NHSM (NaruHina Smut Month) Day 5
Prompt: Friends With Benefits
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Plot Rush, Soft Lemon
Words Count : 3,340
"Hei, katakanlah, siapa orang yang sebenarnya kau sukai?" Tanya Naruto pelan pada sahabatnya. Bukan Uchiha Sasuke, pria yang kerap kali bertengkar dengannya bahkan mengenai hal sepele, namun sesungguhnya merupakan salah satu sahabatnya. Bukan pula Nara Shikamaru, si jenius malas yang telah mengenal Naruto sejak masa kanak-kanak mereka. Bukan, yang kini sedang duduk di hadapan Naruto sambil membaca malas sebuah textbook tebal dengan tulisan 'Guyton' menghiasi sampul tebalnya adalah Hyuuga Hinata.
Hinata menatap Naruto dengan tatapan datar. "Mengapa tiba-tiba bertanya hal seperti itu?" Ia lalu kembali membaca buku tebalnya.
"Ayolahh, Hinata-chan. Tidak adil jika kau tahu siapa orang yang aku sukai, sedangkan aku tidak tahu." Rengek Naruto.
Hinata hanya terkikik kecil menanggapi permintaan sahabatnya ini. "Well, itu karena terlalu merepotkan untuk memberitahumu, Naruto-kun. Lagipula, nanti akan ada praktikum. Aku harus mempersiapkan diri dulu." Jawabnya, berusaha menghindar dari pertanyaan Naruto.
"Baiklah! Kalau begitu, sesudah praktikum nanti beri tahu padaku ya!" Pekik Naruto riang.
"Lagipula, kenapa kau begitu penasaran dengan 'siapa orang yang aku sukai'? Daripada itu, bagaimana hubunganmu dengan Sakura-chan?" Tanya Hinata sesantai mungkin, meskipun hatinya terasa sakit ketika melontarkan pertanyaan itu.
Naruto terdiam sesaat mendengar Hinata membalikkan pertanyaannya, bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan itu. "Ahh, ya, tentu saja aku penasaran karena kau adalah sahabatku! Aku harus memastikan pria yang kau sukai adalah orang yang baik!" Hinata sedikit meringis mendengar penuturan keras Naruto. 'Itu benar.. Mengapa aku harus berharap lebih?'
"K-Kau tidak menjawab pertanyaanku, Naruto-kun." Hinata berusaha mendesak agar Naruto menjawab pertanyaan sebelumnya.
Naruto hanya diam, lalu tiba-tiba berdiri dan menyusun buku-bukunya lalu meminum seteguk kopinya. "Naruto-kun, kau mau kemana?" Tanya Hinata heran melihat gelagat Naruto.
"Eh, gomenasai, Hinata, sekarang sudah jam sepuluh. Aku harus bertemu dengan Sasuke dulu sebelum kelas untuk membahas projek kami. Jaa ne, Hinata-chan!" Naruto langsung berlari kecil meninggalkan kafe kecil itu dan juga Hinata yang masih duduk sendririan di pojok ruangan.
Hinata mendesah kecil melihat kepergian mendadak pria pirang itu. Entahlah, akhir-akhir ini Hinata merasakan keanehan pada Naruto. Pria yang telah menjadi sahabatnya sejak SMA itu akhir-akhir ini menjadi lebih protektif terhadap dirinya, dan menjadi semakin jarang membicarakan wanita idamannya, Haruno Sakura. Meskipun begitu, Hinata tak ingin berharap banyak. Mungkin Naruto hanya merasa tak nyaman dengan menceritakan hal seperti itu lagi padanya. Bukankah ia telah bertekad, ia akan move on dari pria idamannya itu dan mencari pria lain?
Naruto kembali berbohong untuk kesekian kalinya. Ia tidak memiliki projek yang harus dibahas dengan Sasuke. Bahkan, ia yakin, kini Sasuke pasti sedang bersama kakaknya yang kembali setelah lima tahun tinggal di New York. Naruto hanya tersenyum tipis mengingat pertanyaan Hinata tadi. Selama bertahun-tahun, hanya pada Hinatalah ia bisa bercerita dengan leluasa tentang Sakura, gadis yang sempat ia sukai selama bertahun-tahun. Ia akan curhat pada Hinata dan terkadang meminta saran pada gadis berambut panjang itu mengenai cara merayu sang gadis musim semi. Ya, demikianlah awalnya bagaimana persahabatan mereka terbentuk. Hanya Hinata satu-satunya orang yang tidak mengolok-oloknya ketika ia menceritakan tentang cinta monyetnya pada Sakura, bahkan ia didukung oleh Hinata. Sejak saat itu, ia menjadi semakin sering menghabiskan waktu dengan Hinata.
Bertahun-tahun kemudian, rasa sukanya pada Sakura perlahan-lahan memudar. Rasa kagum tiap kali ia melihat Sakura yang anggun lewat di depan matanya, kini telah digantikan oleh rasa jenuh melihat gaya sang gadis pink. Rasa suka yang dulu sempat bersarang di hatinya, kini telah digantikan oleh suatu perasaan datar yang sempat membuatnya bingung. Bingung karena kini semua perasaan yang dulu ditujukan pada Sakura, kini tanpa sadar telah berpindah haluan kepada Hinata.
Sikap Hinata yang lembut, rambut panjangnya yang seolah berkilau di bawah matahari, bagaimana kedua alis matanya bertaut ketika cinnamon rolls yang dimakannya kurang manis, caranya mengerangkan 'Naruto-kun'… Semuanya membuat Naruto serasa ingin menjadi gila. Bagaimana rasa sukanya pada Sakura selama bertahun-tahun berubah hanya dalam waktu setahun?
Naruto sendiri tidak tahu kapan hal itu terjadi. Perlahan-lahan, semua perhatiannya disedot oleh Hinata. Pertemuan mingguan mereka untuk membahas hal-hal kecil seperti kegiatan mereka selama beberapa hari terakhir dan terkadang curahan pikiran Naruto, berubah menjadi pertemuan harian. Tentu saja, hubungan mereka yang semakin dekat itu juga dipengaruhi oleh suatu kejadian setengah tahun yang lalu.
"Heeii, Naruto! Mau kemana?" Terdengar teriakan seorang wanita yang sedang melambaikan tangan padanya, memutus rangkaian monolog sang mahasiswa IT. Naruto menoleh, mendapati seorang Haruno Sakura, teman SMA-nya sekaligus cinta pertamanya yang kini tengah melambai padanya.
Naruto berjalan mendekat pada gadis itu, lalu menjawab, "Tidak kemana-mana, hanya sedang menuju kelas kalkulus Sarutobi-sensei." Balas Naruto pendek.
"Ehh? Jam berapa kelas kalkulus kalian?"
Naruto melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Kira-kira sejam lagi. Ada apa, Sakura?" Jika biasanya Naruto akan melompat riang karena mendapat kesempatan berbicara dengan gadis yang ditaksirnya, kini ia hanya menjawabnya dengan ekspresi biasa.
"Err, begini, kelompok kami mendapat tugas membuat sebuah brosur untuk pemasaran produk inovatif kami. Masalahnya, kami tidak bisa mengolah Photoshop dengan baik. Apa kau bisa membantu kami, Naruto?" Pinta Sakura.
Naruto mengangkat alisnya, merasa heran dengan jawaban Sakura. "Kenapa kau tidak meminta bantuan Sasuke?" Naruto merasa heran, mengapa tidak meminta Sasuke yang notabene adalah kekasihnya untuk membantunya?
"Sasuke-kun tidak sempat membantuku. Katanya, ia harus menjemput Itachi-nii yang baru kembali dari Kyoto hari ini." Naruto menepuk keningnya pelan. 'Bukankah Itachi-nii kembali hari ini? Dasar Naruto bodoh.' Sakura lalu melanjutkan, "Kumohon, Naruto? Nanti aku akan mentraktirmu ramen."
Mendengar kata ramen, tentu saja Naruto tak sanggup menolak lagi. "Hee, baiklah. Ayo ikut ke kelasku. Tugasmu akan selesai dalam waktu setengah jam-ttebayo!" Naruto langsung menarik lengan Sakura, bersemangat karena tawaran ramen gratis. Naruto lalu berlari sambil tertawa bersama Sakura, tidak sadar akan sepasang mata seputih bulan yang mengamatinya dengan sedih.
Hinata menatap kepergian dua orang tersebut dengan mata diselubungi kesedihan. Desauan kecil lolos dari bibirnya, berusaha menutup rasa kekecewaan yang dirasanya. 'Untuk apa Naruto-kun berbohong?' Batinnya dalam hati. Tentu saja Hinata mengetahui kebohongan Naruto. Bukankah Naruto yang sudah mengatakannya sendiri bahwa Sasuke tidak bisa kemana-mana selama seminggu penuh? Ketika ia mengatakan projek bersama Sasuke, sudah tentu Hinata langsung tahu kebohongannya.
'Mungkin Naruto-kun tidak ingin berteman denganku lagi.' Batinnya pedih. 'Rasanya sakit sekali.' Pikirnya sambil meremas pelan kemeja putihnya.
"Hai, Hinata-san. Apa yang sedang kau lakukan?" Hinata terlonjak kaget mendengar sebuah suara yang menyapanya dari belakang. Ia segera membalikkan tubuhnya, dan disambut oleh seorang lelaki jangkung dengan rambut biru muda.
"Hai, Otsutsuki-san." Sapa Hinata sopan. "Kau belum berada di ruang praktikum?"
"Panggil aku Toneri saja. Bukankah kita sudah dua tahun sekelas? Dan, yah, aku sebenarnya sedang menunggumu." Toneri lalu memberikan sebuah senyuman hangat, yang sayangnya gagal menarik perhatian Hinata. Satu-satunya senyuman yang mampu membuat hati sang gadis meleleh hanyalah senyuman dari sang pangeran matahari.
"Menungguku?" Tanya Hinata bingung. "Apa kita ada tugas kelompok bersama, Otsu – ah, maksudku Toneri-san?" Seingatnya ia tidak sekelompok dengan lelaki ini dalam praktikum apapun.
"Bukan begitu, Hinata-san. Aku hanya ingin mengajakmu menonton besok. Apa kau memiliki waktu luang, Hinata-san?" Tanyanya sesopan mungkin, berusaha memenangkan hati sang Hyuuga.
Hinata tahu Toneri sudah sejak lama menyukainya. Usahanya mendapatkan Hinata pun tidak main-main. Kerap kali ia mengajak Hinata kencan, yang malangnya selalu berujung penolakan mentah-mentah. Namun, untuk pertama kalinya, Hinata kini tengah mempertimbangkan tawaran lelaki ini.
Akan tetapi, ketika ia hendak membuka mulutnya untuk mengiyakan ajakan Toneri, sekelebat bayangan Naruto menghampiri pikirannya. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan sederhana Toneri.
"M-Maaf, Toneri-san. Aku belum tahu. Jika boleh, nanti malam aku akan menghubungimu, bagaimana?" Hinata lalu memberikan sebuah senyuman gugup. 'Biarkan aku memikirkannya dulu hingga malam.'
Dalam hatinya, Toneri bersorak bahagia. Akhirnya, Hinata mau mempertimbangkan tawarannya. Biasanya, gadis ini selalu menolak ajakannya tanpa berpikir. 'Ini tampak seperti sebuah kemajuan.'
"Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita segera menuju ruang praktikum? Sebentar lagi Yuuhi-sensei pasti sudah berada di ruangan."
Baik Hinata maupun Toneri lalu berjalan beriringan menuju ruang praktikum.
Tanpa terasa, praktikum melelahkan selama 3 jam itu selesai juga. Hinata berjalan meninggalkan ruangan praktikum secepat mungkin, tak sabar ingin segera kembali ke apartemennya. Tanpa sengaja, ketika ia berjalan hendak meninggalkan area kampus, matanya menangkap bayangan seorang pria tinggi berambut pirang yang tampak begitu bahagia.
"Naruto – " Hinata yang awalnya ingin menyapa Naruto, namun terputus melihat sesosok gadis yang berjalan santai di samping Naruto. Mereka berdua sedang tertawa, persis seperti sepasang kekasih yang serasi. Hinata langsung mengurungkan niatnya dan hanya menatap dari kejauhan. Tanpa bisa ditahannya, air matanya merembes keluar dari matanya melihat pemandangan itu.
Hinata terkejut mendapati pipinya yang basah oleh air mata. Ia segera menyekanya dengan punggung tangannya, lalu segera berbalik meninggalkan pasangan itu. 'Seharusnya aku bahagia.. Naruto-kun kini sudah mendapatkan gadis pujaannya.' Meskipun begitu, Hinata tak dapat membohongi hatinya. Air mata terus menerus menetes, membasahi pipinya.
Hinata terbangun dari tidur siangnya oleh sebuah missed call yang masuk ke telepon genggamnya. Ketika ia melihat ke luar jendela, ia menyadari langit sudah menggelap, pertanda hari telah beranjak malam. 'Aku ketiduran hingga semalam ini.'
Ia lalu mengecek recent calls pada gadget-nya, matanya melebar melihat nama yang tertera. 'Otsutsuki Toneri..'
Sesampainya di apartemennya, Hinata menangis hingga tertidur. Ia bahkan lupa mengabari Toneri mengenai janjinya siang tadi. Hingga kini, Hinata masih mempertimbangkan ajakan Toneri.
'Mungkin menerima ajakan Toneri akan menjadi langkah awalku untuk melupakan Naruto-kun.'
Hinata lalu memutar nomor Toneri. Setelah menunggu sejenak, Hinata mendengar suara halus Toneri dari seberang telepon.
"Halo, Hinata-san. Maaf mengganggu, aku hanya ingin bertanya, apakah besok kau bisa?"
Hinata menarik nafas dalam, lalu menjawab dengan yakin.
"Ya, Toneri-san. Besok aku bisa."
'Hari yang membosankan-ttebayo.' Batin Naruto sambil menguap lebar. 'Rasanya aku baru saja menghabiskan waktuku untuk hal yang tak berguna.'
Bagi Naruto yang seorang maniak ramen, tentu saja ditraktir ramen membuatnya senang. Akan tetapi, makan ramen berdua dengan Sakura yang terasa begitu….aneh. Ia belum pernah keluar berdua dengan Sakura sebelumnya dan setelah pengalaman kali ini, Naruto bertekad apapun alasannya, ia tak akan pernah mau keluar berdua lagi dengan Sakura.
Berbeda dengan Hinata yang selalu sabar dengan segala tingkah lakunya, hanya dalam waktu lima menit berjalan dengan Sakura sudah mampu membuatnya merasakan migrain. Hampir segala sesuatu yang ada pada dirinya mendapat celaan dari Sakura. Mulai dari gaya bicaranya yang dianggap bersuara terlalu keras, ketidakpekaannya terhadap hal-hal kecil, gaya makannya yang berantakan, dan beberapa hal lainnya.
Naruto kini bersyukur bahwa dirinya sudah membuat keputusan yang tepat untuk berpaling dari Sakura. Hinata.. gadis yang kini ia cintai…
'Ah ya! Mengapa malam ini aku tidak berkunjung ke tempat Hinata saja!' Batin Naruto mesum, lalu segera bergegas dari apartemennya.
Hinata sedang duduk di tepi tempat tidurnya dengan jas mandi yang masih melekat, belum digantikan dengan piyamanya, menatap sendu ke sebuah pigura berisikan fotonya berdua dengan Naruto. Kala itu, Naruto dan dirinya sama-sama menjadi chef dalam acara pentas seni sekolah, dan ini adalah satu-satunya kenangan dari pentas seni itu. Segera sesudah tugas mereka sebagai chef kelas selesai, Naruto segera mengejar Sakura. Hinata hanya bisa meringis mengingat kenangan itu.
TOK TOK TOK
Hinata melirik jam mejanya, memperlihatkan pukul 21.30. 'Siapa yang datang malam-malam begini?'
CKLEK
"Hai, Hinata-chan! Aku merindukanmu-ttebayo!" Naruto lalu memeluk erat tubuh sang gadis, meresapi harum tubuhnya yang menguar dari balik jas mandinya.
Hinata terkejut dengan gerakan tiba-tiba Naruto. Tidak, Hinata sebenarnya lebih terkejut dengan kehadiran Naruto. 'Seharusnya Naruto-kun sedang berkencan dengan Sakura-san…'
"Naruto-kun… Kau.. kenapa bisa tiba-tiba datang?" Tanya Hinata setelah Naruto melepaskan pelukannya.
"Eh, karena ini malam minggu. Dan biasanya malam minggu adalah 'malam' kita, bukan?" Naruto balik bertanya, heran dengan gelagat Hinata yang tampak bingung dan… ragu?
Hinata menundukkan kepalanya. Matanya berair melawan kehendaknya. 'Apa selama ini Naruto-kun hanya memikirkan itu tentangku?'
Sesungguhnya, ada suatu hal yang telah terjalin di antara kedua sahabat ini. Ya, mereka lebih dari sekadar sahabat. Mereka adalah apa yang orang lain sebut sebagai friends with benefits.
Hubungan absurd itu terjalin setengah tahun yang lalu. Tidak ada intensi dari Hinata maupun Naruto agar hubungan mereka menjadi seperti ini.
FLASHBACK
6 BULAN YANG LALU
Seluruh tubuh Hinata kini dipenuhi oleh air. Ia berlari menerjang hujan, berusaha mencapai rumah satu-satunya orang yang dirasanya dapat menenangkan dirinya setelah berita mengejutkan yang diterimanya sejam yang lalu.
Kakaknya, Neji, telah meninggal dalam perampokan yang terjadi pada rumahnya setelah mengalami koma selama tiga hari. Neji meninggal ketika ia berusaha melindungi Hinata dari para perampok yang berusaha memerkosa adiknya. Terjadi pergumulan singkat dengan salah satu perampok itu, namun sayangnya, ketika Neji lengah, salah seorang perampok itu menembaknya tepat di kepala. Luka tembaknya itu tidak mengenai otaknya dan bersarang pada tengkoraknya. Sayangnya, operasi untuk mengatasi hematoma yang terjadi gagal dan Neji menjadi koma. Neji tidak pernah bangun dari koma singkatnya itu.
Hinata histeris mendengar kabar kematian kakaknya itu. Ia merasa tidak berguna. Satu-satunya hal yang ia pikirkan kini hanyalah ia ingin menyusul kakaknya. Namun, tentu saja, sebelum itu, ia merasa memiliki kewajiban untuk menemui lelaki yang ia cintai.
Beginilah ceritanya bagaimana kini Hinata menangis tersedu-sedu pada pelukan Naruto, dengan bisikan kata-kata menenangkan dari sang Uzumaki. Hati Naruto terasa diiris melihat kondisi menyedihkan Hinata saat ini. Hilang sudah Hinata yang selalu ceria, yang biasanya menyemangatinya.
Naruto lalu mengangkat wajah sang pewaris Hyuuga, melihat wajahnya yang penuh dengan kepedihan dan rasa sakit. Sekarang yang diinginkan Naruto hanya satu; menggantikan air mata di wajah itu dengan kebahagiaan.
Perlahan Naruto mendekatkan wajahnya kepada Hinata, matanya tak meninggalkan pandangan sang gadis sedetik pun, berusaha menangkap sinyal penolakan yang dikirimnya. Namun, tak ada satu pun tanda penolakan. Sebaliknya, Hinata memejamkan matanya, dan dalam sekejap ciuman yang ajaib itu terjadi.
Ciuman pertama yang selalu diidamkan Hinata dengan pria yang dicintainya sejak SMA, dan juga ciuman pertama bagi keduanya. Terasa begitu menyenangkan, seperti kembang api yang meletus, membakar birahi mereka. Ciuman yang awalnya polos itu, berkembang menjadi ciuman liar yang melibatkan lidah. Tanpa keduanya sadari, busana yang melekat di tubuh mereka telah lepas, teronggok bagaikan barang tak berguna di lantai. Tangan-tangan bertautan, berusaha menjamah apapun yang ditemukan, berusaha memberikan ketenangan dan kenikmatan penuh bagi keduanya.
Malam itu Hinata menyerahkan tubuhnya bagi Naruto. Dan hubungan absurd itu tidak berhenti. Setiap kali salah satu pihak memiliki masalah, baik disengaja maupun tanpa sengaja mereka selalu berakhir di atas tempat tidur. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjalin hubungan friends with benefits, yang meskipun Hinata tahu adalah hal yang berdosa, sama sekali tak mampu ditolaknya. Setidaknya, jika ia tak bisa memiliki cinta Naruto, ia ingin memiliki tubuh lelaki ini.
FLASHBACK END
"Hinata?" Tanya Naruto heran melihat tingkah laku Hinata yang malah menunduk tak memberikan respons padanya.
"Pergilah.." Ucap Hinata lirih. "S-Sudah malam.. Tak seharusnya kau berkunjung ke tempatku malam-malam begini.."
Naruto semakin bertanya-tanya dengan perubahan sikap gadisnya. Bukan pertama kalinya Naruto mengunjungi apartemennya pada malam hari. "Hinata-chan, bolehkah aku masuk? Aku kedinginan-ttebayo…" Balas Naruto berusaha membujuk Hinata agar mengijinkannya masuk.
"T-Tidak… Ini tidak boleh.." Balas Hinata pelan. Jika kini Naruto telah menjalin hubungan dengan Sakura, ia tak ingin menjadi penghalang keduanya. Biarlah Naruto menemukan kebahagiaannya, cintanya kini tak lagi bertepuk sebelah tangan. Dan Hinata rela melakukan apapun demi kebahagiaan Naruto.
"Kau sudah bersama Sakura-san sekarang.. Pergilah dan cari dia.." Hinata lalu berusaha menutup pintu apartemennya. Naruto terkejut melihat gerakan Hinata dan dengan cepat segera menahan pintu itu dengan lengannya.
"Apa maksudmu Hinata-chan? Aku tak bersama Sakura-chan!" Pekik Naruto kecil mendapati sikap aneh Hinata.
"A-Aku melihatmu bersamanya tadi! Mengapa kau harus berbohong?" Teriak Hinata, marah dengan kebohongan Naruto. Untuk apa Naruto membohonginya? Bukankah selama ini Sakuralah yang diinginkan Naruto?
Mata Naruto melebar mendengar penuturan Hinata. 'Jadi tadi dia melihatku?'
"Dengarkan dulu penjelasanku, Hinata!" Balas Naruto tak kalah kerasnya, masih berusaha menahan pintu yang hendak ditutup Hinata.
"Pulanglah, Naruto-kun! A-Aku juga akan kencan dengan Toneri besok!" Pekiknya, berusaha membuat Naruto pulang. Dirinya tak yakin mampu menahan diri jika ia membiarkan Naruto memasuki apartemennya. Ia tak ingin Naruto kembali melakukan hal itu dengannya di kala ia telah menjalin hubungan dengan Sakura.
Mendengar kata 'kencan' dan 'Toneri' membuat darah di seluruh tubuh Naruto mendidih. 'Laki-laki apa itu!?' dan tanpa diduga Naruto mendorong keras pintunya, sukses menghantam dahi Hinata.
Hinata jatuh terjerembab sambil meringis kesakitan, memegangi dahinya yang mulai membiru. Air matanya kini berjatuhan tanpa bisa dikendalikan.
"Hiks.. Hiks..." Isaknya pelan, sakit yang dirasakan bukan hanya dari dahinya, melainkan juga dari hatinya.
"Hinata! M-Maafkan aku!" Dalam sekejap Naruto telah berada di sisinya, mengelus pelan memar yang tercetak pada dahinya.
Tanpa meminta persetujuan Hinata, Naruto segera mengangkat tubuh mungil Hinata ke dalam kamarnya, merasa panik dengan tangisan sang gadis.
Tak berapa lama kemudian, Naruto kembali muncul dengan sebaskom air dingin dan selembar handuk kecil. Tangannya bergerak terampil, menempelkan pelan handuk itu pada memar Hinata. Gadis itu hanya menunduk dengan mata dan hidung memerah.
"Hinata…" Ucap Naruto pelan, merasa bersalah dengan luka di dahi mulus sang gadis. Ia lalu memberikan sebuah kecupan pada daerah yang terluka, berharap kecupannya itu bisa menyembuhkan rasa sakit yang diderita Hinata.
Hinata terlonjak kaget merasakan sebuah bibir lembut menyapu luka pada dahinya. Sejenak kemudian, dirasanya ciuman itu yang kini berpindah ke pipinya. Hinata berusaha menghindar, namun sebuah lengan kekar menahan kepalanya agar tak berpindah-pindah. Akhirnya, perjalanan Naruto menyusuri seluruh wajah pucat Hinata berakhir pada bibirnya.
Ciuman yang diberikan Naruto sungguh liar, membuat Hinata kesulitan bernapas dan mendorong pelan dada si pria berambut pirang. Belum sempat Hinata mengambil nafas, kini Naruto menyerang lehernya, memberikan kiss marks pada sekujur lehernya.
"Anghh… Hentikan, N-Naruto!" Hinata lalu memegang kepala Naruto, berusaha menghentikan ministrasinya. Naruto lalu menatap Hinata tajam, beradu pandang dengan mata polos Hinata.
"Malam ini saja, Hinata…" Naruto lalu kembali memberikan ciuman mesra bagi Hinata, dan kali ini Hinata tak kuasa lagi menahan kenikmatan yang diberikan sang pria pirang.
Sementara Naruto terus membuat Hinata sibuk dengan bibirnya, tangannya tak berhenti bergerak. Jemarinya lincah melepaskan ikatan pada jas mandi Hinata, sukses mengekspos tubuh polos itu pada Naruto. Naruto menatap kagum pada tubuh ini untuk yang kesekian kalinya, mengukir bayangan tubuh sintal Hinata pada otaknya.
Ia menghujani tubuh polos itu dengan kecupan-kecupan, membuat sang empunya tubuh mengerang kenikmatan. Naruto bertekad, malam ini ia akan memberikan kenikmatan penuh bagi Hinata, dan malam ini juga ia akan berhenti menjadi pengecut dan memberi tahu Hinata perasaannya yang sebenarnya.
"Hahh… Uanggh.. Narutoo…" Lenguh Hinata ketika ia merasakan Naruto memasukkan dua jarinya ke dalam tubuhnya, menyiapkan otot-ototnya untuk kehadiran kejantanannya yang akan lebih meregangnya nanti. Tangannya meremas erat seprai di bawahnya dan meronta, menimbulkan kekusutan pada seluruh tempat tidur.
Setelah dirasanya Hinata cukup terangsang, yang terbukti dengan banyaknya cairan tubuhnya yang mengalir keluar, Naruto menghentikan seluruh gerakan tangannya, membuat Hinata tanpa sadar menggoyangkan pinggulnya, berusaha memperoleh kenikmatan yang dicabut Naruto.
"Sabar, sayang…" Naruto lalu segera menanggalkan pakaiannya, mengarahkan tubuhnya pada kewanitaan Hinata. Naruto lalu mengecup sayang dahi Hinata, sembari berkata, "Aku mencintaimu, Hyuuga Hinata." Pada saat itu juga, Naruto bersatu dengan Hinata.
"Auunggh…" Desah Hinata ketika ia merasakan kejantanan Naruto telah berada di dalam tubuhnya. Air mata haru mulai menetes dari kedua bola matanya. Untuk pertama kalinya, Naruto mengatakan perasaannya pada Hinata. Perasaan yang selama ini dipendam Hinata…. Ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
Naruto menjadi khawatir melihat tangisan wanita yang berada di bawahnya. "Ada apa, Hime?" Tanyanya sembari menciumi mata hingga pipinya, berusaha menghapus jejak-jejak air mata.
"A-Aku sangat bahagia… Sangat bahagia.." Gumam Hinata pelan, hampir tak tertangkap oleh pendengaran Naruto. Naruto lalu memberikan seulas senyuman tulus pada Hinata.
"Aku akan membuatmu merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya malam ini, Hinata." Dan pada malam itu, untuk pertama kalinya, hubungan percintaan ini terasa begitu indah bagi kedua anak manusia ini.
Hinata kini terbaring lemas di atas dada Naruto. Tangan Naruto melingkar posesif pada pinggang ramping Hinata. Hinata tak pernah merasa sepuas ini dalam hidupnya. Rasanya semuanya begitu… tepat. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati Hinata.
"N-Naruto-kun…"
"Hmm?" Gumam Naruto pelan.
"B-Bagaimana hubunganmu dengan Sakura-san?" Tanya Hinata takut-takut. Takut jikalau ternyata Naruto memang masih menyimpan perasaan istimewa pada gadis itu.
"Bukankah sudah kukatakan, kau salah paham. Aku tak menyukainya lagi, yang kau lihat tadi hanya hang out antara dua teman SMA, Hime." Jawab Naruto, menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi.
"S-Sejak kapan….?"
"Aku sendiri tak tahu sejak kapan. Satu hal yang aku tahu, Hinata-chan. Kaulah satu-satunya wanita yang kini kucintai. Dan aku yakin, cinta ini akan bertahan selamanya." Naruto lalu menutup matanya dengan damai. "Sekarang, mari kita tidur, kau tak tahu seberapa lelahnya aku bercinta denganmu semalaman penuh." Kata Naruto sambil menguap, lalu segera menutup matanya.
Wajah Hinata merona merah mendengar penuturan Naruto. Ia lalu menatap Naruto yang kini telah memejamkan matanya. Tiba-tiba saja, kedua mata Naruto kembali terbuka.
"Tunggu sebentar, berikan aku handphone-mu, Hinata-chan." Pinta Naruto tiba-tiba, membuat Hinata merasa bingung. Setelah menerima handphone Hinata, Naruto segera mencari nama yang tadi sempat disebutkan Hinata.
"Halo, selamat malam, Hinata – "
"Hei kau, mulai saat ini, jauhi Hinata! Mulai saat ini dia sudah menjadi kekasihku!" Naruto lalu segera menutup sambungan telepon, tak memberikan kesempatan bagi pria di seberang untuk memberikan jawaban apapun.
"Nah, sekarang, aku sudah bisa tidur dengan lega." Naruto lalu kembali menutup matanya damai. Sementara itu, Hinata hanya menggelengkan kepalanya perlahan, bahagia dengan keprotektifan Naruto.
'Pada akhirnya… Perasaanku ini terbalas juga. Naruto-kun… Arigatou.'
Yeahh, akhirnya setelah absen 4 hari dari NHSM…. Chuunibyou kembali lagi!
Maafkan saya yang tidak mengupload karya apapun selama 4 hari ini… Beberapa hari ini menjadi hari super sibuk bagi saya, sama sekali tidak ada kesempatan mengarang cerita T.T Untuk prompt selanjuntya juga saya tidak bisa janji memenuhi ke-31 prompt yang tersedia mengingat keterbatasan waktu author… Gomenne T.T Tapi tenang saja, saya akan membuat prompt-prompt yang paling menarik :D
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih bagi readers, reviewers, maupun yang sudah memfollow dan memfave cerita ini. Arigatou Gozaimasu!
