Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance
.
.
.
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.
PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
"Uekh...Uekh..." Orihime memuntahkan semua makan malam yang tadi dimakannya. Tak hanya itu saja perutnya juga terasa sangat mual sekali.
"Kau tak apa-apa Hime?" Ulquiorra terus mengelus-ngelus pelan punggung sang istri.
"Aku tidak apa-apa Tuan, mungkin hanya masuk angin saja," jawab Orihime dengan lemas.
Dengan langkah yang sedikit gontai dan dipapah oleh sang suami, Orihime berjalan keluar dari kamar mandi dan menuju kasur. Ulquiorra membantu sang istri berbaring diatas kasur dan menyelimuti tubuhnya. Tubuh sang istri juga agak sedikit panas dan hal ini membuat Ulquiorra sedikit cemas, saat ia hendak pergi mengambil alat pengukur suhu.
Orihime meraih tanganya dan menahannya, "Mau kemana Tuan!?" tanya Orihime dengan lemah.
"Aku hanya pergi mengambil obat." jawab Ulquiorra dengan diiringi oleh senyuman.
"Jangan pergi." rengek Orihime dengan manja.
Ulquiorra tersenyum simpul mendengar perkataan sang istri, pria tampan bermata Emerald ini-pun mengurungkan niatnya mengambil alat pengukur suhu. Dan duduk berbaring disamping sang istri untuk menemaninya, tiba-tiba saja Orihime endekatinya lau menyandarkan kepalanya didada bidangnya.
Ulquiorra sangat senang dengan sikap Orihime yang seperti ini, ia tidak menyangka kalau istrinya bisa berbuat hal seperti ini.
"Perutmu masih mual?" tanya Ulquiorra dengan lembut, seraya mengelus pelan rambut Orihime.
"Hm," dengan pelan Orihime menganggukkan kepalanya.
"Istirahatlah, aku akan menemanimu hingga kau tertidur." Ulquiorra mengecup pelan kening sang istri dengan penuh kasih.
"Terima kasih Tuan." ucap Orihime dengan pelan, tak lama ia menutup kedua matanya. Ulquiorra masih duduk menyandar dikasur seraya memeluk tubuh sang istri. Sesekali ia mengecup pelan puncak kepala Orihime.
Saat-saat seperti ini membuatnya merasa senang dan nyaman sekali. Tak ada hal yang membuatnya bahagia selain bisa menikmati waktu berdua dengan sang istri.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamarnya, Ulquiorra-pun menaruh kepala sang istri ke atas bantal dengan pelan lalu segera beranjak tutun dari kasur dan membuka pintu kamarnya. Dan saat dibuka ia melihat Menolly tengah berdiri didepan pintu kamarnya.
"Ada apa Menolly?" tanya Ulquiorra dengan pelan karena takut membangunkan Orihime.
"Maaf Tuan jika saya mengganggu anda. Nona Nemu, sekretaris Tuan tengah menunggu diruang tamu." jawab Menolly dengan sopan dan suara pelan.
Ulquiorra terlihat cukup kaget mendengarnya, ia pun segera pergi menemui Nemu. Ia merasa heran, ada apa malam-malam seperti ini Nemu datang kerumahnya. Saat Ulquiorra menemui Nemu, bisa ia lihat dengan jelas kalau penampilan gadis itu terlihat cukup berantakan dan kotor, tak hanya itu ia juga terlihat menangis.
"Nemu ada apa? Mengapa keadaanmu seperti ini?" tanya Ulquiorra dengan cemas.
"Tuan," Nemu langsung menghambur memeluk tubuh Ulquiorra dan menangis dalam pelukkannya.
Hal ini semakin membuat Ulquiorra menjadi sangat bingung sekali, apa yang terjadi dengan temannya itu.
"Ada apa Nemu? Coba kau ceritakan padaku," ujar Ulquiorra dengan pelan.
Tak lama Menolly datang membawakan teh hangat untuk Nemu.
"Minumlah teh ini dan tenangkan dirimu dulu," Ulquiorra memberikan secangikr teh utuk Nemu.
Dengan cepat Nemu langsung meminumnya hingga ia tersedak.
"Uhuk..."
"Hati-hati Nemu," Ulquiorra memukul-mukul pelan punggung Nemu.
Tanpa Ulquiorra sadari kalau perbuatannya ini membuat hati Nemu sangat senang sekali dan wajahnya merona merah. Dengan pelan-pelan Nemu menceritakan apa yang tengah menimpanya saat ini. Ia berkata kalau sekelompok orang tak dikenal menghadangnya saat hendak pulang. Tubuh Nemu terlihat gemetaran saat menceritkannya.
"Tenanglah Nemu saat ini kau sudah aman," Ulquiorra mencoba menenangkan Nemu.
"Te-te-terima ka-kasih Tuan," Nemu terlihat sangat gugup sekali.
Gadis cantik ini melanjutkan ceritanya kembali pada Ulquiorra dengan berlinangan air mata. Nemu hampir saja menjadi korban pemerkosaan dari sekelompok pria tidak dikenal. Namun untung saja Nemu bisa meloloskan diri dan langsung pergi kekediaman Ulquiorra, karena saking takut dan paniknya.
Ulquiorra merasa kasihan dan sedikit sedih saat mendengar penuturan dari Nemu, "Kalau begitu, menginap saja dirumahku malam ini. Banyak kamar kosong dirumah ini," ujar Ulquiorra.
Wajah Nemu langsung terlihat senang sekali dan tersenyum dengan lebar, tanpa pikir panjang ia langsung memeluk tubuh Ulquiorra. Dan tanpa sengaja Orihime yang baru turun dari tangga melihat kejadian itu.
"Terima kasih Tuan," isak Nemu dalam pelukkan Ulquiorra.
"Sama-sama Nemu. Itulah gunanya teman," Ulquiorra mengelus pelan punggung Nemu, dan saat dirinya menoleh kedepan, ia melihat sang istri tengah berdiri mematung melihat dirinya yang tengan berpelukkan dengan Nemu.
"Hime!" seru Ulquiorra dengan kaget.
Orihime langsung berbalik badan dan menaiki tangga kembali, keinginannya untuk minum hilang begitu saja. Entah mengapa dadanya terasa sangat sakit melihat hal itu didepan matanya, dan seketika air matanya menetes.
"Maaf Tuan gara-gara aku istri anda," ucap Nemu yang merasa tak enak hati.
"Sudahlah Nemu, jangan merasa bersalah," ujar Ulquiorra dengan tenang.
"Menolly," panggil Ulquiorra pada pelayan kepercayaannya.
"Ya Tuan ada apa?" tanya Menolly dengan sopan.
"Tolong kau antarkan Nona Nemu, kekamar tamu," ujar Ulquiorra.
"Maaf Nemu aku tak bisa mengantarkanmu kekamar. Oh ya, jika kau membutuhkan sesuatu, panggil saja Menolly, ia akan melayanimu," ujar Ulquiorra.
"Terima kasih Tuan dan selamat malam."
"Selamat malam juga, Nemu." balas Ulquiorra tak lama ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya.
"Ayo Nona Nemu, saya antarkan kekamar anda." ujar Menolly dengan sopan dan ramah.
Nemu mengikuti langkah kaki Menolly yang mengantarnya kekamar tamu, akan tetapi sesekali ia melirik Ulquiorra yang berjalan menaiki tangga dengan tergesa-gesa.
Ulquiorra langsung pergi kekamarnya menemui sang istri, yang salah paham dengan kejadian yang dilihatnya tadi. Benar saja saat Ulquiorra masuk kekamar, keadaan kamar sudah gelap. Ia melihat Orihime tengah meringkuk diatas kasur dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.
"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut. Ia beranjak naik keatas kasur dan mendekati sang istri.
"Hime, apakah kau sudah tidur?" ujar Ulquiorra.
"..."
Orihime terdengar diam dan tak menyahuti perkataan dari Ulquiorra dan tak lama terdengar suara Orihime yang menangis dari balik selimut.
"Hiks..." isak Orihime dengan pelan didalam selimut.
Walaupun suaranya pelan, Ulquiorra bisa mendengarnya dan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Orihime, ia langsung membalik tubuh sang istri. Walaupun suasana kamar gelap namun, berkat cahaya bulan yang menerobos masuk kedalam kamarnya, bisa ia lihat dengan jelas wajah Orihime yang sembab karena menangis.
"Ada apa Hime, mengapa kau menangis?" tanya Ulquiorra dengan cemas, ia mengusap air mata sang istri.
Namun dengan kasar Orihime menepis tangan Ulquiorra dari wajahnya, ia kembali membelakangi tubuh Ulquiorra. Saat ini ia sedang marah, kesal dan sedih melihat wajah suaminya itu.
"Apa kau marah Hime, melihat kejadian tadi? Jika ia, kau salah sangka. Itu semua tidak terlihat seperti apa yang kau bayangkan. Percayalah padaku Hime," ujar Ulquiorr mencoba meyakinkan sang istri.
"..."
Orihime hanya diam dan tak menggubrisnya sama sekali, ia masih menutupi tubuhnya dengan selimut tebal dan menangis. Ulquiorra menghela nafasnya dengan berat.
"Apa kau cemburu Hime?" pancing Ulquiorra.
Orihime langsung keluar dari dalam selimut dan duduk menatap sang suami dengan mata yang sembab, "T-Tidak!" seru Orihime.
"A-Aku tidak cemburu," elaknya.
"Kalau tidak cemburu? Lantas kau marah dan menangis karena apa!?" tanya Ulquiorra yang membuat Orihime sedikit terpojok. Orihime terlihat diam tak berkutik didepan Ulquiorra.
"Aku tidak tahu," teriak Orihime seraya masuk kembali kedalam selimut.
Wajahnya bersemu merah karena malu, ia tidak berani menatap wajah sang suami. Ulquiorra tersenyum senang melihat sikap Orihime yang seperti ini. Ia sangat senang kalau sang istri merasa cemburu, itu menandakan kalau Orihime memiliki perasaan padanya.
GREP...
Ulquiorra memeluk tubuh Orihime yang terbalut selimut tebalnya. Orihime kaget sekali dengan sikap Ulquiorra.
"Tuan," serunya.
Pelukkan dari Ulqiorra sangat erat sekali, membuatnya sangat sesak dan gerah berada didalam selimut. Mau tak mau Orihime, keluar dari tempat persembunyiannya dan menampakkan wajahnya pada Ulquiorra.
"Tuan, aku sesak. Lepaskan pelukkanmu dariku," rontanya berusaha melepaskan pelukkan dari Ulquiorra.
"Tidak mau," tolak Ulquiorra, ia sengaja mengeratkan pelukkannya pada Orihime.
Karena merasa sesak sekali, Orihime keluar dari dalam selimut dan membesakan dirinya dari pelukkan erat sang suami. Saat hendak berusaha beranjak turun dari kasur, Ulquiorra keburu memeluknya dari belakang.
"Kau mau kemana Hime?" bisik Ulquiorra ditelinga kanan Orihime, wajah Orihime merona merah dengan hebat akibat perbuatan sang suami. Sedangkan Ulquiorra sangat senang sekali dengan reaksi dari istrinya.
"T-Tuan he-hentikan," ujar Orihime dengan gugup.
"Apa kau masih marah padaku?" tanya Ulquiorra, ia masih mengurung sang istri dalam pelukkannya.
"T-Tidak," jawab Orihime dengan cepat.
"Benarkah itu," Ulquiorra menciumi puncak kepala sang istri.
"Aku tidak mau melihatmu marah dan cemburu, gara-gara melihat kejadian tadi. Bagiku Nemu sudah kuanggap sebagai adik perempuanku dan juga sahabat baikku," jelas Ulquiorra.
Orihime hanya diam dan meremas erat pergelangan tangan Ulquiorra, "Jangan memeluk perempuan lain didepanku," ujar Orihime dengan tiba-tiba.
Ulquiorra cukup kaget mendengar perkataan dari sang istri, namun tak lama ia tersenyum simpul, "Baiklah Hime,"
Ulquiorra membalikkan badan Orihime dengan perlahan, "Sudah jangan menangis lagi. Wajahmu jelek sekali kalau menangis," ledek Ulquiorra seraya mengusap air mata sang istri.
GREP
Orihime langsung menghambur memeluk sang suami dengan erat sekali dan dengan samar-samar Ulquiorra bisa mendengar suara Orihime yang berkata 'Gomenasai'. Hal ini mengudang senyuman lebar diwajah Ulquiorra saat mendengarnya.
CUP
Ulquiorra mencium lembut bibir Orihime, awalnya kedua mata Orihime membulat sempurna namun dengan perlahan gadis cantik ini memejamkan kedua matanya dan menikmati ciuman dari sang suami.
Setelah hampir tiga menit Ulquiorra memagut bibir Orihime, ia melepaskannya. Bisa Ulquiorra lihat bibir Orihime yang sedikit basah akibat ciumannya tadi dan wajah sang istri terlihat merona merah. Ulquiorra sangat menyukai pipi Orihime yang selalu merona merah saat ia cium dan dimatanya Orihime terlihat sangat manis sekali.
"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.
"Y-ya," sahut Orihime dengan gugup, ia masih menundukkan wajahnya dan tak berani menatap wajah sang suami.
"Ayo kita tidur, bukankah besok kau harus pergi kesekolah." ajak Ulquiorra seraya mengulurkan tangannya.
Orihime mengangkat wajahnya dan meraih tangan sang suami, "Hm."
Mereka berdua-pun merebahkan tubuh kekasur. Orihime mendekatkan tubuhnya pada sang suami dan merebahkan kepalanya kedada bidang Ulquiorra, menghirup aroma tubuh sang suami yang sangat menyegarkan hidungnya.
"Selamat tidur Tuan." gumam Orihime dengan pelan, tak lama kedua matanya terpejam.
"Selamat tidur juga Hime." balas Ulquiorra seraya mengecup kening Orihime.
Keduanya-pun langsung terlelap dan menuju kealam mimpi mereka masing-masing. Tanpa tahu dan sadar kalau sejak tadi seseorang tengah memperhatian mereka berdua dari balik celah pintu kamar mereka yang terbuka dengan persaan marah, iri dan cemburu.
*#*
Pagi ini suasana di meja makan dikediaman Ulquiorra sedikit memanas, karena pagi ini Nemu yang memasak semua menu sarapan pagi untuk Ulquiorra dan menyiapkan semua kebutuhan pria tampan bermata Emerald itu, dan hal ini membuat Orihime tidak senang dan cemburu tentunya.
"Selamat pagi, Orihime-san," sapa Nemu dengan ramah dari meja makan, gadis manis ini terlihat tengah menata sarapan pagi diatas meja makan.
Orihime terlihat diam dan tak membalas sapaan dari Nemu, gadis bermata abu-abu ini malah terlihat diam mematung didepan ruang makan. Tak lama Ulquiorra datang keruang makan dengan mengenakan pakaian kerjanya.
"Selamat pagi Tuan," sapa Nemu dengan ramah dan lembut.
Bisa Orihime lihat wajah Nemu langsung terlihat begitu berbeda saat melihat Ulquiorra dan hal ini membuat Orihime sedikit curiga pada sekretaris pribadi sang suami.
"Selamat pagi juga Nemu," balas Ulquiorra seraya duduk dimeja makan.
"Wah! Sepertinya enak, kau yang memasak semua ini Nemu?" tanya Ulquiorra pada temannya itu.
"Ya Tuan, ini sebagai bayaran karena memperbolehkanku menginap disini," jawab Nemu dengan wajah sedikit bersemu merah.
Orihime masih terlihat diam berdiri di depan ruangan makan, nafsu makanya langsung hilang begitu saja melihat pemandangan Nemu yang melayani Ulquiorra, layaknya seorang istri. Terlebih Ulquiorra sangat senang dan menikmati masakan dari Nemu.
"Hime, ayo duduk. Mengapa kau hanya diam berdiri disana?" ujak Ulquiorra dari arah meja makan.
"Maaf Tuan aku..." Orihime langsung pergi meninggalkan ruang makan tanpa menyelesaikan perkataannya.
"Hime," panggil Ulquiorra seraya mengejar Orihime.
GREP...
Ulquiorra berhasil meraih tangan Orihime, "Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.
Namun Orihime menepis tangan Ulquiorra dengan kasar dan langsung masuk kedalam mobil.
Suasana hatinya pagi ini sangat tidak enak, terlebih dengan keberadaan Nemu sang sekrertaris sekaligus teman baik dari Ulquiorra. Namun tetap saja melihat kedekatan mereka berdua didepan matanya membuat hati Orihime panas.
"Starrk, tolong cepat jalan," ujar Orihime dengan wajah yang terlihat sangat bĂȘte sekali.
"Baik Nona muda." sahut Starrk.
BUUMMM...
Srarrk melajukan mobil dan membawa sang Nona pergi kesekolah. Selama diperjalanan ke sekolah, wajah Orihime terlihat terus ia tekuk membuat Starrk yang diam-diam melihat sang Nona dari kaca depan merasa heran.
Ulquiorra hanya mendesah pasrah melihat sikap ngambek dan cemburuan dari Orihime. Sepertinya ia harus bisa menjaga sikapnya pada Nemu jika didepan sang istri. Ulquiorra pun kembali kemeja makan dan memakan sarapannya walaupun ia sedikit kehilangan selera makannya karena Orihime tidak menemaninya dimeja makan.
X0X0X0X0X0X0X0X
Sejak tadi pagi sikap Orihime sangat aneh dan berbeda dari biasanya, gadis cantik bersurai orange ini terlihat murung dan cemberut. Membuat Rukia, sahabatnya menjadi cemas.
Rukia menatap heran dan bingung pada Orihime, "Hei, Orihime kau ini kenapa?!" tanya Rukia dengan penasaran.
"Aku sedang sebal Rukia-chan," jawab Orihime dengan malas. Gadis manis ini masih menyenderkan kepalanya diatas mejanya.
"Memangnya kau sebal dengan siapa?" tanya Rukia dengan bingung. Gadis manis ini masih memperhatikan wajah Orihime yang masih saja ditekuk.
"Tuan," jawabnya singkat.
"Hah?!" Rukia terlihat bingung dengan jawaban Orihime.
Orihime langsung mengangkat wajahnya dan menatap Rukia,"Aku sedang sebal dengan Ulquiorra-kun," ujar Orihime seraya memajukan bibirnya.
"Oh," Rukia menanggapinya dengan datar.
"Tapi mengapa kau memanggilnya dengan Tuan Orihime, bukankah ia adalah suamimu?" tanya Rukia dengan sedikit mengintrogasi.
"Aku belum terbiasa memangilnya dengan namanya, aku masih canggung," jelas Orihime.
"Bukankah kau dan dia sudah me..."
Dengan cepat Orihime langsung membekap mulut gadis mungil itu, "Sst...Jangan katakan hal itu didepan umum,"
"Hmph..." Rukia terlihat berusaha melepaskan bekapan tangan Orihime dimulutnya dan berhasil.
"Hah...Hampir saja aku mati," Rukia terlihat bernafas dengan lega.
Disaat Rukia hendak memarahi Orihime, tiba-tiba saja perut sahabatnya itu berbunyi dengan kerasnya. Membuat gadis bersurai hitam ini sedikit tertawa karena suara dari Orihime yang sangat besar sekali, untuk ukuran seorang perempuan.
KRUCUKK...
Orihime langsung memegangi perutnya, "Aku lapar sekali," keluhnya.
"Dasar kau ini," sindir Rukia.
Gadis manis bersurai hitam ini, terlihat merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan memberikan sebuah bungkusan berwarna hijau toska pada Orihime.
"Apa ini Rukia-chan?!" tanya Orihime dengan bingung.
"Racun," jawab Rukia dengan asal.
Wajah Orihime langsung terlihat ngeri menatap bungkusan berwarna hijau toska dari Rukia.
"Kau mau membunuhku Rukia-chan?"
"Haah~~" Rukia menghela nafasnya dengan cepat, ia merasa bingung dan heran kenapa sifat polos dan bodoh dari Orihime masih saja terus melekat dan tak bisa hilang juga.
"Ini bekal makan siang, bukankah kau lapar," ujar Rukia dengan menahan emosi hatinya, memang kalau menghadapi Orihime harus ekstra sabar.
Mendengar itu Orihime langsung membuka bungkusan itu dan memakannya dengan lahap, Rukia tersenyum kecil melihat cara makan Orihime. Memang kalau mengenai makanan Orihime Ratunya, karena walaupun bisa terbilang langsing. Namun nafsu makan Orihime sangatlah besar.
"Apakah enak?" tanya Rukia.
Orihime menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan senang, "Enak, terima kasih Rukia-chan atas bekal makan siangnya,"
"Berterima kasihlah pada suamimu, karena dia yang membuat dan mengantarkannya," ujar Rukia dengan tiba-tiba.
Orihime terlihat kaget mendengarnya, "Apa?!" seru Orihime.
"Oh ya, Ulquiorra juga memintaku untuk menyuruhmu meminum obat ini," Rukia memberikan sebuah bungkusan yang berisikan obat pada Orihime.
"Kapan Ulquiorra-kun mengantarkan ini?" tanya Orihime dengan bingung.
Rukia menceritakan kalau Ulquiorra datang kerumahnya tadi pagi dan menitipkan bekal makan siang juga obat untuk Orihime.
Ulquiorra merasa khawatir dengan Orihime, karena tadi pagi sang istri pergi kesekolah tanpa sempat sarapan padahal Orihime sedang sakit.
Orihime merasa senang dan terharu mendengar cerita dari Rukia, ia tidak menyangka kalau sang suami akan bisa bersikap seperti itu padanya. Orihime langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Ulquiorra.
Awalnya telpon dari Orihime tidak langsung dijawab oleh Ulquiorra dan gadis cantik ini langsung mematikan ponselnya. Ia berfikir kalau Ulquiorra marah dengan sikapnya yang tadi pagi. Namun tak lama Ulquiorra menghubunginya.
Drrrtt...Drrrt...
Ponsel Orihime bergetar dengan keras dan saat dilihat ternyata Ulquiorra menghubunginya, dengan perasaan yang sedikit gugup Orihime menjawab telpon dari sang suami.
"Ha-hallo," ucap Orihime denga gugup.
"Hime, ada apa kau menghubungiku?" tanya Ulquiorra dengan lembut.
"Terima kasih," ujar Orihime dengan tiba-tiba.
"Untuk apa Hime?!" tanya Ulquiorra dengan bingung.
"Terima kasih untuk bekal makan siangnya dan..." Orihime terlihat menggantungkan kalimatnya, lidahnya terasa kelu saat mengatakan kelanjutan kata-katanya.
"Hime," panggil Ulquiorra.
"Maafkan aku atas sikapku yang tadi pagi," jawab Orihime dengan malu.
"Sama-sama Hime, apakah kau suka dengan masakanku? Obatnya juga sudah kau minum?" tanya Ulquiorra dengan sedikit cemas.
Orihime sedikit menyungginkan senyum diwajah cantiknya saat mendengarnya, "Ya, rasanya sangat enak sekali dan terima kasih U..." Orihime menggantungkan kalimatnya lagi. Namun kali ini Orihime benar-benar merasa sangat berat sekali mengatakan ini pada Ulquiorra.
"Hi..."
"Terima kasih... Ulquiorra-kun," ucap Orihime dengan malu.
Andai saja Ulquiorra bisa melihat wajah Orihime yang bersemu merah ketika mengatakannya. Tanpa sempat mendengar perkataan dari Ulquiorra, Orihime langsung menutup ponselnya, dirinya benar-benar sangat malu sekali menyebutkan nama sang suami. Baru pertama kalinya Orihime memanggil Ulquiorra-kun bukannya Tuan.
Ulquiorra tersenyum senang mendengar Orihime memanggil namannya terlebih dibelakang namanya, sang istri menambahkan sufik-kun membuat Ulquiorra sangat senang sekali dan wajahnya terus tersenyum.
"Tuan ada apa?" tanya Nemu dengan bingung. Karen sejak menelpon entah siapa,wajah Ulquiorra terus terlihat tersenyum dan senang sekali.
"Tidak ada apa-apa Nemu,"
Namun jawaban dari Ulquiorra tidak lantas membuat Nemu percaya, gadis cantik ini yakin kalau Ulquiorra tadi menghubungi Orihime. Entah apa yang dikatakan oleh Orihime pada Ulquiorra, sehingga membuat pria bermata Emerald ini terlihat sangat senang dan bahagia sekali.
.
.
.
SRENG...SRENG...
Malam ini Orihime memasak seluruh makan malam untuk Ulquiorra, demi meminta maaf dan membalas kebaikan hati suaminya. Orihime memasakkan makanan kesukaan dari Ulquiorra. Dengan bantuan dari Menolly, Orihime memasak menu kesukaan dari Ulquiorra, yang semuanya adalah masakan Eropa.
"Anda sangat pintar sekali Nona Orihime, aku yakin pasti Tuan akan suka dengan masakan Nona," puji Menolly.
Wajah Orihime sedikit bersemu merah, "Terima kasih Menolly."
Mobil mewah sport berwarna hitam terlihat memasuki pekarangan kediaman mewah Sachiffer, dan tak lama seorang pria bermata Emerald turun dari dalam mobil dan melangkah masuk kedalam rumah. Para pelayan terlihat sudah berdiri didepan pintu menyambut kedatangannya.
"Selamat datang Tuan." sapa para pelayan seraya membungkuk hormat.
Ulquiorra melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, saat melewati dapur ia mencium aroma masakan dari arah dapur. Karena penasaran Ulquiorra melihat kedapur.
"Hime!" serunya.
Ulquiorra melihat Orihime yang tengah sibuk memasak, Menolly yang menyadari kedatangan sang Tuan ingin memberi salam, namun dilarang oleh Ulquiorra.
"Ssst..." Ulquiorra meletakkan salah satu jarinya.
Pelayan cantik ini langsung pamit pergi meninggalkan dapur, karena saking konsentrasinya Orihime tidak sadar kalau Ulquiorra sudah berdiri dibelakanganya dan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Orihime.
"Kau masak apa Hime?" tanya Ulquiorra seraya meletakkan dagunya dibahu kanan Orihime.
"A-an-da su-sudah pu-pulang Tu-Tu-an?" tanya Orihime dengan sangat gugup.
"Kenapa kau masih memanggilku Tuan, Hime? Bukankah tadi siang kau memanggilku Ulquiorra-kun," goda pria bermata Emerald itu pada gadis yang ada didalam pelukkannya saat ini.
"I-i-tu..." Orihime terlihat sangat gugup sekali dan tak bisa membalas perkataan sang suami.
CUP
Tiba-tiba Ulquiorra mengecup singkat pipi kanan Orihime dan tersenyum lebar menatap sang istri, "Aku pulang,"
Orihime tertegun sesaat menerima kecupan singkat dari sang suami namun tak lama kesadaraannya pulih.
"Selamat datang," balas Orihime seraya tersenyum lembut.
Orihime melepaskan pelukkan Ulquiorra dan langsung mendorong tubuh sang suami keluar dari dapur.
"Mandi dulu sana, jangan kemeja makan sebelum anda mandi. Jika berani melanggar aku akan memberi hukuman," ancam Orihime.
Ulquiorra terkekeh kecil menanggapinya, "Baik Tuan Putri," Ulquiorra langsung pergi meninggalkan dapur.
Sementara sang suami mandi, Orihime menata masakan dimeja makan. Ia terlihat senang melihat hasil masakannya untuk Ulquiorra, walaupun tak semewah masakan yang dibuat Nemu namun Orihime sudah berusaha membuatnya.
"Hmm, dari baunya sangat enak. Kau yang memasak semuanya Hime?" selera makan Ulquiorra langsung tergugah melihat masakan sang istri.
"Ya, makanlah yang banyak dan jangan disisakan."
"Baik Tuan Putri." sahut Ulquiorra dengan setengah menggoda.
Ulquiorra terlihat sangat menikmati masakan dari Orihime, walaupun ada beberapa masakan yang sedikit gosong namun Ulquiorra memakannya hingga habis. Para pelayan yang melihat nafsu makan sang Tuan sangat heran, karena tak biasanya Tuan mereka akan makan selahap itu terlebih dengan wajah yang terlihat gembira.
Kehidupan Orihime dan Ulquiorra terlihat sangat begitu indah dan harmonis, walaupun Orihime belum bisa membuka dan memberikan hatinya sepenuhnya, namun kini sedikit demi sedikit Orihime mulai menunjukkan perasaannya pada Ulquiorra. Namun mereka berdua tidak menyadari kalau akan ada badai besar yang akan menerpa kehidupan mereka berdua.
TBC
Terima kasih sudah mau membaca Fic ini.
Jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka.
