Chapter 2: The Bitter-Sweet Past

Sebuah Hubungan berakhir bukan karena ditakdirkan untuk berakhir. Mereka berakhir karena satu atau keduanya,membuat pilihan untuk menyerah.

Sehun menghela napas berat entah untuk keberapa kalinya. Tubuhnya ia tumpu ke pintu kamar asramanya. Hari ini begitu menyebalkan untuknya. Pelanggan dikafe tempat ia bekerja tak henti-hentinya menggoda ia dikasir,membuat antrian menjadi panjang dan manager kafe memarahinya karena kinerja Sehun yang dinilai sangat lambat. Memang salahnya para pengunjung wanita sengaja berlama-lama memilih orderan demi menawan hatinya? Kalau boleh jujur ia juga kesal melihat wanita-wanita genit itu menggoda dirinya. Rasanya ia ingin mencekik mereka dengan rambut ikal yang selalu mereka pilin dengan –sok- manja.

Apakah mereka tidak tahu? Setebal apapun mereka berdandan,segenit apapun mereka menggoda,mereka tidak akan pernah menawan hati Sehun.

Karena Hati Sehun hanya milik Luhan seorang.

Luhan.

Sehun tersenyum sendiri ketika nama Luhan terbesit diotaknya. Ah begitu rindunya ia kepada sang kekasih. Dari dua tahun yang lalu,Luhan sudah masuk Universitas favoritnya. Meninggalkan Sehun yang sekarang sudah di tingkat akhir masa sekolah menengahnya. Hari-harinya begitu sunyi tanpa Luhan. Ya, walaupun Chanyeol sepupunya dan kekasihnya Baekhyun yang berisik selalu ada disisinya,tapi tetap saja tanpa Luhan hari-harinya tidak menyenangkan. Luhan sangat sibuk mengerjakan tugas kampusnya akhir-akhir ini,hingga ia tidak sempat mengunjungi Sehun di asrama.

Sehun cemberut, alis tebalnya saling bertaut.

Jika dihitung-hitung sudah berapa lama ia tidak bertemu Luhan? 5 harikah?Seminggu?Sebulan?

"Aish!" gerutu Sehun sebal sambil menghempaskan dirinya dikasur. Kamarnya begitu sepi karena Jongin teman sekamarnya pasti sedang berkencan dengan pacarnya.

Oh ayolah ini malam Minggu Sehun. Siapa yang tidak pergi berkencan dengan orang terkasih?

Mungkin hanya para lelaki single. Dan juga dirinya.

Ia mengeluarkan ponselnya dan memandang foto Luhan yang menjadi Home screen di ponselnya. Luhan memakai jas hitam,kemeja putih dan berdasi hitam dengan senyum cerah terpancar diwajahnya. Senyum itu tidak pernah gagal membuat Sehun kembali jatuh cinta lagi pada Luhan.

Seketika itu ponselnya berdering,nama Luhan tertera dilayarnya. Dengan cepat ia angkat teleponnya dengan hati yang hampir meledak kegirangan.

"Baby!" panggil Sehun antusias.

"Se-Sehun..." Ucap Luhan pelan. Suara Luhan yang begitu lirih menyesakkan dada Sehun. Wajah tampannya yang tersenyum lebar kini memberengut,sedih.

"Baby,ada apa?" tanya Sehun khawatir.

"Sehun,a-aku ada didepan kamarmu.."

Tanpa berpikir panjang Sehun segera berlari kearah pintu asramanya. Dengan cepat ia membuka pintu dan menemukan sosok pria mungil yang sedang menangis sesenggukkan berdiri didepannya.

"H-hyung?"

Luhan mendongak,mata yang penuh air mata dan dengan kantung yang sudah membengkak itu menatap Sehun dengan sayu.

"Sehun.." lirihnya sambil menyeruduk Sehun dan memeluknya erat. Sehun yang sempat terkejut akhirnya merespon Luhan dengan memeluk tubuh itu erat didekapannya.

"Apa yang terjadi?" tanya Sehun sambil mengusap punggung kekasihnya.

"Mereka sudah tahu tentang hubungan kita.." ucap Luhan disela isakannya.

"Mereka siapa?"

"Orang tuaku.."Sehun terdiam sesaat. Banyak pertanyaan terlintas diotaknya.

'Bagaimana bisa mereka tahu?'

'Bagaimana respon mereka?'

'Well tentu saja respon mereka tidak bagus Sehun,lihat!Kekasihmu sedang menangis tersedu-sedu. Apa yang kau harapkan?'

"Mereka menyuruhku untuk meninggalkanmu."

Perih terasa dihati Sehun. Bahkan hanya mendengar kata 'Meninggalkan' terucap dari bibir kekasihnya hati Sehun sudah sesakit ini. Lalu bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?

"La-lalu-"

"Tentu aku tidak mau Sehun-ah.."

Sehun menghela napas yang tanpa ia sadari,sedari tadi sudah ditahannya.

"Aku mengatakan pada mereka kalau aku tidak akan pernah meninggalkanmu,maka dari itu mereka memutuskan untuk meninggalkanku. Sebelum mereka pergi mereka menyuruhku untuk tidak pernah pulang ke Beijing dan mengakui mereka sebagai orangtua jika aku masih bersamamu.."

Luhan menangis lebih keras. Luhan begitu menyayangi dan menghormati orangtua'nya. Bahkan saat orangtua Luhan menitipkannya kepada bibinya di Korea 15 tahun yang lalu dengan alasan mereka terlalu sibuk bekerja untuk mengurusi Luhan,ia menurut saja. Walaupun ia tidak pernah melewatkan sehari saja tanpa berpikir untuk menelepon orang tuanya, sekedar bertanya kabar dan saling mengucap rindu. Tapi ia memilih untuk tetap bertahan di Negara yang asing bagi dirinya. Yang terpenting adalah kebahagiaan orang tuanya,dan Luhan rela melakukan apapun untuk memenuhinya. Bahkan dengan mengorbankan kebahagiaan masa kecilnya sekalipun.

Tapi untuk masalah yang satu ini Luhan tidak ingin lagi berkorban. Ia ingin mempertahankan Sehun. Memang ia terdengar begitu durhaka,mementingkan kekasih dibanding orang tuanya sendiri. Tapi untuk apa mempertahankan orang yang tidak ingin mempertahankannya? Orang tua Luhan sudah membuangnya sejak lama,jadi kenapa mereka repot-repot mengurusi 'sampah' yang mereka buang?

Luhan sudah lelah berkorban. Sekarang saatnya ia mengutamakan kebahagiaannya. Dan sumber kebahagiaannya hanyalah Sehun.

"Sayang.." panggil Sehun lembut. Luhan tersadar dari kemelut pikirannya,lalu merespon Sehun dengan remasan dikaus yang menutupi punggung Sehun.

"Apa kau tidak mendengarkan aku?" tanya Sehun lembut.

"Memangnya kau bilang apa tadi?" tanya Luhan polos. Sehun tertawa kecil,lalu memeluk Luhan dengan gemas.

"Aku akan menjagamu,melindungimu dan mencintaimu setiap harinya. Memastikan bahwa keputusan yang kau buat benar dan kau tidak akan pernah menyesalinya." Ucap Sehun lembut sambil mengecup pucuk kepala Luhan.

"Aku tidak akan menyesal. Kenapa aku harus menyesal jika aku merasa bahagia?" ucap Luhan sambil memandang Sehun. Sehun tersenyum lebar hingga matanya menyipit,membentuk bulan sabit.

Dari beribu ekspresi Sehun yang Luhan tahu (dan mungkin hanya Luhanlah yang tahu),ekspresi Sehun yang seperti ini adalah ekspresi favoritnya. Apalagi jika alasan Sehun memasang senyum selebar itu adalah dirinya.

"Aku mencintaimu Luhan,jadilah milikku.." ucap Sehun sesaat sebelum mengecup bibir Luhan.

Luhan tidak perlu menjawab pernyataan cinta Sehun. Karena dari ciuman,sentuhan dan dari Namanya yang luhan Desahkan malam itu, Sehun sudah menemukan jawabannya.

Bahwa Luhan juga mencintainya.

Dan Luhan adalah miliknya.

.

.

.

Sore hari setelah pesta kelulusan Sehun,ia membawa Luhan kerumahnya. Ia berniat untuk mengenalkan Luhan pada orang tuanya.

Sebenarnya Luhan menolak ajakkan Sehun,karena untuk apa dikenalkan? Mereka sudah bertetangga selama 15 tahun! Kenapa harus berkenalan lagi?

Sehun memutar bola matanya saat mendengar Luhan protes sepanjang jalan.

"Hey,mereka memang mengenalmu Hyung. Sebagai temanku,bukan sebagai kekasihku. Ya kan?" ucap Sehun.

Dan saat ia mendengar helaan napas panjang dari Luhan ia tahu bahwa Luhan akhirnya menyerah.

Sehun sudah memprediksikan semuanya dari malam sebelumnya. Sehun tahu pasti orang tuanya akan terkejut,tapi mereka tidak akan merespon seperti orang tua Luhan. Mereka menyayangi Sehun lebih dari apapun,mereka sangat memanjakan Sehun karena Sehun anak satu-satunya. Bahkan jika Sehun meminta godzilla dihari ulang tahunnya mereka tidak akan ragu untuk mencarinya. Jadi tidak mungkin kan mereka memisahkan Sehun dengan kebahagiaannya?

Tapi prediksi Sehun salah.

Orang tuanya sama saja dengan orang tua Luhan. Lebih dramatis menurutnya. Ibunya menangis sampai pingsan. Ayahnya mendengus dan berteriak membentaknya. Bahkan ia menampar Sehun keras saat Sehun ingin membela diri.

"Kau keluar dari rumah ini! Aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu!" ucap ayah Sehun geram.

Luhan yang sedari tadi mengkerut dibelakang Sehun sudah menarik Sehun untuk pergi. Tapi Sehun yang egois tetap berdiri ditempatnya sambil mengelus pipinya yang panas. Seringaian terpampang diwajah tampannya.

"Baik,baiklah. Aku juga tidak sudi mempunyai orang tua yang tidak bisa menerimaku apa adanya!Aku pergi,terima kasih atas jamuanmu tuan Oh.."

Ucap Sehun sambil menggenggam tangan Luhan dan pergi dari rumahnya.

"Sehun!Apa yang kau katakan tadi! Apa kau sudah gila?! Mereka orang tuamu!" Ucap Luhan sambil menarik tangannya dari genggaman Sehun. Tapi Sehun terus melangkah dengan cepat,genggamannya ditangan Luhan tak melonggar sedikitpun.

"Ah Sehun! Tanganku sakit!" rintih Luhan. Sehun mengentikkan langkahnya dan berbalik menghadap Luhan.

"Be-benarkah?Apa aku menyakitimu?" tanya Sehun khawatir. Luhan mengangguk pelan sambil memperlihatkan pergelangan tangannya yang memerah.

"Astaga,maafkan aku sayang. Maafkan aku.." lirih Sehun sambil menciumi pergelangan tangan Luhan. Luhan terkikik kegelian menerima kecupan-kecupan Sehun ditangannya.

"Aku sudah tidak apa-apa Sehun-ah.." ucap Luhan sambil tersenyum.

Sehun menatap Luhan dengan iba,lalu memeluk Luhan dalam dekapannya.

"Maafkan aku Luhan .." ucap Sehun.

"Sehun-ah aku tidak apa-apa.." jawab Luhan sambil membalas pelukkan Sehun.

Sehun tidak menjawab,punggungnya bergetar karena tangisan yang akhirnya ia keluarkan.

Sehun merasa bersalah karena sudah berkata kasar kepada orang tuanya. Tapi Sehun juga ingin mempertahankan Luhan selayaknya Luhan mempertahankan dirinya. Sehun tidak bisa melepaskan Luhan begitu saja.

Jadi jika orangtuanya menentang,Sehun akan tetap bersikeras. Karena semua yang ada didiri Luhan adalah semua yang Sehun perlukan untuk mengisi hidupnya.

.

.

.

Setelah itu mereka kembali ke apartemen Luhan. Mereka memutuskan untuk tinggal bersama diapartemen itu. Berbagi suka duka dan berbagi cinta.

Tapi Hidup tidak semudah mengatakan 'Cinta' terhadap satu sama lain. Tidak akan pernah semudah itu. Sehun dan Luhan mengalami kesulitan ekonomi yang sangat parah. Pekerjaan Sehun sebagai barista kafe,pekerja bangunan pada malam hari dan pekerjaan paruh waktu Luhan sebagai guru Les tidak bisa memenuhi biaya hidup mereka. Sehun harus mengkandaskan impiannya untuk menjadi seorang penari profesional karena ia tidak mempunyai biaya untuk masuk ke sekolah seni manapun. Tapi Sehun tidak apa-apa. Karena kelangsungan hidupnya dengan Luhan lebih berharga dari semua impiannya.

Malam itu setelah Sehun kembali dari pekerjaannya sebagai buruh bangunan. Sehun dan Luhan bersantai disofa yang mereka dorong ke balkon. Luhan duduk diantara kaki Sehun yang sedang memeluk dan menghirup aroma Leher Luhan yang wangi dari belakang.

"Sehun... Besok Jatuh tempo biaya sewa apartemen kita.." ucap Luhan resah.

"Aku tahu.." balas Sehun tenang masih sambil menyesap harum Luhan. Luhan mendecak sebal. Kenapa kekasihnya masih bisa tenang dikondisi seperti ini? Apa Sehun lupa? Pemilik apartemen ini membenci mereka dan mempunyai mulut yang jahat. Luhan tidak ingin lagi memohon tenggat waktu yang dihadiahi cemoohan dan sindiran sadis yang melukai hatinya dari sang pemilik apartemen. Luhan masih ingat jelas kata-kata yang terlontar dari mulut wanita berbisa itu. Setiap kali ia mengingatnya bulu kuduknya meremang dan Hatinya terasa sakit bukan main.

"Aku tidak akan mengusirmu jika kau bayar tepat waktu! Tapi Walaupun aku mengusir kalian memangnya tempat bekas pasangan homo seperti kalian akan laku?Cih Menjijikkan.."

Setelah itu ia masuk ke apartemennya dan menangis di pelukan Sehun. Ia tidak mengatakan apapun pada Sehun,tapi Sehun mengerti. Luhan tidak perlu mengatakan apapun,karena Semua yang Luhan rasakan juga bisa Sehun rasakan.

"Lu?"

"Hmm?"

"Kau memikirkan apa?" ucap Sehun sambil meraih wajah Luhan untuk menghadap kearahnya.

"Tidak.." bohong Luhan sambil menggigit bibir bawahnya. Sehun tersenyum lalu mencium bibir Luhan.

"Apa aku sudah bilang bahwa kau tidak berbakat untuk berbohong?" ejek Sehun sambil tertawa. Luhan mengerucutkan bibirnya sebal.

"Jangan berbohong padaku Luhan. Katakan ada apa hmm?" ucap Sehun sambil menyapu hidung bangir Luhan dengan hidungnya yang mancung.

"Aku memikirkan kita.." ucap Luhan akhirnya. Ia mengistirahatkan dahinya di bahu Sehun yang lebar.

"Ada apa dengan kita?" tanya Sehun lagi sambil memainkan rambut Luhan.

"Entahlah,Ada apa dengan kita?" ucap Luhan berbalik tanya.

"Well kita punya wajah yang lumayan tampan. Oke,sebenarnya kita sangat tampan. Dan orang-orang pasti iri karena laki-laki tampan seperti kita sudah mempunyai satu sama lain.." Canda Sehun. Luhan tertawa dibahu Sehun. Entah kenapa,walaupun usaha Sehun menghiburnya terdengar bodoh dan memalukan tapi hal itu berhasil membuat hati Luhan tenang.

"Hei,jangan hiraukan ucapan orang orang okay? Kita baik-baik saja. Aku tidak butuh opini mereka,karena yang kubutuhkan hanya dirimu..." Ucap Sehun sambil mencium kepala Luhan.

Luhan mendongak,menatap Wajah Sehun yang begitu rupawan. Ia tersenyum lalu menangkup wajah Sehun.

"Aku juga. Yang kubutuhkan hanya dirimu Sehun.." ucapnya lalu menarik wajah Sehun mendekat dan mencium Sehun dengan lembut. Ciuman mereka semakin panas, tangan Sehun sudah menelusup kedalam kaos longgar Luhan. Tepat sebelum ia memainkan nipples Luhan, Luhan melepas ciuman mereka.

"Ah! Lalu bagaimana dengan biaya sewa apartemen kita Sehun?" ucap Luhan disela ciuman panasnya dengan Sehun. Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya lucu menunggu jawaban dari Sehun.

"Uh-Baby. Bisakah kita membicarakannya nanti?Kita sedang ditengah-tengah sesi 'panas' kita dan kau tiba tiba saja membahas topik yang bisa menurunkan gairahku.."

"Hei tapi ini penting! Kita bisa diusir jika tidak bayar! Apa kau mau kita melakukan sesi 'panas' di pinggir jalan?!" ucap Luhan ketus sambil beranjak dari paha Sehun. Luhan hampir tertawa saat melihat tonjolan di celana training Sehun.

"Kalau kau mau masuk kedalam celanaku kau harus mencari jalan supaya kita mendapat uang segera atau membujuk pemilik apartemen untuk memberi kelonggaran. Arra?" ucap Luhan sambil mengedipkan matanya lalu masuk menuju kamar,meninggalkan Sehun dengan ekspresi bodohnya.

"Yak! Aku tidak mau berbicara dengan nenek sihir itu! Napasnya Bau! Dan kau tidak bisa meninggalkan adikku setengah 'berdiri' seperti ini LUHAN!"

.

.

.

Paginya,Sehun akhirnya menuruti perintah Luhan. Ia menemui pemilik apartemen mereka dan memohon kelonggaran. Wanita itu memang memberikan tenggat waktu seminggu untuk mereka tapi setelah mulut jahatnya menyindir dan mencemooh Sehun. Sehun begitu kesal dan tangannya terkepal erat. Jika saja ia bukan wanita mungkin Sehun sudah menyumpal mulut sadis itu dengan kaos kakinya yang belum ia cuci selama sebulan. Well sebenarnya walaupun ia wanita suatu saat Sehun akan melakukan hal itu.

Ia kembali ke apartemen dengan tergesa-gesa,sebentar lagi Luhan harus berangkat kuliah dan ia belum menyiapkan sarapan apapun untuk kekasihnya itu. Sehun dengan cepat mengolesi selai strawberry favorit Luhan keatas roti gandum. Ia melipatnya rapi lalu menyusunnya dipiring. Tak lupa ia menuangkan susu untuk Luhan. Dan tepat sesudah sarapan sederhananya siap,Luhan keluar dari kamar. Rambut pirangnya yang tebal basah,dan aroma buah-buahan dari rambut Luhan menyeruak,menerpa hidung Sehun.

"Pagi baby.." ucap Sehun sambil menunggu Luhan menghampirinya. Luhan lalu memeluk Sehun dan menghadiahkan 'Morning kiss' untuk kekasihnya.

"Pagi Sehunku.. Bagaimana?Sudah berbicara dengan nyonya Gong?" tanya Luhan sambil mendongak menatap Sehun.

"Ya sudah,Nenek sihir itu memberikan waktu 1 minggu sebelum kaki gempalnya menendang kita keluar.."

Sehun berbalik,mengambil sepiring roti yang sudah ia buat khusus untuk sang kekasih yang akan melangsungkan Ujian semester hari ini.

"Kau membuat sarapan Sehun-ah? Wah,tumben sekali!" Luhan mengambil piring itu dengan tatapan takjub. Sehun mendengus.

"Ya! Aku sebenarnya ingin saja setiap hari membuatkanmu sarapan! Tapi aku tidak ingin kau ketagihan dan menjadi gemuk!" Sehun mencubit pipi Luhan keras. Luhan berteriak sakit dan cemberut.

"Sehun!" teriaknya sambil memukul tangan Sehun. Yang dipukul tangannya hanya tersenyum jahil lalu mengambil setumpuk roti dan menyuapinya ke mulut Luhan.

"Makan yang banyak baby. Agar nanti kau tidak kelaparan saat Ujian.."

Luhan hanya mengangguk karena mulutnya yang penuh dengan roti. Walaupun ia lebih tua 2 tahun daripada Sehun,tapi ia suka dimanja seperti ini. Dan Sehun juga tidak keberatan memanjakan Luhan karena Sehun mengerti dan memaklumi sifat Childish dari Luhan . Walaupun Sehun lebih muda tapi ia sadar benar bahwa dirinyalah yang paling dewasa (bahkan dalam masalah ranjang sekalipun) dibanding Luhan. Sehun mengerti kondisi Luhan yang kurang kasih sayang dari orang tuanya, dan untuk itu selain menjadi kekasih,Sehun berperan sebagai pengganti orang tua Luhan.

Sehun rela menjadi siapapun untuk Luhan.

.

.

.

Sehun sedang mencuci piring ketika ia mendengar pintu apartemennya terbuka lalu tertutup lagi dengan pelan. Tidak mungkin Luhan sudah pulang,pikirnya. Tidak mungkin ia sudah selesai mengerjakan ujian dalam waktu kurang dari 1 jam.

"Baby?" panggil Sehun sambil mendekat kearah pintu. Bahu tegap dan lebarnya merosot saat melihat sosok Luhan duduk menukuk Lutut didepan pintu. Punggungnya bergetar dan suara tangisan terdengar dari kepalanya yang ia tenggelamkan diantara kedua lututnya.

"Baby ada apa hmm?Kau kenapa?" tanya Sehun Lembut sambil mengusap rambut kekasihnya. Luhan mendongak,lalu memeluk Sehun dengan erat,wajahnya ia sembunyikan didada Sehun yang hangat.

"Aku tidak boleh ikut ujian,karena aku belum membayar uang semester lalu Sehun.." lirih Luhan.

Sehun menghela napas lalu mengusap kepala Luhan lembut.

"Pengawas ujian mengusirku dengan kasar,ia menggusurku keluar hingga terjatuh. Dan saat itu Tidak ada yang mau membantuku,mereka malah menertawaiku dan memandangku dengan jijik. Kenapa mereka seperti itu Sehun?! Aku bukan binatang yang membawa penyakit menular!" Luhan menangis lebih keras,suara tangisnya begitu pilu terdengar dikuping Sehun. Air mata mengancam untuk jatuh dari pelupuk matanya. Tapi Sehun mencoba kuat. Ia harus kuat untuknya dan untuk Luhan.

Sehun tidak berkata apapun. Jika ia mengatakan 'jangan menangis' bukankah itu terdengar keterlaluan?

Jika ia mengatakan maaf atau 'aku tahu rasanya' bukankah terdengar tidak tulus?

Jika ia mengatakan semua akan baik-baik saja bukankah itu terdengar klise?

Tapi hanya itu semua yang bisa ia katakan dikondisi seperti ini. Walaupun harus berkali-kali mengatakannya, karena memang hanya kata-kata itu yang bisa ia berikan untuk menguatkan kekasihnya.

"Lu,Jangan menangis..."

Karena tangisanmu menyakitiku.

"Maafkan aku.."

Maaf karena aku belum bisa melakukan apapun untuk membahagiakanmu.

"Semua akan baik-baik saja..."

Karena aku akan berusaha untuk membahagiakan hidupmu.

"Aku mencintaimu Luhan.."

Aku sangat mencintaimu.

.

.

.

Hari-hari berikutnya Luhan tidak berangkat Ujian,ia berdiam diri dikamar, bergelung dibawah selimut dan sesekali menangis. Sementara Sehun mengambil cuti untuk mengurus Luhannya dirumah atau sekedar memeluk Luhan hingga ia berhenti menangis dan tertidur.

Dihari kelima, Luhan memaksa Sehun untuk bekerja. Ia meyakinkan Sehun bahwa ia akan baik-baik saja sendirian di apartemen. Lagipula Sehun harus bekerja untuk membayar biaya sewa apartemen mereka. Maka dari itu,dengan terpaksa Sehun pergi bekerja.

Setelah Sehun pergi,Luhan terduduk di sofa,mata rusanya menatap kosong kedepan. Ia berpikir,bukannya dirinya juga harus mencari suatu pekerjaan? Ia tidak bisa membebani semua masalah hanya kepada Sehun. Kekasih macam apa dirinya? Maka dari itu Luhan memutuskan untuk pergi keluar dan mencari pekerjaan.

Luhan berjalan menyusuri jalanan kota Seoul, ia masuk dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan seorang pekerja. Tapi tidak satupun dari tempat-tempat itu yang menerima Luhan. Saat dirinya mulai putus asa ,seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Luhan menoleh dan mendapati seorang laki-laki paruh baya dengan setelan kemeja yang rapi sedang tersenyum padanya.

"Hai,aku Dokter Kim. Aku tidak sengaja melihatmu sedang melamar pekerjaan disebuah kafe. Apakah kau sedang membutuhkan uang?" tanya Pria itu ramah. Luhan melangkah mundur dengan takut. Bagaimana kalau orang asing ini bermaksud jahat kepadanya?

"Jangan takut. Aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam. Aku mau menawarkan sesuatu padamu. Apa kau mau berbincang sebentar?"

Luhan bisa saja lari menjauh dari laki-laki paruh baya itu. Tapi sisi lain dirinya juga penasaran dengan tawaran yang disinggung pria didepannya ini. Maka dari itu Luhan mengangguk dan mengikuti Dokter Kim duduk disebuah kafe.

Sehun melap keringatnya,lelah. Entah kenapa hari ini kafe begitu ramai dan riuh. Tidak hanya itu,hari ini juga tiba-tiba banyak pelanggan menjadi ceroboh dan menumpahkan minuman mereka di lantai dan meja.

Sehun sedang melap genangan Kopi yang berada disebuah meja ketika seseorang memeluknya dari belakang.

"Bisakah aku memesan satu Oh Sehun dengan ekstra gula?Karena ia tidak terlalu manis.." canda Luhan sambil tertawa kecil.

"Hei sedang apa kau disini baby?" ucap Sehun sambil berbalik lalu mencium dahi Luhan.

Manager Sehun yang melihat adegan itu berdeham keras. Sehun meringis sambi mengucapkan maaf dengan pelan. Ia lalu menyuruh Luhan untuk duduk dimeja yang baru ia bersihkan.

"Aku hanya ingin melihatmu bekerja Sehun-ah.." ucap Luhan sambil tersenyum.

"Baiklah baby,asal jangan menggodaku saat aku bekerja ok?Enjoy the show~" Ucap Sehun sambil mengedipkan matanya lalu pergi meninggalkan Luhan dan kembali bekerja.

Sehun tetap memperhatikan Luhan walaupun ia bekerja. Ia tidak bisa membiarkan kekasihnya yang mempesona duduk sendirian di kafe yang penuh dengan anak-anak muda labil yang mungkin saja mengincar Luhan. Dan perkiraan Sehun benar, seorang laki-laki tua dengan kemeja rapi duduk dihadapan Luhan.

'Usir keparat itu baby..' ucap Sehun dalam hati sambil mengelap meja tak jauh dari meja Luhan.

Tapi Kenapa Luhan malah tersenyum?Kenapa ia terlihat akrab dengan lelaki itu? Oh Luhan tidak akan tersenyum saat melihat gigi laki-laki itu berterbangan setelah dipukul oleh tangan Sehun yang sedang terkepal erat.

"Aish lihat saja nanti kau Laki-laki tua sialan dengan wajah seperti tumpukkan kot-"

"Sehun!" Panggil Luhan riang sambil menyuruh Sehun menghampirinya.

Sehun dengan langkah cepat menghampiri mereka. Laki-laki keparat-penggoda-kekasih-Sehun itu mendongak lalu tersenyum ke arah Sehun. Sehun duduk disebelah Luhan. Dengan cepat tangannya merangkul pinggang Luhan untuk menunjukkan pada laki-laki tua itu bahwa dirinya adalah kekasih Luhan.

"Dokter Kim,ini kekasihku Sehun yang sudah kuceritakan padamu sebelumnya.."

"Hai Sehun aku Dokter Kim. Salam kenal.." ucapnya sambil menjabat tangan Sehun. Sehun masih menautkan alis tajamnya. Terlihat tidak suka dengan kehadiran dokter kim dan kenyataan bahwa Dokter Kim dan Luhan pernah bertemu sebelumnya.

"Aku bertemu dokter Kim dijalan,lalu ia mengajakku berbincang dan aku menceritakan hubungan kita.." ucap Luhan malu-malu.

"Ya,hubungan kalian sangat manis.. Luhan juga menceritakan masalah ekonomi kalian,dan aku berniat untuk membantu.." Ucapnya sambil tersenyum. Lengan posesif Sehun melonggar dipinggang Luhan. Setidaknya ia tidak merasa terancam lagi,karena ia melihat cincin pernikahan dijari dokter Kim yang berada diatas meja.

"Membantu?" tanya Sehun penasaran.

"Ya,Sehun-ah! Dokter Kim sangat baik! Bahkan tadi ia sudah membayar biaya sewa apartemen kita!" Ucap Luhan antusias. Sehun mengerutkan dahinya.

"Hey! Kenapa kau membiarkannya membayar sewa apartemen? Itu tanggung jawab ku. Jangan menyusahkan orang lain Luhan!" Luhan cemberut saat Sehun dengan cepat menoleh kea rah dokter Kim dan sedikit membungkuk.

"Ah maaf Dokter Kim,sudah merepotkan. Aku pasti akan membayarnya segera. Sekali lagi maaf."

"Tidak perlu mengucapkan maaf. Lagipula aku membayarnya karena Luhan sudah setuju untuk membantuku..

"Sehun benar-benar bingung dibuatnya. Apa yang Luhan akan lakukan untuk membantu dokter ini? Luhan bukan mahasiswa jurusan medis,jadi kenapa Dokter ini butuh bantuan Luhan?

"Aku meminta Luhan menjadi sukarelawan dalam eksperimen Tim medis rumah sakit kami.." jelas Dokter Kim saat melihat kebingungan di wajah Sehun.

"Sukarelawan?" tanya Sehun. Luhan mengangguk antusias.

"Ya Sehun! Aku menyukai eksperimen dokter Kim! Jadi aku setuju untuk membantunya!"

"Tunggu sebentar,eksperimen apa?"

"Male pregnancy.."jawab Dokter Kim mantap.

"A-Apa?!"

"Kehamilan pada pria Sehun! Aku bisa mengandung anak kita!"

Kepala Sehun terasa pening. Dokter Kim,eksperimen,kehamilan pada pria . Semuanya menyerang kepala Sehun hingga rasanya ingin pecah.

"Ta-tapi kenapa Luhan?"

"Well aku kebetulan melihatnya melamar kerja,dan kulihat ia sangat butuh uang. Aku sendiri memang sedang mencari relawan,saat aku melihatnya aku tertarik pada Luhan. Aku juga bertambah yakin Luhan adalah orang yang tepat ketika ia bercerita tentang hubungan sesama jenis kalian." Jelas Dokter itu.

Sehun meneguk salivanya. Sebenarnya rasa kesal dalam hatinya sudah meluap-luap. Sialan! Luhannya ini adalah laki-laki paling berharga didunia!Bagaimana bisa Dokter ini menganggap Luhan sebagai kelinci percobaan?!

"Maaf aku menolak. Luhan bukanlah kelinci percobaan yang bisa kau pakai untuk menghasilkan uang. Aku berterima kasih karena kau sudah membayarkan biaya sewa apartemen kami. Tapi aku akan tetap menolak. Aku akan membayar uang yang sudah kau pakai. Jadi bisakah kau pergi membawa serta percobaan medis keparatmu itu?" ucap Sehun dengan ekspresi Datar dan keras andalannya. Luhan hanya bisa diam. Jika sudah seperti ini,walaupun nada bicaranya sangat tenang, Luhan tahu pasti Sehun sedang sangat marah. Sekali. Dan ia tidak ingin membantah Sehun yang sedang marah.

"Baiklah. Tapi aku akan tetap menunggu . Jika kalian berubah pikiran hubungi aku. Sampai Jumpa Luhan-ssi,Sehun.." Ucap Dokter Kim sambil beranjak pergi.

"Luhan,sudah berapa kali kubilang jangan memutuskan sesuatu sesuai kehendakmu! Kau harus membicarakannya dulu denganku!" Mata tajam Sehun menusuk Luhan yang menciut takut.

"Ta-tapi Sehun.. Ini kesempatan yang bagus. Kita butuh uang! Dan tawaran Dokter Kim adalah hal yang mudah dilakukan.." lirih Luhan sambil menunduk. Sehun mendecih sebal.

"Mudah?! Kau Pikir memasukkan janin ketubuhmu itu mudah?! Bagaimana kalau percobaan itu gagal?! Bagaimana kalau percobaan itu membuatmu meninggal?! Apa kau tidak memikirkan itu Luhan?!" Sentak Sehun sambil menggebrak meja. Luhan terkejut melihat sikap Sehun. Ia memang sedang marah,tapi haruskah bersikap kasar seperti itu?Tak terasa air mata jatuh dari mata Luhan. Ia masih menatap Sehun tak percaya. Ini pertama kalinya Sehun menyentak dan memarahinya seperti ini. Apakah Sehun tidak mencintainya lagi?

"Tap-tapi Sehun,Uang yang ditawarkan dokter Kim sangat banyak ,kita butuh uang dan-"

"Uang tidak lebih berharga dari Keselamatanmu Luhan!"

Manager Sehun berdeham lagi,memperingatkan Sehun untuk berhenti berteriak.

"Oh Sehun,masuk keruanganku." Perintah Managernya.

"Fuck.." umpat Sehun pelan.

"Kita akan mendiskusikan masalah ini dirumah. Tunggu aku dirumah, dan sebelum aku kembali Jangan pernah berpikir untuk menghubungi dokter Kim tanpa persetujuanku. Arra?"

"Aku akan kembali bekerja." Ucap Sehun sebelum berbalik meninggalkan Luhan yang masih duduk terpaku.

….

Sehun menyayangi Luhan. Bukankah sudah dijelaskan sebelumnya?Sehun menyayangi Luhan lebih dari apapun.

Dihidupnya, hanya dua hal yang penting untuknya.

Kedua adalah bernapas dan yang paling pertama tentu saja kebahagiaan Luhan.

Maka malam itu diapartemen, Saat Luhan menangis sambil memohon pada Sehun untuk setuju dengan tawaran Dokter Kim Karena Luhan akan sangat bahagia jika mereka punya anak, Sehun dengan terpaksa menelepon dokter Kim dan menyetujui tawarannya.

Luhan memutuskan untuk melakukan tahap pertama percobaan yaitu proses fertilisasi pada hari sabtu,Hari dimana Sehun libur bekerja. Ia ingin Sehun berada disisinya,karena jika laki-laki yang lebih muda darinya itu berada disisinya, Luhan tidak akan merasa takut. Sehun yang menemani Luhan dikamar sebelum operasi hanya bisa mengelus-elus tangan Luhan lembut,ia tahu kekasihnya ini takut maka dari itu walaupun ia juga merasa takut ia harus terlihat tegar dan berani.

Mereka Datang pagi-pagi sekali ke rumah sakit bersalin dimana Dokter Kim bekerja. Sehun mengenal rumah sakit ini karena dulu ia dilahirkan disini. Appanya selalu menunjukkan rumah sakit ini jika mereka lewat untuk pergi ke suatu tempat.

Dokter Kim dan asistennya menyediakan kamar VIP untuk Luhan beristirahat sebelum dan sesudah operasi. Luhan juga disuruh untuk memakai gaun rumah sakit berwarna hijau yang jelek. Tapi walaupun gaun itu jelek dan terlihat kebesaran ditubuh Luhan,tetap saja bagi Sehun,Luhannya sangat mempesona.

"Aku bersumpah jika terjadi apa-apa denganmu akan kuruntuhkan rumah sakit keparat ini..." ancam Sehun sambil mendengus. Luhan tertawa lalu menangkup wajah Sehun,mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan.

"Hey,Aku akan baik-baik saja hmm? Kau tidak usah khawatir.." ucap Luhan sambil mencium ujung hidung mancung Sehun.

"Aku,akan keluar dari ruang operasi dengan selamat.."

Luhan tersenyum menenangkan dan Sehun mencium bibirnya.

"Sebaiknya begitu. Karena kau harus tetap hidup agar kita bisa menikah.." ucap Sehun sambil merapikan poni rambut Luhan.

Tepat sesudah itu Dokter Kim masuk dengan beberapa perawat untuk membawa Luhan.

"Luhan apa kau sudah siap?" tanya Dokter Kim ramah. Luhan mengangguk antusias Lalu duduk di kursi roda yang dibawa seorang perawat.

"Biar aku saja yang dorong.." Ucap Sehun lalu mendorong kursi roda keluar kamar,diikuti oleh Dokter Kim.

"Jadi nanti kita akan memberikan Luhan hormon wanita yang cukup agar Luhan bisa menerima kehamilan. Setelah itu kita akan melakukan fertilisasi vitro (a/n: Pembuahan diluar tubuh wanita. Luhan bukan wanita kan?) untuk menginduksi kehamilan ektopik dengan menanamkan embrio dan plasenta ke dalam rongga perut, tepat di bawah selaput perut Luhan.." jelas Dokter Kim disela perjalanan mereka ke ruang operasi. Luhan memperhatikan dengan seksama sambil mengangguk-angguk mengerti.

"Embrio? Jadi ia langsung diberikan Embrio?" tanya Sehun.

"Iya,kecuali kalau kau mau 'membuahi' Luhan dulu setelah proses penanaman hormon.."

"Ya!Ya! Aku ingin Sehun yang membuahiku!" ucap Luhan antusias.

Sehun tidak mejawab dan memalingkan wajahnya yang memerah setelah mendengar perkataan polos kekasihnya. Ia paling tidak bisa membicarakan hal-hal intim dengan bebas seperti ini. Menurutnya pembicaraan seperti itu tidak penting,Karena Ia adalah tipe orang yang 'talk less do more'. Maka dari itu setelah proses fertilisasi yang lama ,Sehun dan Luhan bercinta di kamar rawat. Bahkan dengan gaun rumah sakit jelek yang masih Luhan gunakan.

.

.

.

Sudah 2 minggu semenjak Proses fertilisasi Luhan dilakukan,pagi itu Sehun dan Luhan masih tertidur dikamar mereka. Sehun yang terbangun lebih awal memeluk Luhan lebih dekat. Sehun senang memperhatikan Luhan yang masih tertidur,wajahnya polos seperti bayi. Walau kadang Luhan mendengkur atau air liur mengalir disudut bibirnya,untuk Sehun, Luhan yang sedang tertidur masih terlihat menggemaskan. Ia tersenyum ketika Luhan dengan pelan mengerjap-ngerjapkan matanya.

"Morning baby.." sapa Sehun sambil mencium dahi Luhan. Luhan memberikan Senyum kecil sambil menatap Sehunnya.

"Morni-" Luhan tiba-tiba merasa mual,ia mendorong Sehun lalu berdiri dengan cepat. Ia berlari kekamar mandi untuk memuntahkan semua yang ada dalam perutnya diwastafel.

Sehun yang mengikuti Luhan membantu memijat-mijat tengkuknya.

"Baby,Gwenchana?" tanya Sehun khawatir.

Luhan mengangguk lemah.

"Apa kau mau ke rumah sakit?" Luhan kali ini menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya ingin tidur Sehun.." ucap Luhan sambil memeluk Sehun,Menumpu berat badannya ditubuh Sehun.

"Ya baiklah. Kita kembali ke kamar.."

Sehun membopong Luhan keluar lalu merebahkan Luhan diranjang.

"Aku akan ke apotik,kau istirahat ya?" ucap Sehun sambil mencium dahi Luhan.

Sehun pergi ke apotik untuk membeli obat dan vitamin. Ia sempat berdiri dengan ragu di rak khusus test pack kehamilan sebelum mengambil 2 pack dari rak. Sehun pernah lihat tanda-tanda orang hamil,persis seperti apa yang sedang Luhan alami. Jadi mungkin saja kan kekasihnya itu juga sedang mengandung?

Saat Sehun kembali keapartemen ia membangunkan Luhan untuk makan dan meminum obat yang ia beli. Ia juga menyuruh Luhan untuk mengetes kehamilannya. Luhan menurut,dan pergi ke kamar mandi.

20 menit lamanya Luhan di kamar mandi. Saat ia membuka pintu,senyum sumringah terlihat diwajahnya yang indah.

"Sehun,Aku hamil!" ucapnya riang sambil melompat kedalam pelukan Sehun.

"Jeongmal?" tanya Sehun tak percaya.

"Ne! Kita akan mempunyai anak!" jawab Luhan antusias. Sehun memutar badan mereka dengan bahagia. Entahlah,walaupun awalnya terasa aneh membayangkan seorang laki-laki bisa hamil tapi tetap saja Sehun tidak bisa menyangkal bahwa perasaannya sekarang Senang bukan main.

Luhan langsung mengabarkan berita kehamilannya pada Dokter Kim. Dan seperti yang sudah Sehun duga,Dokter Kim juga merasa senang atas kehamilan Luhan (Well karena percobaannya berhasil dan terlebih lagi ia bakal mendapat untung yang banyak dari percobaan ini) .

Setiap minggu Dokter Kim mengontrol kehamilan Luhan, dan di umur kehamilan Luhan yang ke 2 bulan Dokter Kim mengundang banyak wartawan dan memamerkan hasil kerjanya pada dunia.

"Bagaimana perasaan anda bisa hamil tuan Lu?Apa anda tidak malu?"

"Apa orang tua anda tahu anda hamil?"

"Apa anda tidak risih dilihat banyak orang?"

Luhan menyembunyikan wajahnya dibelakang bahu Sehun. Pertanyaan demi pertanyaan yang diteriakkan para wartawan membuatnya muak. Ia tidak ingin diekspos seperti ini. Bahkan pertanyaan-pertanyaan serta judul headline news di siaran langsung berita membuatnya merasa dipermalukan.

"Sehun.. Aku ingin pulang.." bisiknya. Suara Luhan terdengar bergetar. Tangannya mencengkeram lengan hoodie Sehun dengan kuat.

Sehun memegang tangan Luhan. Rahangnya mengeras,wajahnya yang tampan berubah menjadi keras dan datar. Jika waktu itu sehun sangat sangat marah sekali,sekarang Luhan bisa memastikan bahwa Sehun sedang teramat sangat sangat marah sekali.

"Maaf Luhan tidak bisa menjawab pertanyaan kalian lagi. Ia Lelah dan harus istirahat. Permisi."

Sehun lalu membawa Luhan keluar dari ruangan itu.

"Ya! Kalian mau kemana hah?! Wawancara belum selesai!" ucap dokter Kim sambil mengejar sepasang kekasih itu.

"Bukankah kau juga melihatnya tadi?! Mereka mempermalukan Luhan! Mereka memperlakukan Luhan seperti sebuah eksperimen langka!"

"Bukankah ia memang eksperimen langka? Tepatnya eksperimenku!" jawab dokter Kim.

Kesabaran Sehun sudah habis. Dengan keras Sehun meninju wajah Dokter Kim hingga ia tersungkur ke lantai.

"Luhanku bukan eksperimen,keparat!" Ucap Sehun nyalang.

"Sehun! Sudah! Ayo pulang!" rengek Luhan sambil menarik Sehun.

"Mau kemana kalian hah?! Kembali! Aku akan membayar kalian dengan uang yang banyak! Apa kalian lupa?!" teriak Dokter Kim sambil berusaha berdiri.

"Simpan uangmu itu pria busuk! Kami berhenti dari percobaanmu ini!"

"Oh lalu bagaimana dengan kandungan Luhan?Bagaimanapun juga itu bagian dari percobaanku.." tanya dokter Kim sambil tertawa mencibir.

"Kami akan menjaganya..." ucap Sehun mantap.

"Dan satu hal lagi. Bayi kami bukan hasil percobaan. Ia adalah anugerah dari tuhan.."

Ucap Sehun sebelum berbalik pergi membawa Luhan dan buah hati mereka.

"Aku akan membuat kalian menyesal! Aku akan membuat kalian menderita!Camkan itu!" Teriak Dokter Kim yang diacuhkan oleh Sehun.

Dokter Kim tidak main-main dengan ucapannya. Ia mengatakan semua hal buruk tentang Sehun dan Luhan dibeberapa siaran televisi. Hingga banyak orang yang membenci mereka berdua. Mereka sering mendapati surat-surat ancaman yang menyeramkan dibalik pintu mereka. Bahkan beberapa orang mencoret-coret pintu depan dan tembok apartemen mereka dengan kata-kata kasar. Tidak jarang juga tetangga apartemen mereka menggedor-gedor pintu apartemen mereka dengan keras untuk mengusir mereka keluar. Jika seperti ini Luhan hanya bisa meringkuk didalam pelukkan Sehun. Mendengarkan Sehun membisikkan kata-kata menenangkan.

'Apakah hidupku tidak bisa lebih buruk dari ini?' keluh Sehun dalam hati.

Pertanyaan retorik Sehun mungkin dianggap sebuah tantangan oleh semesta. Setelah masalah Dokter Kim dan fitnah-fitnahnya,sekarang Sehun dihadapi dengan masalah dimana Luhan mulai sakit-sakitan diusia kandungan 5 bulan. Saat ia memeriksakan Luhan ke dokter,ia di diagnosis menderita kurang gizi. Sehun juga sadar Luhan tidak pernah mengidam seperti ibu hamil lainnya. Mungkin Luhan menahan keinginannya karena kasihan pada Sehun.

"Lu?" panggil Sehun saat mereka sedang berpelukkan dikasur. Sehun bisa merasakan tubuh Luhan yang semakin kecil dipelukannya.

"Hmm?"

"Apa yang kau inginkan untuk makan malam?" tanya Sehun sambil mengelus rambut Luhan.

"Apa ya?Aku mau Sup rumput laut saja seperti biasa.." jawab Luhan.

"Kau tidak bosan makan sup rumput laur? Ayolah katakan padaku apa yang kau mau,bayi kita juga pasti ingin makanan yang enak." Ucap Sehun sambil mencium perut Luhan.

Luhan mengigit bibir bawahnya,terlihat ragu. Sehun yang menatapnya memberikan Luhan senyum menenangkan.

"Tidak apa-apa sayang. Aku punya cukup uang untuk membelikanmu semua yang kau mau.."

Luhan tersenyum lalu memberi kecupan dipipi Sehun sebelum mengabsen semua makanan yang ia mau. Dari Samgyupsal hingga macaron strawberry yang ia suka.

Terakhir,dengan puppy-eyes andalannya, Luhan meminta pindah dari Apartemen sesak mereka.

Mereka akhirnya pindah ke daerah Bucheon di Gyeonggi-do,Dengan menyewa sebuah rumah sederhana untuk mereka tinggal. Sehun meminjam uang sewa rumah mereka dari sebuah jasa peminjaman. Usia Kehamilan Luhan sudah mencapai 7 Bulan kala itu. Malam pertama mereka tinggal di Bucheon,mereka habiskan dengan bermalas-malasan,duduk santai disofa menikmati suasana Bucheon yang lebih nyaman daripada Seoul.

"Sehun.. Kapan kau akan menikahiku?" tanya Luhan tiba-tiba.

Sehun menatap Luhan lama.

"Kapan kau ingin menikah denganku?"

"Bagaimana kalau 8 Agustus?!" Ucap Luhan antusias sambil memainkan jari Sehun yang sedang meraba perutnya yang sudah membesar.

"Kenapa 8 Agustus Lu?" tanya Sehun.

"Karena pada bulan itu anak kita pasti sudah lahir! Ah! Dan juga 8 Angka yang bagus Sehun-ah! Angka 8 tidak mempunyai ujung dan bentuknya sama seperti lambang tak terhingga. Jadi jika kita menikah ditanggal itu aku harap pernikahan kita tidak akan pernah terputus dan cinta kita terus tumbuh hingga tak terhingga..." Jelas Luhan sambil tersenyum puas.

Sehun terkikik geli.

"Apa Sisi gombalmu ini timbul akibat dari kehamilan juga hyung?" tanya Sehun Jahil.

"Yak! Aku serius Oh Sehun! Jadi kau mau menikah denganku atau tidak sih?" tanya Luhan sambil menghadap Sehun dan melipat tangannya didada.

"Ya,8 Agustus. Kita akan menikah 8 Agustus nanti.." ucap Sehun sambil menarik tubuh Luhan yang ada dipangkuannya mendekat dan mencium bibir Luhan.

"Saranghae Sehun-ah.." ucap Luhan lembut sambil memandang Sehun dengan mata berbinarnya.

"Nado saranghae Luhan.."

.

.

.

Pada bulan Juli,Luhan melahirkan anaknya. Sehun membawanya ke rumah sakit segera setelah Luhan mengeluh perutnya terasa mulas. Sehun menemani Luhan didalam ruang operasi,para perawat sibuk menyiapkan perlengkapan operasi Caesar untuk Luhan. Sementara sang dokter menyuntikkan morfin kedalam tubuh Luhan.

"Sehun.."

"Ya Sayang?" jawab Sehun sambl menciumi tangan Luhan.

"Aku tidak merasakan sakit diperutku. Apa yang disuntikkan dokter padaku?"

Dokter yang sedang memakai sarung tangan karet tertawa mendengar pertanyaan Luhan yang kesadaraannya mulai menurun.

"Morfin.." Jawab dokter itu, "Aku memberikanmu Morfin.."

"Morfin?Sehun-ah apa kita bisa membeli morfin?Morfin membuatku bahagia.." ucap Luhan melantur. Sehun tertawa mendengar perkataan Luhan yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya pelan karena rasa kantuk yang melandanya.

"Kau tidak perlu morfin. Aku akan memastikan kau hidup bahagia Luhan.." jawab Sehun lembut sambil mengusap pipi Luhan.

"Benarkah?Kita akan bahagia selamanya kan Sehun?"

Sebelum Sehun menjawab,Luhan sudah kehilangan kesadaran. Operasi pun dilakukan. Sehun dengan resah terus membisikkan doa ditelinga Luhan. Saat suara lengkingan tangisan bayi terdengar,Sehun merasakan hatinya mencelos. Air matanya mengalir,ia menangis bahagia. Saat perawat mengangkat bayi kecilnya,sehun serasa terbang kelangit ketujuh. Bayi laki-lakinya terlihat begitu Lucu. Suara tangisan terdengar dari bibir kecilnya yang merah. Suster membawanya untuk dimandikan. Setelah bayinya bersih, ia memberikannya pada Sehun. Dengan hati-hati Sehun menimang bayi kecilnya.

"Selamat tuan Oh. Kau mendapatkan anak laki-laki yang lucu." Ucap perawat itu sambil tersenyum.

Sehun memandangi bayi laki-lakinya dengan takjub.

Padahal beberapa waktu lalu malaikat kecilnya ini masih menangis dengan keras,tapi saat Sehun menggendongnya perlahan tangisan itu mereda,dan anaknya kembali tertidur dengan tenang.

"Sayang,ini appa. Selamat datang didunia anakku. Appa menyayangimu.."

.

.

.

Luhan tersadar beberapa jam setelah operasi.

Saat Sehun memberikan bayi mereka kedalam gendongannya,Luhan langsung memerhatikannya dengan takjub.

"Sehun,ia anak kita.." ucapnya takjub.

"Ya,dia anak kita. Terima kasih Lu,kau memberikanku malaikat kecil yang menggemaskan.." ucap Sehun sambil mencium dahi Luhan. Luhan balas tersenyum lalu memainkan jemari kecil anaknya.

"Hai pria kecil,aku ayah yang melahirkanmu.." ucap Luhan sambil mencium jemari kecil anaknya. Luhan menertawakan kata-katanya sendiri. Ayah yang melahirkanmu terdengar aneh. Tapi mau bagaimana lagi,ia memang Seorang ayah yang baru saja melahirkan bayinya beberapa jam yang lalu.

"Nama apa yang mau kau berikan padanya?" tanya Sehun pada Luhan.

"Ziyu.. Aku ingin menamakannya dengan Ziyu. Bagaimana?"

"Ya,aku setuju. Oh Ziyu.. Oh Luhan.." ucap Sehun sambil mencium bibir Luhan dan mencium pipi Ziyu dengan sayang.

.

.

.

Saat Usia Ziyu sudah lebih dari 30 hari mereka menikah disebuah gereja kecil. Chanyeol sepupu Sehun datang bersama kekasihnya Baekhyun (yang kebetulan juga adalah teman dekat Luhan).

Di altar, mereka berjanji untuk saling melindungi ,mencintai dan bahagia selamanya.

Tapi ,benarkah selamanya itu nyata?


Luhan tidak bisa menyusui Ziyu. Hal itu membuat mereka harus membeli susu formula yang terbaik untuknya. Dan harga susu formula zaman sekarang benar-benar mahal,ditambah perlengkapan Bayi lain yang menghabiskan setengah dari Gaji Sehun sebagai penjaga loket parkir dan pelayan disebuah restoran. Ia sampai pusing memikirkan bagaimana caranya membayar tagihan listrik,air dan juga membayar hutang yang ia punya.

Kepalanya bertambah pusing ketika Ziyu terus-terusan menangis sepanjang malam.

"Shit Luhan! Bisakah kau membuat Ziyu diam?!" gerutunya kesal sambil mengurut-urut dahinya.

"Sehun! Jangan berkata kasar didepan anakku!" ucap Luhan sambil menimang Ziyu.

"Kalau begitu buat Ziyu diam! Hingga aku tidak perlu mengumpat kesal!" erang Sehun.

"Hey kalau ingin ia diam,belikan ia susu! Susunya sudah habis! Dan hari ini aku hanya memberinya air putih!"

"Kau pikir aku mesin uang eoh?! Kalau aku ada uang,daritadi sudah kubelikan Ziyu sekaleng susu!"

"Lalu apa yang harus aku lakukan?! Ziyu membutuhkan gizi! Tidak mungkin ia minum air putih terus!"

"Kalau begitu akan kucari wanita untuk menyusui Ziyu!"

Luhan menatap Sehun tajam.

Ziyu didekapan tangannya masih menangis kelaparan."Apa maksudmu ingin mencari wanita untuk menyusui Ziyu?Kau ingin menikahi wanita karena aku tidak cukup untukmu begitu?!"

Sehun berdiri lalu menghampiri Luhan. Tidak tahukah Luhan kalau ia sedang pusing? Kenapa Luhan menambah sakit kepalanya dengan mengomel tak jelas?

"Iya,aku mau mencari wanita yang cantik dan tidak menyebalkan seperti dirimu.."

Ucap Sehun sambil pergi meninggalkan Luhan ,tanpa melihat Air mata Luhan menetes ke pipi yang biasanya ia elus dan ia cium.

Sehun masuk kesebuah bar untuk menghilangkan stres, walaupun tidak ada uang dikantongnya ia tetap masuk dan memesan banyak minuman keras. Ia memilih untuk mabuk dan melupakan masalah-masalahnya. Akhir-akhir ini ia sering bertengkar dengan Luhan. Bahkan mereka pernah bertengkar hanya gara-gara Sehun menumpahkan kaleng susu Ziyu yang tak sengaja ia menyenggol susu tersebut. Aneh rasanya saat ia harus menyentak kasar Luhan yang ia cintai sepenuh hati. Setiap kata-kata kasar yang ia lontarkan begitu terasa pahit dan membuatnya merasa tidak pantas untuk menjadi seorang suami maupun ayah. Sehun sedang frustasi pasti Luhan mengerti,maka dari itu ia tidak pernah protes jika Sehun memarahinya atau ketika Sehun melakukannya dengan kasar saat mereka sedang bercinta.

Sehun tertawa pahit. Jika ada penghargaan untuk 'Ayah dan Suami terburuk' ia pasti akan mendapatkannya dengan mudah.

Sehun sedang mabuk berat ketika bartender menyuruhnya membayar dan pulang. Sehun yang sedang mabuk mengatakan dengan jujur kalau ia tidak punya uang,hingga ia dihadiahi pukulan dan tendangan dari penjaga klub. Ia ditendang keluar,tubuhnya terasa sakit ketika angin malam menusuk luka-luka lebamnya.

"Sehun?" ucap seseorang sambil memegang bahunya erat.

"Jo-Jongin?" Sehun menyipitkan matanya untuk melihat dengan jelas sosok yang sedang membantunya berdiri.

"Yeah sobat ini aku,teman sekamarmu.." ucap Jongin sambil membopong Sehun.

"Jo-Jongin? Wah sobat! Sudah lama sekali! Hahhahahaha.."

"Wah sepertinya kau mabuk berat. Aku akan membawamu ke hotel tempatku menginap.."

Lalu Jongin membawa Sehun ke hotelnya. Ia menaruh Sehun dengan pelan dikasur lalu mengelap darah yang tertempel di wajah Sehun dan mengobati luka-lukanya.

"Kau tahu Jongin?Hidupku sangat menyebalkan! Dan membosankan! Setiap hari hanya bekerja bekerja bekerja untuk memberi makan suami dan anakku! Tidak ada waktu untukku bersenang-senang.. sekalinya ingin bersenang-senang aku dipukuli haha. Lihat! Aku menyedihkan kan?" ucap Sehun melantur.

"Ne,kau menyedihkan. Sekarang cepat tidur!"

"Ya ya Aku akan tidur!Selamat tidur Luhan. Aku menyayangimu.." Ucapnya sambil memeluk guling dan akhirnya tertidur,walaupun sakit terasa disekujur tubuh dan juga hatinya.

Sehun terbangun saat mentari pagi menyeruak masuk menyilaukan matanya. Ia terkejut ketika ia mendapati dirinya disebuah tempat asing. Ia hampir mati berdiri ketika terdengar pintu terbuka dan sosok laki-laki muncul dihadapannya.

"Fuck!Jongin?!"

"Yak! Kau baru bangun sudah mengumpat seperti ini! Kau sama sekali tidak berubah Sehun!"

"Ke-kenapa aku ada disini? Kenapa kau ada disini?"

"Ceritanya panjang. Nanti akan kujelaskan setelah kita makan.." ucap Jongin lalu menyiapkan makan untuk mereka berdua.

Jongin bercerita bahwa dirinya sedang berlibur di Bucheon. Jongin sekarang menjadi trainee disalah satu manajemen artis terbesar di Korea. Fakta itu membuat Sehun takjub sekaligus iri.

"Ah ya,Perusahaanku membuka audisi tahun ini. Apa kau mau ikut?" tawar Jongin.

"Entahlah.." jawabnya ragu.

"Oh Ayolah Sehun ini kesempatan bagus! Aku tahu benar bakatmu, kau pasti akan diterima dan debut dengan mudah!"

Akhirnya Sehun mengangguk,setuju dengan tawaran Jongin. Tidak mungkin ia melepas impiannya selama ini. Sudah cukup dirinya menaruh impian itu dalam-dalam. Sekarang saatnya ia mengambilnya kembali.

Maka dari itu saat malam tiba ia dan Jongin berjanji untuk bertemu di stasiun untuk pergi ke Seoul pukul 11 malam nanti.

Sehun mengendap-endap masuk kerumahnya,dengan pelan ia masuk kekamarnya bersama Luhan. Luhan terlihat sedang meringkuk,tertidur dengan lelap. Dengan hati-hati ia mengambil bajunya dalam lemari dan memasukannya ke ransel. Sebelum pergi,ia menyelipkan amplop berisi surat dan beberapa lembar uang yang ia pinjam dari Jongin dibantal yang biasa ia pakai. Dan sebelum benar-benar pergi ia mencium Dahi Luhan dan membisikkan kata cinta yang mungkin sudah tidak ada artinya.

.

.

.

Sehun terus terdiam dikereta. Rasanya ia begitu bersalah meninggalkan Luhan dan buah hatinya. Tapi ia juga tidak bisa hidup seperti dulu terus. Menurutnya jalan hidupnya yang dulu betul-betul salah. Jadi bukankah kalau kita salah arah kita harus berbelok dan mencari arah lain? Maka inilah yang dilakukan Sehun. Hidup dijalan yang berbeda, atau menurutnya memilih jalan yang lebih baik.

Kehidupan Sehun sebagai trainee tidak terlalu buruk. Melakukan hal yang ia sukai membuatnya bahagia dan menikmati masa-masa trainee yang sulit. Sehun kembali bekerja di cafe untuk menambah penghasilannya,kadang Sehun mendapat pekerjaan untuk menjadi Back dancer artis dari manajemennya. Setengah dari uang yang ia hasilkan ia kirimkan ke Bucheon. Bagaimanapun juga Ia tetap harus menjadi ayah yang bertanggung jawab untuk Ziyu.

Suatu malam Sehun sedang berbaring sambil memegang ponselnya. Hari ini manajemennya mengizinkan Sehun untuk menngambil dan mengaktifkan ponselnya. Sehun menatap ponselnya,ia ragu apakah ia harus menelepon Luhan atau tidak. Luhan pasti membencinya. Tentu saja,ia pergi begitu saja tanpa kabar. Sebelum ia memencet nomor Luhan,nama Luhan sudah muncul dilayar Hpnya. Dengan buru-buru ia mengangkat telepon itu.

"Yeoboseyo?"

"Sehun..." ucap Luhan Lirih. Hati Sehun berdebar saat mendengar suara yang bergetar itu. Terakhir kali Luhan meneleponnya dengan suara seperti itu,hal buruk terjadi padanya.

"Lu?Ada apa?" tanya Sehun khawatir..

"Sehun.." Ucap Luhan lagi. Isak tangis mulai terdengar dari ujung telepon.

Sebelum ia bisa menjawab,telepon terputus. Dengan cepat ia menyambar jaketnya dan berlari keluar.

"Sehun! Kau mau kemana?" tanya Jongin menahan tangan Sehun.

"Luhan! Ia sepertinya dalam bahaya!" Jawab Sehun.

"Memangnya ada apa?" tanya Jongin.

"Ia tadi meneleponku sambil menangis. Sebelum aku bisa menjawab ia sudah menutup teleponnya.." jelas Sehun dengan cemas. Jongin memandang Sehun dengan iba.

"Mungkin Luhan merindukanmu Sehun. Tapi kau tidak bisa keluar untuk menemuinya. Kau tahu sendiri kan peraturan disini?"

Sehun mendesah frustasi.

"Berpikir positif Sehun. Luhan baik-baik saja. Bersabarlah,3 minggu lagi kau bisa pulang dan menemuinya.." ucap Jongin menenangkan dan Sehun hanya bisa mengangguk dengan pasrah.

Sehun akhirnya kembali ke kamar. Ia menelepon Luhan berkali-kali namun tidak diangkat. Walaupun ia khawatir,ia tetap berpikiran positif. Mungkin Luhan hanya merindukannya. Seperti ia merindukan Luhan saat ini.

Di akhir bulan Juni Sehun mendapat hari Libur. Ia memanfaatkan liburannya mencari Hadiah untuk ulang tahun Ziyu yang pertama. Ia memilih sebuah boneka bambi berukuran sedang untuk Ziyu. Dan sebuah gelang kulit berwarna coklat yang disambung cincin emas untuk Luhan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka dibulan Agustus.

Sehun naik kereta menuju Bucheon malam itu. Membayangkan Ziyu yang sudah besar serta senyum cerah Luhan saat melihat gelang pemberiannya . Karena tidak terlalu jauh,Sehun memilih berjalan dari stasiun menuju rumahnya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir didepan rumahnya. Didepan pintu, Luhan sedang menghadap seorang lelaki berjas hitam. Dan napas Sehun hampir terhenti ketika lelaki itu mencium bibir Luhan.

Sehun yang geram berjalan dengan cepat menuju rumahnya. Mobil mewah yang terparkir didepan rumahnya sudah melesat jauh. Dengan keras ia menggedor pintu rumahnya.

"Sehun?"

Luhan tersenyum cerah saat melihat Suaminya berdiri didepan pintu.

Sehunnya pulang.

"Ada apa?" tanyanya pada Sehun saat melihat napas Sehun yang memburu dan eksperinya yang galak.

"Aku kemari hanya untuk memberikan ini pada Ziyu.." ucapnya sambil mengeluarkan boneka Bambi dari ranselnya.

"Dan juga menyatakan bahwa aku ingin bercerai.."

Sehun berbalik meninggalkan Luhan. Ia bisa mendengar teriakkan Luhan yang memanggilnya dan suara kaki Luhan yang berlari mengejar dirinya. Tapi ia tidak peduli. Ia tidak butuh penjelasan karena semuanya sudah jelas. Dari dulu,Semuanya sudah jelas salah.

Ia menyesal sudah pulang. Ia menyesal sudah kembali ke jalan hidupnya yang salah.

Sehun kembali ke Seoul. Perasaannya yang kalut membuatnya tidak berkonsentrasi dalam berlatih. Berkali-kali ia melakukan kesalahan dan dimarahi pelatihnya. Sehun juga mulai membuat keonaran. Seperti berkelahi dengan seorang trainee dan mabuk-mabukkan dikamar asramanya. Kesalahan yang ia buat sudah menumpuk hingga akhirnya ia dikeluarkan dari tempat trainee. Sehun sempat menjadi gelandangan karena ia tidak punya uang. Uang dari hasilnya menjual ponsel tidak cukup untuk memberinya tempat tinggal yang nyaman. Maka ia tinggal distasiun bawah tanah bersama gelandangan lainnya. Menari dilorong stasiun untuk membeli makanan.

Pada suatu hari di stasiun bawah tanah,Sehun membantu seorang Kakek-kakek tua yang hampir dicopet. Sebagai ucapan terima kasih,Kakek itu mengajak Sehun untuk tinggal dirumahnya dan bekerja menjadi pelayannya. Kakek itu sangat kaya dan memiliki perusahaan dimana-mana tapi ia hidup sebatang kara. Ia juga sering terkena penyakit karena tubuhnya yang sudah renta. Sehun bekerja mengabdi pada Kakek itu dengan setia dan Kakek itu menyayangi Sehun seperti cucunya sendiri.

"Sekaya apapun diriku aku tetap orang miskin.. Karena aku mempunyai segalanya kecuali cinta."

Ucap kakek itu suatu hari saat Sehun sedang menemaninya berjalan-jalan di taman.

Sehun tidak mengerti dengan perkataan kakek itu. Karena bagaimana ia bisa mengatakan ia merasa miskin kalau ia mempunyai harta yang berlimpah?

Tapi setelah dua tahun menjalani usaha yang diwarisi Kakek itu pada Sehun sebelum meninggal,Sehun mengerti.

Malam itu Sehun berbaring di kasur empuknya,ia menerawang memandang langit-langit sekarang mempunyai semua hal yang bahkan lebih dari yang ia impikan.

Tapi ia masih merasa ada yang kurang dari dirinya. Hatinya terasa kosong.

Harta berlimpah,Perusahaan dimana-mana,berkeliling dunia dengan pesawat pribadi serta didampingi wanita cantik.

Tapi Seorang Oh Sehun tetap tidak merasakan kebahagiaan.