pemuda tampan bersurai hitam panjang ini masih setia memandangi ponsel yang ditemukannya, seulas senyum tipis-pun terus menghiasi wajah tampannya, membuat pemuda bersurai merah jambu yang ada disebelahnya menjadi heran dan bingung dibuatnya.
"Hei, Byakuya," panggil sang wakil ketua Osis dengan heran.
"Ya, ada apa Syazel," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan matanya dari ponsel lipat ditangannya.
"Apa kau sakit?" tanya Syzel tiba-tiba.
"Tidak." Jawab Byakuya singkat dan lagi-lagi ia tidak mengalihkan pandangan matanya dari ponsel lipat ditangannya.
"Haaah~~" Syazel menghembuskan nafasnya dengan berat.
Pemuda bersurai merah jambu ini benar-benar sangat heran dan bingung sekali dengan sikap Byakuya siang ini yang dinilainya sangat aneh dan tak biasa, mengingat pemuda berwajah stoick dan kadang-kadanga tak pernah menampilkan sisi emosinya. Akan tetapi saat ini dengan kedua matanya sendiri Syazel melihat seulas senyuman tipis terus terukir di bibir Byakuya tak kala memandangi ponsel lipat berwarna merah itu, entah benda itu milik siapa namun sepertinya ponsel itu merupakan benda yang sangat penting untuk Byakuya.
DRAP...DRAP...DRAP...
SREK...
Pintu ruang Osis terbuka dengan kasar dan menampilkan seorang pemuda bersurai kuning pendek dengan nafas yang terlihat terengah-engah.
"Hirako?!" seru Syazel bingung.
"Grimmjow..." ucapnya nafas yang terngengah-engah.
"Grimmjow?! Ada apa dengannya?" tanya Syazel penasaran.
"Saat ini Grimmjow dan teman-temannya tengah berkelahi juga membuat onar dikelas Ichigo," jawab Hirako setengah panaik.
Wajah Syazel langsung memucat mendengarnya, ia tak habis pikir bagaimana bisa pemuda bersurai biru itu membuat ulah lagi disaat seperti ini. Dan mau tidak mau ia dan Byakuya harus ke kelas Ichigo untuk menghentikan perbuatannya yang selalu saja membuat onar juga kekacauan di sekolah ini. Andai saja keluarga Grimmjow bukan salah satu penyumbang dana terbesar untuk Emprie Gakuen dan Alice Gakuen sudah pasti Syazel akan menendangnya keluar dari sekolah ini.
Saat Byakuya, Syazel dan beberapa anggota Osis datang kekelas Ichigo. Suasana kelas yang diubah menjadi cafe itu terlihat berantakan bak kapal pecah.
"Ya ampun! Kacau sekali tempat ini," teriak Syazel panik.
"Hirako dan anggota Osis lainnya bantu aku untuk menghentikan perkelahian ini," Syazel memberikan perintah.
"Baik." Sahut Hirako.
Para anggota Osis mulai mencoba menghentikan perkelahian ini, namun mereka agak kesulitan karena banyaknya yang berkelahi, mengingat kalau dua kelas tengah berkelahi.
Namun ada satu hal yang membuat Byakuya kaget setengah mati dan jantungnya hampir berhenti berdetak saat melihat gadis bersurai biru panjang yang tadi menabrak dan menciumnya didekat tangga. Kini tengah beradu pukulan dengan Grimmjow, bahkan pakaian yang dikenakan terlihat sedikit berantakan. Tanpa berfikir apa-apa Byakuya langsung membantu gadis bersurai biru panjang itu, yang tak lain adalah Ichigo Kurosaki.
BUAGH...
BRUK...
Grimmjow jatuh terhempas ke lantai saat menerima pukulan telak di wajahnya dari Byakuya.
Kedua mata Ichigo membulat sempurna melihat sosok Byakuya didepannya saat ini.
"Byakuya!" batinnya kaget.
Sementara itu Orihime terlihat berusaha untuk masuk kedalam kelas untuk membantu Ichigo yang tak lain adalah adiknya. Namun penjagaan dari para anggota Osis membuatnya sulit untuk masuk dan menolong Ichigo.
"Cih..." Grimmjow membuang ludahnya yang bercampur darah.
Pemuda bersurai biru ini tersenyum sinis memandangi Byakuya yang berdiri didepan Ichigo, "jangan ikut campur urusanku, Byakuya Kuchiki,"
"Tidak akan kubiarkan kau memukul seorang perempuan," ucap Byakuya dengan setengah berteriak.
Grimmjow terdiam dan tak lama tertawa dengan keras mendengar perkataan dari Byakuya yang mengira kalau orang yang dibelakangnya adalah seorang gadis.
"Jangan membuatku tertawa Byakuya. Lihat dengan jelas siapa orang yang ada dibelakangmu, apa kau tak menyadarinya kalau orang yang kau anggap gadis itu seorang pemuda," ucap Grimmjow.
Kedua mata Byakuya membulat sempurna, nafasnya terasa tercekat saat mendengarnya dengan perlahan-lahan pemuda bersurai hitam panjang ini menolehkan kepalanya kebelakang dan memandangi dengan seksama orang yang ada dibelakangnya. Bisa Byakuya lihat dengan jelas rambut palsu yang hampir terlepas dari kepalanya dan beberapa helai surai rambut berwarna orange terlihat.
"Kau siapa?" Byakuya menatap syok wajah Ichigo.
"Aku Ichigo Kurosaki." Jawab Ichigo bingung.
"Apa?!" Byakuya terlihat syok mendengar pengakuan gadis bersurai biru panjang itu yang tak lain adalah Ichigo.
Tubuh Byakuya langsung mati rasa dan kaku, wajahnya langsung pucat pasi dan kepalanya terasa sangat pusing. Jadi gadis yang menabrak dan menciumnya di dekat tangga tadi, ternyata adalah Ichigo Kurosaki, bukan seorang gadis cantik bak bidadari.
PRANG...
Hati dan perasaan pemuda tampan bersurai hitam ini langsung hancur berkeping-keping. Baru juga ia merasakan indahnya sebuah perasaan cinta yang mulai tumbuh dihatinya. Namun kini perasaan itu harus hancur dan lenyap tak kala menyadari kalau gadis yang terus dipikirkan juga dibayangkan beberapa saat lalu ternyata seorang laki-laki tulen.
"Mengapa kau diam saja Byakuya? Apa kau syok mendengarnya," tanya Grimmjow sinis.
Byakuya mengepal erat kedua tangannya menahan segala gejolak emosi dan perasaan yang ada dihatinya saat ini, sementara itu Ichigo yang melihat sikap Byakuya yang seperti itu membuatnya merasa sedikit takut juga cemas.
"Aku minta kalian semua menghentikan perkelahian ini dan tunggulah hukuman dari pihak sekolah untuk kalian semua." ucapnya dengan menahan amarahnya.
"Kau kira aku akan mendengarkan ucapanmu." Grimmjow berjalan mendekat pada Byakuya dan saat hendak melayankan tinju tiba-tiba saja seseorang datang dan langsung menendang Grimmjow hingga terpental jauh dan kali ini pemuda bersurai biru itu jatuh pingsan.
Baik Ichigo dan yang lainnya terdiam juga terpana pada sosok gadis cantik bersurai orange kecokelatan yang berada di samping Byakuya.
"Itu balasan karena sudah memukul kak Ichi." ucap Orihime.
Ichigo langsung menghampiri gadis bersurai orange kecokelatan itu, "Hime, apa yang kau lakukan disini?"
"Kak Ichi, apa kau tak apa-apa?" Orihime menatap cemas keadaan Ichigo yang sedikit berantakan.
"Ya, aku tak apa,"
GREP...
Orihime langsung memeluk erat tubuh Ichigo, "syukurlah kalau begitu."
Sementara kedua kakak adik itu tengah asik berpelukkan, Byakuya terlihat diam kaku dan pandangan matanya terlihat kosong juga syok dengan kenyataan kalau ia jatuh cinta pada sosok Ichigo saat menjadi seorang gadis. Bahkan pemuda bersurai orange itu sudah mengambil ciuman pertamanya yang sangat berharga.
"Ichigo..." panggil Byakuya dingin.
"Y-ya," sahut Ichigo gugup.
Pemuda bersurai hitam panjang itu tiba-tiba memberikan ponsel lipat berwarna merah yang merupakan milik Ichigo.
"Kok bisa ada padamu?" tanya Ichigo bingung.
Namun bukannya menjawab pertanyaan dari Ichigo, pemuda bersurai hitam panjang itu langsung pergi meninggalkan kelas 2-E yang kacau balau tanpa berkata sepatah kata-pun.
.
.
.
Setelah perkelahian yang terjadi dikelas Ichigo, acara festifal sekolah terpaksa dihentikan sementara waktu untuk membenahi kerusakan di kelas Ichigo. Sementara itu kini Orihime dan Icigo tengah berada diatas atap untuk makan siang bersama dan mengobati tubuh Ichigo yang terluka.
"Akh...Sakit kak Ichi," rintih Ichigo yang saat ini lukanya tengah diobati oleh Orihime.
"Sudah diam jangan banyak bergerak atau protes. Luka diwajahmu ini harus diobati agar tidak berbekas nantinya," omel Orihime.
"Tapi pelan-pelan kak Ichi. Kau mengolesinya terlalu kasar," protes Ichigo pada sang kakak.
"Makanya jangan berkelahi. Biar bagaimana-pun kau ini-kan tetap seorang perempuan walaupun berada didalam tubuhku," Orihime masih mengobati wajah Ichigo.
"Ya...Akh...sakit kak Ichi,"
"Pokoknya kau jangan berkelahi lagi, jika si rambut biru itu membuat ulah padamu lari saja karena kau bukan lawannya, Hime. Walaupun kau berada didalam tubuhku yang merupakan pemuda kuat dan tangguh namun tetap saja jiwamu itu seorang perempuan dan tak sekuat diriku," Orihime menempelkan plester di dekat bibir Ichigo.
"Aku mengerti kak Ichi," ucap Ichigo pelan.
SRUK...
Orihime mengacak-ngacak pelan surai orange sang adik, "itu baru adikku," ucapnya dengan tersenyum senang.
"Kak Ichi," panggil Ichigo tiba-tiba.
"Ya, ada Hime? Apa kau merasakan sakit ditempat yang lain?" tanya Orihime.
Ichigo menggelengkan kepalanya, "bukan itu,"
"Lalu ada apa?" Orihime menatap sang adik bingung.
"Kapan kita bisa kembali normal, aku ingin kembali ketubuhku. Apakah kak Ichi yakin kalau akan ada orang yang mencintai kita dengan tulus dan bisa menerima keadaan kita yang seperti ini? Bertukar jiwa, " Ichigo menundukkan wajahnya sendu.
Orihime mengangkat dagu Ichigo dan menatap sang adik dengan penuh kasih, "aku yakin itu Hime, kita pasti akan menemukannya," Orihime tersenyum lembut menatap wajah sang adik.
"Tapi, apa bisa?!" Ichigo mulai ragu dengan keyakinan dirinya.
Melihat sang adik yang sedih membuat hatinya ikut bersedih juga, ia sangat tahu kalau mustahil mendapatkan seseorang yang akan mencintai dirinya dan Orihime jika dalam keadaan bertukar jiwa seperti ini. Namun ia yakin pasti akan ada keajaiban untuknya dan sang adik, karena dirinya yakin dan percaya kalau kami-sama itu ada, walaupun Orihime atau lebih tepatnya Ichigo sendiri jarang pergi ke kuil untuk berdoa.
"Tenanglah Hime, aku yakin kita bisa kembali ketubuh kita masing-masing. Lagi pula aku juga tidak mau terus berada ditubuhmu ini. Kadang-kadang aku merasa sesak dan tak bisa bernafas karena payudaramu yang besar dan menggoda ini," ucap Orihime seraya menggoyang-goyangkan dadanya didepan Ichigo.
Blush..
Wajah Ichigo langsung memerah melihatnya, "hentikan, kak Ichi jangan lakukan itu. Kau membuatku malu,"
Orihime tersenyum lebar menanggapi sikap malu sang adik, sudah lama dirinya tidak tertawa selebar ini dan berada didekat sang adik selalu membuatnya senang dan nyaman.
.
.
.
Semua teman-teman Ichigo dan Grimmjow, harus menerima hukuman memunguti seluruh sampah yang ada disekolah, asrama dan membersihkan semua kamar mandi, toilet yang ada di sekolah juga asrama kelas satu sampai kelas tiga selama satu minggu penuh. Tak hanya itu saja, mereka juga harus mengganti rugi semua biaya kerusakan yang diakibatkan oleh perkelahian saat acara festifal sekolah.
Akan tetapi bagi Byakuya hukuman yang diberikan pihak sekolah pada mereka semua terlalu ringan mengingat ulah mereka yang sudah merusak dan merugikan sekolah, bahkan mencoreng nama baik sekolah yang merupakan sekolah elit para Tuan muda dan anak-anak dari kalangan atas.
Dan sore ini Renji, Ichigo, Yumichika tengah menjalani hukuman yang diberikan oleh Byakuya di gedung asrama kelas satu.
"Huh! Menyebalkan sekali!" gerutu Renji yang saat ini tengah membersihkan bak mandi.
SRUK...SRUK...SRUK...
Renji mengosok dengan sekuat tenaga dan penuh amarah bak mandi berukuran besar milik asrama kelas satu.
"Berani sekali Byakuya menyuruh Tuan muda sepertiku, membersihkan kamar mandi!" dengus Renji kesal.
Ichigo yang melihat tingkah Renji hanya bisa tersenyum kecil, maklum saja jika pemuda bersuai merah itu marah mengingat kalau dirinya adalah seorang Tuan Muda dan anak dari pemilik hotel bintang lima di daerah Kyushu dan Hokaido.
"Bukankah dia kakak dari kekasihmu Renji." ujar Ichigo yang saat ini tengah mengepel lantai kamar mandi.
"Ya, aku tahu. Tapi kenapa juga Rukia harus memiliki kakak seperti dia." Renji semakin kuat menggosok.
"Sudahlah Renji, kau jangan menggerutu terus. Cepat selesaikan pekerjaanmu agar kita bisa cepat pulang ke asrama." Omel Yumichika yang ikut membersihkan kamar mandi bersama Ichigo dan Renji.
"Ya." Sahut Renji malas.
Akhirnya setelah hampir satu jam membersihkan kamar mandi, pekerjaan ketiganya selesai dan mereka bisa kembali ke asrama untuk beristirahat. Karena seharian sibuk menjalani hukuman dari sang ketua Osis, Ichigo tidak bisa menemui sang kakak untuk sementara waktu juga terkadang lupa untuk menghubunginya dan memberinya kabar.
"Hari ini melelahkan sekali," Renji merebahkan tubuhnya yang terasa pegal diatas ranjangnya.
"Ya, kau benar sekali," sambung Ichigo.
"Huaaammm..." Renji menguap dengan lebar, dirinya benar-benar merasa sangat mengantuk dan butuh untuk tidur.
"Selamat malam Ichigo." Ucap Renji parau dan tak lama memejamkan kedua matanya.
"Selamat malam juga, Renji." balasnya seraya mematikan lampu kamar.
Tak lama setelah mematikan lampu kamar terdengar suara dengkuran halus dari Renji, sepertinya temannya itu sangat kelelahan dan mengantuk berat.
Malam ini Ichigo tidak bisa langsung tidur karena memikirkan tentang sang kakak juga dirinya yang bertukar jiwa, memang benar jika ingin jiwanya kembali ke tubuh asli miliknya. Dirinya harus menemukan orang yang bisa mencintainya dengan tulus.
Namun Ichigo atau lebih tepatnya Orihime masih agak merasa sedikit risih dan belum terbiasa dengan dirinya yang berada didalam tubuh sang kakak. Terlebih jika harus berdekatan intens dengan seorang pria pasti dirinya akan dianggap sebagai sesuka penyama jenis.
Dan ini sudah dua minggu sejak ia bertukar jiwa dengan sang kakak, namun belum juga ada perkembangan darinya maupun sang kakak.
"Haah~~" Ichigo menghela nafasnya dengan berat.
"Apa yang harus aku lakukan ayah, ibu!" batin Ichigo frustasi.
SRUK...
Ichigo merebahkan tubuhnya diatas kasur dan memandangi langit-langit kamarnya yang gelap karena lampu kamar yang sudah dimatikannya beberapa menit yang lalu, sedangkan Renji temannya sudah tertidur pulas di atas ranjangnya karena kelelahan membersihkan kamar mandi.
Disaat Ichigo tengah risau dengan perasaannya tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan saat diangkat ternyata Orihime atau lebih tepatnya sang kakak yang menghubunginya.
"Kak Ichi," gumamnya pelan.
Dirinya benar-benar lupa menghubungi sang kakak karena sibuk menjalani hukuman yang diberikan oleh Byakuya.
"Halo, kak Ichi," bisiknya pelan.
"Hime, kemana saja kau seharian ini tidak menghubungiku? Apakah si rambut biru membuat masalah lagi denganmu?" cerocos Orihime ditelpon.
"Pelankan suaramu Kak Ichi, nanti Renji bisa mendengarnya," omel Ichigo.
"Maaf, aku lupa kalau saat ini kau sedang ada didalam kamar bersama dengan Renji. Lalu kemana saja seharian ini kau tidak memberi kabar padaku Hime? Aku sangat cemas dan khawatir padamu,"
"Maafkan aku Kak Ichi, seharian ini aku sibuk menjalani hukuman dari Byakuya," jelas Ichigo.
"Apa?! Si ketua Osis menyebalkan itu memberikanmu hukuman!" teriak Orihime ditelpon.
"Ssst...Kak Ichi pelankan suaramu," omel Ichigo yang mengingatkan sang kakak untuk tidak berteriak-teriak ditelpon karena takut terdengar oleh Renji yang tertidur pulas disamping ranjangnya.
"Maafkan aku Hime, aku kelepasan," kali ini Orihime memelankan suaranya.
"Kakak sudah makan?" tanya Ichigo datar.
"Ya, aku sudah...Huaam...makan..." jawab Orihime dengan menguap lebar.
"Sepertinya kakak sudah mengantuk, beritirahatlah besok aku akan menghubungi kakak. selamat malam kak Ichi." Ichigo menutup pelan ponselnya dan menaruhnya di atas nakas.
Baru juga Ichigo hendak merebahkan tubuhnya diatas kasur tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk keras. Entah siapa malam-malam begini datang kekamarnya.
TOK...TOK...TOK...
"Ichigo, Renji. Apa kalian sudah tidur?" teriak seseorang dari luar kamar.
Buru-buru Ichigo membuka pintu kamarnya dan saat dibukanya ternyata itu adalah Yumichika yang tengah berdiri didepan pintu kamarnya dengan mengenakan piyama tidur berwarna ungu muda seraya memeluk sebuah bantal besar.
"Yumichika?! Ada apa malam-malam begini kau kemari?" tanya Ichigo bingung.
"Aku bermimpi buruk dan aku jadi takut tidur sendirian," jawabnya dengan wajah yang sedikit ketakutan.
Ichigo tertegun mendengarnya, bagaiman bisa seorang pemuda dewasa takut tidur sendirian dikamar hanya karena telah bermimpi buruk.
"Bukankah, kau sekamar dengan Ikaku?" Ichigo teringat pada teman satu kamar Yumcihika.
"Si botak menyebalkan itu-lah yang menjadi penyebab mimpi burukku. Pokoknya aku ingin tidur dikamar ini," Yumichika langsung menerobos masuk kedalam kamar dan duduk dipinggir ranjang Ichigo.
Pemuda bersurai orange ini hanya bisa mendesah pasrah melihat Yumichika. Mau tidak mau malam ini ia harus tidur satu ranjang dengan Yumchika.
"Ayo Ichigo, kita tidur," ajak Yumchika.
"Ya, ayo kita tidur." Ichigo ikut merebahkan tubuhnya disamping Yumichika.
Dan tanpa diduga sama sekali kalau Yumichika akan memeluknya.
"Yu..."
Dengkuran halus terdengar dari Yumichika saat pemuda bersurai orange ini hendak protes dan mau tidak mau Ichigo membiarkan pemuda feminin itu tidur memeluknya.
"Selamat tidur Yumichika." Ucap Ichigo seraya menutup kedua matanya dan menuju kealam mimpi.
TBC
A/N : Terima kasih sudah mau membaca Fic ini.
Jika merasa agak bingung dan aneh saat membaca Fic ini, saya mohon maaf.
Untuk kelanjutan Fic ini saya tidak bisa janji update cepat mungkin akan sedikit lama updatenya, mengingat saya masih memiliki banyak Fic yang belum saya selesaikan.
Fic ini sangat jauh sekali dari kata bagus apalagi sempurna karena masih banyaknya kesalahannya apalagi typo yang ada dimana-mana.
Jadi jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka.
