NHSM (NaruHina Smut Month) Day 4

Prompt: Not in Front of the Kids!

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warning : PWP, OOC

Words Count : 1,718


"Baiklah anak-anak. Setelah jam istirahat ini, akan ada pelajaran Matematika Shinobi. Gunakan jam istirahat ini dengan sebaik-baiknya." Ucap Hinata. "Kelas dibubarkan!"

Terdengar sorakan gembira dari anak-anak yang segera berlari meninggalkan kelas. Hinata tersenyum tipis melihat tingkah laku mereka. Dunia shinobi kini telah menjadi lebih aman. Kedamaian telah tercapai, anak-anak pun kini bisa menjalani masa kecil mereka dengan lebih baik. Dan semua itu berkat seorang shinobi bernama Uzumaki Naruto.

Mengenai Uzumaki Naruto...

"Naruto-kun, masuklah. Jangan berdiri di luarkelas terus." Panggil Hinata pelan pada sang penyelamat dunia.

"Eheheh. Tampaknya aku ketahuan." Tawa Naruto sambil menggaruk tengkuknya pelan.

"Tentu saja, Naruto-kun. Siapa yang tak bisamendengar teriakan kagum para gadis muda ketika kau tiba di akademi, Naruto-kun?" Tanya Hinata sambil menahan tawa.

"Hee, tampaknya istriku ini cemburu, eh?" Naruto lalu segera menutup jarak di antara mereka dan memberikan kecupan mesra pada kening sang guru.

Saat ini, Hinata tengah menjadi guru akademi sementara. Iruka yg digantikan kini tengah menjalani perawatan akibat sebuah misi pengawalan yang mendapat serangan segerombolan bandit. Hingga Iruka pulih dari luka-lukanya, Hinata untuk sementara menjadi guru akademi menggantikan Iruka. Mengingat sifat Hinata yang memang menyukai anak-anak, Hinata dengan senang hati menerima tawaran itu ketika Naruto menyampaikan hal ini kepadanya.

"Naruto-kun ada apa tiba-tiba kemari?" Tanya Hinata.

"Err, aku hanya bosan. Hari ini Kakashi-sensei sedang tidakadakerjaan, jadi diamengusirku." Rajuk Naruto. "Jadi aku memutuskan untuk datang mencarimu sekaligus bernostalgia-ttebayo." Naruto lalu duduk di atas kursi guru, lalu melihat setumpuk kertas. "Wah, kertas apa ini, Hime?"

"Hanya kertas kuis tentang sejarah dunia shinobi, Naruto-kun." Naruto mengangguk lalu melihat-lihat tumpukan kertas. Alisnya mengernyit ketika matanya menangkap beberapa kertas berisikan hitungan-hitungan.

"Ne, Hina-chan, ini matematika kan? Tampaknya belum diperiksa." Ujar Naruto sambil mengangkat dan memperlihatkan beberapa kertas yang luput dari pemeriksaan Hinata.

Mata Hinata melebar melihat kertas yang ditunjukkan Naruto. "Astaga. Itu kertas kuis tiga hari yang lalu. Masih ada yang belum diperiksa ternyata." Hinata langsung mengambil pulpen dan segera memeriksanya dalam posisi berdiri

"Eh, Hinata, duduklah di pangkuanku." Goda Naruto sambil menaikturunkan alisnya.

"J-Jangan, Naruto-kun. Aku harus segera menyelesaikannya." Balas Hinata, wajahnya sedikit merona mendengar tawaran Naruto. Ia lalu segera fokus kembali pada pekerjaannya.

Naruto lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri Hinata, lalu tanpa peringatan segera mengangkat tubuh wanitanya dengan mudah.

"A-Ah, N-Naruto-kun!" Pekik Hinata kecil, takut suaranya didengar murid-muridnya. Naruto lalu segera mendudukkan Hinata di atas pangkuannya.

"Problem solved, Hime." Seringai Naruto melihat kegugupan istrinya karena berada begitu dekat dengannya. "Sudah lama kita tak bermesraan kan, Hinata?"

Memang sejak mengambil pekerjaan sebagai guru sementara, Hinata menjadi sedikit lebih sibuk. Malam hari yang seharusnya menjadi waktu favorit bagi Naruto, akhir-akhirini malah menjadi waktu ideal bagi Hinata untuk melakukan pekerjaan memeriksa pekerjaan rumah ataupun kuis dari murid-muridnya. Kerap kali Naruto telah tertidur ketika menunggui Hinata menyelesaikan tugasnya.

"T-Tapi jangan di kelas, Naruto-kun!" Protes Hinata. "Nanti anak-anak masuk kelas."

Naruto lalu berdiri dari tempat duduknya, lalu segera menutup pintu dan tirai-tirai kelas. "Nah, jika begini, tak akan ada yang melihat kita. Selain itu, saat ini jam istirahat. Anak-anak nakal itu pasti sedang asyik bermain-main." Naruto lalu kembali memangku Hinata, lalu meletakkan dagunya di atas pundak wanita itu. "Sekarang, lanjutkanlah koreksianmu."

Hinata hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasrah dengan kekeraskepalaan suaminya. Ia lalu mulai memeriksa satu persatu soal kuis yang diberikan. Tangannya bergerak lincah memberikan tanda-tanda dengan pulpen merahnya diselingi dengan catatan kecil yang diberikan sesekali di setiap soal.

Naruto kini mulai merasa bosan. Hinata benar-benar mengacuhkannya selama ia mengerjakan koreksiannya. Tangannya pun mulai pegal karena sedari tadi hanya diletakkan di dudukan kursi.

Perhatian Naruto sedikit teralihkan dengan betapa dekatnya tubuh Hinata dengannya. Leher putihnya pun kini terekspos karena rambut lavender panjangnya kini diikat dengan seutas karet. Muncul sebuah ide iseng dalam diri seorang Uzumaki Naruto.

Kedua tangannya mengenggam pinggang sang wanita Uzumaki, membuatnya terlonjak kaget karena perlakuan tiba-tiba Naruto. "Lanjutkan saja pekerjaanmu." Kata Naruto dengan seringaian isengnya.

Hinata memiliki firasat tidak enak karena Naruto yang tiba-tiba tampak ceria, padahal tadinya bahkan Hinata pun bisa merasakan mood jelek yang menguar dari Naruto.

Firasat Hinata terbukti benar. Tak lama setelah kedua lengannya melingkar mesra di pinggangnya, kini Hinata bisa merasakan hawa panas dari nafas sang kepala keluarga Uzumaki. Belum sempat ia menegurnya, Naruto telah menggigit kecil daerah sensitif pada lehernya, membuat Hinata refleks menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan kenikmatan.

"N-Naruto-kun..." Protes Hinata lirih. "Jangan lakukan ini.. Ahhnn.." Erang Hinata ketika kini ia merasakan kedua tangan nakal suaminya telah meninggalkan pinggangnya dan kini tengah meremas sensual dadanya.

"N-Naruto-kun.." Hinata akhirnya memberanikan diri untuk menggenggam kedua tangan Naruto. "J-Jangan mesum disini..." Lanjutnya meminta Naruto menghentikan kegiatannya.

Naruto hanya terkekeh geli, lalu kembali menempelkan tangannya pada pinggangnya. Ketika Hinata memberikan tatapan galak padanya, Naruto mengelak. "Hanya meletakkan tanganku, Hime. Tanganku pegal bersandar terus pada kayu keras ini."

Hinata memberikan tatapan sekilas pada Naruto yang masih tersenyum usil, lalu kembali melanjutkan koreksiannya. Belum sempat Hinata menyelesaikan satu kertas pun, ia kembali terlonjak kaget karena dirasanya jari hangat Naruto yang telah menelusup roknya, meraba pelan pahanya, membuat Hinata kian 'gerah'. Ketika dirasanya jari itu kian mendekati daerah berbahaya, Hinata mengambil inisiatif untuk menghentikan pergerakan nakal Naruto. Usaha itu tidak berhasil, sebab ketika tangan kanannya berusaha menghentikan tangan Naruto, tangan kiri Naruto yang bebas malah menggenggam erat kedua tangan Hinata.

Tentu saja, bukan berarti Hinata menyerah sampai disitu. Tangannya memberontak, berusaha membebaskan diri dari pegangan erat sang pahlawan. Melihat usaha Hinata yang tak juga melemah, Naruto mencoba peruntungannya dengan memberikan ciuman panas pada bibir sang wanita yang tak terjaga.

Ciuman panas yang terjadi selanjutnya berhasil mengalihkan perhatian Hinata. Untuk sesaat, kedua tangannya melemas dan itulah yang dibutuhkan oleh Naruto! Jarinya segera mencapai destinasinya, lalu menggesek permukaan kewanitannya yang masih terlindungi oleh celana dalamnya.

"Nnghh.. Ohh.. H-Hentikan..." Pinta Hinata, memohon agar Naruto mau menghentikan ministrasinya. Naruto hanya tersenyum, sama sekali tidak menghiraukan permintaan istrinya. Kini jarinya telah menyeruak melewati penghalang antara kewanitaan istrinya dan jemarinya. Ia menusukkan dua jarinya langsung ke dalam liang kewanitaan Hinata.

Hinata kini hanya mampu menahan erangannya dengan menyandarkan kepalanya pada bahu lebar Naruto, berusaha agar erangannya tidak terdengar dari luar. Kedua tangannya meremas erat lengan baju Naruto. Hinata kini juga merasakan 'senjata' Naruto yang menonjol dan menempel erat pada pantatnya.

"N-Narutoooh... Augghh.. N-Nanti m-maalam..." Racau Hinata merasakan jempol Naruto yang kini tengah mengusap pelan klitorisnya. Kuku-kuku Hinata mencengkeram erat kain jaket Naruto, menimbulkan kesan berantakan pada jaket orange kebanggaan Naruto.

"Ya, ya, nanti malam kita juga akan melakukannya." Seringai Naruto, merasakan perlawanan Hinata yang makin melemah seiring dengan meningkatnya kontraksi-kontraksi pada kewanitaannya.

"Hmnn... Hyahnn.. S-Sedikit lagi..." Lenguh Hinata, setengah tak sadar dengan kata-katanya barusan. 'Sedikit lagi... Kenikmatan itu akan...'

Tepat di saat Hinata akan mencapai puncak kenikmatannya, tiba-tiba Naruto menarik kedua jarinya dan menghentikan usapan jempolnya pada klitorisnya, otomatis menghentikan semua kenikmatan yang tengah dirasakan sang putri Byakugan. Hinata mengerang frustasi, menggoyangkan pinggulnya berusaha memperoleh kembali kedua jari itu di dalam tubuhnya.

"Sabar Hime." Ucap Naruto, lalu membantu Hinata berdiri. Hinata hanya memberikan tatapan bingung pada suaminya, yang dihadiahi dengan ciuman singkat pada bibir ranum Hinata. "Sekarang, ke hidangan utama." Naruto lalu membalikkan tubuh Hinata membelakangi dirinya, lalu dengan cepat melepas celana Hinata yang sedari tadi menjadi pengganggu baginya. Ia lalu memosisikan agar Hinata menungging dengan meja guru sebagai tumpuannya.

"J-Jangan Naruto!" Cegah Hinata, ia lalu melirik sekilas ke arah jam yang tergantung di kelas. "S-Sepuluh menit lagi istirahat sudah berakhir. K-Kita bisa – AAAH!"

"Nikmati sajalah, Hime." Ujar Naruto dari belakang, yang sekarang telah berhasil memasukkan seluruh 'senjata'nya dalam tubuh Hinata, secara otomatis menghentikan ucapan kekhawatiran Hinata.

"Ummff... N-Naruto-kun..." Desahnya pelan sambil meremas pelan kertas yang terdapat di meja, saraf-saraf di seluruh tubuhnya dibebani dengan rasa nikmat yang begitu tinggi hingga ia tak mampu lagi berpikir jernih. Satu-satunya hal yang dibutuhkannya saat ini adalah menyalurkan kenikmatan di tubuh bawahnya.

"Hnngh.. Ketat seperti biasanya, eh?" Ujar Naruto sambil terus mempertahankan temponya memajumundurkan pinggulnya. "Padahal tadi kau menolak, Hime, namun sekarang kau malah mengerang di bawahku." Goda Naruto. "Guru nakal sepertimu harus mendapatkan hukuman." Naruto lalu memukul pantat sintal milik Hinata, meninggalkan bekas berwarna merah yang tampak jelas pada kulit pucatnya.

"Auuhh... Mmmnn.. S-Sakit, Naru-kun.." Erang Hinata kesakitan, meskipun ada satu bagian dalam dirinya yang merasa nikmat atas perlakuan kasar Naruto barusan.

Naruto terus melanjutkan kegiatan percintaannya dengan sesekali memberikan pukulan pada pantatnya, yang disambut dengan erangan kesakitan yang bercampur kenikmatan Hinata.

'A-Apa aku telah menjadi seorang masokis?' Batin Hinata, tak percaya masih ada satu sisi dalam dirinya yang merasa terangsang akibat pukulan Naruto tadi.

"Kyaa – Ampph.." Ketika tanpa sadar Hinata berteriak, tangan Naruto segera menutup mulutnya, berusaha agar tidak ada suara apapun yang terdengar ke luar.

"Jangan ribut, Hime. Kau tak ingin murid-muridmu tahu tentang hal ini kan?" Hinata lalu menggeleng lemah, tubuhnya bergoyang-goyang mengikuti irama pinggul sang lelaki.

Naruto kini sudah memasukkan kedua tangannya ke balik dua lapis pakaian yang dikenakan Hinata, memijat perlahan payudaranya, berusaha memberikan kenikmatan maksimal bagi wanita ini. Ia menggosok puncak dadanya yang telah basah oleh keringat.

"Ugghh... Hmmm..." Desah Hinata yang kini menutup mulutnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mencakar-cakar meja, meninggalkan bekas berwarna putih pada meja kayu itu. Tampak beberapa kertas telah berserakan di lantai, namun Hinata kini sudah terlalu merasakan kenikmatan untuk peduli pada hal itu.

"H-Hina-chan, aku sudah dekat.." Lenguh Naruto, mempercepat gerakan tubuhnya, berusaha secepat mungkin mendapat ejakulasinya. Matanya melirik sejenak ke arah jam. Dirinya agak kaget melihat waktu yang tersisa tinggal dua menit lagi. 'Ah, aku harus cepat menyelesaikannya.'

Untuk mempercepat orgasmenya, Naruto lalu menggesek klitoris Hinata kasar, sambil sesekali menjepitnya di antara jempol dan telunjuknya, yang sukses membuat Hinata keceplosan dan hamper berteriak, hingga harus disumpal dengan tangannya.

"Hmphh.. Uff.. Haah.. Aahh, ahh, N-Naruto – " Teriakan Hinata tertahan oleh bibir Naruto yang kini menyumpalnya, membuatnya berteriak tertahan dalam bibir sang Uzumaki terakhir. Sementara itu, Naruto yang merasakan jepitan erat dari tubuh Hinata akhirnya mencapai puncak kenikmatannya.

"Ughh... Sial, nikmat sekali.." Geram Naruto merasakan orgasme melanda tubuhnya. Sesekali ia menggerakkan pinggulnya pelan berusaha mengeluarkan benihnya hingga tetes terakhir ke dalam rahim istrinya.


KRINGG!

"Tepat waktu, hehehe." Tawa Naruto, puas karena telah berhasil menyelesaikan 'petualangan' kecilnya tepat waktu.

"Mari aku bantu, Hime." Tawar Naruto melihat tangan Hinata yang masih gemetaran akibat gelora kenikmatan yang masih tersisa mendera indera perasanya.

Setelah dilihatnya tubuh Hinata kini telah rapi dan tak ada tanda-tanda apapun tentang kegiatan terlarang mereka, Naruto lalu mencium sejenak pipi tembam Hinata. "Aku menunggumu di rumah, sayang." Naruto lalu segera pergi meninggalkan Hinata yang masih duduk terpaku dengan wajah merona merah, bersamaan dengan anak-anak yang menerobos masuk ruangan kelas.


Hi minna-san! Maafkan keterlambatan saya dalam mengupload ch 4 ini. Sepanjang hari ini saya sibuk di luar rumah sehingga belum sempat mengetiknya hingga tengah malam ini T.T

Maafkan saya jika prompt ini berakhir kurang memuaskan karena diketik terburu-buru . Saya akan berusaha agar prompt selanjutnya bisa segera diselesaikan.

Terima kasih buat para reviewers maupun silent readers serta pembacayang telah memfave atau memfollow cerita ini. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis setiap hari.

Stay tune for the next chap!