Sasuke menyender di dinding kamar sang adik yang sedang terbaring lemah. Ia dan Kakaknya memutuskan membawanya ke rumah. Ibunya sudah menggantikan pakaian Sakura. Dalam diam, onyxnya terus memandang gadis yang selama ini sudah dicintainya. Perlahan, kakinya melangkah mendekat dan duduk di samping ranjang. Tangannya terulur membelai helaian merah muda yang selalu ia kagumi.
"Aku akan mengatakannya," tangannya teulur membelai pelipis, dan terhenti di sudut mata yang terutup itu –
"Saat aku pergi –" dengan pelan tangannya turun mengelus pipi ranum yang selalu ingin ia sentuh dengan lembut dan –
"Jangan menangis, kau harus bahagia." Kemudian belaiannya turun hingga kini menyentuh sudut bibir yang selalu tersenyum untuknya.
Tersenyum, perlahan ia merundukkan wajahnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung gadis itu yang terlihat memerah karena mungkin terserang demam.
"Aku mencintaimu ..."
Kemudin mengeliminasi jaraknya dengan mencium bibir gadis yang selama ini ia cintai. Mengecupnya dengan lembut dan menyalurkan perasaannya yang selama ini membelenggunya.
"Haruno Sakura."
Stand By Me
Naruto : Masashi Kishimoto
Story by KiRei Apple
Pairing : U. Sasuke X H. Sakura
Au,typo (s), Misstypo, ooc, Eyd ancur, GaJe, Etc.
.
.
Don't Like, Don't Read!
.
.
.
.
.
Chapter 5
oOo
Helaan nafas terdengar teratur dari seorang gadis yang sedang terlelap dengan nyamannya. Hingga lengkuhan terdengar dari bibirnya dan perlahan membuka kelopak matanya.
"Sasuke-nii." Lirihnya dan meloloskan cairan bening dari sudut matanya mengingat kejadian yang menimpanya.
Tangannya terangkat, menyentuh keningnya yang terasa panas. Melirik jam di dinding kamarnya, ia terlonjak dan bangun. Ia terlambat. Namun saat kakinya akan turun dari ranjangnya pintu kamarnya terbuka dan nampaklah sang Kakak tertuanya, "Itachi-nii." Ujarnya dengan suara parau.
Itachi membawakan nampan berisi bubur dan air untuk sang adik hanya tersenyum, kemudian melangkah menghampiri ranjang di mana adik bungsunya yang duduk dan ia tau pasti Sakura bergegas untuk sekolah.
"Hari ini kau istrirahat di rumah, adik manis." Ujar Itachi, meletakan nampannya di meja kecil di samping ranjang. Mengambil mangkuk yang berisikan bubur hangat, ia mengaduknya perlahan dan menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut adiknya.
"Aku sudah besar." Ujar Sakura dengan mengerucutkan bibirnya sebal namun ia melahap bubur dari kakaknya.
"Hn. Tapi aku senang, jika Sasuke mana mau di suapi." Ujar Itachi dengan kekehannya.
Sakura mengangguk setuju. "Hm."
Itachi terus menyuapi di barengi obrolan ringan. Ia sebenarnya terpikirkan hubungan adik-adiknya ini. Ia tidak mau kehilangan Sakura. Pun dengan Sasuke dengan perasaannya itu.
"Saku-chan."
"Ya."
Meletakan mangkuk yang sudah habis, ia merebahkan badannya di ranjang sang adik dengan kakinya yang menggantung.
"Apa kau menyukai Sasuke?" tanya Itachi yang membuat Sakura menghentikan pergerakan tangannya untuk minum.
"Tentu saja."
"Bukan karena suka karena ia Kakakmu Sakura, tapi... sebagai seorang lelaki."
Sakura terdiam. Otak dan hatinya berusaha mencerna perkataan Kakaknya. "Kenapa Itachi-nii berkata seperti itu?"
"Aku hanya ingin tau apa –"
"Aku tidak tau," potong Sakura cepat. Ia merunduk dengan kaki yang di tekuk dan lengannya memeluk kedua lututnya. "Aku hanya akan tenang jika dengan Sasuke-nii. Dan aku merasakan jika hatiku sakit jika melihatnya dengan perempuan lain, dan mengabaikan aku Nii-san."
Itachi tersenyum mendengar penuturan sang adik. "Kau tidak bisa jauh dari Otouto?" tanya Itachi dan di jawab anggukan lemah Sakura.
"Kau tidak suka jika ada gadis lain bersamanya?" dan lagi, Sakura mengangguk menjawabnya.
Itachi terkekeh. "Kau jatuh cinta, eh?"
Mendengar perkataan Kakaknya, Sakura tersipu dan mengambil bantal di sampingnya kemudian di pukulkan ke Kakaknya. "Itachi-nii berisik."
"Kapan kau akan mengatakannya, hm?"
"I-itu tidak mungkin. Sasuke-nii itu Kakakku."
"Memang kenapa?"
Sakura menghela napas pelan. Ia juga tidak tau. Ia takut jika mengatakan hal ini, Sasuke-nii yang sejak dulu ia kagumi itu akan menjauhinya apalagi dia sudah mempunyai kekasih. "Sudahlah. Itu tidak mungkin."
Hening. Itachi hanya terdiam mendengar perkataan adiknya ini. Ia mengerti, mungkin Sakura ragu dan takut karena mereka kini satu keluarga.
"Aku tidak ingin dia menjuhiku karena perasaanku, Itachii-nii."
Bangun, ia duduk dan mengelus surai merah muda yang nampak berantakan. "Kau akan mengetahui jika Sasuke mengatakannya kepadamu," kemudian tersenyum untuk meyakinkan jika semua akan baik-baik saja. "setelah lulus, ia akan ikut denganku. Jadi, jangan terlambat." Kemudian ia bangkit dan melangkah pergi dengan membawa nampan yang ia bawa tadi.
"Itachi-nii."
Panggilan Sakura membuat langkah Itachi terhenti. Menoleh, ia mengangguk. "Percayalah kepada hatimu." Dan pergi meinggalkan Sakura yang termenung memikirkan perkataan Kakaknya itu.
"Apa benar yang dikatakan Itachi-nii, jika aku jatuh cinta?"
...
Menyenderkan tubuhnya di dinding atap, ia tertidur dengan satu kakinya yang di tekuk. Ia ingat akan perkataan Orang tuanya saat membawa Sakura dalam keadaan kacau, dan pengakuan perasaannya kepada orang tuannya.
Flash back on
Sasuke berteriak memanggil maid saat ia memasuki rumah dan membawa Sakura yang tidak sadarkan diri dalam gendongannya.
"Kenapa denga –SAKURA!" Teriak Mikoto melihat putrinya yang terlihat dalam keadaan buruk. Ia yang tadinya sedang mengambil air minum untuk suaminya, heran mendengar anaknya berteriak. Alangkah terkejutnya ia mendapati kedua putranya membawa putrinya yang tidak sadarkan diri.
"Kaa-san."
Mikoto menghampiri Putra bungsunya yang menggendong Sakura. "Apa yang terjadi?" tanyanya yang terlihat panik.
"Nanti kami jelaskan kaa-san. Sekarang kita harus mengganti pakaian Sakura-chan." Jelas Itachi dan di jawab anggukan Ibunya.
"Bawa cepat kekamar!" perintahnya kepada putra bungsunya, kemudian ia ikut untuk mengurusi putrinya.
Itachi melihat punggung adiknya yang kini membawa Sakura ke kamarnya yang terletak di lantai atas. 'kau sangat mencintainya, Otouto.'
oOo
Sasuke dan Ibunya turun menghampiri yang lainnya yang sedang menunggu mereka. Fugaku duduk di sofa dan Itachi di sofa sampingnya.
"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" tanyanya kepada kedua putranya.
Sasuke duduk di sofa seberang Kakaknya sedangkan Ibunya duduk di samping Itachi.
"Dia hampir –" Sasuke menghentikan perkataanya mengingat hal buruk yang menimpa Sakura.
"Kimimaro melakukan hal buruk kepada Sakura. Untungnya Sasuke cepat mengetahuinya." Jelas Itachi mewakili sang adik yang hanya terdiam dengan tangan yang mengepal.
Fugaku terlihat diam, namun mereka tau jika kepala keluarga mereka sangat marah dengan mulutnya yang bergemeletuk. "Apa dia kabur?"
"Aku mengirimnya ke rumah sakit, Tou-san." Ujar Itachi kalem.
"Bagus." Kata Fugaku yang mengetahui jika anaknya sudah membeikan pelajaran yang mungkin tdak seberapa baginya. Namun untuk selanjutnya ia yang akan melakukan tindakan.
"Bagaimana dengan kerja sama kita? Apa mereka akan melakukan sesuatu?" tanya Mikoto yang cemas akan tindakan mereka.
"Mereka tidak akan bisa melawan," ujar Fugaku. "Aku lebih mecemaskan putriku." Jelasnya dan mendapat anggukan setuju dari Isrtinya.
"Tou-san, Kaa-san, Itachi-nii."
Mendengar panggilan Sasuke yang berbeda, membuat semuanya menoleh dan memandang Sasuke dengan tatapan heran.
"Ada apa, Nak?"
Mengela nafas pelan, ia akan menyampaikan sesuatu yang memungkinkan akan di setujui atau tidak.
"Aku mencintai Sakura." Akunya dengan penuh keyakinan.
"Aku tau itu, Otoutou."
"Akhirnya kau mengatakannya, Nak." Kata Mikoto yang senang mendengar pengakuan anak bungsunya.
Sasuke tersenyum medengar reaksi dari Kakak dan Ibunya, dan kini tinggal...
"Tou-san?"
"Apa kau yakin?" tanyanya kepada putra bungsunya.
Sasuke mengangguk. Ia yakin. Karena selama ini ia menyembunyikannya.
"Satu syarat." Ujar Fugaku yang membuat semua menoleh, dan cemas.
"Apa itu, Tou-san?"
"Kau harus belajar, melanjutkan sekolahmu bersama Kakakmu."
Sasuke tersenyum dan mengangguk. "Akan aku lakukan Tou-san."
Fugaku menghela. Ia sebenarnya dari dulu berharap jika Sakura akan memilih dari salah satu putranya. Namun karena tidak ada tanda-tanda itu, ia jadi memutuskan untuk menjodohkannya yang kebetulan keluarga Kaguya menyukai Sakura. Ia hanya berharap jika putri yang ia rawat bahagia.
Flash back off
"Apa kau sudah memutuskannya teme?"
Pertanyaan dari sahabatnya membuatnya membuka mata. "Hn."
Naruto memberikan minuman dingin kepada sahabatnya. Ia tau apa yang sedang mengganggu pikiran sahabatnya karena Sasuke bercerita jika ia akan mengatakan hal yang selama ini ia simpan –perasaannya –dari siapapun –kecuali Naruto.
"Bagaimana jika ia menolakmu?"
Naruto benar. Selama ini Sakura sepertinya tidak memiliki perasaan kepadanya. "Aku tetap akan pergi, karena itu adalah janjiku kepada Ayahku."
Mengangguk, Naruto membuka penutup botol minumannya kemudian meminumnya. "Aku hanya bisa berdo'a."
Sasuke tersenyum tipis. Ya, ini adalah yang harus ia lakukan. "Arigatou dobe."
Setidaknya, sahabatnya selalu membantunya walau tidak selamanya ia mampu.
oOo
Haruno Sasori. Itulah yang tertulis di nisan sahabatnya. Itachi meletakan bunga lili di pusara sahabatnya yang sudah lama ia tidak kunjungi.
"Maaf tidak sering menemuimu, Sasori." Ujarnya dengan senyuman tipis. Angin berhembus pelan menerbangkan kelopak daun yang berguguran menandakan jika sebentar lagi musim dingin akan menyapa. Membenarkan syalnya, ia menangkup kedua tangannya –berdoa.
"Aku akan menjaga adikmu. Apa boleh jika adikku memilikinya?" tanyanya kemudian.
Hening. Itachi menikmati angin berhembus yang terasa dingin menyentuhnya. Ia tersnyum mengingat kenangannya bersama sahabatnya saat ia masih hidup. Sasori yang berusaha mati-matian menjaga adiknya dari siapapun, termasuk Ibunya. Ia tau jika sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu, namun ia tau jika sikap dan perasaan yang di tunjukan Sasori itu melebihi seorang Kakak kepada adiknya, melainkan ia yang mencintai adiknya sendiri –Haruno Sakura.
"Padahal aku ingin menjadi kekasih Sakura-chan, tapi kau melarangnya." Kekehnya mengingat larangan Sasori kepadanya. "Tapi, sekarang kau harus merestuinya dengan adikku... sahabat."
Menghela nafas pelan, dan sepasang onyx miliknya terpejam. "Aku pamit. Aku akan menemui kembali, Sasori."
Itachi bangkit dan Ia berbalik pergi. Namun langkahnya terhenti saat seseorang yang berdiri dengan bunga tulif di tangannya. Membungkuk, Itachi memberikan salam kepada wanita yang sangat ia kenali itu.
"Apa kabar, Mebuki Ba-san?"
Mebuki mengangguk,ia melangkah melewati Itachi dan menghampiri makam putranya. Ia meletakan bunga kesukaan putranya dan putrinya itu di pusara anaknya. "Kaa-san akan menemuimu kembali." Ujarnya mengelus batu nisan yang bertuliskan Haruno Sasori. Ia beranjak dan menghampiri Itachi yang masih berdiri. "Aku ingin berbicara denganmu, Itachi-kun."
...
Taman. Di sinilah Itachi duduk bersebelahan dengan Ibu dari sahabat dan adiknya. Ia memegang gelas kopi yang ia beli tadi.
"Ada apa, Ba-san?"
Mebuki meminum kopinya perlahan. Menghela napas pelan ia membuka matanya yang sempat terpejam. "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya entah menanyakan siapa. Namun Itachi tau siapa yang di maksud.
"Ya. Dia baik-baik saja."
Mebuki mengangguk. "Terima kasih karena sudah merawatnya."
"Kami sangat bahagia karena kehadirannya, Ba-san."
Mebuki terdiam. Benarkah? Sepertinya ia sudah melewati banyak hal karena kesalahannya. "Aku harap ia pun bahagia." Gumamnya nyaris berbisik.
Itachi mendengarnya hanya menghela. "Dia ingin bertemu dengan keluarganya."
Perkataan Itachi membuat Mebuki kembali terdiam. Ia tidak bisa. Ia adalah Ibu yang gagal. Membencinya bahkan bukan karena hal yang di lakukannya. Ia benci kepada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga mereka hingga ia tau perasaan terlarang putranya itu. Apalagi mengetahui jika putranya akan meninggalkan rumah karena ingin bersama adiknya, itulah yang membuatnya marah.
"Aku tidak pantas."
"Semua orang punya masa lalu Ba-san, seorang anak akan selalu merindukan orang tuanya bagaimanapun keadaannya."
"Mungkin jika aku siap, aku akan menemuinya." Ujar Mebuki dengan nada lirih.
"Hn."
"Mendengarnya baik-baik saja itu sudah membuatku... lega." Perasaan yang selama ini ia rasakan dan baru di ucapkan. Karena selama ini ia selalu memandangnya penuh dengan rasa benci karena kemarahannya kepada dirinya sendiri.
Itachi tersenyum. "Sakura sangat menyayangi kalian."
Liquid bening turun dari sudut mata Mebuki. Ia selama ini bertindak jahat dan berprilaku tidak adil kepada putrinya. Namun, putrinya tidak membencinya? 'Maafkan Kaa-san, Saki.' Lirihnya dalam hati yang penuh penyesalan.
oOo
Sasuke pulang dengan tas yang ia sampirkan di bahunya. Menaiki tangga, ia berjalan menuju kamarnya. Namun langkahnya sempat terhenti di depan pintu kamar Sakura, dan kemudian berlalu masuk.
Alisnya mengeryit setelah menutup pintu kamarnya dan mendapati adiknya itu tertidur di ranjangnya. Meletakan tasnya, ia kemudian menghampiri jendela yang terbuka. Ia menutupnya karena angin yang masuk terasa dingin, dan ingat jika Sakura sedang Sakit.
"Sasuke-nii."
Sasuke menoleh. "Kau sudah bangun?"
Sakura menaikan selimut hingga batas lehernya dan mengangguk. Ia yang sendirian di rumah memutuskan untuk tidur di kamar Sasuke. Entahlah. Ia mersa sangat merindukannya.
"Maaf, aku tertidur di kamarmu."
Sasuke terdiam dan memandang adiknya heran karena perkataan adiknya yang tidak memanggilnya seperti biasanya. "Ada apa?"
Menggeleng, sakura bangun dan duduk. "Aku tidak tau. Tiba-tiba saja dadaku bergemuruh karena... merindukanmu."
Sasuke membulatkan matanya sesaat sebelum kini kembali seperti biasa. Apa ia tidak salah dengar?
"Kau aneh."
Tiba-tiba saja saja Sakura menjerit dengan isakan yang keluar dari bibirnya.
"Ya. Aku aneh karena tiba-tiba merindukanmu, ingin bertemu denganmu, memikirkan yang membuatku marah jika kau sedang dengan gadis lain!"
"..."
"Sesak, Sasuke-nii –"
"Saku –"
" –a-aku mencintaimu." Aku Sakura yang kini merundukan wajahnya.
Tangan tegap Sasuke terulur menyentuh dagu Sakura, kemudian menganggkatnya hingga ia bisa memandang iris zamrud yang selalu membuatnya tenang.
"Kau mencintaiku?" tanyanya dan di jawab anggukan Sakura. "Sejak kapan?"
"Aku tidak tau, sudah lama aku merasakan ini. Tapi aku baru mengetahui jika yang aku rasakan adalah cinta."
Tersenyum, Sasuke mendekatkan wajahnya hingga menemelkan kening mereka. Perlahan onyx-nya tertutup seiring dengan bibirnya yang mencium bibir adiknya.
Sakura terdiam. Pun dengannya ikut memejamkan matanya. ia bisa merasakan perasaan mereka yang tersalurkan lewat sentuhan. Tapi...
"Sasuke-nii." Cicit Sakura.
Sasuke membuka matanya. "Hn."
"Kau sudah mempunyai –" perkataaan Sakura terputus Karena Sasuke kembali melumat bibirnya dengan lembut namun penuh dengan hasrat. Perlahan, ia mendorong tubuh Sakura hingga kini terbaring. Melepaskan pagutannya, ia menatap Sakura yang sudah memerah sempurna di bawahnya.
"Selama ini aku hanya mencintaimu dan aku tidak menganggap siapapun kekasih atau apapun itu."
Sakura menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tidak menyangka jika Sasuke lah yang lebih dulu menyukainya. "K-kau..."
"Aku menyukai gadis yang selalu diam-diam aku perhatikan sejak tiga tahun lalu. Dan itu kau, Sakura." Ujar Sasuke di barengi dengan ia mengecup kening Sakura.
"Sasu ..."
"Aku selama ini menyukaimu –" lanjutnya kemudian mencium pelipis, sudut mata dan turun mengecup hidung yang memerah itu.
" –aku tadinya menyerah saat harus menerima kenyataan jika kau akan menjadi adiku." Kemudian tangan dan bibirnya mengelus dan mengecup pipinya dengan lembut hingga membuat Sakura berdesir dan terpejam.
"Sasuke-nii."
"Aku tidak bisa membuang perasaan ini –" bisik Sasuke parau di telinga Sakura. "Aku sangat mencintaimu." Bibirnya turun mengecup leher jenjang yang menguar bau khas cherry –sakura –m embuat gadis itu mengerang pelan.
Sakura memejam matanya saat sentuhan-sentuhan yang di rasakannya. Seperti tersengat jutaan ribuan volt listrik hingga seluruh aliran darahnya berdesir merasakan hal aneh yang baru ia rasakan saat kata cinta terucap dari lelaki yang ia sukai.
"Sasuke –"
"Kun! Panggil aku seperti itu."
Sakura mengangguk. "Sasuke-kun."
Sasuke mengangguk dan kembali mengeliminasi jarak mereka. Ia bahagia karena perasaaannya bersambut.
"Ah..." desahan keluar dari bibir yang sedang di kalim itu karena tangan kekakar yang meremasnya pelan.
Sasuke melepaskan pagutan mereka. "Apa kau yakin?" tanyanya memastikan. Ia tidak akan melakukannya jika Sakura tidak bersedia.
Menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi tegas yang menawan itu, Sakura mengangguk dan tersenyum. "Aku percaya kepadamu."
Sasuke tersenyum dan mengangguk. Kemudian tangannya bergerak membua helaian yang di pakai Sakura.
"Aku akan melakukannya dengan pelan."
Onyx dan emerald bertemu. Mendekat, perlahan terpejam dan di iringi dengan ungkapan perasaan mereka.
"Aku mencintaimu."
...
Fugaku mengeryit alis heran memandaang Istrinya yang bertingkah aneh setelah memeriksa keadaan putri mereka.
"Ada apa?"
Mikoto menggeleng dan menyeret Suaminya pergi menuju kamarnya. Ia yang tadinya ingin memeriksa ke adaan putrinya tidak jadi karena mendengar suara Sakura yang kesal dan di barengi tawa putra bungsunya.
"Kenapakau menciumku hingga bengkak begini?!"
Itulah yang ia dengar.
"Sepertinya aku ingin cepat-cepat mempunyai cucu, Fugaku-kun."
Fugaku merangkul bahu istrinya. "Mereka harus sekolah dulu, Anata." Ujarnya. "Apa tadi kau melihat yang aneh?" tanyanya penuh selidik.
Mikoto menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya senang jika Sakura benar-benar akan menjadi keluarga kita."
"Hn."
oOo
Musim dingin sudah berakhir. Kuncup-kuncup bunga Sakura mulai nampak dan menandakan akan bermekaran.
Hai ini adalah hari keberangkatan kedua putranya. Mikoto, Fugaku dan Sakura mengantarkan kepergian Itachi dan Sasuke ke bandara.
"Hati-hati Nak, jaga kesehatan kalian." Ujar Mikoto yang tersenyum lirih melepas kedua putranya.
"Ya. Kaa-san." Jawab Itachi dan anggukan Sasuke.
"Sering-seringlah menghubungi kami." Kini Fugaku angkat bicara.
Itachi terkekeh dan merangkul bahu adiknya. " Pastinya Tou-san."
Sasuke memutar matanya bosan. "Hn."
Sakura maju perlahan dan memberikan bingkisan kepada Kakak dan kekasihnya.
Itachi merunduk dan mengecup kening adik perempuannya. "Terima kasih, Saku-chan."
Sakura mengangguk dan merasakan tubuhnya di tarik hingga kini berada dalam pelukan kekasihnya.
"Sasuke-kun." Ujarnya yang terkejut akan tindakan Sasuke.
Sasuke mengacuhkannya. Mengetuk kening kekasihnya ia tersenyum. "Jaga dirimu." Ujarnya dan di jawab anggukan Sakura.
Pesawat yang akan mengantarkan tujuan Sasuke dan Itachi akan segera berangkat.
"Kami berangkat Kaa-san, Tou-San, Sakura-chan." Pamit Itachi kepada semuanya.
"Aku pergi dan jaga dirimu," Sasuke mengacak surai merah muda kekasihnya perlahan. " Aku akan menghubungimu saat tiba nanti." Ujarnya.
Sakura tersenyum, dan berjinjit kemudian mengecup bibir kekasihnya sekilas. "Aku akan menunggumu."
Tersenyum, sasuke mengangguk dan pergi menyusul Kakaknya. "Aku pergi Kaa-san, Tou-san. Titip Sakura."
Mikoto mendengarnya hanya terkekeh. Sasuke jadi manis setelah menjalin hubungan dengan Sakura.
"Ayo Sakura-chan!" ajaknya melangkah pergi meninggalkan bandarabersama suaminya.
"Kaa-san duluan. Aku ada urusan sebentar." Ujarnya melangkah berbalik dengan ibunya.
.
Sakura tersenyum memandang pesawat yang membawa kekasihnya. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum walau sudut matanya turun cairan bening –menangis –melihat kepergiaan kekasihnya untuk melanjutkan sekolahnya.
"Terima kasih sudah menemaniku –" ujarnya dengan senyum bahagia.
" –Aku akan menunggumu." Pasti. Itulah janji yang mereka buat.
.
.
.
.
.
.
Sekian lama aku memperhatikanmu, aku terpaku saat senyuman yang selalu kau tunjukan itu. Namun, senyuman itu hilang dengan sekejap jika kau sendirian. Ingin sekali aku menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Tapi, aku hanya bisa diam melihatmu dengan kesedihan. Saat di mana aku melihatmu, termenung dan sendiri, saat itulah aku melangkah menemanimu. Kesedihan. Itulah yang aku lihat dari sorot matamu, rapuh akan beban yang kau hadapi. Aku memaksamu, 'berceritalah!' dan akhirnya aku tau apa yang membuat kau selalu bersedih. Ingin sekali aku berteriak jika aku... ada aku di sini peduli kepadamu. Tapi, perasaanku hanya tersimpan dengan rasa senang saat terakhir kalinya aku bisa bersamamu dan memelukmu.
Satu tahun. Perasaan itu tak hilang begitu saja. Aku selalu memikirkan gadis musim semiku. Hingga suatu hari, hari di mana kau datang dan membawa kejutan jika kau akan menjadi adikku. Demi apapun aku sangat bahagia. Tapi, aku harus tersiksa karena menahan perasaanku yang terus meluas. Tahu kah kau jika aku sangat tersiksa untuktidak menyentuhmu? Aku ingin memelukmu bukan karena aku sebagai Kakak yang harus melindungi adiknya, tapi sebagai lelaki yang mencintai gadisnya.
Perasaanku tidak terbatas. Aku tidak mampu menghilangkan persaan ini. Bisakah? Tidak! Aku tidak ingin menghilangkan sedikit –pun perasaan ini. Karena cintaku dari awal hanya tertuju dan hanya kau yang mampu menyentuh hatiku... Haruno Sakura.
Lihatlah aku! Aku yang mencintaimu dan akan terus melindungi dan bersamamu.
Uchiha Sasuke
Tamat
A/n . akhirnya selesai juga fict ini –nangis haru – walau GaJe. Ini adalah kisah seseorang (gak bisa nyebutin namanya). Semoga kamu bahagia sekarang ya Dek seburuk atau sesuram masa lalu itu, kita tidak bisa menghapusnnya. Tegar. Dan jangan benci orang tuamu. Apapun itu, berdo'alah jika mereka kelak menanti pelukanmu. Dan selamat ya, karena jadian beneran hehe ^_^ terus semangat dan harus belajar.
Terima kasih yang sudah meReview/Foll/Fav. Terima kasih atas dukungan kalian #bungkuk
Suket alang alang : wkwk... aku juga geregetan #nyanyi :D sekarang Saku udah sadar akan perasaannya. TFR YAAAA #hug
Nikechaann : ini dah di lanjuttt. ^_^ TFR Yaaaaa.
Laras921 : iya. Sasu tsundere tingkat dewa :v Tfr yaaaa.
Kyuaiioe : sippp ^_^
Ayuniejung : kimi di tendang aja :v fokusnya ke SasuSaku soalnya. Ini Saku-chan udah nyadar ;) Tfr yaaa
: noh Om Fugaku di demo wkwk Tfr yaaaa
Sami Haruchi 2 : Thanks selalu merhatiin ya Sami-chan #hug jangan bosen yaaaa
Ikalutfi97 : iya... sasu kan kenal watak/ siapa si abang Kimi itu :D ini terjawab untuk endingnya.. makasih udah mampir ya
dianarndraha : wkwk aku kira apa :D TFR Yaaaa ^_^
bandung girl : pendek kah? Hehe ... TFR yaaa
:cium balik. Ehh gk boleh sama Gaara :v Tfr yaaaaa.
Sasusaku : ini chap 5nya. maaf lama yaa
Megan091 : teima kasih sudah suka karya GaJe-ku ini ^_^
Caesarpuspita : masa sih? Typo mah selalu bertebaran :V ini jawabannya #taraaaaa Tfr ya. Jang lupa mampir teru #diTendang
YOktf : makasihhhh #hug. Ini dah di lanjut
Guest : hehe... ini jawaban akhirny
hanazono yuri : iya pendek kah? Ini dah di lanjuttt (y)
nuniisurya26 : Sankyuu. Ini dah di lanjut. Hayooo gimana kalo gk ada Sasu :o
KimYuzz : iya... endingnya past SasuSaku kok sekarang Sasukenya happy #tunjuk Sasuke yg lg berduaan dengn Mama Caku.
Saskey Saki : Wyda Rei Seijuro itu nma fb-ku. makasih sudah suka ff gaje ku T_T #Malu
Pink tomato : sipppp. Tap gak janji cepet
Kumiko Hanari-chan : anda penasaran? Sama :v wkwkwk ini kisah seseorang kok.
Cherryhime85 : iya kasihan Sasuke yaaaa. #bejekAuthor ini dah terjawab
Luca Marvell : gak di apa-apain ini si Kimi cuman di kasih tiket ke IGD ajaa #kasihan nnti di marahin Juugo #plak ini sekarang dah jadian :D
Rya-chand : Masa sih bikin sedih terus :D Makasih yaa selalu mampirrr
AsahinaUchiHaruno Safa : sipppp ^_^
Ry RaHa : serius ngeliatin apa Sasuke? hayoooooo
Kura cakun : Kimi soalnya dah ngebet #diChidori
Lita UchiHaruno : iya... chp ini jawabannya. Tfr yaaa
Jung Ha'y Sasu : iya. Sasu selalu ada 24 jam :D
Naomi UchiHaruno : Ini dah di lanjuuuttt...
Maaf jika kurang memuaskan yaaa... karena ini emng begitu #plak
Sankyuu untuk kalian semua ^_^
Samapai jumpa di fict yang masih ngegantung punya saya :D
Mind to RnR?
WRS
