Disclaimer : Tite Kubo

Rate : M

Genre : Romance

.

.

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

PLEASE IF YOU DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Orihime hanya bisa diam terpaku memandangi wajah Ulquiorra yang menatapnya dengan penuh cinta dan kasih, tangan besarnya mulai membelai wajahnya dengan lembut. Saat ini keduanya tengah berada diatas ranjang, dengan posisi Ulquiorra diatas tubuh Orihime.

"Hime..." ucapnya dengan lirih.

"Ul..."

Ulquiorra langsung mencium bibir sang istri dan menguncinya dengan rapat menggunakan bibir tipisnya dan Orihime hanya bisa mengerang tertahan saat sang suami mulai memasukkan lidahnya kedalam mulutnya, mengajak untuk menari didalam.

"Hmph..."

Ulquiorra mulai melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakan oleh Orihime dan melemparnya entah kemana. Gadis cantik bermata abu-abu ini hanya bisa pasrah saat Ulquiorra melakukannya, dan saat ini Orihime bisa dikatakan hampir telanjang karena hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, sedangkan Ulquiorra masih terlihat rapi dengan pakaian yang masih lengkap.

Saat Ulquiorra hendak membuka pengait bra milik Orihime, gadis cantik bersurai orange kecokelatan ini langsung mendorong tubuh Ulquiorra hingga terdorong jauh darinya.

"Ada apa Hime?" tanya Ulquiorra dengan bingung.

Orihime terlihat memegangi bagian depannya dengan kedua tangannya dan wajahnya terlihat merona merah.

"Ulquiorra-kun curang," Orihime memalingkan wajahnya tak berani menatap wajah sang suami.

Pria tampan ini menyeringitkan dahinya menatap bingung sang istri, "Maksudmu apa Hime?!"

"Ulquiorra-kun ma-masih ber-berpakain lengkap se-sementara aku sudah ha-hampir te-telanjang," cicit Orihime seraya mendukkan wajahnya.

Blush,

Wajah Orihime terlihat merah padam saat mengatakannya dan ia masih memalingkan wajahnya karena malu menatap wajah sang suami yang menatapnya dengan penuh arti juga intens.

Srek…

Ulquiorra langsung membuka kaos yang dipakainya dan memperlihatkan tubuh atletisnya, ia juga melepas celana panjang yang tengah dikenakannya lalu melemparkannya entah kemana, kini penampilannya sama dengan sang istri hanya mengenakan pakaian dalam saja.

"Sekarang kita sama Hime," Ulquiorra tersenyum penuh arti pada sang istri.

Ulquiorra mengulurkan salah satu tangannya dan menyentuh dagu sang istri, "Lihat aku Hime," pintanya dengan lembut.

Dengan malu-malu Orihime menolehkan wajahnya dan menatap wajah Ulquiorra.

Cup'

Pria tampan ini mencium kembali bibir ranum sang istri untuk beberapa detik lalu menjauhkan wajahnya dari Orihime dan menatap kagum penampilan sang istri saat ini, yang tengah terbaring dibawahnya dengan penampilan yang sangat menggoda sekali.

Satu kata yang bisa Ulquiorra ungkapkan saat ini untuk Orihime adalah 'cantik'.

"Jangan terus menatapku seperti itu," Orihime memalingkan wajahnya dan menutup dadanya dengan kedua tangannya.

Ulquiorra terkekeh kecil melihat sikap sang istri yang tengah malu padanya, ia mendekatkan wajahnya tepat didepan dada Orihime dan perlahan-lahan menjauhkan tangan Orihime yang sedari tadi terus menutupi dada indah miliknya.

"Apakah ini milikku Hime…." Ulquiorra mulai mengecup-ngecup pelan dada Orihime.

"Ng…Y-ya Ulquiorra-kun…." lenguh Orihime karena merasakan sensasi aneh saat bibir tipis sang suami mengecup pelan dadanya.

Orihime terlihat menggeliat geli tak kala Ulquiorra menghisap kuat dadanya layaknya seorang bayi yang tengah menyusu pada ibunya, tak hanya itu saja tangan Ulquiorra turun kebawah dan dengan cepat ia melepaskan pakaian terakhir milik Orihime.

Kini gadis cantik bersurai orange keokelatan itu benar-benar telanjang dan tak ada satu helain benangpun ditubuhnya, wajah Orihime merah padam saat menyadari penampilannya didepan sang suami.

Ulquiorra terlihat terpesona dan takjub melihat tubuh indah sang istri didepan matanya.

"Kau sangat cantik sekali Hime," Ulquiorra tersenyum lembut menatap wajah sang istri.

Wajah Orihime lagi-lagi merona merah melihat senyuman Ulquiorra yang menurutnya sangat menggoda sekali dan selalu saja membuat hati juga dadanya berdebar-debar.

"Apakah kau sudah siap Hime?" tanya Ulquiorra dengan lembut.

Ulquiorra mengerti dan memahami kalau ini adalah pengalaman pertama untuk Orihime maka dari itu ia tidak ingin terburu-buru dan membuat Orihime takut.

"Ya," jawab Orihime dengan mengganggukkan kepalanya.

Ulquiorra tersenyum kecil mendengar jawaban dari Orihime, pria tampan ini mendekatkan bibirnya kedahi sang isti dan mengecupnya dengan penuh kasih. Merasa sudah mendapatkan ijin dari Orihime, Ulquiorra membuka juga pakaian terakhirnya.

Wajah Orihime benar-benar sangat merah melihat tubuh telanjang sang suami juga sebuah benda yang berada diantara paha, membuat wajah Orihime merah padam dan memejamkan kedua matanya karena malu.

"Ya Tuhan aku melihatnya!" Jerit Orihime dalam hatinya.

Didalam hidupnya ini pertama kalinya melihat alat reproduksi pria secara langsung bukan dari buku biologi yang pernah dibacanya. Yang membuat Orihime semakin malu adalah benda yang ia lihat saat ini adalah milik dari Ulquiorra, suaminya sendiri.

Merasa Orihime yang memejamkan kedua matanya membuat Ulquiorra bingung dan merasa cemas kalau sang istri ketakutan dan belum siap melakukannya.

"Hime ada apa? Mengapa kau menutup kedua matamu?"

"I-itu..."

"Apa kau takut Hime?" potong Ulquiorra, pria tampan ini merasa sangat resah juga gelisah pada sang istri.

"Jika kau t..."

Orihime menangkup wajah sang suami dan membuka kedua matanya secara perlahan, "Ya, saat ini aku benar-benar takut sekali Ulquiorra-kun. Tapi..."

Orihime menggantungkan kalimatnya dan menatap penuh cinta sang suami dengan senyum yang lebar, "Aku sangat luar biasa bahagia saat ini karena aku melakukannya dengan orang yang kucintai,"

Wajah Ulquiorra berbinar bahagia mendengarnya dan langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat sekali, meluapkan perasaan bahagianya. Ulquiorra melepaskan pelukkannya dan menatap wajah Orihime, mengerti akan raut wajah sang suami Orihime berkata kalau ia sudah siap dan Ulquiorra bisa melakukannya.

Ulquiora terlihat membuka lebar kaki jenjang sang istri dan bersiap melakukannya, namun melihat wajah Orihime yang terlihat ketakutan juga gugup membuatnya tak tega melakukannya, pria tampan ini meraih tangan sang istri dan mengalungkannya dipundaknya.

"Jika kau merasa sakit kau bisa mencakarku, menggigitku atau berteriak," ujarnya dengan lembut.

Orihime mengangguk kepalanya dengan pelan namun wajahnya benar-benar terlihat sangat gugup sekali, akan tetapi Ulquiorra berusaha menenangkan hati dan perasaan sang istri untuk tidak takut dan lebih rileks.

"Jangan takut Hime, mungkin ini akan terasa menyakitkan untukmu. Tapi aku akan melakukannya sebaik mungkin juga lembut," Ulquiorra mengecup pelan pipi Orihime dan tak lama mencium bibir tipis Orihime.

Dengan perlahan-lahan Ulquiorra mulai memasuki tubuh Orihime.

"Akh…." erang Orihime kesakitan saat sesuatu menerobos bagian tubuh bawahnya.

Tanpa sadar Orihime mencakar punggung sang suami meluapkan rasa sakit ditubuhnya, sadar kalau sang istri merasa kesakitan Ulquiorra menghentikan aksinya dan menatap wajah sang istri yang merasa kesakitan karena perbuatannya.

"Maafkan aku Hime," ucap Ulquiorra seraya mengelus pelan wajah sang istri.

Orihime meraih tangan sang suami dan menggenggamnya dengan erat, "Aku tidak apa-apa Ulquiorra-kun, bergeraklah," pinta Orihime dengan lirih.

Pria tampan ini-pun mulai menggerakkan tubuhnya dengan perlahan-lahan, mungkin awalnya bagi Orihime menyakitkan namun lama-lama, ia sudah tidak terasa menyakitkan malah memberikan sensai juga rasa aneh dalam diri Orihime yang baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.

Bisa dipastikan kalau malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua. Ada sebuah perasaan bahagia dihati Ulquiorra karena bisa melakukan hal ini dengan Orihime, baginya ini adalah hal yang sangat luar biasa di dalam hidupnya.

"Aku mencintaimu Hime." ucap Ulquiorra dengan tulus.

*#*

Para pelayan terlihat berdiri cemas didepan pintu kamar utama, mereka terlihat sangat bingung juga cemas karena pagi ini Tuan dan Nona mereka belum juga keluar dari dalam kamar padahal jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan hal ini tak biasanya terjadi.

Melihat para pelayan yang berdiri gelisah juga ribut didepan kamar utama membuat Nnoitra yang merupakan kepala pelayan dirumah ini menjadi heran dan menghampiri mereka semua.

"Ada apa ini?!" tanya Nnoitra dengan dingin.

Para pelayan langsung berbaris dengan rapih dan sedikit mendukkan wajahnya saat mengetahui kedatangan Nnoitra.

"Selamat pagi Tuan." sapa para pelayan dengan ramah.

"Pagi juga," balas Nnoitra dengan datar.

"Aku tanya sekali lagi, ada apa kalian berkumpul dan ribut didepan kamar utama?" tanya Nnoitra dengan dingin.

"Ka-kami..."

KLEK'

Terdengar suara pintu terbuka dan menampilkan seorang pria bermata Emerald dengan rambut yang sedikit acak-acakan juga bertelanjang dada, memperlihatkan tubuh indahnya yang atletis juga mulus bak porselin.

Para pelayan wanita langsung terpesona dan tersipu malu melihat penampilan sang Tuan pagi ini yang sangat seksi juga menggoda sekali, jika saja yang ia lihat bukan sang Tuan mungkin para pelayan wanita ini akan berteriak histeris melihat tubuh indah Ulquiorra yang sangat menggoda.

"Selamat pagi Tuan," sapa Nnoitra seraya membungkukkan tubuhnya.

"Pagi," balas Ulquiorra dengan datar.

"Tuan, sarapan sudah siap dan..."

"Tolong kau bawakan sarapan kedalam kamar, karena hari ini aku ingin sarapan didalam kamar dengan Orihime." potong Ulquiorra.

"Baik Tuan." Sahut Nnoitra dengan sopan.

Ulquiorra kembali menutup pintu kamarnya dan mengucinya rapat-rapat, dan Nnoitra langsung menjalankan perintah Ulquiorra lalu mengusir para pelayan yang berada didepan kamar utama dan meminta mereka semua melakasnakan tugas masing-masing.

Tap...Tap...Tap...

Ulquiorra berjalan pelan menuju ranjang besar miliknya, disana seorang wanita cantik bersurai orange kecokelatan yang merupakan istrinya, Orihime, tengah tertidur lelah juga pulas diatas ranjang dengan selimut bewarna biru langit yang menutupi sebagian tubuh polosnya yang indah.

Ulquiorra duduk disamping Orihime seraya memandang wajah indah sang istri, masih teringat jelas diotaknya tentang kejadian semalam yang menurutnya tidak mungkin bisa ia lupakan karena memberikan sebuah sensasi, kabahagian tersendiri untuknya. Karena ia adalah orang pertama yang mengambil kesucian Orihime dan itu memang merupakan haknya sebagai seorang suami.

Ulquiorra membelai wajah damai sang istri dan memandangi dengan seksama wajah cantiknya.

"Ngh..." lenguh Orihime dengan pelan.

Orihime terlihat merentangkan kedua tangannya seraya menggeliat dan Ulquiorra masih terdiam tersenyum melihat tingkah sang istri.

Saat Orihime membuka kedua matanya ia melihat sang suami tengah berbaring disampingnya seraya tersenyum lembut, "Selamat pagi, Hime," sapa Ulquiorra seraya mencium singkat bibir sang istri.

"Pagi juga," Orihime tersenyum kecil manatap wajah sang suami.

Kesadarannya belum pulih benar saat bangun tidur, wanita cantik ini belum menyadari penampilannya pagi ini, hingga saat ia mencoba bangun dari tidurnya, selimut yang menutupi tubuhnya merosot jatuh memeperlihatkan bagian tubuh depannya yang polos dan memperlihatkan kedua dada indah miliknya.

Ulquiorra tersenyum nakal melihatnya, "Apa kau mau menggodaku Hime?"

Blush'

Orihime langsung membelakangi tubuh Ulquiorra seraya menutupi dadanya dengan selimut, ia tidak sadar kalau saat ini ia telanjang dan tak lama bayangan kejadian tadi malam mulai terlintas dipikirannya satu persatu bagaikan sebuah filem diotaknya.

GYUT'

Ulquiorra memeluk tubuh Orihime dari belakang dan menaruh dagunya diatas pundak Orihime, "Apa kau malu padaku Hime?" goda Ulquiorra.

"Ti-tidak," sahut Orihime dengan gugup.

Ulquiorra hanya tersenyum kecil melihat sikap malu dari sang istri yang menurutnya sangat manis sekali, pria tampan ini semakin mengeratkan pelukkannya lalu mengecup-ngecup pelan pundak Orihime yang membuat wanita cantik ini mengeluarkan lenguhan kecil tertahan dari bibirnya.

"Apa kau menikmatinya, Hime," ciuman Ulquiorra berjalan menuju leher jenjang milik Orihime yang terdapat beberapa bercak merah atas hasil karyanya semalam.

Orihime hanya bisa diam menerima perlakuan khusus juga lembut dari sang suami, yang bisa ia lakukan adalah menutup rapat mulutnya agar suaranya tidak keluar, namun usahanya sia-sia saja karena tiba-tiba saja Ulquiorra meremas pelan dadanya.

"Aaahh..."

Ulquiorra menyeringai nakal mendengar suara desahan dari Orihime yang terdengar sangat merdu dan indah ditelinganya.

"Sepertinya ini akan jadi ronde ketiga, Hime," Ulquiorra langsung mencium dalam sang istri dan merebahkanya secara perlahan diatas ranjang.

"Hari ini kau libur sekolah dan kita akan bersenang-senang seharian, Hime," tambah Ulquiorra yang langsung membuat wajah Orihime pucat pasi mendengarnya.

"Ya, Tuhan tolong aku." Jerit Orihime dalam hatinya.

Dan sepertinya Tuhan mendengarkan doa dari Orihime, disaat Ulquiorra hendak menarik selimut yang menutupi tubuh Orihime terdengar suara ketukan pelan dari pintu kamar mereka.

Tok...Tok...Tok...

"Tuan, ini saya Lilly datang membawakan sarapan pagi untuk anda dan Nona muda," ucap Lilly dari balik pintu kamar.

"Ul..Ngh...Ul-quiorra-kun...Ada ya-yang menge-ngh...tuk pintu," ucap Orihime dengan susah payah.

"Biarkan saja Hime, itu pasti Lilly yang datang mengatarkan sarapan." Ulquiorra menanggapinya dengan dingin.

Pria tampan ini masih sibuk dengan aktifitas paginya dengan sang istri, ia tengah asik menciumi setiap inci dari bagian tubuh Orihime dan mengacuhkan ketukan di pintu kamarnya. Hingga terdengar suara perut Orihime yang langsung menghentikan aktifitasnya juga merusak mood Ulquiorra.

"Maaf..." cicit Orihime.

Ulquiorra terpaksa menyudahi aktifitasnya, " Baiklah, sepertinya perutmu sudah mulai lapar," peria tampan ini beranjak bangun dari posisinya lalu turun dari ranjang menuju pintu kamar.

KLEK'

Ulquiorra membuka pintu kamarnya dengan pelan dan langsung mengambil nampan yang berisikan sarapan untuknya dan sang istri.

"Terima kasih sudah membawakan sarapannya, dan ada satu hal yang ingin aku minta padamu Lilly,"

"Apa itu Tuan?"

"Tolong kau sampaikan pada yang lain, hari ini aku tidak ingin diganggu oleh siapapun dan tidak ada yang boleh masuk kedalam kamarku." ujar Ulquiorra dengan datar.

"Baik, Tuan saya akan sampaikan ini pada semua pelayan. Kalau begitu saya akan kembali ke dapur." pamit Lilly seraya membungkukkan tubuhnya.

Ulquiorra langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya rapar-rapat, ia berjalan menghampiri sang istri yang tengah terbaring diatas ranjang. Pagi ini Lilly membuat omlete dan sandwich tuna dengan keju didalamnya yang merupakan kesukaan Ulquiorra.

Orihime terlihat sangat lapar sekali setelah semalam melakukan aktifitas yang sangat menguras tenaganya, ia memakan sarapannya dengan lahap sementara itu Ulquiorra terlihat senang melihat sang istri yang makan dengan penuh nafsu.

"Makanlah yang banyak Hime karena kau butuh tenaga untuk melanjutkan aktifitas kita," Ulquiorra menatap nakal sang istri

"Uhuk..." Orihime tersedak makannanya saat mendengarnya, buru-buru ia meminum air.

"Pelan-pelan makannya Hime." Ulquiorra mengelus-ngelus pelan punggung sang istri.

Bisa Orihime rasakan kalau tangan sang suami terasa panas, mungkin itu diakibatkan oleh darahnya yang tengah bergejolak. Wanita cantik ini hanya bisa pasrah menerima apa yang akan dilakukan oleh sang Ulquiorra padanya hari ini.

X0X0X0X0X0X0X0X

Malam ini Nemu yang merupakan sekretaris pribadi Ulquiorra datang ke rumah untuk menyerahkan laporan hasil rapat tadi pagi juga untuk bertemu dengan Ulquiorra yang beberapa hari ini tidak kekantor karena menjaga Orihime yang sakit.

Dan saat ini Nemu tengah berada didalam ruangan kerja milik Ulquiorra.

"Ini hasil rapat kita dengan Oki Corporation," Nemu menyerahkan sebuah map berwarna merah marun pada Ulquiorra.

Dengan teliti pria tampan ini membacanya dan mengeceknya, diam-diam Nemu mencuri pandang menatap wajah Ulquiorra yang tengah serius juga fokus membaca hasil laporan buatannya.

"Bagus sekali, hasil rapat yang kau buat sangat bagus Nemu. Tidak salah jika aku mengandalkanmu," puji Ulquiorra.

Blush'

Wajah Nemu merona merah mendengar pujian sang bos, hatinya sangat gembira saat tahu kalau Ulquiorra senang dengan laporan yang dibuatnya.

"Terima kasih Tuan," ucap Nemu dengan lembut.

Disaat keduanya tengah asik berbincang mengenai pekerjaan tiba-tiba Orihime datang membawakan teh dan camilan untuk mereka berdua, Nemu sangat sebal dan tidak senang melihat kedatangan Orihime yang menurutnya merusak moment kebersamaannya dengan Ulquiorra.

"Terima kasih atas teh dan kuenya." ucap Ulquiorra dengan lembut.

Orihime hanya tersenyum lembut menanggapinya, diam-diam Nemu terus memperhatikan Orihime dan tanpa sengaja ia melihat beberapa bekas bercak merah dileher Orihime yang bisa dipastikan itu adalah bekas kissmark yang dilakukan oleh Ulquiorra.

Nyut'

Hati Nemu terasa sangat sakit sekali melihat bekas tanda cinta yang ada ditubuh Orihime, wajahnya terlihat tertunduk lesu seraya meremas erat bagain depan roknya.

"Karena hari sudah malam, saya pamit pulang dulu Tuan dan Nona Orihime." Nemu beranjak bangun dari kursinya.

"Cepat sekali kau pulang Nemu, tak bisakah kau menunggu hingga makan malam siap?" tanya Ulquiorra.

"Terima kasih Tuan, tapi saya harus segera pulang karena saya ada janji dengan seseorang." jawab Nemu dengan sendu.

"Baiklah, terima kasih karena sudah datang dan memberikan laporan ini padaku. Aku akan menyuruh Starrk mengantarkanmu pulang,"

"Tidak usah Tuan, saya bisa pulang menaiki taksi. Kalau begitu saya pulang dulu." Nemu bangun dari duduknya.

Gadis cantik ini memberikan hormat pada Ulquiorra dan Orihime sesaat sebelum pulang, dan saat ini Nemu tengah dipenuhi dengan rasa cemburu yang membutakan hati dan pikirannya, ia akan rela melakukan apapun demi menyingkirkan Orihime dari sisi Ulquiorra dan memiliki pria bermata Emerald itu dengan seutuhnya.

"Akan kusingkirkan kau selamanya Orihime." Gumam Nemu dengan penuh kebencian.

.

.

.

Setelah hampir satu minggu Orihime tidak masuk sekolah, akhirnya gadis cantik ini masuk sekolah juga dan saat masuk sekolah ia langsung mengikuti acara study tour selama tiga hari dua malam disebuah penginapan dekat pantai.

"Jadi suamimu memberi ijin padamu untuk ikut acara study tour," sindir Rukia.

"Ya," sahut Orihime dengan tersenyum lebar.

"Karena tahun ini adalah tahun terakhirku di SMA, aku ingin menikmati masa-masa sekolahku dengan penuh kenangan bersamamu dan teman-teman yang lain," tambah Orihime.

Rukia tersenyum lebar mendengarnya, memang benar apa yang dikatakan oleh Orihime kalau tahun ini adalah tahun terakhir dari mereka berdua disekolah, setelah lulus dari SMA, Rukia akan melanjutkan kuliah demi mengejar cita-citanya sebagai seorang dokter.

"Kalau begitu, kita berdua harus menikmati study tour ini dengan penuh kegembiraan," ujar Rukia.

"Hm.." Orihime menganggukkan kepalanya dengan antusias.

"Setelah lulus nanti kau melanjutkan sekolah atau menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak-anak." Goda Rukia.

Wajah Orihime merona merah mendengarnya, ia tidak sadar kalau kini ia sudah menikah dengan seseorang yang hebat dan memiliki segalanya didalam hidupnya.

"Ya dan aku ingin menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku." Sahut Orihime dengan mantap.

Rukia hanya tersenyum lebar mendengarnya, "Kudoakan semoga kau memiliki banyak anak." Rukia tersenyum nakal menatap Orihime.

"Kau bisa saja Rukia-chan." Orihime tersipu malu mendengarnya.

Setelah menempuh perjalana hampir tiga jam, rombongan sekolah Orihime tiba juga di penginapan dekat panti yang dituju, semua murid berbaris dengan rapih didepan penginapan sebelum masuk kedalam untuk membagikan kamar. Kebetulan Rukia dan Orihime satu kamar dan setelah membereskan pakaian di kamar, kedua memutuskan untuk pergi kepantai dan bersenang-senang.

X0X0X0X0X0X0X0X

Ulquiorra terlihat temangu didepan komputernya, walaupun pandangannya melihat lurus kelayar komputer akan tetapi hati dan pikirannya saat ini tengah memikirkan Orihime, yang baru satu hari ini pergi study tour ke sebuah penginapan dekat pantai. Andai saja ia tidak memiliki segudang pekerjaan yang harus dikerjakannnya, Ulquiorra sudah pasti akan pergi menemui sang istri untuk melepaskan rindu.

"Hime, aku sangat rindu padamu," gumamnya dalam hati.

Karena asik memikirkan istrinya, pria tampan ini tidak menyadari kedatangan Nemu, sekretaris pdibadinya.

"Tuan...Tuan..." panggil Nemu dengan lembut.

"Ekh..." Ulquiorra terlonjak kaget mendengar panggilian Nemu.

"Nemu? Ya, ada Nemu?"

Nemu tertawa kecil melihat sikap sang bos, "Apakah Tuan sedang memikirkan sesuatu?" tanya Nemu seraya menyerahkan laporan hasil rapat tadi pagi.

"Tidak," jawabnya datar seraya meraih laporan dari Nemu dan langsung membacanya.

Nemu terlihat tidak puas dengan jawaban dari Ulquiorra dan ia bertanya kembali untuk memastikan.

"Anda tidak bisa membohongiku Tuan, sudah lama aku menjadi temanmu dan aku sudah hapal dengan sikapmu jika tengah memikirkan sesuatu," pancing Nemu.

Ulquiorra tersenyum kecil mendengarnya, "Kau benar, Nemu. Saat ini aku tengah memikirkan sesuatu,"

"Apa itu Tuan? Mungkin aku bisa membantumu," Nemu menawarkan bantuan.

"Terima kasih Nemu, tapi saat ini aku tengah memikirkan Orihime dan aku sangat merindukannya,"

Nyut'

Hati Nemu terasa teriris mendengarnya, jika tahu jawabannya adalah memikirkan juga merindukan Orihime. Sudah pasti ia tidak akan bertanya kembali, karena pernyataan dari Ulquiorra membuat hatinya sakit juga pilu.

"Bukankah anda bisa bertemu dengannya dirumah, untuk apa anda rindu pada?" tanya Nemu dengan penasaran.

"Saat ini Orihime tengah pergi study tour selama tiga hari di sebuah vila dekat pantai,"

"Bagus." Batin Nemu.

Gadis cantik ini diam-diam tersenyum atau bisa disebut menyeringai saat mengetahui kalau Orihime sedang tak ada dirumah dan selama tiga hari ini Nemu bisa leluasa berdekatan dengan Ulquiorra tanpa harus ada yang menggangunya, yaitu Orihime.

"Baru juga sehari tak bertemu tapi rasanya sudah setahun," keluh Ulquiorra.

"Hihihihi..." Nemu tertawa kecil tapi hatinya merasa sakit mendengarnya.

"Anda bisa saja Tuan, sejak kapan anda menjadi seromantis ini?" ledek Nemu.

Ulquiorra hanya tersenyum mendengar ledekan dari Nemu, mungkin tanpa ia sadari kalau semenjak dirinya bertemu dan menikahi Orihime, pribadinya menjadi sedikit berubah. Dulu ia adalah pria yang dingin, cuek dan tak perduli dengan cinta atau-pun wanita tapi semenjak menikah dengan Orihime dunianya menjadi begitu berbeda dan penuh warna.

"Mungkin jika orang jatuh cinta akan seperti ini." Seru Ulquiorra.

Nemu hanya diam terpaku mendengarnya, ia meremas erat rok bagian depannya dan berusaha tersenyum memberikan dukungan pada Ulquiorra sementara hati dan perasaannya terasa sangat panas juga sakit mendengar pengakuan cinta Ulquiorra pada Orihime.

.

.

.

Ryou dan Sena terlihat mencengkeram erat baju milik Orihime dan berdiri gemetaran dibelakang gadis cantik bermata abu-abu itu menatap ngeri ke arah hutan yang terlihat gelap dan menyeramkan.

"Tenanglah Ryou, Sena, kita akan memenangkan game ini," ucap Orihime dengan penuh semangat.

"Ta-tapi tetap saja hutan itu me-menakutkan se-sekali Orihime," sahut Ryou dengan gemetaran.

Malam ini tengah diadakan game uji nyali disebuah hutan dekat penginapan, dan setiap kelompok yang terdiri dari tiga orang harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya bendera yang tersembunyi di dalam hutan. Pemenang dari game ini akan mendapatkan hadiah uang sebesar lima ratus ribu yen dan kupon makan selama tiga bulan dikanti sekolah.

Walaupun awalnya takut, akan tetapi demi hadiah yang ditawarkan Orihime akan terus maju demi menjadi pemenang dalam game ini.

"Kita harus menang Sena, Ryou," ucap Orihime pada kedua temannya itu.

Akan tetapi kedua temannya itu terlihat tidak bersemangat sama sekali mengikuti game ini dan ingin cepat-cepat sampai dipenginapan.

Star dimulai dari penginapan dan berakhir dihutan dekat pantai, akan ada beberapa guru dan murid dari Osis yang menunggu mereka dipos terkahir juga beberapa anggota osis dan guru yang akan berpura-pura menjadi hantu untuk menakuti para peserta.

Tanpa Orihime sadari kalau ada bahaya yang mengintai didalam hutan yang bisa membuatnya terluka bahkan kehilangan nyawa.

"Kalian semua siap." teriak Zaraki sensei yang memegang pistol untuk memulai star.

"Ya, sensei kami sudah siap." Sahut para murid dengan penuh semangat.

"Baiklah kalau begitu, game dimulai."

DOR...

Zaraki sensei menembakkan tembakan ke udara dan game-pun dimulai, Orihime berjalan dengan penuh semangat memasuki hutan sedangkan kedua temanya terlihat sangat ketakutan sekali.

"Hadiah, kami datang." Teriak Orihime.

Tanpa ada rasa takut sama sekali Orihime melangkahkan kakinya kedalam hutan mencari bendera-bendera yang tersembunyi didalam hutan. Dan disaat Orihime dan kedua temannya tengah berjalan ditengah-tengah hutan, tanpa mereka duga sama sekali seorang pria terlihat menghadang mereka seraya menghunuskan senjata tajam.

"Orihime, ada penjahat." jerit Sena ketakutan.

"Aku takut, Orihime." Ryou bersembunyi dibalik punggung Orihime.

"Tenanglah Sena, Ryou kalian akan baik-baik saja, aku akan melindungi kalian berdua," Orihime merentangkan kedua tangannya melidungi teman-temannya.

"Kemarilah Nona manis, aku ingin sekali merobek perut kalian dengan pisau ku ini," pria aneh itu terlihat mulai mendekati mereka bertiga.

"Pergi dan menjaulah dari kami," usir Orihime dengan berani.

Pria aneh itu malah terkekeh dan menyeringai kejam memandangi mereka bertiga seraya memamerkan pisau tajamnya.

Sena dan Ryou sudah berlinang air mata menatap takut dan ngeri pada pria aneh itu, merasa ada bahaya yang mengancam dirinya dan teman-temannya. Orihime-pun meminta kedua temannya pergi untuk mencari bantuan dan disini ia yang akan menghalangi pria ini.

"Kubilang cepat pergi dari sini, jika kalian ingin selamat. Cepat pergi." Usir Orihime pada kedua temannya.

Dan dengan terpaksa Sena dan Ryou pun pergi meninggalkan Orihime dalam bahaya, sesaat setelah kepergian teman-temannya pria itu berlari menerjang tubuh Orihime dan langsung menusukkan pisaunya tepat di perut Orihime dengan dalam.

"Ugh..." Orihime memuntahkan darah dari mulutnya.

"Warna darahmu sangat indah sekali Nona," pria itu melumuri kedua tangannya dengan darah milik Orihime.

"Melihatmu sekarat seperti ini membuat hatiku merasa senang...khe..khe..." pria itu menusukkan kembali pisau ke tubuh Orihime.

Crat...

Darah segar mengalir kembali dari tubuh Orihime lewat luka baru, kali ini Orihime merasa sudah tidak kuat lagi bahkan hanya untuk membuka kedua matanya, atau-pun menahan rasa sakit yang teramat sangat di tubuhnya.

"Gomenasi...Ulquiorra-kun." ucap Orihime sesaat sebelum menutup kedua matanya.

TBC

A/N : Mohon maaf kalau dibulan puasa Inoue malah Update Ficnya agak mesum atau memang sudah mesum. Mohon maaf ya, kalian bisa membacanya kalau sudah buka puasa ya. Dan Inoue juga meminta maaf kalau Update Fic ini lama sekali dan mungkin untuk chapter selanjutnya juga akan lama karena Inoue berkendala dengan waktu luang yang dimiliki oleh Inoue.

Jika ada waktu Inoue akan usahakan mengupdate Fic ini dengan cepat. Tapi Inoue tidak bisa janji kapan bisa Update karena Inoue berencana ingin Hiatus tapi melihat banyak Fic yang belum tamat dan selesai membuat Inoue harus menyelesaikannya hingga tamat.

Mohon maaf kalau jalan ceritanya jadi seperti ini dan adegan lime atau lemonnya tidak bagus sama sekali, karena Inoue memang tidak pintar juga bisa membuat Fic dengan rate M dan Fic ini sengaja Inoue sedikit panjangkan biar bisa puas membacanya.

Untuk siapapun yang sudah mau membaca Fic ini, Inoue mengucapkan terima kasih banyak dan jika berkenan Read and Riviewnya pleas.

Inoue Kazeka