Lonceng menara tua dentang, dua belas kali.
Teng.
Bunyi pertama bergema, merambat melewati langit malam.
Dua, tiga,-
Aku melonjak bangun dari peti kayu yang tidak kututup. Rambut dibelakang leherku berdiri, sekujur tubuh merinding panik. Aku merasakannya. Dan aku tidak menyukainya. Tidak, jangan sekarang. Jantungku berdetak dengan abnormal, liar dan kasar, membuatku menarik napas dengan rakus, berusaha mengisi paru-paru dengan oksigen.
DEGDEG DEGDEG DEGDEG-
Aku tak akan heran bila organ tersebut sudah mematahkan satu atau dua rusuk.
-empat, lima, enam,-
Mencengkram dadaku yang terasa sesak, sangat sangat sesak, aku berusaha menyingkirkan selimut hangat yang menjala kakiku, memperburuk rasa menjijikkan dari kulit yang panas, dibasahi keringat membara di sekujur tubuh. Menjatuhkan diri ke lantai kayu yang dingin, aku mencengkram kepala dengan satu tangan, serasa menyiksa dan berdenyut kejam tanpa ampun. Sakit, sakit sekali.
Lebih dari itu, mentalku belum siap untuk ini. Bagai diinjak sepasukan kuda tentara, hati ini hancur, remuk. Jemari beku dari es yang disebut sebagai rasa takut menjalari sekujur tubuhku. Kenapa? Kenapa sekarang?
-tujuh, delapan, sembilan,-
Mati-matian kucoba menelan seonggok gumpalan dalam tenggorokkanku. Kelembaban panas menyerang kelopak mataku, rasanya perih. Aku merasa akan menangis. Kuharap ini hanya mimpi buruk. Tidak nyata. Bohong. Tapi ini benar-benar terjadi. Begitu banyak 'mungkin', 'bisa jadi', 'semoga' berenang di benakku. Apa saja, asal bukan bentuk iris mata yang akan berubah, sempit dan segaris layaknya kucing.
Inikah waktunya? Tidak. Tidak, kumohon, seharusnya dalam seminggu, bukan sekarang.
Peluh dingin membasahi wajah dan rambut legamku, mengalir turun, melewati tenggorokkanku yang kering.
Sangat kering, lebih membakar dari pasir kasar di padang gurun.
Hari yang aku takuti telah tiba.
Aku bisa merasakannya, sangat jelas dan menyiksa.
Tidak, jangan sekarang.
Air mata pertama jatuh ke pangkuanku.
-sepuluh, sebelas,-
Perlahan tapi pasti, penglihatanku berubah. Layaknya hewan malam, aku dapat melihat dalam gelap. Dengan bergetar, kuangkat tanganku, menyentuh sepasang taring yang memanjang, tanpa sengaja menggores bibir bawah. Setetes darah menitik ke lantai, tidak kuhiraukan. Perasaanku tak menentu, tersesat dan ketakutan.
Kenapa sekarang?
Ini benar-benar terjadi. Aku kembali menjadi monster.
Bulan purnama datang lebih cepat dari perhitunganku. Aku salah menghitung malam. Kesalahan pada tanggal yang mengacaukan semua.
Insting memaksaku untuk bergerak, mencari sumber kehidupan terdekat, manusia, darah, hisap, mangsa-
"...?" Tunggu. Manusia? Yang terdekat?
Oh tidak.
Kumohon , tidak, jangan mereka.
A- aku harus pergi dari sini.
-dua belas.
Aku haus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Presented to you,
By IceFlowerGirl
.
.
.
Living Nightmare
.
.
.
Disclaimer: Boboiboy milik Animonsta
.
.
.
Warning(s): pair FangGem, slight HaliTau? I dunno. Possibly OOC, typo, light yaoi. Vampire!AU. You have been warned. DLDR.
.
.
.
.
.
.
.
.
2
.
.
.
.
.
Ini gila.
Sebulan sudah berlalu sejak ia menghilang, namun kami masih tidak sanggup menghapus bukti keberadaannya.
Peti kayu yang dibuat Fang masih terletak kesepian di loteng, tempat ia tidur. Aku membereskan selimut dan bantal-bantal yang tercecer di malam ia menghilang, bertanya-tanya apa ia mengalami ilusi buruk dalam mimpinya. Masih kuingat jelas, sebuah cipratan kecil yang kucurigai sebagai darah di lantai.
Ya, sebulan berlalu. Rak buku dan cangkir teh yang sering dipakainya, bahkan sofa hijau empuk yang membuat tubuh kecilnya terlihat tenggelam tidak kami sentuh. Tidak dikembalikan ke kotak kayu dan dimasukkan ke gudang, tidak disimpan apik sebagai hiasan peralatan teh, dan dibiarkan tetap duduk di dekat jendela, disebelah rak buku.
Sebelum ia datang, jarang ada yang membuat teh.
Jarang ada yang menyentuh dapur, memanggang kue hazelnut.
Langka bagi Halilintar untuk tersenyum.
Bagi Fang untuk menunjukkan perhatian.
Taufan memiliki seseorang untuk dimanjakan.
Jarang ada yang tertawa.
Kami menolak untuk melupakannya, menolak mengganggapnya tidak nyata.
Dia ada. Entah dimana, tapi dia ada, nyata.
Tak masuk akal, mengingat bagaimana dulu kami sanggup menerima perjanjian untuk membunuhnya.
Tapi bila dipikirkan lagi, kalau kami tidak menerimanya, si vampir kecil tak akan pernah hadir disini.
Semuanya terjadi karena sebuah alasan.
Tapi tidak semua alasan diketahui dan bisa diterima manusia.
Living Nightmare
"Khhrh,"
Suara erangan.
Sesuatu yang hidup. Bersembunyi di pojok atap ruangan. Puncak langit-langit yang gelap, dimana bayangan dan sarang laba-laba tidak absen bertamu.
"Kkh- cit,"
Fang mendongak. Suara cicitan? Seingatnya tak ada hama pengerat yang tinggal di dalam gereja. Ia mengerutkan kening, ragu. Kembali hening menyapu ruangan, membuat Fang mendorong perihal hama tak masuk akal barusan ke pojok paling belakang benaknya.
"Kriit,"
Apapun itu terjatuh dari tempatnya bertengger, mengagetkan Fang dan membuatnya meloncat kaget di mana ia duduk. Makhluk itu, ia mendarat di atas bantalan duduk yang ditumpuk di pojok ruangan, untuk dicuci kemudian hari.
Fang bisa merasakan jantungnya berdegup lebih kencang, was-was. Meletakkan buku bacaannya, pemuda berkacamata itu bangkit, menghampiri -hewan?- yang terkapar tak sadarkan diri. Makhluk tersebut mengerang tak nyaman, seolah kesakitan, berkedip beberapa kali sebelum kembali menutup matanya.
Nafas Fang tercekat.
Kelelawar.
Bermata emas.
Living Nightmare
Gempa tahu ia berbeda. Ia tahu, ia aneh.
Koloni tidak menyukainya, tapi mama dan papa selalu membelai kepalanya dan berkata bahwa 'semua itu tidak perlu kau pikirkan'. Ia tak pernah meragukan perkataan mereka. Gempa ingin mereka tahu, ia adalah anak yang kuat, yang tak akan hancur dengan rasa kesepian. Ataupun sakit, dan hinaan. Maka ia pun memberanikan diri menyelinap keluar di siang hari untuk pertama kalinya.
Orang tuanya terlihat terkejut, tapi tidak marah, malah bangga.
Mama bahkan memuji si kecil, mencium rambut yang menutupi keningnya, dan mengatakan betapa beraninya ksatria kecil mama.
Nah, berbeda itu... tidak terlalu buruk, bukan?
Meringkuk di pojok tergelap kamarnya, sang vampir kecil memainkan setangkai bunga krisan yang ditemukannya siang ini. Bunga yang indah, bahkan lebih menawan lagi terlihat di siang hari, diterpa matahari.
Betapa beruntungnya ia, bisa menikmati siang hari, walau perasaan tidak enak badan akan menyerangnya pada malam hari. Semua itu seharga dengan kebebasan dan kehangatan mentari yang bisa didapatnya. Ia mempelajari warna cerah flora yang nampak samar di bawah sinar bulan dari celah jendela. Kelopak keemasan yang masih segar, karena ia mengambil bunga itu dengan hati-hati dari dalam tanah beserta akarnya. Mencelupkannya ke dalam sebuah vas tinggi ramping, diisi dengan air es. Krisan ini mungkin bisa bertahan hidup sampai beberapa hari, dibandingkan dengan bunga yang dipetik, dipisahkan dari akarnya, yang hanya bertahan tak lebih dari semalam.
Bunga dan kehidupan.
Cantik.
Hal terindah kedua dari senyum ibunya.
Ia ingat, sengatan matahari yang menghangatkan. Angin yang membelai wajahnya. Aroma manis bunga liar. Ia suka bunga liar. Warna mereka semakin indah di siang hari, tidak seperti malam yang gelap mencekam.
Entahlah, semuanya indah di siang hari, mereka berbeda dengan malamnya yang selalu dipenuhi cacian sesama vampir, darah, dan bahaya.
Tapi sekarang, ia tahu bahwa dirinya bisa keluar di kala mentari, bukan hanya bulan.
Dengan senang ia menyusun ulang rutinitasnya.
Waktu tidur akan ia potong. Saat matahari nyaris mencapai puncak, ia akan bangun dan bermain sendirian. Lagipula siapa yang bisa, dan mau menemaninya bermain?
Gempa meletakkan bunga tersebut di celah kecil antara lemari dan tempat tidurnya, menyembunyikan harta karun sederhana dan manis itu dengan hati-hati.
Living Nightmare
"Apa dia akan baik-baik saja, Fang?"
"Kuharap begitu. Wujudnya masih belum kembali semula sih,"
"Tch. Menghilang lalu muncul lagi begitu saja, merepotkan."
"Hush, Hali. Dia pasti punya alasannya sendiri. Sudah, biarkan dia tidur dan tutup petinya, kita akan cek lagi keadaannya besok pagi. Kembali ke kamar kalian, bulan sudah tinggi di langit,"
"Siaaap~!"
"Hn, iya, berisik."
Living Nightmare
Kepalaku sakit, berdenyut.
Samar kurasakan, aku tak bisa bergerak.
Eh? Apa ini? Kutarik sedikit lenganku, masih berat dan tidak fokus, efek dari tidur. Suara dentingan besi terdengar seperti... rantai?
Membuka sepasang mata yang terasa berat, aku berkedip bingung. Dimana aku? Menarik nafas untuk menenangkan diri, otakku berusaha memberi informasi tentang tempat apa ini. Sebuah lapangan gersang berukuran kecil, tidak terlalu jauh dari koloni. Letaknya tepat di tengah hutan, dengan beberapa bilah kayu kokoh yang dipalu dalam tanah.
Tanah eksekusi.
Tempat vampir dibunuh untuk berbagai alasan.
Panik bergemuruh di dasar perutku, menjalar ke seluruh tubuh seiring timbulnya rasa takut. Kedua pergelangan tanganku tak bisa bergerak, dengan kaki dalam posisi berlutut, membuat mereka sakit dan mati rasa. Langit fajar berwarna biru tua dengan tinta pink kemerah-jinggaan menyambut kala kudongakkan kepala.
Kenyataan menamparku tepat di wajah, membuatku merinding dan merengek pelan di balik tenggorokanku, insting vampir menolak untuk diam, berlawanan dengan sisi manusia yang memilih pasrah menerima hukuman. Hukuman? Untuk apa?, tanya vampir dalam diriku, berseru marah. Tindak kotor macam apa yang telah kita lakukan? Kita seharusnya tidak direndahkan seperti ini!
Dirantai dibawah matahari.
Ya, aku sedang dieksekusi.
Living Nightmare
Jam berlalu begitu lambat. Ia tahu apa yang akan terjadi, sangat jelas bagai telah dijahit dalam benaknya.
Dalam beberapa jam, setelah matahari mulai meninggi dan rasa panas membakar kulit, hipnotis akan bermain dan menari-nari dibalik kelopak matanya. Dengan lemas dan pening, ia menyaksikan dirinya terduduk di tengah ketidakadaan, semuanya hitam gelap dan kosong, bahkan suara nafas pun terdengar menggema disini. Ruang dimensi lain, dimana vampir diinterogasi. Tetua para vampir muncul di dalam ilusi tersebut, menunjukkan sebuah vas berisi bunga krisan yang mulai layu, karena jauh dari matahari seharian.
"Bagaimana kau mendapatkan tanaman ini?"
"Menurut tabib tanaman, ini telah dicabut dari tanah selama beberapa jam, tapi tidak mencapai semalam."
"Kau memetiknya di siang hari, bukan?"
"Bagaimana mungkin dirimu bisa melangkahkan kaki ke daratan dimana waktu tak tersentuh kaummu?"
"Jawablah dan pikirkan, bukankah perihal ini aneh bagi seorang vampir murni?"
"Anak muda, mungkinkah kau ini setengah manusia?"
Setiap pertanyaan akan serasa menusuk otak, dimana belati imajiner munghujam satu demi satu, menuntut jawaban yang bahkan tak diketahui dirinya sendiri. Ia tak tahu. Ia tak tahu kenapa dirinya berbeda. Berdosakah dirinya, karena menerima keanehan yang tak bisa dipahami orang lain?
Salahkan ia menerima dirinya sendiri, apa adanya?
Berkedip, Gempa mendapati dirinya kembali meringkuk di pojokan kamar. Bunga krisan yang ia kagumi di bawah rembulan masih segar, duduk manis di samping lantai dimana ia duduk.
A- apa ini? Menurut memorinya, tetua akan terus menanyai alam bawah sadarnya sampai ia tak tahan lagi, tidak bisa menerima perlakuan semena-mena ini, dan memberontak dari ikatan hipnotis.
Ia akan melawan jeratan tetua, memaksakan diri untuk kembali ke tubuhnya yang menderita luka bakar akibat dijemur matahari siang. Pakaian serba hitam memperburuk keadaannya, karena warna hitam menarik panas yang semakin menyiksa tubuh.
Mendapati hari sudah sore kala lepas dari ruang dimensi, Gempa meronta dengan sia-sia, rasa mual menusuk perut dan kerongkongan. Dengan suara yang menyayat jiwa ia menjerit, mengadu kepada Ibu Alam, betapa tak adilnya hidup yang ia miliki, betapa kejamnya dunia untuk membiarkan hal ini terjadi padanya.
Pergelangan tangan yang memar dan berdarah akibat rontaan putus asa sang vampir menahan tubuhnya ketika Gempa menundukkan kepala, badan terkulai lemas kedepan, lutut memar dan kaki mati rasa. Tidak dihiraukannya tenggorokan yang sakit dan kering, ataupun sengatan luka bakar di tubuh, karena ilusi terakhir yang diberikan oleh tetua -kenyataan yang dilempar tepat ke wajahnya dengan kejam- adalah tubuh orang tuanya, ditembus pasak kayu tepat di jantung mereka.
Mama dan papanya pun merapuh, rusak dan diterbangkan angin sebagai debu.
Ia ingat bagaimana sisi binatang dari darah vampirnya meledak-ledak, mengamuk, dan lagi, ia meronta kasar walaupun tubuhnya protes menolak, kesakitan.
Hatinya jauh lebih sakit.
Suara 'krak' terdengar, dan ujung rantai yang mengikat tangan kanannya lepas. Menarik napas berat dan cepat, ia mati-matian menahan air mata agar tidak menetes. Juga menghindari kontak mata dengan pergelangannya yang terlihat mengerikan, berdarah-darah dan dipeluk erat oleh besi rantai.
Terlalu erat. Membuat mual dibalik dadanya berlipat ganda. Menyakitkan. Sakit. Jahat. Semuanya, mereka jahat.
Kejam.
Dengan kasar ia buka benda itu dan menyingkirkannya dari pergelangan kanan, mendesis kala mendapati bagian dalam rantai telah dilapisi perak. Dengan cakar yang memanjang, dipotongnya rantai di tangan kirinya.
Darah menetes, menyentuh tanah dengan suara yang menjijikkan.
Kala itulah air mata jatuh.
Oh Tuhan, bila kau memang ada, apa yang telah kulakukan sehingga harus melewati segala siksa ini?
Mual semakin terasa berat saat gambaran kematian orang tuanya kembali bermain, dilengkapi darah yang memuncrat dari mulut dan dada mereka-
Menarik nafas cepat dan terbatuk hebat, Gempa membiarkan dirinya histeris, air mata menetes deras. Membekap mulutnya dengan kedua tangan, ia merasa muak. Dewa apapun di atas sana pastilah sangat membencinya, karena seolah tak cukup penderitaan yang ia alami, dengan sakit dan tenggorokan terbakar, Gempa memuntahkan apapun yang ada di dalam perutnya. Yang memang tidak berisi banyak, sehingga asam perut yang menusuk membakar kerongkongannya, membiarkan vampir malang itu terbatuk, darah bercampur dengan muntahan di atas tanah.
Masih diserang batuk, Gempa menatap hutan yang mengarah ke pegunungan. Mata emasnya kosong. Suara senyap pepohonan berbisik, menggoda manis, ajakan nona angin untuk pergi dan seruan bumi hutan untuk berkunjung. Ia bisa sembuh asal dekat dengan alam, kan? Energi kehidupan alami sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bertahan hidup, memperbaiki metabolismenya yang berantakan.
Untuk mendapat sesuatu, kau harus membuang sesuatu.
Untuk bertahan hidup, untuk bebas, ia harus membuang masa lalu, membuang ikatan menyakitkan koloni yang mengurung jiwa.
Menyeret tubuhnya yang terlihat hancur di bawah cahaya redup jelang malam, sang vampir berjuang untuk berdiri. Dengan tertatih-tatih, ia pergi. Dan kali ini, ia tidak akan kembali setelah bermain dekat semak bunga liar.
Ia pergi, dan tak akan kembali.
Menjauh dan menyendiri.
Itulah yang harusnya terjadi.
Lalu kenapa ia ada disini? Di kamarnya? Tanpa luka, seolah tak ada yang terjadi?
Mendadak, rambut di belakang lehernya berdiri.
"Sayang, mama bangga sekali padamu,"
Mengangkat kepala dengan sebuah sentakan, Gempa bertatap wajah dengan orang tuanya yang berlutut sangat dekat dengan pojok kamar tempat ia meringkuk.
Terperangkap, geram instingnya.
Mereka bermata merah, kosong tanpa pupil.
Tersenyum.
Darah mengalir keluar dengan deras dari sebuah lubang di dada kiri mereka.
Pasak kayu, menembus jantung, menyisakan bekas yang mengerikan-
Sang vampir muda tak bisa bergerak. Seolah tubuh ini bukan miliknya, yang nyata hanyalah rasa dingin lantai dan orang tuanya.
Orang tua yang seharusnya sudah beristirahat dalam damai, diterbangkan angin dalam bentuk debu halus.
Atau mungkin tidak ada kedamaian dalam tidur abadi mereka? Mungkinkah ada dendam di balik senyuman yang kosong dan dingin?
Linangan air mata memburamkan pandangan, sayang tak cukup buram untuk memblokir pemandangan horror yang disajikan baginya.
"Hanya dengan bernafas dan hidup-," ucap mama menggenggam tangannya, segala kelembutan dalam mata yang ia cintai itu menghilang, kosong, darah menetes dari ujung bibirnya, pucat kebiruan,
Ayahnya buka suara, melanjutkan kalimat ibunya dengan belaian tangan dingin yang berlapis darah di pipinya,
"-kau berhasil membunuh kami."
Gempa menjerit.
Living Nightmare
"Ya Tuhan, demi langit Venus, suara mengerikan apa itu?!"
Taufan terbangun oleh suara memilukan dari loteng, dimana mereka meletakkan kelelawar kecil dalam peti kayu. Tanpa jeda terdengar suara tajam yang berlapis rasa sakit, begitu tersiksa.
Menjerit dan terus memohon, meminta maaf entah kepada siapa.
Walau sedikit berbeda, Taufan mengenali suara itu.
Gempa.
Tanpa berkata-kata, sang pendeta bergegas menaiki tangga ke loteng secepat yang ia bisa. Sebulir keringat terbentuk di sisi wajah, jantungnya tak kunjung redup dari adrenalin. Mendorong pintu berat dari kayu pohon mahoni, Taufan terpatung dimana ia berdiri.
Bukan lagi sosok anak kecil yang menyambut matanya, melainkan seorang pemuda dengan manik emas dan wajah yang sama, terduduk di peti yang sekarang terlihat agak kecil untuk tubuhnya. Tubuh yang lebih tinggi, bukan sepinggang, terlihat menarik di mata bagai tempat lilin yang sederhana, indah sebagaimana adanya. Sosok asli Gempa adalah vampir muda. Terlihat seperti manusia berumur enam belas tahun.
Perbedaan yang lain adalah, manik emas ini tidak melihat apapun.
Pandangan kosong dari sang vampir mungkin sudah pernah mereka lihat, namun pupil segaris layaknya kucing nampak histeris. Berkabut, seolah belum terbangun sepenuhnya. Memeluk diri sendiri dan membenamkan cakar dalam lengannya, Gempa menggeleng frantik, air mata menggenang di bawah topaz yang tidak fokus, menggores dan menarik darah dari luka yang ia timbulkan.
Halilintar dan Fang sudah ada disana, nampak panik. Fang berusaha menenangkan anak malang itu sementara Halilintar menarik lengan Gempa, menghentikan cakar tajam agar tidak menancap lebih dalam. Apa yang harus mereka lakukan saat ketiga manusia yang hadir tidak mengerti persoalan yang dihadapi Gempa?
"Maafkan aku, kumohon, aku mohon maaf, aku tidak tahu, aku benar-benar tak tahu, mama papa, aku-, maafkan aku," ulangnya bagai mantra, tetes air hangat melarikan diri dari matanya. Ia tak lagi memberontak, dengan adanya Fang yang memeluk kepalanya protektif.
"Shh, shh, anak domba, tenanglah, aku ada disini," bisik seniornya menenangkan, meremas bahu yang terlihat sangat tegang. Apapun yang dimimpikan sang vampir pastilah sangat mengerikan, jelas terlihat dari tubuhnya yang gemetaran, mata terbuka lebar.
"Hentikan, jangan mereka," gumam Gempa pada dirinya sendiri, berbisik kata-kata aneh, dalam bahasa lain, bahasa makhluk dalam gelap. Bersandar dalam pelukan Fang, Gempa mencengkram lengan pakaian tidur sang pendeta. Air matanya sudah reda, meninggalkan isak yang kadang mengguncang tubuh, sesenggukan.
"Iya, tenanglah, kau baik-baik saja, tidak ada lagi yang akan menakutimu,"
Sebuah anggukan pelan membalas perkataannya.
Beberapa menit kemudian, bersama dengan usapan mata dan sebuah kerutan bingung di kening, maniknya kembali fokus.
"Oh Lucifer," bisiknya pada diri sendiri kala menyadari keadaan sekitar.
Bagai bayang malam, ia mengelak keluar dari dekapan hangat, nyaris tak terlihat karena kecepatannya, dan menabrakkan punggung ke jendela tinggi yang memanjang ke atas, bernafas tidak teratur.
"Menjauh dariku!"
"Gempa, shh," bisik Halilintar, setengah melindungi Taufan untuk berjaga-jaga, mencoba mendekati sang vampir.
"J- jangan kemari! Aku benar-benar tidak boleh-," ia menenggak ludah, "kalian akan menyesal,"
Fang melepaskan kalung salib peraknya, meletakkan jimat itu di meja terdekat, "Kami tidak akan melakukan apapun yang akan menyakitimu. Apa yang patut disesali?"
"A- aku ini vampir. Walau abnormal, aku masih membutuhkan darah pada waktu tertentu," mulainya, mendorong punggung mundur ke jendela, seolah berusaha mengecilkan diri, berusaha kabur, "Aku bisa menyerang saat bulan purnama. Aku akan merasakan keinginan kuat untuk darah. Rasa haus inilah yang menyebabkan aku lari. Kalian tidak mengerti, " -betapa sulitnya menahan sisi pemangsa dari diriku ini,- "menjauhlah, kumohon."
"Kau... haus?"
"... tanpa darah manusia, aku membutuhkan tujuh minggu sebelum haus mereda. Ini minggu ke empat, nyaris lima. Puncak kehausan, minggu kelima," ucapnya memperingatkan, "jadi menjauhlah. Kalian kira kenapa aku menghilang bulan lalu? Agar tidak ada yang terluka gara-gara aku."
Hening berkunjung, menyelimuti ruangan.
Sang vampir menundukkan kepalanya, "Lupakan. A- Aku harus pergi,"
"Tunggu!"
Tapi terlambat, sang makhluk gelap telah hilang ditelan kabut mistis yang mendinginkan ruang, mengepul pekat entah dari mana.
.
.
.
A/N:
...
What the hell did i just write
By the way guys
Got the feel?
The feel. #pasangmukaserius #plaksadarwoi
Sorry if it's bad, I tried '-';
Oh well, minggu-minggu penuh ujian telah berlalu bagi Ice, readers sekaliaaan~ mulus kecuali untuk fisika uhuhu #mojok *keluar woy A/N blom kelar*
Gomen lama updatenya, Ice memang bukan fast updater :'3
Next chapter mungkin merupakan yang terakhir? Maaaybe.
Mind to RnR?
