Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T semi M

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje, alur cerita yang berantakan dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Seorang pria bermata Emerald terlihat tengah berendam santai disebuah bak mandi berukuran besar, ia memejamkan kedua matanya mencoba merileksasikan pikirannya saat ini. Baru juga Ulquiorra berendam didalam bak mandinya selama beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu dikamarnya yang keras.

DOR...DOR...DOR...

"Tuan, Tuan…." panggil Menolly dengan panik dari luar kamar pribadi Ulquiorra.

Wajah pelayan cantik ini terlihat sangat cemas sekali, karena tidak ada jawaban dari sang Tuan, Menolly-pun mengetuk kembali pintu kamar pribadi Ulquiorra.

DOR...DOR...DOR...

"Tuan, Tuan Ulquiorra…" panggil Menolly dengan suara yang agak keras agar sang Tuan mendengar suaranya.

KRIETT...

Ulquiorra membuka pintu kamar dengan sedikit kasar, "Ada apa Menolly?" tanya Ulquiorra dengan datar dan tanpa ekspresi.

Blush

Wajah Menolly sedikit merona merah saat melihat penampilan sang Tuan yang hanya mengenakan kimono mandinya dengan rambut yang masih basah dan juga aroma bunga mawar tercium jelas dari hidung Menolly, membuat pelayan cantik ini sangat terpesona melihat sosok sang Tuan yang baru mandi.

Menolly terlihat menundukkan wajahnya dengan sedikit rona merah dipipi putihnya, "Ma…Ma-mafkan saya Tuan kalau menggangu anda. Nona Orihime, Tuan," ucapnya dengan sedikit gugup dan masih menundukkan wajahnya.

Ulquiorra menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan dari Menolly, "Ada apa dengannya?" tanya Ulquiorra dengan penasaran.

"Nona Orihime, jatuh pingsan Tuan," jawab Menolly dengan cepat.

Kedua mata Ulquiorra langsung membulat sempurna ketika mendengarnya, eksperesi wajahnya yang tadi datar kini berubah menjadi kaget dan khawatir sekali.

"Dimana ia sekarang?" tanya Ulquiorra dengan panik.

"Nona Orihime berada dikamar utama, Tuan,"

"Terima kasih, Menolly," ucap Ulquiorra sambil berlari keluar dari kamar.

Tak lama setelah diberitahu oleh Menolly, Ulquiorra langsung pergi menuju kamar utama, ia tidak memperdulikan penampilannya saat ini yang hanya mengenakan kimono mandi dan berlarian dikoridor rumah.

DRAP….DRAP…DRAP….

"Hime," gumam Ulquiorra dalam hatinya, ia mempercepat larinya agar segera sampai dikamar utama yang merupakan kamar tidurnya bersama dengan Orihime.

Para pelayan menatap heran pada sang Tuan, yang terlihat berlarian didalam rumah menuju kamar utama. Memang rumah ini sangat luas sekali bak istana, jarak kamar utama dan kamar pribadi Ulquiorra lumayan jauh dan butuh beberapa menit untuk sampai kesana.

Dikamar utama,

Seorang pelayan cantik terlihat tengah memakaikan gaun tidur pada Orihime yang saat ini tengah tak sadarkan diri. Setelah menggantikan pakaian untuk sang Nona, Lilly menyelimuti tubuh sang Nona.

"Apa kau sudah menghubungi dokter Ukitake?" tanya Starrk seraya menghampiri Lilly.

"Sudah, mungkin saat ini dokter Ukitake tengah dalam perjalanan. Kuharap Tuan Ukitake cepat datang, karena aku sedikit cemas dengan keadaan Nona Orihime." jawab Lilly yang terlihat cemas melihat kondisi Orihime.

"Aku juga cemas dengan keadaan Nona." tambah Starrk.

Keduanya menemani Orihime didalam kamar hingga Ulquiorra datang, disaat keduanya tengah berbincang terdengar suara pintu kamar yang didobrak dengan cukup keras, membuat keduanya kaget dan menoleh kearah pintu.

BRAK

Seorang pria bersurai hitam bermata Emerald terlihat menghambur masuk kedalam kamar, dan berjalan tergesa-gesa kearah mereka berdua.

"Tuan!" seru mereka berdua bersamaan.

Lilly terlihat menundukkan wajahnya dan tak berani menatap sang Tuan, yang penampilannya sedikit berantakan karena berlari. Kimono mandi Ulquiorra terbuka sedikit dibagian depannya dan memperlihatkan dada bidangnya yang berwarna putih mulus.

"Apa yang terjadi dengannya Starrk?" tanya Ulquiorra seraya berjalan mendekati tubuh sang istri yang terbaring diatas kasur.

"Tadi Nona muda jatuh pingsan didalam mobil," jelas Starrk pada sang Tuan.

Ulquiorra meraih tangan sang istri dan menggenggamnya dengan erat, "Apakah kalian sudah menghubungi Ukitake?" tanya Ulquiorra seraya memandangi cemas wajah sang istri.

"Sudah Tuan, saya sudah menghubunginya dan Tuan Ukitake sedang dalam perjalanan kemari." jawab Lilly seraya membungkukkan badannya sedikit.

"Syukurlah kalu begitu. Lilly tolong kau buatkan bubur dan teh mawar untuk Orihime." pinta Ulquiorra tanpa menolehkan wajahnya dari Orihime.

"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit dulu." ucap Lilly seraya membungkukkan tubuhnya dan keluar dari kamar utama.

Lilly pergi keluar dari kamar utama dan menuju dapur untuk membuatkan bubur hangat untuk Orihime. Disaat Ulquiorra tengah fokus melihat keadaan sang istri, Starrk terlihat berjalan kesebuah lemari besar berwarna putih gading, yang merupakan lemari pakaian milik Ulquiorra.

"Tuan," panggil Starrk dengan sopan seraya membawa pakaian ditangan kanannya.

"Ya, Starrk?" sahut Ulquiorra dengan datar.

"Tuan sebaiknya anda memakai pakaian anda, saya takut jika nanti anda masuk angin karena terus memakai kimono mandi itu." ujar Starrk seraya memberikan pakaian yang dibawanya pada Ulquiorra.

Pria bermata Emerald ini pun baru menyadari penampilannya, pantas saja sepanjang jalan tadi beberapa pelayan wanita menundukkan wajahnya saat berpapasan dengan dirinya.

"Terima kasih, Starkk," Ulquiorra menerima pakaian yang dibawakan oleh Starrk dan memakainya didalam kamar mandi.

Ulquiorra mengganti kimono mandinya dengan kaos santai dan celana panjang berwarna hitam yang dibawakan oleh Starrk untuknya. Kini penampilan Ulquiorra lebih nyaman dan enak untuk dilihat.

Starrk terlihat masih berdiri disamping ranjang Orihime, ia terlihat menunggu dan menjaga Orihime dengan baik hingga sang Tuan keluar dari kamar mandi.

"Pakaian yang kau pilihkan sangat cocok untukku Starrk." seru Ulquiorra sesaat setelah keluar dari kamar mandi.

"Terima kasih Tuan."

Ulquiorra terlihat berjalan mendekati Orihime dan duduk disamping ranjang.

"Terima kasih karena sudah menolong dan menjaganya. Kau bisa kembali kepekerjaanmu, maaf sudah merepotkanmu." ucap Ulquiorra.

"Itu sudah tugas saya Tuan untuk menjaga dan melayani Nona Orihime. Kalau begitu saya pamit Tuan." ujar Starrk dengan sopan seraya membungkukkan tubuhnya.

Starrk pun keluar dari kamar utama dan pergi menuju dapur untuk menemui sang istri, Lilly.

Tiga puluh menit kemudian Ukitake datang, dokter tampan ini langsung memeriksa keadaan Orihime. Setelah memeriksa keadaan Orihime, Ukitake pun menjelaskan tentang keadaan Orihime pada Ulquiorra, dan saat Ukitake menjelaskan keadaan Orihime. Raut wajah pria tampan bermata Emerald ini terlihat sangat cemas.

"Tenanglah Ulquiorra, Orihime akan baik-baik saja. Ia hanya butuh banyak istirahat juga makanan sehat dan bergizi tentunya agar ia cepat sehat dan sembuh," ujar sang dokter seraya tersenyum kecil pada Ulquiorra.

"Baiklah aku akan melakukan semua saran darimu dan terima kasih atas bantuannya, Ukitake,"

"Sama-sama, kalau begitu aku pulang dulu. Jika ada apa-apa hubungi saja aku." ujar Ukitake sesaat sebelum pergi.

Ulquiorra hanya menanggapinya dengan anggukkan dan senyum kecil pada Ukitake, ia mengantarkan dokter tampan itu keluar dari kamar dan meminta Starrk, untuk mengantarnya pulang kerumahnya.

*#*

Dua jam sudah Orihime terbaring diatas kasur tak sadarkan diri, Ulquiorra terlihat duduk cemas menunggu sang istri siuman. Disaat Ulquiorra tengah membelai wajah sang istri, tiba-tiba kedua mata Orihime terlihat bergerak-gerak.

"Ngh!" lenguh Orihime dengan pelan.

Orihime terlihat mulai menggerakkan tubuhnya dan dengan perlahan ia membuka kedua matanya, menatap wajah pria yang ada disampingnya.

"Ul…"

GYUT

Ulquiorra langsung memeluk tubuh indah sang istri dengan erat, "Aku senang kau sudah siuman," ucapnya dengan penuh kelegaan.

Orihime hanya bisa diam menerima pelukkan dari Ulqiorra yang merupakan sang suami, tak lama ia-pun membalas pelukkannya.

"Ulquiorra-kun," panggil Orihime dengan pelan.

"Ya, Hime," sahut Ulquiorra dengan lembut seraya menatap penuh cinta pada sang istri.

"Aku ada dimana?" tanya Orihime dengan bingung, ia masih tidak sadar kalau ia sudah berada didalam kamar.

"Kau ada dikamar Hime, tadi Starrk yang membawamu kekamar," jelas Ulquiorra dengan lembut.

"Ulquiorra-kun, apa kau masih marah padaku?" tanya Orihime seraya memandangi penuh arti pada sang suami.

"Tidak Hime, aku tidak marah padamu," jawab Ulquiorra dengan ramah.

"Terima kasih, Ulquiorra-kun," ucap Orihime dengan tersenyum senang.

Tiba-tiba Orihime merasa mual lagi dan dengan cepat Orihime langsung berlari kedalam kamar mandi dan Ulquiorra mengikuti Orihime masuk kedalam kamar mandi juga.

"Uekh…Uekh…" Orihime memuntahkan isi perutnya didalam kloset.

Ulquiorra terlihat mengelus-ngelus pelan punggung sang istri, "Hime, apakah kau masih ingin muntah?" tanya Ulquiorra dengan cemas.

"Tidak Ulquiorra-kun," jawab Orihime dengan lemas.

Ulquiorra langsung menggendong tubuh sang istri ala bridal style membawanya keluar dari kamar mandi dan membaringkannya diatas kasur.

"Beristirahatlah Hime," Ulquiorra menyelimuti tubuh sang istri.

"Ulquiorra-kun," panggil Orihime.

"Ya, ada apa Hime?" tanya Ulquiorra seraya duduk disamping Orihime.

Orihime terlihat diam dan menudukkan wajahnya, Ulquiorra yang melihat sikap Orihime yang seperti itu membuatnya bingung dan penasaran.

"Apakah kau merasa pusing atau ingin muntah lagi?" tanya Ulquiorra dengan lembut, seraya mengelus pelan kepala Orihime.

Dengan cepat Orihime menggelengkan kepalanya, "Tidak Ulquiorra-kun," jawabnya.

"Lalu ada apa? Mengapa wajahmu terlihat muram dan sedih?"

"Ulquiorra-kun…A-a-aku ha-hamil," jawab Orihime dengan malu dan gugup, wajahnya-pun langsung merah padam bak kepiting rebus.

Orihime menundukkan wajahnya dan tak berani melihat wajah Ulquiorra, didalam hatinya ia terus bertanya-tanya apakah Ulquiorra menginginkan anak ini atau tidak.

"Apa?!" teriak Ulquiorra dalam hatinya.

Kedua mata Ulquiorra terlihat membulat dengan sempurna, pria tampan bemata Emerald ini terlihat sangat syok dan marah sekali ketika mendengar penuturan Orihime.

GREP

Ulquiorra langsung mencengkram erat kedua bahu Orihime, "Katakan padaku Hime, siapa yang sudah menghamilimu?!" tanya Ulquiorra dengan geram dan penuh emosi.

"Katakan padaku Hime, siapa? Siapa yang menghamilimu?" Ulquiorra terlihat menatapnya dengan tajam seraya mengguncangkan tubuh Orihime.

"Tentu saja dirimu Ulquiorra-kun," dengus Orihime dengan sebal.

Memangnya pria mana lagi yang berani dan diijinkan oleh Orihime untuk menyentuh dirinya, selain Ulquiorra yang merupakan suaminya.

"Itu tidak mungkin Hime, aku belum pernah menyentuhmu sama sekali," aku Ulquiorra dengah jujur.

"Ekh!?"

Wajah Orihime langsung pucat pasi mendengarnya, "Bukankah waktu itu aku terbangun hanya mengenakan pakaian dalam saja juga…." Orihime terdengar tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi karena saking malu dan syoknya.

Ulquiorra terlihat terkekeh kecil mendengarnya, "Kau sendiri yang membuka semua pakaian tidurmu, karena kau merasa gerah," jelas Ulquiorra dengan sedikit tersenyum.

Blush'

Wajah Orihime langsung merah padam bak kepiting rebus, dengan cepat Orihime langsung masuk kedalam selimut dan menyembunyikan wajahnya dari sang suami.

"Ya Tuhan! Betapa bodohnya aku, bagaimana bisa aku berfikir kalau aku ini hamil?" gerutu Orihime dalam hatinya.

"Ternyata aku masih suci," batin Orihime.

Gadis cantik ini merutuki kebodohannya sendiri dan betapa malunya dirinya mengaku kalau ia tengah hamil pada Ulquiorra, ingin rasanya ia menenggelamkan dirinya dalam-dalam didalam lautan agar Ulquiorra tidak bisa melihatnya.

Tanpa Orihime lihat dan sadari kalau Ulquiorra terlihat tersenyum lega, mangetahui kalau Orihime hanya salah paham dengan semua gejala penyakitnya. Dan dikiranya itu adalah tanda-tanda orang hamil, ditambah dengan kejadian beberapa waktu yang lalu.

"Hime," panggil Ulquiorra dengan pelan.

"…."

Orihime masih diam dan tak mau menampakkan wajahnya, dirinya benar-benar sangat malu sekali pada sang suami.

Ulquiorra tersenyum tipis melihat kelakuan Orihime yang tengah malu, lagi-lagi sang istri bersembunyi didalam selimut. Ia sangat lega melihat sang istri yang sudah mulai semangat lagi, karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan Orihime.

Ukitake mengatakan kalau Orihime mengalami Anemia yang cukup parah dan menyebabkannya sering pusing, ditambah dengan lambungnya yang tengah bermasalah sehingga menyebabkannya mual.

Tok…Tok…Tok

Terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamar mereka berdua.

"Tuan, ini saya Lilly," teriak Lilly dari depan pintu kamar.

"Masuklah," sahut Ulquiorra dengan datar.

Pelayan cantik ini langsung masuk seraya membawakan semangkuk bubur hangat dan secangkir teh mawar kedalam kamar. Lilly menaruh bubur dan teh yang dibawanya diatas meja kecil disebelah kasur.

"Terima kasih Lilly," ucap Ulquiorra dengan ramah.

"Sama-sama Tuan." sahut Lilly seraya membungkukkan tubuhnya.

Setelah Lilly keluar dari dalam kamar, Ulquiorra terlihat menarik selimut yang menutupi tubuh Orihime dan memaksa sang istri untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Orihime masih memanglingkan wajahnya dari Ulquiorra karena malu.

"Hime, ayo buka mulutmu," Ulquiorra menyodorkan sendok yang berisikan bubur hangat didepan mulut Orihime.

"Aku tidak lapar Tuan," Orihime masih terlihat memalingkan wajahnya dari Ulquiorra.

"Haah~~" Ulquiorra terdengar menghela nafasnya dengan pelan.

Ulquiorra terlihat memakan bubur itu, namun tak lama ia menarik tubuh Orihime dan mencium sang istri.

Cup'

Ulquiorra menyuapi sang istri menggunakan mulutnya juga memagut bibir indah sang istri selama beberapa detik.

Tak lama Orihime mendorong keras tubuh suaminya, "U-Ulquiorra-kun jo-jorok," omelnya dengan sedikit gugup dan wajah yang merona merah.

Ulquiorra hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapan protes dari Orihime yang tidak suka dengan cara menyuapinya.

"Jika kau tidak mau makan, maka aku akan menyuapimu seperti itu hingga bubur ini habis," ancam Ulquiorra dengan setengah menggoda.

Blush'

Wajah Orihime terlihat merona lagi ketika mendengarnya, "Ya sudah biar aku makan sendiri bubur itu," Orihime hendak meraih mangkuk bubur itu dari tangan sang suami.

Namun dengan cepat Ulquiorra langsung menjauhkan mangkuk bubur itu dari jangkauwan tangan sang istri, "Aku yang akan menyapimu hingga bubur ini habis."

Orihime terlihat sedikit memajukan bibirnya karena sebal, Ulquiorra menyuapi Orihime dengan mesranya. Setelah menyuapi sang istri, Ulquiorra memberikan obat pada Orihime dan memintanya untuk berbaring kembali diatas kasur.

"Aku tidak mau tidur jika Ulquiorra-kun, tidak menemaniku juga," rengek Orihime dengan manja.

"Baiklah aku akan menemani Hime,"

Ulquiorra beranjak naik keatas kasur dan berbaring disebelah sang istri seraya memeluk erat tubuh Orihime dan gadis cantik bermata abu-abu ini terlihat sangat nyaman saat dipeluk seperti ini oleh sang suami.

"Oyasuminasai, Ulquiorra-kun."

Cup'

Ulquiorra mencium lembut kening Orihime, "Oyasuminasai, Hime."

Entah mengapa kini Orihime bersikap sangat manja, lembut dan kekanak-kanak pada Ulquiorra. Mungkin tanpa disadari oleh Orihime sendiri, kalau kini ia benar-benar sudah jatuh cinta pada suaminya. Dan perjuangan Ulquiorra selama ini untuk mendapatkah hati Orihime tidaklah sia-sia.

X0X0X0X0X0X0X0X

Untuk sementara waktu Orihime tidak di ijinkan sekolah terlebih dahulu oleh Ulquiorra mengingat kondisinya yang belum sembuh dan masih harus banyak beristirahat dirumah. Saat ini keduanya tengah bersantai didalam kamar, dengan Orihime yang menyadarkan kepalanya diatas dada bidang Ulquiorra.

"Ulquiorra-kun aku bosan terus berada didalam kamar," gerutu Orihime seraya memajukan bibirnya sedikit.

"Sudah kubilang kau harus banyak beristirahat didalam kamar," omel Ulquiorra.

Untuk beberapa hari kedepan Ulquiorra tidak masuk kerja dan menemani sang istri dirumah, ia tidak mau lagi ada kejadian Orihime yang tiba-tiba menghilang dari kamarnya dan membuat heboh semua orang, lalu menemukannya tengah tertidur siang diatas pohon sakura yang tinggi.

"Ulquiorra-kun memang tidak bosan terus berada dikamar ini?" tanya Orihime tiba-tiba, ia masih merebahkan kepalanya diatas dada bidang sang suami.

"Tidak, karena ada kau didekatku. Dimanapun aku berada asal disana ada kau, aku tidak akan pernah merasa bosan sama sekali," jawab Ulquiorra dengan mantap.

Ada sedikit rona merah dipipi Orihime ketika mendengarya, "Ulquiorra-kun gombal," ledek Orihime.

Ulquiorra hanya tersenyum kecil menanggapinya, "Aku tidak menggombal Hime, aku tulus dan jujur mengatakannya. Karena aku…." Ulquiorra terlihat menggantungkan perkataannya.

"Karena apa Ulquiorra-kun?" desak Orihime.

Ulquiorra tersenyum tulus menatap wajah sang istri, "Karena aku mencintaimu Hime," ucap Ulquiorra dengan lembut.

Deg…Deg…Deg

Tiba-tiba saja jantung Orihime berdetak dengan cepat, wajahnya memerah juga panas ketika mendengarnya, ia bingung harus bersikap dan berkata apa pada Ulquiorra.

"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.

"Y-ya Ulquiorra-kun?" sahut Orihime dengan gugup.

"Aishiteru," ucapnya dengan lantang.

Lagi-lagi Orihime dibuat bingung dengan perkataan dari sang suami dan ia hanya bisa diam tak bisa berkata apa-apa.

GYUT

Ulquiorra memeluk Orihime dengan erat, "Aishiteru Hime," bisik Ulquiorra dengan mesranya.

Cup

Ulquiorra mencium lembut pipi kanan sang istri.

"A-a-a-a…." Orihime terlihat hendak mengatakan sesuatu.

Ulquiorra terdiam dan menatap heran sang istri, "Hime?"

Orihime langsung bangun dan duduk menghadap Ulquiorra dengan tatapan mata yang sangat serius sekali.

"A-a-aishiteru yo, Ulquiorra-kun," ucap Orihime dengan susah payah.

Ulquiorra terdiam mendengarnya kedua matanya terbelalak, dengan perlahan ia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Orihime yang terlihat menunduk dan merah padam bak kepiting rebus.

Cup

Ulquiorra mencium bibir indah sang istri, ia memagutnya dengan lembut bukan sebuah ciuman nafsu yang dilakukannya. Namun sebuah ciuman penuh kasih sayang pada sang istri, meluapkan perasaan bahagianya.

Orihime pun terlarut dalam ciuman lembut yang diberikan oleh Ulquiorra, ia memejamkan kedua matanya menikmati setiap pagutan dari sang suami.

"Terima kasih," ucap Ulquiorra dengan bahagia, ia tersenyum sangat lebar dan lembut pada Orihime.

Orihime merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh sang suami, ia juga sangat berterima kasih pada Ulquiorra karena selama ini sudah baik dan selalu menjaganya.

.

.

.

Ting Tong…

Seorang gadis cantik bersurai hitam dengan menenteng sekeranjang buah terlihat tengah berdiri didepan pintu gerbang kediaman Schiffer.

"Maaf ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya seorang penjaga gerbang dengan sopan dari dalam kediaman Ulquiorra.

"Saya teman Orihime dan datang ingin mejenguknya." jawab Rukia dengan ramah.

Penjaga itu langsung menggunakan telponya dan menghubungi seseorang, setelah berbicara dengan seseorang ditelpon sang penjaga gerbang pun membukakan pintu gerbang untuk Rukia.

"Silahkan masuk Nona Rukia." ujar sang penjaga dengan sopan.

"Terima kasih paman." balas Rukia.

Gadis cantik itu pun masuk kedalam kediaman Ulquiorra yang menurutnya sangat megah sekali bak istana. Menolly sudah menunggu kedatangan Rukia didepan pintu dan mengantarkan gadis cantik ini menemui Orihime, dikamar utama.

"Rumah yang indah juga besar." batin Rukia saat melihat ornament-ornament mewah yang terpajang dirumah ini.

Setelah berjalan cukup jauh dan menaiki tangga, Rukia tiba disebuah pintu besar berwarna cokelat tua dengan ukiran kayu yang sangat indah.

Menolly terlihat mengetuk pintu besar itu beberapa kali dan setelah menerima ijin masuk dari sang pemilik kamar, pelayan cantik ini membukakan pintu kamar itu dan mempersilahkan Rukia untuk masuk kedalam kamar.

"Rukia-chan," sapa Orihime dengan tersenyum lebar.

Gadis cantik bersurai hitam ini-pun berjalan menghampiri Orihime yang terbaring diatas kasur, disampingnya ada seorang pria tampan bermata Emerald yang merupakan suami dari Orihime.

"Tampannya," batin Rukia saat melihat Ulquiorra dari jarak dekat.

"Terima kasih karena sudah mau datang menjenguk Orihime," ucap Ulquiorra dengan ramah.

Deg'

Jantung Rukia berdegup kencang saat mendengar suara Ulquiorra yang terdengar merdu ditelinganya. Memang benar kata orang kalau Ulquiorra Schiffer adalah pria yang sangat tampan dan penuh charisma.

"Y-ya, Tuan Schiffer," sahut Rukia dengan gugup.

"Rukia-chan, ayo duduk disebelahku," Orihime terlihat menepuk pelan kasurnya.

Rukia telihat canggung dan malu karena ada Ulquiorra dikamar ini dan pria bermata Emerald ini pun menyadari sikap canggung dari Rukia karena keberadaannya dikamar ini.

"Sepertinya aku harus meninggalkan kalian berdua agar lebih rileks," ujar Ulquiorra tiba-tiba seraya beranjak bangun dari duduknya.

Cup

Ulquiorra mengecup pelan kening sang istri, "Hime aku akan ketaman dulu untuk mengecek bunga mawar milik ibu. Jika ada apa-apa panggil aku,"

"Hmm..." sahut Orihime seraya tersenyum.

Ulquiorra-pun pergi meninggalkan mereka berdua dikamar untuk berbincang-bincang dengan bebas dan nyaman.

"Orihime, suami itu sangat tampan sekali," puji Rukia dengan setengah histeris.

Wajah Orihime terlihat merona merah juga senang dengan pujian dari Rukia mengenai sang suami, "Terima kasih Rukia-chan,"

Keduanya-pun berbincang-bincang dan tak jarang gelak tawa terdengar dari keduanya, Orihime juga menceritakan tentang penyakitnya dan ternyata ia tidak hamil terlebih sang suami ternyata sama sekali belum menyentuhnya.

"Jadi kau dan dia belum 'itu' ?!" tanya Rukia dengan penasaran.

"Belum," jawab Orihime dengan malu.

PLAK

"Ya Tuhan!" Rukia menepuk jidatnya dengan keras mengekpresikan keheranannya.

Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Ulquiorra tidak tergiur dan tergoda pada tubuh Orihime. Padahal setiap malam mereka tidur satu ranjang.

"Suamimu itu normal atau tidak sih?" tanya Rukia dengan bingung.

"Tentu saja normal Rukia-chan," jawab Orihime dengan penuh keyakinan.

"Kalau memang normal mengapa tidak tergoda untuk menyentuh dirimu?!" tanya Rukia yang semakin memojokkan Orihime.

"It….Kami sudah berciuman kok," ucap Orihime dengan wajah sedikit memerah.

"Hanya itu saja tak lebih?"

"Y-ya," wajah Orihime terlihat bersemu merah ketika mengatakannya.

"Haah~~" Rukia menghela nafasnya dengan pelan.

"Aku ragu apa benar kalau suamimu itu memang mencintaimu dan juga normal,"

"Apa maksud ucapanmu Rukia-chan? Tentu saja Ulquiorra mencintaiku, ia sudah mengatakan hal itu padaku sebanyak tiga kali," Orihime menunjukkan tiga jari kanannya kearah Rukia.

Rukia pun mulai menceritakan sebuah gossip yang dulu pernah tersebar dikalangan para wanita kelas atas, yang mengatakan kalau Ulquiorra adalah seorang gay. Karena tanpa sengaja mereka pernah memergokki Ulquiorra tengah mencium mesra seorang pria disebuah lobi hotel.

Wajah Orihime langsung pucat pasi mendengarnya, ia tidak tahu kalau pernah ada gossip seperti itu.

"Tapi aku yakin kalau Ulquiorra-kun normal," ucap Orihime dengan penuh keyakinan.

"Buktinya ia tidak mau menyentuhmu sama sekali, jika Ulquiorra adalah pria normal mana mungkin ia tidak ingin menyentuhmu yang merupakan istrinya sendiri," sindir Rukia.

Orihime hanya diam seribu bahasa mendengarnya tanpa bisa membalas perkataan dari sahabatnya itu. Ada benarnya juga dengan perkataan dari Rukia, jika memang Ulquiorra memang mencintainya dan pria normal maka ia akan menyentuhnya.

*#*

Malam ini para pelayan terlihat menghidangkan berbagai masakan mewah dan lezat diatas meja, Ulquiorra terlihat mulai mengambil garpu juga pisau untuk mulai menikmati makan malamnya.

Sedangkan Orihime terlihat terduduk lesu dan tak berselera makan, baru juga ia memakan beberapa suap nasi dimangkuknya. Gadis cantik ini sudah terlihat meletakkan sumpitnya diatas mangkuk makannya seraya melamun, entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini.

"Hime," panggil Ulquiorra dengan lembut.

Orihime masih terlihat bengong menatap makan malamnya, sikapnya sedikit aneh setelah kedatangan Rukia sahabatnya beberapa hari yang lalu.

"Hime, Hime," panggil Ulquiorra seraya menggoyangkan tangan Orihime.

Gadis cantik ini pun terlonjak kaget dan menoleh pada Ulquiorra, "Ya Tuan," serunya.

Ulquiorra menaikkan sebelah alisnya saat Orihime menyebutnya Tuan bukan Ulquiorra-kun.

"Hime ada apa? Mengapa kau terus melamun?" tanya Ulquiorra dengan lembut.

"A-ah, tidak ada apa-apa Tuan," jawabnya dengan sedikit gugup.

SREK…

Orihime terlihat bangun dari duduknya, "Aku sudah selesai, terima kasih atas hidangannya," ucapnya seraya pergi dari meja makan.

Ulquiorra melihat gelagat aneh dari sang istri, ia pun menyudahi makan malamnya dan menghampiri sang istri untuk bertanya ada apa dengannya. Saat Ulquiorra masuk kekamar, ia melihat Orihime tengah duduk didepan balkon seraya menatap sendu langit malam yang tak berbintang.

"Udara dingin tak baik untukmu, Hime," Ulquiorra memakaikan jaket pada Orihime.

Orihime terlihat terlonjak kaget dengan kedatangan Ulquiorra.

"Ada apa Hime? Apa ada hal yang sedang kau pikirkan?" tanya Ulquiorra seraya memeluk Orihime dari belakang.

"Tuan," panggil Orihime.

"Aku tidak suka kau memanggilku seperti itu Hime," protes Ulquiorra.

Orihime hanya tersenyum kecil mendengarnya, "Ulquiorra-kun," panggil Orihime kembali.

"Ya, Hime,"

"Apakah Ulquiorra-kun gay?" tanya Orihime dengan tiba-tiba.

Ulquiorra cukup kaget mendengar pertanyaan dari Orihime, "Memangnya kenapa Hime?" tanya balik Ulquiorra.

"Kau belum jawab pertanyaanku Ulquiorra-kun," Orihime sedikit meninggikan suaranya, saat ini ia benar-benar butuh jawaban dari Ulquiorra demi membuat hatinya tenang.

Ulquiorra terlihat duduk berlutut didepan Orihime seraya memegang kedua tangan sang istri, "Aku bukan gay Hime, mungkin banyak orang diluar sana menganggapku seperti itu. Tapi aku ini pria normal yang masih mencintai seorang gadis bukan seorang pria," jelas Ulquiorra dengan mantap.

Tes…Tes…Tes…

Orihime terlihat menangis mendengarnya, Ulquiorra terlihat sangat bingung dan cemas melihat sang istri menangis.

"Hime, mengapa kau menangis?" tanya Ulquiorra seraya mengusap kedua pipi Orihime.

"Berarti Ulquiorra-kun tidak mencintaiku," isak Orihime.

Ulquiorra tersenyum kecil mendengar ucapan Orihime, ia meraih kembali kedua tangan Orihime dan menggengamnya dengan erat, "Aku mencintaimu Hime, sangat mencintaimu percayalah padaku,"

"Kau bohong Ulquiorra-kun," Orihime menepis kedua tangan Ulquiorra dengan kasar.

"Tidak Hime, aku tidak bohong padamu," ucap Ulquiorra dengan penuh keyakinan.

"Kalau begitu mengapa kau tidak mau menyentuhku?" tanya Orihime dengan berlinangan air mata.

Kedua iris Emerald Ulquiorra membulat sempurna ketika mendengar ucapan dari bibir tipis sang istri yang membuatnya sangat kaget sekali.

"Kalau kau bukan gay berarti kau memang tidak menc….."

GREP

Ulquiorra langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat dan menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Orihime dan menghirup aroma tubuh sang istri.

"Kumohon padamu Hime, jangan bercanda seperti itu padaku," ucap Ulquiorra dengan lirih.

Dengan cepat Orihime melepaskan pelukkan Ulquiorra dan menatap wajah sang suami dengan berlinangan air mata, "Memangnya salah jika ingin disentuh oleh orang yang kita cintai," ucap Orihime dengan lantang.

Lagi-lagi Ulquiorra terdiam dan terpaku mendengarnya, sementara itu Orihime beranjak pergi dari balkon namun Ulquiorra mengejarnya.

GYUT

Ulquiorra memeluk erat Orihime, mengurung tubuh sang istri dalam pelukkannya.

"Lepaskan aku Ulquiorra-kun," ronta Orihime.

"Tidak, Hime. Aku tidak akan melepaskanmu setelah kau mengacaukan hati dan pikiranku," tolak Ulquiorra seraya menarik wajah Orihime dengan lembut dan mencium bibirnya.

"Hmph!" erang Orihime tertahan.

Ciuman Ulquiorra terasa sangat panas dan menuntut tak hanya itu, ia juga mulai memasukkan lidahnya kedalam mulut Orihime. Mengajak lidah Orihime menari didalam mulutnya, Orihime merasa bingung karena ini adalah yang pertama kali untuknya.

Setelah dua menit memagut bibir Orihime, Ulquiorra melepaskan ciumannya. Bisa ia lihat benang tipis saliva dibibir Orihime akibat ciumannya tadi.

Wajah Orihime pun merona merah dan nafasnya terlihat terengah-engah, dimata Ulquiorra sang istri sangatlah manis.

"Maafkan aku Hime, sepertinya aku tidak bisa lagi menahan diri,"

Ulquiorra langsung menggendong Orihime dan membawanya masuk kedalam kamar. Pria tampan ini menurunkan tubuh Orihime dipinggir ranjang besar miliknya. Ulquiorra terlihat duduk berlutut didepan Orihime seraya memegangi kedua tangan sang istri.

"Hime, apakah kau yakin dengan keinginanmu?" tanya Ulquiorra seraya meremas pelan kedua tangan Orihime.

"Aku yakin Ulquiorra-kun dan aku tidak akan menyesalinya," jawab Orihime dengan penuh keyakinan.

Jawaban dari Orihime membuat Ulquiorra senang dan lega.

"Baiklah Hime," ucap Ulquiorra seraya mengecup kedua tangan Orihime.

Ulquiorra mencium lembut bibir Orihime, ia memagutnya dengan pelan dan penuh cinta, tanpa disadari kalau kini keduanya telah terbaring diatas kasur dengan posisi Orihime dibawah Ulquiorra, wajah Orihime terlihat bersemu merah juga bibirnya yang basah akibat ciuman mereka tadi.

"Hime." Ulquiorra membelai wajah indah sang istri.

"Ulquiorra-kun." gumam Orihime.

Ulquiorra melanjutkan aktifitasnya mengecup dan mencium bibir Orihime kembali, mungkin malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua.

TBC

A/N : Chapter kali ini cukup panjang Inoue buatnya dan untuk Chapter depan Inoue bingung harus bikin Fic dengan rate T atau M, tapi kalau rate M?! jujur saja Inoue ga bisa dan pintar membuat cerita yang berbau rate M (Ada yang mau membantu dan memberi saran untuk Inoue membuat Fic M?)

Buat kelanjutan cerita ini Inoue ga bisa janji bakalan cepat updatenya. Yang sudah menantikan kelanjutan Fic ini, mohon maaf jika kelanjutannya seperti ini. Konflik belum ada dichapter ini mungkin dichapter depan.

Mohon maaf Inoue ga bisa membalas Riview kalian satu-satu, tapi terima kasih banyak atas saran juga semangatnya untuk melanjutkan Fic ini.

Jika berkenan Read and Riview.

Semoga senang dengan kelanjutan ceritanya.

Inoue Kazeka