Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

"Ugh!" Lenguh Orihime dalam tidurnya.

Tiba-tiba saja Orihime merasa tubuhnya sesak dan ditimpa oleh sebuah beban yang cukup berat. Dengan mata yang masih setengah terpejam dan rasa kantuk yang luar biasa, Orihime memaksakan untuk bangun dan mencari tahu apa yang sebenarnya membuatnya sesak.

Saat Orihime terbangun suasana kamar masih gelap gulita, ia menyalakan lampu meja untuk menerangi kamar dan etika Orihime membuka kedua matanya dengan lebar. Betapa kagetnya ia karena menemukan Nelliel tengah asik tidur memeluknya dengan erat. Pantas saja kalau dari tadi ia merasa sesak nafas.

"KAKAK!" Seru Orihime.

Ulquiorra langsung terbangun karena teriakkan dari sang istri. Pria tampan bersurai hitam ini langsung bangun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Saat Ulquiorra menolehkan wajahnya kearah Orihime, betapa kaget dirinya menemukan sang kakak, Nelliel tengah tidur pulas memeluk sang istri.

Ternyata diam-diam tanpa sepengetahuan mereka berdua. Ditengah malam Nelliel menyelinap masuk kedalam kamar dan ikut tidur bersama dengan Ulquiorra dan tidur ditengah-tengah sepasang suami istri itu.

"Kakak!? Apa yang dilakukannya disini?" Ulquiorra menatap wajah sang istri dengan bingung.

Orihime menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Ulquiorra dan dirinya masih terperangkap didalam pelukkan Nelliel.

Nelliel masih terlihat asik dengan mimpi indahnya, tanpa tahu juga perduli dengan ulahnya ini membuat heboh Ulquiorra juga Orihime ditengah malam.

"Kakak, kakak..." Ulquiorra mengguncangkan tubuh Nelliel, dirinya berharap sang kakak akan bangun dan segera mengakhiri penderitaan Orihime yang terlihat sesak dipeluk olehnya.

Bukannya bangun, Nelliel malah semakin mengeratkan pelukkannya. Membuat Orihime yang dipelukkannya semakin sesak nafas. Mungkin Nelliel mengira kalau Orihime adalah sebuah guling.

"Kakak! Bangun." Kali ini Ulquiorra sedikit berteriak membangunkan sang kakak, seraya mengguncangkan tubuh Nelliel dengan keras agar terbangun.

Tetapi hal itu tidak berhasil, Nelliel tidak terbangun dan masih asik dengan mimpi indahnya dan tidak merasa kalau ada seseorang yang merasa menderita karena ulahnya ini.

"Haah~~" Ulquiorra mendesah pasrah.

Pris tampan ini mau tidak mau harus menggunakan cara 'itu' untuk membangunkan Nelliel. Ulquiorra mendekatkan bibirnya kekuping Nelliel dan membisikkan sesuatu pada sang kakak. Entah apa yang tengah dikatakan oleh Ulquiorra namun cara itu langsung berhasil membangunkan Nelliel dengan cepat.

"Ulqui!" Nelliel mengucek matanya dengan perlahan.

"Kau menggangu mimpi indahku saja." Nelliel menatap sebal sang adik karena mengganggu kesenangannya.

Ulquiorra melipat kedua tangannya dan menatap sang kakak dengan sedikit kesal, "Tidurlah di kamarmu kakak,"

"Aku tidak mau," tolak Nellile setengah merengek.

"Kakak kira berapa umur kakak? Tidurah dikamarmu sendiri, biarkan kami berdua istirahat dengan tenang," ucap Ulquiorra dingin.

Rengek Nelliel dengan manja saat ia diminta untuk tidur dikamarnya sendiri.

"Tidurlah dikamarmu kakak" kali ini Ulquiorra sedikit meninggikan suaranya.

Wajah Nelliel langsung terlihat sedih, matanya juga sudah berkaca-kaca. "Aku takut tidur sendirian." Nelliel menatap Ulquiorra dengan memperlihatkan pose puppy eyesnya. Yang biasanya akan selalu berhasil membuat luluh hati sang adik.

Ulquiorra menghela nafasnya kembali, saat melihat sikap sang kakak yang benar-benar seperti anak kecil.

"Biarkan saja kakak tidur dikamar ini." Ujar Orihime tiba-tiba. Setelah dari tadi gadis cantik bermata abu-abu ini hanya diam melihat dan mendengarkan perdebatan antara adik kakak tersebut.

Akhirnya Ulquiorra mengijinkan sang kakak untuk tidur dengan mereka berdua. Tapi hanya malam ini dan Nelliel harus tidur dipinggir dan Ulquiorra yang akan tidur ditengah-tengah. Saat ini mereka bertiga tengah tertidur disatu ranjang, Nelliel terlihat senang sekali karena bisa tidur bersama adiknya, juga dengan Orihime. Tapi tidak untuk Ulquiorra yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran sang kakak.

"Semoga pagi cepat datang." Ulquiorra langsung memejamkan matanya. Ia kembali kealam tidurnya dengan cepat.

.

.

.

DRAP...DRAP...DRAP...

Seorang pria tampan dengan rambut berwarna orange, terlihat berjalan dengan tergesa-gesa memasuki kediaman mewah milik Ulquiorra. Para pelayan yang langsung menyambutnya dengan ramah ketika melihat pria itu masuk kedalam rumah.

"Selamat datang Tuan muda Ichigo." Para pelayan membungkukkan badanya sambil memberikan salam seramah mungkin pada pria itu.

Namun sepertinya pria yang bernama Ichigo itu tidak menghiraukan ucapan dari para pelayan dan tetap terus berjalan dengan tergesa-gesa menuju kamar tidur Ulquiorra.

"Aku harus segera bertemu dengannya." Batin Ichigo cemas.

BRAK...

Ichigo mendobrak pintu kamar utama dengan keras dan langsung menghambur masuk kedalam tanpa tahu siapa yang tengah berada didalam kamar itu. Pria tampan bersurai orange ini melihat seorang gadis cantik tengah berdiri didekat ranjang dan membelakanginya, terlihat jelas sekali kalau gadis itu baru selesai mandi dengan handuk yang masih melilit ditubuh dan kepalanya.

Tanpa berkata apa-apa, pria itu langsung mengahampirinya dan membalikan tubuh gadis itu lalu memeluknya dengan erat sekali. Pria itu tidak tahu kalau gadis yang dipeluknya adalah Orihime istri dari Ulquiorra.

"Aku rindu padamu sayang." Ucapnya dengan penuh rindu.

Gadis yang dipeluk oleh Ichigo hanya diam terpaku, karena yang dipeluk olah pria bersurai orange itu adalah Orihime istri dari Ulquiorra.

"Ekh!" seru Orihime.

Gadis cantik ini hanya bisa terdiam sesaat dan tubuhnya terasa kaku untuk sekian detik karena syok juga kaget dipeluk oleh seorang pria asing. Tapi tak lama kemudian Orihime kembali sadar dan dengan reflek ia berteriak dengan histeris.

*#*

Hari ini Ulquiorra merasa sangat letih sekali dengan pekerjaan dikantor. Tak hanya setumpuk dokumen yang harus diperikas dan dikerjakannya, ia juga harus menghadiri rapat besar dan menemui beberapa klien penting perusahaan.

Saat pulang kerumah Ulquiorra melihat sebuah mobil sport mewah berwarna hitam terparkir digarasi rumahnya. Seingatnya itu bukan mobil miliknya walaupun pria bermata Emerald ini banyak memiliki mobil mewah di garasi mobilnya dan setelah mencoba mengingat-ingat mobil siapa itu, akhirnya satu nama yang terlintas di dalam otaknya.

"Apa, pria itu datang kemari?" gumam Ulquiorra.

"Selamat datang Tuan." Para pelayan menyambutnya dengan ramah seperti biasa. Baru juga Ulquiorra berjalan masuk kedalam rumah ia mendengar suara teriakkan dari Orihime.

"AAAAAAAAAA!"

Buru-buru Ulquiorra berlari kekamarnya.

DRAP...DRAP...DRAP...

BRAK...

"Hime," panggil Ulquiorra panik seraya menghambur masuk kedalam kamar.

Saat berada didalam kamar Ulquiorra melihat Orihime tengah duduk dilantai hanya mengenakan selembar handuk yang melilit ditubuh dan kepalanya, tak hanya itu saja Ulquiorra melihat seorang pria bersurai orange yang diketahui adalah Ichigo Kurosaki, suami dari Nelliel sang kakak tengah tergelatak tak berdaya lebih tepatnya pingsan dibawah lantai. Entah apa yang telah terjadi dengan Ichigo hingga bisa menjadi seperti itu.

"Hime, Apa yang sebenarnya terjadi!? Mengapa kau berteriak?" Tanya Ulquiorra penuh selidik seraya membantu sang istri untuk berdiri.

"Lalu apa yang terjadi dengan Ichigo?" Ulquiorra menatap bingung keadaan sang kakak ipar yang tak sadarkan diri.

"I-itu..." Orihime terlihat gugup dan kikuk.

"Itu apa Hime?!" tanya Ulquiorra dengan penasaran.

Dengan tubuh sedikit gemetaran Orihime bercerita kalau tanpa sengaja, dirinya memukul Ichigo dengan sekuat tenaga karena tiba-tiba saja ia memeluknya. Raut wajah Ulquiorra langsung berubah ketika mendengar penjelasan dari sang istri.

Orihime terlihat sangat ketakutan sekali melihat pandangan mata Ulquiorra yang terlihat membunuh. Gadis cantik bermata abu-abu ini menundukkan wajahnya menutupi rasa takut dan bersalahnya pada Ulquiorra.

Namun ternyata tiba-tiba saja Ulquiorra malah menginjak tubuh Ichigo dengan kerasnya.

DUK...

Ulquiorra terlihat marah dan kesal sekali pada Ichigo padahal dari awal Orihime mengira suaminya akan marah padanya.

GREP...

Dengan reflek Orihime memeluk dan menahan Ulquiorra melakukannya karna itu sangat berbahaya untuk Ichigo.

"Hentikan Tuan. Kau bisa membunuhnya." Orihime memeluk erat tubuh Ulquiorra menahannya agar tidak melanjutkan perbuatannya lagi. Karena jika Ulquiorra terus menginjak tubuh Ichigo seperti itu, bisa-bisa Ichigo mati.

Saat menahan tubuh suaminya, Orihime tidak sadar kalau handuk yang dipakainya melonggar dan sedikit lagi akan telepas dari tubuhnya.

SRUK...

Handuk yang dipakai oleh Orihime merosot jatuh kelantai dengan indahnya memperlihatkan tubuh Orihime yang telanjang bulat.

Orihime dan Ulquiorra langsung membelalakkan matanya polos Orihime.

"AAAA!" Teriak Orihime dengan kencang wajahnya sudah merah sekali melebihi kepiting rebus. Ia langsung berjongkok dan membelakangi Ulquiorra untuk menutupi tubuh polosnya dari pandangan matan suaminya.

BLUSHH...

Wajah Ulquiorra juga ikut merona merah saat melihat tubuh polos Orihihime. Ia merasa sedikit kaget juga senang melihat tubuh polos Orihime yang menurutnya sangat indah dan menawan sekali. Hatinya berdebar-debar ketika melihat tubuh Orihime, ia terpesona dengan keindahan yang dimiliki oleh sang istri.

Walaupun sudah menikah, tak sekalipun Ulquiorra menyentuh tubuh Orihime. Dirinya tahu dengan jelas kalau sang istri belum bisa mencintainya dan menerimanya sepenuhnya dalam hatinya.

Sebagai pria sejati ia tidak mau mengambil sebuah kesempatan dalam kesempitan. Dengan wajah yang dibuatnya datar dan tenang, untuk menutupi debaran hatinya saat ini. Ulquiorra mengahmpiri Orihime dan langsung memakaikan jas miliknya, menutupi tubuh polos Orihime.

"Te-te-terima kasih Tuan." Ucap Orihime dengan gugup. Wajahnya benar-benar sangat merah sekali saat ini.

Ulquiorra meminta para pelayan membawa tubuh Ichigo kekamar Nelliel dan menyiapkan es batu untuk mengompres wajah Ichigo. Ulquiorra juga ikut dengan pelayan untuk memastikan kalau Ichigo akan cepat sadar setelah menerima pukulan dari Orihime.

"Sebaiknya kau cepat pakai bajumu. Aku tidak ingin kau masuk angin." Ulquiorra menutup pintu kamar dan meninggalkan Orihime sendirian.

Setelah sang suami pergi, Orihime langsung jatuh terduduk. Ia memukul kepalanya dengan pelan, merutuki kejadian yang terjadi tadi.

Dirinya tidak menyangka kalau handuk yang dipakainya akan jatuh dan lepas dari tubunya dengan mudahnya dan memperlihatkan tubuh polosnya pada sang suami.

"Bodohnya aku!" Orihime berteriak frustasi dalam hatinya.

Buru-buru ia mamakai pakaiannya karna jika berlama-lama dengan kondisi seperti ini, dirinya bisa masuk angin. Mengingat dengan kencangnya pendingin udara dikamar ini.

Saat Ulquiorra membawa tubuh Ichigo yang tak berdaya kekamar sang kakak.

Nelliel yang saat itu tenah duduk melamun dikamar, langsung berlari menangis menghampiri suaminya.

"Ichi-kun," Teriak Nelliel dengan berlinangan air mata memeluk sang suami tercinta.

"Apa yang terjadi dengannya Ulqi-kun?" Tanya Nelliel dengan sedih.

"Tenanglah kakak. Ia hanya pingsan jadi jangan menangis seperti itu." Ulquiorra membujuk sang kakak namun sepertinya percuma saja ia melakukannya, karna sang kakak terus saja menangis dengan histeris. Padahal Ichigo hanya pingsan bukannya mati.

BRUK...

Tiba-tiba saja Nelliel jatuh pingsan dan membuat heboh para pelayan yang melihatnya.

"Astaga!" Ulquiorra memijit keningnnya yang terasa pusing dengan masalah ini.

Belum juga satu masalah selesai kini sang kakak malah ikut jatuh pingsan menemani Ichigo. Hal ini benar-benar membuat Ulquiorra sangat pusing sekali. Malam ini suasana dirumah ini sedikit kacau dengan kejadian ini.

"Lilly. Tolong kau hubungi dokter Ukitake" Ulquiorra duduk dibangku yang berada dikamar ini.

Ia memijit keningnya yang terasa pusing, dirinya meminta salah satu pelayan membuatkannya secangkir teh bunga mawar untuknya.

X0X0X0X0X0X0X

Nelliel merasa kepalanya terasa sangat pusing sekali. Setelah hampir dua jam tak sadarkan diri. Akhirnya ia siuman.

Melihat Nelleil sudah siuman membuat Ichigo dan yang lainnya yang ada dikamar ini menjadi senang. Terlebih Ichigo, wajahnya terlihat sumingrah saat melihat sang istri siuman.

"Ichi-kun" Nelleil langsung memeluk tubuh sang suami dengan berlinangan air mata.

"Ichi-kun. Aku rindu padamu."

Ichigo tersenyum senang mendengarnya. Ia mengelus pelan rambut Nelliel.

Mereka berdua terlihat tengah melepaskan rindu. Tanpa memperdulikan dengan keberadaan Ulquiorra dan Orihime dikamar ini. Ichigo dan Nelliel berciuman dengan sangat mesra hingga membuat wajah Orihime merona merah melihatnya.

"Ehem!" Ulquiorra berdehem dengan kerasnya. Mengingatkan kalau dikamar ini bukan hanya ada mereka berdua saja.

Ichigo dan Nelliel langsung menghentikan aksi ciuman mereka berdua dan menatap Ulquiorra juga Orihime. Yang sedari tadi melihat aksi mereka berdua yang cukup panas.

"Jadi. Apa yang membuat kalian bertengkar lagi?!" Tanya Ulquiorra to the point.

"Ichi-kun. Lupa pada ulang tahunku dan sibuk bekerja" Jawab Nelliel dengan bibir yang sedikit manyum menatap Ichigo.

Ulquiorra tak habis pikir dengan sikap sang kakak, yang sangat kekanak-kanakkan sekali. Jadi jauh-jauh Nelliel datang dari Amerika ke sini, hanya karna bertengkar masalah yang sangat sepele.

Ingin sekali ia menepuk pelan keningnya mengekspresikan kekesalannya. Tetapi tak ia lakukan karna itu akan menghancurkan imagenya sebagai pria cool.

Ichigo meminta maaf pada Nelliel karna lupa pada ulang tahunnya dan sibuk dengan pekerjaannya, sebagai seorang dokter disebuah Rumah Sakit ternama. Ia juga membujuk dan merayunya untuk pulang bersamanya ke Amerika.

Hati Nelliel pun luluh setelah dirayu oleh sang suami. Ia mau ikut pulang bersama dengan Ichigo.

"Maafkan kami karena selalu membuat kekacau dirumah ini." Ujar Ichigo sambil terseyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.

Ulquiorra menanggapinya dengan dingin. Karena sudah sering mereka berdua selalu seperti ini dan mungkin kejadian seperti ini akan terulang kembali dilain waktu.

Ichigo melirik melihat Orihime yang sedari tadi hanya diam berdiri disebelah Ulquiorra. Karena kejadian ini, ia jadi lupa menanyakan siapa gadis yang tengah berada disebelah adik iparnya tersebut.

"Siapa gadis manis yang ada disebelahmu Ulquiorra?" Tanya Ichigo yang tersenyum ramah pada Orihime.

"Dia istriku." Jawab Ulquiorra dengan singkat.

"Benarkah itu? Kapan kalian menikah?" Tanya Ichigo kembali.

"Belum lama ini." Jawab Ulquiorra dengan dingin.

KRUUYUKKK...

Tiba-tiba saja perut Orihime berbunyi dengan kerasnya. Membuat semua orang yang ada dikamar ini menoleh kearahnya. Orihime langsung menundukkan wajahnya yang merah padam karena malu. Ia tidak menyangka kalau perutnya akan berbunyi dengan kerasnya. Menghancurkan suasana serius yang tengah terjadi dengan cepat.

"Ma-maafkan aku." Ujar Orihime dengan gugup. Ia masih menundukkan wajahnya menutupi rasa malu yang menderanya.

Ulquiorra menatap jam dinding dikamar ini. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pantas saja jika Orihime merasa lapar. Ulquiorra mengajak Orihime untuk segera meninggalkan kamar Nelliel dan membiarkan mereka berdua bersama.

.

.

.

Nelliel dan Ichigo kembali ke Amerika keesokkan harinya. Akhirnya sipengacau dan juga pengganggu akhirnya pulang juga. Suasana rumah menjadi sepi dan damai kembali, setelah kepergian Nelliel.

Besok adalah hari Valentine, semua gadis disekolah Orihime. Terlihat sangat sibuk membuat coklat untuk diberikan pada kekasih atau orang yang mereka sukai. Biasanya Orihime tidak akan membuat coklat dan lebih memilih menjual coklat tersebut, karna menurutnya menghasilkan uang.

Akan tetapi tahun ini akan sedikit berbeda dari biasanya, ia akan membuat coklat untuk Ulquiorra yang kini adalah suaminya.

"Jadi. Kau akan membuat coklat?" Tanya Rukia sahabatnya.

"Begitulah." Jawab Orihime dengan singkat yang tengah sibuk melihat-lihat deretan coklat yang terpajang indah ditoko ini.

Kini keduanya tengah berada disebuah toko, untuk membeli bahan-bahan membuat coklat. Orihime terlihat agak sedikit serius memilih bahan-bahan coklat yang dijual ditoko ini. Karna harga coklat ditoko ini sangat mahal sekali namun kualitasnya no satu dikota ini.

Hari ini Orihime berencana akan membuat coklat dirumah Rukia. Ia juga tidak dijemput oleh Starrk lebih tepatnya ia kabur dari pengawasan Starrk, yang saat ini masih duduk diam didalam mobil menunggu Orihime didepan sekolah.

"Kenapa Nona belum keluar juga." Gumam Starrk dalam hatinya.

Hari sudah menjelang malam, suasa sekolah juga terlihat sudah mulai sepi. Namun dengan setia demi menjalankan tugasnya. Starrk terus menunggu Orihime didalam mobil.

Tak lama seorang penjaga sekolah, menutup gerbang sekolah yang menandakan kalau tidak adak lagi orang yang berada didalam sekolah.

Starrk terlihat sedikit panik dan bingung. Ia memutuskan keluar dari mobil dan bertanya pada penjaga sekolah. Ternyata Orihime sudah pulang sekolah sejak tiga jam yang lalu.

Stark pun menghubungi sangTuan, memberitahukan hal ini. Ia takut sekali kalau Orihime diculik oleh orang, mengingat dirinya yang seorang Nona muda istri dari Ulquiorra.

"Tuan muda. Nona Orihime menghilang." Ujar Strrak dengan sedikit panik saat berbicara ditelpon.

Setelah Orihime mencoba selama beberapa kali membuat coklat. Akhirnya coklat buatannya jadi. Ia langsung membungkusnya dengan sangat rapi dengan sebuah kotak berukuran kecil.

"Yap. Selesai." Orihime menempelkan sebuah pita berwarna merah untuk mempermanis tampilan kotak tersebut.

Wajah Orihime juga sudah sedikit terkena coklat. Ia membuat coklat ini dengan sepenuh tenaga juga perasaan untuk Ulquiorra. Bagaimana pun ia ingin membalas kebaikan Ulquiorra padanya.

Orihime tidak sadar kalau kini semua orang dirumah tengah panic dan gempar mencari dirinya yang tiba-tiba saja menghilang.

"Terima kasih atas bantuan Rukia-chan." Orihime berisiap-siap pulang kerumah.

Saat Orihime hendak membuka pintu rumah Rukia.

BRAK...

Tiba-tiba saja sekelompok polisi juga para detektif mendobrak pintu rumah Rukia.

"Angkat tangan kalian!" Teriak salah satu polisi sambil mengacungkan senjata pada Rukia dan Orihime.

Keduanya langsung mengangkat tangannya, wajah mereka juga terlihat sangat kaget dan syok sekali. Dengan sekejap kediaman mewah Rukia menjadi ramai oleh orang-orang, karna banyak polisi juga detektif mengelilingi rumah Rukia.

Entah apa yang sebenarya terjadi, mereka berdua sangat bingung, takut juga kaget dengan semua ini.

"Ya Tuhan. Apa yang sebenarnya terjadi?!" Teriak Orihime dalam hatinya.

*#*

Orihime terus duduk diam ditatami, seraya menundukkan wajahnya. Saat ini ia tengah berada diruang keluarga Kuchiki bersama Ulquiorra, Rukia juga sang kepala keluarga ini Byakuya Kuchiki.

"Jadi Tuan Sachiffer. Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Tanya Byakuya dengan dingin. Karna saat ia pulang dari acara minum teh. Rumahnya sudah dikelilingi banyak polisi, juga orang-orang berkumpul didepan gerbang rumahnya. Ia takut terjadi apa-apa dengan adiknya, Rukia.

"Maafkan atas semua kekacauan ini." Ulquiorra menundukkan kepalanya pada Byakuya sebagai ucapan permintaan maafnya pada Byakuya, karena telah menyebabkan kekacauan dirumah ini.

Orihime terus diam menundukkan wajahnya. Ia tidak dapat berbuat banyak mengenai masalah ini. Karna sumber masalahnya adalah dia sendiri.

Setelah semua masalah selesai, Ulquiorra membawa Orihime pulang kerumah dengan kawalan ketat tentunya.

"Maafkan aku Rukia-chan. Karena aku semuanya jadi seperti ini." Ujar Orihime dengan sendu. Ia merasa sangat bersalah dan tidak enak hati pada Rukia.

"Sudahlah Orihime. Yang harus kau khawatirkan adalah dia." Rukia melirik Ulquiorra suami sang sahabatnya yang sedari tadi hanya diam dan selalu memasang wajah datar dan dingin pada Orihime.

Hati Orihime langsung down saat melihat sang suami, menatapnya seperti itu. Dirinya merasa takut juga bersalah pada Ulquiorra karna sudah membuatnya khawatir.

Selama perjalan pulang, keduanya sama-sama diam. Tak ada satupun dari mereka berdua yang membuka suara, untuk memecah keheningan ini.

Orihime terus diam menundukkan wajahnya, sedangkan Ulquiorra terus diam menatap keluar jendela. Terlihat sekali kalau kini ia tengah mengacuhkan Orihime.

Perjalanan pulang ini terasa sangat panjang dan lama sekali. Karna hanya ada keheningan dan suasana dingin diantara mereka berdua. Setelah sampai dikediaman, Orihime langsung berlari masuk kedalam kamar.

Ia langsung jatuh terduduk diatas kasur dan melemparkan tasnya kesebelahnya. Tak lama ia langsung merebahkan tubuhnya.

"Apa yang harus kulakukan?" Batin Orihime saat menatap langit-langit kamar ini yang didominasi oleh warna biru langit.

Orihime memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya saat ini.

Ia sangat tahu kalau Ulquiorra pasti sangat marah sekali padanya.

KREKKK...

Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Ulquiorra yang datang masuk kedalam kamar. Ia berjalan santai menuju kamar mandi.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, ia terlihat sibuk melepaskan stelan jasnya, tanpa memperdulikan keberadaan Orihime dikamar ini.

"Ma-maafkan aku Tuan." Ucap Orihime dengan bibir yang sedikit bergetar menahan tangisnya agar tidak tumpah.

Ulquiorra masih tetap diam melakukan aktifitasnya, tanpa memperdulikan ucapan dari Orihime.

Tes..Tes..Tes...

Air mata Orihime jatuh begitu saja membasahi pipinya. Ternyata didiamkan seperti ini oleh Ulquiorra membuatnya sangat sedih sekali.

"Ma-ma-maafkan a-aku." Ucap Orihime dengan sesenggukkan.

GREP...

Orihime membelakkan kedua matanya saat Ulquiorra memeluknya dengan sangat erat sekali. Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, dirinya terus saja memeluk Orihime dengan sangat erat sekali.

"Tu..."
"Jangan kau ulangi lagi perbuatan seperti itu." Ulquiorra memotong cepat perkataan Orihime.

Ia masih setia memeluk tubuh indah sang istri juga mencium aroma parfum ditubuhnya, yang masih melekat dipakaiannya. Mereka berdua berpelukkan beberapa saat.

Ulquiorra melepaskan pelukkannnya , tetapi tidak melepaskan pegangan tangannya pada tubuh Orihime. Ia menatap wajah Orihime dan menelusuri garis wajahnya.

Betapa hatinya sangat cemas, takut, khwatir saat mengetahui kalau Orihime belum pulang kerumahnya. Ia takut terjadi sesuatu padanya, mengingat dirinya memiliki banyak saingan bisnis juga musuh diluar sana.

Tiba-tiba Orihime melepaskan pegangan tangan Ulquiorra, ia berjalan kearah tasnya yang tergelatak diatas kasur. Ia membukanya dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya.

Ulquiorra hanya diam terpaku melihat aksi sang istri. Menunggu apa yang tegah dilakukan oleh Orihime.

"Selamat hari Valentine, Tuan." Tangannya sedikit bergetar saat menyerahkannya.

Ulquiorra kaget, senang saat menerima coklat buatan Orihime. Ia tidak menyangka kalau ia akan mendapatkan hadiah coklat darinya.

Ulquiorra menarik cepat tangan Orihime, untuk lebih mendekat padanya.

CUP

Ulquiorra mencium Orihime dengan lembut, ini sebagai balasan dari coklat yang ia berikan padanya.

"Terima kasih untuk coklatnya." Ujar Ulquiorra saat menyudahi aksinya.

Orihime hanya menggangguk kecil menaggapinya, wajahnya masih merona merah. Ia masih merasa malu karna dicium oleh Ulquiorra. Padahal ini bukan ciuman pertama mereka dan Ulquiorra juga selalu melakukannya. Tapi entah mengapa ia selalu merona merah saat dicium olehnya.

.

.

.

Pagi ini wajah Ulquiorra terlihat sangat cerah sekali. Nemu yang sedari tadi duduk disebelahnya menemaninya mengerjakan dokumen, merasa sedikt aneh dengan sikap bosnya itu. Diam-diam Nemu melirik Ulquiorra yang tengah fokus dengan pekerjaan, namun raut wajahnya tak henti-hentinya memancarkan sinar kebahagian.

"Apakah ada hal istimewa yang terjadi hari ini?" Tanya Nemu yang merasa penasaran dengan sikap bahagia Ulquiorra.

Ulquiorra menghentikan pekerjaannya dan tersenyum tipis menatap Nemu. Dirinya benar-benar tengah bahagia saat ini karna menerima coklat buatan Orihime. Ia masih menyimpannya dengan baik dilemari pendingin.

"Ia memberikanku coklat." Jawab Ulquiorra dengan wajah yang sedikit berbinar saat mengatakannya.

Hati Nemu serasa sangat pilu mendengarnya. Hanya karna sebuah coklat bisa membuat hati Ulquiorra begitu senang dan bahagia, tak pernah sekalipun selama ia bersama dengan dirinya. Ulquiorra berwajah sumingrah seperti ini.

Nemu meremas pelan pulpen yang berada ditangannya, ia terseyum manis menanggapi perkataan Ulquiorra.

"Bagus kalau seperti itu." Ujar Nemu dengan dusta menutupi perasaan hatinya yang sebenarnya. Tadinya ia akan mengubur dalam-dalam perasaannya.

Namun melihatnya sebahagia ini bersama dengan perempuan lain. Membuat hatinya sangat sakit dan pilu. Kini didalam hatinya telah muncul rasa benci pada wanita yang merebutnya dari sisinya. Kini ia tidak ragu lagi melakukan apapun untuk merebut hati Ulquiorra.

"Aku akan merebutmu darinya." Gumam Nemu dalam hatinya.

Ini semua dilakukannya hanya untuk mendapatkan Ulquiorra dan menjadikannya miliknya seutuhnya, juga selamanya.

TBC

A/N : Maafkan Inoue karena sempat menelantarkan fic ini. Maaf banget karena didunia nyata Inoue banyak sekali tugas dan pekerjaan.

Hyou Hyouichiffer : Maaf ya kalau penulisan fic Inoue membuat kamu menjadi bingung membacanya hehehe^^. Semoga kelanjutan ceritanya tidak mengecewakan. Terima kasih udah mau fav cerita Inoue.

AAind88 : Tenang aja konflik pasti ada tapi belum muncul dichapter ini. Tungguin aja dan patengin terus aja kelanjutan cerita ini.

Moku-chan : Senengnya Moku-chan, mau baca cerita Inoue. Banyak cerita Senpai yang Inoue baca. Maaf baru bisa update, soalnya lagi banyak tugas dan kerjaan hehehe. Semoga tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya.

Sayumi Takashi : Maaf baru bisa update soalnya Inoue lagi sibuk didunia nyata hehehe.

Rikara Nazuto : Maaf kalau masih menemukan banyak Typo dan penulisan ficnya juga amburadul hehehe. Maklum Inoue juga masih baru didunia Fanfiction.

Ocha : Inoue juga gemes lihat romansa mereka berdua. Ini udah update semoga tidak kecewa dengan kelanjutan ceritanya.

Inoue mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas Riviewnya. Untuk dua cerita milik Inuoe yang lainnya, mungkin akhir bulan bisa Inoue update.

Inoue juga mau mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada siapapun yang mau membaca Fic ini.

Jika ada yang berkenan mohon RnR.

Inoue Kazeka