LAST CHAPTER

"Aku… Aku opsir Oh Sehun. Aku polisi yang menangani kasusmu.." Jawab Sehun Lirih.

"Opsir Oh Sehun?" Tanya Luhan. Sehun mengangguk. Ia masih menatap Luhan,tidak percaya.

Bagaimana bisa Luhan melupakannya?

"Terima kasih telah membantuku Opsir.." Seru Luhan sambil memegang tangan Sehun. Sehun tersenyum pahit.

Sehun menatap Luhan yang menatapnya dengan polos.

Tidak ada cinta,tidak ada gairah yang terpancar disana.

Hanya tatapan hangat penuh syukur untuk seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya.

Tatapan itu meyakinkan Sehun,bahwa Luhan benar-benar melupakannya.

"Ah iya Luhan, lihat siapa yang ada disini!" seru Sehun mengenyahkan pikiran negatif dan rasa sakit yang ia rasakan.

"Siapa mereka?" Tanya Luhan polos.

"Mereka berdua orang tuamu.." ucap Sehun. Luhan memandangi orang tuanya tak percaya. Bibirnya terbuka lebar.

"Orang tuaku?" tanyanya pelan. Sehun mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

Kedua orang tua Luhan menghampiri dan memeluknya.

"iya Luhan. Ini kami,orang tuamu.." ucap Ibu Luhan disela tangisannya.

"Luhan,anakku maafkan kami. Maafkan kami karena tidak menjagamu dengan baik." Ucap ayah Luhan lirih. Aneh,Luhan rasa ia tidak pernah belajar bahasa Cina. Tapi kenapa ia bisa mengerti semua yang diucapkan Kedua orang yang mengaku sebagai orang tuanya?

'Apakah mereka benar-benar orang tuaku?' tanyanya dalam hati. Tapi keraguannya menguap saat ia mengingat dengan jelas kehangatan pelukkan orang tuanya saat ia kecil dulu. Tepat seperti ini,pikirnya. Harum Maskulin yang menyeruak dari kulit ayahnya serta harum Parfum Bunga mawar dari ibunya yang Luhan sangat favoritkan.

"Ayah.. Ibu..." Ucapnya pelan sambil terisak. Ia memeluk kedua orang tuanya dengan erat, seakan tidak ingin kehilangan mereka barang sedetikpun .

'Ayah... Ibu..' Aneh sekali rasanya mengucapkan kata itu,karena sepanjang hidupnya ia tidak pernah mempunyai sebuah Keluarga. Tapi Luhan merasa senang karena ia masih bisa memanggil orang tuanya,masih bisa bertemu dengan orang tuanya, tidak seperti Sehun. Bukankah Orang tua Sehun sudah meninggal?

Luhan mengernyit bingung.

Kenapa bisa ia tahu orang tua Opsir Oh Sehun sudah meninggal? Apa opsir itu pernah menceritakan orangtuanya pada Luhan?

Luhan mengerang ketika kepalanya terasa pusing. Semakin ia berusaha mengingat dan memikirkan alasan kenapa ia bisa mengetahui itu semua sakit dikepalanya makin menjadi. Ia tidak mengenal Opsir itu tapi kenapa ia bisa tahu tentang orang tua Opsir Sehun yang sudah meninggal?

"Aku akan memanggil dokter!" ucap Ayah Luhan panik sambil bergegas keluar. Sementara Ibu Luhan mengusap punggung Luhan sambil menangis.

"Lu?Baby, kau kenapa?" tanya Sehun dengan panik sambil mengusap kepala Luhan.

'Baby?' pikirnya.

'Kenapa Opsir ini memanggilku Baby?!' tanyanya dalam hati.

"Jangan Sentuh!" Teriaknya saat Sehun berusaha menyentuhnya lagi. Luhan begitu takut kepada Sehun,karena sikap Sehun kepadanya dan perasaan yang timbul akibat perlakuan Sehun. Ia merasa takut ketika tiba-tiba saja jantungnya berdegup cepat saat Sehun menyentuhnya.

'Siapa kau sebenarnya?'

"Sehun-ssi..." panggilnya sesaat sebelum jatuh tertidur akibat obat bius yang disuntikkan dokter padanya.

Sehun masih tercengang tak percaya. Ia dengan gontai berjalan keluar meninggalkan Luhan yang sedang Diperiksa oleh Dokter. Ia terduduk lemas di deretan bangku diluar kamar Luhan. Menutup wajahnya untuk meredam isakkan pilu yang keluar dari bibirnya.


"Amnesia disosiatif?!" Tanya Sehun kepada dokter dihadapannya.

"Ya. Ia mengalami Amnesia disosiatif. Gangguan disosiatif ini ditandai dengan adanya perubahan seseorang tentang identitas, memori, atau kesadarannya. Ganggguan ini muncul akibat peristiwa traumatik yang pernah terjadi dalam kehidupannya.. Seperti Pelecehan seksual atau kekerasan fisik .."

Sehun mengusap wajahnya kasar.

"Tapi,kenapa Aku?Kenapa hanya diriku yang ia lupakan?" Lirih Sehun.

"Memorinya hilang secara acak,ia tidak bisa mengontrol memori apa yang bisa ia simpan maupun yang ingin ia lupakan. Pada Amnesia disosiatif biasanya didapati gangguan ingatan yang spesifik saja dan tidak bersifat umum. Informasi yang dilupakan biasanya peristiwa-peristiwa penting yang pernah terjadi pada dirinya. Umumnya amnesia disosiatif kehilangan ingatan tentang identitas pribadi seseorang, tetapi daya ingat informasi umum masih utuh. Tapi anda tenang saja tuan. Kita bisa melakukan psikoterapis untuk mengembalikan ingatannya secara perlahan.." ucap dokter itu. Sehun menatap dokter itu dengan penuh harap.

"Ya, Lakukan apapun agar ingatannya kembali.."

'Agar ia mengingatku kembali..'


Sehun menggebrak meja keras. Perasaannya kesal bukan main. Jongin,Yixing dan Kris yang berada di ruang rapat bersama Sehun hanya bisa menghela napas.

Sehun pikir,dengan dirinya pergi ke kantor pagi ini,ia bisa menghapus kegundahannya saat melihat Luhan sedang bercanda tawa bersama kedua orang tuanya.

Ia tahu ia bersikap seperti anak kecil,tapi tidak bolehkah ia merasa cemburu? Tidak bolehkah ia merasa egois? Luhan adalah belahan jiwanya. Jika Luhan bahagia maka ia yang harus menjadi alasan Luhan untuk bahagia.

Tapi berada di kantor membuat semuanya bertambah parah. Apalagi saat Yixing memberi kabar yang menjadi alasan perasaannya begitu kesal dan marah seperti sekarang.

"Jelaskan padaku kenapa Luhan bisa menjadi seorang tersangka?!" tanyanya pada Yixing.

"Ia terbukti ikut terlibat dalam kerja sama antara Wolf gang dan mafia Korea Utara. Atasan kita sudah mengeluarkan surat penangkapannya pagi ini." Ucap Yixing. Sehun menggeram frustasi.

"Apa mereka tidak mengerti juga?! Luhan adalah budak! Ia adalah korban! Bahkan aku mempunyai bukti visum ia mengalami kekerasan!" Ucap Sehun nyalang.

"Tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Kuasa hukum dari wolf gang akan menuntut jika kita berlaku tidak adil dan mengistimewakan Luhan. Lagipula anak buah Wolf Gang mengatakannya sendiri saat mereka diinterogasi jika Luhan juga terlibat dalam beberapa kejahatan yang mereka lakukan .." jelas Jongin. Sehun tertawa mencibir.

"Dan kau percaya pada mereka?! Kau percaya pada bajingan-bajingan itu?!" Ucap Sehun sambil mencengkeram kerah baju Jongin.

"Berhenti Sehun! Sikapilah masalah ini dengan tenang dan dewasa!" bentak Kris sambil menarik Sehun menjauh dari Jongin. Sehun menepis tangan kakaknya kasar.

"Persetan! Aku tidak akan membiarkan dia dimasukkan kedalam penjara! Aku bisa membawanya kabur dari Negara ini.." gumam Sehun sambil berjalan mondar-mandir dengan resah.

"Sehun berpikirlah dengan jernih!Jangan melakukan hal bodoh yang akan kau sesali nanti!" ucap Kris pada adiknya.

"Kris Hyung benar,jika kau melakukan itu kau akan ditahan juga. Dan lagi, hukuman Luhan akan semakin berat. Apakah kau mau seperti itu?" Tanya Yixing. Sehun menghela napas berat,terduduk lemas disalah satu kursi sambil menutup wajahnya yang sudah memerah karena emosi.

"Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan untuk melindunginya?" lirihnya.

"Aku tidak mau melihatnya masuk kedalam penjara. Aku tidak mau Hyung." Ucapnya dengan suara yang gemetar,menahan tangis yang hampir keluar dari matanya.

Kenapa Semuanya menjadi rumit?

Belum lagi masalah Luhan yang melupakannya.

Kenapa untuk hidup bahagia saja begitu susah?

"Sebenarnya ada satu hal yang bisa kita lakukan…" ucap Kris akhirnya.

Sehun mendongak,menatap kakaknya penuh harap.

"Kita bisa naik banding di persidangan nanti. Sehun benar,dengan adanya bukti kekerasan yang Luhan alami,hukuman Luhan pasti akan berkurang. Dan bisa jadi Statusnya berubah menjadi korban.." jelas Kris.

"Tapi ia akan tetap dihukum karena ia adalah seorang imigran gelap.." ucap Yixing pelan.

"Ia akan dideportasi dari sini.." lanjut Yixing.

"Dideportasi? Berapa lama?" tanya Sehun sambil mengusap wajahnya,frustrasi.

Ia lalu sadar betapa konyol pertanyaannya. Kenapa ia harus bertanya?bukankah ia seorang polisi yang tahu bagaimana aturan-aturan tentang deportasi? Sebenarnya jawaban seperti apa yang ia harapkan?

"Entahlah, mungkin 5 tahun,10 tahun atau selamanya. Aku tidak tahu. Itu akan diputuskan nanti dipengadilan. Tapi dideportasi lebih baik daripada ia harus dipenjara.." jawab Jongin sambil menatap sahabatnya yang sedang kebingungan dengan iba.

"Lebih baik?" ucap Sehun sambil mendengus.

"Kau lebih baik menyuruhku mati..." lanjut Sehun sambil menutup wajahnya.

"Tapi,ini demi kebaikannya. Kau harus membiarkannya pergi,Hun..." Ucap Jongin lagi sambil mengusap-usap punggung sahabatnya.

Dan Sehun benar-benar berpikir bahwa sebaiknya Jongin menyarankannya untuk mati daripada harus melepaskan Luhan.


Akhirnya saat dipersidangan. Pengajuan naik banding Luhan diterima. Luhan terbebas dari hukuman penjara. Tapi seperti yang Yixing duga,Luhan tetap dihukum karena ia adalah imigran gelap. Maka ia tetap harus dideportasi. Keputusan itu membuat Senyum Sehun yang mengembang,redup kembali. Dan rasa sesak dihatinya,terasa lagi.

Malam itu Sehun datang ke rumah sakit dengan gontai. Ia melihat ayah Luhan berada diluar kamar. Ia memutuskan untuk menjelaskan kondisi Luhan saat ini. Dan walaupun ia akan menyesali keputusannya,ia mengusulkan ayah Luhan untuk membawa Luhan pulang ke Cina sesegera mungkin sebelum pihak Imigrasi datang dan memaksa Luhan pergi. Ia tidak ingin orang-orang imigrasi menyeret Luhan ke penjara di bagian imigrasi dan saat waktunya tiba,menendang Luhan keluar dari Korea. Sehun lebih baik melihat Luhan pulang dengan baik-baik. Daripada harus diseret kasar oleh petugas imigrasi. Walaupun ia tahu,keduanya tetap membuat hatinya terasa sakit.

"Ya aku akan membawanya pulang ke Beijing. Dan aku tidak akan membiarkannya kembali ke sini. Aku juga akan mengurus masalah hukum Luhan Disana. Kau tidak perlu khawatir... "Ucap Ayah Luhan langsung menyetujui ide Sehun.

Sehun mengangguk lemah.

"Bisakah aku meminta sesuatu padamu?"

Sehun mendongak menatap ayah Luhan.

"Anakku telah melalui hidup yang berat selama di sini. Aku ingin membayarnya dengan memberikan hidup yang lebih baik dan benar.. Maksudku dengan hidup baik dan benar adalah hidup sesuai dijalur yang semestinya,jalur yang dikehendaki tuhan. Dan hidup tanpa dirimu."

Sehun terkesiap.

"Tapi aku mencintai dirinya.." Ucapnya lirih.

"Iya aku tahu. Tapi apa menurutmu kau bisa hidup hanya dengan cinta?"

Pertanyaan Ayah Luhan membuat Sehun terpana.

Benar,Memang benar..

Cinta memang tidak cukup untuk bertahan hidup di dunia yang kejam dan keras seperti ini.

Dan kenyataan itu membuat Sehun tidak berdaya.

"Jadi kumohon bisakah kau mengakhiri semuanya? Bisakah kau membiarkannya hidup bahagia tanpa dirimu? Hubungan kalian adalah hubungan yang salah dan tidak akan pernah dikehendaki oleh Tuhan. Aku maupun dirimu juga mengetahui hal itu. Aku tidak ingin ia dihujat dan ditekan oleh masyarakat. Aku tidak mau ia hidup dengan sengsara lagi. Jadi bisakah kau merelakkan anakku? Jika kau menyayanginya biarkan ia hidup lebih baik tanpa dirimu.."

Ayah Luhan menepuk pundak Sehun sekilas. Ia tersenyum pada Sehun tanpa mengetahui hati Opsir yang duduk disampingnya sudah hancur berkeping-keping.


Sehun dengan perlahan membuka kamar Luhan dan melihat ibu Luhan yang masih terjaga. Ia membungkuk untuk memberi salam ketika wanita paruh baya itu memandangnya.

"Kenapa anda belum pulang ke hotel nyonya?" Tanya Sehun lembut.

"Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja aku ibu.." Jawab Ibu Luhan sambil tersenyum.

"Ya sebenarnya aku sudah mau pulang. Tapi Luhan mengigau dan menangis. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian. Maka aku memutuskan untuk tinggal dan menemaninya." Jelas Ibu Luhan. Sehun mengangguk mengerti.

"Pasti ia bermimpi buruk." Ucapnya pelan. Matanya yang begitu lelah menatap Luhan yang sedang tertidur lelap.

Sehun berpikir, bagaimana jika suatu saat Luhan bermimpi buruk ia tidak ada disana untuk memeluknya?

"Aku mau membeli kopi sebentar. Apakah kau mau?" tawar Ibu Luhan lembut.

Sehun menggeleng lemah.

"Baiklah . Tolong jaga Luhan sebentar ya.." Ucap ibu Luhan sambil berjalan keluar. Setelah ibu Luhan keluar ,Sehun dengan perlahan naik kekasur Luhan dan tidur disampingnya. Luhan menggeliat karena merasa terganggu. Tapi untungnya ia tidak terbangun dan kembali tertidur. Tangannya yang kurus dengan otomatis memeluk tubuh Sehun,Lalu menenggelamkan wajahnya di dada Sehun. Sehun yang sedari tadi terdiam karena takut Luhan bangun, mengehela napas Lega.

"Apakah kau tadi bermimpi buruk Lu?" bisiknya pelan.

"Maaf aku tidak ada disini saat kau bermimpi buruk.." Ucapnya sambil mencium pucuk kepala Luhan.

'Maaf aku tidak akan bisa lagi memelukmu saat kau bermimpi buruk.'

Sehun memeluk erat Luhan. Merasakan kulit halus itu ditangannya untuk yang terakhir kali.

Kata-kata dari ayah Luhan terngiang diotaknya. Membuat Sehun mengeratkan pelukannya ditubuh Luhan.

"Aku takut Lu..." lirihnya.

"Aku takut kehilanganmu.."

'Tapi Aku telah berjanji untuk melindungimu bukan? Maka, jika memang ini caraku untuk melindungimu,aku akan membiarkanmu pergi.'

Ibu Luhan menutup pintu kamar rawat inap anaknya dengan rapat,mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar.

Ia lalu duduk disamping suaminya dengan perlahan.

"Opsir itu terlihat begitu mencintai anak kita.."

"Apa?" tanya suaminya. Ibu Luhan menghela napas lalu memandang suaminya.

"Oh Sehun. Ia sangat mencintai Luhan.."

Ayah Luhan menghela napas.

Ia juga mengetahui hal itu. Dari cara Sehun memandang anaknya, dari cara Sehun melindungi anaknya. Ia tahu, Polisi itu mencintai anaknya. Tapi ia juga tahu Sehun dan anaknya tidak bisa bersatu.

Mereka tidak diperbolehkan tuhan untuk bersatu.

Maka dari itu,walaupun ia tidak tega ,ia akan tetap memisahkan anaknya dengan Sehun.

Walaupun ia merasa bersalah karena sudah menyakiti hati opsir itu dan akan menyakiti hati Luhan nantinya.


Sehun berdiri disana, ditengah bandara Incheon untuk mengantar Luhan pergi.

Mengantarkan belahan jiwanya pergi.

Luhan yang sedari tadi tersenyum riang menghampiri Sehun dan berdiri tepat dihadapannya. Sehun berusaha menahan hasratnya untuk memeluk Luhan,mencium tiap ukiran wajah Luhan yang indah dan memohon padanya untuk tidak pergi. Tapi tanpa ia duga Luhan mendekatinya dan sudah terlebih dulu menarik Sehun kedalam pelukannya.

"Terima kasih atas segalanya Sehun-ssi …" ucap Luhan sambil menepuk-nepuk punggung Sehun. Sehun balas memeluknya erat,enggan melepas tubuh kecil yang berada didekapannya.

Luhan tidak merasa canggung ataupun memberontak. Malah dengan anehnya ia merasa nyaman didekapan Sehun. Seakan-akan tangan kokoh itu memang tercipta untuk merengkuhnya,melindungi dirinya.

"Ya sama-sama Lu. Berkunjunglah ke Seoul kapan-kapan.."

'Kembalilah kesini.. Kembalilah padaku..'

"Ya,aku akan berkunjung sesekali."

Sehun memejamkan matanya,menahan tangis. Hatinya terasa sakit.

Ia lalu melepas pelukannya dari tubuh Luhan,takut jika ia memeluk tubuh itu lebih lama ia tidak akan mau melepaskannya lagi.

Ia memperhatikan wajah Luhan yang sedang tersenyum kepadanya.

Senyum itu.

Senyum yang selama ini menjadi candu untuknya.

Seakan ia bakal mati jika tidak melihat senyum dari bibir itu selama sehari saja.

Ia tidak tahu bagaimana ia akan hidup tanpa senyum itu.

Tanpa Luhan.

"Jaga diri baik-baik Luhan.." ucap Sehun sambil memegang pipi Luhan. Luhan menenggelamkan wajahnya kedalam belaian tangan Sehun. Belaian itu begitu menghangatkan.

Begitu menggetarkan hati.

Sehun memutuskan untuk pergi. Setelah ia berpamitan,dengan cepat ia berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak bisa lagi menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya.

Entah kenapa dada Luhan terasa sesak melihat punggung tegap itu terus menjauh dari dirinya,hingga hilang ditengah kerumunan orang-orang dibandara. Luhan terdiam disana,seperti kehilangan arah. Ia tidak tahu kenapa ia begitu ingin menyusul Sehun dan memohonnya untuk tinggal sebentar lagi. Untuk sekali saja,ia ingin melihat wajah Sehun lagi, merekam ukiran-ukiran wajah Sehun untuk terus ia ingat, untuk ia simpan didalam memorinya.

Hatinya mendorong ia untuk melangkah menyusul Opsir itu. Tapi saat ia ingin melangkah menyusul Sehun,sebuah tangan menahannya.

"Ayo kita pulang Lu.." ucap ayah Luhan.

Luhan lalu mengangguk lemah.

Ia akan pulang ke Negara asalnya,tapi entah kenapa hati dan jiwanya seakan ingin tinggal.

Tinggal bersama Sehun.

Setelah beberapa bulan pulang ke Beijing. Luhan akhirnya sudah mulai terbiasa dengan kehidupan disana. Ia Sudah mulai kerasan tinggal dirumahnya sendiri. Walaupun ia sudah terbiasa,ia tetap tidak bisa tidur dengan nyenyak. Saat ia bangun ditengah malam entah kenapa perasaannya terasa kosong. Seperti ada yang kurang dari dirinya. Tapi ia tidak tahu apa. Dan lagi, mimpi-mimpi aneh selalu mendatanginya. Jika ia bermimpi buruk dan menakutkan Ia masih bisa menanganinya. Tapi Mimpi indahnya bersama sang Opsir yang membantu menyelesaikan kasusnya di Korea, tidak bisa ia tangani hanya dengan berdoa dan meminum obat penenang. Mimpi indah yang selalu Membuat ia terbangun dengan hati yang sakit dan kepala yang pusing.

Mimpi yang dialami Luhan bermacam-macam. Seperti adegan film yang berputar. Suatu malam ia akan bermimpi tentang Dirinya yang tidur dipelukan Opsir itu,mendengar kata-kata menenangkan opsir itu berdesir merdu ditelinganya. Atau di malam yang lain, ia bermimpi Opsir itu mencium hidungnya kala ia mengikat dasi yang bertengger dileher Opsir tampan itu. Ia takjub pada dirinya sendiri karena bisa mengingat semua detail Mimpi-mimpi itu. Ia bisa mengingat Kemeja hitam yang Opsir itu pakai,serta kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya kala suatu malam ia bermimpi bergandengan tangan dengan opsir itu disebuah taman bermain.

Bahkan kemarin malam ia bermimpi sedang bercinta dengan Opsir itu. Walaupun terkesan menjijikkan karena ia harus bermimpi bercinta dengan seorang pria,tapi bagi Luhan mimpi itu begitu Indah,begitu menghangatkan jiwa.

Harusnya ia merasa terangsang dengan mimpi seperti itu,lalu menuntaskan hasratnya dikamar mandi. Tapi yang Luhan lakukkan hanya menangis,sambil mencengkeram baju yang menutupi dadanya erat. Entah kenapa sebongkah rindu kepada sang Opsir memukul hatinya hingga rasanya begitu sakit dan menyesakkan.

Dan ketika di suatu pagi sebuah kardus besar berisi pakaian,kaset,sebuah pucuk surat dan kartu undangan berwarna merah datang ke rumahnya. Luhan tersadar bahwa selama ini ia tidak bermimpi. Semua itu bukan mimpi,melainkan memori yang tersimpan diotaknya. Memorinya bersama Sehun.

Sehun yang ia cintai sepenuh hati.

Luhan tahu ia tidak bisa berbuat apapun, Walaupun memorinya akhirnya kembali tapi semuanya sudah terlanjur,semuanya sudah terlambat.

Ia hanya bisa menangis,tangannya yang gemetar masih memegang erat kartu undangan berwarna merah marun dengan inisial S&M berwarna emas didepannya .

Sudah terlambat untuk menangis bukan?

Karena sekeras apapun ia menangis.

Sehun..

Sehun tercintanya..

Tidak akan pernah kembali..


Dalam beberapa bulan ini Sehun hidup seperti biasa.

Walaupun terasa ada yang hilang dari dalam dirinya,tapi Sehun mencoba untuk tetap hidup dengan normal.

Pagi ini,Seorang kurir datang untuk mengambil pakaian-pakaian Luhan yang akan ia kirim ke Beijing. Sehun melihat sendiri pakaian-pakaian serta kaset-kaset favorit Luhan dan surat untuk Luhan darinya dimasukkan kedalam kardus.

Sehun yang sedang melamun terkejut ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang.

"Baby?" tanyanya.

'Baby?'

'Baby Lu..'

'Luhan..'

"Apakah kau lapar tuan Oh?" tanya Minah sambil berjinjit lalu mencium pipi Sehun. Sehun tersenyum kecil.

"Ya,aku lapar. Ah apakah kau membawa undangan pernikahan kita?" tanya Sehun. Minah mengangguk dan memberikan undangan berwarna merah itu pada Sehun.

"Tunggu sebentar." Ucap Sehun pada kurir yang sedang mengepak paket yang akan dikirimnya. Dengan perlahan Sehun meletakkan kartu undangan itu di dalam kardus yang akan ia kirimkan pada Luhan lalu menyuruh Kurir itu untuk menutup kardus dengan rapat,sebelum ia berubah pikiran.

Sehun akan menikahi tunangannya beberapa hari lagi.

Ia tidak bisa terus menunggu Luhan.

Selama beberapa bulan ini ia bagai hamster di roda yang berputar. Sekeras apapun ia berlari di roda berputar itu ,ia tetap berlari di tempat. Berlari berputar di roda harapan. Harapannya untuk menggapai Luhan.

Sementara Luhan terus berjalan semakin jauh dari jangkauannya.

Maka dari itu Sehun memutuskan untuk berhenti mengejar Luhan. Ia Tidak bisa lagi menjadi hamster bodoh yang berlari ditempat terus menerus sampai akhirnya mati kelelahan.

Ia harus terus menjalani hidup.

Setidaknya jika ia hidup, ia masih bisa menghirup udara yang dihirup Luhan. Menapak di tanah yang ditapakki Luhan. Memandang Langit yang sama dengan yang dipandang oleh Luhan.

Dan menurut Sehun,hidup seperti itu sudah cukup, daripada harus mati dan kehilangan segalanya.

Malamnya setelah Minah pergi,Sehun memutuskan untuk menonton Tv.

Drama kesukaan Luhan sedang ditayangkan. Entah kenapa walaupun ia membenci sebuah drama,Sehun menontonnya hingga selesai.

Setelah itu ia memutuskan untuk berendam di bath-tubnya. Saat ia mencelupkan dirinya kedalam bath tub, secara otomatis kenangannya bersama Luhan terputar diotaknya. Ia lalu memutuskan untuk berhenti berendam. Mungkin sebaiknya ia tidak berendam untuk waktu yang lama.

Lalu Sehun berbaring dikasur empuknya. Matanya memandang langit-langit kamarnya. Tidak ada suara apapun yang terdengar ditelinganya. Hanya suara jam yang berdetik maju,menjadikan satu detik yang sudah berlalu menjadi masa lalu,dan menjadikan detik yang berikutnya menjadi sebuah masa depan.

Tapi untuk Sehun detik yang lalu maupun detik yang sekarang tidak akan merubah apapun. Beberapa juta kalipun jam berdetik, Luhan tidak akan pernah kembali tidur disampingnya. Tersenyum sambil menikmati senandung buruk Sehun sampai ia tertidur. Menjadikan tangan Sehun bantalan untuk kepalanya seperti yang biasa ia lakukan.

Dan saat itu juga air mata mengalir dipipinya.

Suaranya yang serak memenuhi kamar kosongnya ketika ia mengerang,merasakan sakit didadanya.

Sehun menertawai dirinya sendiri.

Kenapa ia baru menyadari kenyataan ini sekarang?

Kenyataan bahwa sekeras apapun ia berusaha,ia tetap merindukan Luhan.

Semua hal yang dilakukannya akan mengingatkannya pada Luhan.

Sehun tahu harapannya ini konyol dan tidak logis.

Tapi ia berharap ia mendengar ketukan pelan dari balik pintunya lagi,mendengar suara lembut itu memanggil namanya, dan ketika ia membuka pintu ia berharap bisa menemukan tubuh kecil itu berdiri disana dengan senyuman yang Sehun rindukan.

Seperti waktu pertama kali Luhan masuk ke apartemennya. Ke kehidupannya.

Tapi Sehun tersadar,

Luhan sudah bahagia dengan keluarganya di Cina.

Seberapa rindupun Sehun pada Luhan. Ia harus merelakannya.

Seberapapun Sakitnya. Sehun harus melupakan Luhan.

Tidak, ia tidak bisa melakukannya.

Siapa yang ia bohongi?

Walau rasanya seperti akan mati,

Sehun tetap tidak bisa melupakan Luhan.

Sehun tak pernah percaya akan takdir,tapi untuk sekali ini saja ia berharap takdir itu nyata.

Ia juga berharap bahwa Luhan adalah takdirnya.

Karena seberapa lamapun berpisah,jika memang Luhan adalah takdirnya.

Ia rela menunggu untuk bisa hidup bersamanya.

END