Chapter 3

Jealousy can really show how much someone really cares.

Pagi itu Luhan bangun dari tidurnya dengan perasaan yang hambar. Biasanya ia akan terbangun dan langsung melihat wajah imut malaikat kecilnya. Tapi hari ini pertama kalinya ia bangun dan yang ia lihat hanyalah sisi tempat tidurnya yang kosong. Luhan menghela napas,sedih. Baru semalam ia ditinggal sang anak tapi ia sudah begitu merindukannya. Luhan segera menyambar ponselnya dan menghubungi ponsel Sehun.

Setelah beberapa kali nada sambung terdengar,Sehun akhirnya mengangkat telepon.

"Yeoboseyo ?Sehun?"

"Hei.." Sapa Sehun dengan suara parau, "Oh Selamat pagi sayang.."

Oh tidak suara ini..

Jantung Luhan berdegup cepat. Apa yang dikatakan Sehun tadi? Sayang?

"Se-sehun?"

"Ah ya?Maaf Hyung,tadi Hyemi mengajakku berbicara jadi aku tidak mendengarmu."

Luhan tertawa getir.

Dasar bodoh,tentu saja ia memanggil sayang kepada Hyemi. Kenapa Luhan berharap terlalu tinggi?

Lihatlah Lu,akibat kau menaruh harapanmu terlalu tinggi sekarang saat kau terjatuh rasanya begitu sakit.

"Apa Ziyu sudah bangun?" tanyanya dengan lemas.

"Sepertinya belum,kenapa?Kau ingin berbicara dengannya?"

"Ya,Aku rindu.."

Pada Ziyu.. Padamu..

Sehun tidak menjawab,tapi Luhan bisa mendengar suara langkah Sehun dan pintu yang dibuka dengan perlahan.

"Ah ia masih tidur Hyung.. Apa kau ingin aku membangunkannya?" Ucap Sehun dari seberang.

"Tidak Usah! Biarkan ia tidur.. Apa ia rewel tadi malam?"

"Tidak,ia bersikap baik. Bahkan ia masih tertidur dengan tenang saat aku mematikan lampu.."

Luhan lalu menanyakan beberapa hal lagi tentang Ziyu,bahkan ia menanyakan hal-hal yang tidak penting dari 'Piyama warna apa yang Ziyu pakai?' hingga 'Apa Ziyu mencuci kakinya sebelum tidur?'.

Kalau boleh jujur,alasannya terus bertanya –pertanyaan yang konyol- pada Sehun adalah ia ingin mendengar suara Laki-laki yang lebih muda darinya itu lebih lama.

Luhan tidak menyangkal jika ia masih punya perasaan pada Sehun. Hell,Dia masih mencintai calon mantan Suaminya itu seperti dulu. Saat Sehun melangkah pergi Luhan begitu terpukul dan sangat sedih. Tiap harinya ia menunggu Sehun mengetuk pintu rumah mereka. Tapi selama 1080 hari ia menunggu,ketukkan itu tak kunjung ia dengar dari balik pintu.

Luhan mengerti kenapa Sehun pergi,tapi yang tidak ia mengerti adalah kenapa selama ini ia masih tetap menunggu?

Pertama kali Luhan mendengar kabar Sehun adalah dari Baekhyun,sahabatnya saat SMA. Baekhyun menjadi pelanggan Kafe yang Luhan rintis siang itu. Mereka melepas rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Terakhir kali ia bertemu dengan Baekhyun adalah ketika Baekhyun datang ke upacara pernikahannya dan Sehun. Dan semenjak itu Baekhyun tinggal di Hongkong untuk urusan bisnis kekasihnnya,Chanyeol. Kala itu sebenarnya Luhan ragu menanyakan kabar Sehun pada Baekhyun karena ia belum siap dengan apapun jawaban yang Baekhyun beri. Jika Sehun tidak bahagia,tentu saja Luhan akan sedih dan Jika Sehun bahagia ia juga bahagia,namun tidak dipungkiri hati kecilnya merasa sedih karena Sehun menemukan kebahagiaan lain selain dirinya. Tapi akhirnya Luhan bertanya pada Baekhyun. Dan jawaban dari Baekhyun sukses membuatnya meringkuk dibawah selimut,menangis pilu saat malam menjelang.

Sehunnya sudah mempunyai cinta yang baru.

"Hyung?Bagaimana?Apa hari ini kau tidak sibuk?" tanya Sehun,menyadarkan Luhan yang sedari tadi melamun.

"Apa?"

Luhan mendengar Sehun tertawa diseberang telepon. Sehun mempunyai tawa yang khas. Dan Luhan menyukai suara tawa Sehun. Sejujurnya,Luhan menyukai semua hal tentang Sehun.

"Kau tidak berubah ya? Jika sudah melamun tidak akan ada yang akan kau dengar Hyung,bahkan suara bom atom sekalipun.." canda Sehun.

Oh untung saja mereka berbicara lewat telepon. Jika tidak,mungkin Sehun bisa melihat semburat merah dipipi Luhan.

Sehun masih mengingat kebiasaannya.

"Hari ini aku akan mengunjungimu ke kafe bersama Ziyu. Apa boleh? Baru sehari Ziyu tidak bertemu denganmu ia sudah merasa rindu.."

Luhan tersenyum. Ia sudah menyangka Ziyu akan bersikap seperti itu. Ia dan Ziyu terbiasa hidup berdua dan ia tahu pasti Ziyu tidak akan pernah bisa lepas dari dirinya terlalu lama.

Tapi yang tak ia sangka dan yang tidak ia sadari adalah bukan hanya Ziyu saja yang merindukan dirinya.

"Bisakah aku memesan satu kopi hitam plus senyuman manis dari pemilik kafe?"

Luhan mengalihkan pandangannya dari counter dan memandang Laki-laki yang berada didepannya.

"Minseok!" serunya sambil tersenyum.

"Selamat pagi Lu.."

"Pagi!Eh kenapa kau ada disini?Memangnya kau tidak ada praktek hari ini?"

"Ada sih,tapi aku ingin menemuimu dulu.."

Luhan tertawa sambil mendorong Minseok pelan.

"Ya!Jangan mulai! Baiklah tunggu sebentar tuan,kopi dan senyuman pesanan anda akan saya siapkan.." canda Luhan sambil tersenyum dengan manis. Minseok memilih menunggu di meja dekat jendela favoritnya. Ia senang duduk disini karena ia masih bisa melihat Luhan yang sedang bekerja di counter.

"Ini Kopimu.." ucap Luhan sambil menyuguhkan Kopi hitam pesanan Minseok.

"Thanks!"Luhan duduk diseberang Minseok,memandang dengan Puas Minseok yang sedang menyeruput Kopi yang ia suguhkan dengan nikmat.

"Lu,kopimu memang yang terbaik!" ucap Minseok sambil mengacungkan Jempolnya.

"Tentu saja. Kafeku terkenal bukan tanpa alasan Minseok-ah.." ucap Luhan bangga sambil tertawa jahil.

"Baba!"

Luhan langsung menoleh kearah suara dan melihat rambut jamur anaknya yang tengah menoleh kekiri dan kekanan,mencari dirinya.

"Ziyu!" panggilnya lalu beranjak mendekati Ziyu.

Senyum Ziyu merekah saat ia menemukan sosok babanya. Dengan sekuat tenaga Ziyu berlari mendekati Luhan lalu merentangkan tangannya meminta digendong.

"Baby,apa kau merindukan baba?" tanya Luhan sambil mendekap erat Ziyu ditangannya.

"Ne! Ziyu rindu sekali dengan baba! Ziyu rindu sekali dengan nyanyian baba untuk menemani ziyu tidur. Karena nyanyian Appa jelek!"

"Ya!" teriak Sehun tak terima sambil berdiri didepan Luhan.

"Apa yang kau bilang tadi hmm?nyanyian appa tidak bagus?" ucap Sehun sambil menggelitik Ziyu. Ziyu meronta kegelian. Luhan yang sedang menggendong Ziyu hanya tertawa kecil melihat kelakuan anak dan (calon-mantan) suaminya itu.

"Wah Ziyu kelihatannya senang sekali.." ucap Minseok yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang Luhan.

"Ah Minnie Ahjussi!" teriak Ziyu sambil merentangkan tangan meminta Minseok untuk menggendongnya. Dengan senang hati Minseok menggendong Ziyu dan bercanda tawa dengannya.

Sehun terdiam,memandang Minseok dengan tatapan tidak suka.

"Siapa kau?" tanyanya ketus. Luhan yang sedari tadi ikut bercanda dengan Minseok dan Ziyu menoleh kehadapannya.

"Oh iya! Aku lupa mengenalkanmu dengannya. Dia Minseok ,dokter yang merawat Ziyu dan juga-"

"Kekasihmu?" tanya Sehun memotong perkataan Luhan. Matanya yang tajam masih menatap Minseok dengan sinis. Sementara Minseok hanya tersenyum.

"Iya aku kekasihnya.." jawab Minseok santai.

"H-hei!Apa yang kau katakan?Ti-tidak Sehun bukan seperti itu.." Luhan terbata-bata,ia gugup sekaligus takut.

"Kalau dia kekasihmu,Memangnya kenapa? Aku tidak masalah." Ucap Sehun acuh.

"Aku pergi. Aku akan menjemput Ziyu sore nanti.." pamit Sehun lalu pergi meninggalkan Luhan yang diam mematung,dan merasakan pahit didadanya.

Sehun benar. Jika Minseok kekasihnya,memangnnya kenapa? Tentu itu bukan masalah untuk Sehun. Kenapa ia berharap Sehun akan terganggu dengan hal itu?Kenapa ia berharap Sehun akan cemburu?

.

.

.

Sehun membanting file yang ada di tangannya dengan keras.

"Ya! Apa kau bodoh?! Kenapa membuat laporan keuangan yang benar saja tidak bisa?! Kau Lihat?!Ini kesalahan fatal! Font yang kau pakai dihalaman ini dan halaman selanjutnya berbeda dan ukurannya lebih kecil!" ucap Sehun kesal sambil menyodorkan laporan kehadapan pegawainya. Pegawai itu menatap Sehun dengan takut sekaligus heran. Sejak kapan font yang berbeda adalah sebuah kesalahan fatal?

"Apa kau mau dipecat?" teriak Sehun nyalang, sementara pegawainya hanya duduk terpekur takut.

"Sudahlah! Benarkan ini dan serahkan kepadaku 2 jam lagi. Jika masih ada kesalahan,aku akan memecatmu hari ini juga! Keluar!"

Sang pegawai mengangguk mengerti,lalu bergegas keluar,menyelamatkan diri dari 'serigala' yang sedang mengamuk.

Sehun memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya sebentar dikursi kerjanya yang empuk. Oh kenapa moodnya hari ini begitu buruk? Entahlah,ia sedang ingin memarahi dan membentak semua orang. Bahkan office boy yang malang menjadi korbannya hari ini,karena ia memotong dan mewarnai rambutnya menjadi warna pirang. Seperti warna rambut Minseok.

"Brengsek.." gumamnya pelan.

"Siapa yang brengsek Jagi?" ucap Hyemi sambil mengurut dahi Sehun dari belakang.

"Hyemi?Aish,kapan kau masuk?" tanya Sehun terkejut. Namun membiarkan kekasihnya mengurut kepalanya yang pusing.

"Sejak 5 menit yang lalu,kurasa. Saat dahimu mulai berkerut pusing.." ucap Hyemi sambil tertawa kecil. Sehun ikut tertawa dan mulai menikmati pijitan Hyemi dikepalanya yang panas.

Sungguh bersyukur ia mempunyai kekasih seperti Hyemi. Hyemi Selalu ada di saat yang tepat. Disaat ia membutuhkan teman,dukungan dan cinta. Ia bertemu dengan Hyemi setelah proses pemakaman Kakek hyemi sekaligus kakek yang memberi Sehun tumpangan hidup. Saat pertama bertemu tidak ada perasaan spesial yang timbul, mereka sekedar bertegur sapa dan saling bertukar nomor telepon. Dan setelah itu saat kehidupan Sehun terasa hambar dan Kosong,Hyemi datang menemuinya. Menyuguhkan sejuta perhatian dan cinta hingga Sehun merasa Hyemi-lah orang yang tepat untuk memenuhi hidupnya yang kosong.

"Sehun sebentar lagi natal tiba.." ucap hyemi lembut.

"Oh ya?"

"Ne,Kau mau merayakannya dimana?Restoran perancis langganan kita? Atau kita berlibur disebuah hotel?" tanya Hyemi antusias.

"Tidak,kita rayakan natal dirumah saja bersama Ziyu. Ia pasti lebih senang merayakan natal dirumah daripada harus menginap disebuah hotel mewah.." ucap Sehun sambil menarik Hyemi kepangkuannya. Hyemi mengangguk mengerti lalu mencium bibir Sehun sekilas.

"Ya,jika itu yang kau mau.." ucap Hyemi menyetujui keputusan Sehun.

"Ah Sehun,bagaimana kalau natal nanti kita juga bertunangan?" tanya Hyemi. Matanya yang menatap Sehun berkilat penuh harap.

"Hyemi-ah-"

"Aku tahu Aku tahu. Kau belum bercerai dengan Luhan. Aku tidak apa-apa jika harus menunggumu bercerai dulu sebelum menikah. Tapi bisakah kita bertunangan dulu? Sekedar menunjukkan bahwa kita sudah terikat.." jelas Hyemi.

"Apa kau khawatir aku akan meninggalkanmu?" tanya Sehun. Hyemi mendesah,lalu mengangguk pelan. Sehun tertawa kecil.

"Baiklah. Natal nanti kita bertunangan. Ya?" ucap Sehun sambil mencium tangan Hyemi. Hyemi mengangguk antusias.

"Kalau begitu aku pulang dulu ya?Cepat pulang,aku akan membuatkan makanan kesukaanmu. Kita harus makan malam bersama.." ucap Hyemi sambil mengecup pipi Sehun dan akhirnya pergi meninggalkan Sehun yang kembali berkutat dengan pekerjaannya.

….

Sehun sampai digedung apartemen Luhan malam itu. Ia memarkir mobilnya dibasement lalu naik menuju apartemen Luhan. Sebenarnya ia malas menemui Luhan,karena entah kenapa ia masih merasa sebal terhadap Luhan, tapi ia sudah berjanji akan menjemput anaknya malam ini (padahal apa yang dilakukan Luhan terhadapnya?Jangan-jangan kau cemburu Sehun.).

Berkali-kali ia memencet bel,tapi Luhan tidak kunjung keluar untuk menemuinya. Sehun sudah kesal,ia tidak suka menunggu. Maka ia memutuskan untuk menelepon Luhan.

"Yeoboseyo?" Jawab Luhan dari sebelang telepon. Disisi lain,Sehun hanya diam,kemarahan dan gerutuan kesal yang ia sudah siapkan untuk memarahi Luhan tiba-tiba saja memudar mendengar suara Lembut itu menjawab teleponnya.

"Hyung,kau dimana?Aku ada didepan apartemenmu.." ucap Sehun akhirnya. Dengan lembut,tentu saja.

"Ah Sehun! Maaf,tadi kami makan malam dulu dengan Minseok. Aku sudah dekat,tunggu ya.." ucap Luhan dan setelah itu menutup telepon. Sehun termangu.

"Sialan,jadi aku menunggu disini sementara mereka bertiga makan malam layaknya keluarga kecil bahagia.. Cih keluarga bahagia apa! Itu keluargaku!" Gerutu Sehun kesal sambil memukul pintu apartemen Luhan.

Sudah 10 menit berlalu dan trio-keluarga-bahagia itu tak kunjung datang. Karena bosan,Sehun dengan iseng memainkan tombol password digagang pintu apartemen Luhan.

"20 april.." gumamnya sambil memencet angka 20 dan 04 ditombol password,menimbulkan suara 'Bip!Bip!' yang keras karena password yang ia masukkan salah.

"26 Juni.." gumamnya lagi. Oh tentu saja password apartemen Luhan adalah tanggal ulang tahun anak mereka Ziyu,Luhan memang gampang ditebak. Tapi Sehun salah, monitor kecil itu kembali mengeluarkan suara 'Bip!Bip!' bertanda password yang ia masukkan masih salah. Sehun berpikir sebentar, apa mungkin password Luhan adalah kombinasi tanggal ulang tahun dirinya dan Ziyu. Oh! Sehun tidak bermaksud narsis,tapi ya bisa saja kan?

Sehun mencoba kombinasi ulang tahun Ziyu dan ulang tahunnya di tombol password apartemen Luhan.

"2612" ujarnya pelan. Tapi kombinasi angka itu tetap salah. Ia tidak berhenti mencoba dan membalikkan angkanya menjadi 12 26. Dan pintu apartemen Luhan terbuka.

"Yeah!" Sehun besorak gembira,entah karena kejeniusannya memecahkan password apartemen Luhan atau kenyataan bahwa Luhan masih menggunakan tanggal ulang tahun dirinya untuk kunci pintu apartemen Luhan.

"Sehun?"

Sehun membeku,dengan terburu-buru ia menutup pintu apartemen Luhan dengan keras.

"Oh Hai Hyung! Pintumu tidak terkunci tadi,kenapa kau begitu ceroboh?!" Ucapnya gugup.

"Benarkah?" Luhan memandangnya bingung sementara Ziyu sedang tertidur pulas digendongannya.

"Ah dia memang selalu ceroboh.." Ucap Minseok sambil mengacak rambut Luhan.

'Well,memangnya aku bertanya padamu?!Bocah bulat sialan..'

"Ya! Aku tadi sudah menguncinya!Eh, Apa memang belum ya?"

Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya Lucu. Sehun tersenyum melihatnya. Luhan memang tidak pernah berubah, selalu lucu dan-

"Sudahlah,bagaimana kalau kau masuk?Kasihan Ziyu kedinginan.." ucap Minseok sambil mengusap pipi Ziyu.

Sehun memutar bola matanya jengkel.

'Terima kasih karena sudah menghancurkan khayalanku,sialan..'

"Ah ya baiklah,terima kasih untuk makan malamnya Minseok.." Ucap Luhan tulus.

Minseok tersenyum.

"Ya sama-sama. Aku pulang dulu ya? Nanti kutelepon.." ucap Minseok sambil melambaikan tangan dan akhirnya masuk kedalam lift.

Luhan masuk kedalam apartemen diikuti Sehun yang alisnya sudah berkerut,kesal.

"Aku tidak menyukainya.." ujar Sehun tiba-tiba sambil menyender di pintu kamar Ziyu.

"Baguslah,ia juga tidak menyukaimu." Canda Luhan sambil menaruh Ziyu ditempat tidur.

Sehun memutar bola matanya.

"Maksudku bukan seperti itu! Ia tidak baik untukmu dan Ziyu. Bagaimana bisa tubuh pendek seperti itu bisa melindungimu dan Ziyu?"

Luhan menoleh lalu memicingkan mata.

"Jangan berkata kasar seperti itu Sehun! Lagipula ia baik. Setidaknya selama ini ia ada disisiku saat Ziyu sakit." Sindir Luhan sambil berjalan keluar melewati Sehun.

"Ok Maaf! Tapi sekarang aku ada disini kan untuk menjaga Ziyu? Kau tidak perlu dia atau laki-laki lain.."

"Tapi kau tidak sepenuhnya disini Sehun." Lirih Luhan pelan. Sehun hanya terdiam ditempatnya. Ia bingung harus menjawab apa,karena ia sadar bahwa perkataan Luhan memang benar. Ia tidak akan sepenuhnya ada untuk Luhan.

"Sudahlah Hun. Aku lelah dan pusing. Pulanglah,biarkan Ziyu tidur disini. Aku akan mengantarkannya kerumahmu besok.." ucap Luhan sambil duduk lemas disofanya.

"Kau sakit?" tanya Sehun akhirnya. Lagi-lagi amarahnya meluruh melihat Luhan yang begitu lemah dan rapuh. Mana mungkin ia marah kalau ia sadar benar dirinyalah yang membuat Luhan terlihat serapuh ini?

"Tidak,aku baik baik saja.."

Sehun tentu tidak percaya,maka ia duduk disamping Luhan lalu menempelkan telapak tangannya didahi Luhan,mengukur suhu tubuhnya.

"Astaga kau panas! Kau sakit hyung! Kenapa masih bilang kau baik-baik saja hmm?" ucap Sehun panik.

"Aku tidak apa-apa Sehun! Pulanglah.." ucap Luhan sambil menepis tangan Sehun dari dahinya.

"Aku akan pulang setelah mengurusmu.. Aish dokter macam apa si Minseok itu,membawa orang sakit keluar malam-malam seperti ini.." gerutu Sehun sambil menggulung lengan kemejanya lalu mengangkat tubuh Luhan kedalam gendongannya.

"Ya!Oh Sehun! Turunkan aku!"

Luhan meronta didalam gendongan Sehun.

"Aish diamlah Hyung!Kau berat!" gerutu Sehun sambil menyeimbangkan tubuhnya. Luhan otomatis diam,dengan rasa bersalah ia memandang Sehun.

"Benarkah aku berat?" tanyanya sambil cemberut. Sehun tertawa.

Memang seru sekali menggoda Luhan seperti ini. Melihat mata rusanya berkaca-kaca memandangnya dengan sayu. Melihat bibir merahnya mengerucut lucu dan merajuk.

"Iya,maka dari itu diam saja ok?" Luhan akhirnya mengangguk dan menyembunyikan wajahnya dibahu Sehun. Ia malu jika harus bertatapan langsung dengan Sehun. Apalagi Sehun sedang menggendongnya menuju kamar. Mengingatkannya pada malam pertama mereka setelah resmi menikah.

Tubuh Luhan ditaruh diranjang dengan pelan oleh Sehun,ia lalu melepaskan kaos kaki Luhan dan menyelimuti Luhan dengan selimut.

"Diam disini Ok,aku akan membawa kompres dan obat untukmu.." ucap Sehun sambil merapikan poni Luhan yang menutupi dahi mulusnya. Luhan hanya mengangguk,patuh. Ia terlalu lemas untuk protes. Dan lagi pula ia memang tidak ingin protes dan membiarkan Sehun mengurusnya.

Kepala Luhan benar-benar terasa pusing,badannya menggigil dan kepalanya terasa panas. Keadaannya diperparah dengan keberadaan Sehun yang sekarang sedang mengompresnya,dan mengelap sedikit keringat yang berada diwajah dan lehernya. Sehun sesekali berdecak,kekhawatiran terpancar jelas dari wajahnya yang tampan.

"Sehun.." panggilnya lirih.

"Berhenti mencemaskanku,jangan lakukan hal seperti ini lagi. "

'Jangan membuatku lebih mencintaimu lagi.'

Mata Luhan terasa perih,dan air mata meluncur dari sudut matanya. Sehun mengusap air mata Luhan dengan lembut.

"Bagaimana aku bisa berhenti mencemaskanmu,jika kau terlihat lemah seperti ini hmm?" ucap Sehun lembut.

"Setidaknya biarkan aku membayar ketidak hadiranku selama ini. Ya?"

Sehun mengecek suhu tubuh Luhan dan terlonjak kaget ketika melihat suhu tubuh Luhan mencapai 39 derajat. Dengan segara ia membuka kemeja putihnya hingga ia bertelanjang dada. Ia juga membuka kaos biru muda Luhan membuat Luhan terkejut.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Luhan kaget. Ia hanya diam saat Sehun membuka seluruh pakaiannya hingga menyisakkan boxer hitamnya,ia terlalu lemah untuk memberontak. Atau memang tidak mau memberontak.

"Kau panas sekali Hyung.." Ucap Sehun sambil ikut masuk di selimut yang menutupi Luhan. Ia lalu memeluk Luhan erat dalam dekapannya.

"Sehun,lepas.." Luhan memberontak pelan. Namun tentu saja tenaganya tidak cukup kuat untuk mendorong tubuh Sehun yang lebih besar.

"Diamlah. Ini pertolongan pertama yang hanya bisa kulakukan. Ketika aku kecil,Ayahku sering melakukan ini jika aku demam. Katanya untuk memindahkan suhu tubuh yang sedang sakit ke orang yang memeluknya. Dan itu berhasil.." ucap Sehun sambil mengusap punggung Luhan. Luhan tertawa kecil.

"Tapi,ini mungkin tidak akan berhasil. Aku bukan anak kecil sehun.."

"Well,tidak salahnya kan mencoba?" tanya Sehun mendekap Luhan lebih erat. Luhan hanya tersenyum dan akhirnya pasrah saja dalam pelukan Sehun. Toh ia sebenarnya tidak keberatan,bahkan ia merasa senang bisa merasakan kembali kehangatan Sehun disekujur tubuhnya. Walaupun ia merasa ia tidak akan lebih sehat karena jantungnya berdegup lebih cepat dan tubuhnya seperti tersengat aliran listrik.

Benar saja,metode kuno ala ayah Sehun ternyata berhasil membuat suhu badan Luhan menurun. Luhan sedang tidur nyaman disamping Sehun. Sementara Sehun juga masih tertidur dan membiarkan tangannya menjadi bantalan kepala Luhan. Tangannya yang bebas menggenggam tangan Luhan yang melingkar dipinggangnya.

Sehun terbangun ketika mendengar suara tawa anaknya. Matanya menyipit menyesuaikan dengan keadaan kamar yang sudah terang. Dilihatnya Luhan masih tertidur,menghadap kearahnya. Bibir kecil Luhan yang merah terbuka sedikit,mengeluarkan suara napas Luhan yang menderu. Matanya menutup,mempertontonkan bulu mata lentiknya yang selalu Sehun kagumi. Untuk Sehun,Luhan yang sangat tidur betul-betul polos dan indah. Maka dari itu dulu,setiap pagi ia berusaha bangun lebih dulu dari Luhan,menghabiskan waktunya hanya untuk diam menatap Luhan yang sedang tertidur.

Suara tawa Ziyu terdengar lagi olehnya membuat Sehun tersadar dari lamunannya.

"Ziyu?" panggilnya sambil beranjak bangun,melepaskan tangan Luhan dari pinggangya lalu membenarkan selimut sampai menutupi dada Luhan yang telanjang. Sehun mengecek suhu tubuh Luhan,dan menghela napas lega karena suhu tubuhnya yang sudah menurun. Setelah memastikan Luhan tidur dengan nyaman ia mencari kaos di lemari Luhan dan tersenyum saat mendapati Kaos belel bertuliskan 'Nirvana' kepunyaannya masih terlipat rapi dilemari Luhan. Ia lalu memakai kaos favoritnya itu dan menggendong Ziyu yang sedari tadi menarik-narik celananya.

"Ziyu Lapar appa!" Gerutu Ziyu sambil mengerucutkan bibirnya. Sehun tertawa lalu mencubit gemas hidung anaknya.

"Baiklah appa akan membuatkanmu sarapan! Ayo kita ke dapur,biarkan babamu tidur. Ia sedang sakit.."

"Baba sakit?" tanya Ziyu. Matanya membulat tak percaya. Sehun mengangguk.

"Kenapa tidak dibawa ke dokter? Minseok ahjussi pasti bisa menyembuhkan baba!"

Sehun ,mendecak sebal lalu menaruh anaknya di kursi dapur.

"Tidak! Babamu sudah sembuh berkat appa! Ingat ya,hanya appa yang bisa menyembuhkan babamu!" ucap Sehun sambil menyiapkan semangkuk sereal untuk anaknya.

"Lalu kenapa kalian berpelukkan ditempat tidur ?" tanya Ziyu polos. Sehun hanya tersenyum sambil menyodorkan semangkuk sereal pada anaknya.

"Bukankah kalau orang dewasa berpelukkan itu berarti mereka pasangan? Appa bilang pasangan appa itu Hyemi ahjumma! Jadi kenapa appa memeluk baba?" tanya Ziyu bertubi-tubi. Sehun hanya menggaruk kepalanya,bingung menjawab pertanyaan anaknya. Anaknya ini memang sangat cerdas.

"Itu cara Appa untuk mengobati babamu Ziyu.." jawab Sehun akhirnya. Ziyu mendecih.

"Appa sebenarnya memilih Baba atau Hyemi ahjumma sih? Waktu itu Ziyu disuruh memilih antara crayon warna biru dan pink oleh bu guru. Tapi karena Ziyu bingung,Ziyu memilih keduanya. Dan saat dicampur ternyata warnanya sangat jelek!" jelas Ziyu dengan sereal memenuhi mulut kecilnya.

"Kalau appa tidak memilih nanti appa akan menyesal dan sedih seperti Ziyu. Baba dan Hyemi ahjumma juga akan sedih. Dan salah satu dari mereka akan hilang seperti crayon Ziyu yang hilang karena ia kesal Ziyu mencampur warnanya dengan warna lain." jelas Ziyu sambil cemberut. Ziyu masih ingat crayon pink kesukaannya hilang setelah ia pakai dan campur dengan warna biru. Sementara sang Ayah tertegun mendengar ucapan Ziyu. Oke,anaknya memang terlampau cerdas.. Bagaimana bisa omongan anak 4 tahun yang mungkin terucap asal dari bibirnya bisa menghantam Sehun tepat di hatinya?

Tentu saja Sehun tidak mau membuat Sedih Hyemi maupun Luhan. Ia juga tidak ingin kehilangan Luhan dan Ziyu lagi. Tapi nantinya Sehun memang harus memilih kan? Antara membuat Hyemi terluka ataupun kehilangan Luhan lagi. Walaupun ia tahu resikonya,Sehun sudah tahu dan yakin siapa yang ia pilih,bahkan saat Ziyu menanyakannya bayangan wajah seseorang sudah tergambar jelas dipikirannya. Tinggal menunggu waktu,maka Sehun akan menjatuhkan pilihannya.


"Kami pulang!" seru Sehun sambil membuka pintu rumahnya. Hyemi turun dari tangga lalu berdiri didepan Sehun sambil melipat tangan didada.

"Kemana saja? Kenapa baru pulang?" tanyanya menuntut. Sehun baru sadar bahwa ia tidak mengaktifkan ponselnya hingga sekarang dan lupa memberitahu Hyemi bahwa ia menginap di apartemen Luhan.

"Luhan sakit ,dan aku harus merawatnya. Maaf,aku lupa memberitahumu." Jawab Sehun seadanya. Ziyu sudah berlari menuju kamar,bermain bersama pembantu rumah tangga Sehun.

Hyemi berdecak sebal.

"Sehun, apa sepenting itu Luhan untukmu?"

"Ayolah Hyemi! Jangan mulai oke? Aku betul-betul pusing dan butuh istirahat." Sehun berjalan melewati Hyemi menaiki tangga menuju kamar utamanya. Kepalanya begitu pusing, dan badannya terasa menggigil.

"Sehun! Jangan berlagak tidur!Jelaskan dulu padaku kenapa kau memilih untuk tidak pulang?! Apa kau lupa janji makan malam kita?! Aku sudah memasak untukmu dan kau tidak pulang! Apa kau tahu berapa lama aku menunggumu hah?!" teriak Hyemi sambil memukul-mukuli tubuh Sehun.

"Apa Luhan lebih penting untukmu ketimbang diriku?!Jawab aku Oh Sehun!"

Sehun menangkap tangan Hyemi yang sedang memukulinya. Dengan galak ia menatap Mata Hyemi.

"Iya. Luhan memang lebih penting darimu! Kau puas?!" ujar Sehun lalu beranjak pergi dari kamar.

Sehun membuka pintu kamar Ziyu dengan keras,membuat Ziyu yang sedang main terkejut karenanya. Sehun melangkah pelan mendekati Ziyu yang sedang duduk dilantai. Ia lalu berbaring dibelakang Ziyu,lalu memeluk anaknya itu dari belakang.

"Appa! Ziyu sedang main!" gerutu Ziyu kepada ayahnya. Ia jadi sulit bermain karena tangan Sehun yang melingkar diperutnya serta wajah ayahnya yang menempel dipunggungnya.

"Mmm Ziyuu! Appa ngantuk,Appa ingin tidur didekat Ziyu!" rengek Sehun sok manja. Ziyu hanya tertawa kecil mendengar Appanya merengek seperti anak kecil.

Akhirnya Ziyu membiarkan saja ayahnya tidur sambil mendekap tubuhnya dari belakang sementara ia kembali bermain dengan dua boneka rusa kesayangannya. Ziyu mempunyai dua boneka rusa yang ia beri nama 'Selu' dan 'Lulu'. Selu adalah pemberian dari Sehun saat ia berumur satu tahun dan Lulu dibelikan oleh Luhan saat Ziyu merengek karena 'Selu' tidak punya teman. Ziyu sedang main rumah-rumahan, dan Lulu sedang sakit. Ia membaringkan Lulu disebelah Selu yang ia pegang. Kedua kaki depan Selu ia rentangkan agar bisa memeluk Lulu yang sedang sakit. Dengan pelan Ziyu mendekatkan moncong Selu kearah Lulu. Ia lalu membuat suara 'Cup!' yang keras ketika Moncong Selu menyentuh moncong Lulu. Ziyu tertawa,lalu menutup bibirnya yang kecil ketika Sehun bergerak,merasa terusik.

Pagi itu Sehun terbangun dan menyadari dirinya tertidur di kamar Ziyu. Ia tertidur dilantai berkapet,diselimuti oleh selimut bambi Ziyu. Kepala kecil berambut hitam menyembul dari balik selimut. Saat Sehun menyingkap selimut tersebut terlihat anaknya yang sedang tertidur pulas berbantalkan tangan kanannya. Sehun tersenyum kecil. Wajah Anaknya yang sedang tidur benar-benar lucu. Bulu mata lentik,pipi tembam yang memerah akibat kepanasan serta bibir mungil yang sekarang tengah mengeluarkan suara dengkuran. Boneka bambi didekap erat oleh tangannya yang mungil.

Ziyu sangat mirip dengan Luhan.

Sehun mencium dahi Ziyu lalu dengan perlahan mengangkat tubuh Ziyu untuk ia pindahkan ke kasur. Setelah memastikan Ziyu sudah kembali tertidur dengan lelap Sehun kembali ke kamarnya. Saat ia masuk ia melihat Hyemi sedang meringkuk tertidur dikasur. Ia masuk perlahan dan duduk disebelah Hyemi. Hyemi terbangun dan dengan mata yang menyipit menatap Sehun.

"Sehun?"

Sehun tersenyum lalu mengusap kepala Hyemi lembut.

"Kenapa kau tidak membangunkan aku?" Tanya Sehun, "Kau pasti takut tidur sendirian.."

Hyemi mengangguk lemah lalu duduk dan memeluk Sehun.

"Ya aku merasa kesepian tanpa dirimu Sehun.. Maafkan aku telah membentakmu dengan kasar kemarin."

Sehun membalas pelukan Hyemi dan mengusap punggungnya.

"Aku yang seharusnya meminta maaf. Tidak seharusnya aku membentakmu terlebih karena aku yang melakukan kesalahan. Lain kali aku akan mengabarimu dulu jika aku tidak akan pulang atau pulang terlambat.."

"Ya aku memaafkanmu.."

"Sebaiknya sekarang kau cepat bersiap-siap,hari ini ada rapat penting,kau ingat? Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.." ucap Hyemi sambil tersenyum lalu beranjak meninggalkan Sehun.

Setelah bersiap-siap dan sudah memakai jas yang rapi Sehun menyambar ponselnya lalu mengirim pesan untuk Luhan.

To:Luhan

Bagaimana keadaanmu Hyung?

Apa sudah baikkan?

Tak lama setelah itu ponsel Sehun berdering menampilkan pesan masuk dari Luhan.

From: Luhan

Ya begitulah

Terima kasih atas pertolongan pertamanya Sehun-ah J

Sepertinya itu sangat membantu kkkkk :p

Sehun tersenyum membaca pesan dari Luhan. Ia jadi membayangkan wajah Luhan saat kemarin ia peluk hingga tertidur. Begitu polos dan indah. Sehun tidak sabar ingin melihat wajah itu lagi.

To: Luhan

Syukurlah.

Aku bersedia melakukan pertolongan pertama itu lagi jika diperlukan.

Oh iya,natal tahun ini bisakah kau kerumahku?

Aku juga mengundang Chanyeol,Baekhyun,Kyungsoo dan Jongin.

Ziyu pasti senang.

Tak lama Luhan kembali membalas dan Sehun tersenyum lebar saat membacanya.

From: Luhan

Tentu saja aku bisa Sehun-ah.

Aku akan senang jika merayakan natal dengan kalian.

Malamnya setelah pulang dari kantor Sehun dan Hyemi sedang mengerjakan laporan diruang TV. Sementara Ziyu sedang berlari-larian disekitarnya. Hyemi sedang sibuk mengetik di laptopnya sementara Sehun sedang berbincang dengan mitra bisnisnya melalui telepon. Ziyu cemberut melihat Appanya. Ia kesepian dan bosan. Daritadi ia meminta Sehun untuk bermain dengannya tapi ayahnya itu mengabaikannya dan malah menyuruh Ziyu untuk main sendiri. Ziyu bermaksud untuk mendekati Sehun dan duduk di pahanya ketika kakinya tersandung Kaki Hyemi hingga ia jatuh menyenggol kopi Hyemi hingga menumpahkannya keatas berkas-berkas penting yang berserakkan dimeja.

"ASTAGA ZIYU!" teriak Hyemi kesal sambil berdiri dan mengambil berkas-berkasnya yang sudah basah.

Sehun yang mendengar teriakkan Hyemi memutuskan teleponnya dan langsung menatap Hyemi yang sedang menatap tidak percaya berkas-berkas ditangannya lalu menatap Ziyu yang bibirnya gemetar menahan tangis.

"Ada apa ini?" tanyanya.

"Ziyu menumpahkan kopiku keatas berkas-berkas ini! Ini berkas-berkas yang penting. Aku tidak mungkin mengetiknya ulang,disini ada tanda tangan klienku dari kanada!"

"Ziyu? Kenapa kau tidak hati-hati hmm?" Tanya Sehun, "Ayo sekarang minta maaf kepada Hyemi Eomma."

"Ziyu Tidak sengaja! Kenapa Ziyu harus minta maaf? Ziyu jatuh appa! Harusnya Hyemi ahjumma yang meminta maaf pada Ziyu karena kakinya telah membuat Ziyu jatuh!"

"Ziyu!" bentak Sehun. Ziyu terlonjak kaget mendengar suara Appanya. Air mata sudah mengancam jatuh dari matanya yang bulat.

"Kau tidak boleh berkata seperti itu! Sekarang cepat minta maaf kepada Hyemi eomma atau Appa tidak akan menemani Ziyu tidur malam ini!" ancam Sehun sambil bergacak pinggang tidak beranjak sekalipun untuk mendekati Ziyu yang berharap Appa menggendongnya dan mennyambuhkan rasa sakit dilututnya.

"Ziyu Tidak apa-apa tidur sendiri,dari dulu memang Appa tidak pernah mau menemani Ziyu!" teriak Ziyu sambil menangis, "Ziyu tidak mau meminta maaf karena Ziyu tidak nakal!"

"Cukup! Sekarang masuk kekamarmu anak muda! Dan pikirkan apa perbuatanmu dan kau baru boleh keluar setelah kau menyadari kesalahanmu!"

Ziyu mengeratkan genggamannya dikaos putihnya.

"Sudahlah Sehun. Aku bisa menyuruh sekretarisku untuk terbang ke kanada dan meminta tanda tangan klienku lagi. Jangan terlalu kasar pada Ziyu." ucap Hyemi menenangkan Sehun sambil mengusap-usap tangan Sehun.

"Tidak! Ziyu tetap harus diberi pelajaran! Ia harus belajar bertanggung jawab pada apa yang ia lakukan!"

"Aku sangat benci padamu Appa! Ziyu ingin kembali ke Baba!" teriak Ziyu sambil berlari meninggalkan Sehun yang diam,terkejut dengan kata-kata anaknya.

Ziyu masuk kekamar lalu mengunci pintunya. Ia langsung menangis sekeras-kerasnya,berteriak memanggil Baba. Ziyu sedih appanya marah padanya dan sama sekali tidak menanyakan keadaannya. Hey! Dia terjatuh,dan lututnya memerah karena membentur lantai. Tapi Ayahnya malah tidak peduli dan terus menyalahkannya.

Ziyu yang kesal buru-buru menelepon Baba dari telepon rumah yang berada di kamarnya. Beruntung Ziyu mempunyai otak yang cerdas hingga ia bisa membaca nomor ponsel baba yang tertulis di notes kecil yang baba bawakan untuknya.

"Yeoboseyo?" jawab Luhan dari seberang. Ziyu kembali menangis mendengar suara babanya.

"Ziyu? Ada apa sayang?" Tanya Luhan panic.

"Ba-baba.." panggil Ziyu terbata-bata, "Ziyu ingin pulang…"

"Ingin pulang? Kenapa?"

Ziyu kembali menangis. Isakannya membuat Luhan ingin segera berlari dan memeluk anaknya hingga ia tenang.

"Appa memarahi Ziyu. Appa tidak menyayangi Ziyu lagi. Zi-ziyu terjatuh tadi dan lutut Ziyu sakit baba! Ziyu ingin pulang dan diobati oleh baba!" rengek Ziyu sambil melap lendir yang keluar dari hidung kecilnya. Ziyu menceritakan kejadian tadi sambil terisak. Hingga amarah bergejolak dalam diri Luhan.

"Baba akan kesana sekarang. Ziyu tunggu baba mengerti?" Walaupun nada suara Luhan yang rendah terdengar tenang tapi siapapun yang mengenalnya bisa menebak,Luhan sedang marah. Tidak ada yang boleh membuat anaknya bersedih. Tak terkecuali Ayahnya sendiri. Maka dari itu dengan amarah yang bergejolak ia menutup teleponnya dan segera pergi menuju rumah Sehun.

Sehun yang sedang membantu Hyemi mengetik kembali laporannya terkejut saat pintu rumahnya diketuk dengan keras dan tidak sabaran. Pembantu rumah tangganya buru-buru membuka pintu itu. Sehun mendengar suara langkah cepat dank eras menuju keruang TV dan ia tambah tekejut saat melihat Luhan yang datang kerumahnya.

"Hyung?"

"Mana anakku?" Tanya Luhan tanpa basa basi. Luhan mendengus kesal,tangannya terkepal erat disisi tubuhnya. Wajahnya memerah dan matanya menatap tajam Sehun penuh amarah.

"A-ada apa hyung?" Tanya Sehun. Ia sangat mengenal Luhan,dan ia tahu pria yang lebih pendek darinya itu sedang sangat marah sekarang.

"Apa ada dikamarnya?" Tanya Luhan. Dan tanpa menunggu Jawaban dari Sehun Luhan beranjak menuju lantai atas. Sehun langsung mengikutinya dari belakang.

"Ziyu!" panggil Luhan sambil mencari kamar Ziyu.

"Hyung!" Sehun menyambar lengan Luhan namun Luhan menepisnya dengan kasar.

"Lepaskan! Aku mau menjemput anakku!"

"Kenapa? Masa liburannya belum berakhir! Kenapa kau menjemputnya sekarang?" Tanya Sehun bingung.

"Karena ia sudah tidak betah tinggal denganmu.." jawab Luhan, "Ziyu kau dimana sayang?"

Ziyu membuka pintu kamarnya lalu mengintip Luhan yang berdiri tidak jauh dari kamarnya.

Luhan yang melihat anaknya langsung masuk kekamar Ziyu dan memeluk anaknya. Ziyu langsung menangis di bahu Luhan,meminta babanya untuk membawanya pulang.

"Tenang sayang baba disini.." ucap Luhan sambil mengecup kepala Ziyu, "Ayo kita pulang.."

Sehun yang berdiri dibelakang Luhan hanya menatapnya dengan bingung.

Luhan melepaskan pelukannya dan dengan segera mengambil tas Ziyu dan memasukan barang-barang Ziyu kedalamnya.

"Hyung! Sebenarnya ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menjemput Ziyu?" Tanya Sehun heran. Ziyu yang bersembunyi dibalik tubuh Luhan mengintip Sehun dengan takut-takut.

"Kau menyakiti anakku. Aku tidak mau anakku tinggal dengan orang-orang yang tidak menginginkan keberadaannya.." jawab Luhan masih sambil memasukkan barang-barang Ziyu.

"Apa yang kau bicarakkan?" Tanya Sehun tapi Luhan tidak menggubrisnya.

"Hyung?"

Luhan tidak bergeming dan tetap sibuk dengan merapikan barang-barang Ziyu.

"LUHAN!" teriak Sehun kesal sambil menggenggam erat tangan Luhan.

"Lepaskan!" teriak Luhan sambil meronta,namun genggaman tangan Sehun dilengannya menguat.

"Tidak sebelum kau menjelaskan kenapa kau bisa mengira aku menyakiti Ziyu, anak kita?" Tanya Sehun dengan nada yang lebih lembut.

"K-kau membentaknya hingga ia menangis. Kau memarahinya hanya karena ia tidak sengaja menumpahkan minuman ke laporan calon istrimu!" Ucap Luhan sambil menatap Sehun tak percaya.

"Ia terjatuh dan kau tidak sedikitpun menanyakan kondisinya! Bagaimana kalau ia terluka parah? Apa kau tetap mementingkan karir dan tunanganmu?!"

"Aku hanya ingin mengajarkan tanggung jawab kepada Ziyu,Luhan." Jelas Sehun lembut.

"Kau tidak berhak mengajarinya! Kau bahkan baru muncul dalam kehidupan kami sekarang!"

"Tapi aku juga ayahnya.."

Mereka berdua terdiam beberapa saat sebelum akhirnya Luhan menepis tangan Sehun lagi.

"Kau.. K-kau boleh menyakitiku. Tapi Jangan pernah kau menyakiti anakku.."

Sehun menatap bola mata Luhan. Kemarahan terpancar disana,Sehun mengerti. Tapi kekecewaan dan rasa sakit yang terpancar menimbulkan rasa bersalah yang mengusik hati Sehun. Ia menyakiti Luhan. Lagi.

Luhan memutus kontak mata mereka dan memutuskan untuk pergi membawa Ziyu meninggalkan Sehun.

"Tidak Luhan.." Ucap Sehun panik.

"Ja-Jangan pergi!" ucapnya sambil menggenggam tangan Luhan.

"Aku minta maaf Luhan. Sungguh. Ya aku bersalah. Tolong jangan bawa Ziyu pergi dariku.." mohon Sehun.

"A-aku telah kehilangan kalian setelah beberapa tahun. Dan aku tidak ingin mengulang kesalahan itu lagi. Please Luhan."

Luhan tidak bergeming. Pikirannya masih berdebat,memilih antara pergi atau tetap tinggal. Sehun menatap Ziyu yang sedang menatap dirinya dan Luhan secara bergantian. Ia merasa bersalah karena Ziyu harus melihat kejadian seperti ini.

"Ziyu,Maafkan appa. Ziyu tidak akan meninggalkan Appa kan?" ucap Sehun.

Ziyu rasanya ingin menangis melihat Orang tuanya seperti ini. Kalau saja Ziyu tidak mengadu pada Baba pasti semuanya tidak akan seperti ini ya kan? Ziyu harus melakukan sesuatu untuk membuat Babanya memaafkan Sehun appa.

Ziyu melepas tangannya yang mengait dengan Luhan. Ia lalu mendekati Sehun dan memeluk tubuh Sehun.

"Maafkan Ziyu juga appa. Ziyu harusnya tidak melawan kata-kata Appa."

"Baba.." panggil Ziyu pada Luhan. Namun Luhan tetap memilih untuk diam. "Baba juga maafkan Appa ya? Appa tidak menyakiti Ziyu kok."

Ziyu mengambil tangan Sehun lalu meraih tangan Luhan dengan tangannya yang bebas.

"Sekarang,kalian berbaikkan ya? Ziyu tidak mau hidup tanpa Appa lagi."

Ziyu menyatukkan tangan Luhan dan Sehun. Sehun memandang penuh harap pada Luhan.

"Hyung.." panggilnya lembut, "Apa kau mau terus-terusan seperti ini? Kasihan Ziyu. Kau pasti tidak mau Ziyu bersedih kan?"

Luhan menghela napas dan berbalik menghadap Sehun.

"Baiklah sekarang kau kumaafkan. Tapi jika kau membuat Ziyu menangis lagi,aku tidak akan pernah memaafkanmu!" ucap Luhan sambil cemberut.

"Iya iya.. Aku berjanji." Ucap Sehun menahan tawanya. Ingin sekali ia tertawa melihat Luhan yang cemberut dengan lucu seperti itu. Dulu kalau Luhan marah dan cemberut Sehun suka sekali menggodanya hingga Luhan marah dengan menggemaskan dan akhirnya Sehun harus membujuknya.

Dan cara paling ampuh untuk membujuk Luhan yang sedang marah adalah menciumnya.

Tapi well,hal itu sekarang tidak mungkin kan?

"Hyung!" Rengek Sehun "Kenapa kau masih cemberut? Ayo tersenyum!"

"Kau kenapa sih Sehun!" gerutu Luhan.

"Katanya kau memaafkanku? Tapi kenapa kau masih cemberut? Ayo tersenyum!" bujuk Sehun sambil bertingkah menggemaskan didepan Luhan.

Luhan jijik melihat Sehun bertingkah sok menggemaskan seperti itu. Tapi Setelah Sehun melakukan bbuing-bbuing (yang terlihat sangat dipaksakan) Luhan tidak bisa lagi menahan tawanya. Ditambah lagi Ziyu yang sekarang berada digendongan Sehun,ikut-ikutan melakukan aegyo untuk Luhan.

"Ah akhirnya kau tersenyum juga hyung!" Ucap Sehun puas, "Kita berhasil Ziyu!" ucap Sehun sambil melakukan high five dengan Ziyu.

"Ya ya! Kau memang selalu berhasil membuatku tertawa Oh Sehun!" ucap Luhan sambil tersenyum.

Sehun terdiam.

Mungkin kata-kata itu tidak mempunyai arti khusus,dan hanya terlontar asal dari bibir Luhan.

Tapi kata-kata itu juga tidak gagal membuat jantung Sehun berdegup cepat dan merasakan ada kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.


Ziyu tak henti-hentinya berlari kesana kemari di ruang keluarga yang begitu Luas. Ia sibuk membantu Sehun menata ruang keluarga mereka dengan tema natal yang meriah. Ia sibuk menghias pohon natal,menggantungkan bola-bola berwarna-warni, snowflake,bintang,burung merpati dan juga hiasan lainnya. Sehun mengangkat Ziyu dibahunya untuk Ziyu menancapkan bintang besar dipucuk pohon natal mereka. Ziyu terkagum-kagum melihat pohon natal hasil karyanya,begitu besar dan berkilau.

"Bagaimana Ziyu?Kau suka?" tanya Sehun. Ziyu mengangguk antusias.

"Ziyu suka sekali appa! Lebih besar dari pohon natal tahun lalu!"

Sehun jadi membayangkan Natal-natal tahun lalu Ziyu dengan Luhan tanpa dirinya. Hati sehun sedih membayangkan mereka berdua saling berpelukkan di malam natal yang dingin. Luhan akan menyanyikan lagu-lagu natal yang menenangkan,sambil mengayun Ziyu dipelukannya hingga tertidur. Dan akhirnya Luhan akan menghabiskan malam natal sendirian,dengan Ziyu yang tertidur lelap dipangkuannya.

Sehun menurunkan Ziyu dari bahunya,ia lalu menatap Ziyu yang tersenyum polos kearahnya.

"Maafkan Appa ya sayang.." Ucap Sehun sambil mengecup dahi Ziyu.

"Appa berjanji,natal selanjutnya kita akan terus merayakannya bersama."

"Dengan baba juga?" tanya Ziyu polos. Sehun mengangguk.

"Ya tentu dengan baba juga.."

Ziyu berteriak girang digendongan Sehun. Membuat Sehun gemas dibuatnya. Sehun memutar badan mereka cepat,membuat teriakkan Ziyu makin kencang.

"Wah! Kalian sedang bermain? Kenapa tidak mengajak noona hmm?" tanya Hyemi dari belakang Sehun."Ah Hyemi noona ingin diputar-putar oleh appa juga?" tanya Ziyu. Hyemi tersenyum lebar.

Ziyu akhirnya berhenti memanggilnya ahjumma setelah dengan bercanda Hyemi mengeluh,"Apa Hyemi eomma sudah terlihat seperti ahjumma tua?" ia berharap Ziyu mulai memanggilnya Eomma setelah ia mengeluh seperti itu. Memang Ziyu berhenti memanggilnya Ahjumma tapi ia malah memanggil Hyemi dengan sebutan 'Noona'. Ziyu tetap bersikeras tidak ingin memanggil Hyemi 'Eomma' karena menurutnya ia tidak punya orangtua selain Appa dan baba. Karena Lelah,Hyemi akhirnya menyerah dan membiarkan Ziyu memanggil dirinya dengan sebutan 'Noona'.

"Tidak ah! Nanti Noona pusing! Oh iya noona membelikan kue untuk Ziyu! Mau?" Ziyu mengangguk antusias lalu meraih kotak kue yang disodorkan Hyemi. Sehun mendudukan Ziyu disalah satu sofa lalu membiarkan anaknya makan Kue coklat favoritnya.

"Gomawo noona!" ucap Ziyu antusias. Hyemi tertawa melihat Ziyu yang memakan kue dengan lahap."Lihat Ziyu begitu menyukai kue coklat sepertimu.."

"Hmm ya.. Keras kepalanya-pun menurun dariku." Ujar Sehun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Hyemi tertawa lalu memeluk tubuh Sehun.

"Tapi aku menyukainya!" ujar Hyemi manja membuat Sehun ikut tertawa.

Beberapa minggu yang lalu akhirnya Ziyu meminta maaf pada Hyemi. Hyemi menerima maaf dari Ziyu dan memperingatkan Ziyu agar tidak lagi melawannya dan Sehun seperti waktu itu.

Malam ini mereka akan merayakan Natal dirumah. Sehun tidak suka pesta yang terlalu meriah ,maka ia hanya mengundang kerabat dekatnya. Ia hanya mengundang Jongin dan kekasihnya Kyungsoo, Sepupunya chanyeol dan Baekhyun serta Luhan. Luhan berencana membawa serta Minseok tapi dengan galak Sehun melarangnya karena Minseok bukan kerabat dekat Sehun. Malah Kalau bisa dibilang Minseok adalah 'Musuh' besar Sehun.

Satu persatu dari mereka datang membawa hadiah natal untuk Ziyu. Dan Ziyu dengan senang hati menerimanya. Ketika Luhan datang Ziyu langsung berlari memeluk babanya dengan erat.

"Selamat hari natal baba!"

"Selamat hari natal Ziyu" Balas Luhan sambil menciumi pipi anaknya.

"Hyung Akhirnya kau datang ju-"

Sehun menatap Luhan takjub. Luhan memakai sweater turtle neck berwarna broken white yang dipadu dengan celana dan sepatu yang juga berwarna putih. Luhan mengecat rambutnya menjadi coklat pekat, sewarna dengan bola matanya yang bersinar.

"Hyung kau betul-betul menakjubkan.." puji Sehun terang-terangan. Sementara Luhan hanya tertawa geli. Pipinya merona merah. Ternyata usahanya bersiap-siap selama 2 jam tidak sia-sia.

"Ah Luhan-ssi kau sudah datang? Ayo bergabung dengan yang lain!" ucap Hyemi yang tiba-tiba muncul di balik Sehun. Luhan mengangguk dengan canggung lalu mengikuti Hyemi masuk keruang keluarga.

"Appa! Boleh kan Ziyu membuka hadiahnya sekarang? Ya?ya? Ya?" bujuk Ziyu dengan lucu. Sehun yang sedang duduk disebelah Hyemi hanya menangguk mengiyakan. Percuma bilang tidak pada Ziyu,karena akhirnya Ziyu akan tetap mendapatkan apa yang ia mau.

Ziyu dengan antusias membuka hadiah-hadiahnya. Hadiah yang pertama ia buka adalah hadiah paling besar yang diberikan oleh Hyemi. Dengan takjub ia memandang hadiah itu. Hyemi memberikannya Rusa dari kayu yang bisa ditunggangi.

"Wah! Gomawo Noona!" ujar Ziyu riang.

"Ya sama-sama Ziyu.. Nanti saja mainnya Ziyu,ayo sekarang buka lagi hadiah yang lain!"

Ziyu mengangguk antusias dan memilih membuka hadiah lainnya. Hadiah terakhir yang Ziyu buka adalah hadiah dari babanya. Luhan yang sedang duduk di sebelah Baekhyun menciut malu,ketika Ziyu memegang kadonya yang terbilang lebih kecil dan murah dibandingkan kado yang diberikan Hyemi dan lainnya. Tentu saja Ziyu akan lebih menyukai kado dari Hyemi ketimbang kado sederhana dari dirinya.

"Wow!" teriak Ziyu takjub. Ia menimang buku yang berada ditangan kecilnya.

"Buku cerita! Judulnya apa ini baba?!" tanya Ziyu antusias.

"Perjalanan ajaib Edward Tulane.."

Ziyu langsung berlari kepangkuan babanya sambil memeluk buku itu didekapannya. Mengacuhkan hadiah-hadiah lain yang tergeletak begitu saja didekat pohon natal.

"Baba Ayo ceritakan dongeng ini untuk Ziyu!" pintanya antusias. Luhan dengan senang hati membacakan cerita itu pada Ziyu. Menceritakannya dengan Ekspresif hingga Ziyu tertawa dibuatnya. Sehun yang melihatnya ikut senang.

Sehun jadi mengerti bahwa Sebuah hadiah tidak diukur dari nilai ataupun kemewahannya. Tetapi sebuah hadiah diukur dari ketulusan dan seberapa berarti hadiah itu untuk yang mendapatkannya.

Hyemi menyiku perut Sehun disebelahnya dan Sehun langsung beralih menatapnya.

"Kau ingatkan kita akan mengumumkan sesuatu malam ini?" bisik Hyemi.

"Oh.." ucap Sehun lalu beranjak dari duduknya.

"Para tamu sekalian aku akan mengumumkan suatu hal yang penting.."

Luhan berhenti menceritakkan buku digenggamannya pada Ziyu untuk memperhatikan Sehun. begitupun yang lainnya.

Sehun berdeham sebelum ia mulai berbicara. Ia menangkap bola mata Luhan yang sedang menatapnya. Seakan tenggelam dalam mata itu,kata-kata yang dirangkai Sehun tiba-tiba menghilang. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakana hingga akhirnya ia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya seperti seekor ikan yang kehabisan napas.

"Oy Sehun! Sebenarnya kau mau mengatakkan apa?" teriak Chanyeol tidak sabaran.

"Ah! Uhm itu.." ucapnya terbata-bata, "Aku hanya ingin bilang terima kasih telah datang ke rumahku. Aku sangat bersyukur mempunyai kalian dalam kehidupanku. Terima kasih dan selamat natal dari keluarga Oh!" ucapnya terlampau riang dan terkesan kaku.

Semuanya terdiam. Aneh melihat kelakuan Oh Sehun yang tiba-tiba lebih riang dari biasanya. Sehun bisa melihat Hyemi tercengang tidak percaya sambil menatapnya. Dan saat ia melihat Luhan. Luhan sedang tertawa kecil melihat kelakuannya.

Seketika itu juga ia merasa aktingnya tadi tidak sia-sia.

Malam sudah larut,Satu persatu dari teman Sehun akhirnya pamit pulang. Luhan yang terakhir pulang karena Ziyu merengek dan tidak mau lepas dari gendongannya. Setelah menaruh Ziyu ditempat tidur dan memastikan Ziyu tidur dengan nyaman,Luhan memutuskan untuk pulang.

"Ah Sehun,ini untukmu.." ucap Luhan sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil untuk Sehun.

"Hanya sebuah MP3 Player. Aku tahu kau suka mendengarkan musik,maka dari itu aku membelikannya untukmu. Selamat natal Sehun." Luhan melambaikan tangan dan pergi dari rumah Sehun. Sehun menimang MP3 Player hitam itu ditangannya. Karena Sehun sudah mengerti nilai dari sebuah hadiah,ia memutuskan hadiah dari Luhanlah yang paling bernilai dan berarti untuknya.

.

.

.

Paginya Sehun bersiap menuju kantor. Ia memakai kemeja berbalut jas hitam dan dasi berwarna senada yang diikat dikerahnya. Ia memilih-milih arloji sebentar lalu memilih arloji kesayangannya dan menyimpan kembali arloji yang diberikan Hyemi malam natal kemarin.

"Appa dan noona berangkat dulu ya Ziyu!" pamitnya sambil mencium pipi Ziyu yang sedang sarapan didapur.

"Cepat pulang ya Appa!" teriak Ziyu.

"Ne!" balas Sehun sebelum menyalakkan MP3 Player hitam baru yang diberikan Luhan,menikmati lagu 'All of me' dari john legend yang terputar dari mp3nya.


.

.


Unwritten Scene

Ziyu terbangun pagi itu. Alisnya berkerut bingung saat ia menyadari ia tidak tidur dikamar yang berada dirumah Appa,melainkan di kamar yang berada diapartemennya bersama baba.

"Baba?" panggil Ziyu dengan suara serak. Kaki mungilnya mulai menapaki ubin yang dingin lalu melangkah menuju kamar babanya. Ziyu terkesiap saat melihat baba dan appa sedang tertidur sambil berpelukkan.

Ziyu tertawa kecil,ia sangat senang melihatnya karena ia tidak pernah melihat Appa dan baba tidur Ziyu membuat appanya terbangun dan membuka mata pelan. Ziyu kira appanya akan langsung bangun dan memarahinya karena berisik,tapi Appanya malah tidak bergeming.

Sehun appa malah menatap baba Luhan yang sedang tidur sambil Appa memajukan wajahnya mendekat kearah Baba. Dan dengan lembut,Appa mencium bibir Baba lama.