Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Friendship, Fantasy

Pair : Byakuya. K x Orihime. I

Ichigo. K x Nelliel. T

~ 100 Find Love ~

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC tingkat akut dan masih banyak kekurangannya.

Disini Orihime jadi Ichigo dan Ichigo menjadi Orihime. Jadi jangan heran, bingung, aneh pas membacanya nanti karena disini mereka berdua bertukar sifat dan karakter karena bertukar jiwa.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Pagi ini ada yang sedikit berbeda dari Byakuya Kuchiki, sang ketua Osis Empire Gakuen ini terlihat terus tersenyum kecil sambil memikirkan sesuatu. Syazel yang berada disebelahnya menjadi sedikit heran sekaligus curiga dengan teman sekamarnya itu.

"Hei, Byakuya," panggil Syazel.

"Hn," sahutnya datar.

"Apa kepalamu terbentur sesuatu?" tanya Syazel penasaran.

"Tidak. Kenapa kau menanyakan hal itu padaku,"

"Dari tadi kuperhatikan kau terus saja tersenyum tidak seperti kau yang biasanya saja, sampai-sampai aku merasa kau bukan Byakuya saja," ujarnya.

"Benarkah?! Aku bersikap biasa saja, tidak ada hal aneh yang kulakukan. Daripada kita membahas hal itu, sekarang aku harus pergi menemui Renji. Kau dan anggota Osis lainnya tunggu aku didepan gerbang sekolah untuk melakukan razia kelengkapan seragam," perintah Byakuya tegas.

"Baik, ketua." Sahut Syazel penuh semangat.

Mereka berdua-pun berpisah jalan, Byakuya berjalan ke arah asrama kelas dua yang terletak diseberang asramanya karena ia harus memberikan titipan sang adik Rukia untuk Renji sang kekasih.

*#*

KRRRIIIIINGGG!

Jam bekker milik Renji terus berdering dan menandakan sudah pukul tujuh pagi tapi sepertinya pemuda bersurai merah itu enggan bangun dari alam mimpinya yang indah.

DUAK

Renji memukul jam bekker miliknya hingga rusak lalu tidur kembali dengan menutupi kepalanya dengan bantal. Hari ini ia malas untuk masuk sekolah karena mengantuk berat mengingat kemarin malam ia habis bermain game online hingga jam tiga pagi.

Ichigo sudah rapih dengan mengenakan seragam sekolahnya tapi Renji masih tertidur pulas diatas kasur.

SREK

"Renji bangun!" Ichigo menggoyang-goyangkan tubuh teman satu kamarnya itu.

"Sepuluh menit lagi, Ichigo. Aku masih mengantuk," rajuknya seraya berbalik memunggungi Ichigo.

Pemuda bermata madu ini menghela nafasnya dan mencoba kembali membangunkan Renji kali ini ia setengah berteriak pada pemuda bersurai merah itu. Karena kesal tidurnya diganggu Renji mencapit tubuh Ichigo dan menguncinya diatas kasur.

"Kau berisik sekali Ichigo, ini masih pagi dan biarkan aku tidur kembali," ujarnya kesal.

Rona merah mulai menghiasi wajah Ichigo tak kala Renji memeluknya seperti ini, walaupun berada didalam tubuh laki-laki tetap saja kalau jiwanya adalah seorang gadis yang memiliki perasaan malu serta canggung jika berdekatan seperti ini dengan seorang pria.

"R-Renji!" seru Ichigo gugup.

"Diam jangan protes, aku akan terus mengurungmu agar kau tidak menggangu tidurku lagi," ujar Renji dengan kedua mata tertpejam dan tak menyadari kalau wajah Ichigo sudah semerah tomat.

CKLEK

Pintu kamar terbuka dan menampilkan seorang pemuda tampan bersurai hitam panjang tengah berdiri syok melihat Renji yang tengah mengurung tubuh Ichigo dalam pelukkan erat.

Iris abu-abu milik Byakuka melebar dan dengan cepat ia berjalan menghampiri Renji lalu menarik tubuh Ichigo agar terlepas dari kurungan pemuda bersurai merah itu.

Ichigo cukup kaget saat Byakuya datang terlebih menolongnya terlepas dari pelukkan Renji.

"Bangun kau Abarai!" Desis Byakuya tajam.

Mendengar suara Byakuya reflek Renji langsung membuka kedua matanya dan terbangun menatap heran sang calon kakak ipar.

"Kau?! Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya bingung dan kaget.

Wajah Byakuya terlihat marah dan kesal padanya, Renji jadi merasa sedikit aneh juga heran lalu bertanya-tanya dalam hati apa yang sudah dilakukannya sehinggap pemuda bersurai hitam panjang itu marah padanya.

"Rukia menyuruhku untuk memberikan ini padamu," ujarnya seraya memberikan sebuah kotak kecil berwarna cokelat muda.

Saat dibuka ternyata itu sebuah anting perak tapi bentuknya agak sedikit aneh dan berantakan tapi wajah Renji terlihat senang dan gembira melihatnya karena anting ini adalah hasil karya dari Rukia saat pelajaran kesenian membuat kerajinan tangan berbahan perak.

Renji langsung memakainya dikuping sebelah kirinya, "Bagaimana Ichigo, bagus'kan?"

"Hn," anggukknya.

"Kalau begitu aku pergi dan kau Ichigo ikut aku ke sekolah karena hari ini tidak akan kubirakan kau lari dariku." Ucapnya dengan menatap Ichigo penuh arti membuat pemuda bermata madu itu sedikit salah tingkah.

"Ta-tapi..."

GRAP...

Byakuya sudah menarik tanga Ichigo membawanya pergi keluar kamar meninggalkan Renji yang masih duduk santai di ranjangnya.

"Hei, kalian!" teriak Renji kesal.

Tapi sayangnya kedua pemuda itu sudah pergi dari kamar, Renji mendengus kesal melihat kelakukan Byakuya yang kadang suka senenaknya. Saat melihat jam ternyata sudah jam setengah delapan, Renji langsung meloncat turun dari ranjangnya dan bergegas mencuci muka.

.

.

.

Satu persatu murid Empire Gakuen yang akan memasuki sekolah diperiksa kelengkapan seragamnya termasuk Ichigo yang saat ini tengah dipandangi oleh Byakuya dari atas sampai bawah membuat Ichigo sedikit risih dan salah tingkah. Sang ketua Osis ini tengah memeriksa apakah seragam yang dikenakan Ichigo sudah rapih dan sesuai dengan peraturan sekolah, mengingat pemuda bersurai oranye itu suka sekali berpakaian se-enaknya contahnya saja suka mengantung longgar dasinya, membuka dua kancing atas seragamnya dengan alasan gerah bahkan memodifikasi blazer sekolah yang terlihat mencolok dan ramai dengan berbagai hiasan yang menempel.

"Penampilanmu hari ini cukup rapih dan tidak seperti Ichigo yang aku kenal," kata Byakuya dengan masih memperhatikan Ichigo.

Pemuda bermata madu ini diam lebih tepatnya gugup juga takut, mengingat kini Byakuya sudah mengetahui rahasianya dan sang kakak yang bertukar jiwa beberapa waktu yang lalu.

"Tapi sayangnya blazer yang kau pakai tidak sesuai dan sama seperti yang aku pakai, jadi kau harus kuberi hukuman Ichigo,"

"Apa hukumannya?" tanya Ichigo malas.

Byakuya tampak berpikir sejenak untuk mencari hukuman yang pantas untuk Ichigo.

"Selama satu minggu ini kau harus membantuku membenahi semua dokumen Osis,"

"Baiklah, tidak masalah kalau begitu aku boleh pergi karena sebentar lagi kelas dimulai," ujar Ichigo datar.

Orihime berusaha bersikap layaknya seperti sang kakak yang bersifat cuek dan dingin, tapi sebenarnya saat ini dirinya ingin berteriak protes pada Byakuya karena memberikannya hukuman padahal ia tidak melakukan kesalahan, andai saja ada blazer lain didalam lemari pakaiannya Orihime tidak mungkin memakai blazer ini yang bisa dibilang mirip jaket ala rocker bukannya seragam sekolah. Dirinya tidak tahu kalau sang kakak benar-benar sudah berubah jauh bahkan seleranya jadi sedikit aneh.

"Kau tidak protes atau marah Ichigo?" tanya Byakuya heran.

Ichigo menatap malas pemuda bersurai hitam panjang itu, "Memangnya aku ada hak untuk protes atau marah padamu,"

"Tidak. Kau harus menjalankannya jika tidak ingin aku mengeluarkanmu dari sekolah ini," ancam Byakuya.

Ichigo hanya menghela nafasnya cepat kemudian pergi meninggalkan Byakuya yang diam-diam terus memandangi punggungnya dengan penuh arti dan tanpa disadari oleh Ichigo kalau sebuah senyuman super tipis menghiasi wajah tampannya.

Baru juga Ichigo terlepas dari Byakuya saat hendak memakai sepatunya Grimmjow sudah berada didepan loker sepatu dengan melipat kedua tanganya didada.

Ichigo memandang malas dan dingin walaupun sebenarnya didalam hati ia cukup takut dengan Grimmjow, "Minggir jangan halangi jalanku," ujarnya ketus.

"Kau galak sekali, Ichigo," ledeknya.

"Kau mau apa? Aku tidak mau berkelahi atau berdebat denganmu pagi-pagi begini," kilahnya padahal sebenarnya ia tidak mau membuat keributan dengan pemuda bermata biru itu karena bisa dipastikan kalau Ichigo akan kalah.

"Siapa gadis yang waktu itu datang menolongmu, Ichigo?" tanya Grimmjow penasaran.

Ichigo menaikkan sebelah alisnya, "Untuk apa kau tanyakan hal itu?"

"Aku sepertinya tertarik pada gadis itu. Belum pernah ada gadis yang seberani dan sekuat dia," jawabnya santai.

Kedua mata Ichigo melebar dan syok sekaligus mendengar pengakuan Grimmjow.

"A-apa aku tak salah dengar?!" tanyanya ragu.

"Tidak, aku memang tertarik padanya. Jadi katakan siapa gadis itu dan ada hubungan apa kau dengannya," desak Grimmjow.

Mau tidak mau Ichigo-pun mengatakannya daripada terjadi keributan dengan Grimmjow, "Dia adik perempuanku namanya Orihime,"

Grimmjow sedikit terkejut mendengarnya tapi tak masalah kalau Orihime adalah adik dari musuhnya karena Orihime satu-satunya gadis yang bisa membuatnya tertarik bahkan terus menerus memikirkannya.

"Pertemukan aku dengannya Ichigo, jika aku bisa dekat dengan adikmu aku anggap impas semua perbuatanmu padaku. Bagaimana apa kau setuju," tawarnya.

Ichigo diam seribu bahasa, ia sedikit bingung apa yang harus dilakukannya. Jika ia menerimanya itu sama saja menjebloskan dirinya sendiri kedalam jurang tapi jika menolak bisa dipastikan hidupnya tidak akan tentram disekolah ini. Disaat Ichigo tengah sibuk berpikir bel sekolah berbunyi. Karena merasa ada kesempatan dan alasan Ichigo berlari menghindari Grimmjow dengan beralasan kalau kelas akan segera dimulai.

Belum juga masalah dengan Byakuya selesai kini ada permasalahan baru yang kembali terjadi jika keadaannya terus begini bisa Orihime pastikan kalau ia dan sang kakak tidak bisa kembali ketubuh masing-masing.

"Ya, Tuhan!" Jerit Orihime dalam hati.

X0X0X0X0X0X0X0X

Orihime atau lebih tepatnya Ichigo merasa kalau saat ini dirinya, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Awalnya hanya ingin menolong seorang gadis yang hendak bunuh diri tapi dirinya malah mendapatkan masalah besar, ternyata gadis yang ditolongnya mengalami amnesia bahkan saat ini tengah mengandung beberapa bulan.

Tak ada tanda pengenal atau-pun sanak saudara yang mencari gadis bersurai hijau panjang itu dirumah sakit membuat Orihime bingung karena tidak mungkin ia meninggalkan wanita bersurai hijau panjang itu sendirian di rumah sakit atau terlunta-lunta sendirian dijalan raya bisa-bisa jika ada kesempatan wanita itu akan berniat bunuh diri lagi. Mau tidak mau untuk sementara waktu Orihime mengijinkan wanita bersurai hijau itu untuk tinggal di apartementnya.

Hanya sebuah sapu tangan bertuliskan Nelliel.O dengan rajutan benang emas yang menjadi tanda pengenal bagi gadis bersurai hijau panjang itu. Jadinya Orihime memanggilnya dengan Nelliel sesuai dengan nama di sapu tangan milik gadis bersurai hijau panjang itu.

"Untuk sementara waktu kau tinggal disini," ujar Orihime seraya masuk kedalam rumah dengan menenteng sebuah tas kecil ditangannya.

Nelliel duduk diam diruang tengah memandangi sekitar ruangan dengan pandangan bingung.

"Rumah ini kecil sekali dan sempit," ujarnya.

"Ya, sudah kalau begitu kau tinggal di hotel atau dimana saja jangan disini," omel Orihime yang merasa kesal karena rumahnya di hina oleh Nelliel.

Wajah Nelliel tertunduk takut menatap Orihime, "Ma-maaf,"

Orihime menghela nafasnya cepat, "Aku akan mengantarmu ke kamar."

Nelliel-pun bangun dan berjalan mengekor dibelakang Orihime menuju kamar. Di apartement ini hanya ada satu kamar dan satu kasur jadinya mau tidak mau Orihime harus berbagi tempat tidur dengan Nelliel mengingat kalau saat ini wanita bersurai hijau panjang itu tengah hamil. Andai saja waktu itu Orihime pulang kerumah tidak lewat jembatan pasti saat ini ia tidak perlu terjebak dalam situasi seperti ini, menampung seorang wanita hamil dan mengalami amnesia.

Setelah menyantap makan malam Nelliel tertidur pulas, sementara itu Orihime tengah sibuk menghitung pengeluaran untuk bulan ini mengingat nafsu makan Nelliel cukup besar karena tengah hamil. Sepertinya ia harus meminta sang adik memberikannya uang tambahan untuk bisa tetap menjalani hidup.

"Ti-tidak...ja-jangan...AAAAAA!" igau Nelliel dengan berteriak kencang.

Orihime yang tengah sibuk menghitung dimeja belajar langsung berlari menghampirinya.

Wajah Nelliel sudah dipenuhi keringat dingin dan raut wajahnya terlihat ketakutan sekali.

"Ada apa Nelliel?" tanya Orihime cemas.

GYUT

Nelliel langsung memeluk tubuh Orihime lalu menangis.

Orihime dibuat bingung dengan sikap dari Nelliel, "Tenanglah Nelliel jangan menangis ada aku. Apa kau bermimpi buruk?" tanyanya lembut.

Nelliel menganggukkan kepalanya dengan air mata masih mengalir dari kedua matanya, "A-aku ta-takut Orihime-chan,"

"Jangan takut, ada aku disini. Tidurlah kembali aku akan menjagamu," ujar Orihime lembut.

Nelliel merebahkan tubuhnya kembali ke kasur tapi salah satu tangannya terulur meminta Orihime untuk menggenggam tangannya dan Orihime menurutinya, tak lama Nelliel tertidur kembali dengan wajah yang tenang.

"Huaammm..." Orihime menguap lebar dan sepertinya rasa kantuk sudah menghampirinya.

Orihime merebahkan tubuhnya disamping Nelliel dengan masih menggegam erat tangan wanita cantik itu.

.

.

.

Orihime memandang tajam dan tak suka pada seorang pemuda bersurai biru yang tengah duduk tersenyum manis menatapnya. Ingin rasanya ia memukul wajahnya dengan nampan minuman yang tengah dibawanya saat ini tapi apa dayanya Orihime atau lebih tepatnya Ichigo harus menahan diri serta emosinya saat ini karena kehadiran Grimmjow di depan matanya.

"Siapa pemuda menyebalkan itu?" tanya Orihime kesal berpura-pura tak mengenali Grimmjow yang merupakan musuhnya disekolah karena selalu saja menggangu kesenangannya sama seperti Byakuya sang ketua Osis.

"Namaku Grimmjow Jaegarjaques," ujarnya seraya mengulurkan tangan kanannya kedepan.

Orihime enggan untuk bersalaman dengan Grimmjow berdekatan saja dia sudah muak apalagi harus bersentuhan bisa-bisa ia muntah.

"Hi-Hime," panggil Ichigo dengan wajah sedikit mengiba pada sang kakak.

Mau tidak mau Orihime-pun bersalaman tangan dengan Grimmjow dan setelah ini ia akan langsung mencuci tangannya dengan sabun anti kuman sebanyak tiga kali agar kuman dari Grimmjow tidak tertinggal ditangannya.

"Orihime Inoue, salam kenal." Ujarnya dingin.

"Kenapa nama keluargamu Inoue? Bukankah kau adik dari Ichigo,"

"Orang tua kami bercerai saat kami masih kecil dan Orihime ikut dengan ibu," jelas Ichigo dan Grimmjow hanya bisa mengangukkan kepalanya seakan-akan mengerti serta memahami penjelasan dari Ichigo.

Setelah berkenalan dengan pemuda bersurai biru itu, Orihime kembali kedapur untuk bekerja. Dirinya tidak menyangka kalau Grimmjow akan tertarik padanya setelah beberapa hari yang lalu dihajarnya karena berani memukul wajah adik tercintanya.

"Belum juga masalah dengan gadis itu selesai kini datang lagi masalah." Dengus Orihime sebal.

Kalau begini caranya bagaimana ia dan sang adik menemukan pasangan hidup untuk kembali kedalam tubuh masing-masing. Sepertinya Orihime harus memutar otak keras agar Grimmjow mundur jauh darinya sebab yang dibutuhnkannya cinta tulus seorang perempuan bukan laki-laki gagah dan tulen seperti Grimmjow karena ia masih pria normal walaupun jiwanya berada didalam tubuh sang adik, Orihime.

X0X0X0X0X0X0X0X

Hari ini Ichigo berserta teman-teman kelas dua akan pergi training camp selama tiga hari di tepi pantai dan yang akan menjadi pemandu serta panitia acara ini adalah anak-anak Osis Empire Gakuen juga beberapa staff guru yang ikut. Semua murid terlihat berbaris rapih dengan membawa tas besar dipundak mereka masing-masing termasuk Ichigo yang ikut berbaris dibelakang Renji. Ini pertama kalinya Orihime akan pergi training camp, semuanya sudah dipersiapkan oleh Orihime jauh-jauh hari bahkan sang kakak mewanti-wanti dirinya untuk selalu bisa menjaga diri.

Para Sensei mengabsen para peserta yang akan ikut dan kebetulan Byakuya menjadi ketua regu dari kelompok Ichigo juga Renji. Hal ini membuat Renji merasa sebal dan kesal karena tidak bisa bebas juga berbuat sesukanya mengingat Byakuya akan selalu memantau setiap tindakannya. Padahal Renji sudah membayangkan kalau akan bertemu banyak gadis cantik dan manis ditepi pantai tapi dengan adanya Byakuya didekatnya membuatnya mati kutu tak bisa berbuat apa-apa.

"Huh! Menyebalkan sekali. Kenapa juga harus dia yang jadi ketua regu kita sih." Gerutu Renji sebal.

"Sudahlah Renji, biar begitu dia adalah kakak dari kekasihmu." Ujar Ichigo mencoba menenangkan gejolak hati teman satu kamarnya itu.

Didalam hati mereka semua berharap dan membayangkan akan hal indah juga menyenangkan yang akan mereka lakukan ditepi pantai bahkan para murid kelas tiga mengatakan kalau training camp kali ini tidak akan pernah dilupakan seumur hidup akan selalu terkenang.

Ichigo dan Renji menaiki bus nomor tujuh dan bangku paling belakang menjadi pilihan untuk Ichigo juga Renji tapi lagi-lagi Byakuya mengacaukan suasana hatinya karena tiba-tiba duduk disamping Ichigo membuat rasa kantuk dari pemuda bersurai merah ini menguap entah kemana.

Lain hal dengan Ichigo yang terlihat kiku dan agak salah tingkah terlebih jarak mereka berdua sangat dekat bahka bisa dibilang bersentuhan satu sama lain.

"Jangan berwajah seperti itu Ichigo. Kau membuatku jijik melihatnya." Kata Byakuya dingin dan tajam.

Wajah Ichigo ditundukkan dalam-dalam menyembunyikan raut wajahnya yang kaget serta terluka engan perkataan dari pemuda bersurai hitam itu.

.

.

.

TAP!

TAP!

TAP!

Ichigo mengepel lantai kayu dengan penuh semangat.

"Fuih!" Ichigo mengepal tetesan keringat di dahinya.

SRAT!

SRAT!

SRAT!

Renji menyapu helaian daun di sekitar kuil dengan penuh emosi menggunakan sapu.

"Menyebalkan!" Gerutunya.

BUK!

BUK!

BUK!

Grimmjow membersihkan closet dengan wajah yang terlihat hampir mau muntah.

"Brengsek! Berani sekali mereka menyuruh aku melakukan ini." Dengusnya.

SROK!

SROK!

SROK!

Yumichika terlihat sibuk menggosok membersihkan patung Budha bersama beberapa teman sekelasnya.

"Apanya yang pantai dan menyenangkan! Tempat ini adalah neraka!" teriak Yumichika penuh kekecewaan.

Setiap tahunnya anak kelas satu dan dua akan pergi training camp ke sebuah kuil suci di daerah pegunungan untuk melakukan latihan juga sekolah outdoor selama beberapa hari ini. Padahal para anak kelas tiga mengatakan kalau akan banyak hal menyenangkan yang mereka alami tapi kenyataannya jauh berbanding terbalik sekali.

"Tega sekali mereka membohongi kita semua!" Ujar Renji penuh emosi.

BRAK

Renji membuang sapu ditangannya dan memandangnya kesal. Harga dirinya sebagai Tuan muda pemilik kerajaan hotel Abarai rusak dan turun derajat.

"Sudahlah Renji jangan protes. Kerjakan saja tugasmu hingga selesai baru setelah itu kau bisa makan siang." Byakuya memberikan kembali sapu yang tadi dibuang oleh Renji.

"Padahal kau tahu ini kenapa kau diam saja dan tak memberitahukannya padaku, Byakuya!" Protes Renji penuh emosi.

"Ini salah satu peraturan sekolah! Jadi patuhi dan jalani tanpa banyak protes apalagi mengeluh karena dulu aku juga mengalami hal ini." Sahut Byakuya santai.

"Jadi maksudmu, kalian para anak kelas tiga balas dendam pada kami dengan membohongi kami," kata Renji tak peracaya menatap pemuda bersurai hitam panjang itu.

"Bisa dikatakan seprti itu tapi dari pada kau terus berbicara juga protes lebih baik kau selesaikan pekerjaanmu karena sebentar lagi jam makan siang dan tak ada sisa nasi atau makanan ditempat ini." Byakuya memperingatkan.

Kedua rahang Renji mengeras dan giginya bergemerutuk menahan emosinya. Dengan secepat kilat Renji menyapu, membersihkan setiap daun-daun yang berjatuhan di sekitar kuil. Byakuya-pun pergi meninggalkan pemuda bersurai merah itu dan memantau kinerja dari para yuniornya.

JRREEEENNGGG

Waktunya makan siang tiba. Semua siswa duduk diam menatap makan siang mereka yang bisa dibilang sederhana mengingat ini adalah makanan para biksu yang semuanya terbuat dari sayuran tidak ada daging sama sekali yang tersaji dipiring mereka.

"Saatnya makan." Renji sudah memegang sumpitnya dan dengan kecepatan penuh Renji memasukkan nasi kedalam mulutnya berserta tumisan sayur yang entah mengapa terasa enak dan lezat dimulut Renji.

Ichigo hanya bisa menatap heran dan bingung pada teman-temannya karena mereka makan seperti orang kelaparan seakan-akan sudah beberapa hari mereka belum makan.

"Re-Renji pelan-pelan makannya." Ujar Ichigo cemas.

Diam-diam dari kejauhan Byakuya menatap penuh arti pada Ichigo sambil mengunyah makan siang miliknya.

Seharian ini Ichigo beserta teman-teman sekelasnya merasa lelah dan untung saja di dekat kuil ada pemandian air panas terbuka jadinya mereka pergi kesana untuk berendam termasuk Ichigo yang dipaksa untuk ikut. Hal hasil Ichigo hanya bisa duduk diam dipojokkan kolam air panas enggan untuk ikut bergabung dengan teman-temannya.

BYUR...

Tiba-tiba Byakuya datang dan langsung duduk disamping Ichigo membuat pemuda bersurai orange ini kaget sekaligus malu.

"K-kau?!"

"Jangan kaget seperti itu, bersikaplah seperti biasa dan jangan berwajah malu seperti itu padaku karena..."

"Cukup!" Sela Ichigo kesal.

Ichigo menatap dingin pemuda bermata abu-abu itu, "Apakah kau tidak bisa berkata sopan dan baik padaku. Jika kau memang tidak ingin aku berwajah seperti ini jangan dekati aku karena kau sangat menyebalkan Tuan Byakuya." Kata Ichigo kesal seraya beranjak bangun meninggalkan kolam pemandian air panas.

Byakuya hanya diam seribu bahas mendengarnya dan tak mengira kalau pemuda itu akan berani berkata seperti itu.

"Lagi-lagi kau! Kenapa kau selalu saja merusak suasana Byakuya." Omel Yumichika karena sudah membuat Ichigo pergi.

Pemuda bermata abu-abu ini diam tak meladeni perkataan dari Yumchika sama sekali dan memilih menenggelamkan seluruh tubuhnya kedalam kolam untuk merileksasikan pikirannya saat ini. Setelah berendam Byakuya memutuskan untuk pergi berjalan-jalan sebentar disekitar kuil dengan mengenakan Yukata tidur.

Langkah kakinya terhenti di sebuah jembatan dibelakang kuil melihat aliran sungai yang membuat hati serta pikirannya sedikit tenang. Dan pandangn matanya tanpa sengaja melihat Ichigo tengah duduk berjongkok dipinggir sungai karena merasa penasaran Byakuya menghampirinya.

"Apa yang kau lakukan Ichigo?"

Ichigo tersentak kaget lalu berdiri dari posisinya, "Bu-bukan urusanmu," jawab Ichigo ketus.

Pemuda bermata madu ini langsung bergegas pergi meninggalkan Byakuya karena ia tidak mau mendengar ucapannya yang membuat hatinya sakit juga sebal.

GREP

Byakuya memegangi tangan Ichigo menahan pemuda bermata madu itu menghentikan langkah kakinya.

"Lepaskan aku! Kau mau apa?" tanyanya ketus.

"Aku ingin bicara denganmu, Orihime,"

Iris madu milik Ichigo melebar sempurna mendengarnya dan menatap tak percaya pada pemuda bersurai hitam panjang itu yang memanggilnya dengan nama aslinya.

Ichigo menghembuskan nafasnya perlahan, "Apa yang ingi kau bicarakan denganku, Byakuya?" tanya Orihime dengan wajah serius.

"Apakah kalian berdua benar-benar bertukar jiwa dan saat ini yang ada didalam tubuh Ichigo adalah kau, Orihime?"

"Ya. Jiwa kami tertukar karena memakan buah persik pemberian seorang nenek dan yang ada dihadapanmu saat ini adalah aku, Orihime Inoue bukan kakakku," jawab Ichigo datar.

Byakuya tersenyum kecil, "Jadi aku masih normal dan mencintai seorang gadis bukan seorang laki-laki," gumamnya.

"A-apa maksud ucapanmu tadi?"

Dielusnya lembut pipi kanan Ichigo jika saja Renji atau teman Ichigo yang lainnya melihat hal ini mereka pasti akan merasa syok juga jijik karena dianggap kedua pria ini penyuka sesama jenis padahal sebenarnya saat ini didalam tubuh Ichigo adalah jiwa Orihime yang merupakan seorang gadis.

"Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama." Aku Byakuya.

Ichigo diam mematung mendengar pengakuan dari Byakuya. Hal ini benar-benar membuatnya syok juga kaget jika ia adalah sebuah mimpi Orihime ingin segera dibangunkan mengingat kalau yang tengah menyatakan cinta padanya musuh sang kakak.

Tapi pernyataan cinta dari Byakuya bagaikan sebuah angin sejuk untuk Orihime mengingat ia membutuhkan cinta seorang pemuda untuk bisa kembali ke tubuh mereka masing-masing.

"Apa yang harus aku lakukan saat ini." Batin Orihime bingung.

Mana yang harus dipilih Orihime, menerima pernyataan cinta dari Byakuya atau menolaknya.

"Ayah, ibu tolong aku!" Jerit Orihime frustasi dalam hati.

TBC

A/N : Mohon maaf kalau lama updatenya. Karena jujur saja saya sempat kehilanga ide dan macet otak untuk kelanjutan Fic ini tapi setelah membaca riview membuat saya kembali semangat karena masih ada yang suka dan menantikan Fic ini. Karena sempat berbesit untuk mendiscontinue-kan Fic ini tapi sebagai Author yang bertanggung jawab Inoue harus menyelesaikan Fic ini waulupun nantinya butuh waktu lama dan panjang untuk selesai#Mohon maaaffff...

Maaf jika kelanjutannya jadi sedikit aneh dan mengecewakan#Bungkuk badan dalam-dalam.

Untuk kelanjutan Fic ini lagi-lagi Inoue tidak bisa janji cepat mengingat banyak Fic yang belum selesai dan di update juga hehehe^^

virgo24 : Saya lebih suka dengan RenRuki karena lebih menarik dan unik hehehe^^

Fic milik Inoue dari fandom sebelah-pun sudah dipublish berbarengan dengan Fic ini semoga kamu membacanya juga nanti.

INOcent Cassiopeia : Biar lebih menarik dan seru makanya Byakuya dibuat tahu kalau Orihime dan Ichigo bertukar jiwa, makasih sudah mau baca Fic ini dan semoga suka dengan kelanjutannya.

nelly is my name : Makasih sudah mau membaca Fic ini dan Nelliel hamil anak siapa nanti juga akan tahu seiringinya berjalan Fic ini hehehe^^

Inoue mengucapkan terima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan Read and Riviewnya.

Inoue Kazeka