Epilogue

"Buku wisata?"

Gempa mengalihkan perhatian yang awalnya ia tujukan pada buku novel pada kekasihnya. Taufan dan Halilintar sedang bermain game Papa Zola, asyik melawan Raksasa Tidur dan tidak menghiraukan sepasang manusia yang duduk berdekatan di atas sofa.

"Aish! Hali! Harusnya kau mengeluarkan Rotan Kebenaran! Aduhmak! Kagaaak, itu Cairan Keadilan buat nambah HP!"

"Mana aku tau?! Eh, tombol mana lagi yang harus kutekan buat jurus itu?"

"Ish, bisa-bisanya kau- bukan yang itu- BUKAN! PAYAH LU HALI!"

"KETEKAN!"

"DEMI BISKUIT YAYA-"

"Jangan ngutuk orang pake bawa-bawa nama tu biskuit segala, dasar bodoh!"

"Jangan ngatain orang bodo, dasar tulalit!"

"Yang penting aku gak mengataimu begok, begok!"

"Heh! ITU BARU AJA NGATAIN BEGOK! Bilang yang lain kenapa? Bodoh sama begok itu sama aja, idiot! "

"MAKNA IDIOT KAN SAMA AJA TAUFAN COEEEG!"

(Disini Gempa dan Fang menahan hasrat untuk mengatakan "kalian berdua sama-sama idiot,")

"Eh? Ya juga sih,"

"Iya iyayaya, kok malah ga nyambung gini aargh! Sekarang gimana, udah mau kalah, kampret! Eits! Whoa whoa!"

GAME OVER! YOU LOSE

"Adoh, kalah kan?! Iiih, sumpah deh, tombol yang bener tu atas-bawah-"

"UDAAAH! Nyerah aku nyeraaah!" pekik Halilintar frustasi, mengimbaskan kedua tangannya ke atas emosi, secara sengaja-tidak-sengaja melemparkan joystick game ke sofa di belakang mereka duduk, penat setengah hidup setelah bermain boss stage selama dua jam. Dan kalah lagi. Taufan menarik sebuah bantalan sofa dan melemparkannya pada Halilintar, yang mana mendarat tepat di wajahnya. Pemuda bermata biru itu mengerang kesal tidak jelas dengan keras, lalu menjatuhkan kepala ke sofa di belakang tubuhnya.

Fang yang notabenenya memang duduk di sofa menangkap joystick terbang dari Halilintar tanpa melihatnya dengan satu tangan, dan melanjutkan pembicaraan dengan Gempa.

"Yap, bentar lagi kan liburan? Aku ingin melihat-lihat sedikit tempat liburan di buku wisata,"

Gempa mengangguk, "Ya udah, tunggu bentar ya," ucapnya sambil berlalu, menutup wajah Taufan dengan topi biru-putihnya iseng.

Taufan mengerang lagi, kali ini terdengar pasrah. Jarang kau dapati hari dimana Taufan akan merasa malas membalas kejahilanmu.

Seiring kepergian Gempa, Fang mencoba mengetuk kening Taufan dengan pegangan joystick game yang ia pegang. "Oi, masih idup kagak lu?"

"Eeergh, udah mau koid,"

Halilintar mengerang dari tempatnya merajuk, kepala tenggelam dalam bantal sofa yang tadi dilempar Taufan. "Uff, mending, tenagaku untuk tiga hari habis kepake buat main game ini," ucapnya dengan suara yang agak teredam.

"Lebay, ah."

"Fang?", panggil Gempa dari kamarnya di lantai dua. Empunya nama mendongak, mengerutkan kening. "Bukunya ketemu, Gempa?"

"Ketemu sih," jawab si topi terbalik, "Tapi coba sini, liat bentar deh,"

Merasa penasaran, pemuda berkacamata menaiki tangga dan meninggalkan dua orang yang baru saja tepar dari bermain video game.

Epilouge

"Nih, coba liat ini,"

Berkedip, Fang menerima sebuah artikel wisata yang disodorkan kekasihnya padanya. Ia mengangkat sebelah alisnya seraya membaca artikel bergambar tersebut.

... Patung kasih abadi, tempat kunjungan wisata ternama di desa kecil di pegunungan Koko, merupakan hasil sebuah legenda ternama setempat. Seperti yang dikisahkan oleh penduduk sekitar, patung yang berbentuk seperti sepasang kekasih yang saling berpeluk memagut kasih ini adalah hasil dari sebuah cinta yang terlarang. Versi lain dari cerita ini mengisahkan bahwa...

Fang melangkahi beberapa bagian tidak masuk akal tentang "pasangan yang telah ditakdirkan", "vampir", "ciuman", dan mengalihkan pandangannya ke sebuah gambar yang terlampir di artikel tersebut.

Nampak sebuah batu berbentuk sepasang manusia tertutup lumut tipis, nampaknya cukup tua sampai sulit untuk mengidentifikasi pemilik wajah yang terukir dalam batu itu. Sosok yang lebih kecil melingkarkan tangannya ke leher pasangannya, sementara lengan sosok lainnya memeluk pinggang kekasihnya. 'Pakaian', atau lebih tepatnya lekukan dalam batu yang membentuk pakaian, berkesan agak kuno dalam gaya Eropa. Fang memicingkan mata, memperhatikan atribut yang mirip pakaian seorang pendeta dan setelan pakaian Victorian untuk sosok yang lebih kecil. Beberapa hewan penghuni hutan nampak berkeliaran di background foto, bukti bahwa tempat itu masih asri dan damai.

"Kenapa dengan artikel ini? Palingan patung ini hasil pahatan zaman lampau," tanya Fang, walau ia masih sedikit skeptis, kisah ini mengingatkannya dengan mimpi tidak masuk akal yang ia alami beberapa bulan lalu.

"Entahlah? Aku merasa... familiar dengannya," jawabnya sambil mengutip selebaran lain yang berisikan "tempat eksekusi vampir di masa lampau", dan "benar atau bohong? Tempat kediaman koloni vampir ditemukan tertimbun reruntuhan di sebelah barat pegunungan Koko-"

"Mmm," hening Fang sambil tetap berusaha menggali isi mimpinya yang memang, seperti yang Gempa katakan, familiar.

"Oooi, jangan omongin tempat liburan dulu, masih dua minggu lagi liburnya," panggil Taufan dari bawah tangga, "Keluar yok, aku pengen minum coklat dingin buatan Air."

"Bilang aja cuma pengen ketemu Api," celetuk Halilintar.

"Halah, kalo cemburu ngomong aja,"

"Cemburu? Terakhir kalian bertemu, Api nyaris meledakkan mesin cappucino di café Tok Aba dengan skateboardmu. Oh tentu saja aku cemburu sekali," gerutunya.

Gempa menghela nafas ringan, "Iya, ayo pergi. Hei, kalian, berhentilah berdebat di ruang tamuku!"

Mengikuti Gempa, Fang ikut menuruni tangga dengan sebuah cengiran.

Ia tidak peduli apa yang telah terjadi di masa lalu.

Begini saja sudah cukup.

Ia, tidak, mereka sudah cukup bahagia seperti ini.

Biarkanlah yang sudah berlalu, berlalu.

.

.

.

A/N:

Alohaaa~ ini dia min iepilouge muehehe

Yosh akhirnya ffnet ga jahat lagi sama Ice! Akhirnya bisa update huhu ;-;

Beberapa sifat character Ice ubah sedikit ya? Walau ini berkesan reinkarnasi, tapi kan tidak mungkin kalau seluruh detail perilakunya sama persis? Lagian kalo Hali masih pedes pedes kan gabisa argumen gaje kayak diatas -u-

Maaf kalo ending tidak sesuai harapan readers TvT Ice kan gabisa baca pikiran hiks #pundung

Mind to RnR?