Stand By Me
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by KiRei Apple
Pairing : Uchiha Sasuke X Haruno Sakura
Au, Typo (s), Ooc, GaJe, Eyd berantakan dan lain-lain
Don't Like, Don't Read
Chapter 3
oOo
Malam ini adalah pertemuan keluarga Uchiha dengan Keluarga Kaguya yang memang berencana untuk menyatukan anak mereka dalam perjodohan. Keluarga Uchiha yang di hadiri Fukagu, Mikoto dan Kedua anaknya Sasuke dan Sakura yang kini sedang menunggu di restorant mewah salah satu milik mereka. Terlihat suasana yang sangat klasik dengan alunan musik yang membuat tenang. Fugaku menggunakan stelan jas hitam dengan dasi abu-abunya. Sedangkan Mikoto menggunakan dress serupa dengan Suaminya -hitam hingga tumitnya- dan menggunakan kalung berlian berbandul kipas lambang marganya.
"Apa kau baik-baik saja Nak?" tanya Mikoto yang cemas memandang Putrinya yang menundukan wajahnya. Mereka duduk di meja bundar besar. Sakura duduk di samping kirinya, sedangkan Fugaku di samping kanan Istrinya, dan Sasuke di samping kanannya.
Sakura mendongak dan menggeleng pelan. "Aku baik-baik saja Kaa-san."
Mikoto mengelus tangan Putrinya yang berada di atas meja. "Yokatta." leganya dan kini tatapan beralih kepada putranya yang ikut. "Ne Sasuke-kun, apa kau kenal dengan Kimimaro?"
Sasuke yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Sakura hanya bergumam menjawab pertanyaan Ibunya. "Hn."
"Bagaimana sosoknya?"
"Itu...,"
"Kita sudah pernah melihatnya Mikoto!" ujar Fugaku memotong ucapan Istrinya.
"Ya. Tapi aku tidak tau bagaimana dia dan aku hanya ingin yang terbaik untuk anakku." tegas Mikoto yang tidak ingin salah memilih untuk Putrinya.
"Hn."
Sakura mendengar penuturan Ayah dan Ibunya hanya menundukan wajahnya. Apa ini benar? Semoga dengan begini ia bisa membalas budi kebaikan orang tua yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Teringat kembali keluarganya. Ayah, Ibu bahkan Onii-chan. Terbersit dalam hati jika ia selalu merindukan mereka dan ingin bertemu mereka. Tapi sekarang Ayahnya -Fugaku- melarangnya.
"Maaf menunggu lama."
Tiga orang masuk menghampiri keluarga Fugaku berkumpul. Itu adalah keluarga Kaguya. Kaguya Ibiki, dan istrinya Kaguya Samui beserta anaknya Kaguya Kimimaro, berjalan dengan elegan dan berjabat tangan sapaan pertemuan.
"Jadi ini Uchiha Sakura?" Ibiki bertanya setelah tatapannya melihat sosok gadis cantik di samping Istri Fugaku.
Fugaku mengangguk. "Ya. Ini anak perempuanku Uchiha Sakura."
"Kau cantik sekali Nak. Aku yakin kau akan cocok dengan Kimi-kun." kini ucapan itu keluar dari Samui, Ibu dari Kimimaro.
Sakura mendengar pujian untuk dirinya hanya tersenyum tipis. "A-arigatou Kaguya-san." katanya dengan pelan namun irisnya memandang takut kepada sosok pria dengan rambut perak di depannya. Ia tidak suka jika seseorang memandangnya dengan pandangan seperti itu.
Iris onyx itu memandang tajam kepada sosok yang sangat ia kenali. Ia sangat tau siapa laki-laki itu, dan sekarang? Tatapan yang ia tujukan kepada Sakura membuatnya ingin sekali memukulnya.
"Hentikan tatapanmu itu Kimimaro! Kau membuat adikku takut!" Sasuke memperingati kepada pemuda yang duduk di depan Sakura.
Perkataan Sasuke membuat semua yang berada di sekeliling meja itu memandangnya heran.
"Ada apa Sasuke-kun?" tanya Mikoto kepada anak lelakinya yang sepertinya tidak suka kepada pemuda ini. Kemudian ia mengalihkan pandangannya melihat pemuda yang di tatap tajam anaknya. Kimimaro yang terlihat biasa dan sedang meminum minumannya.
"Sasuke-kun?!"
"Hn."
"Mungkin Sasuke belum merelakan adiknya bersama pria lain Mikoto-san." kata Kimimaro dengan senyum simpulnya.
Mikoto tersenyum. Ia sangat tau jika Sasuke baik Itachi memang sangat menyayangi Sakura.
"Ah... Iya. Sasuke-kun memang seperti itu."
Fugaku berdehem. "Sebenarnya pertemuan ini di lakukan ingin memperkenalkan anak perempuanku dengan Kimimaro."
Semua mengangguk -kecuali Sasuke dan Sakura- setuju. Ini memang pertemuan untuk membicarakan perjodohan putra putri mereka.
"Aku ingin segera percepat acara pertunangannya, bagaimana?" tanya Ibiki meminta persetujuan semuanya.
"Aku ingin cepat-cepat bisa berjalan-jalan dengan Sakura-chan." ujar Samui dengan senyum bahagianya membayangkan jika itu terjadi. Ia bisa bersama Sakura.
Mikoto menghela. Ia sungguh tidak suka saat ada orang lain ingin mengambil anak perempuannya. Tapi, jika semua setuju mau tidak mau ia pun harus setuju.
"Bagimana Sakura?" kini Fugaku meminta pendapatnya kepada Putrinya.
Sakura yang sejak tadi hanya diam. Entah pikirannya berada di mana terlonjak. "Ah... Ya." ujarnya dengan anggukan. Ia sendiri tidak tau apa yang sebenatnya sedang di bicarakan.
Sasuke yang berada di samping Ayahnya melirik Sakura melalui ekor matanya. Onyxnya terlihat kecewa dan sedih saat kata 'ya' itu keluar dari gadis itu.
"Ah.. Sebaiknya kita makan. Lebih baik mereka pendekatan dulu."
Semua mengangguk setuju -tidak kecuali Sasuke, Sakura- mendengar ucapan Fugaku. Mereka memakan dalam diam dan berakhir dalam obrolan-obrolan yang tidak di pahami Sakura sama sekali. Sasuke sejak tadi tidak mengalihkan pandangannya, dan menatap tajam pemuda yang sudah berani memandang Sakura dengan pandangan seperti itu. Sedangkan Kimimaro yang merasa sedang di tatap oleh mata tajam itu hanya menyeringai dan mengendelikan bahu acuh.
.
.
.
oOo
.
.
.
Sakura merebahkan dirinya di atas ranjangnya setelah tiba di rumah dan kini berada di kamarnya. Ia sebenarnya sedikit terganggu dengan sikap dingin Kakaknya yang tiba-tiba dingin kepadanya. Selama perjalan pulang ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya dan hanya diam mengacuhkannya. Kenapa? Apa benar jika Kakaknya itu sedang ada masalah dengan Shion. Rasa kantuk menyerangnya dan perlahan iris klorofilnya menutup, dan tidak lama dengkuran halus terdengar, ternyata ia sudah pulas dengan cepatnya.
Pintu kamar gadis itu terbuka, dan langkah kaki semakin mendekati ranjang. Menghela, sosok itu -Sasuke- berjongkok dan melepaskan sepatu yang di gunakan Sakura. Gadis itu sudah tertidur dengan posisi kaki yang menggantung. Mungkin ia kelelahan. Tangannya bergerak mengangkat tubuh Sakura dan memposisikannya ke tengah-tengah. Menarik selimut, ia menyelimuti tubuh mungil itu. Onyxnya menjelajahi wajah, kelopak mata yang terpejam, hidung, pipi, bibir yang tidak sampai terlewati dari jelajahan onyxnya. Tanganya terulur menyingkirkan helaian merah muda yang terlihat mengganggu baginya karena acara memandangnya.
"Kenapa kau menyetujuinya?" belaian Sasuke turun di pipi, kemudian terhenti di sudut bibir mungil itu. "Aku sakit."
Mendesah pelan. Sasuke berdiri dan berbalik meninggalkan kamar Sakura. "Oyasumi."
.
.
.
oOo
.
.
.
Acara sarapan pagi ini terasa kurang bagi Sakura. Benar saja, saat ini hanya ada Ayah, Ibu dan Itachi-nii, dan kemana Sasuke-nii?
Sakura berdiri setelah selesai menghabiskan sarapannya. Ia mengankat tangannya dan melirik jam tangannya. Ini sudah saatnya pergi. Tapi kenapa Kakaknya yang satu lagi tidak ada?
"Oka-san, apa Sasuke-nii masih lama?" tanya Sakura karena tidak menemukan sang Kakaknya itu.
"Sasuke-kun tadi pergi sangat pagi. Apa dia tidak memberitahumu?" Mikoto sebenarnya heran karena biasanya Sasuke pasti tidak mau meninggalkan adiknya ini.
Mendesah pelan Sakura menjinjing tasnya. "Aku pergi Tou-san, ka-san, Itachi-nii." pamit Sakura.
"Apa mau aku anatar?" tawar Itachi yang terlihat cemas.
Sakura menggeleng. "Tidak Itachi-nii. Jika di antar harus memutar. Dan lagi kau akan ada janji dengan teman-temanmu kan?" tolak Sakura.
"Tak apa...,"
Belum Itachi berdiri sepenuhnya Sakura sudah berlari. "Tidak Itachi-nii!"
Itachi hanya mendesah kecewa. Padahal ia ingin sekali mengantarkan adiknya itu. Mumpung ia sedang liburan bukan? Tapi, Sakura seperti itu, keras kepala dan tidak ingin menyusahkan orang lain.
"Jika ingin mengantarkannya besok kau harus naik kereta Itachi."
Ah benar apa yang di katakan Ayahnya. "Hn." mungkin besok ia akan mengantarkan adiknya itu.
Mikoto yang melihat kelakuan anggota keluarganya hanya tersenyum simpul. sungguh, adanya Sakura, suasana yang terasa dingin dan kaku sekarang terasa hangat. Ia sungguh bahagia dan beruntung karena gadis itu membawa kebahagiaan untuk keluarganya.
...
Sakura terdesak karena kerumunan penumpang yang penuh sesak dan ia terhimpit. Matanya sudah berkaca-kaca saat teringat Kakaknya. Setiap hari ia merasa aman karena Sasuke-nii yang selalu di sampingnya tapi sekarang ia sendirian. Apalagi seorang lelaki dewasa di depannya terlihat mencurigakan karena terus menatapnya dengan tatapan aneh.
"S-Sasuke-niii." cicit Sakura yang ketakutan karena lelaki itu semakin menghimpitnya.
'Set'
Tubuhnya tertarik dan kini berada di pelukan seorang lelaki. Mendongak. Iris klorofil yang sudah berair itu mengerjap dan langsung memeluk lelaki itu.
"Sasuke-nii."
"Hn."
Sasuke membiarkan adiknya memeluknya. Ia menenangkannya dengan mengelus surai pink Sakura. Melihatnya ketakutan seperti ini membuatnya merasa bersalah. Ia sebenarnya memang sudah berangkat sangat pagi dan itu adalah rencananya karena ingin menjauhkan diri dari perasaan yang semakin membesar di hatinya.
Flash Back On
Jam masih menunjukan jika pagi baru saja menyapa. Sasuke yang sudah lengkap menggunakan seragamnya berjalan menuruni tangga. Ia ingin berangkat pagi karena ada yang ingin ia lakukan, lebih tepatnya menghindar dari adiknya.
"Pagi sekali Sasuke-kun?" tanya Mikoto yang kebetulan berpapasan saat ia akan menuju dapur.
Sasuke mengangguk. "Aku ada tugas. Aku pamit Ka-san." ujarnya berejalan meninggalkan Ibunya yang menatapnya heran.
"Apa yang terjadi?"
...
Sasuke terdiam terpaku saat kereta yang di tumpanginya sampai. Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa ia jadi pecundang seperti ini? Melirik jam tangannya, ia menghela. Kereta arah sebaliknya terdengar dan akan segera berangkat.
Diam dalam lamunannya, kemudian berbalik cepat dan berlari. Tepat pintu tertutup saat ia berhasil masuk ke dalam kereta. Pikirannya terlarut dalam kecemasan. Wajah Sakura yang menangis membuatnya ingin sekali memukul diri sendiri.
Onyxnya memandang lurus pada pemandangan yang terlewati. Sepuluh menit ia akan kembali sampai di stasiun tempat biasanya ia berangkat. Harusnya ia menjaganya dengan baik, apalagi sosok orang yang akan di tunangkan dengan Sakura adalah pemuda yang amat ia tau sebagai pria brengsek sama seperti dirinya. Bahkan dia sendiri tidak pernah menyentuh perempuan. Alasan ia sering keluar malam adalah kekecewaannya karena menghadapi kenyataan Sakura menjadi adiknya. Tapi, sekarang ia sudah tidak terlalu seperti dulu karena nasihat-nasihat Sakura. Andai ia tau yang sebenarnya.
.
Kereta yang ia tumpangi sudah sampai di stasiun tujuannya. Ia turun. Onyxnya menyipit saat melihat Sakura yang sepertinya kebingungan dan terdorong masuk oleh penumpang yang berusaha berdesakan masuk. Mendengus. Ia berjalan berlari menyebrangi jalur kereta menuju kereta di seberangnya. Ia terlebih dahulu menempelkan Pasmo kepada mesin pembaca. Kemudian berlari menuju kereta yang baru di naiki Sakura.
Onyxnya menjelajah, mencari keberadaan Sakura di lautan manusia. Onyxnya menyipit dan menggeram saat menemukan Sakura yang ketakutan karena pria di depannya. Ia membelah dan terus menerobos penumpang yang memang sangat sulit karena sekarang adalah waktu padat di mulainya aktivitas.
Ia menarik Sakura ke dalam pelukannya. Rasa bersalah menjalarinya.
Merunduk. Ia menatap nanar iris klorofil yang sudah basah yang seperti menahan tangisannya.
"Sasuke-nii."
"Hn."
Flash Back Off
"Gomen." kata Sasuke yang merasa bersalah.
Sakura menggeleng pelan. "A-aku takut Sasuke-nii. Apa yang akan terjadi jika kau tidak ada." ujar Sakura lirih membayangkan kejadian buruk yang hampir terjadi itu, benar-benar terjadi kepadanya.
"Tenanglah. Aku akan selalu bersamamu." Kata Sasuke yang terus menenangkan dan meyakinkan Sakura.
"Tapi, suatu saat kau tidak akan denganku setelah kau menikah Sasuke-nii."
"Kau meragukan-ku?" tanya Sasuke, dan Sakura hanya menggeleng menjawabnya.
Tersenyum, Sasuke berkata lagi. "Percayalah! Aku janji."
"Janji?" tanya Sakura dengan mata berbinar karena mendengar perkataan Kakaknya.
"Hn. Hime."
"Itu tidak lucu," Sakura mengerucutkan bibirnya karena panggilan Kakaknya. "Seharusnya Shion-san yang kau panggil begitu." ups. Sakura no baka. Lihatlah sekarang! Wajah Kakakmu berubah masam.
"G-Gomen Sasuke-nii." Kata Sakura yang takut Kakaknya yang akan kembali dingin jika membicarakan kekasihnya itu. Apa mereka benar-benar ada masalah? Tanyanya dalam hati.
Sasuke mengangguk. "Hn. sebentar lagi kita sampai."
"Ah... Ya." Angguk Sakura dengan tawa kecilnya.
.
Onyxnya sejak tadi tidak luput dari wajah di depannya. Senyuam itu lah yang ingin ia lihat bukan tangisan, dan janji itu berlaku selamanya untuk dirinya, jika ia akan selalu bersamanya.
.
.
.
.
.
Bersambung
A/n
Maaf lama ya. Gak banyak alasan. Tapi ya itu, kadang malas dan stuck melanda :)
Balas review ^^
Miura Kumiko : Aku hanya nulis sesuai kisah seseorang :) iya nih Kimimaro. :v. Toneri blm sanggup jika di bikin aneh'' :)
YOktf : Mungkin lima.
: ? Sasuke sudah lama cinta Sakura #plak #gkNyambung
suket alang -alang : Iyaaaa kenapa gk jujur ya? Ayo kita dorong aja :D
Guest : amin swmoga happy end #hoii
Guest : Ini dah lanjut :)
Sami haruchi 2 : hehe yg bnyk komentar juga gk apa :)
Manda Vvidenarint : iya aku juga maksa harus jadi :)
ikalutfi97 : nanti sedikit-sedikit Sakura ngerasain juga. Karena ini ff real seseorang ya dy bgtu T.T
hanazono yuri : ini dah lanjut. Tapi gk janji di panjangin :) #diaAnehHana-san
undhott :iya ini dah lanjut ;)
Luka Marvel : iya. Dia takut keluarganya kacau. Arigatou sudah membetulkan. :) aku kadang salah-salah mulu. :)
An Style : sipp :) maaf gk kilat :)
: maaf gk bisa kilat, dan malah kaya siput :"(
Re UchiHaru Chan : Trms :) seneng jika ada yang suka. Yosh Ganbattekudasai :)
rya-chand : Bayar ya karena lupa hehe #plak gpp :)
NenSaku : Ini udah di lanjut :) jangan jatuh cinta sama orangnya ya nanti di marahin Gaara #plak ;)
Tachibana Koyuki : Trms :) ini dah lanjut dan mksh dah mampir :)
dianarndraha : Ini dah lanjut :)
Terimakasih Semuanya :)
Mint to RnR ^_^
WRS
