Stay With Me

SasuHina

Rated M (udah tau kan yang boleh baca siapa)

OOC/AU/Typo(s)/etc.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

...

Aku merasa menciut dibawah tatapan tajam Sasuke. Oke! aku membohonginya dengan mengatakan aku pengangguran, dan aku menyesal karenanya, harusnya kukatakan saja aku bekerja di club malam dan membiarkanya menilai aku ini wanita seperti apa, toh aku hanya seorang pelayan bukanya pelacur, aku menyesal telah tengelam pada ketakutanku yang kekanak-kanakan. Dan semuanya terlanjur menjadi begitu memalukan bahwa ternyata Sasuke adalah pemilik tempatku bekerja. Bagus sekali Hinata, setelah dibenci olehnya kau mungkin akan kehilangan pekerjaanmu juga!

Aku sudah bekerja ditempat ini selama kurang lebih 4 bulan, dan tidak ada masalah denganku, ini pekerjaan yang paling mudah untukku yang seorang mahasiswi, setidaknya pekerjaan ini tidak bertabrakan dengan jadwal kuliahku.

"A-apa aku bisa memulai pekerjaanku?" Aku menemukan suaraku dalam mulutku yang kelu. Aku sudah lelah berdiri didepan meja kerjanya hanya untuk ditatapi seperti pencuri yang tertangkap basah, ah aku memang tengah tertangkap basah kan?

Ia mendengus dan mengalihkan wajah. "Apa alasanmu untuk semua ini?" terdengar begitu dingin ditelingaku.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba beralibi dengan aku yang sakit hati karena pagi tadi ia menertawakan ku yang pengangguran dan di malam harinya aku berinisiatif mencari pekerjaan, tapi siapa yang akan percaya alasan aneh seperti itu? alasan yang cukup bagus untuk lebih mempermalukan diriku.

"Jangan katakan ini karena tadi pagi aku menertawakanmu, aku tidak akan mempercayainya." Apa dia juga mind reader? "Hinata aku sangat membenci pembohong!" Sepanjang hari kulalui dengan bayang-bayang mata hitam Sasuke yang terus mengikutiku, artinya secara tidak sadar tubuhku merindukanya, aku menyukainya, dan semua ini diluar rencanaku; bertemu ia yang sebagai bos ku; dan ia yang membeciku karena membohonginya.

Aku bergumam "Aku hanya pelayan bukanya pelacur." jadi kau tidak perlu khawatir. Kuharap ia mengerti maksud kalimat tidak nyambungku.

"Apa buktinya kau tidak membohongiku lagi?" alis Sasuke terangkat. Entah bagaimana tapi aku marah ketika menemukan Sasuke yang tak percaya padaku, aku marah pada diriku sendiri.

"Aku...Aku tidak harus membuktikan apapun, maksudku kau bukan siapa-siapaku, dan..." Aku menghentikan kalimatku ketika melihat kilatan marah dimatanya. Apa aku membuat ini makin buruk?

"Kau benar aku bukan siapa-siapamu, tapi kau membohongiku nona, dan aku tidak menerima semua itu!" ia mendesis seperti ular, menunjukan padaku seberapa berbahayanya ia.

"La-lalu kau mau apa? Aku sudah meminta maaf!" Aku dalam perpaduan aneh antara gugup dan frustasi.

"Kau sangat peduli pada semua ini Hinata." Sasuke menurunkan suaranya.

"Apa maksudmu?" aku mengernyitkan alis.

"Padaku, pada hubungan kita." Kalimatnya mengenai ku. Apa aku begitu terbaca?

"Tidak, aku tidak begitu." Aku mengalihkan tatapanku pada kaca one way diruangan Sasuke, melihat hingar bingar di lantai bawah bar.

"Jangan menyangkalnya Hinata, aku tidak bodoh!"

Aku menatapnya lagi, "Baiklah aku mungkin memang begitu! tapi kita tau siapa yang paling peduli pada semua ini."

"Siapa?"

"Kau."

Dan Sasuke terkekeh. Dia berdiri dari kursi melangkahkan kaki pajangnya kearahku, kebelakangku tepatnya, dan menempatkan kedua tangan kokohnya pada bawah dadaku, memelukku, dan tubuhku tidak menolaknya! TIDAK MENOLAKNYA! WOW!

"Kau benar, aku yang paling peduli..." Sasuke menghembuskan nafas beratnya pada leher jenjangku yang terbuka akibat ikatan tinggiku, tindakannya membuat nafasku memendek, "Dan aku tidak mau ini selesai sebelum dimulai Hinata, jangan mencoba menghianatiku!" dia berlebihan! dan aku benar-benar kehilangan nafas saat ia menjilat bagian leherku yang diterpa nafasnya.

Demi Tuhan! Kita mengenal kurang dari 24 jam! Dan aku sudah sangat suka keposesifanmu Sasuke!

Otot bawah perutku menegang, aku terangsang padanya, dan merasa sangat menginginkan pusatnya berada diantara ku. Aku terus berbisik dalam hati 'Jangan jadi murahan Hinata!'

Aku berterima kasih pada harga diriku yang tinggi, hingga tak lantas memintanya melakukan sesuatu untuk hasrat membaraku akan dirinya, jikapun ada yang lebih dulu meminta itu haruslah Sasuke bukan aku.

"Kau menegang? terangsang huh?" ia mencemoohku dan aku tak tersinggung, aku merasa jadi submisive dalam permainan BDSM, suka saat disakiti. Kujamin itu hanya pada Sasuke, benarkan ia membuatku gila?

Dan harusnya aku balik mencemoohnya saat merasakan bendanya yang mengeras dan menyentuh bokongku. Jadi kita sama-sama terangsang heh?

Ia membalik tubuhku, membuatku menghadap padanya, mata beda warna kami saling bertatapan, aku senang menemukan kilatan mata yang begitu menginginkanku.

Wajahnya kian mendekat padaku, dan...

'Baby im preying on you tonight, hunt you don't eat you alive, just like animals, animals...'

Ciuman pertama kami gagal total.

Kami sama-sama tersentak, dan dengan sangat telambat aku menyadari itu dari ponselku, untuk pertama kalinya aku menyesal mendengar suara si seksi Adam Levine.

'Sakura' yang tertulis dalam layar ponselku. aku mengeser pada bagian hijau, menerimanya.

"ia Sakura." aku mungkin terdengar lesu.

"Hinata." Sakura memekik padaku, "Maaf aku mengabaikan pesanmu, Naruto tidak mengijinkanku memegang ponsel, dan aku baru saja sampai."

"Tidak masalah Sakura." aku menatap punggung Sasuke yang sudah berdiri didepan kaca satu arahnya, mengamati barnya dilantai dasar. Kapan ia kesana?

"Kau baik-baik saja, dear?" Tidak sama sekali.

"Ya..." aku menjeda, saat melihat Sasuke berbalik dan menatapku. "Sakura, aku harus bekerja, maaf."

"Oke! Tidak masalah! Kita lanjutkan nanti!"

Ia mematian telefon. Aku senang Sakura pulang dan ia baik-baik saja, malah terdengar begitu bahagia, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk mencurahkan isi hatinya padaku.

"Kupikir kau tidak bisa membawa telepon saat sedang bekerja? Harusnya benda itu tetap berada di lokermu."

Aku gugup, "Maaf, ini jarang terjadi, biasanya aku menaruhnya diloker..."

"Apa kau selalu begitu? mengigit bibir bawah saat gugup?" Bukankah itu keluar dari topik? aku bahkan tidak sadar tengah melakukanya.

"Kupikir, iya." aku ragu-ragu, memangnya aku bisa mengamati ekspresiku sendiri yang sedang gugup?

"Jangan lakukan itu!" ucapnya lirih.

"Kenapa?" aku bertanya cepat, dan menggigit bibirku lagi. Aku mengerti maksudnya dan berniat menggodanya.

"Ck... kau sengaja ingin mengodaku?" Sasuke menangkap kepalaku dalam kedua telapak tangannya, dan mencium bibirku.

Ciuman cepatnya, membuatku kaget sesaat. Aku mengalungkan tanganku yang masih memegang handpone pada lehernya, mengikuti permainan bibirnya pada bibirku, ia mengikut sertakan lidahnya, menerobosku, lidahnya terasa mencair dalam mulutku, dan lidah kami menari-nari didalamnya. Ia sangat piawai. Aku pernah melakukan yang lebih panas dari ini, tapi tidak ada yang senikmat denganya.

Sasuke menyadari kebutuhanku akan oksigen, dan ia melepasku, membiarkanku bernafas dengan rakus seakan tidak ada hari esok.

"Aku menarik kata-kataku, kau boleh mengigit bibirmu tapi jika hanya didepanku." bibir Sasuke mendesis didepan bibirku. Tak terdengar main-main seolah jika aku mengingkarinya ia takkan membiarkanku hidup.

Aku mengangguk, mengiyakan kalimatnya yang seperti mantra.

Ia menurunkan tanganku pada pundaknya mengambil ponselku secara paksa,dan mengetik sesuatu disana untuk kemudian terdengar bunyi dari saku celananya, aku mengerti maksudnya.

"Ini nomorku. Kuharap kau menyimpanya dalam daftar favorit." Aku hampir tertawa mendengarnya, ia terdengar seperti anak kecil, "Jangan tertawa, aku bersungguh-sungguh, karena aku akan memperlakukan nomormu seperti itu, maka tidak adil jika kau tidak begitu."

Untuk sekali lihat Sasuke adalah pria yang dingin, itu kesan pertama yang kudapati saat bertemu denganya pagi tadi dimini market, dan terulang lagi saat ia mengelkan diri sebagai pemilik baru bar ini. Tatapan dinginya menegaskan bahwa kau tidak akan baik-baik saja jika berurusan denganya, dan harusnya aku menyadari itu semua dari awal.

Tapi meskipun dia pria dingin, ia sangat manis dalam memperlakukan wanita. Ini tidak mungkin, tapi aku berharap besar bahwa akulah satu-satunya wanita yang diperlakukan istimewa olehnya.

"Baiklah." aku melakukan sesuai keinginanya, dan menujukan layar ponselku padanya, "Kau puas sekarang?"

"Belum!" tatapan matanya serius.

"Apa lagi sayang?"

"Aku mau kau berhenti bekerja dari tempat ini, sayang." nada manisnya dibuat-buat.

"Apa? Aku tidak mau!" Aku mendengar suaraku naik beberapa oktaf.

"Kenapa kau tidak mau?" begitupun Sasuke.

"Oh ayolah" aku menurunkan suaraku, "Kita baru saja bertengkar, dan aku tidak mau hubungan baik kita kembali memburuk Sasuke, Kuharap kau tidak mempermasalakan hal kecil ini lagi. Aku hanya pelayan!"

Apa aku berbicara seolah kami dalam suatu hubungan? tidak terucap secara lisan, tapi ciumanya tadi cukup menegaskan aku sudah menjadi milik Sasuke kan?

"Sekarang katakan padaku alasanmu bekerja Hinata! Aku yakin keluarga Hyuga cukup kaya untuk memenuhi kebutuhan hidupmu!" Aku terdiam mendengar kalimatnya, lebih tepat lagi, tersentak.

"Tunggu! Kau tau aku anggota keluarga Hyuga?" Aku menaikan suaraku lagi. Aku mungkin terdengar marah ditelinga Sasuke.

Jika ada bagian diriku yang bisa kuhilangkan, itu adalah Hyuga, aku benci Hyuga! Hingga saat ini mungkin Hyuga adalah nama depanku tapi itu hanya sebagai formalitas, dan aku tidak pernah mengunakannya saat berkenalan dengan seseorang!

"Kau bercanda? mata abu-abu cerah itu siapa lagi jika bukan Hyuga? Aku dari Konoha, sayang."

Aku menghela nafas panjang, "Hyuga adalah hal yang ingin kubuang dari diriku!"

Sasuke tampak tak percaya, "Apa?"

Aku hanya mengangguk

"Kenapa? Ceritakan padaku!"

"Tidak sekarang."

"Aku ingin sekarang!" Dasar tukang perintah!

"Kumohon! Aku pasti akan menceritakan padamu tapi tidak sekarang." aku menatap penuh permohonan kedalam mata hitam Sasuke.

"Baiklah! Dengan satu syarat!" aku merasakan hal buruk, "Keluar dari tempat ini!" Sialan! bagaimana bisa dia menempatkan keuntungan selalu dalam pihaknya?!

"Dasar sial!" Aku mengumpatinya, dan ia terkekeh.

"Lalu apa yang kau pilih sayang?"

Aku menghela nafas, entah dari mana tapi aku sangat percaya pada Sasuke, dan kupikir aku dan dia masih akan berlangsung lama, mengetahuinya sekarang ataupun nanti tidak akan ada bedanya.

"Ayah dan ibuku bercerai 4 tahun lalu..." aku dapat melihat ketidak sabaran dimatanya, "Aku memilih bersama ibu, dan akirnya ibuku mendapatkan hak asuhku dan membawaku ke sini, Ame."

"Dan alasanmu membenci Hyuga adalah..." dan aku memberikan pandangan 'aku belum selesai' pada Sasuke.

"Ayahku menikah dengan simpananya 6 bulan setelah perceraian dan ibuku... beliau meninggal." dan tatapan ketidak sabaran Sasuke berubah menjadi keprihatinan, "Kecelakaan, ibuku tenggelam pada alkohol saat mengetahui ayah menikah lagi."

Ia merangkulku, berbisik penuh penyesalan, "Maaf, maafkan aku, harusnya aku tidak memaksamu..."

"Hyuga tidak mengunjungi makam ibuku, pesta besar dikala kesedihanku. Apa mereka pantas dibut keluarga?" aku mengatakanya tanpa mengeluarkan air mata. Dari mana kekuatanku ini?

"Hentikan Hinata..."

"Dimalam sebelum perceraian ayah bilang tidak membutuhkan orang lemah sepertiku. Aku melakukan apa yang dilakukan Hyuga padaku, Hyuga mengabaikanku, dan akupun begitu!"

Tubuh yang sebelumnya merangkulku kini benar-benar memeluku, "Ssstt... Kumohon hentikan! Aku menyesal, maaf!" tubuh atas Sasuke benar-benar keras. Uhh... aku tau ini bukan saat yang tepat, tapi otot bawahku menegang lagi merasakan lengan-lengan Sasuke melingkari belakangku, dan lagi aroma tubuh Sasuke yang begitu maskulin, aku dapat merasakan aroma lemon dan mint, serta mungkin kayu manis. Apa kau mencampur aphrodisiac juga didalamnya Sasuke?

"Hinata kau sangat liar ternyata..."

"Ohhhh..." aku memekik dalam pelukan Sasuke saat merasakan tangan besarnya meremas pantatku tiba-tiba.

"Kupikir kau akan menangis saat menceritakan kisah sedihmu padaku, bukanya terangsang seperti ini?" aku dapat merasakan seringaian dalam bisikanya ditelingaku.

"Kau sangat menginginkanku, heh?" masih berbisik, dan ia melanjutkan dengan jilatan sensual pada kupingku. Aku bisa gila! Yeah aku sangat menginginkanmu sayang!

"T-tapi kau yang paling menginginkanku, kan?" ia menghentikan jilatanya, dan mempertemukan mata kami. Matanya berkilat, kurasa matakupun begitu.

"Kau mungkin salah kali ini." Sasuke menunjukkan seringai yang sangat seksi dihadapanku.

Dan aku sudah tak sanggup berpikir apa-apa saat ia mempertemukan bibir kami lagi. Janjiku dulu untuk tidak pernah bercumbu dengan atasanku melintas dalam kepalaku. Ah...Kurasa aku akan segera mengingkarinya.

Dalam ciuman kami, aku merasakan tangan Sasuke menarik ke atas ujung rok pendek hitam ketatku. Masih terus berciuman, ia meremas pantat yang sekarang terbuka, hanya terlindung celana dalam hitam, tanpa celana rangkapan.

Ia melepaskan ciuman kami, "Sialan Hinata! Apa kau selalu tanpa rangkapan?" bentaknya, "Kau ingin semua orang melihatnya hah?" Aku tidak semurahan itu Sasuke!

"Ini tidak pernah terjadi, aku serius!" aku mengatakanya dengan serius, karena memang begitu. Aku tadi terburu-buru dan tak menyadarinya.

Ia menunduk, bersimpuh sejajar dengan kemaluanku, aku merasa begitu dipuja oleh pria ini, "Aku benar, kau yang salah kali ini." kurasa ini bukan lagi tentang celana rangkapan.

"Kau sangat basah disini!" tanpa menyentuhnya, ia lalu berdiri dan masih menyeringai, "Hinata, aku membuatmu sangat basah ya?" aku benci nada dibuat-buatnya, sangat tidak cocok denganmu Sasuke.

Tindakan Sasuke berikutnya membuatku menatapnya dengan bibir bawah yang kugigit kuat. Sasuke menurunkan rokku. Kau bermaksud mempermainkanku huh?

Lalu menggenggam tanganku erat. Menyeretku, "Ku antar kau pulang!"

"..." Aku tak melawan dan mengikutinya. Aku sekuat tenaga menahan diriku untuk tidak mememintanya mencumbuku. Ia benar-benar menyebalkan!

...

Sasuke tak bisa menjaga matanya terfokus pada jalan raya saat mengemudikan mobilnya, ia menatapku dengan liar, aku memaksa diriku mengabaikanya. Bagaimanapun aku sedikit sebal padanya.

Kami keluar dari bar dengan diiringi tatapan heran Konan dan yang lainya, aku yakin setelah ini akan ada gosip tentang kami, tapi aku tidak punya waktu untuk peduli dan sepertinya Sasuke juga begitu.

Setidaknya, aku pulang cepat hari ini.

Pulang? Tunggu! Apa Sasuke tau alamat rumahku? Aku melihat sekeliling, ini daerah yang ku tahu, tapi bukan jalan ke rumahku. Tentu saja dia tak tau!

"Sasuke ini bukan jalan kerumahku." jelasku lirih.

"Tapi ini jalan kerumahku." ia tersenyum. Aku tak tau kenapa, tapi aku tertawa dalam hati.

Apa yang kau rencanakan, seksi?

...

"240782" ucap Sasuke setelah kami melewati pintu apartemen mewahnya.

"Apa maksudmu?"

"Kode apartement ku."

Aku tertawa, "Kau memberitahukan kodemu? Kau tak takut aku mencuri barang-barang mu?"

"Kau sudah melakukanya, mencuri hatiku!" Lagi-lagi merayu.

"Berapa banyak gadis yang mengetahui tempat ini?"

Ia menarik tanganku, menggenggamnya erat, "Hanya kau Hinata." dan mengecup punggung tanganku. Kurasa aku memerah, "Aku tak ingin membahas siapapun sekarang, aku hanya ingin membahas tentang kita. Ayo masuk."

Aku menatap pada ruang tamunya yang luas, tempat ini berdisain elegan dengan warna coklat dan pastel, dengan diding kaca disampingnya menunjukan kemegahan Ame di malam hari, adapula minibar disisi yang lain. Tentu saja aku kagum pada semua ini.

"Ini tempat yang indah." mataku mungkin berbinar.

"Aku baru saja menempatinya." ia menjeda, "Kau ingin minum sesuatu?"

Aku kembali menatapnya, "Air dingin saja."

"Akan ku ambilkan. Duduklah!" aku mengikutinya, duduk pada sofa coklat pastel yang sangat empuk. Ini sangat nyaman.

Ia kembali beberapa saat dengan gelas penuh air dingin, menaruhnya pada meja dan duduk disampingku. Sasuke telah melepas jas dan dasinya, menyisakan kemeja putih yang membungkus tubuhnya dengan tepat, dia benar-benar luar biasa.

Mata Sasuke mengikuti tanganku yang mengambil air, terus mengikutinya hingga air itu di ujung bibirku, bahkan ketika aku meminumnya, dan terus mengikuti lagi seolah air itu terlihat dalam mulutku, berlanjut keleherku kala menelan air, dan sedikit kehilangan nafas saat air itu sampai kedadaku, masih terus mengikutinya hingga perutku, dan berhenti dipangkal pahaku, kurasa ia bukan mengikuti airnya melainkan tubuhku. Aku masih meliriknya yang sekuat tenaga menahan diri, sedang aku sekuat tenaga menahan tawa.

Aku kehabisan air dalam gelas akibat keasikan mengikuti mata liar Sasuke pada tubuhku. Aku meringis dalam hati. Uh, aku pasti terlihat rakus lagi.

"Bagaimana kabar Konoha?" aku memulai.

"Eh...eum... baik." ia tersentak. Dan aku tertawa keras, ia menjawab seolah kami membicarakan kabar seseorang bukanya tempat.

"Aku belum pernah kembali kesana setelah kematian ibuku." lirihku.

"Hinata, siapa nama ayahmu?" ia bertanya ragu-ragu

"Hyuga... Hiashi." aku menatapnya, dan ia terkejut, lagi. Aku tak heran, Orang seperti Sasuke jelas mengenal ayahku.

"Kau putri bangsawan Hinata." Sasuke tenggelam dalam ketidak percayaan.

"Tidak lagi, aku tak mau." jawabku cepat, "Aku ingin kita berhenti membicarakan mereka." aku menunjukan tatapan malas dan mengalihkan fokusku.

"Baiklah! Jadi kau ingin apa?"

Aku ingin dirimu!

"Aku ingin tau tentangmu?"

"Tentangku? Tidak ada yang menarik pada diriku."

Kau pasti bercanda!

"Ceritakan saja."

Ia menarik tanganku dan aku mengikutinya, ia memanduku mendudukinya dan aku menurutinya, membuat rok kerjaku tersingkap, kemudian menempatkan kedua tanganya pada kedua sisi pinggulku, posisi yang panas dengan udara yang mulai memanas.

"Aku pebisnis biasa, tidak ada yang menarik Hinata." Ia berbisik didepan bibirku. Bibir kami sangat dekat dan aku begitu frustasi karena Sasuke tak mempertemukannya.

"Kau punya saudara?" Aku berusaha keras untuk terdengar biasa.

"Seorang kakak laki-laki." ia memutar bola matanya bosan.

Mataku menelusuri wajah tampanya, "Ia pasti luar biasa seperti dirimu."

Pernyataan spontanku, membuatnya menatapku dengan cepat, "Kau melukai hatiku sayang." lirihnya. Yang benar saja!?

"Kau baru melakukan 2 hal terlarang sayangku, kau membandingkanku dengan baka Itachi sementara aku tau aku lebih unggul, dan kau memuji pria lain dihadapanku, aku jelas tidak bisa menerimanya. Aku benar-benar marah!" Sasuke berucap dengan nada yang dibuat-buat, kenapa dia pandai sekali seperti itu?

"Ma'af." Aku melingkari pundaknya.

Dia bergeleng kepala, "Itu tidak menyembuhkan sakit hatiku sayang."

Aku menggigit bibir bawahku, kurasa aku tau kemana arah permainan ini, "Adakah hal lain yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan luka hatimu?" dan aku memutuskan untuk ikut bermain.

Tanganya meremas-remas kecil bokongku dan aku memijat-mijat pelan bahu kekarnya. Kami bertatapan.

"Aku tidak yakin kau bisa melakukanya." suaranya terdengar prihatin.

Dan untuk pertama kalinya, aku menciumnya terlebih dahulu, menghisap bibir bawahnya, lidahku memasuki mulutnya, menjelajahi benda-benda dalam mulutnya, Sasuke seperti membiarkanku mendominasi, membiarkanku bermain dengan bibirnya tanpa membalasku.

Tanganku mencengkram kerah bajunya, mengelus frustasi dada kerasnya seolah terganggu dengan kemeja putih Sasuke, Uh... aku tak pernah mendominasi, tapi dengan Sasuke kenapa seperti ini?

Ia berusaha keras mengabaikan ciumanku dan aku tau ia menyerah pada akirnya, ia membalasku, mengangkatku, dan menidurkanku pada sofa panjangnya, menindihku.

Aku orang pertama yang kehabisan nafas, ia menyadarinya, melepaskan ciumanku dan mencoba melepaskan kemejaku saat aku meraup udara.

"Kau sangat seksi dalam warna hitam." ucapnya setelah melihat bra warna hitam yang membungkus dada besarku. Aku senang akan pujianya, "Apa kau tau seberapa inginya aku melakukan ini padamu saat pertama kali melihatmu dipesta Naruto?"

"Kau menjadikan orang asing obyek kotormu, kau sangat keterlaluan." Aku pura-pura prihatin dan terangsang tentu saja.

"Hanya padamu baby, hanya padamu." kupu-kupu yang entah dari mana terasa berterbangan dalam perutku.

Aku memeluknya, dan kami berciuman lagi. Hanya saling mengecup ciumanya turun ke daguku, keleherku dan bermain-main disana, menjilatnya, mengecupnya, menjilatnya dan... menghisapnya. Ia menandaiku, itu sesuatu yang tak kusukai aku tak suka dimiliki siapapun, tapi dengan Sasuke, aku lagi-lagi tak menolaknya, aku bahkan sangat menikmatinya. Wow.

"Ohh..." desahku.

"Milikku." ia berbisik.

Ciumanya turun menuju dadaku, ia menurunkan cup braku dibawah dada, aku mengangkat kepala meliriknya dan menemukan wajah kagum Sasuke, "Kau luar biasa besar Hinata! Aku sangat menyukainya."

Di detik berikutnya ia memasukkan puncak dadaku dalam mulutnya, menghisapku seperti bayi yang menyusu, "Owhh... Sasuke."

Tak sampai disitu, ia melanjutkan dengan memelintir nipple ku yang tak tersentuh mulutnya. Ia melakukan bergantian pada kedua payudaraku. ohh~

Aku sedikit kecewa saat tak lagi menemukan tangan dan bibir Sasuke pada dadaku, ia melepasnya. Dan kembali menciumiku dibawah dada, ke perut, dan menjilati pusarku. Ia menyibak rokku ke atas, menemukan celana dalamku yang sama hitamnya dengan braku.

"Kau basah kuyup disini sayang." Sasuke melewati kemaluanku, dan beralih mengecupi pahaku sampai betis, setelah melakukan pada kedua kakiku, ia kembali pada pusatku, melepaskan celana dalamku, membuatku merasakan nafas hangatnya pada pangkal pahaku yang mengangkang dihadapanya, uh aku mengangkat kepala dan menyadari seberapa intimnya posisi kami.

Ia juga mengangkat kepala, mata kami bertemu, "Bon appetit..." Ucapnya padaku.

Owh... Sialan! Ia menghisapku kuat-kuat.

...

TBC

...

NB: Bon appetit bahasa perancis untuk "Selamat makan!"

Muehehehe Tbc dengan nista, gimana udah panjang belum wordnya? Aku merasa udah ngetik lama tapi keknya cuma segitu-segitu aja T.T aku juga kesulitan update cepet nih T.T

Oke Aku mau berterima kasih banyak buat kalian yang review, fav, fol story, fol aku juga, aku cinta kalian semua T.T #bow

Saran kalian sangat berguna, jadi tolong di review ya, boleh kasih saran pengennya ni fic kayak apa, dimana kurangnya, aku akan memperbaiki reader san, semua bentuk masukan diterima kok, tapi flame gak nerima #plakkk

Review pliss reader-san #Puppy_eyes_no_jutsu (jurus andalan XD)

Thankyuuuuu :*