NHSM (NaruHina Smut Month) Day 10 & 11

Prompts : Groping, In Public

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Warning : AU, PWP, OOC

Words Count : 2,523


"Tuan Direktur, fokuslah pada meeting ini!" Terdengar teguran keras dari sekretarisnya. Sang direktur segera membuka matanya, merasa kaget dengan suara keras yang berbisik di telinganya. Seketika matanya yang sempat meredup kembali terbuka lebar, mendapati orang-orang di dalam ruangan yang menatapnya dengan pandangan aneh.

"E-Etto… Maafkan saya. Silahkan lanjutkan presentasinya, Tuan Sarutobi." Naruto lalu memberikan izin melanjutkan bagi salah satu karyawan kepercayaannya, Sarutobi Konohamaru. Jajaran direksi pun kini kembali mengarahkan pandangan kepada sang presentator.

"Tuan Direktur, saya harap Anda tidak melakukan hal mengecewakan seperti itu lagi!" Bisik sang sekretaris, Hyuuga Hinata pelan namun menusuk.

Naruto hanya bisa merinding mendengar teguran keras dari sekretarisnya ini. Di satu sisi, Naruto beruntung memiliki sekretaris yang benar-benar peduli terhadap dirinya, namun di sisi lain tak jarang juga bagi Naruto merasakan takut karena sang sekretaris yang terkenal begitu strict.

"Iya iya, Hinata-san. Sekarang sebaiknya kita fokus pada presentasi Sarutobi-san." Ujar Naruto berusaha mengalihkan perhatian Hinata, dan usahanya itu cukup sukses melihat Hinata yang kini tidak lagi menatapnya melainkan menatap layar.


"Urgh… Rapat hari ini banyak sekali-ttebayo…" Keluh Naruto, melihat jadwal yang diberikan sang sekretaris padanya. Mood-nya semakin memburuk melihat kemacetan jalanan dan kenyataan bahwa limousine yang dikendarai supirnya sama sekali tidak bergerak. "Hinata-san, bisakah kita mampir sebentar ke rumah? Aku sangat mengantuk."

"Tidak bisa, Naruto-sama. Meskipun area resepsi cukup dekat dengan kediaman Anda, mengingat kemacetan yang terjadi ini, Anda tidak akan sempat untuk menghadiri resepsi pernikahan Tuan Uchiha."

Naruto hanya diam tidak menjawab, meskipun ekspresi wajah Naruto yang menggelap menandakan kekesalannya belum juga menghilang. Hianta hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sang direktur Namikaze Enterprise itu. Jika sudah begini, dapat dipastikan sepanjang resepsi nanti mood -nya akan memburuk dan tak menutup kemungkinan Naruto bisa melakukan tindakan gegabah yang mungkin merusak hubungan antarperusahaan.

Apa yang harus dilakukan….

"Naruto-sama." Panggilnya, namun ternyata mendapat respons kurang mengenakkan dari Naruto. Sang Direktur muda malah memberikannya tatapan tajam, seolah tidak setuju dengan panggilannya itu. Naruto memang tidak suka jika ia bersikap terlalu formal tanpa ada orang di sekitar mereka. Well, bukan salah Hinata, sebab masih ada seorang supir lima baris di depan dan dua orang bodyguard empat baris di belakang yang sedang tertidur pulas. Hinata lalu membuat catatan kecil dalam kepalanya bahwa nanti ia akan menegur kedua orang bodyguard itu.

"Ada apa lagi, Hinata-san?" Balas Naruto dengan ketus. Ia benar-benar lelah dengan segala –

"Apa yang bisa kulakukan untuk menyenangkanmu, Tuan?" Tanya sang wanita berambut panjang sambil menunduk. Tampaknya ia mengetahui bahaya yang mungkin ditimbulkannya dengan satu pertanyaan itu.

Cabut kata-kata Naruto tadi. Ia tak lagi merasa lelah. Sebaliknya, ia kini merasa begitu segar. Berbagai macam skenario melintas dalam pikirannya mendengar pertanyaan polos Hinata. Seringaian mesum mulai muncul di wajah tampannya.

"Hinata-san, bisa kau ulangi pertanyaanmu itu?" Goda Naruto sekaligus ingin mendengar ulang pertanyaan sekretarisnya, takut ia salah mendengar.

"A-Aku tadi bertanya…" Hinata menelan air liurnya, rasa malu bercampur takut menguasainya. "Apa yang bisa kulakukan untuk…menyenangkanmu."

"Heh…" Seringaian rubah Naruto melebar melihat warna merah mulai menjalari pipi gembil Hinata. 'Memang hanya dia yang bisa membunuh kebosananku-ttebayo.'

"Aku ingin kau… memuaskanku, Hinata-san."


Keheningan melanda seisi limousine. Sang supir yang berada terlalu jauh di depan untuk mendengar percakapan mereka, Hinata yang hanya bisa membelalakkan matanya mendengar permintaan sang Direktur, dan Naruto yang menanti respons Hinata.

"Bagaimana, Hinata-san?" Tanya Naruto tak sabar, dirinya mulai kembali merasa jengkel karena belum mendapat jawaban apapun.

"D-Disini?" Cicit Hinata pelan.

"Tentu saja. Kau mau menunggu hingga kita sudah tiba di resepsi?" Tanya Naruto sambil menaikkan alisnya heran. 'Oh, tenang saja, Hinata, di resepsi pun aku bisa melakukannya.'

"T-Tidak!" Pekik Hinata kecil, tak sanggup membayangkan jika mereka benar-benar melakukannya di hadapan banyak orang.

"Kalau begitu, sekarang…" Naruto lalu beringsut hingga dirinya tepat sejajar dengan tempat duduk sang supir, tangannya melingkar erat di pinggang Hinata. "Puaskan aku, Hinata."

Dengan tangan bergetar, Hinata memegang kerah Naruto, lalu mulai mendekatkan bibirnya pada bibir sang Uzumaki. Melihat gerakan patah-patah Hinata, Naruto mengambil inisiatif, lalu segera melumat bibir sang gadis. Gigitan kecil diberikannya pada mulut sang gadis agar ia membuka mulutnya. Terdengar erangan kesakitan yang sedetik kemudian berganti menjadi lenguhan kenikmatan ketika lidah beradu dengan lidah dan sang bos mengobrak-abrik isi mulut Hinata.

Melihat Hinata yang mulai mencengkeram erat kerah jasnya dan nafasnya yang mulai terengah-engah, Naruto berinisiatif memutuskan ciuman liar itu dan memberi kesempatan bagi Hinata untuk mengambil nafas. Tampak benang saliva yang muncul di antara kedua pasang bibir tersebut yang diseka terburu-buru oleh Hinata.

'A-Apa lagi yang harus kulakukan…'

Seolah membaca kebingungan sekretarisnya ini, Naruto menyeringai, lalu menggenggam salah satu tangan kecil Hinata dan membimbingnya menyentuh kejantanannya yang masih terbungkus celana. Mata Hinata melebar melihat request tersembunyi Naruto. Matanya menatap Naruto keheranan, apa benar bosnya ini memintanya melakukan tindakan seberbahaya ini?

Ekspresi terkejut di wajah cantik sekretarisnya sama sekali tak terlewatkan oleh Naruto. Ia lalu membisikkan sesuatu tepat di daun telinga Hinata. "Aku ingin blowjob. Sekarang!" Bisiknya penuh penekanan, berharap kali ini Hinata tidak membangkang.

"T-T-Tapi masih ada Yamato-san, Guy-san, dan Deidara-san!" Pekiknya mendengar permintaan absurd sang direktur.

"Sshh… Pelankan suaramu, cantik. Jika kau tidak ribut, tak akan ada yang mengetahuinya…"

Hinata benar-benar berada dalam sebuah dilema. Jika ia melakukannya, ada risiko ia tertangkap oleh salah satu dari ketiga orang ini. Di sisi lain, jika ia tidak melakukannya, dapat dipastikan Naruto akan merajuk sepanjang resepsi, dan Hinata tidak ingin kegegabahan direkturnya ini merusak hubungan antarperusahaan yang sudah dibangun sejak zaman ayahnya. Tapi… ia juga ketakutan!

Melihat Hinata yang masih diam tak menjawab, Naruto akhirnya menyerah. "Ya sudah. Gunakan tanganmu saja!" Perintahnya kali ini.

Ketegangan yang sempat menyelimuti Hinata mulai berkurang. 'S-Setidaknya ini tak seberbahaya yang tadi..'

"Baiklah, Naruto-sama.." Hinata menyetujui permohonan bosnya. Dengan tangan bergetar, ia mulai menurunkan resleting celana Naruto. Tangan halusnya mulai berusaha menyentuh kejantanannya…

'Ya, sedikit lagi…'

"Uzumaki-sama, sebentar lagi kita tiba di area resepsi!" Terdengar teriakan keras dari Yamato, supir pribadi keluarga Uzumaki. Pasangan bos-sekretaris itu 'meloncat' mendengar teriakan keras itu. Tangan Hinata segera meninggalkan area pribadi Naruto, dan sambil mengumpat kecil Naruto segera merapikan kembali celananya.

"I-Iya, Yamato. Aku juga tahu!" Balas Naruto kesal karena rencananya digagalkan supirnya yang tidak tahu membaca suasana. Tentu saja Naruto, mana ada orang yang menduga rencana kotormu?

Teriakan keras Naruto juga turut membangunkan kedua bodyguard-nya yang sedari tadi tertidur pulas di belakang. Sementara itu, wajah Hinata 'terbakar' mengingat bahwa tadi ia hampir ketahuan.

Naruto mulai membereskan kerah jasnya yang sedikit tidak rapi lalu mengecek jam tangannya. 'Pukul 18.00. Tepat waktu.'

"Hinata, cepatlah bereskan barang-barangmu. Kita akan turun sebentar lagi." Terdengar ucapan dengan nada yang terdengar kurang mengenakkan. Hinata hanya menunduk sambil membereskan beberapa kertas yang berserakan dan merutuk dirinya sendiri. 'Kini Naruto malah lebih kesal daripada sebelumnya.'

Hinata lalu memberanikan diri mengintip wajah bosnya, dan terkejut mendapati seringaian berbahaya yang kini menghiasi wajah tampannya. 'A-Apa yang sedang dia pikirkan?'

'Aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan, Hinata.'


Kini Hinata sedang duduk tepat di sebelah sang Direktur Namikaze Enterprise, Uzumaki Naruto. Di sekelilingnya ada beberapa petinggi-petinggi perusahaan lain pula. Hinata menoleh menatap Naruto, agak kaget melihat wajahnya yang cukup cerah, tampaknya ia tidak bad mood lagi.

"Jadi Uzumaki-san, bagaimana pendapat Anda tentang proyek kelas A yang kami tawarkan kemarin?" Tanya seorang lelaki berusia 20 tahunan berkulit pucat dan terus tersenyum sedari tadi. Hinata mengenalinya sebagai Shimura Sai, salah seorang rekan bisnis Naruto sejak dua tahun yang lalu.

"Ahh, tak perlu formal begitu, Sai-san. Panggil saja aku Naruto. Dan tentu saja, menurutku itu adalah sebuah proyek yang brilian! Proyek sebesar itu bisa membawa keuntungan besar bagi kedua perusahaan." Puji Naruto. "Dan tampaknya aku akan segera mengirim sekretarisku ini untuk membuat surat perjanjian antarperusahaan. Bukan begitu, Hinata?"

"Ya, tentu saja, Naruto-sama." Balas Hinata sambil tersenyum sopan. Tiba-tiba saja, Hinata merasakan sebuah tangan menempatkan diri di atas pahanya. Mata Hinata terbelalak menyadari itu adalah tangan nakal direkturnya sendiri!

"N-Naruto-sama.." Bisik Hinata pelan. "Apa yang kau – "

"Diamlah, Hinata-san. Ini perintah dariku. Diam apapun yang aku lakukan nantinya." Balas Naruto sama pelannya. "Kau tak ingin aku marah kan?" Ancam Naruto.

Hinata hanya bisa menghela nafas. Ia tak akan pernah bisa menang jika itu sudah menyangkut kekeraskepalaan sang Uzumaki.

"Hinata-san, maukah kau bekerja pada perusahaan kami saja? Kami bisa menjamin, perusahaan kami bisa memberikan pengalaman lebih pada Anda." Terdengar ucapan menyebalkan dari seorang Otsutsuki Toneri. Naruto memicingkan matanya sinis mendengar ucapan rival bisnisnya itu. Memang sudah sejak lama Toneri menginginkan Hinata bekerja pada perusahaannya. Alasannya, Hinata memilliki skill terbaik sebagai seorang sekretaris. Namun, Naruto cukup yakin jika alasan utamanya bukan itu.

"Eh, um, Toneri-san, maafkan aku tapi – " Ucapan Hinata terputus tiba-tiba ketika ia menyadari kini jemari Naruto sudah mulai bergerak nakal dan menyelusup di balik roknya. Hinata kini benar-benar bersyukur meja besar ini memiliki taplak panjang yang dapat menutupi tindakan mesum bosnya ini sekarang.

"Ada apa, Hinata-san?" Tanya Toneri, khawatir dengan terputusnya ucapan Hinata tiba-tiba.

"T-Tidak apa-apa, T-Toneri-san." Gagap Hinata, merasakan keringat dingin mengaliri dahinya merasakan tangan Naruto yang bergerak semakin tinggi. "Hanya saja, aku tidak mungkin - AH!" Pekiknya lumayan keras, merasakan geli akibat jari Naruto yang kini bermain-main di luar kewanitaannya. Ia mencoba menangkap hal pengganggu itu, namun ketika dilihatnya tatapan tajam Naruto padanya, ia mengurungkan niatnya. Dirinya merinding membayangkan konsekuensinya jika ia sampai berani menolak perintah sang Direktur.

"Hinata-san?" Toneri kini bertanya-tanya, hal apa gerangan yang membuat gadis cantik ini tampak begitu gugup.

"A-Aku tidak mungkin mengkhianati Namikaze Enterprise, Toneri-san. Maaf." Tolak Hinata halus sambil memberikan senyuman sopan. Naruto tersenyum bangga mendengar jawaban Hinata. 'Mungkin aku harus memberinya sedikit hadiah.'

"Hahaha. Kau memang sangat loyal, Hinata-san, membuatku semakin menginginkanmu." Amarah Naruto memuncak mendengar kata-kata Toneri. 'Beraninya kau mengatakan hal itu!' Batinnya.

Tiba-tiba saja, tubuh Hinata menegang, merasakan kini jemari nakal bosnya telah menyeruak melewati celana dalamnya dan kini sedang membelai klitorisnya sambil sesekali menjepit organ sebesar kacang itu di antara jempol dan telunjuknya.

Hinata mati-matian menahan erangannya, rasa nikmat yang dirasakan di antara kedua pahanya membuatnya hampir gila. Ia menggesek-gesekkan kedua pahanya, berusaha meredam gerakan Naruto. 'Direktur sialan…'

"Hinata-san, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat kurang sehat." Tegur seorang karyawan Naruto, Hatake Kakashi melihat wajah Hinata seperti menahan sakit.

"E-Etto… Aku tak apa-apa.. Enggh.. Kakashi-san." Tanpa sengaja erangan itu lolos dari bibir Hinata, membuat Kakashi mengernyitkan dahinya.

"Apa kau yakin? Aku seperti mendengar erangan kesakitan tadi." Goda Naruto sambil menyeringai, senang karena akhirnya dia bisa membuat Hinata keceplosan.

Dan seolah untuk membuktikan kata-katanya, kini Naruto sudah semakin berani memasukkan dua digit jarinya ke dalam liang sempit Hinata, membuat wanita itu menggenggam erat taplak meja merasakan kenikmatan yang semakin memuncak.

"Oohh… Mmhh.." Lenguh Hinata sambil menangkupkan wajahnya di atas meja, membuat orang-orang yang duduk semeja dengan Naruto merasa khawatir.

"Uzumaki-sama, tampaknya sekretarismu ini sakit. Sebaiknya segera bawa dia ke klinik terdekat." Saran Sai.

"Jika Uzumaki-sama terlalu sibuk, mungkin sebaiknya saya yang membawa Hinata-san." Terdengar celetukan Toneri. Naruto langsung menarik tangannya yang sedang memberikan ministrasi dari balik rok Hinata, lalu menggenggam erat tangan Hinata.

"Terima kasih atas perhatiannya, saudara sekalian. Hinata hanya sedang sakit perut, aku akan membawanya ke toilet." Naruto lalu memberikan senyuman tipis pada kolega-koleganya lalu segera melingkarkan lengannya pada pinggang Hinata.

"Tampaknya Direktur Uzumaki sangat dekat dengan Hinata-san ya.." Komentar Toneri melihat kedekatan dua orang tersebut.

"Eh? Otsutsuki-sama tidak tahu?" Tanya Kakashi heran. Ia cukup yakin berita ini sudah menyebar. "Hinata-san itu…"


Naruto segera mendorong keras pintu kamar mandi wanita, yang untungnya sedang kosong. Ia lalu membawa sang gadis kelelahan yang ada dalam pelukannya masuk ke salah satu kamar mandi kosong lalu menguncinya.

"N-Naruto – " Naruto tidak membiarkan Hinata menyelesaikan kata-katanya dan segera mencium mesra sekretarisnya ini. Tangannya mulai bergerak cepat menyingkapkan rok pendek Hinata, lalu melepas dengan cepat segala penghalang di antara mereka.

"J-Jangan.." Tolak Hinata sambil memegang erat bahu Naruto, mencoba menyadarkannya. "Kita a-ada di kamar mandi hotel… N-Nanti ada yang datang…"

"Aku tak peduli, Hinata-chan." Balas Naruto, menekankan pada akhiran chan yang kini melekat pada namanya. "Tak ada yang akan tahu jika kita cepat."

Naruto tak membuang-buang waktu. Naruto mendudukkannya di atas dudukan toilet, lalu segera membuka celananya dan segera bersatu dengan Hinata.

"Hnggh… Uhnn.." Lenguh Hinata, akhirnya rasa frustasi yang sedari tadi ditimbulkan jari Naruto berhasil dipuaskan oleh kejantanan pria ini.

"Hmm… Hinata-chan.." Geram Naruto, merasakan betapa ketatnya tubuh sang gadis. Ia membenamkan wajahnya pada leher Hinata yang terekspos, lalu memberikan beberapa kiss marks pada leher pucat itu.

"Ingat ini, Hinata, kau hanya milikku. Kau tidak boleh… Enggh.. Berhubungan dengan si bajingan Otsutsuki itu!" Bisik Naruto posesif, lalu memberikan gigitan pada daun telinganya.

"Katakan seberapa kau menginginkanku, Hinata!" Perintah Naruto, lalu menghentikan gerakan tubuhnya. "Aku takkan bergerak sebelum aku mendengar pengakuanmu." Seringai Naruto kejam. Kali ini ia benar-benar serius dengan perkataannya.

Wajah Hinata memerah mendengar permintaan vulgar Naruto. Mulutnya terkunci rapat, menolak mengatakan sepatah kata pun. Meskipun demikian, tubuhnya tidak bisa berbohong. Ia menginginkan Naruto untuk segera bergerak, memberikan kenikmatan bagi dirinya.

"N-Naruto…" Ucap Hinata pelan. "A-Aku menginginkan….mu." Akhirnya Hinata berhasil mengungkapkan kemauannya. Naruto tersenyum senang lalu mengecup singkat bibir gadisnya.

"Bersiaplah, Hinata!" Naruto lalu kembali menggerakkan tubuhnya, menyentuh titik-titik sensitif pada tubuh gadis ini.

"AAA – Mmpphh…" Hinata mulai berteriak, merasakan orgasme yang akan segera melandanya. Melihat hal ini, Naruto segera membekap mulut sekretarisnya dengan mulutnya sendiri, membiarkan Hinata berteriak tertahan dalam mulutnya. Naruto merasakan puncak kenikmatannya mendekat. Ia mempercepat gerakannya dan membenamkan wajahnya pada dada sang gadis.

"Hinataaaa!" Teriak Naruto, berusaha meredam teriakannya pada blazer hitam Hinata. Hinata melenguh keras menyambut puncak kenikmatan yang juga menderanya, membuatnya memegang erat jas Naruto dan mengusutkannya. Hinata bisa merasakan benih panas yang menyembur dalam kewanitaannya, dan matanya melebar mengingat Naruto sama sekali tidak mengenakan pengaman.

"Naruto.." Ujar Hinata pelan, menyadarkan Naruto yang masih menyandarkan kepalanya pada dada empuk Hinata.

"Mmm?" Gumam Naruto tak jelas, lelah setelah kegiatan ini.

"Tadi kau tak menggunakan pengaman.."

Naruto langsung mengangkat kepalanya, menatap mata indah sekretarisnya kini dipenuhi rasa takut. Naruto hanya terkekeh kecil. "Jadi kenapa, Hinata?"

"Bagaimana kalau aku nanti… h-hamil.." Jawab Hinata pelan, menundukkan kepalanya dari tatapan tajam Naruto.

Naruto lalu menempelkan keningnya pada kening Hinata. "Hei, minggu depan kita menikah. Untuk apa kau takut?" Naruto lalu tertawa lepas melihat wajah cemberut calon istrinya.

"T-Tapi kan tetap saja.." Balas Hinata, masih cemberut karena ditertawai oleh sang calon suami.

"Kau tak perlu cemas, sayang. Kita akan segera menikah." Naruto lalu mengecup lembut kening Hinata. "Sekarang.. Kita harus segera bergegas sebelum semua orang curiga dengan kepergian tiba-tiba kita."


"Apa!? Jadi Hinata-san adalah tunangan Uzumaki-sama?" Teriak Toneri, tak percaya dengan fakta yang didengarnya dari Kakashi.

"Yah, begitulah. Mereka akan menikah minggu depan. Mungkin nanti pun kau akan mendapat undangan pernikahan mereka." Ujar Kakashi sambil tersenyum lebar. "Lihatlah, mereka sudah kembali."

Toneri memutar kepalanya, melihat sepasang kekasih itu berjalan dengan tangan Naruto yang masih mellingkar mesra pada pinggang gadisnya. Ketika mereka mendekat, samar-samar Toneri melihat kiss marks yang menghiasi lehernya. 'Apa yang mereka lakukan di kamar mandi tadi?'

Naruto yang menyadari Toneri sedang menatap kekasihnya, segera berkata, "Maaf, Otsutsuki-sama. Bisakah Anda tak menatap kekasihku seperti itu?"

"Eh, ya, maafkan saya." Jawab Toneri salah tingkah karena ketahuan mencuri pandang pada Hinata.

"Apakah sakit perut Hinata-san sudah sembuh?" Tanya Sai dengan senyum palsunya. Hinata hanya menunduk, tak berani menjawab.

"Hahaha, tentu saja. Aku yakin kini Hinata-san sudah tak kesakitan lagi. Benar kan, Hinata-san?" Tanya Naruto usil.

"I-Iya minna-san." Ucap Hinata pelan, malu akan implikasi Naruto.

"Baiklah, minna-san, kami akan mengucapkan selamat pada mempelai pria. Jaa!" Naruto dan Hinata lalu pergi meninggalkan meja itu, dan sekaligus meninggalkan Toneri yang patah hati.

END


Hai minna-san! Kembali lagi dengan chap NHSM. Kali ini promptsnya digabung ya day 10 & 11, jadi dalam cerita ini ada elemen Groping dan ada elemen In Public. Semoga minna-san suka dengan cerita ini. Tinggalkanlah review agar saya bisa tahu bagian mana yang masih kurang dan perlu diperbaiki dan bagian mana yang perlu dipertahankan. Untuk words saya usahakan penambahan jumlah words ^^

Akhir kata saya ucapkan arigatou gozaimasu!