Saengil Cukhahamnida

Saengil Cukhahamnida

Saranghaneun uri Luhannie :*

Saengil Chukhahamnida

Ahhhhh My Baby Deer ulang tahun yang ke 24 hari ini :3

Uri Manly Luhan (Saking manly'nya teriak paling kenceng di rumah hantu-_-)

Kakak tertua kedua (yang Mukanya lebih mirip balita)

Ulang tahun yang ke 24.. Bayangkan, KE 24 TAHUN?! /Epic violence song played/

Ahh walaupun tidak menyangka dia umur 24 tapi tetep ikut seneng dan tetep cinta :3

dan ini hadiah untuk para HunHan di hari ultah Luhan dan di bulan SeLubration!

Happy Reading *Smooch*

Jangan lupa review ;)


Chapter 6

Luhan memeluk lututnya ,terduduk takut disudut kamar Mr. Lang yang besar dan klasik. Kamarnya memang lebih mewah daripada kamar Sehun tapi Luhan merasa tertekan didalam kamar luas ini. Ia lebih memilih untuk tidur dikamar Sehun,berbaring dikasur empuk dan dalam pelukan Sehun yang hangat.

Dinginnya lantai membuat tubuh telanjangnya menggigil hebat. Air matanya mengalir terus menerus, tubuhnya sakit dan perutnya terasa mual. Lubang anusnya terasa sangat perih akibat perlakuan Mr. Lang kepadanya semalam. Ia menggigit bibirnya kuat menahan isak tangis agar Mr. Lang tidak terbangun dari tidurnya.

Hatinya terus menjeritkan nama Sehun. Ia ingin Sehun kesini. Menemuinya,menyelamatkannya,membawanya pulang dan melindungi dirinya. Ia ingin kembali kedalam pelukkan Sehun.

Tapi ia sadar itu tidak akan pernah terjadi.

Sehun mempunyai kehidupannya sendiri yang harus dia jalani. Siapa dirinya dimata Sehun? Bukankah hanya seorang saksi yang Sehun manfaatkan? Kalaupun Luhan pergi, Sehun tidak akan peduli. Sehun bisa saja mencari saksi lain dan berpura-pura menyukainya seperti yang ia lakukan terhadap Luhan.

Luhan mengusap air matanya cepat ketika ia melihat Mr. Lang bangun. Ia menundukkan kepalanya ,masih memeluk lututnya takut.

Mr. Lang memakai jubah merahnya dengan malas lalu berjalan mendekati Luhan.

"Apa yang kau lakukan disini baby lu?" Ucap Mr .Lang sambil menyentuh dagu Luhan. Luhan dengan takut menghindari sentuhan dari Mr .Lang.

Mr. Lang tertawa jahat melihat tingkah Luhan yang seperti kucing ketakutan.

"Kau kenapa huh?Tidak suka lagi disentuh oleh daddymu?!" geram Mr. Lang kesal sambil mencengkeram keras pipi Luhan, membuat Luhan mengerang kesakitan. Bulir air mata mengalir dari matanya.

"Beraninya kau menangis didepanku brengsek!" Ucap Mr. Lang sambil memukul keras wajah Luhan sampai ia tersungkur lagi dilantai. Tangisan Luhan tidak berhenti. Ia tahu Mr. Lang membeci tangisannya dan akan memukulinya jika ia tidak berhenti menangis. Tapi ia tidak peduli, ia hanya ingin terus menangis hingga Mr. Lang memukulinya sampai mati. Luhan pikir ia lebih baik mati daripada harus hidup seperti di neraka.

Hidup seperti orang mati tanpa Sehun.

"Apa kau menangisi polisi sialan itu?!" Tanya Mr. Lang dengan muka yang memerah,marah.

"Jawab aku tolol!" katanya sambil menendang perut Luhan,hingga membuat Luhan berteriak sakit.

"Apa kau merindukannya hmm?Merindukan sentuhannya ditubuh kotormu ini?" Tanya Mr. Lang sambil mengangkat kepala Luhan. Luhan tidak melakukan apapun,bahkan ia terlalu lemah untuk mengeluh sekalipun.

"Ah aku baru melihat ada benda ini dilehermu. Apa kekasihmu itu yang memberikanmu ini?" Ucap Mr. Lang sambil menarik kalung GPS Luhan sampai putus dan meninggalkan bekas kemerahan dileher Luhan yang putih. Mr. Lang mendorong Luhan sampai kembali tersungkur kelantai.

"Kalung yang sangat bagus.. Baik sekali kekasihmu itu memberikan kalung ini untuk bocah murahan sepertimu.." ucap Mr. Lang sambil menimang kalung Luhan. Ia memperhatikan permata merah kecil yang menonjol ditengah liontin kalung itu. Mata tajamnya menyelidik,seringaian terbentuk diwajahnya.

"Ah apakah ini semacam alat penyadap?" Tanya Mr. Lang.

Luhan tidak menjawab ia hanya bisa menatap Mr. Lang dengan takut.

"Jadi kau membantu polisi sialan itu untuk menyadap markasku?! Dasar Brengsek!" geram Mr. Lang sambil menendang perut Luhan lagi. Luhan terbatuk,mengeluarkan bercak darah dari mulutnya. Ia memegangi perutnya yang terasa sakit.

"Aku penasaran. Apakah jika aku memencet tombol kecil ini dia akan datang kesini?"

"Menarik.. Apa kita panggil saja ia kesini untuk menemui ajalnya sendiri?" ucap Mr. Lang sambil menyeringai. Luhan yang lemah berusaha bangkit. Dengan tenaganya yang masih tersisa,ia berlutut didepan Mr. Lang sambil menarik jubahnya lemah.

"Kumohon. Ja-jangan lakukan itu.." mohon Luhan.

Mr. Lang tidak menggubrisnya ia malah menendang Luhan hingga terjatuh.

"Sudah terlambat.." Ucap Mr. Lang sambil melempar kalung itu tepat kedepan wajah Luhan dan pergi meninggalkan Luhan sendiri.

Luhan menangis terisak saat ia melihat tombol merah diliontinnya menyala,berkedip kedip mengirimkan keberadaannya ke ponsel Sehun.

"Bersiap-siaplah.. Kita akan kedatangan tamu-tamu yang spesial.." perintah Mr. Lang terhadap anak buahnya.


Sehun's POV

Aku menghela napas berat. Setelah bangun dari tidurku pagi ini,aku merasa begitu kesepian. Biasanya setelah aku bangun aku akan mendengar tawa Luhan yang sedang menonton kartun Disney,atau senandungnya dari kamar mandi.

Sepulang dari stasiun tadi malam tubuhku terus menggigil. Aku mengalami demam yang cukup tinggi. Suhu tubuhku naik,kepalaku berdenyut pusing dan Air mataku terus mengalir. Mungkin air mataku mengalir karena demam yang sangat tinggi atau karena pusing yang kurasakan.

Atau karena aku merindukan Luhan.

Perasaanku begitu kacau,kepalaku masih berdenyut sakit. Penyesalan muncul setiap detiknya,memenuhi dadaku hingga rasanya begitu sesak.

Kudengar pintu apartemenku terbuka membuat jantungku berdegup cepat karena antusias.

Itu pasti Luhan!

Luhanku pulang.

Aku berlari menuju pintu depan,hatiku mencelos saat yang kulihat bukan Luhan dan senyuman indahnya. Melainkan tubuh tegap dan tinggi kakakku.

"Hai Hyung.." sapaku sambil berbalik menuju ruang TV dan menghempaskan diri di sofa. Kakakku mengikuti dari belakang, dan ikut duduk disampingku.

"Kenapa kau tidak masuk kerja?" tanyanya.

"Apa kau sakit?"

"Ya sedikit pusing.." jawabku. Ia lalu mengangguk mengerti. Matanya yang tajam mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru apartemen.

"Dimana anak yang bernama Xiao Lu itu?" tanyanya.

Aku menghela napas,mengurut-urut dahiku yang pusing. Mendengar namanya saja membuatku sulit bernapas.

"Luhan.. Nama yang sebenarnya Luhan.." Koreksiku.

"Ya,dimana anak itu?" Tanya kakakku.

"Dia pergi.." lirihku. Kakakku dengan cepat berdiri. Ia bertolak pinggang dan mendengus kesal.

"Pergi katamu?! Sehun! Sudah kubilang kau harus tetap berwaspada!" ucapnya kesal.

"Ya kau benar harusnya aku lebih berwaspada… "

Seharusnya aku menyadarinya sejak dulu.

Bahwa Setiap hari,Setiap Jam bahkan setiap detik.

Yang kuinginkan hanyalah ia ada di dalam pelukanku.

Tapi ini semua sudah terlambat bukan?

Lalu,Apa yang harus kulakukan?

Agar aku bisa memeluknya lagi,mendekap tubuhnya dalam lindunganku.

"Sehun?Kau tidak apa-apa?" Tanya kakakku khawatir. Ia duduk disebelahku,merengkuh pundakku kuat.

"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa?"

"Kau.. Menangis.." jawab kakakku.

Aku tertawa.

Kris hyung konyol,mana mungkin aku menangis. Aku tidak mungkin menangis. Aku bukan pria selemah itu. Aku tidak mungkin menangis hanya karena ditinggal oleh Luhan.

Tidak mungkin.

Aku menangkup wajahku. Tangisan pilu terdengar menggema di ruang Tvku. Bukan tangisan Kris Hyung maupun peran utama di drama favorit Luhan yang sekarang sedang ditayangkan di TV . Melainkan diriku.

Menjijikkan kau Sehun. Kenapa kau menjadi cengeng seperti ini?

"Harusnya aku lebih waspada hyung. Kau benar. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi meninggalkanku.." ucapku lirih disela isakkan yang keluar dengan konyol dari bibirku. Kris Hyung memelukku. Membuatku kembali mengingat masa lalu. Ketika ayah dan ibu meninggal. Kris Hyung memelukku seperti ini. Mengatakan kata-kata yang menguatkan dan menenangkan hingga aku berhenti menangis.

"Aku tidak pernah melihatmu menangis seperti ini lagi setelah orang tua kita meninggal.." ucapnya sambil tertawa kecil.

"Tapi aku bisa menebak, betapa berharganya Luhan untukmu."

Lebih dari yang kau tahu hyung. Lebih dari itu.

"Berhenti menangis! Kau bukan anak kecil lagi! Bagaimana kau bisa mencarinya jika kau hanya diam dirumah dan menangis seperti ini?" katanya sambil menepuk-nepuk punggungku.

"Kita akan menemukannya. Kau dan aku adalah polisi yang hebat. Apakah kau melupakan hal itu?" ucapnya sambil tersenyum menenangkan.

Ya Hyung, kita adalah polisi yang hebat. Dan kau adalah kakak yang paling hebat.

"Nah!Aku membawa makanan untukmu! Sepertinya hari ini aku akan menjadi kakak yang baik untukmu! Aku akan menjaga adik kecilku ini sampai ia merasa baikkan." Candanya lalu beranjak menuju dapur.

Kris Hyung benar-benar tinggal diapartemenku seharian. Ia membantuku mencari Luhan. Bahkan ia meminta rekaman CCTV dari stasiun. Kami memeriksa satu per satu rekaman CCTV hingga pagi menjelang. Dan ketika mata kami mulai merasa lelah, ponselku berdering. Jantungku hampir copot karena antusiasme yang berlebihan. Dering yang kudengar dari ponselku adalah dering khusus untuk pemberitahuan dari GPS yang kusambungkan dengan kalung Luhan. Dengan cepat aku masuk kekamar meraih Hpku untuk mengeceknya. Senyumku mengembang saat melihat pesan pemberitahuan itu.

"Hyung.. Aku menemukannya.." Ucapku pada Kris Hyung.

Aku menemukannya..

Luhanku..

Setelah memastikan lokasi Luhan. Aku dan Kris Hyung bergegas pergi ke markas.

Kris Hyung mengumpulkan anak buahnya. Karena kemungkinan besar Luhan berada di markas Wolf Gang. Semua pasukan sibuk menyiapkan senjata. Seakan De Javu, aku pernah mengalami ini sebelumnya. Hari dimana kami akan menangkap Wolg Gang di markasnya. Hari dimana aku tertangkap dan disekap di ruang yang kecil dan pengap.

Hari dimana aku bertemu Luhan.

"Jangan takut Sehun. Kita tidak akan mengulang kesalahan yang sama seperti waktu itu. Kita akan menangkapnya sekarang. Menangkap semua anggota mafia keparat itu." Kata Kris hyung sambil menepuk-nepuk punggungku.

"Aku tidak takut Hyung. Aku siap untuk menangkap mereka."

Dan aku siap untuk menjemputnya pulang.


Sehun dan Kris pergi ke Lokasi dimana Luhan berada bersama 3 truk pasukan yang mengikuti mereka dibelakang. Sehun dengan teliti membaca peta yang berada di LCD mobil patrolinya. Memastikan bahwa mereka menuju lokasi yang benar. Lokasinya begitu jauh dari kota Seoul. Mereka melewati jalan yang begitu sepi dengan pohon-pohon besar yang sebagian daunnya sudah berguguran. Saat GPS di mobil patroli menunjukkan bahwa lokasi yang mereka tuju berjarak 1km lagi, Sehun bisa melihat sebuah rumah besar dengan gaya klasik tidak jauh dari mobilnya.

"Sepertinya itu tempatnya." Ucap Sehun kepada Kris.

"Ya,sepertinya begitu. Tapi kenapa begitu sepi? Tidak ada seorangpun yang menjaga gerbangnya.." Ucap Kris sambil melongokkan kepalanya keluar.

"Apa lokasinya adalah rumah besar itu?" Tanya Jongin yang terdengar dari walkie talkie.

"Ya Jongin. Sebaiknya kalian bersiap-siap." Balas Kris.

"Baik! Sepertinya mereka menyambut kita,kau lihat gerbangnya terbuka lebar!" canda Jongin.

Sehun mengernyitkan dahi. Ya suasananya memang aneh,pikirnya. Tidak mungkin markas mafia seperti wolf gang tidak mempunyai penjaga satupun digerbangnya.

Perasaan Sehun kembali diliputi rasa takut. Ia takut Lang keparat itu melakukan hal macam-macam pada Luhan.

Sehun duduk gelisah didalam mobil. Jika Kris tidak memaksanya untuk menunggu di mobil mungkin ia sudah berlari masuk tanpa senjata dan mencari Luhan didalam sana.

"Dimana posisi pasukanmu Yixing?" Tanya Kris melalui walkie talkie'nya.

"Kami berada di sayap kanan bangunan. Kondisinya aman." Balas Yixing.

"Jongin,bagaimana denganmu?"

"Kami berada di sayap kiri. Dan sepertinya aman. Aneh. Apa mereka sedang keluar untuk bertamasya?" ucap Jongin,heran. Sehun memutar bola matanya.

'Yang benar saja Jongin. Kau masih bisa bercanda dikondisi seperti ini.'

"Baiklah kita bergerak sekarang.." perintah Kris kepada polisi-polisi lain yang masih menunggu didalam mobil. Semua pasukan bergerak mendekat kedalam gerbang.

Sehun berdiri disamping Kris memperhatikan rumah besar didepannya. Rumah besar itu terlihat menyeramkan. Pohon besar yang bergemerisik diterpa Angin dan udara yang menerpa kulit Sehun terasa lembab membuatnya merasa tidak nyaman. Bagaiman bisa Luhan tinggal ditempat seperti ini? Pikirnya.

"Selamat Datang Para tamu istimewaku!"

Semua pasukan terlihat terkejut mendengar suara itu menggema. Sehun mengeratkan kepalan tangannya saat ia melihat Mr. Lang keluar dari beranda atas, menarik Luhan dengan tangannya. Luhan tampak begitu lemah,bibirnya yang robek mengulas senyum kecil saat melihat Sehun dibawah.

'Sehun.. Aku ingin pulang..'

"Wah polisi muda kita bertemu lagi ya? Kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku?" ucap Mr. Lang.

"Sebaiknya kau menyerah sekarang. Kami sudah mengepung markas kalian,kau tidak akan bisa kemana-mana.." ancam Kris melalui horn speakernya.

Mr. Lang tertawa angkuh.

"Aku mau saja menyerahkan diriku. Tapi sepertinya polisi muda itu takkan setuju. Apalagi jika aku terlebih dulu mengiris nadi kekasihnya .." ancam Mr. Lang sambil mendekatkan pisau keleher Luhan.

"YA! Jauhkan tanganmu darinya!" teriak Sehun kesal.

"Woah Apa kau membentakku? Anak muda zaman sekarang tidak kenal rasa hormat! Ah bagaimana kalau kita bermain sedikit polisi muda?"

"Aku akan melepasnya jika kau naik sendiri kesini.. Tanpa senjata apapun. Tanpa rekan kerjamu. Bagaimana?" Tawar Mr. Lang.

Sehun tanpa berpikir panjang menyetujuinya. Walaupun Kris melarangnya, Sehun tetap bersikeras.

"Aku akan segera keluar bersamanya Hyung kau tenang saja.." ucap Sehun menenangkan kakaknya. Kris mendesah frustasi.

"Baiklah.. Jika dalam 10 menit kau tidak keluar ,kami akan masuk untuk menyergap mereka.." Ucap Kris lalu melepaskan cengkramannya dibahu Sehun.

Sehun akhirnya masuk kerumah itu. Anak buah Mr. Lang yang menunggunya di depan pintu menuntunnya untuk keatas. Sehun melihat orang-orang yang ada didalam. Semua yang memakai senjata berdiri waspada,menjaga markas mereka. Ada beberapa kamar yang terbuka memperlihatkan wanita-wanita malang menatap takut kearahnya. Seakan meminta tolong untuk dikeluarkan.

Saat sampai diatas ,sebuah pintu ruangan terbuka. Menampakkan seorang pria yang Sehun kenal terbaring lemah.

"Chanyeol…" gumam Sehun. Tangan panjang Chanyeol terkulai didepannya,menampakkan beberapa memar biru bekas suntikkan jarum. Napas Chanyeol memburu dan tubuhnya menggigil hebat. Sehun melihatnya dengan iba. Chanyeol pasti digunakan untuk mengetes obat-obatan terlarang yang dijual Wolf Gang,pikirnya.

Ia mengeratkan rahangnya,menahan kesal.

"Cepat jalan!" perintah anak buah Mr. Lang sambil menodongkan pistol ke pinggangnya. Sehun berjalan maju. Anak buah Mr. Lang membuka sebuah pintu kaca besar dan menyuruh Sehun masuk.

"Selamat datang Polisi muda!" Sambut Mr. Lang. sambil berdiri di ujung ruangan yang besar dan kosong itu.

"Hey Baby Lu ayo sambut kekasihmu!" ucap Mr. Lang sambil menarik tali yang tersambung ke leher Luhan. Luhan tertarik,hingga terjatuh didepan Mr. Lang.

Amarah Sehun mulai memuncak. Berani-beraninya Lang memperlakukan Luhannya seperti itu.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sehun. Kedua tangannya mengepal disisi tubuhnya.

"Aku ingin bercerita sesuatu padamu.. Kau tahu kenapa malam itu ia datang ke apartemenmu?" Tanya Mr. Lang.

"Karena aku yang menyuruhnya… Aku tahu bocah sialan ini membantumu kabur dari sini. Sebagai permintaan maaf ia mau melakukan apa saja untukku. Maka aku menyuruhnya untuk ke apartemenmu. Ia terlihat babak belur saat ke apartemenmu kan? Well Emosiku sedikit tak terkontrol saat itu. " Jelas Mr. Lang sambil tertawa. Sehun menatap Luhan yang menunduk. Luhan lalu mengangkat kepalanya,memandang Sehun dengan penyesalan.

'Jangan berwajah seperti itu. Kau tidak perlu menyesal..'

"Kau tahu apa yang aku perintahkan padanya? Aku menyuruhnya untuk mengambil data Strategi pertahanan dan keamanan korea selatan untuk kujual ke Korea utara!"

Sehun membelalak tak percaya.

"Dalam beberapa jam. Data ini akan kukirimkan kepada pihak Korea Utara. Kau sadar kan sekarang? Bocah ini tidak sepolos yang kau pikir.. Lihat,karena ulahnya, mungkin akan terjadi perang besar antara negaramu dan Korea Utara!" Ucap Mr. Lang sambil menyeringai.

"Ka-Kau..Apa Kau benar benar melakukan itu semua Lu?" tanya Sehun pelan. Xiao Lu hanya bisa menitikkan air mata.

"A-apa kau mengambilnya saat kau berada di kantorku waktu itu?" tanya Sehun lagi. Tangannya terkepal erat. Rasa sakit dan terkhianati menelusup kedadanya meninggalkan rasa perih dihati kecil Sehun membuat setiap sarafnya terasa mati.

Tapi,Walaupun rasa perih itu membuat sarafnya rusak dan mati rasa.

Sehun masih bisa merasakan cintanya terhadap Luhan.

dan rasa itu mengalahkan semua rasa sakit yang ada pada dirinya.

'Maafkan aku Sehun...'

"Ah tidak usah berbasa-basi lagi,kita mulai saja permainannya.. Jin lumpuhkan pria itu.." perintah Mr. Lang pada anak buahnya. Anak buah Mr. Lang memukul kaki Sehun keras dengan sebuah besi hingga ia tersungkur. Sehun mengerang sakit.

"Baiklah begini peraturannya.."

Mr. Lang melepas tali yang ada di leher Luhan. Ia lalu memberikan pistol ketangan kecil Luhan.

"Aku akan menghitung sampai 10, Jika Xiao Lu menembakmu dengan pistol ini aku akan melepaskannya. Tapi jika tidak,ia akan kutembak."

Lang memaksa Luhan berdiri dan mendorongnya maju. Luhan dengan langkah pelan maju mendekati Sehun. Dengan takut-takut ia menatap Sehun disetiap langkahnya. Sehun memandangi mata itu,mata indah favoritnya sambil tersenyum lirih.

'Kau tidak perlu meminta maaf.. Apa kau lupa?Apapun yang kau lakukan,aku akan selalu melindungimu..'

"1…" ucap mulai menghitung.

"Tembak aku Lu.." lirih Sehun saat Luhan sudah ada didekatnya. Luhan menggelengkan kepalanya sambil menatap sayu kearah Sehun.

"2…"

"Tidak apa. Ini caraku untuk melindungimu.. Tembaklah aku.." ucap Sehun sambil menarik moncong pistol yang dipegang Luhan ke dadanya. Luhan terisak. Tangan Sehun yang berada diatas tangannya terasa begitu hangat. Sehangat senyuman Sehun yang sekarang sedang menatapnya.

'Aku merindukanmu Sehun..'

"3…"

'Aku juga merindukanmu..'

"Aku lebih baik mati daripada harus hidup tanpamu Sehun…" lirih Luhan sambil menarik pistolnya menjauh dari dada Sehun. Ia lalu menodongkan pistol kekepalanya.

"Tidak! Lu! kumohon! Jangan lakukan itu! Tolong!" Mohon Sehun.

"4.. Wah! Romantis sekali pasangan muda ini. Aku bahkan sempat terharu saat melihat kalung pemberian darimu dilehernya . Ah! Tapi maaf aku sedikit merusaknya.." Ucap Mr. Lang sambil mengayunkan Kalung itu ditangannya.

Sebuah ide terlintas dibenak Sehun ketika ia melihat Kalung itu ada digenggaman Mr. Lang.

'Self Destruction!' ucapnya dalam hati.

Ia dengan hati-hati menarik ponselnya lalu membuka fitur GPS yang tersambung dengan kalung Luhan.

"5…."

"Lu,kumohon jangan tarik pelatuknya oke? Kita akan selamat.. Kita akan pulang ke apartemenku,ke apartemen kita. Bukankah kau ingin pergi ke Lotte World lagi? Kita akan pergi kesana nanti,aku berjanji akan bermain denganmu.. Percaya padaku ya?" bujuk Sehun sambil terus mengotak-atik ponselnya.

Luhan memandang Sehun dengan tatapan bingung.

"6…."

"Stop! Bagaimana kalau aku menambah peraturan permainannya? Karena kau telah merusak kalung itu, kau dihukum. Maka dari itu Sebelum hitungan ke 10,Kau akan meledak hingga berkeping-keping.." Ucap Sehun sambil menyeringai. Mr. Lang tertawa.

"Kalung kecil ini bisa membuatku meledak?!" ucap Mr. Lang sambil tertawa.

Seiring dengan tawa jahat Mr. Lang yang menggema Sehun mengetik 'detective soolock holmes' diponselnya dan menekan tombol 'activate'.

"Aku tidak peduli!Jika aku meledak kalian juga akan meledak!"

"7…"

"8..."

"9…"

"Maaf Lu,tapi Aku juga tidak bisa hidup tanpamu.." Ucap Sehun lalu menarik Luhan kedalam pelukannya. Ia menarik pistol di genggaman Luhan lalu menembak anak buah Lang dan menembak beberapa kali pintu kaca yang tertutup, ia lalu melempar dirinya dan Luhan kearah pintu kaca,menabraknya hingga pecah. Suara ledakan terdengar,menggetarkan rumah besar itu. Sehun mendekap Luhan erat saat mereka terlempar lebih jauh, melindunginya dari keping-keping kaca dan dinding yang berterbangan akibat ledakan yang terjadi. Sehun lega ledakannya tidak sebesar bom atom seperti yang ia kira. Tapi cukup untuk meledakkan tubuh gempal Lang keparat itu. Sehun bisa melihat darah Mr. Lang yang menyembur dan tubuhnya yang hancur. Membuat Sehun mual sekaligus puas melihat tubuh keparat itu hancur berkeping-keping.

Sehun akan berterima kasih pada Kyungsoo nanti.

Sehun melihat rekan-rekannya masuk,berpencar menangkap para anggota Wolf gang yang tersisa. Suara tembakkan dan teriakkan menggema dari segala penjuru arah.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada Luhan yang berada dibawahnya. Luhan tersenyum sambil mengangguk lemah. Sehun terkesiap saat darah membasahi tangannya yang berada di kepala Luhan.

"Lu-.." Lirihnya.

"Apa kau ingat? Dulu kita juga seperti ini.." ucap Luhan sambil tertawa lemah. Kepalanya begitu sakit setelah terbentur suatu benda tebal dan keras ketika ia dan Sehun terpental keluar.

"Apa rasanya pusing Seperti ini Sehun?" ucapnya melantur.

Sehun bergetar,air mata mengalir ke pipinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha membopong tubuh Luhan ditangannya. Walaupun tubuhnya juga menjerit sakit tapi ia tetap berusaha berjalan,membawa Luhan keluar dari tempat itu.

"Kenapa kau terlihat begitu tampan dan mempesona.." Bisik Luhan. Tangannya yang gemetar menyentuh wajah Sehun.

"Sehun, Ayo kita pulang.." lirih Luhan sebelum akhirnya pingsan dalam dekapan tangan Sehun.

"Luhan!" pekik Sehun panik. Ia berusaha berlari secepat mungkin untuk keluar dari rumah itu.

Saat Sehun keluar, tim medis yang sudah disiapkan berlari mendekatinya. Seseorang tim medis berusaha mengambil Luhan dari pangkuannya.

"Hentikan! Janga sentuh dia!" Teriak Sehun galak.

"Tapi tuan,ia harus segera dibawa ke rumah sakit.."

"Aku yang akan membawanya! Jadi pergilah!" Teriak Sehun lagi.

"Tapi anda juga terluka parah tuan. Biar kami saja yang mengurusnya.." ucap perawat itu sambil berusaha melepas Luhan dari Sehun.

"Sudah kubilang!Jangan Sentuh dia!Ia milikku!"

Kris yang melihat kejadian itu menghampiri adiknya.

"Sehun! Jangan Keras kepala! Ia teruka parah,mereka harus segera membawanya ke rumah sakit!" Ucap Kris memarahi adiknya.

"Hyung,kumohon! Aku ingin menemani Luhan! Kumohon!" rengek Sehun pada kakaknya.

"Biarkan aku menemani Luhan kumohon hyung…"

Kris memandangi adiknya dengan pilu.

Ia tidak pernah melihat sisi lain Sehun yang seperti ini.

Sehun yang ketakutan. Sehun yang merengek.

Dan Sehun yang sedang jatuh cinta.

"Baiklah… Cepat pergi, Luhan butuh pertolongan secepatnya."

Tanpa basa-basi lagi Sehun berlari menuju ambulans dan membaringkan tubuh luhan didalam ambulans.

Setelah sampai dirumah sakit Luhan segera dilarikan keruang Operasi . Sehun dengan setia menunggu di depan pintu operasi. Beberapa perawat menghampirinya,menyuruhnya untuk mengobati Luka-luka disekujur tubuhnya. Dengan terpaksa Sehun menurut dan menjalani perawatan untuk Luka-lukanya. Setelah semua lukanya sudah terobati, Sehun kembali menuju ruang operasi. Ia duduk gelisah menunggu waktu operasi Luhan di luar ruangan.

Akhirnya setelah beberapa jam,Dokter keluar dan mengatakan operasinya Berhasil.

Luhan akan siuman beberapa hari lagi maka Sehun dengan sabar menunggu. Menemani Luhan siang dan malam diruangannya. Memegang tangan Luhan erat dan mengusap wajahnya lembut.

Malam itu malam ketiga paska operasi yang dilakukan Luhan. Walaupun kabel-kabel dan masker oksigen Luhan sudah terlepas, Tapi ia tidak kunjung sadar. Sehun berbaring diranjang Luhan. Membiarkan tangannya menjadi bantalan Luhan dan memeluk Luhan erat dalam kehangatan tubuhnya.

"Baby,kenapa kau tidur terus? Cepatlah bangun.. Aku merindukanmu.." Lirihnya sambil mencium pipi Luhan dengan hidungnya. Menyesap aroma Luhan yang manis tercampur dengan aroma obat-obatan.

"Apakah kau tahu namamu yang sebenarnya adalah Luhan?" tanyanya sambil mengelus pipi Luhan.

"Namamu Luhan. Kau bukan berasal dari Hongkong tapi kau berasal dari Beijing. Umurmu 24 tahun,sama dengan umurku. Dan kau tahu? Kita juga Lahir di bulan yang sama.." katanya sambil tertawa pelan.

"Umur kita hanya terpaut 8 hari. Aku lahir pada tanggal 12 sementara kau lahir pada tanggal 20.." jelas Sehun sambil menatap wajah Luhan yang masih menutup Matanya.

"Aku akan ke Beijing menemui orang tuamu. Aku akan membawa mereka kesini. Kau merindukan mereka kan? Maka dari itu cepatlah sadar.." lirihnya. Bibirnya mengecup dahi Luhan.

"Aku mencintaimu Luhan.." ucapnya sambil mengecup bibir Luhan dengan lembut.

Kenapa baru terpikir olehnya? Bahwa selama ini alasan ia ingin melindungi Luhan, alasannya ketakutan saat Luhan pergi, alasan ia selalu menginginkan Luhan berada disisinya adalah karena ia mencintai Luhan.

Sehun lalu mendekap tubuh Luhan lebih erat, dan tertidur.

Malam itu dengan adanya Luhan dalam dekapannya,Sehun akhirnya bisa tertidur dengan lelap.


Esoknya Sehun terbang ke Beijing untuk menemui Orang Tua Luhan. Saat tiba di Beijing,ia langsung pergi menemui Orang tua Luhan dirumah mereka. Ia sangat berterima kasih pada Yixing, karena temannya itu membantunya untuk mencari alamat Orang tua Luhan.

Sehun akhirnya sampai disebuah rumah sederhana bercat putih. Dengan tarikkan napas yang panjang ia mengetuk pintu itu dengan ragu. Sesosok wanita paruh baya membukakan pintu setelah ia mengetok beberapa kali. Jantungnya berdegup cepat saat ia melihat wanita itu. Wanita paruh baya itu mengingatkannya pada Luhan. Mereka benar-benar mirip. Bibirnya, hidung,mata dan kulitnya. Membuat Sehun yakin,ia datang ke tempat yang benar.

"Ada yang bisa kubantu?" Tanya wanita paruh baya itu. Sehun tersenyum.

"Perkenalkan, Aku Oh Sehun dari kepolisian Korea selatan.." ucapnya dengan bahasa inggris.

"Dan aku menemukan anakmu.. Luhan.." lanjutnya lagi. Ibu Luhan terkesiap. Dengan gemetar ia menutup bibirnya tak percaya. Sehun merogoh isi tasnya,lalu mengeluarkan kaos kecil bergambar bambi. Ia menemukan Kaos itu di tumpukkan barang-barang bukti yang dikumpulkan dari markas Wolf gang. Ia ingat Luhan pernah bercerita bahwa ia masih menyimpan kaos bergambar bambi yang terakhir ia pakai sebelum ia dibawa Mr. Lang.

Sehun begitu yakin bahwa itu Kaos yang Luhan maksud. Maka dari itu Sehun membawanya untuk ia tunjukkan kepada orang tua Luhan.

Dengan gemetar tangan wanita itu meraih kaos yang ada ditangan Sehun. Dengan erat ia memeluk kaos itu dalam dekapannya.

"Luhan anakku.. Aku ingin menemuinya.." Lirihnya. Sehun tersenyum lagi.

"Itulah alasanku berada disini. Kalian akan kubawa untuk menemuinya. Dia membutuhkan kalian.."

Hari itu juga Sehun terbang ke Korea Selatan bersama ayah dan ibu Luhan. Disepanjang jalan Sehun menceritakan kehidupan Luhan. Walaupun hatinya sakit,dan amarah bergejolak setiap kali ia membayangkan perlakuan Mr. Lang terhadap Luhan ia tetap menceritakannya hingga selesai. Karena menurutnya orang tua Luhan berhak tahu.

Ibu Luhan menangis mendengar cerita itu, ia tidak pernah menyangka buah hatinya menjalani hidup yang sangat berat. Tapi sekarang ia bersyukur karena Luhan sudah selamat. Ia terus mengucapkan terima kasih pada Sehun karena telah melindungi anaknya selama ini. Sehun dengan senyuman lebar dibibirnya menjawab,

"Kau tidak perlu berterima kasih. Sudah selayaknya aku melindungi orang yang kucintai.."

Sesampainya dirumah sakit, Orang tua Luhan langsung menghambur kekamar Luhan. Memeluk tubuh anaknya yang masih terbaring tak berdaya dikasur. Sehun tersenyum ikut merasa bahagia melihat keluarga Luhan kembali bersama.

Sore itu ayah Luhan mengajak Sehun berbicara diluar. Sementara ibu Luhan dengan setia menunggu Luhan disisi tempat tidurnya.

"Terima kasih karena kau sudah mempertemukan kami dengan anak kami.." Ucap Ayah Luhan kepada Sehun yang duduk disampingnya.

"Ya Sama-sama.. Aku akan melakukan apapun demi dirinya…" Ucap Sehun sambil tersenyum.

"Kami akan membawanya pulang ke Beijing…"

Sehun terdiam.

"Ta-tapi. Ia bisa tinggal di Seoul bersamaku.."

'Karena aku tempat tinggalnya..'

"Bukannya aku tidak percaya padamu. Tapi Kami sudah berpisah sangat lama dengan Luhan. Kami ingin mengurusnya dan menjaganya. Kami juga tidak ingin dia kenapa-kenapa lagi.. Ia sudah mengalami hidup yang berat setelah ia diculik. Aku ingin membayarnya dengan memberikan hidup yang lebih baik.."

Sehun ingin sekali menolaknya. Ingin sekali ia membantah dan menghalangi mereka untuk mengambil Luhan. Luhan adalah miliknya!

Tapi mereka lebih berhak karena mereka orang tua Luhan. Sehun juga berpikir Luhan juga pasti membutuhkan kasih sayang orang tua yang selama ini tak ia dapatkan.

Lamunan Sehun buyar ketika ia mendengar keributan dari kamar Luhan. Pintu kamar Luhan terbuka. Ibu Luhan yang terlihat panik keluar memanggil mereka berdua. Dengan cepat ia berlari menghampiri kamar Luhan dan mendapati Luhan yang hendak mencabut infusnya.

"Luhan!" teriaknya sambil menghentikkan tangan Luhan yang hendak mencabut infusnya.

"Lepaskan! A-Aku harus kembali ke tempatku!" Teriak Luhan sambil memberontak. Tangan Sehun semakin kuat mencengkeram tangan Luhan. Tapi Luhan terus memberontak lebih kuat dan berteriak memohon untuk dilepaskan.

"A-aku harus menemui Daddy! Ia akan marah jika aku tidak ada disana!" teriaknya panik sambil menangis.

"Luhan! Xiao Lu!" Bentak Sehun kepada Luhan. Luhan terkejut mendengar bentakkan keras Sehun, ia berhenti memberontak lalu menatap Sehun dengan takut.

"Kau tidak perlu kembali kesana. Mereka sudah ditangkap. Kau aman sekarang." Ucap Sehun lembut sambil tersenyum.

"Benarkah?" Tanya Luhan tak percaya. Sehun tersenyum dan mengangguk.

"Iya,Luhan. Mereka sudah ada dalam penjara. Mereka tidak akan mengganggumu lagi."

Luhan tersenyum,lega. Tapi sedetik kemudian ia mengernyitkan dahi bingung.

"Luhan? Siapa itu?" tanyanya pada Sehun. Sehun tertawa kecil.

"Luhan itu kau. Namamu Luhan.." Ucap Sehun sambil memeluk Luhan.

Sehun terkejut,ketika dengan kasar Luhan mendorong tubuhnya menjauh.

"Lalu… Kau siapa?" Tanya Luhan sambil menghempas tangan Sehun yang masih menggenggamnya.

Sehun bisa merasakan hatinya yang hancur berkeping-keping. Terpukul oleh pertanyaan Luhan yang begitu singkat.

Ia menatap Luhan tidak percaya.

Kenapa bisa Belahan Jiwanya,

Pengisi hatinya,

Tidak mengenal dirinya?

TBC

Nyiahahhaha Cerita macam apa ini author dodol! /jedugin kepala ketembok/

Sinetron abis ya ahahha tapi mau gimana lagi..

Angst tetep Angst..

Dan biar ga berbelok dan tetap pada jalannya (?)

Author harus menulis ini semua..

Karena sekali Angst tetap Angst! YEAH!

Review yaa kalo mau chitchat follow twitter: wufanqing