Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Saat ini tengah terjadi ketegangan antara Ulquiorra dan Orihime, keduanya terlihat berdebat satu sama lain dan tak ada dari mereka berdua yang mau mengalah dalam perdebatan ini.

"Pokoknya aku tidak mengijinkannya," ujar Ulquiorra dengan tegas.

"Aku tetap ingin ikut, dan anda tidak bisa melarangnya," Orihime tetap bersikeras ingin tetap ikut.

"Aku tetap tidak akan mengijinkan untuk pergi,"

"Tapi aku..."

"Cukup Hime! Apapun yang kau katakan, aku tidak akan mengijinkanmu pergi," Ulquiorra langsung beranjak pergi meningalkan Orihime sendirian dikamar.

"Huh, menyebalkan!" dengus Orihime.

Bulan depan sekolah Orihime akan melakukan study tour dan akan mengingap selama tiga hari dua malam dipenginap dekat pantai. Hal ini disambut gembira oleh Orihime yang sangat menantikannya. Namun tidak bagi Ulquiorra yang merasa sedih dan tidak mau Orihime ikut study tour dari sekolahnya, makanya pria bermata Emerald ini melarang mati-matian Orihime untuk pergi dan tidak mau membayarkan biaya study tour Orihime.

"Walaupun Ulquiorra-kun melarangku, aku akan tetap pergi bagaimanapun juga," gumam Orihme.

Jika Ulquiorra tidak mau membayarkan biaya study tour-nya, maka Orihime sendiri yang mencari uang untuk membayarnya. Karena Orihime sangat ingin sekali pergi berlibur dipantai dan menikmati libur musim panas bersama teman-temannya.

"Starrk satu bulan ini kumohon padamu untuk tidak mengantar jemputku kesekolah," pinta Orihime pada supir pribadinya.

Starrk terlihat sangat bingung dengan permintaan sang Nona yang dirasanya sangat aneh dan janggal menurutnya.

"Tapi No..."

"Kumohon padamu Starrk," Orihime membungkukkan badannya pada Starrk.

Orihime benar-benar sangat membutuhkan bantuan Starrk agar bisa bekerja part time tanpa diketahui oleh sang suami.

Permintaan dari sang Nona membuat pria paruh baya itu merasa bingung. Namun melihat sang Nona memohon padanya membuatnya tidak enak hati dan mau tidak mau, Starrk menuruti permintaan sang Nona.

"Baiklah Nona muda saya akan melakukannya," ucap Starrk memenuhi keinginan sang Nona.

Orihime terlihat sangat senang sekali karena Starrk mau membantunya.

"Terima kasih Starrk." dengan reflek Orihime memeluk tubuh Starrk.

Wajah Starrk terlihat sedikit memerah saat sang Nona memeluk dirinya, "No-Nona saya mohon lepaskan pelukkan anda." pinta Starrk dengan sedikit gugup.

Gadis cantik ini langsung melepaskan pelukkannya dari Starrk dan bergegas pergi masuk kedalam sekolah. Bagaimanapun Orihime harus bisa mendapatkan uang demi membayar biaya study tour itu. Dan mulai hari ini Orihime akan mulai bekerja sambilan disebuah kedai kopi sebagai pelayan.

Dan setiap harinya Rukia yang akan mengatar jemput Orihime dicafe.

"Hei Orihime apa kau yakin mau bekerja ditempat ini?" tanya Rukia untuk memastikan kembali keputusan temannya itu.

"Yap, aku yakin. Sebagai sahabat seharusnya kau mendukungku Rukia-chan,"

"Ya, aku mendukungmu Orihime," Rukia menanggapinya dengan santai.

"Namun kuharap suamimu itu tidak menghancurkan tempat ini karena memperkerjakanmu sebagai pelayan." sambung Rukia dengan sedikit takut.

Orihime hanya terkekeh kecil menanggapi rasa cemas dari sahabatnya.

Rukia sangat tahu sifat Ulquiorra sangatlah overprotektif pada Orihime, terlebih Rukia masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu yang terjadi dirumahnya. Hanya karena Orihime pulang telat Ulquiorra membawa serombongan polisi, detektif bahkan ada helicopter diatas rumahnya hanya demi mencari keberadaan Orihime.

"Ya sudah aku pulang, hati-hati saat bekerja. Hubungi aku jika kau pulang karena aku yang akan menjemputmu." ujar Rukia dari dalam mobil.

"Hmm," sahut Orihime seraya tersenyum.

Tak lama Rukia pergi dengan mobil pribadinya dan meninggalkan Orihime didepan sebuah kedai kopi. Dengan mantap Orihime mulai masuk kedalam kedai dan memulai pekerjaannya.

Orihime memulai pekerjaannya sebagai pelayan, hal ini baginya bukanlah sesuatu yang baru mengingat dulu sebelum ia bertemu dan menikah dengan Ulquiorra, sudah banyak pekerjaan paruh waktu yang dilakukan oleh Orihime.

"Selamat datang dicafe ini Tuan." sapa Orihime dengan ramah pada seorang pria tinggi bersurai hitam yang baru masuk kedalam cafe.

Pria ini langsung duduk dimeja yang sudah disediakan oleh cafe, ia menaruh tasnya dan terlihat mulai mengeluarkan sebuah Laptop berwarna biru diatas meja. Pria tampan ini memesan secangkir kopi hitam tanpa gula dan sepotong kue rasa keju.

Saat Orihime mengantarkan pesanan tiba-tiba keseimbangannya hilang, ia merasa ada orang yang menyandung kakinya. Nampan yang berisikan kopi juga kue yang tengah dibawanya langsung terjatuh dan mengenai pria yang ada didepannya saat ini.

"Panas!" jerit pria bersurai hitam ini seraya mengibas-ibaskan tangan kanannya yang terkena tumpahan kopi panas dari Orihime.

"Maafkan saya Tuan, saya tidak sengaja," Orihime terlihat hendak membersihkan tubuh pria itu yang kotor terkena tumpahan kopi dan kue.

"Hati-hati Nona saat berjalan," ucap Pria ini dengan datar.

"Maafkan saya Tuan, maaf," ujar Orihime seraya membersihkan tubuh pria itu.

Kejadian ini sedikit mengundang perhatian para pengunjung cafe juga sang manajer café yang langsung datang menghampiri Orihime dan pria itu. Pria bertubuh tinggi gempal yang merupakan manajer café terlihat sangat marah pada Orihime.

"Sudahlah Tuan, ia tidak sengaja melakukannya lagi pula aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil," pria itu memperlihatkan tangannya yang terkena tumpahan kopi panas dari Orihime.

"Maafkan saya Tuan, saya benar-benar tidak sengaja melakukannya," Orihime terlihat menundukkan wajahnya dan hampir menangis.

"Tapi Tuan dia..."

"Sudahlah tidak apa-apa, kasian sekali Nona manis ini jika terus dimarahi. Lihat wajahnya terlihat hampir menangis," ujar pria ini dengan lembut.

Orihime masih diam dan menundukkan wajahnya tak berani menatap pria yang ada didepannya saat ini. Sang manajer tidak jadi memecat dan memarahi Orihime, karena pria yang ditumpahkan kopi oleh Orihime tidak marah dan malah merasa kasihan melihat Orihime yang hampir saja menangis karena dimarahi oleh manajer café.

"Terima kasih Tuan atas bantuannya, sekali lagi saya meminta maaf karena saya menumpahkan kopi ketubuh anda," lagi-lagi Orihime membungkukkan tubuhnya pada pria itu.

"Sudahlah Nona jangan seperti itu, panggil saja aku Tsukishima,"

Orihime terlihat tertegun sesaat ketika mendengarnya, pria itu terlihat malah mengulurkan salah satu tangannya.

"Shukuro Tsukishima dan siapa namamu Nona manis?" tanya Tsukishima yang malah mengajak berkenalan pada Orihime.

Dengan sedikit ragu Orihime meraih tangan pria itu dan menjabat tangannya, "Orihime Inoue, senang berkenalan dengan anda." ucap Orihime dengan sedikit gugup.

"Sama-sama Orihime." balas Tsukishima dengan ramah.

Setelah membereskan pecahan gelas dan kue yang berserakan dilantai, Orihime pergi meninggalkan Tsukishima sendirian menikmati hidanganya. Tanpa Orihime sadari dan ketahui kalau Tsukishima menatap tajam dan membunuh pada Orihime.

"Akhirnya kita bertemu juga Nona manis," Tsukishima menatap tajam dan penuh benci pada Orihime yang merupakan istri dari Ulquiorra.

"Tunggu hadiah kecilku Orihime Sciffer." gumam Tsukishima seraya menyeringai kejam.

.

.

.

Sudah hampir satu minggu Orihime bekerja dikedai kopi milik kenalan dari kekasih Rukia. Dan sudah seminggu pula Orihime berkenalan dengan Tsukishima, pria yang tanpa sengaja ia tumpahkan kopi.

"Ini pesanan anda Tsukishima-san. Kopi hitam tanpa gula dan kue rasa keju," ujar Orihime seraya meletakkan pesanan diatas meja Tsukishima.

"Terima kasih Orihime-chan," Tsukishima langsung meminum kopinya.

Orihime langsung pergi setelah mengantarkan pesanan Tsukishima, namun pria tinggi dan tampan ini biasa duduk lama didalam cafe seraya mengutak-atik Laptopnya. Tsukishima akan pergi jika Orihime sudah pulang kerja.

"Terima kasih atas hari ini dan selamat malam semuanya," pamit Orihime pada teman kerjanya dicafe.

Dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, Orihime berdiri didepan cafe menunggu Rukia menjemputnya. Karena ia membohongi Ulquiorra kalau selama satu bulan ini Orihime akan pergi belajar dirumah Rukia, dan agar kebohongannya ini tidak terbongkar Orihime harus pulang sebelum jam delapan malam.

Drrrt...

Ponsel Orihime bergetar dengan kerasnya, dan gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini mengangkatnya.

"Hallo,"

"Orihime," panggil Rukia.

"Rukia-chan, kau dimana? Kenapa kau belum datang menjemputku juga?!" tanya Orihime dengan panik.

"Maafkan aku Orihime, hari ini aku tidak bisa menjemputmu. Aku sudah menyuruh Renji-kun untuk menjemput jadi tunggulah," jawab Rukia dengan setengah berbisik.

Bisa Orihime dengar suara dentuman music klasik enka dan teriakkan dari beberapa orang. Entah sekarang Rukia tengah berada dimana.

"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggu Abarai-san didepan cafe," sahut Orihime dengan lemas.

Orihime langsung mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali kedalam tasnya. Ia terlihat berdiri gelisah menunggu Renji datang menjemputnya. Namun sudah dua puluh menit berlalu, tapi kekasih temannya itu belum juga datang membuat Orihime semakin resah dan gelisah, karena takut tidak bisa sampai dirumah dengan tepat waktu.

Setelah menunggu beberapa lama, sebuah mobil berwarna merah berhenti didepannya dan saat kaca jendela dibuka ternyata itu adalah Renji, kekasih dari temannya.

"Hai, Orihime," sapa Renji.

"Abarai-san!" panggil Orihime dengan panik.

"Kenapa anda baru datang?!"

"Maaf Orihime, tadi ban mobilku kempes dan aku harus menggantinya. Maaf membuatmu menunggu lama," ujar Renji seraya membuka pintu mobilnya didepan.

Orihime pun masuk kedalam mobil Renji, baru juga Orihime memasang sabuk pengaman Renji sudah tancap gas melajukan mobilnya dengan sangat kencang tanpa memberitahukan terlebih dahulu pada Orihime.

Renji mengendarai mobilnya dengan kencang dan ngebut sekali, hal ini membuat jantung Orihime hampir copot karena takut.

"Abarai-san pelan-pelan," pinta Orihime dengan setengah panik dan dalam hati terus berdoa agar ia bisa selamat sampai rumah.

"Tenang saja Orihime, aku akan mengantarkanmu cepat sampai rumah," ujar Renji dengan santai.

Dan benar saja dua puluh menit kemudian Renji sudah sampai didepan gerbang rumah Orihime. Pemuda bersurai merah ini terlihat sangat kaget saat tahu Orihime tinggal dikediaman Ulquiorra, sang pengusaha muda kaya raya yang waktu itu datang kepesta ulang tahunnya.

"Kau tinggal disini Orihime?!" tanya Renji dengan penasaran.

"Ya, aku tinggal disini. Aku anak dari salah satu pelayan disini." jawab Orihime dengan dusta. Karena ia tidak bisa memberitahukan tentang statusnya pada orang lain kecuali sahabatnya sendiri, Rukia kekasih dari Renji.

"Terima kasih karena sudah mengantarkanku pulang," ujar Orihime saraya keluar dari dalam mobilnya.

"Sama-sama Orihime. Aku pergi dulu ya." pamit Renji.

"Hati-hati dijalan...Abarai-san." ucap Orihime dengan setengah berteriak.

Merasa Renji sudah pergi, Orihime langsung membuka gerbang rumah dan segera masuk kedalam rumah. Diam-diam tanpa Orihime sadari kalau Ulquiorra melihat semua kejadian itu dari jauh. Ternyata sang suami pulang lebih cepat hari ini dan tidak menyangka akan melihat kejadian yang tidak ia duga sama sekali.

"Hime, apa yang tengah kau sembunyikan dariku?!" gumam Ulquiorra dalam hatinya.

Tak lama Orihime pulang, sang suami juga pulang. Orihime langsung menyambut kedatangan Ulquiorra dengan ramah dan penuh kasih.

"Selamat datang Ulquiorra-kun," sambut Orihime seraya memeluk tubuh sang suami.

"Aku pulang," balas Ulquiorra dengan datar dan dingin. Ia juga tidak membalas pelukkan dari Orihime atau mencium kening maupun pipi Orihime.

Hal ini membuat Orihime bingung dan merasa heran dengan sang suami yang bersikap sangat aneh sekali juga berbeda, namun Orihime tidak terlalu menanggapinya dengan serius dan berfikir kalau sang suami hanya kelelahan saja.

X0X0X0X0X0X0X0X

"Uekh...Uekh...Uekh," Orihime terlihat memuntahkan semua isi dalam perutnya.

Wajahnya terlihat pucat pasi dan keringat dingin mulai terlihat diwajahnya, ia terlihat duduk lemas didekat kloset tanpa mampu berdiri ataupun berjalan.

"Orihime, kau tak apa-apa?" Rukia menatap cemas keadaan sang teman.

"Kepalaku sangat pusing sekali Rukia-chan, perutku juga sangat mual," ujar Orihime dengan lemah.

"Sebaiknya kita ke ruangan kesehatan saja," ujar Rukia seraya membantu temannya untuk bangun.

Dengan tubuh yang sedikit lemas Orihime mencoba berdiri dengan bantuan temannya, Rukia membawa Orihime keruangan kesehatan dengan memapahnya.

Kebetulan saat diruang kesehatan, Unohana Sensei tidak ada ditempatnya. Rukia langsung membaringkan tubuh Orihime dan menyelimutinya. Ia menemani sang teman hingga sang guru kesehatan datang.

"Orihime sudah berapa lama kau muntah dan merasa pusing?" tanya Rukia dengan tiba-tiba.

"Seminggu ini, memangnya ada apa Rukia-chan?!" Orihime terlihat sangat bingung dengan pertanyaan dari sahabatnya.

Rukia terlihat berfikir sejenak dan wajahnya terlihat sangat serius sekali, membuat Orihime semakin penasaran dan bingung saja.

"Kurasa kau hamil Orihime?!" ucap Rukia dengan penuh keyakinan.

"Ekh!" wajah Orihime terlihat kaget sekali, dan raut wajahnya terlihat sangat syok sekali saat mendengarnya.

"I-itu ti-tidak mungkin Rukia-chan," sanggah Orihime.

"Kenapa tidak mungkin, bukankan kaliah sudah melakukannya!"

Orihime hanya bisa diam tak berkutik mendengarnya, ia terlihat diam membisu. Dan tak lama Orihime merasa mual lagi, dengan cepat Orihime berlari kewastafel.

"Uekh..Uekh..."

Dengan lembut Rukia mengelus-ngelus punggung Orihime, setelah memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan putih yang keluar. Karena sudah tiga kali Orihime muntah seperti ini disekolah.

"Minumlah ini," Rukia memberikan secangkir air putih pada Orihime.

Dengan perlahan-lahan Orihime meminumnya hingga habis dan setelahnya Orihime langsung berbaring kembali diatas ranjang.

"Sebaiknya hari ini kau tidak usah masuk kerja dulu saja," ujar Rukia.

"Tidak bisa Rukia-chan, aku harus bekerja. Aku tidak mau dimarahi oleh manajerku," tolak Orihime dengan keras.

"Mungkin pusing dikepalaku akan hilang setelah aku beristirahat sebentar," sambung Orihime seraya mencoba memejamkan kedua matanya.

TING...TONG...

Bel pelajaran keempat tedengar dan hal ini memaksa Rukia harus meninggalkan Orihime sendirian diruang kesehatan. Gadis mungil ini harus kembali kekelas dan mengikuti pelajaran kembali.

"Baiklah Orihime, beristirahatlah aku akan kembali kekelas,"

Orihime menganggukkan kepalanya dengan lemah, Rukia pun pergi meninggalkan ruangan kesehatan. Sedangkan Orihime terlihat berusaha untuk tidur setelah meminum obat yang diberikan oleh Rukia.

Namun perkataan dari Rukia masih terus teringat didalam kepalanya. Mengingat semua gejala yang dialami selama ini mengarah kesana, ditambah sudah satu bulan ini ia belum datang bulan dan ini semakin membuatnya semakin cemas.

*#*

Sore ini Ulquiorra sengaja pulang cepat dan pergi kesuatu tempat dengan diantar oleh Starrk. Karena ada hal yang ingin ia pastikan dan lihat dengan kedua matanya sendiri.

"Coffe Day's" gumam Ulquiorra saat tiba didepan sebuah kedai kopi.

Pria tampan ini masuk kedalam café namun ia tidak langsung duduk, Ulquiorra terlihat menoleh kekanan kiri seperti tengah mencari seseorang. Hingga pandangan matanya tertuju pada sebuah meja didekat jendela.

Seorang gadis cantik bersurai orange kecokelatan dengan pakaian pelayan tengah melayani seorang pelanggan dengan ramah. Ulquiorra terlihat sedikit marah dan cemburu melihat Orihime yang tersenyum melayani pria asing itu, terlebih mereka berdua terlihat dekat dan akrab.

"Hime," gumam Ulquiorra.

Pria tampan bermata Emerald ini pun memutuskan untuk duduk didekat jendela dibelakang meja pria tinggi itu.

"Semoga anda menikmati hidangan kami," ucap Orihime dengan ramah.

Setelah mengantarkan pesanan Tsukishima, Orihime kembali lagi kedapur untuk mengantarkan pesanan pelanggan yang lainnya.

HYUNG~~

Tiba-tiba keseimbangan tubuh Orihime hilang dan hampir saja tubuh gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini jatuh kelantai dapur, jika saja Orihime tidak langsung menyandarkan tubuhnya ditembok.

"Kepalaku pusing sekali," batin Orihime seraya memegangi kepalanya.

Teman kerja Orihime yang melihatnya langsung menghampiri gadis cantik itu dan membantunya untuk duduk diatas bangku.

"Orihime, apa kau sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat sekali?!"

"Tidak kok." ujar Orihime dengan dusta.

Gadis cantik ini langsung berdiri dan mulai berjalan menghampiri seorang gadis bersurai hitam dan memberikan pesanan pada gadis itu.

Ulquiorra terlihat duduk dibelakang Tsukishima dan terus menatap tajam sang pria tinggi itu. Para pelayan dan pengunjung perempuan café ini terdengar berbisak-bisik seraya menatap Ulquiorra.

Mereka semua sangat terpesona dengan ketampanan dari Ulquiorra terlebih pria bermata Emerald itu sering sekali masuk telivisi dan Koran atau majalah karena kekayaan yang dimilikinya

"Lihat bukankah itu, Ulquiorra Schiffer salah satu dari kalangan Lestat?!" bisik para pengunjung café.

Tsukishima yang mendengar bisak-bisik dari para pengunjung café langsung menolehkan kepalanya kebelakang dan menemukan Ulquiorra tengah duduk gelisan dimejanya menunggu Orihime.

Tsukishima terlihat menyeringai kejam pada Ulquiorra dan sorot matanya penuh dengan kebencian juga dendam.

Ulquiorra terlihat mulai risih dan terganggu dengan pandangan mata para pengunjung café ini. Apakah salah jika orang kaya raya dari kalangan bangsawan meminum secangkir kopi dan kue di café?.

Setelah menunggu selama sepuluh menit lebih akhirnya Orihime datang seraya membawa pesanan, Ulquiorra terlihat tersenyum sangat tipis sekali menatap Orihime yang datang kearahnya.

Wajah Orihime terlihat sangat kaget sekali dan syok ketika melihat Ulquiorra sang suami ada dihapannya saat ini.

"Ulquiorra-kun!" seru Orihime dalam hatinya.

Namun Orihime berusaha bersikap biasa saja dan tak mengenali Ulquiorra sama sekali.

"I-i-ini pe-pesanan anda Tuan," ucap Orihime dengan gugup.

Orihime menaruh cangkir kopi dan kue dengan tangan sedikit gemetaran. Ulquiorra hanya diam dan terus memperhatikan sang istri dengan penuh arti.

"Semoga anda menikmatinya," Orihime membungkukkan badannya dan segera pergi.

GREP…

Ulquiorra meraih tangan Orihime, "Tunggu Hime,"

Orihime langsung menoleh kebelakang dan menatap bingung wajah sang suami, "Ad…."

"Duduklah temani aku," potong Ulquiorra dengan cepat.

Dengan berat hari Orihime pun duduk menemani sang suami menikmati kopi dan kuenya, keduanya terlihat diam saja. Ulquiorra menikmati kopinya dengan tenang sedangkan Orihime merasa sangat gelisah dan takut melihat sang suami.

"Pulang," ucap Ulquiorra dengan tiba-tiba.

"?!"

Orihime tertegun sesaat dan terlihat sangat bingung ketika mendengarnya.

"Ayo pulang Hime, jika tidak ingin café ini kubuat bangkrut hari ini juga," ancam Ulquiorra tanpa main-main.

Pria bermata Emerald ini langsung beranjak berdiri dari duduknya, "Ayo Hime," ajak Ulquiorra seraya melangkah pergi.

Mau tidak mau Orihime harus pergi dan berhenti dari pekerjaannya, sebelum pergi Orihime pamit pada semua karyawan di café ini. Ia meminta maaf karena harus berhenti bekerja secara tiba-tiba.

Selama perjalan pulang baik Orihime maupun Ulquiorra, keduanya terlihat diam dan tak mengeluarkan suara sama sekali. Orihime bahkan duduk diam seraya menundukkan wajahnya dan tak berani menatap atau melihat wajah Ulquiorra.

Starrk yang diam-diam memperhatikan dari depan merasa sangat bingung dengan sikap keduanya.

"Ada apa dengan Tuan dan Nona?!" batin Starrk.

Setelah menempuh perjalan selama tiga puluh menit, mereka tiba dirumah. Ulquiorra langsung keluar dari dalam mobil dengan cepat tanpa menunggu Orihime keluar dari dalam mobil.

"Selamat datang Tuan," sambut para pelayan dengan ramah.

"Menolly," panggil Ulquiorra pada pelayan pribadinya itu.

"Ya Tuan," sahut Menolly.

"Tolong kau buatkan aku teh mawar," pinta Ulquiorra seraya menaiki tangga menuju kamar.

Sementara itu, Orihime terlihat duduk diam didalam mobil. Wajahnya terlihat sangat sedih dan hampir menangis.

"Nona," panggil Starrk dengan sopan.

"…"

Orihime hanya diam dan tak menyahutinya, ia masih duduk diam didalam mobil.

"Nona," panggil Starrk sekali lagi.

Namun lagi-lagi Orihime masih diam dan terus duduk didalam mobil, padahal Strarrk sudah membukakan pintu untuk Orihime.

BRUK…

Tiba-tiba saja Orihime jatuh pingsan didalam mobil membuat Starrk sangat kaget dan panik melihatnya. Pria paruh baya ini langsung menggendong tubuh Orihime masuk kedalam rumah.

Para pelayan yang melihat Orihime tengah digendong oleh Starrk, langsung membuat heboh dan panik seisi rumah.

"Astaga, Nona Orihime!" seru Menolly dengan kaget.

"Ada apa dengan Nona Orihime, Starrk?!" tanya Menolly dengan sedikit panik.

"Entahlah, tapi sebaiknya kau hubungi saja dokter Ukitake dan memberitahukan hal ini pada Tuan." ujar Starrk seraya membawa tubuh sang Nona kedalam kamar dan membaringkannya diatas kasur.

.

.

.

Tsukshima menatap sendu sebuah figura foto seorang gadis cantik bersurai merah muda panjang dengan rambut dikuncir dua tengah tersenyum ceria bersama dengan dirinya dibawah pohon sakura yang tengah mekar.

Riruka Dokugamine, itulah nama gadis yang ada difoto bersama dengan dirinya, gadis cantik ini adalah tunangan Tsukishima sekaligus wanita yang sangat dicintainya seumur hidupnya.

"Sayang, aku sangat rindu sekali padamu," Tsukishima mengecup pelan gambar Riruka.

"Apakah kau tenang disana, sayang?" tanya Tsukishima seraya mengelus pelan foto Riruka.

Pria tampan ini mencium lagi foto sang kekasih dengan penuh cinta, "Aku akan membalaskan kematianmu saying." ucap Tsukishima seraya menaruh kembali figura foto dirinya dan sang kekasih.

Tsukishima beranjak berdiri dan melangkah kejendela apartement mewahnya seraya memandangi pemandangan kota ini, "Ulquiorra Schiffer, aku akan menghancurkanmu dan membuatmu menderita melebihi kematian." Desis Tsukishima dengan penuh kenbencian.

TBC

Terika kasih sudah membaca Fic ini

Jika berkenan Read and Riviewnya

Inoue Kazeka