NHSM (NaruHina Smut Month) Day 3
Prompt: Good Cop & Bad Criminal
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Hardcore Lemon
Words Count : 4,637
"Haahh…" Terdengar desauan melelahkan dari seorang wanita muda yang kini sedang membawa dua plastik penuh berisi beberapa snack. "Membosankan sekali menjadi detektif. Sudah dua minggu tak ada kasus untuk ditangani." Gerutunya perlahan sembari berjalan keluar dari sebuah minimarket.
"Bersabarlah, Hinata-chan. Memang akhir-akhir ini jarang ada kasus yang cukup serius untuk membutuhkan seorang detektif." Bujuk temannya, seorang wanita dengan rambut blonde yang dikuncir empat. Di tangannya terlihat sebuah kantungan plastik berisi minuman ringan.
"Ya, Temari. Tentu saja, di satu sisi aku juga senang karena belakangan ini mulai jarang terjadi kasus pembunuhan dan sejenisnya. Mungkin Tokyo juga telah menjadi lebih aman." Senyum Hinata, rasa bosan yang tadi menyelimutinya menguap membayangkan betapa kota yang dicintainya ini telah menjadi lebih aman.
Kedua orang tersebut, yang satunya bernama Hyuuga Hinata, seorang gadis muda berusia 23 tahun, seorang detektif wanita yang baru saja menjadi polisi 2 tahun yang lalu. Kenaikan tingkatannya lebih lamban dibandingkan wanita yang berjalan di sampingnya ini, Temari, gadis berusia 24 tahun yang bergabung menjadi anggota kepolisian setahun yang lalu namun kini memiliki tingkatan yang lebih tinggi setingkat dari dirinya. Mungkin ini dikarenakan sebuah kasus berat yang melibatkan pembunuhan berantai yang berhasil diselesaikan oleh Temari. Bukan itu saja, Temari juga sudah sukses menyelesaikan beberapa kasus berat lainnya, mayoritas kasus pembunuhan. Mungkin hal itulah yang sukses membuat Temari berhasil memperoleh kenaikan tingkat yang lebih tinggi darinya.
Hinata sendiri merasakan keanehan. Bukannya ia iri dengan Temari. Tidak, Hinata terlalu baik untuk merasakan emosi jahat seperti iri terhadap koleganya. Hanya saja, bukankah sebuah keanehan, bila ada sebuah kasus berat namun malah diserahkan kepada juniornya namun dirinya malah diabaikan?
"Hinata, berhenti." Terdengar suara Temari yang serius dan pelan, pertanda ada sesuatu yang berbahaya. Hinata segera berhenti. Jantungnya berdegup kencang. Tepat di depan mereka, ada sebuah gang kecil. Memang mereka berdualah yang sengaja mengambil jalan pintas yang agak sepi ini demi alasan memotong jalan ke markas besar mereka. Akan tetapi, kini baik Temari maupun Hinata mendengarnya. Suara erangan seorang lelaki dari dalam gang itu.
Baik Hinata maupun Temari meletakkan kantungan plastik tersebut dengan perlahan, lalu mengambil senjata yang selalu melekat dalam pakaian mereka. Hinata segera mengintip ke dalam gang tersebut, dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Tampak seorang pria paruh baya dengan dahi berlumuran darah, dan di hadapannya berdiri seorang anak muda berambut coklat dengan tato segitiga pada pipinya. Ia memegang sebuah pipa besi yang telah terpercik darah dari sang pria tua.
"K-Kumohon.. J-Jangan bunuh aku.." Pinta sang korban pada si pembunuh dengan memelas.
"Maaf, Pak Tua, bukan keinginanku juga. Tapi aku dibayar untuk hal ini." Pemuda itu memberikan sebuah seringaian jahat pada lelaki tua itu. "Ucapkan doamu untuk ke alam baka!" Teriaknya sembari mengayunkan pipa besi itu tinggi-tinggi, bersiap memberikan sebuah pukulan mematikan.
"Berhenti! Polisi!" Teriak Hinata yang langsung menodongkan senjatanya disusul Temari melihat sang pembunuh yang akan segera menghabisi mangsanya. Bocah itu langsung menatap ke arah wanita itu. Berbagai ekspresi terlintas di wajahnya. Awalnya ketakutan ketika mendengar kata 'polisi' meluncur, disusul dengan kelegaan, diakhiri dengan seringaian licik.
"Hoo, ternyata dua ekor polisi wanita." Ujarnya sembari menekankan kata 'ekor'. "Aku takkan takut dengan senjata mainanmu itu, Nona."
"Jangan kurang ajar!" Bentak Temari. "Kau akan segera diringkus dengan dugaan penganiayaan dan pembunuhan berencana!"
"Cobalah jika kau bisa, Nona." Seringai lelaki itu lalu segera berlari menjauhi kedua detektif itu dengan kecepatan luar biasa. Hinata dan Temari langsung melepaskan tembakan, berusaha menghentikan gerakan pemuda itu, namun sayangnya beberapa tembakannya tidak mengenai target dan pemuda itu tanpa diduga ternyata cukup lincah.
Frustasi melihat tembakan mereka tidak mengenai sang pelaku, Hinata berlari menyusulnya, lalu memungut sebuah batu yang berukuran lumayan besar. 'Semoga dengan objek yang lebih besar, bisa mengenainya!'
TAKK
Lemparan Hinata berhasil mengenai punggungnya, cukup keras untuk membuat orang tersebut terjerembab. Belum sempat ia membalikkan kepalanya, ia telah merasakan moncong pistol sang detektif wanita di atas batok kepalanya.
"Letakkan tanganmu di belakang, tuan kriminal."
"Inuzuka Kiba. Usia 20 tahun. Pengangguran. Bersalah atas penganiayaan dan upaya pembunuhan terhadap Murata Takehiko, seorang pensiunan berusia 57 tahun. Hei, apa kau memang pengangguran?"
"T-Tentu saja. Memangnya apa yang bisa dilakukan bocah tak tamat SMA sepertiku? Kerja di restoran siap saji?"
"Dari informasi yang aku terima, tampaknya kau bukan pengangguran, Inuzuka." Balas Hinata dengan dingin. Ya, Hinatalah yang bertanggung jawab menginterogasi pelaku penganiayaan ini. Sementara kasus ini sedang dilaporkan kepada inspektur oleh Temari, Hinatalah yang harus menggali informasi dari pria yang ternyata bernama Kiba ini.
"Darimana kau memperoleh informasi tentangku?" Tanya Kiba gugup, takut jika kedoknya terbongkar.
"Dari KTPmu. Aku bertanya ke sekitaran tempat tinggalmu. Apa benar kau bekerja sebagai preman bayaran, Inuzuka?"
"Cih, hanya untuk mendapat uang jajan, nona. Bukan pekerjaan utama." Elak Kiba.
"Hanya sekadar informasi, Tuan Inuzuka. Atas kejadian ini, kau bisa dipenjara selama setidaknya dua tahun, bahkan bisa hingga delapan tahun jika kau terkena pasal berlapis. Beda ceritanya jika kau bersikap kooperatif. Bukan hal yang tidak mungkin kau bahkan bisa dibebaskan dari jerat hukuman." Bujuk Hinata, agar Kiba mau membuka mulut mengenai siapa yang telah menyuruhnya melakukan tindakan jahat itu.
"A-Aku bisa dihabisi jika aku mengaku, nona." Gagap Kiba, membuka diri mengenai ketakutannya. "L-Lebih baik aku dipenjara daripada disiksa oleh orang itu."
"Inuzuka." Panggil Hinata lembut. Hinata sedikit bersimpati pada orang sepertinya, orang yang rusak karena kejamnya dunia. Orang yang telah dirusak lebih jauh oleh seorang yakuza yang mungkin telah memaksanya melakukan tindakan keji seperti itu. "Katakan padaku siapa orangnya. Aku berjanji, dengan harga diriku sebagai seorang polisi, aku akan melindungimu." Melihat Kiba yang belum juga terbujuk, Hinata melanjutkan. "Kepolisian Jepang tidak akan berbohong, Inuzuka. Kami akan memberikan hukuman yang setimpal bagi siapapun itu yang telah menyuruhmu melakukan tindakan itu."
Tampaknya Kiba mulai menerima perkataan sang detektif, dilihat dari wajahnya yang melunak. "Apa kau berjanji, Nona Polisi?" Tanya Kiba serius. Ada kilatan ketakutan di matanya, membuat Hinata bertanya-tanya orang macam apa sebenarnya bos dari pria ini.
"Ya, kami berjanji. Kepolisian Jepang berjanji."
"Orang itu.. Dia adalah.. Rubah Kuning Tokyo. Uzumaki Naruto."
Hinata membeku mendengar nama itu diucapkan dari lidah Kiba.
Kini baik Hinata maupun Temari berdiri di depan Inspektur Kepolisian Bagian Kriminal. Tatapan dingin sang Inspektur membuat kedua wanita itu sedikit bergidik ngeri.
"Uzumaki Naruto, katamu?" Tanya sang Kepala Polisi perlahan. "Ketua yakuza yang terkenal akan tindak kriminalnya itu?"
"Ya, Pak. Tersangka Inuzuka Kiba sendirilah yang telah mengakuinya kepada saya. Dia hanyalah suruhan, orang yang ditemukan sang rubah kuning di pinggir jalan dan dibayar sejumlah uang untuk melaksanakan pembunuhan itu." Lapor Hinata.
"Ini akan menjadi kasus yang rumit…" Geram sang Inspektur sembari memijit pelan kepalanya yang terasa sakit.
Inspekstur menatap serius pada dua orang wanita di depannya. "Temari, kau akan bergabung dengan Nara Shikamaru untuk menyelesaikan kasus ini." Perintah Inspektur. "Dan Hinata, kau awasi Inuzuka Kiba. Interogasi dia. Galilah lebih banyak informasi mengenai dia."
Hinata benar-benar merasa kesal sekarang. "Tuan Inspektur, dengan segala hormat, saya rasa sebaiknya saya dan Temari bersama-sama menangani kasus ini."
"Mengapa seperti itu, Hyuuga?"
"Saya dan Temarilah yang bersama-sama menemukan kasus ini. Mengapa pada akhirnya kasus ini diberikan pada Shikamaru-san? Maaf, Inspektur, tapi hal seperti ini sudah berkali-kali terjadi." Hinata akhirnya mengungkapkan kekesalannya selama berbulan-bulan. Hal-hal seperti inilah membuat rank-nya tidak mengalami kenaikan. Setiap kali ada kasus yang lebih rumit, pasti kasus itu akan diserahkan pada orang lain.
"Saya hanya menyerahkan kasus ini pada orang yang saya anggap lebih mampu, Hyuuga." Jawab Inspektur dengan ketus. "Atau kau ingin menggantikanku sebagai inspektur?" Sindirnya.
Wajah Hinata memerah menahan malu bercampur kesal atas perkataan sang Inspektur. Tangannya bergetar menahan amarahnya, dan tanpa disadari matanya juga telah berkaca-kaca.
"Inspektur, jangan perlakukan aku seperti ini karena aku – "
"DIAMLAH, HYUUGA!" Bentak Inspektur dengan sangat keras. Dapat dipastikan bahwa orang-orang di luar ruangan juga bisa mendengar bentakan inspektur. "Keluar dari ruanganku sekarang!" Usirnya.
"Baik, Inspektur." Hinata lalu berjalan keluar dengan kepala tertunduk.
"Maaf, Inspektur, tidakkah Anda bersikap terlalu keras padanya?" Tanya Temari setelah Hinata meninggalkan ruangan.
"Ini demi kebaikannya juga." Desah sang Inspektur. "Tidak seharusnya dia menjadi polisi. Gadis itu terlalu lembut, seperti ibunya."
"Hinata-san memiliki talenta untuk menjadi detektif yang piawai, Inspektur. Jangan halangi pekerjaannya. Maaf jika saya telah bersikap lancang."
Hiashi mendesah pendek mendengar penuturan anak buahnya. Ia tahu benar kemampuan Hinata. Menguasai bela diri karate dan judo, memiliki daya analisa yang baik, serta mampu berkepala dingin dalam setiap situasi. Sungguh karakteristik yang mendukung untuk menjadi seorang polisi.
"Mungkin lain kali.. Aku akan membebaskannya melakukan operasi yang lebih menantang." Balas Hiashi sambil tersenyum getir. "Tapi tidak untuk kali ini. Rubah Kuning terlalu berbahaya. Bahkan akupun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka.
"Mengapa Anda selalu menentangnya melakukan penyelidikan pembunuhan, Inspektur?"
"Karena aku tidak ingin kehilangannya seperti aku telah kehilangan ibunya, Temari."
Hinata kini menangkupkan wajahnya di atas meja, merasa jenuh akan hal ini. Hal sama yang selalu terulang. Tiba-tiba muncul sebuah ide nekat dalam pikiran Hinata.
'Aku akan menyelesaikan kasus ini sendiri.'
Hinata lalu berjalan menuju ruang interogasi, berniat meminta informasi terakhir pada Kiba.
"Inuzuka, tolong berikan alamat markas Rubah Kuning." Pinta Hinata dengan serius.
"Apa yang akan kau lakukan, Nona Polisi?" Tanya Kiba bingung dengan permintaan tiba-tiba Hinata.
"Kau tak perlu tahu tentang hal itu, Inuzuka. Tuliskan alamatnya di kertas ini." Hinata lalu menyodorkan secarik kertas dan pulpen untuk menuliskan informasi.
Kiba lalu menuliskan alamatnya, lalu menyodorkan kembali pada Hinata. "Kau.. Akan pergi kesana?"
"Bukan urusanmu, Inuzuka." Balas Hinata ketus. "Terima kasih atas informasinya."
"Aku sarankan kau tidak pergi kesana. Tempat itu amat berbahaya."
Hinata tidak menjawab sepatah kata pun dan segera keluar dari ruangan.
Hinata mengingat kembali rangkaian peristiwa yang membuatnya kini berada di dalam mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar dan mencolok dengan warna kuning yang menghiasi seluruh dinding rumah.
'Apa sebenarnya tentang Rubah Kuning ini yang begitu mengerikan? Bahkan Inspektur pun tampak lebih ketakutan tadi.'
Selama 15 menit ia mengamati rumah tersebut dari luar, sama sekali tak ada hal yang menarik perhatiannya. Tak ada hal mencolok, tak ada preman atau yakuza berpakaian aneh yang lewat di sekitar tempat itu. Bahkan, bisa dibilang, tempat itu terlalu sepi.
Ya. Terlalu sepi. Hampir tanpa ada tanda-tanda kehidupan sedikit pun.
Hinata mulai merasa gugup. Selain itu, ia merasa seperti ada beberapa pasang mata yang mengawasinya.
Mungkin datang ke tempat ini adalah keputusan yang salah.
Hinata mulai menyalakan mobilnya. Sial baginya, mobilnya tidak bisa menyala di saat-saat genting seperti ini.
'Mengapa di saat seperti ini mobilku tidak bisa menyala….'
Mulai terdengar derapan langkah-langkah, namun tak seorang manusia pun yang terlihat. Hinata masih terus mencoba menyalakan mobilnya, yang malangnya hanya disambut suara starter mesin yang tak kunjung menyala.
"Sial!" Maki Hinata sambil memukul dashboard. Rasa gugup yang menyerang dirinya hanya memperburuk emosinya. 'Mungkin sebaiknya aku turun saja.'
Hinata lalu segera menyiapkan senjata di tangan kanannya, lalu dengan gerakan yang sangat perlahan membuka perlahan pintu mobilnya.
CLICK
Seketika pintu mobilnya terbuka, Hinata segera berlari sekencang mungkin menjauhi mansion kuning yang sedari tadi mengintimidasinya itu. Ketika ia menoleh ke belakang, kecurigaannya terbukti benar dengan munculnya empat orang pria bertubuh besar dengan pisau lipat kecil muncul dari arah mobilnya.
BRUGHH
Hinata menabrak sebuah objek solid dengan keras yang hampir saja membuatnya terjerembab jika bukan karena sepasang lengan kokoh yang sukses menahan beban tubuhnya.
Hinata menatap takut-takut ke arah atas, berusaha melihat wajah dari seseorang yang kini tengah memegang pinggangnya erat.
Seluruh darah di tubuhnya serasa membeku ketika tatapannya dibalas oleh sepasang mata safir yang tak kalah terkejutnya dengan dia.
"Hi..nata?"
"Menma?"
Reuni antara dua orang manusia itu terpaksa diakhiri ketika salah seorang anak buah pria yang disebut Menma itu datang dari belakang dan segera menghadiahi tusukan stun gun pada tengkuk sang gadis.
Hal terakhir yang dilihat Hinata adalah wajah panik Menma sebelum kegelapan menariknya.
"Unggh.." Erang Hinata pelan. Matanya mengerjap perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya yang tiba-tiba membanjiri saraf sensorisnya.
'Dimana aku ini?' Batinnya perlahan, memejamkan matanya kembali berusaha meredam rasa sakit kepala yang kini muncul. 'Bukan kamarku… Seluruh cat di ruangan ini berwarna kuning…. Kuning.. Rubah kuning…'
Hinata langsung bangkit terduduk menyadari ini adalah markas Rubah Kuning. Seketika rasa sakit kepala itu menyerangnya lagi, membuatnya mengerang perlahan sambil mencengkeram dahinya.
"Sudah bangun, Hinata-hime?" Muncul sebuah suara dari ujung ruangan. Seorang pria muda dengan surai pirang bermata safir yang sukses menarik perhatian Hinata.
"Menma.." Gumam Hinata pelan. "Aku ada dimana?"
"Hinata…" Ucap Menma sembari berjalan mendekati tempat tidur Hinata. Ia lalu mendudukkan diri di pinggir kasur itu. "Kau ada di rumahku. Markas Rubah Kuning."
Mata Hinata membulat mendengar pengakuan pria di hadapannya ini. "A-Apa? Rumahmu, markas Rubah Kuning? M-Menma tolong – "
"Naruto. Jangan panggil aku Menma. Itu hanya sebuah nama yang pernah menjadi masa laluku. Namaku sekarang adalah Naruto. Uzumaki Naruto." Potong Naruto sambil memberikan senyum tulus pada Hinata.
"Dan untuk menjawab pertanyaanmu, ya, akulah Uzumaki Naruto, sang ketua Rubah Kuning, yakuza yang terkenal seantero Tokyo ini." Lanjut Naruto yang kini memberikan seringaian pada Hinata.
Hinata hanya bisa terdiam mendengar penuturan Naruto ini. Dirinya sama sekali tak menyangka, pria yang selama ini dikiranya tengah berada di Jerman untuk melanjutkan pendidikan, pria yang dulu sempat mengisi hatinya, kini tengah duduk di hadapannya. Namun kini sebagai ketua yakuza, bukan lagi sebagai siswa nakal yang sering melakukan keisengan dalam ruangan kelas.
"Kau tetap cantik seperti dulu, Hinata." Puji Naruto. "Tak ada yang berubah darimu. Dan aku juga.. Masih tetap mencintaimu." Goda Naruto
Hinata masih tetap terdiam. Bingung bagaimana harus menyikapi kejadian di hadapannya ini. Tak tahu bagaimana reaksi yang sebaiknya diberikan.
"Mengapa diam, Hime?" Tanya Naruto dengan panggilan mesranya. Tangan Naruto lalu menangkup dagu sang gadis, memaksanya untuk menatap kedua bola mata indah milik sang yakuza. "Aku merindukanmu selama ini, tapi tak berani untuk mencarimu."
"Kau…" Akhirnya Hinata berhasil menemukan kembali keberaniannya. "Mengapa kau melakukan hal seperti ini, Menma – "
"Naruto. Namaku Naruto."
"Mengapa kau melakukan hal seperti ini, Naruto?" Tanya Hinata dengan mata yang penuh kemarahan. "Sejak kapan kau berubah menjadi seorang pembunuh!?" Bentak Hinata berang.
"Kau tak perlu tahu soal itu." Jawab Naruto singkat, seolah berusaha menutupi suatu hal. "Hinata, aku masih mencintaimu." Naruto lalu menahan wajah Hinata dengan kedua tangannya, lalu tanpa peringatan segera melumat bibir sang polisi.
Hinata yang masih kaget terdiam selama beberapa saat hingga ia merasakan benda lunak yang mulai menyapu bibir bawahnya. Hinata segera mendorong Naruto keras hingga ciuman paksa itupun terlepas.
"Apa-apaan, Naruto!" Bentak Hinata keras. "Aku harus segera pergi dari sini." Hinata lalu beranjak pergi dari atas tempat tidur. 'Aku harus segera melapor pada kantor pusat.'
Tiba-tiba terasa tarikan kencang pada lengannya yang membuatnya terjerembab kembali di atas tempat tidur dengan Naruto yang kini berada di atasnya.
"Siapa yang meembolehkanmu pergi, Hime?" Tanya Naruto dengan wajah yang terlihat… marah? "Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun. Tak mungkin aku membiarkanmu pergi sekarang." Lanjutnya dengan suara parau. "Aku.. Sungguh.. Merindukanmu…" Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Hinata agak tertegun melihat betapa nyatanya kesedihan di mata Naruto. Di tengah keterkejutannya, Naruto lalu menahan kedua lengan kecil Hinata dengan lengan kekarnya, menahan gerakan-gerakan yang bisa mengganggunya, lalu segera menciumnya lagi. Ciuman kali ini terasa lebih menggairahkan karena tanpa adanya tolakan dari sang gadis.
Hinata mulai merasa panik. Sendirian di dalam markas seorang yakuza, kini terperangkap di bawah kungkungan lengannya dan berciuman panas dengan lelaki yang baru ditemuinya setelah 5 tahun berpisah dan ternyata seorang bos yakuza…
Hinata kembali tersadar dari lamunannya ketika dirasanya lidah Naruto mulai menjilati bibirnya. Ditutupnya rapat-rapat bibirnya, berusaha mencegah hal yang akan terjadi.
Naruto menggeram pelan mendapati kekeraskepalaan Hinata. Ia lalu menggigit bibir bawah sang gadis, berusaha memaksanya membuka bibirnya. Usahanya tidak sia-sia. Kaget dengan gigitan yang diberikan, Hinata tanpa sadar membuka bibirnya, dan detik itu pula lidah Naruto segera meluncur dan mengabsen satu persatu isi rongga mulut sang gadis.
Ciuman itu nampaknya memiliki efek juga bagi Hinata. Seluruh tubuhnya terasa panas meskipun ruangan ini ber-AC. Selain itu, penolakan yang diberikannya juga tak sehebat tadi lagi. Bahkan kini Naruto sudah melepaskan pegangan eratnya pada kedua lengan Hinata.
Setelah puas menjelajahi isi rongga mulut Hinata, Naruto lalu melepaskan ciuman panas itu, lalu mengusap bibirnya dengan tangannya.
"Kau benar-benar fantastis, Hime." Puji Naruto.
"N-Naruto.. Kumohon, jangan lakukan ini." Hinata memohon dengan sangat pada Naruto. "A-Aku sudah memiliki tunangan."
Mata Naruto melebar mendengar kata 'tunangan'. Sekali lagi ia kembali menahan kedua lengan Hinata di bawah tangannya. "Tunangan katamu?" Desis Naruto dengan wajah yang penuh kemarahan. "Kau milikku, Hinata! Takkan kubiarkan siapapun memilikimu selain aku!" Teriak Naruto.
"Naruto, kumohon hentikan – Kyaa!" Menulikan diri terhadap teriakan Hinata, Naruto mulai merobek paksa blazer Hinata dengan tangan kosongnya. Hinata hanya bisa gemetar ketakutan melihat kemarahan Naruto.
"T-Tenanglah, Naruto. Kau membuatku takut." Cicit Hinata pelan, rasa ketakutan semakin menyellimutinya ketika Naruto melempar sebuah pandangan padanya.
"Kau akan menjadi milikku malam ini, Hime." Mata Hinata melebar mendengar ancaman Naruto. Kelegaan menghampirinya sejenak ketika Naruto beranjak meninggalkannya. Namun, ketika sang pria kembali dengan tiga utas tali, jantung Hinata kembali berdegup kencang. 'Aku harus keluar dari tempat ini!'
Hinata lalu segera bangkit dan berusaha melakukan tendangan pada Naruto, namun sayangnya tendangan itu masih berhasil ditepis Naruto.
"Jangan lupakan kemampuan bela diriku yang masih lebih tinggi darimu, Hyuuga." Seringai Naruto, yang lalu segera mengangkat tubuh ringan Hinata dan melemparkannya ke atas kasurnya.
"Ooff…" Belum sempat Hinata memulihkan diri dari keterkejutannya, Naruto sudah dengan cepat merentangkan kedua lengannya, lalu secepat kilat mengikatnya dengan erat.
"N-NARUTO! L-Lepaskan ikatanku ini!" Ronta Hinata berusaha melepas ikatan ketat itu. Sayangnya, usaha Hinata tak memberikan hasil apapun selain menghabiskan tenaganya saja.
"Sabarlah, Hime. Aku akan segera menghiburmu setelah ini. Hahaha." Tawa Naruto melihat usaha sia-sia gadisnya. 'Aku akan membuatmu merasakan kenikmatan, Hime.'
Naruto lalu memandang hasil karyanya. Seorang gadis dengan kedua tangan dan sebelah kakinya yang terikat di pos tempat tidurnya, serta blazer koyak yang menyisakan sebuah kaos lengan pendek yang menempel ketat pada tubuhnya, menampilkan pemandangan yang benar-benar seksi bagi Naruto.
"Ahh.. Ya, aku hampir lupa melepaskan rokmu, sayang." Naruto lalu mengambil sebuah gunting dari nakas di samping mejanya, lalu menggunting hingga hancur roknya.
"Kyahh!" Teriak Hinata malu mengingat Naruto kini dapat memandang celana dalamnya yang berwarna biru. "Sebaiknya aku melepaskannya, eh, Hime?" Tanya Naruto retoris lalu segera menariknya paksa.
"Kaos putihmu ini juga menggangu pemandangan." Naruto lalu segera merobek pula kaos putih serta bra yang ada di bawahnya.
Kini Hinata telah telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di bawah pandangan Naruto. Naruto memandang hasil karyanya dengan bangga. "Sungguh cantik, Hime. Sungguh cantik."
Hinata kini hanya bisa menutup matanya, berharap semua kejadian yang terjadi padanya ini hanyalah mimpi yang akan berakhir ketika ia membuka kedua matanya. Ia lalu perlahan membuka matanya kembali, dan kenyataan yang ada di hadapannya saat ini bukanlah mimpi.
"Nggh.." Erang Hinata pelan merasakan jilatan sensual Naruto pada lehernya. Tak dapat dipungkiri, tindakan yang kini dilakukan Naruto padanya menimbulkan sebuah sensasi aneh yang tak pernah dirasanya sebelumnya.
"Hinata, maafkan aku.." Bisik Naruto pelan tepat di telinganya. "Seharusnya aku tak meninggalkanmu..." Hinata hanya diam, tak menjawab sepatah kata pun.
Naruto lalu menurunkan area jelajahannya ke dada sang gadis yang terikat di bawahnya itu. "Keduanya begitu padat dan indah, Hime." Naruto lalu mula meremas pelan kedua dadanya.
"Uhhn.. J-Jangan, Naruto, kumohon.." Pinta Hinata pada pria yang kini menindihnya.
Seolah tak mendengar apapun, Naruto mulai menempelkan mulut panasnya melingkari dada kanan sang gadis, memberikan jilatan serta hisapan kecil.
"Auhh.. Ohh…" Desah Hinata merasakan kenikmatan baru yang tak pernah dirasanya sebelumnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sentuhan seorang pria pada tubuhnya. Meskipun hal ini tak seharusnya terjadi, Hinata tetap saja tak dapat mengusir rasa nikmat yang mengaliri tubuhnya.
Naruto masih terus mengecap kemanisan dari kedua dadanya, dengan tangan kirinya yang setia meremas perlahan dadanya serta bibirnya yang menempel erat pada dada kanan Hinata.
"N-Naruto… Hnngg.. Aaahh.. Hentikann…" Erang Hinata sambil terus meronta, tangannya menempel erat pada tali yang melingkari pergelangan tangannya menimbulkan bekas berwarna kemerahan pada kulit pucatnya.
Naruto akhirnya menghentikan kegiatannya, lalu mengangkat kepalanya dan menatap Hinata dengan seringaian yang membuat Hinata bergidik ngeri. "Aku menjamin, hal yang akan kulakukan selanjutnya akan berhasil membuatmu meneriakkan namaku dalam kenikmatan dan keinginan, Hinata-chan."
Hinata tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang ini. Hal macam apa yang hendak dilakukan pria ini pada tubuhnya?
"Hyaahh! Akhh.. Unggh.." Di tengah lamunan Hinata, kedua jari Naruto segera memasuki liang suci milik Hinata tanpa peringatan apa-apa, membuat sang empunya berteriak dalam kesakitan dan… kenikmatan.
"Teriakkan namaku, Hime. Resapi kenikmatan yang aku berikan ini." Jari-jari Naruto masih terus bergerak maju mundur di dalam tubuh mungil Hinata, berusaha memberikan kenikmatan maksimal bagi sang gadis.
"Hgghh.. Ahhnn.. T-T-Tidak.." Lenguh Hinata yang terdengar begitu menggoda di telinga Naruto. Salah satu kakinya yang bebas ia gerakkan kesana kemari, berusaha meredam kenikmatan dan rasa panas tak terhingga yang dihadiahkan lelaki kekar di atasnya.
Naruto bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Hinata mulai menegang, pertanda gadis ini telah mendekati orgasmenya. Ia sengaja mempercepat gerakan keluar masuk jemarinya, sambil terus mengamati ekspresi Hinata. Mata yang terpejam erat, kepala yang dilemparkan ke atas mengekspose leher jenjangnya, serta air liur yang sedikit menetes keluar dari sudut bibirnya yang terbuka kala mengerang. 'Ah, bibir manisnya perlu dibersihkan.'
Naruto lalu mengecup mesra bibirnya sambil menjilat sisa-sisa saliva pada sudut mulut Hinata, lalu kembali menjilati isi rongga mulutnya.
"Mngg.. Ngghh.. Ghh… AHH!" Teriak Hinata ketika akhirnya Naruto melepaskan ciuman liar itu dan memberikan sebuah tusukan keras yang sukses membawanya Hinata mencapai puncak kenikmatannya.
"Aahhh… Haah…Haahnn…" Seluruh tubuh sang detektif menegang merasakan orgasme pertama dalam hidupnya yang terasa begitu memabukkan. Kedua pahanya bergetar kecil menyertai keluarnya cairan orgasme yang meleleh keluar dari dalam kewanitaannya.
Naruto menyeringai melihat keadaan menyedihkan gadis di bawahnya. Mata Hinata terpejam, berusaha memperoleh kembali tenaganya yang terasa hilang ketika orgasme tadi melandanya. Nafasnya memburu seperti tengah berlari. Keringat melekat di seluruh tubuhnya, menimbulkan perasaan menggoda bagi sang yakuza muda.
Naruto sudah tak tahan lagi. Ia segera membuka kemeja dan celana panjang yang dikenakannya, menyisakan boxer dengan motif kodok, sungguh kontras dengan kepribadian sangar yang ditampilkannya sedari tadi.
Mata Hinata yang masih terpejam perlahan terbuka ketika Naruto menangkup wajahnya dengan lembut, berusaha menarik perhatian Hinata. Wajah manis Hinata merona merah padam melihat pemandangan yang tersuguh di hadapannya. Tubuh kekar dengan six pack yang menghiasi perut ketatnya, warna kulit tan eksotis dengan kedua lengan kekar yang menjadi tirai bagi dirinya saat ini, dan sebuah boxer… kodok?
Hinata terkikik geli meskipun kini ia masih berada di bawah kungkungan Naruto. Naruto yang melihat Hinata tertawa untuk pertama kalinya sejak reuni tak terduga ini, memasang ekspresi bingung.
"Apa yang lucu, Hina-chan?"
"Kau… Sampai sekarang pun kau masih suka kodok ya, Menma. Ah, bukan. Naruto." Hinata bernostalgia ke masa-masa indah SMA-nya, di saat ia mengenal seorang pria baik hati dan pemberani dan sangat menyukai kodok bernama Menma yang pernah mengisi hatinya selama tiga tahun dirinya bersekolah.
Naruto memberikan sebuah senyuman manis yang untuk beberapa saat berhasil membuat Hinata merasa sedikit lega.
"Naruto.. Kumohon, lepaskan aku. Jangan lakukan ini." Pinta Hinata sebagai upaya terakhirnya untuk dibebaskan.
Naruto segera menatap Hinata dengan tatapan yang tak dapat diartikan. "Tidak.. Hinata. Biarkan aku memilikimu.. Aku sudah terlalu lama menunggu.." Gumam Naruto kecil hampir tak terdengar oleh Hinata.
Hinata mulai bergidik ngeri ketika ia melihat Naruto perlahan mulai melepaskan boxer-nya, hingga akhirnya menampilkan kejantanannya yang telah berdiri tegak sedari tadi.
Naruto kini kembali menindih tubuh sang detektif, dengan kedua lengan yang ia gunakan sebagai penyangga di samping kiri dan kanan korbannya. Ia lalu berkata dengan sangat pelan, "Aku akan segera bersatu denganmu." Dan seolah hendak membuktikan perkataannya, ia mulai menggesekkan kejantanannya di depan kewanitaan Hinata yang terbuka lebar.
Rasa takut mulai menghampiri Hinata sekali lagi. Ia tak ingin keperawanannya direnggut seperti ini. "N-Naruto, t-tolong jangan lakukan ini."
Melihat tak adanya gerakan dari Naruto, Hinata melanjutkan. "A-Ayahku tak akan tinggal diam jika ia mengetahui hal ini." Ancamnya.
"Inspektur Kriminal seperti Hiashi tak akan pernah bisa menyentuh Rubah Kuning, Hina-chan." Ucap Naruto serius. "TIdak, tak ada satu orang pun polisi di Tokyo ini yang dapat menyentuh kami." Mata Hinata melebar mendengar penuturan Naruto. "Jadi bersiaplah, sayang, karena malam ini kau akan merasakan kenikmatan yang luar biasa."
Naruto lalu melebarkan kaki kanannya dan berusaha memasukkan kejantanannya ke dalam tubuh Hinata, melesakkan ujungnya sedikit demi sedikit.
"Hnngg.." Hinata mulai merasakan sedikit rasa sakit ketika kewanitaannya diregang untuk pertama kalinya oleh objek sebesar itu.
Naruto masih melanjutkan usahanya untuk bersatu dengan gadis itu. Ia terus mendorong kejantanannya hingga terbenam setengah di dalam liang suci Hinata.
"S-Sakit.. Naruto. Hentikan, kumohon…" Mohon Hinata pada sang bos kriminal yang tampaknya sama sekali tak menghiraukannya. Naruto mulai memundurkan kejantanannya, lalu dengan keras ia menghantamkan pinggulnya, hingga seluruh 'miliknya' telah terbenam sempurna dalam diri sang wanita.
"AHHH!" Teriak Hinata nyaring merasakan kesakitan luar biasa, seolah sebilah pisau telah merobek tubuh bagian bawahnya. Darah segar tampak membasahi sedikit seprai putih yang menjadi alas percintaan kedua manusia ini.
Naruto lalu mengecup kening Hinata lembut. "Maafkan aku, Hina-chan. Sebentar lagi sakitnya akan segera pergi, aku janji." Naruto merasa kasihan melihat penderitaan yang dilalui Hinata. Air mata mulai meleleh mengaliri pipi gembilnya. Naruto lalu mencium kedua kelopak mata yang selalu menyembunyikan mata bulan yang paling dicintainya.
Naruto berdiam diri sebentar, membiarkan wanitanya membiasakan diri terhadap 'diri'nya yang kini bersarang di dalam tubuh Hinata. Ketika dilihatnya air mata mulai berhenti mengalir dari mata Hinata, ia memulai kembali aksinya menikmati tubuh sang wanita.
Pada awalnya terdengar desahan-desahan cepat dan keras yang sempat membuat Naruto khawatir. Akan tetapi, lambat laun desahan kesakitan itu mulai berganti dengan desahan kenikmatan.
"Unggh… Hnn.. Aaa.." Erang Hinata merasakan tusukan-tusukan yang berhasil menyentuh titik-titik kenikmatan dalam rongga tubuhnya.
Naruto hanya diam dan berkonsentrasi menikmati betapa ketatnya kewanitaan Hinata. Hal yang telah ia mimpikan selama bertahun-tahun, akhirnya kini berhasil dilakukannya. Ia terus memajumundurkan tubuhnya sambil sesekali meremas kedua buah dada Hinata.
Kaki kanan Hinata yang tidak terikat mulai menendang-nendang udara, merasakan kenikmatan yang dibarengi rasa perih. Kedua tangannya meronta, usaha melarikan diri telah terlupakan. Kini kedua tangan itu meronta berusaha menyalurkan rasa nikmat dan terbakar di bagian bawah tubuhnya. Tampak bekas tali yang telah membiru di kedua pergelangan tangannya.
"Narutoo.. Ahhnn.. Mmm…" Desahan itu masih terus berlanjut. Hinata kini memejamkan matanya, berusaha menyerapi apa yang terjai padanya sekarang. 'Usahaku melarikan diri pun sudah tidak bisa dilakukan lagi.' Batinnya putus asa. 'Aku hanya bisa menunggu hingga semua ini selesai.'
Hinata memberanikan diri membuka matanya dan melihat ekspresi pria yang tengah bercinta dengannya ini. Ia melihat sebuah wajah dengan mata terpejam penuh kebahagiaan dan kenikmatan, serta ekspresi aneh pada bibirnya, seperti ekspresi menahan sakit.
Hinata mulai merasakan kedutan pada kejantanan sang yakuza, serta gerakan yang kini lebih keras, menimbulkan kenikmatan lebih padanya.
"Ah,ah,ah… Unggh.." Erangan itu muncul tiap kali Naruto berhasil menyentuh titik nikmat dalam kewanitaannya. Ia pun bisa merasakan bagaimana tubuhnya merespons kenikmatan itu dengan mengetatkan cengkeramannya pada junior Naruto, dan bagaimana Naruto bergerak lebih cepat lagi.
Kini kedutan itu kian terasa. Gerakan pria itu pun semakin tidak beraturan. Tiba-tiba terdengar desahan keras dari Naruto.
"H-Hina.. Aku a-akan 'datang'…" Erang Naruto sambil menatap ke wajah imut Hinata.
Kedua mata Hinata melebar mendengar pengakuan Naruto. "J-Jangan keluarkan di dalam!" Teriaknya berusaha mencegah Naruto untuk mengeluarkan benih-benih cinta dalam tubuhnya.
Sayang, peringatan Hinata tak didengar oleh Naruto yang kini hanya fokus berusaha mencapai ejakulasinya. Kegiatan maju mundur masih terus dilakukan. Tak lama berselang, kedua tangan Naruto menangkup wajahnya, lalu memberikan kecupan liar bagi dirinya.
"Mmhh.. Nggh.." Desahan Hinata tertahan oleh bibir pria yang kini tengah melahap tubuhnya.
Tiba-tiba, Hinata merasakan adanya semburan panas yang membanjiri kewanitaannya. Kedutan-kedutan yang ditimbulkan serta betapa panasnya benih yang ditembakkan Naruto dalam tubuhnya, memancing orgasme kedua Hinata malam itu.
"Annggh… Narutooo!" Teriak Hinata nyaring merasakan orgasme yang bahkan lebih nikmat daripada orgasme pertamanya tadi.
Sudah berakhir. Kegiatan yang dilakukan sepasang manusia beda profesi ini selama sejam terakhir telah selesai. Hinata merasa begitu lemas. Seluruh tenaganya telah habis. Matanya perlahan menutup, tak kuasa lagi menahan kantuk yang menyerangnya.
'Aku masih mencintaimu.. Menma.'
Naruto memandang sayang pada wanita yang baru saja bercinta dengannya ini. "Maafkan aku, Hinata." Sesal Naruto. "Tak seharusnya aku melakukan ini padamu. Rasa cemburu menggelapkan mataku ketika kau mengatakan soal tunangan." Naruto lalu terdiam dan segera melepaskan ikatan tali pada ketiga titik tubuh wanita itu. Ia melihat memar yang terbentuk di pergelangan tangan dan kakinya dan merasakan penyesalan mendalam.
"Gomen, Hinata.. Aku berjanji, kau akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi setelah ini." Ia lalu mengecup kening Hinata, dan memberikan kecupan terakhir pada perut rata Hinata. Kelelahan yang juga dirasakannya, membuatnya jatuh tertidur di samping Hinata.
END
Hi minna-san! Maafkan keterlambatan prompt ke-3 ini. Author berusaha memenuhi permintaan para reviewers yang menginginkan words lebih banyak, dan demikianlah hasilnya. Semoga para pembaca puas dengan fic ini ya :D
Author juga berterima kasih buat para reviewers serta orang-orang yang telah PM Author yang telah mau memberikan saran demi NHSM. Terima kasih banyak untuk dukungannya minna-san!
Oh ya, sebenarnya saya ada rencana menjadikan fic ini menjadi sebuah fic multi chap. Bagaimana menurut minna-san?
Akhir kata, semoga prompt ini memuaskan ya XD
