Annyeong HunHan Shippers!
Happy HunHan Day! /Tebar confetti hati/
Kalian tau kenapa sekarang adalah HunHan day?
Karena tanggal 16 adalah pertengahan dari ulang tahun Sehun sama Luhan! yehet
/ini sih alesan yang author buat sendiri-_-/
Anyway tetep aja buat ngerayainnya author post chapter 5 HAHAHA
maaf ya kalau gak bagus .. Enjoy and don't forget to review :3
CHAPTER 5
Tangan Xiao Lu semakin erat memegang nakas meja didekat pintu utama apartemen Sehun. Nafasnya memburu. Dadanya berdenyut sakit seakan jantungnya akan berhenti berdetak tiap detiknya. Ia memandang Pilu Sehun yang sedang berpelukkan bersama seorang wanita.
"Ya.. Aku milikmu.."
'Tidak Sehun! Kau milikku!' teriak Xiao Lu dalam hati.
Rasanya ia ingin berjalan kesana lalu memisahkan pelukkan mereka berdua yang membuatnya muak. Tapi memangnya ia pikir ia siapa?Siapa dirinya dimata Sehun?Bukankah Sehun bilang tadi ia hanya seorang saksi yang Sehun manfaatkan? Bukankah selama ini Sehun hanya berpura-pura?
Semua Ciuman,Sentuhan dan kata-kata manis itu hanya bagian dari naskah yang dibuat Oh Sehun. Dan Xiao Lu adalah peran utama yang sudah terperangkap didalamnya.
Xiao Lu lalu berjalan keluar dan menutup pintu apartemen Sehun dengan perlahan. Semua kejadian yang ia lihat tadi membuatnya Pusing. Ia lalu berjongkok memeluk lututnya dan menangis dalam diam. Ia mencengkeram keras kaos yang menutupi Hatinya yang terasa begitu sakit.
Ia akhirnya tahu.
Bahwa bagi Sehun ia hanyalah serpihan kecil yang mengganggu kehidupannya.
Dan yang paling menyakitkan adalah.
Untuk Xiao Lu,Sehun adalah hidupnya.
Xiao Lu berjalan gontai keluar dari gedung apartemen Sehun. Bulir-bulir air mata masih membasahi pipinya. Tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhnya. Tangan itu menariknya menuju sebuah gang dan menghempaskannya ke tembok dengan keras.
"Hai Baby Lu. Apa kau merindukan Daddy?"
Xiao Lu tercekat. Tangannnya gemetar . Perasaan takut menyelimuti dirinya.
Mr. Lang mencengkeram pipi Xiao Lu keras.
"Kenapa kau menangis hmm?Kau tahu kan daddy tidak suka melihatmu menangis?"
Xiao Lu mengerang sakit.
"Sa-sakit Daddy…" lirihnya.
"Sakit hmm baby? Apa kau mau merasakan hal yang lebih sakit dari ini? Apa kau mau daddy melukai kulitmu yang halus ini ?" Ancam Mr. Lang . Seringaian Mr. Lang membuat Xiao Lu semakin takut.
"Ti-tidak Daddy.. Lepaskan.." mohonnya.
"Well Well sepertinya Baby Lu terlalu betah tinggal bersama dengan polisi keparat itu,ya?"
"Sampai-sampai Daddy harus datang sendiri kesini menjemputmu.. Kau pikir kau siapa hmm?!" geram Mr. Lang sambil membenturkan Xiao Lu ketembok dibelakangnya. Xiao Lu berteriak sakit. Air matanya terus mengalir.
"Ma-maaf Daddy.."
Mr. Lang tertawa. Ia lalu melepaskan cengkeramannya membuat Xiao Lu tersungkur,lemas.
"Baiklah Daddy maafkan dirimu kali ini sayang. Daddy sebenarnya hanya ingin mengecek apakah kau menjalankan tugas dengan baik?"
"Te-tentu Daddy."
"Bagus! Kau tahu Lu berapa banyak uang yang akan kita dapatkan dari pemerintah Korea Utara jika aku menjual Data strategi pertahanan dan keamanan Korea Selatan?Berpuluh-puluh Juta dolar!" ucap Mr. Lang diikuti tawanya dan tawa anak buah dibelakangnya.
"Apa yang kau mau baby? Dengan uang sebanyak itu,Aku akan memberikan apa saja padamu .." ucap Mr. Lang sambil mengelus dagu Xiao Lu.
"Apa kau ingin hati polisi keparat itu?" tanya Mr. Lang.
"Aku akan memberikannya padamu. Mengeluarkan sendiri hati polisi keparat itu dari tubuhnya lalu memberikannya padamu beserta organ-organnya yang lain.." ucap Mr. Lang sambil tertawa angkuh.
"Baiklah Aku tidak akan membawamu pulang hari ini karena aku mempunyai sebuah urusan. Besok malam kau sudah harus tiba di markas kita sambil membawa data itu!Jika tidak kau tahu sendiri kan apa akibatnya?"
Xiao Lu terdiam,bulu kuduknya meremang mengingat ancaman Mr. Lang .
"Ingat,aku akan menyayat tubuhnya,mengeluarkan organ-organ polisi keparat itu di depan matamu!"
Mr. Lang akhirnya pergi meninggalkan Xiao Lu sendiri di sudut gang yang sepi dan gelap ,menangis dengan pilu.
-Sehun's POV-
"Jagiya aku pulang dulu ya! Jaljja . Saranghae…" ucap Minah sambil mengecup bibirku. Aku tersenyum kecil.
"Mmm Nado.." gumamku.
Ia lalu pergi dari apartemenku.
Akhirnya.
Aku menghela napas lega. Untung sekali Xiao Lu belum datang saat Minah kesini.
Kulihat makanan yang kupesan untukku dan Xiao Lu sudah habis dimakan olehku dan Minah. Padahal aku sudah berharap Minah bergegas pergi tapi ia malah bersikeras untuk makan malam disini. Rencanaku makan malam dengan Xiao Lu gagal total.
Aku akhirnya membereskan ruang TVku lagi,menjadikannya kembali seperti semula. Dan membuang semua bunga yang tadi kupesan. Setangkai mawar yang rencananya akan kuberikan kepada Xiao Lu juga dibawa Minah.
Dasar Perempuan keras kepala itu.
Setelah beres,Kulihat jam diponselku menunjukkan pukul 9 malam dan Xiao Lu belum pulang juga. Aku mengecek GPS yang ada dikalungnya dan mendapati ia berada di sebuah gang tidak jauh dari apartemen.
Untuk apa ia disana?
Aku menunggunya dengan gusar dan ketika aku mendengar pintu apartemenku terbuka aku bergegas menghampirinya. Aku menarik napas lega ketika kulihat sosoknya yang masuk kedalam apartemen.
"Hey!Darimana saja kau?" kataku sambil memeluknya,khawatir. Xiao Lu hanya diam. Tidak melepas pelukanku maupun membalasnya.
Aku akhirnya melepas pelukanku dan memperhatikannya.
"Apa yang terjadi?Apa kau habis menangis?" tanyaku saat menyadari Matanya yang sembab dan hidungnya yang memerah.
Ia lalu tersenyum.
"Tidak ada yang terjadi. Aku tadi sempat menonton drama yang begitu menyedihkan di apotek saat aku mengantri untuk membeli obat. Apa perutmu sudah sembuh?" tanyanya sambil tersenyum.
"Lu,Jangan bohong. Ceritakan padaku apa yang terjadi?" mohonku padanya.
Aku tahu dengan baik senyummu, Xiao Lu.
Aku tahu Saat kau benar-benar tersenyum Atau hanya berpura-pura.
Walaupun keduanya indah, tapi senyuman palsumu membuat hatiku terluka.
"Aku tiba-tiba merindukan orang tuaku Sehun. Mungkin jika mereka tidak menjualku aku tidak akan hidup seperti ini.."
'Dan bertemu denganmu..' lanjut Xiao Lu dalam hati. Sehun memandang Xiao Lu dengan iba. Ia lalu menarik Xiao Lu kedalam pelukannya. Mengayun-ayunkan tubuh mereka berdua dengan pelan.
"Jangan sesali yang sudah terjadi Lu. Itu tidak akan merubah apapun. Tatap kedepan dan jalani hidupmu yang sekarang. Mungkin karena apa yang terjadi sekarang masa depanmu akan lebih baik. Benar kan?"
Xiao Lu sebenarnya ingin sekali memberontak,melepas pelukkan Sehun dari tubuhnya. Tubuh yang sedang memeluknya ini sudah memeluk orang lain. Dan kenyataan itu membuat Xiao Lu dongkol dan merasa jijik.
Tapi akhirnya ego Xiao Lu menyerah dari perasaannya. Ia mengangkat tangannya untuk memeluk pinggang Sehun. Ia tidak melihat seulas Senyum di wajah Sehun kala ia membalas pelukkan Sehun dengan erat seperti biasa.
Xiao Lu mulai terisak, dan Sehun memeluknya lebih erat.
"Sehun,Aku tidak ingin kembali.." lirihnya sambil meredam suara isakkan di dada hangat Sehun.
"Kalau begitu jangan... Tinggalah bersamaku hmm? " Ucap Sehun sambil mengusap punggung Xiao Lu lembut.
Tidak apa walaupun Sehun hanya berpura-pura. Pikirnya.
Untuk saat ini,biarkan seperti ini. Walapun Sehun berpura-pura tapi Xiao Lu akan tetap menikmatinya. Ia akan menjadi egois untuk sesaat,menjadikan Sehun sebagai miliknya agar ia tidak menyesal ketika nanti ia pergi meninggalkan Sehun.
-Sehun's POV-
Aku mengecup dahi Xiao Lu,lalu mengecup matanya yang tertutup dan masih mengalirkan air mata. Tubuhnya gemetar takut. Tangannya terkepal,menggenggam bajuku erat. Aku melihatnya dengan khawatir.
"Lu.." panggilku lembut.
"Xiao Lu.." panggilku lagi. Akhirnya ia membuka mata,menatapku dengan matanya yang terlihat sayu. Aku tersenyum kecil sambil mengelus pipi lembutnya. Xiao Lu menundukkan kepalanya,menghindari sentuhanku. Walaupun dadaku terasa sedikit sakit melihatnya menolakku,tapi akuu tetap berusaha mengulas senyum.
"Kau Lelah?" tanyaku. Ia mengangguk lemah sambil terus menunduk.
"Biaklah kalau begitu ayo kita tidur.." ajakku sambil menariknya kedalam kamar.
Aku masih terjaga sambil berbaring menatap Xiao Lu dikasurku. Kurapikan poni yang menutup matanya.
Entah kenapa aku merasa Bersalah kepada Xiao Lu.
Jika dipikir-pikir, harusnya aku merasa bersalah terhadap Minah. Ia tunanganku dan aku mengkhianatinya..
Tapi aku merasa yang kukhianati adalah Xiao Lu. Saat aku melihatnya menangis tadi,dadaku terasa sesak.
Maaf…" Gumamku sambil menariknya kedalam pelukanku.
Kurasakan deru napasnya berhembus menerpa kulitku. Dengan perlahan kudekati wajahnya dan kukecup bibirnya lembut.
Maafkan keegoisanku.
Aku belum bisa melepaskan Minah.
Tapi,aku juga tidak ingin melepaskanmu.
Aku terbangun saat mendengar alarmku berbunyi. Kubuka mataku perlahan dan menyadari kalau Xiao Lu sudah tidak ada di sisi tempat ia tertidur.
"Baby?" panggilku sambil beranjak duduk. Tapi tidak ada jawaban yang terdengar.
"Luu?" panggilku sekali lagi dan tetap tidak ada jawaban. Aku lalu bangun dan mencarinya ke kamar mandi. Tapi ia tidak ada.
"Xiao Lu!" Teriakku lebih kencang sambil keluar dari kamar.
"Ya?" jawabnya dari dapur. Aku lalu menghampirinya.
"Kukira kau pergi…" ucapku sambil memeluknya dari belakang.
"Memangnya Kenapa ? Kau takut?" tanyanya tanpa membalas pelukanku.
Ya, aku takut kau meninggalkanku.
Aku takut kau pergi.
"Bukankah kau harusnya berangkat kerja Sehun?" tanyanya memecah keheningan.
"Aku sepertinya tidak ingin bekerja hari ini. Aku ingin dirumah.."
Bersamamu.
Aku tetap memeluknya menunggunya untuk balas memelukku atau sekedar memainkan tanganku yang berada diperutnya. Tapi ia menggeliat,berusaha terlepas dari pelukanku.
Ia menolakku lagi.
"Kau harus tetap bekerja Sehun.. Banyak orang-orang disana membutuhkan bantuanmu…" ucapnya.
"Aku akan pergi bekerja.. Jika kau balas memelukku dan menciumku.."
Ia menghela napas dan akhirnya berbalik dan memelukku. Ia lalu menjauhkan tubuhnya sedikit dan mencium bibirku.
"Sudah?" tanyanya.
"Ya sudah…" kataku sambil tersenyum puas. Ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya,heran.
"Bersiap-siaplah, kau akan terlambat nanti!" ucapnya. Aku dengan patuh berbalik kekamar untuk bersiap-siap bekerja.
Setelah aku sudah siap bekerja ia membantuku memasangkan dasiku. Dan seperti biasa aku memanfaatkan saat-saat seperti ini untuk menatap wajahnya.
Wajah indah yang selalu membuatku rindu ingin melihatnya.
"Lu, tunggu aku ya. Aku akan pulang dengan cepat. Setelah itu aku akan mengajakmu ke restoran yang enak! Kau mau?" tawarku.
Ia menatapku sesaat lalu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Aku berangkat dulu!" pamitku. Sesaat sebelum aku keluar dari apartemen,Xiao Lu memelukku dari belakang.
"Sehun..." Panggilnya.
"Hmmm?"
Ia tidak berkata apa-apa dan setelah beberapa saat ia melepas pelukannya.
"Sampai jumpa…" katanya sambil melambaikan tangan. Aku balas melambaikan tangan kearahnya sambil keluar dan menutup pintu.
Aku mendesah kecewa.
Kupikir ia akan mengatakannya kembali.
Mengatakan kalau ia mencintaiku.
Mungkin jika tadi ia mengatakannya kembali aku sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan padanya.
Suara ketukan terdengar di pintu ruangan kerjaku. Saat kupersilahkan masuk,Yixing masuk dengan beberapa File di tangannya.
"Hun! Lihat apa yang kudapatkan!" ucapnya antusias sambil meletakkan beberapa file di mejaku.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ini Data orang hilang yang kau minta. Ada 17 orang yang mendekati ciri-ciri yang kau berikan padaku. 7 Orang yang hilang di Disney land hongkong dan 10 orang hilang di luar Disney land pada hari yang sama dengan perilisan kartun Bambi di Hongkong,16 April tahun 1994.." jelasnya.
"Wow! Yixing thanks!" Ucapku.
"Sama-Sama Hun! Kuharap kau menemukan orang yang kau cari! Kalau tidak ketemu hubungi aku ok?Aku akan membantumu!"
Yixing pun pergi meninggalkanku yang langsung memeriksa file-file yang diberikan Yixing dengan seksama. Dari File-file yang sudah kulihat tidak ada ciri-ciri dan wajah dalam foto yang mirip dengan Xiao Lu.
Saat aku memeriksa file ketujuh,aku melihat foto anak kecil yang mirip sekali dengan Xiao Lu. Bibirnya yang kecil, hidung bangir,kulit mulus dan mata yang kecil dan bulat. Anak itu bernama Luhan,ia berasal dari Beijing. Ia hilang pada umur 4 tahun ketika berwisata di Hongkong. Ciri-cirinya hampir sama dengan apa yang Xiao Lu ceritakan waktu itu. Dan aku bertambah yakin anak itu adalah Xiao Lu, karena bekas luka yang ada di pipi kanannya sama dengan bekas luka di pipi Xiao Lu.
Aku tersenyum bahagia.
Aku menemukanmu,Luhan…
"Aku pulang!" teriakku riang saat aku masuk kedalam apartemen. Aku menunggu Xiao Lu untuk menghampiriku seperti biasanya,tapi ia tidak kunjung datang.
"Baby?Aku pulang!" teriakku lagi. Tapi Ia tidak juga datang ataupun menjawab. Aku lalu mencari dirinya di segala penjuru ruangan tapi ia tetap tidak ada. Ku cek lokasinya menggunakan GPS,tapi tidak terdeteksi.
"Ah Mungkin ia sedang membeli sesuatu.." gumamku. Aku menunggunya di ruang TV sambil memikirkan Ekspresi apa yang ia akan buat ketika mengetahui nama aslinya adalah Luhan.
"Luhan…" gumamku sambil tersenyum.
"Luhan.." Gumamku lagi. Merasakan betapa lancar namanya keluar dari bibirku.
Nama itu begitu cocok untuknya.
Luhan..
Oh Luhan…
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan Xiao Lu belum juga pulang. Dengan panik aku berusaha untuk menghubungi ponselnya tapi ia tidak kunjung menjawab.
"Lu kau dimana hmm?Jangan membuatku khawatir.. Kalau kau terima pesan ini telepon aku dan aku akan menjemputmu ok?"
Aku lalu mengirim pesan suara itu, berharap Xiao Lu mendengarnya dan segera menghubungiku.
Sudah 1 jam lebih semenjak pesan suaraku dikirim ia tak kunjung menghubungiku.
"Lu. Demi tuhan! Dimana kau?! Bukankah sudah kubilang jangan pergi tanpa diriku! Cepat pulang !" bentakku lalu mengirim pesan suara itu.
"Lu?Pulanglah,aku khawatir. Maaf aku membentakmu tadi. Sekarang kau pulang ya? Please Jangan membuatku khawatir." Bujukku di pesan suara ketiga yang kukirim untuknya. Tetapi Ia masih tidak menghubungiku.
"Argghhh!" Teriakku frustasi.
Rasa khawatir dan takut mulai menyelimutiku.
Bagaimana jika ia pergi dan tak akan kembali?
Sesaat sebelum aku hendak mengirim Pesan suara berikutnya ponselku berdering. Dilayarnya tertera nomor yang tidak ku kenal . Walaupun awalnya ragu, akhirnya kuangkat teleponnya.
"Yeoboseyo?" ucapku saat menerimanya.
"Sehun…" Aku tercekat ketika mendengar suara itu,aku mengenal suara lembut ini.
"Baby?Kau kemana hmm?Kenapa belum pulang?"
"Aku tidak akan pulang kesana. Aku akan Pulang, ketempat asalku.." jawabnya lirih.
"A-apa yang kau maksud? Kau tidak kembali ke tempat busuk itu kan Lu?"
"Tempat busuk itu adalah rumahku Sehun. Dan ya aku akan kembali kesana.." Jawabnya.
Jawabannya membuatku tercengang.
Ini tidak benar-benar terjadi Kan?
Kau akan tetap kembali padaku kan Lu?
"Lu… Aku mohon jangan kembali kesana Ok?Aku akan menjemputmu,sekarang katakan dimana dirimu?" tanyaku panik.
"Tidak,aku akan tetap kembali ke tempat daddy…"
"JANGAN PERNAH PANGGIL BAJINGAN ITU DADDY LAGI!" bentakku marah..
"Kenapa kau berpikir kau harus kembali kesana huh?! Apa menurutmu kelompok sialan itu akan memperlakukanmu dengan lebih baik?!" ucapku kesal.
"Karena aku bagian dari mereka. Kau ingat? Walaupun mereka tidak memperlakukanku dengan baik,aku memang pantas menerimanya. Karena aku orang jahat. Aku telah berbuat jahat kepadamu Sehun.. Maafkan aku.." Lirihnya.
"Lu, Apapun yang kau perbuat aku akan memaafkanmu. Sekarang katakan dimana dirimu,atau aktifkan GPSmu, aku akan menjemputmu. Kau akan tinggal disini bersamaku lagi. Kumohon Lu,kembalilah…"
Kembalilah kerumah,dan rumahmu adalah aku.
Isakkan terdengar dari seberang telepon
"Lu jangan menangis ya? Jangan pergi,katakan padaku kau akan kembali..."
"Xiao Lu! Katakan kau akan kembali padaku!eoh?" ucapku sekali lagi saat ia tidak menjawab.
"Kumohon... Kembalilah.. kau boleh menciumku,kau boleh memelukku, kau boleh menonton kartun Disney sampai larut malam. Aku tidak akan pernah marah,aku tidak akan pernah membentakmu lagi.."
Dan Aku tidak akan pernah membohongi perasaanku lagi..
"Sehun aku tidak bisa.." lirihnya.
"Bukankah dalam janji pertemanan kita, kita harus saling melindungi?" lanjutnya.
Tidak,Kau bukan temanku..
Kau lebih dari itu...
"Maka inilah aku... Melakukan apapun untuk melindungimu... Walau aku harus pergi ke neraka sekalipun,demi dirimu aku akan pergi..."
"Tidak! Xiao Lu, kumohon..."
"Maaf.."
"Lu..." panggilku lirih.
Tolong,Jangan katakan maaf...
Karena kalau kau meminta maaf berarti kau tidak akan pernah kembali lagi..
"Aku mencintaimu Sehun..."
Tidak jangan pergi...
Jangan tinggalkan aku ...
Aku,
Juga mencintaimu...
Setelah sambungn teleponnya terputus. Aku buru-buru membuka laptop untuk melacak nomor telepon yang ia pakai dan akhirnya menemukan lokasinya, ia meneleponku dari telepon umum di stasiun yang tidak begitu jauh dari apartemenku. Dengan cepat aku menuju ke basement untuk mengambil mobilku. Kupacu mobilku cepat,mengacuhkan suara klakson pengemudi yang kesal karena cara menyetirku. Saat aku sudah berada di stasiun, aku berlarian untuk mencari Xiao Lu. Kuteriakkan namanya disetiap jalur gerbong yang kudatangi, Kuperintahkan semua petugas keamanan stasiun untuk mencarinya. Tapi aku tetap tidak menemukannya.
Aku tidak akan menemukannya lagi.
Tubuhku gemetar dan menggigil kedinginan,aku merasakan ketakutan yang sama seperti yang kurasakan 15 tahun lalu. Ketika aku kehilangan kedua orangtuaku.
Ketika aku kehilangan orang-orang yang kucintai.
Rasa takut,amarah,sedih dan rasa sakit itu aku rasakan kembali.
Saat kusadari aku kehilangannya.
Luhan.
TBC
