Side Story: Ziyu's New Hyung
Setelah malam natal berlalu. Kafe milik Luhan mendapat banyak pengunjung. Semua orang memilih untuk menghangatkan diri dari dinginnya hujan salju dengan kopi hangat di kafe Luhan. Saat itu Luhan sedang menjaga kasir. Matanya tidak pernah lepas dari anak kecil yang duduk disebuah meja sendirian. 3 jam yang lalu anak itu datang dengan seorang wanita yang Luhan kira sebagai ibunya. Tapi wanita itu pergi dan tidak kembali hingga sekarang.
Karena penasaran Luhan menghampiri anak itu.
"Hai Pria kecil,kemana ibumu?Kenapa ia belum kembali?" tanyanya sambil membungkuk.
"Ibuku?Ia tidak akan pernah kembali.." ucapnya datar. Alisnya yang tebal berkerut,matanya yang tajam hanya menatap kosong gelas hot chocolatenya yang sudah kosong. Anak ini mengingatkan Luhan pada seseorang.
Sehun.
Iya,Anak ini mirip sekali dengan Sehun. Mata,Alis,hidung,bibir dan juga struktur wajahnya begitu mirip dengan Sehun.
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Ia pasti kembali untuk membawamu pulang.." Luhan mengelus rambut hitam anak itu.
"Tapi ia memang tidak akan kembali. Ia sengaja meninggalkan aku disini,agar ada orang lain yang mau mengurusku." Ucap anak itu sambil menatap Luhan.
"Ini tasku,semua bajuku sudah ia masukkan kesini. Ada surat yang ia tulis juga,untuk orangtua baruku kelak.." Luhan bisa melihat mata anak itu yang mulai berkaca-kaca.
Ia lalu mengambil surat itu dan membacanya. Setelah membacanya hingga selesai,Luhan mendengus dengan kesal. Orang tua mana yang tega meninggalkan anaknya sendirian dengan alasan tidak mampu membiayai kehidupan anaknya?Omong kosong! Jika memang mereka berniat untuk menghidupi anaknya mereka harusnya berusaha dengan keras! Kalau begini sama saja mereka egois dan lebih mementingkan diri sendiri!
"Orang tuamu benar-benar gila. Aku tidak akan pergi begitu saja meninggalkan anakku da-" omelan Luhan berhenti ketika melihat setetes air mata mengalir dipipi merah anak itu. Sebelum akhirnya sang anak kecil menghapusnya dengan cepat. Luhan yang merasa iba,berjongkok disebelah anak itu lalu memegang tangan kecilnya dengan erat.
"Tanganmu dingin. Apa kau kedinginan?" tanya Luhan lembut. Anak itu mengangguk lemah. Dengan cepat Luhan melepas syalnya lalu melilitkannya disekujur tubuh kecil itu.
"Siapa namamu?"
"Haewon.." gumam Haewon pelan.
"Berapa usiamu?"
"6 tahun.." Luhan lalu mengelus pipi Haewon yang memerah karena kedinginan.
"Dengar,mulai sekarang namamu adalah Haowen. Aku lebih menyukai nama dari bahasa cina ketimbang bahasa Korea.." ucap Luhan sambil tertawa.
"Dan sekarang,kau adalah anakku.." Haowen mendongak menatap Luhan.
"Be-benarkah?Kau mau mengangkatku sebagai anakmu?"
"Tentu saja! Menurutku,Kita berjodoh. Kau memang lahir dari orang lain tapi aku adalah ayah yang dijodohkan tuhan denganmu.." Haowen tertawa mendengarnya. Lucu sekali calon-ayahnya ini,mengatakan hal yang tidak-tidak dan diluar akal sehat. Tapi Haowen tetap senang mendengarnya. Memberikan dirinya harapan baru untuk hidup lebih baik.
"Ya,sepertinya kau memang ayah yang dijodohkan untukku. Appa.."
Setelah pulang bekerja,Sehun berkunjung ke apartemen Luhan dengan Ziyu sore itu. Dengan alasan 'Ziyu menangis karena merindukanmu'. Padahal yang sedang dibicarakan sedang bermain dengan senang dikamarnya. Sehun terkejut ketika melihat seseorang anak kecil yang membukakan pintu apartemen Luhan. Alisnya berkerut,melihat Sehun dengan tatapan tidak Senang. Entah kenapa Sehun merasa sedang bercermin saat ini.
"Kau siapa?" pertanyaan itu keluar polos dari bibir Ziyu.
"Aku Haowen,kau pasti Ziyu adik baruku!" Ucap Haowen,wajahnya berubah drastis saat menegur Ziyu. Lebih ramah ketimbang ia menatap Sehun tadi.
"Hm?Kau kakakku?" tanya Ziyu bingung, sepengetahuannya ia tidak pernah mempunyai seorang kakak. Apa selama ini Baba menyembunyikan kakaknya dilemari ?
"Ah Ziyu kau sudah datang!" seru Luhan yang muncul dibelakang Haowen.
"Ziyu,ini Haowen. Mulai sekarang ia akan menjadi anggota keluarga baru kita. Ia kakakmu,jadi panggil dia hyung ya?" Ziyu menatap Haowen takjub.
"Jadi,sekarang Ziyu punya teman bermain?" Luhan mengangguk,mengiyakan.
"Yeay! Hadiah natal terbaik yang pernah kudapatkan!" teriak Ziyu riang.
"Hyung! Ayo kita ke kamar! Ziyu akan mengenalkanmu kepada mainan-mainan Ziyu! Setelah itu kita rapikan kamar bersama ya?" ucap Ziyu antusias. Haowen tersenyum dan mengangguk,setuju. Membiarkan tubuhnya ditarik oleh Ziyu yang sangat bersemangat.
"Kakak?Anggota keluarga baru?Hyung,bisa kau jelaskan apa yang terjadi disini?" Sehun yang sedari tadi hanya diam,menonton adegan 'perkenalan kakak baru Ziyu' akhirnya tersadar dan menuntut penjelasan dari Luhan.
"Aku menemukan Haowen tadi siang di kafe. Orang tuanya meninggalkannya sendiri jadi aku bermaksud untuk mengangkatnya menjadi anakku.." jelas Luhan sambil masuk keapartemennya.
"Tunggu dulu. Anakmu? Apa maksudmu anak kita? Kenapa kau tidak mendiskusikannya dulu denganku?" tanya Sehun tak percaya.
"Kenapa aku harus mendiskusikannya denganmu? Lagipula aku akan menjadi ayah tunggal untuk Haowen.."
"Hei! Tidak,kau harus tetap menyertakan namaku! Aku masih suamimu,itu berarti aku juga appanya!" Protes Sehun. Luhan hanya mengedikkan bahu.
"Coba saja,jika kau bisa dekat dengan Haowen,aku juga akan menyertakan namamu di surat hak asuhnya."
Sehun mendecih.
"Itu masalah yang mudah. Tidak ada anak kecil yang bisa menolak pesona seorang ayah tampan dan hebat sepertiku." Ucap Sehun dengan bangga.
.
.
.
Dan disinilah dia,duduk berhadapan dengan Haowen dimeja makan apartemen Luhan. Luhan dan Ziyu sedang keluar untuk berbelanja keperluan memasak.
"Uh?Hewon.."
"Ha-O-Wen. Namaku Haowen." Ucap Haowen mengeja setiap suku kata namanya dengan jelas.
"Ya Haewon,Haowen siapapun namamu. Aku juga ayahmu,jadi panggil aku appa. Arra?"
"Tidak. Ayahku hanya baba Luhan." Jawab Haowen dengan nada dan wajah yang datar. Demi tuhan Sehun merasa sedang bercermin melihat Haowen. Ia mirip sekali dengan Sehun saat kecil dulu.
"Aku adalah suami baba Luhan. Jadi mau tidak mau aku adalah ayahmu juga.."
"Tapi kau sudah tidak hidup dengannya.."
"Memang sih tap-"
"Kau meninggalkan baba Luhan sendiri.."
"Aku ti-"
"Aku membencimu." Ucap Haowen datar.
Sehun meneguk salivanya kasar. Ia kehabisan kata-kata dan akhirnya memilih untuk diam.
'Tidak ada anak kecil yang bisa menolak pesona seorang ayah tampan dan hebat sepertiku.'
'Tidak ada anak kecil yang bisa menolak pesona seorang ayah tampan dan hebat sepertiku.'
Kata-kata itu terus berputar-putar diotak Sehun.
'Tidak ada anak kecil yang bisa menolak pesona seorang ayah hebat sepertiku. Kecuali Haowen. Haowen adalah iblis kecil. Sehun versi 2.0'
