Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance
.
.
.
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Ulquiorra membawa paksa Orihime pulang kerumah dan meninggalkan Nemu sang sekretaris, sendirian dipesta ulang tahun Renji, yang merupakan anak dari rekan bisnisnya. Pria bermata Emerald ini tidak bisa membiarkan Orihime yang tengah mabuk berada didalam pesta. Dirinya sungguh tidak mengira kalau, sang istri akan ada dipesta Renji dan juga mabuk berat seperti ini.
"Tu-turunkan...Hikh...A-aku...Hikh...hikh." Orihime terus meronta-meronta dalam gendongan Ulquiorra.
Namun Ulquiorra tidak memperdulikannya dan tetap membawa paksa Orihime masuk kedalam mobil.
"Starrk, tolong kau bawa kami pulang kerumah sekarang juga." Ujar Ulquiorra pada supir pribadinya itu.
"Baik Tuan."
Starrk langsung melajukan mobilnya dengan cepat, agar segera tiba di rumah. Dan saat didalam mobil, Orihime yang tengah mabuk sangat tidak bisa diam dan terus saja mengoceh tak jelas. Membuat Ulquiorra sangat pusing sekali dibuatnya. Ternyata kalau tengah mabuk, sang istri akan seperti ini.
"Tuan-ikh-ikh, ini-ikh-dimana?" tanya Orihime dengan ketika mereka berdua tiba dikediaman Ulquiorra.
"Kita dirumah Hime," jawab Ulquiorra dengan datar. Ia langsung menggendong Orihime dan membawanya masuk kedalam rumah.
"Tu-ikh-ikh turunkan aku ikh-ikh," ronta Orihime seraya memukul keras pundak Ulquiorra, yang bagi Ulquiorra itu tidak terasa sakit.
Para pelayan sudah berdiri menyambut kedatangan sang Tuan dan Nona mereka, "Selamat datang Tuan dan Nona muda," para pelayan membungkukkan badan mereka.
Ulquiorra hanya diam dan tidak menanggapi sambutan dari pelayan. Ia terus melangkah pergi menuju kamarnya sambil menggendong Orihime. Namun para pelayan terlihat kaget dan cemas melihat keadaan sang Nona yang tengah digendong oleh Ulquiorra. Terlebih sang Nona terus berteriak minta diturunkan dari gendongan sang Tuan.
"Apa yang terjadi dengan Nona?" tanya Menolly dalam hatinya saat melihat keadaan sang Nona yang terlihat sedikit aneh.
Ulquiorra mempercepat langkah kakinya menggendong Orihime, akhirnya ia sampai didalam kamarnya. Dan saat Ulquiorra hendak merebahkan tubuh Orihime keatas kasur, tiba-tiba saja Orihime menggigit leher Ulquiorra dengan keras sekali.
"Aaaaaa..." pekik Ulquiora ketika merasakan sakit dilehernya. Tiba-tiba saja keseimbangannya hilang dan akhirnya mereka berdua jatuh.
BRUK...
Jika melihat posisi mereka saat ini. Ulquiorra jadi teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Saat itu juga sama, mereka berdua jatuh dan dengan posisi yang sama seperti saat ini.
Ulquiorra berada diatas tubuh Orihime, namun kali ini sedikit berbeda dengan saat itu. Orihime memandanginya dengan wajah, yang sayu dan sangat menggoda sekali. Bagian depan gaunnya sedikit terbuka, memperlihatkan dada Orihime yang sangat putih dan menggoda. Darah Ulquiorra berdesir ketika melihatnya.
"Hi-Hime," ujar Ulquiorra dengan gugup. Wajahnya sedikit merona merah melihat keadaan Orihime saat ini.
"Tuan," panggil Orihime dengan nada yang sangat menggoda sekali ditelinga Ulquiorra. Tak hanya itu saja Orihime juga mengalungkan kedua tanganya pada leher Ulquiorra, sehingga wajah mereka menjadi dekat sekali.
"Tidak tergoda padaku? Tuan," rayu Orihime dengan centil. Ia menyeringai nakal menatap sang suami.
Ulquiorra menelan ludahnya saat melihat sikap Orihime seperti ini. Ia tidak tahu kalau Orihime mabuk akan menjadi gadis yang seperti ini. Nakal dan sangat menggoda imannya, yang sedari tadi terus ia tahan. Belum juga Ulquiorra selesai dengan keterkejutannya. Melihat sikap dan tingkah sang istri.
Uquiorra merasakan sebuah benda lembut dan basah menyentuh bibirnya. Ternyata tanpa ia duga kalau Orihime menciumnya. Ulquiorra membelalakkan kedua matanya, ia benar-benar sangat kaget sekali. Ciuman dari Orihime juga sangat menuntut, ia memagut bibir Ulquiorra dengan panas. Sepertinya mulai saat ini, Ulquiorra harus menjauhkan Orihime dari minuman beralkohol. Karena jika sang istri mabuk, dirinya sangat liar sekali. Dan itu sangat berbahaya sekali.
"Hime! Hentikan." Ulquiorra mencoba menjauhkan tubuh Orihime.
Namun Orihime malah menarik kepala Ulquiorra dan menciumnya Ulquiorra ingin menahan hasrat dalam tubuhnya untuk tidak menyentuh dan tergoda dengan sang istri. Namun karena perbuatan dari Orihime, akhirnya ia ikut terpancing juga. Tadinya ciuman dari Orihime yang mendominasi. Namun kini Ulquiorra-lah yang memagutnya dengan liar. Bahkan ia memasukkan lidahnya kedalam mulut Orihime, mengabsen setiap deretan gigi putih dan menjelajah mulut Orihime dengan lidahnya.
"Hmph..." erang Orihime tertahan karena ciuman Ulquiorra sangat panas sekali. Ia sedikit kewalahan menghadapi ciuman dari sang suami.
Setelah berciuman lebih dari lima menit, Ulquiorra melepaskan pagutannya. Bagaimanapun mereka berdua membutuhkan pasokan udara. Wajah Orihime yang terengah-engah dengan mulut yang sedikit terbuka juga basah akibat ciuman mereka tadi. Membuat Ulquiorra semakin tergoda padanya.
"Hime," Ulquiorra membelai wajah sang istri. Ia menelusuri wajahnya dengan seksama. Satu kata yang bisa ia ucapkan untuk sang istri saat ini adalah "cantik".
Belum juga Orihime mengambil nafas banyak, Ulquiorra sudah menciumnya lagi. Namun kali ini ciumannya turun keleher Orihime. Ia menggigit leher Orihime dengan perlahan sehingga menimbulkan tanda kemerah-merahan dilehernya. Ulquiorra menatap senang dengan hasil karyanya dileher Orihime. Gaun Orihime sudah mulai berantakan. Rambut yang tadi tersusun rapih kini terlihat mulai sedikit kusut.
Permainan mereka berdua semakin panas dan libido Ulquiorra semakin naik. Ia benar-benar tengah ingin memiliki dan menikmati tubuh indah sang istri. Dan tiba-tiba saja Orihime merubah posisinya, kini ia tengah duduk diatas perut Ulquiorra.
"Tuan," panggil Orihime dengan nada yang menggoda. Ia ingin mendekatkan wajahnya pada Ulquiorra.
"Hime,"
"Tua-UEKHHHH!" Orihime memuntahkan semua makanan yang tadi malam ia makan. Dan mengotori tubuh Ulquiorra.
Ulquiorra langsung merubah posisinya dan menggendong Orihime ke kamar mandi. Orihime terus saja muntah hingga tubuhnya terasa lemas dan tak sadarkan diri. Ulquiorra melepaskan gaun yang dipakai Orihime, juga kemejanya yang kotor karena bau terkena muntahan sang istri. Ulquiorra membersihkan tubuh Orihime dan memakaikannya baju tidur. Setelah itu Ulquiorra membaringkannya di kasur.
"Sepertinya aku harus mandi," Ulquiorra mencium aroma tubuhnya yang terasa tidak enak terkena muntahan dari Orihime.
Ulquiorra mencoba berendam didalam bak mandi dan merilekskan pikiran juga debaran hatinya. Ia memejamkan kedua matanya, menikmati aroma sabun yang tengah digunakan untuk berendam.
"Fuih! Hampir saja," gumam Ulquiorra dengan pelan. Ia masih mengingat-ingat kejadian yang terjadi tadi. Jika saja Orihime tidak muntah, mungkin saja saat ini mereka tengah melakukan sesuatu hal yang sangat luar biasa.
Memikirkan hal itu, membuat hati dan jantungnya berdetak sangat cepat sekali, dan wajahnya sedikit memerah. Namun tak bisa ia pungkiri kalau sang istri memiki, kecantikan yang luar biasa. Dan hal itu membuatnya sangat berdebar-debar setiap menatap wajahnya.
Setelah dirasa cukup berendam dan membersihkan tubuhnya, Ulquiorra keluar dari kamar mandi dan menghampiri sang istri yang tengah tertidur pulas.
"Selamat tidur, Hime," Ulquiorra mengecup kening Orihime dengan penuh kasih.
"Semoga kau mimpi indah." tambah Ulquiorra, tak lama setelah itu ia beranjak pergi dari kamarnya.
Malam ini Ulquiorra memutuskan untuk tidak segera tidur, pikiran dan tubuhnya tengah terasa panas sekali. Sepertinya ia inginm menikmati secangkir teh mawar di balkon kamarnya akan membuatnya sedikit tenang, dan membuat pikirannya jernih kembali.
*#*
Hari sudah beranjak pagi. Matahari juga sudah beranjak naik dan mulai menyinari bumi. Dan sinar matahari masuk kedalam sela-sela jendela kamar Orihime. Karena hal itu Orihime beranjak bangun dari dalam mimpinya.
"Ngh!" lenguh Orihime ketika baru bangun tidur. Ia menggeliatkan tubuhnya sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk bangun dari kasurnya.
Namun pagi ini Orihime merasa kepalanya sangat pusing sekali. Dan saat mencoba untuk bangun dari tidurnya sambil memegangi kepalanya. Tak hanya itu saja Orihime merasa seluruh tubuhnya terasa sangat pegal sekali.
"Jam berapa ini?" gumam Orihime ketika melihat sebuah jam bekker berbentuk kelinci yang berada diatas nakas.
Orihime sedikit bingung sejak kapan, dirinya sudah berada didalam kamarnya. Dan siapa yang membawanya.
"Bukankah semalam aku berada dipestanya Abarai, lalu meg...Ah!" Orihime memgangi kepalanya yang terasa sakit. Karena mencoba mengingat-ingat kejadian tadi langsung terasa sangat pusing sekali dan berndenyut-denyut.
Seingatnya Orihime tengah berada dipesta ulang tahun Renji, tunangan dari Rukia yang merupakan sahabat baiknya.
Saat itu dirinya tengah asik memakan kue coklat yang sangat enak sekali, lalu ia tersedak kue yang dimakannya. Dan ia meminum segelas minuman yang ada didekatnya. Rasa minuman itu sangat tidak enak sekali dan terasa panas ditenggorokkannya. Tak lama setelah meminum itu, kepalanya langsung berkunang-kunang dan sangat pusing sekali. Setelah itu Orihime tak ingat apa-apa lagi. Tahu-tahu saat dirinya terbangun saat ini.
"Apakah Starrk yang membawaku pulang?" gumam Orihime.
Saat Orihime hendak turun dari ranjangnya, kedua matanya membulat besar sempurna melihat penampilannya saat ini.
"EKH!" Orihime telonjak kaget. Wajahnya terlihat pucat pasi dan berkeringat dingin. Orihime mulai berpikir yang macam-macam mengenai apa yang telah terjadi padanya. Karena saat ini Orihime hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Entah kemana gaun yang melekat ditubuhnya yang ia kenakan semalam.
'Astaga! Apa yang terjadi padaku? Kenapa penampilanku seperti ini?!' teriak Orihime dalam hatinya.
'Ya Tuhan!" erang Orihime dalam hatinya.
"Apakah para pelayan yang melepaskan gaunku?" tanya Orihime dalam hatinya.
Saat Orihime tengah sibuk dengan pikirannya sendiri dan keterkejutannya. Ulquiorra keluar dari kamar mandi hanya mengenakan kimono mandinya yang berwarna hitam. Ia terlihat sangat seksi sekali, dengan rambutnya yang masih basah. Air juga masih sedikit menetes dari ujung-ujung rambut Ulquiorra dan sedikit membasahi kimono mandi yang dipakainya. Ulquiorra berjalan menghampiri Orihime.
"Kau sudah bangun, Hime!" Ulquiorra duduk diatas ranjang dan memandangi wajah Orihime dengan lembut. Bisa Orihime cium dengan jelas wangi tubuh Ulquiorra yang sangat menyegarkan sekali dan memanjakan hidungnya.
"Wanginya!" batin Orihime.
"Se-selamat pa-pa-pagi Tu-tuan," sapa Orihime dengan gugup.
"Selamat pagi juga istiku," balas Ulquiorra dengan diiringi kecupan lembut dikening Orihime.
Blush...
Wajah Orihime sedikit memerah -diam Orihime mencuri pandang pada Ulquiorra, entah mengapa pagi ini Ulquiorra benar-benar sangat mempesona dan tampan sekali. Orihime melihat sebuah tanda merah dileher Ulquiorra. Menambah rasa keterkejutan untuknya. Dan membuatnya semakin bertanya-tanya sendiri.
Apakah dirinya dan Ulquiorra telah terjadi sesuatu. Melihat penampilan Orihime pagi ini yang hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Membuatnya semakin bingung dan penasaran tentunnya dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apakah tubuhmu tidak apa-apa?" Ulquiorra membelai wajah Orihime dan tersenyum dengan hangat pada sang istri.
Dengan reflek Orihime menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia masih terihat diam terpaku memandang Ulquiorra dan terpesona sekali padanya.
"Syukurlah," Ulquiorra tersenyum penuh arti kepada Orihime.
"Semalam kau manis sekali," sambung Ulquiorra.
"Memangnya apa yang terjadadi semalam?" tanya Orihime dengan bingung dan penasaran.
Ulquiorra tersenyum tipis menatap Orihime, "Apa harus kujawab?" goda Ulquiorra.
"Harus Tuan," nada Orihime terdengar sedikit tinggi. Ia juga terlihat sedikit menggembungkan kedua pipinya. Membuat Ulquiorra tersenyum kecil.
"Rahasia," Ulquiorra tersenyum penuh arti menatap Orihime.
"Tuan!" geram Orihime.
Ulquiorra hanya tertawa kecil melihat sikap dan tingkah Orihime, yang ternyata menggoda Orihime dan melihat wajah kesalnya. Ternyata sangat menyenangkan sekali.
"Huh! Menyebalkan sekali," Orihime sedikit memajukka bibirnya.
"Nanti akan kuceritakan," Ulquiorra mencubit pelan hidung Orihime. Setelah itu ia pergi keruangan baju miliknya dan memilih pakaian kerja yang akan dikenakan olehnya hari ini.
BLAM...
Bisa Ulquiorra dengar dengan jelas suara pintu kamar mandi yang dibanting agak keras oleh Orihime.
"Sepertinya suasana hatinya pagi ini tidak baik." gumam Ulquiorra.
X0X0X0X0X0X0X
Wajah Nemu bersemu merah dan jantungnya berdetak dengan cepat sekali. Karena saat ini tiba-tiba saja Ulquiorra memberikan sekotak coklat untuknya. Ulquiorra memberikannya sebagai ucapan permintaan maafnya. Karena kemarin malam dirinya dengan sangat terpaksa meninggalkan Nemu seorang diri dipesta ulang tahun Renji, yang merupakan anak dari kolega bisnisnya.
"Maaf. Karena kemarin malam aku meninggalkanmu begitu saja," Ulquiorra terlihat tidak enak hati pada Nemu.
"Tidak apa-apa Tuan," wajah Nemu terlihat sangat bersemu dan berinar ketika menerima pemberian dari Ulquiorra. Sesaat ia melupakkan rasa sakit hatinya atas perlakuan Ulquiorra padanya tadi malam.
"Sekali lagi. Aku meminta maaf karena telah meninggalkannmu," Ulquiorra meminta maaf sekali lagi pada sang sekrektaris. Dan Nemu pun memaafkan Ulquiorra kembali, karena memang Nemu tidak bisa sama sekali marah ataupun membenci Ulquiorra.
"Terima kasih atas coklat pemberiannya Tuan," wajah Nemu masih terlihat bersemu merah mendekapa erat kotak coklat pemberian dari sang bos.
Nemu akan menyimpan coklat pemberian dari Ulquiorra dan tidak akan memakannya. Baginya ini adalah harta berharganya. Ulquiorra terlihat bernafas lega, karena Nemu mau menerima permintaan maafnya. Dan juga Nemu terlihat senang dengan coklat pemberian darinya.
"Baiklah, kalau begitu," Ulquiorra langusng duduk dibangkunya menghadap sang sekretaris.
"Nemu, tolong kau sebutkan jadwal untu hari ini." tambah Ulquiorra pada sekretaris pribadinya.
Nemu langsung membuka sebuah buku berukuran sedang, dan dengan cepat Nemu langsung membacakan semua jadwal dan pekerjaan yang harus Ulquiorra lakukan hari ini. Nemu memang memaafkan sikap dan perlakuan dari Ulquiorra, yang meninggalkannya begitu saja dipesta. Akan tetapi untuk Orihime, sampai kapan pun tidak bisa memaafkannya karena merusak kebersamaannya dengan Ulquiorra.
"Akan kupastikan, kau hanya akan menjadi milikku Ulquiorra-kun."Batin Nemu.
.
.
.
Siang ini kelas Orihime tengah ada pelajaran olahraga. Namun Orihime terlihat hanya duduk diam dipinggiran lapangan dan terlihat sangat lesu sekali. Rukia yang tengah bermain bola voli langsung menghentikan kegiatannya dan menghampiri temannya itu.
"Orihime apa kau sakit?" tanya Rukia, ia langsung duduk disebelah Orihime.
"Tidak Rukia-chan," jawab Orihime dengan lesu.
"Lalu apa kau sedang ada masalah? Hari ini kau terlihat sangat lesu sekali dan tak bersemangat."
Orihime menghelas nafasnya dengan pelan, ia menoleh menatap Rukia dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Rukia. Tiba-tiba saja Orihime langsung memeluknya dengan sangat erat sekali dan tak lama terdengar suara isakkan dari Orihime.
"Ada apa Orihime? Mengapa kau menangis!?"
Namun bukannya berhenti tangis Orihime semakin pecah, membuat Rukia menjadi pusat perhatian teman-temannya yang tengah berada dilapangan olahraga. Sensei meminta agar Orihime dibawa ke ruang kesehatan saja, dan Rukia ikut menemaninya.
Saat ini keduanya tengah berada diruang kesehatan, dan kebetulan ruang kesehatan tengah sepi.
"Ada apa Orihime?" tanya Rukia dengan cemas.
"Rukia-chan, aku..."
"Kau kenapa Orihime?"
Orihime melambaikan tangannya memberikan tanda untuk Rukia mendekat kearahnya, saat Rukia sudah mendekat Orihime membisikkan seseuatu pada sahabatnya itu. Tiba-tiba saja kedua mata Rukia membulat sempurna saat mendengar bisikkan dari Orihime.
"Benarkah itu Orihime?!" seru Rukia dengan keras.
Orihime hanya menganggukan kepalanya dengan pelan menanggapi perkataan dari sahabatanya itu.
"Kalau begitu kuucapkan selamat." ujar Rukia dengan wajah yang sumeringah.
Orihime tertegun sesaat mendengarnya, bukannya Rukia merasa prihatin dan sedih padanya. Namun gadis cantik ini malah memberikan ucapan selamat padanya. Ia benar-benar merasa aneh dengan sahabatnya ini.
Semenjak kejadian beberapa waktu yang lalu, sikap Ulquiorra begitu berbeda sekali pada Orihime. Ia terlihat sedikit menjauh dan diam padanya, Orihime merasa kalau sang suami bersikap sangat aneh padanya. Apakah ia berbuat kesalahan dan mambuatnya marah sehingga Ulquiorra mendiamkan dirinya.
"Tuan," panggil Orihime dengan lembut.
"Ada apa, Hime?" tanya Ulquiorra tanpa menatap wajah Orihime dan terlihat masih asik memotong irisan daging steak dipiringnya.
"Apakah kau marah padaku?" tanya Orihime dengan takut-takut. Ia terlihat memperhatikan raut wajah sang suami.
Ulquiorra menghentikan sejenak acara makannya, dan menatap wajah sang istri dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Orihime.
"Tidak," ujar Ulquiorra dengan datar. Ia melanjutkan kembali makannya tanpa memperdulikan Orihime yang terlihat tidak puas dengan jawaban darinya.
"Tuan apa kau marah padaku? Jika iya. Aku minta maaf,"
"Tidak Hime. Cepat habiskan makananmu," ujar Ulquiorra dengan dingin.
Orihime benar-benar sangat kesal dan marah mendengar jawaban dari sang suami, "Aku selesai. Terima kasih atas hidangannnya Tuan," Orihime langsung meninggalkan meja makan dan kembali kekamarnya tanpa menghabiskan makan malamnya.
Ulquiorra menghela nafasnya dengan perlahan, lagi-lagi sang istri pergi meninggalkannya makan sendirian. Mau tak mau Ulquiorra juga langsung menyelesaikan makan malamnya. Dan kembali kekamar, menemui Orihime yang saat ini tengah marah padanya.
Saat ia masuk kekamarnya, Orihime tengah tiduran diatas kasur namun dengan posisi membelakangi dirinya.
"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.
"..."
Tak ada jawaban dari Orihime, ia masih diam dan membelakangi Ulquiorra.
"Hime," panggil Ulquiorra sekali lagi.
Namun hasilnya masih sama, Orihime masih diam dan tak mejawab, juga menyahuti panggilan darinya. Ulquiorra menghela nafasnya lagi dan langsung membalik tubuh Orihime agar bisa menatap wajahnya. Namun Orihime menatap wajah Ulquiorra dengan sebal dan pandangan matanya juga menusuk.
"Ap.."
Perkataan Orihime langsung terpotong, karena Ulquiorra menciumnya tepat dibibirnya. Ciuman darinya sangat lembut sekali, dan membuat Orihime terhanyut dan menikmati ciuman dari sang suami. Selama hampir tiga menit Ulquiorra memagut bibir Orihime ia melepaskannya.
"Masih marah padaku, Hime," goda Ulquiorra.
Wajah Orihime sedikit memerah melihat wajah Ulquiorra dan tiba-tiba saja ia langsung membalikkan badannya kembali, membelakangi tubuh Ulquiorra.
"Bukankah, Tuan yang marah padaku," sindir Orihime.
Dengan perlahan Ulquiorra membalikkan tubuh Orihime dan memandangi wajah cantik sang istri, "Aku tidak marah padamu, Hime," jelas Ulquiorra pada sang istri.
"Lalu mengapa, Tuan mendiamkan, juga terus menghindariku?" cecar Orihime.
"Itu..." Ulquiorra terlihat kikuk didepan Orihime.
"Berarti benar, kalau Tuan masih marah padaku," potong Orihime dengan cepat.
Ulquiorra memijat keningnya perlahan, ia sedikit pusing menghadapi sang istri yang tengah marah juga ngambek. Bukanya ia marah dengan Orihime, hanya saja dirinya tengah menata hati dan pikirannya saat menatap wajah Orihime. Yang belakangan ini selalu mengganggu pikiran dan hatinya. Ia takut tak bisa mengontrol hati dan perasaannya jika menatap wajah sang istri.
"Maafkan aku jika aku membuatmu kesal dan marah," ucap Ulquiorra dengan lembut.
Pria tampan bersurai hitam ini tidak tahu kalau sikap diamnya akan membuat perasaan Orihime sedih, ia juga sama merasakan hal yang dialami oleh Orihime. Akan tetapi Ulquiorra melakukan itu demi kebaikan sang istri karena tidak mau menodai kesucian sang istri.
GREP
Tiba-tiba saja Orihime memeluk tubuh sang suami dan menenggelamkan kepalanya didalam dada bidang milik Ulquiorra. Hal ini membuat Ulquiorra kaget sekali dan jantungnya hampir saja copot karena saking senangnya dengan sikap sang istri.
"Maafkan aku juga Tuan, karena selalu membuatmu kesal dengan sikapku yang seperti anak kecil,"
Ulquiorra membalas pelukkan dari sang istri, dan merengkuhnya dalam pelukkan yang hangat, "Sama-sama Hime."
Keduanya terlihat diam sejenak dan menikmati moment romatis ini, Ulquiorra mengelus pelan kepala Orihime dan sesekali mencium puncak kepala sang istri.
.
.
.
Malam ini diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, Nemu sang sekretaris pribadi Ulquiorra pergi kesebuah restaurant mewah dipusat kota. Dan saat iniNemu tengah duduk diam menatap bingung pria yang ada dihadapannya saat ini.
"Bagaimana Nemu Kurotsuchi, apakah kau mau menyetujuinya?" tanya pria itu sambil menyeringai kecil.
"Maaf aku tidak bisa melakukannya," tolak Nemu dengan tegas.
Pria ini terlihat marah dan kecewa mendengar ajakannya ditolak oleh Nemu.
"Ta..."
"Aku sudah mengatakannya padamu Tuan, aku tidak bisa mengkhianati Ulquiorra-kun. Jadi selamat malam." Nemu langsung bergegas pergi meninggalkan pria itu.
PRANG...
Pria ini membanting gelas minuman di depannya meluapkan rasa kesal dan amarahnya.
"Aku tidak akan menyerah Nemu Kurotsuchi, akan kubuat kau melakukannya." Desisnya.
TBC
Terima kasih sudah membaca Fic ini.
Jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka
