Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Mulai hari ini dan seterusnya, Orihime akan tinggal dikediaman mewah milik Ulquiorra yang merupakan suaminya. Mereka berdua telah menikah secara hukum walaupun belum mengadakan sebuah upacara pernikahan yang biasa dilakukan oleh pasangan lainnya.

Hal itu tak mereka berdua lakukan karena memang pernikahan ini didasari oleh paksaan dari Ulquiorra pada Orihime dan pernikahan ini terjadi karena sebuah tradisi aneh dikeluarga Ulquiorra yang harus menikahi orang yang sudah merenggut ciuman pertamanya.

Jika Orihime mengingat tentang hal itu kembali, dirinya selalu ingin tertawa lebih tepatnya mentertawakan dirinya sendiri, juga kehidupannya yang dianggapnya sangat lucu ini. Gadis cantik bermata abu-abuini merasa Tuhan seakan-akan tengah mempermainkan takdirnya juga kehidupannya.

"Indahnya!" Orihime memadangi sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya.

Cincin ini terlihat sangat cantik dan mahal tentunya karena berhiaskan sebuah berlian hitam diatasnya. Setelah menandatangani surat nikah, Ulquiorra memakaikannya sebuah cincin dijari kanannya. Ulquiorra mengatakan kalau itu adalah sebagai penanda juga bukti kalau kini Orihime adalah miliknya selamanya.

Saat sedang asiknya memandangai cincin miliknya, tiba-tiba saja perutn Orihime berbunyi dengan keras.

KRYUUKKK...

Orihime memegangi perutnya yang terasa lapar dan perih sekali. Maklum saja kalau ia merasa lapar mengingat sejak pagi Orihime tidak makan apapun dirumah ini selain roti dan buah, karena para pelayan hanya memasak makan eropa yang merupakan makanan kesukaan Ulquiorra.

Saat Orihime mencoba memakan masakan eropa dimeja makan dirinya langsung ingin merasa muntah dan lidahnya tidak bisa menerima masakan dirumah ini, yang menurutnya rasanya sangat aneh dimulutnya. Dan hal hasil Orihime hanya bisa makan roti, buah dan kue yang ada di lemari penyimpanan.

Dirumah ini tidak ada masakan Jepang yang biasa Orihime makan, bahkan didapur Orihime tidak menemukan beras sama sekali di gudang bahan makanan dan menurut Orihime itu adalah bencana besar buatnya. Karena gadis cantik bermata abu-abu ini amat sangat menyukai nasi dengan berbagai lauk pauk diatasnya. Gara-gara mengingat berbagai makanan khas Jepang membuat perutnya malah semakin lapar saja.

"Aku harus memakan sesuatu." Gumam Orihime dalam hatinya.

Orihime berjalan keluar kamarsambil terus memegangi perutnya yang terus bernyanyi minta diisi. Diam-diam ditengah malam ia berjalan mengendap-ngendap kedapur seperti maling untuk mencari sesuatu untuk dimakan.

"Ya ampun, dimana sebenarnya letak dapur rumah ini?" Orihime terlihat sangat kebingungan mencari dapur, kaerna luas rumah ini juga banyaknya ruangan yang ada membuatnya bingung.

Perutnya semakin perih saja karna terlalu lapar, ia berjalan sedikit tertatih-tatih memegangi perutnya.

Setelah berputar-putar cukup lama, akhirnya Orihime sampai juga didapur. Dengan cepat ia langsung membuka kulkas yang ukurannya sangat besar. Saat membuka kulkas, Orihime mengambil sekotak susu putih berukuran sedang dan meminumnya hingga habis tak tersisa dengan cepatnya. Selain lapar ia juga merasa sangat haus sekali.

"Akh! Segarnya." Orihime menjilati sisa-sisa susu yang masih berada dimulutnya.

Awalnya Orihime hanya ingin memakan sedikit makanan didalam kulkas. Tetapi mengingat nafsu makannya yang sangat besar . Ia memutuskan untuk memasak sesuatu didapur untuk ia makan dengan bahan makanan yang ada.

*#*

Ulquiorra melepaskan kacamatanya yang sedari terus bertengger dimatanya. Ia memejamkan matanya sejenak dan memijitnya perlahan mencoba merileksasikan matanya juga pikirannya yang sedari tadis terus menatap laptopnya mengerjakan tugas kantornya.

Pria tampan ini menoleh dan menatap sebuah jam besar antik berwarna coklat tua peninggalan sang kakek, yang terpajang diruangan ini. Ternyata hari sudah larut malam, ia tak merasa kalau sudah lebih dari empat jam duduk dimejanya mengerjakan pekerjaannya yang tak ada habisnya.

"Sebaiknya aku kembali kekamar." Ulquiorra mematikan laptopnya dan menaruhnya kembali kedalam tas agar besok pagi ia tidak lupa untuk membawanya kekantor, karena didalamnya banyak data penting perusahaan. Ia mematikan lampu ruangan ini dan menutup pintu ruangan rapat-rapat.

"Huam." Ulquiorra menutup mulutnya dengan salah satu tangannya. Ia menguap cukup lebar karena sudah terlalu mengantuk dan sangat butuh istirahat.

Saat melewati dapur Ulquiorra mencium harum masakan yang sangat sedap. Ia bertanya-tanya siapa di tengah malam seperti ini, yang memasak didapur. Seingatnya sang koki juga para pelayan juga sudah tidur dan beristirahat semuanya. Mengingat ini sudah jam satu pagi. Karena penasaran ia memutuskan untuk masuk kedapur dan melihat siapa yang tengah memasak.

Sreng...Sreng...

Dengan penuh Konsentrasi Orihime terus saja memasak tanpa mengetahui kalau diam-diam Ulquiorra berjalan menghampirinya.

Saat Ulquiorra tiba dibelakangnya, ia langsung mengalungkan kedua tangannya diperut ramping Orihime dan meletakkan dagunya dibahunya. Orihime sangat kaget sekali, dan hampir saja ia menumpahkan masakannya karena perbuatan suaminya ini.

"A-a-apa yang Tuan lakukan!?" Tanya Orihime dengan gugup dan wajahnya terlihat merona merah.

"Dari baunya sepertinya enak," Ulquiorra tersenyum menatap wajah Orihime dari samping.

"Boleh kucicipi?" Tanya Ulquiorra yang masih setia memeluk tubuh ramping Orihime dari belakang. Diperlakukan seperti itu oleh Ulquiorra membuat Orihime sedikit agak salah tingkah padanya.

Dengan tangan yang sedikit gemetaran dan perasaan sedikit gugup, ia menyuapi masakannya pada Ulquiorra.

Dengan perasaan yang sedikit berdebar-debar Orihime menunggu reaksi dan komentar dari suaminya mengenai masakannya. Ulquiorra terus mengunyahnya dengan ekspersi wajah yang sulit ditebak.

"Bagaimana rasanya?" Tanya Orihime dengan cemas menunggu komentar juga jawaban dari Ulquiorra mengenai masakannya.

"Enak! Ternyata istriku pintar memasak juga." Puji Ulquiorra mengenai masakan buatan Orihime yang ternyata tak kalah dari para koki dirumah ini.

Dipuji seperti itu membuat dirinya malu saat mendengarnya dan wajahnya langsung merona merah.

Tetapi hal ini membuat Orihime sedikit sebal karna wajahnya selalu memerah karna ulah Ulquiorra. Ada saja perbuatannya juga perkataannya yang mampu membuat dirinya senang dan tersipu malu.

Mereka duduk dimeja makan berdua menikmati masakan sederhana dari Orihime. Terlihat sekali kalau Ulquiorra memakannya dengan lahap sekali, padahal saat ia makan masakan dari para koki ia tak makan dengan selahap ini.

"Kenapa kau tak makan dan terus memandangiku, Orihime?" Tanya Ulquiorra tiba-tiba yang ternyata merasa kalau sedari tadi sang istri terus melihat kearahnya terlebih melihat caranya makan.

"Ah, tidak." Orihime langsung menudukkan wajahnya dan memakan kembali masakannya mencoba menutupi rasa malunya.

Suasana makan malam terasa sangat sepi tanpa ada suara atau obrolan yang keluar dari mereka berdua, yang terdengar hanya suara garpu juga sendok yang saling bersentuhan satu sama lain.

Orihime buru-buru menghabiskan makan malamnya dan kembali kekamarnya untuk beristirahat.

"Aku selesai. Selamat malam Tuan." Ucap Orihime dengan wajah yang sedikit malu. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Ulquiorra sendirian dimeja makan.

Ulquiorra tersenyum tipis melihat tingkah dan singkap Orihime yang tengah malu, menurutnya hal itu sangat lucu dan manis. Ternyata tak buruk juga menikah dengan Orihime karena banyak hal menarik yang ada didirinya yang tak ia temukan dari gadis lain.

.

.

.

"Selamat pagi, istriku." Sapa Ulquiorra dengan ramah dari meja makan.

"Pagi juga,Tuan." Balas Orihime dengan datar.

Orihime duduk disebelah Ulquiorra dan langsung meminum segelas susu putih hingga habis dengan sekali tenggak. Tak lama para pelayan datang membawakan sarapan pagi ini yang terdiri dari sandwich, pancake dengan taburan madu manis dan buah starwberry diatasnya. Orihime langsung mengambil makanan yang ada didepannya dan melahapnya semua makanan yang ada dengan cepat.

Para pelayan sedikit kaget dan takjub sekali melihat nafsu makan juga cara makan sang nona.

"Hmm! Enak." Ujar Orihime dengan senang ketika memakan sandwich buatan koki dirumah ini.

Ulquiorra menatap ngeri melihat porsi makan sang istri yang sangat besar sekali. Namun yang membuatnya heran adalah tubuhnya masih tetapsaja indah dan langsing, dengan porsi makannya yang banyak itu. Mungkin semua lemak dan nutrisi makanan yang dimakan oleh Orihime terkumpul didadanya.

"Mulai hari ini setiap hari kau akan diantar jemput oleh Starrk." Ujar Ulquiorra sambil meminum kopinya.

Orihime berhenti mengunyah makananya dan menatap sebal pada Ulquiorra. Ia ingin sekali protes padanya, namun ia tidak bisa karna suka atau tidak. Kini Ulquiorra adalah suaminya. Orang yang bertanggung jawab penuh dan berhak atas dirinya.

"Aku sudah selesai makan. Aku pergi dahulu." Orihime langsung menyambar tas sekolahnya yang ia letakkan disampingnya. Setelah itu ia pergi dari ruang makan meninggalkan Ulquiorra yang masih memakan sarapannya.

"Selamat pagi. Nona muda." Sapa Starrk dengan ramah pada Orihime.

Starrk langsung membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya untuk masuk. Ia benar-benar diperlakukan bak seorang putri raja dirumah ini.

Mulai hari ini Starrk akan menjadi supir pribadinya. Orang yang akan mengantarnya kemana-mana juga sekaligus sebagai pengawal pribadinya. Padahal Ulquiorra tidak perlu sampai berbuat seperti ini, karena dirinya bukan lagi anak kecil. Ia bisa menjaga dirinya dengan baik.

*#*

Pagi ini disekolah Orihime terjadi sedikit keributan karena ia datang kesekolah dengan menggunakan sebuah mobil mewah. Suatu pemandangan yang sangat langka sekali. Mengingat siapa sebenarnya Orihime. Seorang gadis yatim piatu yang miskin dan hanya hidup juga tinggal sendiri disebuah apartemen kecil.

Banyak yang terlihat terkesan padanya namun tidak sedikit juga yang mengatakan hal yang tak baik mengenai dirinya dikarenakan iri dan membenci dirinya. Namun bagi Orihime hal itu tidak masalah dan menggangapnya sebagai angin lalu.

Namun Orihime tidak bisa menyembunyikan statusnya sekarang ini yang telah menjadi istri orang pada sahabat baiknya, Rukia Kuchiki. Gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini mengajak Rukia kesuatu tempat untuk makan siang bersama juga memberitahukan tentang pernikahannya dengan Ulquiorra.

"APA? MENIKAH!?" Rukia berteriak kaget saat mendengar cerita dan penjelasan Orihime kalau kini ia sudah menjadi istri orang.

"Ba..."

Orihime langsung membekap mulut sahabatnya itu denganh salah satu tangannya. Ia merasa suara Rukia sangat besar sekali dan ia takut jika ada orang yang mendengarnya. Saat ini mereka berdua tengah berada diatas atap sekolah sambil menikmati makan siang bersama.

"Ssst...Pelankan suaramu Rukia-chan." Orihime berbisik pada sahabatnya. Setelah itu Orihime melepaskan bekapan tangannya pada mulut Rukia.

Rukia dapat bernafas kembali dengan lega, ia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Rukia pikir kalau ia akan mati kehabisan nafas karna dibekap oleh Orihime.

"Lalu siapa suamimu Orihime!?" Tanya Rukia dengan penasaran.

"U-Ulquiorra Sachiffer." Jawab Orihime dengan gugup saat menyebutkan namanya.

Rukia hanya terdiam kaku mendengarnya, ia terlihat sangat luar biasa syok dan kaget sekali. Ia tidak pernah berpikir dan membayangkan bagaimana bisa Orihime sahabatnya bisa menikah dengan orang sehebat dan setampan dia.

"APA!?" Teriak Rukia dengan sangat kaget sekali.

Orihime membekap mulutnya lagi namun dengan cepat Rukia langsung melepaskan tangan Orihime. Jika ia membekapnya lagi bisa-bisa dirinya akan mati kehabisan nafas.

"Bagaimana bisa kau menikah dengannya. Apa kau tidak tahu siapa dia?" Tanya Rukia dengan setengah berbisik padanya.

Dengan polosnya Orihime berkata tidak, jika ia boleh memilih ia akan menolak dan tidak mau menikah dengannya. Memangnya siapa suaminya itu sebenarnya. Hingga sahabatnya yang terkenal pendiam dan tenang sampai menjadi seheboh ini saat mendengar nama suaminya.

"Kurasa kau sangat beruntung dapat menikah dengannya." Rukia menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

Orihime tersenyum kikuk menangapinya, bagaimana bisa dirinya dikatakan beruntung jika harus menikah dengan orang pemaksa seperti Ulquiorra. Ia juga tidak sengaja menikah dengannya karena sebuah kecelakaan kecil. Yang membuat kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat seperti ini.

Andaikan saja Orihime tahu, kalau banyak wanita diluar sana yang rela menyerahkan apapun demi menukar posisinya sebagai istri Ulquiorra. Tetapi sayangnya ia belum menyadari dan memahami hal itu. Menurut Orihime suaminya itu adalah orang yang sedikit menyebalkan.

"Coba saja kau jadi aku dan merasakannya Rukia-chan." Gumam Orihime dalam hatinya.

X0X0X0X0X0X0X0X

Ulquiorra terlihat sangat serius sekali menatap layar komputernya mengecek setiap data yang tersimpan dikomputernya. Entah sudah berapa lama ia duduk dimejanya dan berkutat dengan pekerjaannya. Sebagai seorang pemimpin dan pemilik perusahaan memiliki sebuah tanggung jawab dan tugas yang cukup berat kepada para karyawannya juga kemajuan perusahaan ini.

Sebagai seorang pemimpin Ulquiorra sangat dikenal tegas dan berwibawa. Sikapnya selalu tenang dan terlihat tanpa ekspresi juga emosi, ia selalu berwajah datar kepada para karyawa. Berbeda sekali saat dirinya tengah berada dirumah dan didekat Orihime.

Sikap juga sifatnya akan jauh berbeda sekali tak jarang juga Ulquiorra akan tersenyum bahkan tertawa kecil pada Orihime. Sebuah ekspresi yang sangat jarang ia perlihatkan pada orang-orang.

CKLEK...

Seorang wanita cantik berambut hitam yang dikepang satu masuk kedalam. Ia menghampiri Ulquiorra yang merupakan bosnya sambil mendekap sesuatu ditangannya.

"Tuan. Ini laporan hasil rapat kemarin." Nemu Kurotsuchi nama gadis itu, ia adalah sekretaris juga asisten pribadi Ulquiorra diperusahaan ini.

Ulquiorra menoleh dan menatap sebentar kearahnya, ia meninggalkan pekerjaan sejenak dan menerima map tersebut dari Nemu. Ia mulai membuka map tersebut dan membacanya dengan teliti. Ia juga bertanya tentang jadwalnya hari ini pada Nemu disela-sela ia membaca laporannya.

Sebagai sekretaris pribadinya Nemu harus mengetahui dan mengatur setiap pekerjaan juga pertemuan Ulquiorra yang merupakan bos sekaligus temannya itu dengan orang-orang penting.

Ulquiorra mempercayakan semuanya pada Nemu karena ia sudah mengenalnya sejak sekolah menengah pertama, mereka juga selalu bersama hingga bangku kulian dan lulus ditahun yang sama. Setelah lulus kuliah ia melamar pekerjaan diperusahaan milik keluarga Ulquiorra dan diterima sebagai sekretarisnya. Sebuah pekerjaan yang menurutnya sangat menyenagkan karena bisa selalu dekat dengan Ulquiorra.

"Nemu." Panggil Ulquiorra tiba-tiba.

"Y-ya ada apa Tuan?" Tanyanya dengan sedikit gugup karna Ulquiorra terus memandanginya, membuat hatinya sedikit berdebar-debar.

Ulquiorra menutup map tersebut dan menaruhnya diatas mejanya. Ia melepaskan kaca matanya dan tersenyum tipis melihat Nemu yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya.

"Mau menemaniku makan siang?" Ulquiorra bangun dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju pintu keluar.

Dengan senang hati Nemu menerima ajakannya. Ia berjalan dibelakang Ulquiorra mengikutinya kemanapun ia pergi.

Diam-diam tanpa Ulquiorra sadari kalau sejak dulu Nemu sudah menyukainya. Menurutnya ia adalah pria yang sangat baik tak hanya tampan, tapi ia juga memiliki banyak hal dihidupnya yang membuatnya semakin kagum padanya.

"Menurutmu mana yang enak, Nemu?" Tanya Ulquiorra saat melihat menu makanan direstorant ini. Ia terlihat sedikit agak bingung dengan menu makanan disini.

"Bagaimana kalau kita memesan ini saja Tuan," Nemu menunjuk sebuah menu pada Ulquiorra.

Tanpa protes ia menyetujuinya. Ulquiorra menutup menu makanan tersebut dan memberikannya pada pelayan restorant yang sedari tadi berdiri disampingnya menunggu pesanan dari mereka berdua.

"Kami pesan ini saja dan minumnya kami minta ocha saja." Ujar Nemu pada pelayan tersebut.

Pelayan itu mencatat semua makanan yang dipesan oleh Nemu. Setelah itu ia pergi dan meminta mereka berdua untuk menunggunya sebentar.

"Suasana disini cukup bagus dan nyaman sekali," Ujar Ulquiorra saat memperhatikan sekeliling restorant dengan seksama.

Nemu sedikit agak bingung dan heran dengan Ulquiorra, karna tiba-tiba saja ia mengajaknya kesebuah restoran masakan Jepang. Padahal seingatnya dulu Ulquiorra paling tidak bisa dan suka dengan masakan Jepang khususnya nasi, karena sejak kecil Ulquiorra tinggal di Inggris dan makanan utamanya adalah roti dan pasta.

Nemu juga sangat hafal kalau makanan kesukaan Ulquiorra adalah pasta dan spagethi dengan saus tomat dengan irisan keju yang banyak diatasnya. Tiga belas tahun bersama dengan Ulquiorra membuat Nemu menjadi lebih tahu banyak mengenai dirinya.

"Ini pesanan anda. Selamat menikmati hidangannya."

"Terima kasih." Ujar Nemu dan Ulquiorra bersamaan.

Ulquiorra mulai mengambil sumpit dan mencoba memakainya. Ia terlihat agak sedikit susah menggunakannya. Maklum saja karena semua peralatan makan dirumahnya hanya terdiri dari garpu, sendok juga pisau makan untuk memotong.

Nemu tertawa kecil melihat Ulqiorra yang terlihat kesusahan menggunakan sumpit. Setiap makanan yang dicoba untuk dimakannya selalu saja jatuh. Merasa kasihan Nemu mengajarinya cara memakai sumpit yang benar.

Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Ulquiorra bisa juga memakai sumpit dan memakan sushi yang sedari tadi ingin ia coba makan. Menurut Ulquiorra rasanya lumayan enak, walupun rasanya sedikit agak aneh dimulutnya saat ia mengunyahnya. Selama tinggal di Jepang baru pertama kalinya iUlquiorra mencoba dan memakan masakan Jepang.

"Tidak buruk juga rasanya" Ulquiorra terus memakan sushi itu hingga habis.

Tanpa sengaja Nemu melihat sebuah cincin yang melingkar dijari manisnya. Seingatnya kemarin ia tidak melihatnya memakainya, perasaannya sedikit agak tidak enak saat melihatnya.

"Cincin yang indah tuan" Ujar Nemu tiba-tiba.

Ulquiorra tersenyum menaggapinya "Ini cincin pernikahanku. Warisan dari mendiang ayah dan ibuku" Ucapnya dengan santai dan melanjutkan makannya kembali, tanpa tahu dan sadar kalau perkataannya sudah menyakiti hati Nemu.

"A-a-apa anda sudah menikah?" Wajahnya tertunduk lesu menatap makanannya. Nafsu makannya hilang begitu saja karna perkataan Ulquiorra tadi.

"Aku menikah kemarin. Maaf aku tidak memberitahukannya padamu"

Nemu merasa amat sangat sedih sekali, ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Perasaannya hatinya terasa sangat remuk redam saat mengetahui pengakuan Ulquiorra yang mengatakan kalau kini ia telah menikah.

Nemu merasa penantiannya selama ini menjadi sia-sia. Padahal ia selalu menjadi orang yang selalu berada didekatnya juga disisinya. Selalu menemaninya dan berusaha menjadi orang yang bisa diandalkannya. Namun sepertinya Ulquiorra tidak bisa melihat kearahnya dan menyadari keberadaannya sama sekali.

Tanpa sadar ia menitikan air matanya, meluapkan semua perasaannya saat ini yang tengah hancur.

"Nemu. Mengapa kau menangis" Tanya Ulquiorra dengan panik, saat melihatnya meneteskan air mata. Buru-buru Nemu mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya.

"I-ini tangisan bahagia tuan. Selamat atas pernikahannya" Nemu berusaha tersenyum menatap Uquiorra, ia menahan air matanya agar tidak jatuh lagi dan menahan gejolak perasaan hatinya yang terasa sedih saat ini.

"Terima kasih. Kau memang teman yang baik"

Nemu hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan darinya. Hanya seperti itu saja pandangan matanya padanya. Selama ini ia hanya mengggapnya sebagai seorang teman dan tak lebih.

Nemu ingin sekali mentertawakan dirinya sendiri dengan kebodohannya selama ini. Yang selama ini terus memendam perasaannya tanpa pernah mau mengatakan dan mengungkapkan perasaannya pada Ulquiorra hingga kini ia telah menjadi milik gadis lain.

"Semoga anda bahagia tuan" Gumam Nemu dalam hatinya. Ia tersenyum miris menatapnya. Biarlah perasaannya ia kubur dalam-dalam dan simpan rapat-rapat dalam hatinya selamanya.

.

.

.

"Selamat malam Tuan muda" Sapa para pelayan dengan ramahnya menyambut kedatangannya. Salah satu pelayan mengambil tas yang dibawa olehnya dan membawanya masuk.

Ulquiorra langsung masuk kedalam kamarnya dan berencana untuk berendam air hangat. Ia butuh merelaksasikan pikiran dan tubuhnya yang serasa penat dan pusing oleh pekerjaan dikantor.

Saat masuk kekamar, ia melihat Orihime yang tengah tidur diatas meja belajarnya. Buku-buku pelajarannya masih berserakan dimeja bahkan Orihime masih memegangi alat tulisnya. Menurutnya apakah Orihime selelah itu belajar, hingga membuatnya ketiduran dimeja belajar.

Padahal jam baru menunjukkan pukul delapan malam. Ia sengaja pulang cepat karena ingin makan malam bersama sang istri.

Saat Ulquiorra menggendongnya kekasur, tiba-tiba saja Orihime terbangun dan ia berontak dan tak bisa diam saat digendong olehnya.

"T-turunkan aku tuan" Orihime terus saja berontak dalam gendongan Ulquiorra. Hal hasil mereka berdua jatuh.

Orihime berada diatas sedangkan Ulquiorra dibawah, sebuah pemandangan yang cukup intens. Wajah Orihime sangat merah sekali ia merasa sangat malu sekali dengan posisinya saat ini.

Buru-buru ia bangun dari posisinya saat ini, namun hal itu dicegah oleh Ulquiorra. Ia malah menarik kepalanya untuk mendekatkan wajahnya lalu.

CUP

Ulquiorra menciumnya tepat dibibirnya, Orihime tidak dapat melawan dan bergerak sama sekali karna Uquiorra terus memegangi kepala dan tubuhnya dengan erat. Awalnya ciumannya hanya biasa saja namun entah mengapa semakin dalam dan panas.

Orihime terus saja berusaha melawan dan melepaskan dirinya. Saat ini ia benar-benar sangat butuh udara untuk bernafas. Untung saja seorang pelayan datang mengantarkan secangkir kopi kekamarnya.

Namun pelayan itu terlihat diam membeku didepan pintu, melihat pemandangan didepan matanya. Ia langsung menutup matanya dan menundukkan wajahnya.

Ulquiorra langsung menyudahi perbuatannya dan langsung bangun dari posisinya. Orihime hanya duduk diam memegangi bibirya yang dicium oleh Ulquiorra, ia masih terlihat kaget juga malu dengan kejadian barusan. Wajahnya sangat merah bak kepiting rebus. Sedangkan Ulquiorra terlihat biasa saja dengan kejadian itu.

"Taruh saja kopi itu disana" Ujar Ulquiorra sambil membuka dasi dan kancing bajunya satu persatu.

Pelayan itu menaruh cangkir kopi itu dengan yang tangan sedikit gemetar. Setelah itu ia keluar kamar diikuti oleh Orihime dari belakang. Menurut Orihime jika ia berlama-lama didalam kamar, ia takut akan terjadi kejadian seperti itu dengannya lagi.

"Sial. Hampir saja aku kehilangan akal sehatku" Ulquiorra meremas kedua tangannya. Menahan gejolak emosi dan perasaannya. Ia tidak menyangka kalau, dirinya bisa berbuat seperti itu. Tapi ciumannya terasa sangat manis dan memabukkan.

Ulquiorra tersenyum tipis memegangi bibirnya yang barusan mencium mesra dan panas sang istri. Ia juga masih ingat jelas wajah Orihime yang memerah karna perbuatannya.

*#*

Selama makan malam Orihime terus menekuk wajahnya, ia masih terlihat sangat sebal juga malu dengan kejadian yang dialaminya tadi. Orihime juga buru-buru menyudahi makan malamnya dengan cepat dan memutuskan untuk kembali tidur dikamarnya.

Setelah selesai makan malam Ulquiorra pergi keruang kerjanya dan berkutat kembali dengan pekerjaannya, yang menurutnya tidak ada habisnya walaupun ia selalu mengerjakannya setiap hari bahkan dihari libur sekalipun.

"KYYAAAA!"

Tiba-tiba saja terdengar suara teriakkan dari kamarnya. Buru-buru Ulquiorra berlari kekamarnya untuk melihat apa yang terjadi.

"Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Orihime ketakutan, ia memegang erat selimutnya menutupi bagian tubuhnya yang sudah terbuka setengah karna ulahnya.

Karna suasana gelap ia tidak tahu siapa yang tengah berada dikamarnya. Namun ia tahu dengan pasti kalau itu bukanlah suaminya. Lampu kamar akhirnya menyala dan menampilkan seorang wanita cantik berambut hijau tengah menatapnya.

Saat ia hendak menyerangnya lagi, Ulquiorra datang dan menahannya agar tidak menyerang Orihime.

"Cukup sampai disitu. Kakak?!" Ujar Ulquiorra menghentikan aksi sang kakak.

Gadis itu terlihat sedikit kesal dan menggembungkan kedua pipinya yang menandakan kalau ia tengah marah.

Orihime hanya diam melihat dan mendengarkannya. Ia tidak menyangka kalau gadis yang mengerayanginya sewaktu tidur tadi adalah kakak perempuan Ulquiorra. Namun mereka berdua terlihat begitu berbeda sekali.

"Siapa gadis manis ini. Ulqi? " Gadis cantik itu memeluk erat Orihime hingga membuatnya sedikit tidak bernafas.

"Dia adalah istriku." Ujar Uquiorra dengan santai.

Gadis cantik itu terlihat sangat kaget sekali dan tak percaya dengan yang didengaranya saat ini.

Ulquiorra melepaskan pelukkan gadis itu dari Orihime, ia juga menarik gadis itu keluar kamarnya dan memintanya untuk tidak menggangu dan menggoda Orihime. Ia berjanji akan menceritakan semuanya padanya, tapi tidak untuk saat ini.

"Ulqi, bagaimana bisa kau menikah dengannya?" Tanya Nelliel yang merupakan kakak perempuannya. Jika mereka berdua terlihat berbeda, karna ia dan Nelliel berbeda ayah namun satu ibu.

"Itu urusanku. Ada apa kau kemari?"

Nelliel hanya diam tak menjawab pertanyaan dari sang adik dan malah mengalihkan pembicaraan dengan menanyai tentang Orihime, yang kini sudah resmi menjadi adik iparnya. Ulquiorra sangat tahu jika sang kakak sampai pergi mengunjungi rumahnya, pasti karna ia tengah bertengkar dengannya.

Ulquiorra merasa sedikit heran dengan sifat sang kakak. Sampai kapan ia akan bersikap dewasa padahal usianya tiga tahun diatasnya. Ia juga sudah menikah beberapa tahun yang lalu, itu juga karena dijodohkan oleh keluarganya.

"Apa kau bertengkar lagi dengannya?"

"T-tidak. Aku hanya rindu pada adik kecilku." Ujar Nelliel dengan kikuk dan agak salah tingkah karna menyembunyikan sesuatu dari Ulquiorra.

"Baiklah. Sebaiknya kau istirahat. Selamat malam kakak." Ucap Ulquiorra pada Nelliel. Ia menutup kembali pintu kamarnya dan memutuskan kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Saat ia masuk kekamar, ia melihat Orihime sudah tertidur dengan lelap diatas kasur. Ia memandangi wajah damainya sejenak. Ia mengusap rambutnya yang terasa lembut dan halus sekali ditangannya. Ia mencium helain rambutnya yang sangat wangi, ia sangat menyukai wangi sampo yang dipakai oleh Orihime.

"Selamat tidur istriku." Ulquiorra mengecup pelan kening Orihime.

Ulquiorra juga ikut tidur disampingnya dan memeluk tubuhnya dengan erat. Merasakan setiap kehangatan tubuh sang istri. Entah mengapa jika berada didekat Orihime ia selalu merasa sangat nyaman dan aman.

Nelliel menatap gelisah layar ponselnya, ia seperti tengah menunggu pesan atau telpon dari seseorang.

"Apakah aku tak sepenting itu untukmu." Gumam Nelliel dengan sendu menatap layar ponselnya yang terlihat sepi.

Malam ini Nelliel tidak bisa tidur dan memilih untuk duduk dibalkon kamarnya memandangi langit malam tanpa bintang.

TBC

A/N : Hore akhirnya bisa terusin juga cerita ini. Saya tidak menyangka kalau ada juga yang suka dengan cerita ini. Saya berterima kasih sekali karna sudah mau memfavoritkan dan memfollow cerita ini.

Coco Rose : Terima kasih atas semangatnya. Ini sudah saya buat kelanjutannya. Maaf kalau tidak sesuai dengan harapannya, semoga tidak kecewa dengan kelanjutannya. Untuk My bad boy sepertinya agak terhenti sebentar soalnya saya kehilangan datanya dilappy karna virus, sehingga saya harus mengetik ulang kembali jalan ceritanya.

Shiori Tsubaki : Terima kasih karna sudah mefavoritkan dan memfollow cerita ini, semoga tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya.

Vanillathin : Ini sudah saya lanjutkan kok. Semoga tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya. Terima kasih karna mau memfollow cerita Inoue.

Inoue mau mengucapkan kepada siapapun yang mau membaca kelanjutan cerita ini. Jika ada yang berkenan mohon RnR, karna buat Inoue itu adalah semangat untuk melanjutkan cerita ini kembali.

Inoue Kazeka.