CHAPTER 4
The truth is, if I could be with anyone, it'd still be you.
Luhan bangun ketika ia merasa mual. Untuk yang ketiga kalinya. Dengan cepat ia berlari keluar kamar,langkahnya menimbulkan bunyi yang keras hingga Haowen sang anak terbangun dari tidurnya. Haowen bisa mendengar jelas suara Luhan memuntahkan semua yang ada diperutnya didalam kamar mandi,karena jarak kamar Haowen dengan kamar mandi sangat dekat.
Dengan hati-hati Haowen menghampiri Baba barunya yang berada di kamar mandi. Luhan sedang terduduk lemas didepan toilet. Tangannya mencengkeram perut yang tertutup kaos dengan erat.
"Baba.." Panggil Haowen pelan. Luhan yang menyadari kehadiran Haowen langsung mengangkat tangannya dan menggelengkan kepala cepat,melarang sang anak untuk melengkah lebih dekat. Haowen menurut,dan berdiri ditempatnya. Memandang Luhan yang sedang muntah dengan khawatir.
"Baba,Gwenchana?"
Luhan yang sedang mencuci mulutnya tersenyum dengan lemah.
"Gwenchana . Ayo kita kembali tidur.." ajak Luhan pada Haowen yang sedang memainkan ujung kaosnya,sambil menggigit gigit bibir kecilnya.
"Baba,Bolehkah aku tidur bersama baba?" tanya Haowen ragu. Ia ingin tidur dengan baba,agar bisa menjaga dan melindungi babanya yang sedang sakit.
"Tentu saja sayang. Ayo,kita kembali tidur!" ucap Luhan sambil tersenyum lalu merentangkan tangan kanannya. Haowen tersenyum sekilas,lalu menggapai tangan babanya. Mereka lalu berjalan bersama menuju kamar Luhan.
.
.
.
Ziyu membuka matanya dan mendapati hari sudah terang. Sehun appa tidak terlihat lagi disebelahnya,padahal tadi malam Ziyu minta ditemani tidur karena ia takut. Baba Luhan juga tidak ada dan itu membuat Ziyu sedih. Tadi malam Ziyu bermimpi tentang baba Luhan. Dimimpinya Baba Luhan membangunkan Ziyu lalu memberikan Ziyu kecupan selamat pagi. Tapi saat Ziyu bangun tidak ada baba Luhan maupun kecupannya. Ziyu mulai menangis. Ia menghapus air matanya dengan selimut biru bergambar bambi yang menutupi tubuhnya.
"Baba.." panggilnya lirih. Ia ingin bertemu baba Luhan, Ziyu begitu rindu dengan Babanya.
Sehun masuk kekamar Ziyu perlahan dan mendapati anaknya meringkuk di dalam selimut. Sehun dengan perlahan mendekati kasur anaknya,ia terkejut saat mendengar isakkan kecil dari balik selimut. Dengan perlahan ia duduk dikasur lalu membuka selimut yang menutupi Ziyu.
"Ziyu,kenapa menangis?" ucap Sehun sambil mengusap kepala anaknya lembut.
"Appa.. Ziyu merindukan Baba."
Sehun menghela napas.
"Apa Ziyu ingin menelepon Baba?" tanya Sehun. Ziyu mengangguk antusias.
Sehun mengeluarkan ponselnya lalu menelepon Luhan.
"Yeoboseyo?" Jawab Luhan.
"Lu-Ah kenapa dengan suaramu?" ucap Sehun saat mendengar suara parau Luhan
"Ah Aku sedang demam,sepertinya akan terkena flu. Ada apa Sehun?"
"Ziyu merindukanmu.."
"Benarkah?Berikan ponselmu padanya.." ucap Luhan.
Sehun memberikan ponselnya pada Ziyu. Ia bisa melihat sedikit cahaya dimata bulat Ziyu yang merah dan penuh air mata.
"Baba..." panggil Ziyu sambil menangis lebih keras.
"Shhh Ziyu-ya gwenchana.. Baba di sini.." Ucap Luhan berusaha tenang,walaupun sebenarnya air mata sudah mengancam untuk jatuh dari pelupuk matanya.
"Baba bogoshippeo.. Ziyu ingin pulang ke rumah. Ziyu ingin dipeluk baba.." rengek Ziyu.
"Mmm.. Nanti Baba minta appa untuk mengantarmu kesini ya? Jangan menangis lagi ok?Ah iya apa kau mau berbicara dengan Haowen Hyung?"
Ziyu mengangguk cepat lalu mengatakan "iya!" ketika ia menyadari Babanya tidak akan bisa melihat anggukan kepalanya.
"Ziyu?"
"Hyung! Jaga Baba ok! Ziyu sebentar lagi akan kesana! Jadi tunggu Ziyu ya!"
Sehun menggeleng-gelengkan kepala keheranan ketika tiba-tiba saja Ziyu berhenti menangis dan berbicara begitu antusias dengan Haowen. Sementara Haowen diseberang telepon hanya tertawa mendengar teriakkan Ziyu yang sebenarnya memekakkan telinganya. Tapi asalkan adiknya senang Haowen tidak masalah dengan hal itu.
"Arraseo! Ziyu tenang saja,Hyung pasti menjaga baba!Sudah ya Ziyu,Hyung harus memijat baba dulu. Daritadi baba mengeluh pinggangnya sakit.." Haowen pun menyerahkan kembali ponselnya pada Luhan dan mulai memijati pinggang Luhan dengan tangan kecilnya.
"Baba,pinggang baba sakit?" tanya Ziyu polos.
Sehun dengan segera mengambil ponselnya dari tangan kecil Ziyu. Lalu mengucapkan "Mianhae Baby.." dengan pelan ketika melihat Ziyu merengek karena ponselnya sudah direbut sebelum ia selesai berbicara.
"Hyung,Benar pinggangmu sakit?"
"Ya,pinggangku sedikit sakit dan terasa pegal. Mungkin karena kemarin terlalu keras bekerja di kafe.." Jawab Luhan.
"Ck! Sudah kubilang jangan terlalu lelah. Kenapa kau masih bekerja sih?Apa uang yang selalu kukirimkan tidak cukup?" tanya Sehun kesal.
Kenapa Luhan tidak pernah menurut? Kenapa Luhan selalu membuatnya khawatir?
"Apakah menurutmu ada niat sekali saja untukku menggunakkan uangmu?" tanya Luhan .
"Tapi Aku tidak menemukan alasan kenapa kau tidak berniat menggunakannya juga."
"Sudahlah Sehun. Sekarang,bisakah kau mengantarkan Ziyu kesini?"
Sehun menghela napas.
"Ya.. Aku akan mengantarkannya siang ini.." ucapnya sebelum memutuskan telepon. Terlalu sebal untuk mengucapkan 'Sampai Jumpa' sekalipun.
Luhan sedang berbaring lemas ditempat tidurnya,ketika bunyi bel terdengar dari pintu apartemennya. Haowen yang sedari tadi menonton TV disebelahnya berlari untuk mengecek siapa yang berkunjung keapartemen mereka.
"Uh?Hai.." sapa Minseok bingung saat melihat anak kecil membukakan pintu apartemen Luhan. Mata tajam Haowen menyelidik Minseok dari kaki hingga kepala.
"Ahjussi siapa?" tanyanya. Mata tajamnya tak penah sekalipun lepas dari sosok Minseok.
"Namaku Minseok,aku teman Luhan. Aku kesini untuk memeriksa kondisinya."
"Tunggu sebentar.." Haowen mengunci pintunya lagi,meninggalkan Minseok yang berdiri kebingungan.
"Baba.. Di Luar ada yang mengaku sebagai teman baba. Namanya Minseok, Apa harus kuizinkan masuk?"
"Ah,iya Minseok ahjussi adalah teman baba. Tolong bawa ia masuk ke kamar ya Haowen.."
Haowen mengangguk mengerti lalu kembali ke pintu utama.
"Ahjussi,silahkan masuk.." ucap Haowen mempersilahkan Minseok untuk masuk. Minseok masuk dengan ragu. Tas kerja dan sekantung plastik makanan memenuhi tangannya.
"Namaku Haowen,aku anak yang diangkat Baba Luhan. Salam Kenal ahjussi.." Haowen memperkenalkan diri dengan sopan. Lalu menolong Minseok membawakan kantung plastik yang ada digenggamannya.
"Baba Luhan sedang ada dikamar. Ahjussi tolong bantu sembuhkan Baba ya?" mohon Haowen sambil menatap penuh harap pada Minseok.
"Ya,aku akan berusaha mengobatinya.. Kau tidak perlu khawatir ya Haowen.." Minseok mengacak rambut Haowen pelan lalu beranjak menuju kamar Luhan.
"Luhan..." panggil Minseok dengan lembut. Perlahan ia mendekati kasur Luhan.
"Oh Minseok-ah.." Sapa Luhan lemah sambil berusaha untuk duduk. Minseok dengan cekatan membantunya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.
"Badanmu panas sekali. Aku akan memeriksamu,jadi jangan bergerak ya?" Minseok mengambil stetoskop dari tas kerjanya,ia lalu memeriksa Luhan dengan hati-hati. Wajah imutnya merengut, terkadang menatap Luhan dengan khawatir.
"Luhan,Apa yang terasa ditubuhmu sekarang?"
"Aku kadang merasa mual dan pusing.. Pinggangku juga sakit.." keluh Luhan sambil memijat-mijat pinggangnya yang sakit.
"Baba! Ziyu datang!" Teriak Haowen antusias sambil kepalanya menyembul dari pintu kamar.
"Baba!"
Ziyu menerobos masuk kekamar,lalu memanjat tempat tidur Babanya. Ia lalu menghempaskan diri kedalam pelukkan Luhan.
"Baba Sakit apa?" tanya Ziyu sambil memperhatikan wajah Luhan yang pucat pasi. Bibirnya sudah melengkung kebawah dan gemetar,matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Baba hanya pusing Ziyu. Mungkin terlalu rindu dengan Ziyu,Jadinya seperti ini!" canda Luhan sambil menciumi hidung kecil Ziyu.
"Sepertinya Aku harus pergi Luhan. Aku ada panggilan darurat dari rumah sakit. Ziyu maaf Ahjussi tidak bisa bermain dengan Ziyu! Luhan,sebaiknya kau periksakan diri ke rumah sakit! Aku takut terjadi apa-apa padamu.." ucap Minseok khawatir.
"Tidak apa-apa Minseok. Aku hanya perlu beristirahat. Terima kasih sudah menyempatkan kemari.."
"Ya,tidak masalah. Aku pergi dulu. Oh!Aku membelikanmu makanan,jangan lupa dimakan ya! Bye!" Setelah itu Minseok keluar dari kamar Luhan. Baru beberapa langkah ia berjalan tubuh Sehun yang lebih tinggi darinya menghalangi langkahnya. Ia mendongak dan bertemu dengan mata tajam Sehun yang menyelidik.
Sepertinya Minseok pernah melihat tatapan ini,dimana ya?
"Sedang apa kau disini?"
"Memeriksa Luhan. Tentu saja." jawab Minseok santai.
"Lalu bagaimana kondisinya?"
"Aku tidak yakin. Aku belum selesai memeriksanya. Tapi aku sarankan ia segera dibawa kerumah sakit."
Sehun tertawa mencibir.
"Tidak yakin?Kenapa bisa?Bukannya kau seorang dokter?"
"Sebenarnya apa masalahmu denganku Sehun-ssi? Kenapa kau terlihat begitu tidak menyukaiku?" tanya Minseok akhirnya. Emosinya sudah diambang batas karena sikap Sehun yang kurang ajar pada dirinya. Tapi ia tetap berusaha tenang menghadapi Sehun.
"Tidak ada. Kebetulan saja kau termasuk kedalam tipe orang yang tidak kusuka." Jawab Sehun singkat. Mendengar jawaban Sehun,Minseok tertawa.
"Apa karena waktu itu kubilang aku adalah kekasih Luhan?"
'Itu kau tahu,bodoh. Lalu kenapa bertanya?'
"Tenang saja Sehun-ssi, aku hanya bercanda. Aku bukan kekasih Luhan.."
"Ah atau bisa dibilang,belum?" lanjut Minseok. Sehun mendelik sebal.
"Dengar Sehun-ssi, Aku sebenarnya ingin sekali meninju wajahmu ketika kita bertemu. Ya aku tahu seberuk apa kau memperlakukan Luhan dulu. Tapi demi Luhan,sampai sekarang aku menahannya."
"Ingat,jika alasanmu kembali kekehidupannya hanya untuk menghancurkan kehidupannya lagi. Aku tidak akan lagi menahan tinjuanku mendarat dirahangmu." Ancam Minseok. Sehun hanya mendengus. Oh jika saja ia tidak melihat Haowen yang sedang mengintip, ia tidak segan-segan untuk memukul pipi tembam si Minseok ini. Sehun adalah ayah yang baik,ayah yang baik tidak boleh mencontohkan kekerasan pada anaknya.
"Dan satu hal lagi. Aku akan mengambil Luhan darimu. Memberikannya kehidupan yang lebih baik dan bahagia. Jadi sebaiknya kau berhati-hati atau aku tidak akan memberikan kau kesempatan untuk bertemu lagi dengannya." Minseok lalu pergi meninggalkan Sehun yang sedang mengepalkan tangannya,kesal.
Haowen yang melihat kejadian itu perlahan mendekati Sehun. Ia dengan pelan menarik-narik celana jeans Sehun.
"Mmm.. Apa kau membelikan baba makan? Sebaiknya cepat disiapkan,Baba belum makan dari tadi malam.." Kemarahan Sehun meluntur ketika mendengar suara kecil Haowen. Dengan senyum menghiasi wajahnya, Sehun mengelus kepala Haowen lembut.
"Kau menjaga Baba dengan baik Haowen.. Anak pintar.." Sehun berjalan menuju dapur dan mendapati satu kantung plastik dimeja makan.
"Ah ,siapa yang membeli ini?" tanya Sehun pada Haowen. Haowen terlihat ragu untuk menjawab,ia memilin ujung kaosnya dan menggigit bibir bawahnya.
"Uh.. Uhmm Dari Minseok ahjussi.." jawabnya pelan sambil menunduk. Sehun mendecak sebal lalu membuang kantung plastik itu ke tong sampah.
"Hey,aku membuang makanan itu karena babamu alergi terhadap makanan laut. Dan ahjussi bulat tadi memberikannya makanan laut!" ucap Sehun memberi alasan ketika Haowen menatapnya dengan tajam.
Sehun dan Haowen pergi menuju kamar Luhan ketika mereka selesai memindahkan makanan yang dibawa Sehun ke piring. Ziyu sedang bercerita dengan antusias tentang buku hadiah Luhan yang didongengkan oleh Sehun sebelum ia tidur kemarin.
"Ziyu,jangan ganggu babamu dulu. Ia sedang sakit.." Ucap Sehun sambil menaruh nampan di nakas lalu mengangkat Ziyu dari pangkuan Luhan.
"Ini makan dulu.. Setelah itu kita akan ke rumah sakit.." Sehun naik ketempat tidur,diikuti oleh dua anaknya. Ia lalu menaruh nampan di atas pahanya lalu menyendok makanan untuk menyuapi Luhan.
"He-hey! Aku memang sakit,tapi bukan berarti aku tidak bisa melakukan hal apapun.." tolak Luhan lemah.
"Ck! Sudah menurut saja! Ayo cepat makan .. 'Aaaaa'!" Luhan dengan ragu membuka mulutnya lalu membiarkan Sehun menyuapi dirinya. Sehun tersenyum puas penuh kemenangan. Sementara Ziyu tertawa-tawa kecil dibelakang Sehun.
"Oh iya! Haowen Hyung juga belum makan kan?" ucap Ziyu sambil melirik Haowen.
"Astaga! Aku lupa membuatkan sarapan untuk Haowen,maafkan baba ya sayang.." ucap Luhan merasa bersalah.
"Ya sudah sekalian saja Haowen makan.. Sini Appa suapi.." Sehun menyodorkan sesendok nasi ke mulut Haowen,tapi Haowen menutup mulutnya rapat.
"Ayo Haowen cepat makan,nanti kau juga sakit.." bujuk Sehun sambil terus menyodorkan sesendok nasi ke mulut Haowen. Dengan ragu Haowen membuka mulutnya lalu memakan nasi yang disuapi Sehun.
"Nah seperti itu! Anak pintar!" puji Sehun sambil tersenyum.
"Ziyu juga ingin disuapi!" protes Ziyu sambil mengerucutkan bibirnya. Luhan dan Sehun tertawa gemas melihat tingkah anak bungsunya itu. Sehun menyuapi Ziyu dan dengan lahap Ziyu memakan makanan yang disuapi Sehun. Akhirnya Sehun menyuapi mereka bertiga. Waktu makan mereka diselingi oleh canda dan tawa. Dan ini pertama kalinya Haowen merasa benar-benar mempunyai sebuah keluarga.
"Sudah habis! Sekarang bersiap-siaplah Hyung! Kita akan kerumah sakit.."
"Tidak Sehun aku tidak ingin kerumah sakit. Aku akan sembuh setelah beristirahat.."
Sehun tidak menggubris, ia masih membereskan peralatan makan mereka dan menyuruh Haowen untuk bersiap-siap. Haowen dan Ziyu berlari ke kamar mereka untuk membantu Haowen bersiap-siap. Sehun juga pergi ke dapur untuk mencuci peralatan makan.
Saat Sehun kembali ke kamar,ia mendecak sebal ketika melihat Luhan tidak menurutinya dan memilih untuk tetap duduk bersandar dikepala ranjang.
"Kenapa belum bersiap-siap?" tanya Sehun sambil melipat tangan didada.
"Sudah kubilang kan Sehun?Aku tidak perlu ke rumah sakit. Aku baik-baik saja." Tolak Luhan lemah.
Sehun memutar bola matanya lalu berjalan menuju lemari. Ia memilih beberapa potong pakaian lalu membawanya ke tempat tidur. Jika Luhan tidak mau bersiap-siap sendiri,berarti dia yang harus membuat Luhan siap kan?
"Se-Sehun?" Luhan menatap Sehun yang ada disampingnya dengan bingung. Tanpa mengatakan apapun Sehun menarik kaos Luhan keatas hingga terlepas. Ia lalu memakaikan Luhan kemeja yang baru ia ambil dari lemari.
"Kau bersikap seperti ini dan kau masih bilang sifat keras kepala Ziyu menurun dariku?Tidak bisa dipercaya.." sindir Sehun sambil mengancingkan kemeja merah muda Luhan.
"Celananya. Apa mau kugantikan juga?"
Luhan merampas celananya dari tangan Sehun. Kepalanya menunduk malu hingga ia tidak dapat melihat senyuman jahil diwajah Sehun.
"Ehm.. Sehun?Bisakah kau berbalik dulu?Aku mau mengganti celanaku.." ucap Luhan pelan saat melihat Sehun terus memperhatikannya.
Sehun memutar bola matanya.
"Oh ayolah Hyung. Aku sudah pernah melihatnya. Waktu dulu kau tidak malu-malu melepasnya dengan erotis didepanku. Kenapa sekarang harus malu?" ucap Sehun jahil sambil menggerlingkan matanya.
"Yak!Oh Sehun!" Sehun tertawa terbahak-bahak melihat Luhan yang salah tingkah. Tapi akhirnya ia membalikkan badannya juga,menuruti permintaan Luhan.
"Hyung,Sudah selesai?"
"Ya sudah.."
Sehun membalikkan badan dan mendapati Luhan tengah duduk sambil melipat tangan didada. Luhan sudah rapi dan siap untuk pergi. Di waktu yang sama Haowen dan Ziyu kembali kekamar,dan Haowen terlihat sudah berganti baju.
"Baiklah kajja!" Seru Sehun setelah memakaikan jaketnya ditubuh Luhan. Sehun meraih tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Luhan tidak protes,toh memang ia butuh bantuan untuk berjalan karena badannya terlalu lemas. Haowen memegang tangan Luhan yang bebas. Sementara Sehun menggendong Ziyu ditangan kirinya. Mereka berjalan beriringan,kadang Ziyu bersenandung diikuti dengan Sehun. Haowen hanya terkikik geli melihat Ziyu dengan lucu memiringkan kepalanya kekanan dan kekiri mengikuti senandung dari Sehun.
Luhan tersenyum melihat mereka bertiga. Ia akan selalu mengingat momen-momen mereka seperti ini. Tidak hanya momen-momen bahagia saja. Tapi Semua momen akan selalu Luhan ingat asalkan Sehun,Ziyu dan Haowen ada didalamnya.
"Shit!" Umpat Sehun kesal.
"Kenapa Hun?Apa ada masalah?" tanya Luhan yang sedang duduk disampingnya. Mereka sudah berada dirumah sakit,tepatnya dilorong,duduk didepan ruang praktek dokter yang akan memeriksa Luhan.
"Aku lupa kalau sekarang hari peringatan kematian Kakek angkatku.." ucap Sehun sambil membaca pesan Hyemi. Kenapa ia bisa Lupa hari sepenting ini? Setelah Kakek Lee meninggal 3 tahun lalu Sehun biasanya tidak akan pernah lupa untuk memperingati hari kematian Kakek Lee.
Perlu diingat,Kakek Lee adalah Kakek Hyemi sekaligus Kakek yang memberi tumpangan hidup untuk Sehun beberapa tahun lalu.
"Jinjja?Kalau begitu cepat ke makamnya sebelum sore menjelang!Bagaimana sih kau ini!"
Luhan tahu siapa Kakek Lee itu,karena Baekhyun sudah menceritakannya pada Luhan dulu. Jadi Luhan mengerti seberapa penting dan berjasa kakek Lee untuk Sehun.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja!Kau sedang sakit! Aku bisa mengunjungi makamnya besok.."
"Sehun-ah.." panggil Luhan lembut.
'Sehun-ah..'
Sehun meneguk salivanya kasar.
'Kakiku jangan berani kau melemah sekarang'
Jika kalian belum tahu,ada dua hal yang membuat Sehun melemah.
Yang pertama adalah Luhan dan Kedua adalah Suaranya saat memanggil Sehun dengan sebutan 'Sehun-ah' . Sehun yang keras kepala bahkan akan tunduk jika Luhan sudah memanggilnya seperti itu.
"Aku tidak apa-apa. Aku bisa menemui dokter sendiri. Kau harus tetap berangkat,Hyemi pasti menunggumu. Haowen dan Ziyu bisa kutitipkan dulu pada Minseok. Ia sedang menuju kesini.."
Sehun hanya menghela napas. Jika Luhan sudah berkata dengan nada selembut ini,Sehun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah tidak bisa melawan.
"Baiklah. Setelah selesai aku akan langsung menuju apartemenmu." Ucapnya sambil membenarkan jaketnya yang ia pakaikan ditubuh Luhan.
"Haowen,Ziyu Appa pergi dulu ya? Jangan nakal dan jaga baba baik-baik!" Haowen dan Ziyu mengangguk serempak.
Akhirnya dengan berat hati Sehun meninggalkan mereka bertiga.
"Minseok-ssi.." Panggilnya pada Minseok saat mereka berpapasan dilorong rumah sakit. Minseok mendongak lalu menatapnya.
"Kali ini,kutitipkan Luhan padamu. Jaga dia baik-baik.."
"Tanpa kau meminta,aku pasti akan menjaganya.." Ucap Minseok enteng.
Sehun mendelik.
Kenapa Pria bulat ini begitu mengesalkan?
"Dan satu hal lagi,Simpan tinjumu itu. Dan simpan harapanmu untuk bersama Luhan. Karena aku kembali kekehidupannya untuk memperbaiki kesalahanku,dan aku akan membahagiakannya. Kuharap kau mengerti dan menyerah sekarang juga. Karena aku tidak akan memberikannya pada siapapun.." ucapnya tegas lalu pergi meninggalkan Minseok yang hanya tersenyum mendengar perkataan Sehun.
.
.
.
Sehun berdiri disamping Hyemi. Memandangi batu nisan besar dengan nama 'Lee Hongchul' terukir disana. Setelah memberi hormat dan menaruh beberapa tangkai Bunga,Sehun dan Hyemi memilih untuk tinggal beberapa saat. Mengenang kasih sayang Kakek Lee yang tidak habis-habisnya untuk mereka berdua.
"Harabojji pasti sedang tersenyum melihat kita. Ya?" ucap Hyemi sambil merangkul tangan Sehun.
"Aku berterimakasih padanya. Karena berkatnya aku bertemu denganmu,Sehun."
Sehun tersenyum. Ya,Jika bukan karena Kakek Lee mungkin Sehun tidak akan seberhasil sekarang. Dan mungkin Sehun tidak akan bertemu Hyemi.
Sehun tiba-tiba teringat pesan-pesan terakhir kakek Lee.
"Jaga cucuku Sehun-ah. Berikan ia cinta dan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari orang tuanya. Aku mengandalkanmu,Oh Sehun. Cucu laki-lakiku yang kubanggakan."
Pesan itu terus terekam diotak Sehun.
Pesan yang menjadi alasan kenapa selama ini ia memilih Hyemi dan tidak bisa meninggalkan dirinya.
Jika Kakek Lee masih hidup,apakah ia akan kecewa jika ia mengetahui isi hati Sehun yang sebenarnya?
Apakah kakek Lee akan kecewa kalau ia tahu,yang Sehun sayangi Bukan cucunya, melainkan seseorang yang Sehun cintai dari dulu. Cinta pertamanya. Luhan.
.
.
.
Setelah pulang dari makam Kakek Lee,Sehun buru-buru menancap mobil sportnya menuju apartemen Luhan. Setelah sampai ia membunyikan bel dan Luhan membuka pintu. Luhan terlihat pucat. Dengan mata yang sembab serta kantung mata yang membengkak.
"Astaga! Kau kenapa Lu?Apa kau baik-baik saja?" tanya Sehun khawatir sambil menangkup wajah Luhan.
"Aku tidak apa-apa Sehun.." ucap Luhan cepat sambil menepis tangan Sehun.
"Benarkah?Apa kata dokter tadi?" tanya Sehun sambil mengekori Luhan.
"Hanya demam biasa. Sudah kubilang kan? Kau terlalu berlebihan,jangan terlalu mencemaskanku.."
"Memangnya kenapa aku tidak boleh mencemaskanmu hmm?" Ucap Sehun akhirnya. Ia kesal karena sikap Luhan yang terkesan dingin dan sinis terhadapnya.
"Karena kau bukan siapa-siapa lagi untukku Sehun.." ucap Luhan akhirnya. Luhan berdiri memunggungi Sehun dan tak pernah membalikkan badannya walau Sehun sudah memintanya untuk berbalik.
"Luhan!" sentak Sehun.
"Berhentilah mengurusi kehidupanku! Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi! Cerita kita sudah selesai.."
Jujur,Luhan begitu lelah untuk Berharap dan menunggu. Kenapa Sehun begitu egois? Kalau ia ingin meninggalkan Luhan,tinggalkanlah ia sepenuhnya. Kalau ia ingin kembali,kembalilah sepenuhnya. Tidak seperti ini,Luhan bagai digantung diujung tebing. Menunggu apakah Sehun akan menariknya atau melepasnya hingga terjatuh.
Sementara disisi Sehun ,hatinya kesal bukan main. Kenapa ia tidak bisa mengurusi kehidupan Luhan? Terakhir ia cek,Luhan dan dirinya masih terikat pernikahan secara resmi. Itu berarti hidup Luhan adalah tanggung jawabnya. Kekesalannya bertambah ketika ia mengingat Luhan selalu mengembalikkan uang yang ia kirim untuknya. Apa karena ada Minseok, Luhan jadi tidak lagi membutuhkannya?
Tangan Sehun yang semula terkepal erat meraih tangan Luhan dan membalikkan tubuh Luhan secara kasar,hingga sekarang Luhan berhadapan dengannya.
"Bagaimana Jika cerita kita memang belum berakhir?"
Air mata mengalir dari sudut mata Luhan yang membalas tatapan Sehun dengan nanar.
"Cerita kita sudah berakhir Sehun,bahkan sebelum cerita itu dimulai. Bagaimana jika Aku dan Kau berada di cerita yang berbeda?Walaupun akan berakhir bahagia tapi akhir bahagiaku bukan dirimu.." rintih Luhan. Ia menunduk lemas,air matanya menetes membentur lantai yang dingin. Sehun mempererat genggamannya dilengan Luhan. Luhan merintih dan mendongak,mata tajam Sehun menatap langsung matanya yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu kita buat cerita yang baru. Aku,Kau dan akhir bahagia." Ucap Sehun yakin.
Luhan tercengang.
Apa yang Sehun katakan?Apa kepala laki-laki yang berada dihadapannya ini baru saja terbentur batu yang keras?
"Sehun,Kau sudah mempunyai Hyemi sekarang. Lalu bagaimana dengannya?"
Bagai alarm yang berdering diotaknya, kata-kata Luhan menyadarkannya tentang Hyemi. Ya,ia tidak bisa meninggalkan Hyemi begitu saja. Hyemi juga sudah menjadi tanggung jawabnya.
Perlahan Sehun melepaskan genggamannya dilengan Luhan dan mundur dengan gontai menjauhi Luhan.
"L-Lu.. Maafkan aku.."
Luhan tertawa getir, dengan kasar ia mengusap airmata yang jatuh di pipinya.
"Tidak apa-apa Sehun. Aku sudah tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Kau,memang tidak pernah berniat mempertahankanku."
Luhan memang tidak berharap banyak. Harapannya sudah kandas sejak Sehun memilih pergi dari hidupnya dulu.
"Bukan begitu Lu. Tunggulah aku sebentar lagi. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya."
"Sehun,Apakah menurutmu selama ini aku tidak menunggu?Selama 3 tahun,Aku menunggumu tapi kau tidak kunjung datang.. Sekarang aku sudah siap untuk melanjutkan hidupku tanpamu. Dan tiba-tiba kau ingin membangun semuanya kembali denganku. Aku tidak bisa Sehun. Semuanya sudah selesai.."
"Lu.." gumam Sehun pelan. Ia merentangkan tangannya,menunggu Luhan untuk menggapainya. Tapi Luhan hanya diam.
"Sebaiknya kau pulang. Aku akan membangunkan Ziyu." Luhan lalu pergi meninggalkan Sehun.
Sehun tidak sedang tenggelam di laut yang dalam kan? Tapi kenapa rasanya dadanya begitu sesak dan ia sulit untuk bernapas? Apakah ini yang dirasakan Luhan saat dirinya meninggalkan dan mengacuhkan Luhan dulu?
Saat Sehun mendongak ia melihat Luhan menggendong Ziyu yang tertidur.
"Kalian sebaiknya cepat pulang. Malam sudah larut.." ucap Luhan sambil memberikan Ziyu dengan perlahan pada Sehun.
Sehun tidak berkata apa-apa dan memilih untuk pergi saja meninggalkan Luhan yang menangis sambil memeluk lutut saat Sehun keluar dan menutup pintu apartemennya.
Esoknya Sehun terbangun dengan perasaan yang kalut. Ia terdiam beberapa saat,memandang kosong tembok kamarnya. Kata-kata Luhan berputar diotaknya,seperti mencemoohnya sebagai laki-laki pengecut. Ia sadar selama ini ia menyalahkan Luhan untuk hal yang sebenarnya tidak bisa ia lakukan. Ia tidak bisa membiayai kehidupan Luhan,ia tidak bisa mempercayai Luhan dan juga ia tidak bisa mempertahankan Luhan. Ia merasa bersalah karena Luhan harus menderita akibat keegoisan dirinya. Luhan berhak untuk diperlakukan lebih baik.
Sehun mendesah pelan lalu beranjak dari tempat tidurnya. Mungkin dengan melihat wajah malaikat kecilnya perasaan Sehun akan lebih tenang.
Sehun membuka pintu kamar Ziyu dengan pelan dan mendapati sang anak sedang sibuk melipat baju-bajunya dan memasukannya kedalam ransel kecilnya.
"Sayang,apa yang sedang kau lakukan?" tanya Sehun sambil duduk diranjang Ziyu.
"Oh Appa sudah bangun? Ziyu bersiap-siap untuk pulang ke rumah! Ziyu harus menjaga baba karena baba sakit parah."
"Baba sakit parah?Kenapa Ziyu bisa tahu?" tanya Sehun bingung.
"Karena dokter yang baba temui kemarin bilang Baba bisa sembuh jika dioperasi."
Tanpa berkata apapun Sehun berlari kekamarnya. Dengan keras ia membuka pintu membuat Hyemi terbangun.
"Kau kenapa?" tanya Hyemi ketika matanya yang menyipit melihat Sehun berlari menuju kamar mandi dan membiarkan pintunya terbuka begitu saja.
"Aku harus ke apartemen Luhan. Ia sakit. Bisakah kau menggantikanku di rapat siang ini?" tanya Sehun sambil memakai kaos berkerahnya dengan cepat.
"Aku pergi dulu ya!"
"Luhan Lagi?" Hyemi tertawa getir lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar.
"Sehun-ah,apakah Luhan lebih berarti daripada aku?" tanya Hyemi sambil berdiri didepan Sehun dan melipat tangannya didada.
"Hyemi-"
"Bahkan kau tidak jadi mengumumkan pertunangan kita saat natal. Apa karena Luhan datang?"
"Aku sudah meminta maaf soal itu," Sehun menghela napas, "Dan hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan Luhan. Tidak peduli seberapa berartinya ia untukku,ia sedang sakit dan membutuhkanku sekarang."
"Aku peduli Sehun!" teriak Hyemi "Apa menurutmu aku tidak membutuhkanmu juga?!"
"Kau selalu menomor satukan Luhan! Kau tidak pernah menomor satu-kan aku! Padahal siapa yang selalu ada untukmu saat kau hidup menderita dulu?! Siapa yang memberimu kehidupan yang layak hingga sekarang kau menjadi pemimpin perusahaan?!"
"Kau.." Jawab Sehun singkat, "Kau Lee Hyemi. Tapi apakah aku memintamu melakukan itu semua? Tidak. Kau pikir itu semua keinginanku? Tidak. Itu keinginanmu. Semua yang kulakukan adalah keinginan dan mimpimu. Bukan mimpiku. Kalau kau mau mengambilnya kembali silahkan." Ucap Sehun dengan tenang.
"Tapi jangan pernah membandingkan bagaimana aku memperlakukan kalian dengan berbeda. Harusnya kau sadar kenapa aku menomor satukan Luhan. Kenapa kau tidak menanyakan pada dirimu sendiri alasan mengapa aku lebih mementingkan Luhan daripada dirimu?"
Setelah itu Sehun meninggalkan Hyemi yang masih tercengang dengan perkataannya.
.
.
.
Sehun mengetuk-ngetuk setirnya dengan tidak sabar. Ia duduk dengan gelisah di kursi pengemudi. Mobil-mobil didepannya masih tidak bergerak karena macet. Sehun melirik Ziyu yang sedang meminum susu kotaknya. Matanya yang bulat melihat jalanan dan sesekali mengernyit ketika mendengar suara klakson yang memekakkan telinganya.
"Ehmm Ziyu.. Apa Baba mempunyai teman dekat?" tanya Sehun akhirnya. Ziyu menatap appanya sekilas lalu mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk kecilnya,berusaha mengingat.
"Tentu punya. Chanyeol Ahjussi.." Sehun mengeratkan genggamannya di setir mobil. Chanyeol?! Tega sekali sepupunya itu merebut Luhan dari-
"Baekhyun ahjussi,Kyungsoo ahjussi dan Minseok ahjussi!" Seru Ziyu. Sehun tertawa kecil. Oh hampir saja ia menelepon Chanyeol untuk menantangnya berkelahi, tapi untung saja ia sadar jika yang Ziyu sebutkan tadi adalah (sekedar) teman-teman Luhan. Ya Minseok juga termasuk dalam daftar 'sekedar teman'.
"Oh! Ada lagi sih! Tapi sepertinya ia bukan teman yang baik untuk baba.." ucap Ziyu sambil mengerutkan dahi.
"Siapa dia?"
"Ziyu tidak tahu namanya. Tapi ahjussi itu mempunyai mobil hitam yang mewah!"
Mobil hitam.
Emosi Sehun memuncak. Tangannya memegang erat setir mobil, rahangnya yang tajam mulai mengatup erat. Sehun mengingat pria bermobil hitam itu. Pria yang dengan beraninya mencium bibir Luhan 3 tahun lalu.
"Mobil hitam? Apa Baba sering bertemu dengan ahjussi itu?" tanya Sehun berusaha tenang,walaupun kemarahan sudah menyesakkan dadanya.
"Tidak. Baba takut kepada ahjussi itu. Setiap kali ahjussi itu datang ke rumah,baba akan mematikan semua lampu dirumah kami yang dulu dan mengajak Ziyu tidur. Padahal waktu tidur Ziyu belum tiba!" ucap Ziyu mengerucutkan bibirnya.
"Ahjussi itu suka menggedor pintu dengan keras. Kalau sudah begitu baba akan memeluk Ziyu,Ziyu ikut takut karena Baba menangis dan tangannya gemetar. Baba juga akan memanggil-manggil namamu appa."
"Sehun..."
Entah kenapa Sehun jadi mengingat suara Luhan saat meneleponnya dan memanggil namanya dengan gemetar dan takut ketika Sehun masih menjadi trainee dulu. Ia membayangkan Luhan memeluk Ziyu erat sambil menutup matanya rapat. Air mata sudah mengalir dipipinya,dan tubuhnya gemetar takut sambil memanggil nama dirinya dengan lemah.
"Sehun..."
Sehun memejamkan matanya. Mengontrol jantungnya yang berdebar cepat seperti akan meledak. Kepalanya terasa pusing. Kenapa ia baru tahu hal ini? Kenapa Luhan tidak pernah memberitahunya? Oh tapi kenapa saat kau melihat Luhan dicium oleh orang itu, kau langsung pergi tanpa berusaha bertanya dan mendengar penjelasaan Luhan? Sehun kembali lagi menyalahkan Luhan untuk sesuatu yang tidak bisa ia lakukan.
Sehun jadi mengerti kenapa Luhan bilang cerita mereka sudah berakhir. Karena dulu, ia sendiri yang mengakhirinya.
.
.
.
Sesampainya diapartemen Luhan. Sehun terus terpekur,tertunduk dalam diam. Luhan sebenarnya aneh dengan sikap Sehun tapi akhirnya memutuskan untuk tidak mengacuhkannya.
Malam sudah tiba dan Sehun masih berada diapartemen Luhan. Terkadang ia mengecek Ziyu dan Haowen yang sedang bermain. Mengurus mereka saat Luhan beristirahat.
Luhan sedang menyiapkan makan malam ketika ia merasakan kehadiran Sehun dibelakangnya.
"Sehun.." panggil Luhan pelan. Sehun memejamkan mata dan mengepalkan tangannya. Suara Luhan mengingatkannya kepada kejadian 3 tahun lalu saat Luhan meneleponnya dengan nada takut.
"Ada apa?" tanya Luhan khawatir. Walaupun ia berusaha tak acuh,tapi tetap saja ia mengkhawatirkan Sehun yang tiba-tiba terdiam dan murung.
"3 tahun lalu.. Aku melihat seorang pria dengan mobil hitam didepan rumah kita.." Ucap Sehun. Mata Luhan membelalak. Wajahnya yang pucat menyiratkan ketakutan.
"Aku melihatnya menciummu. Siapa pria itu?"
Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya yang kurus memeluk tubuhnya yang mulai gemetar.
"Luhan! Jawab aku! Siapa pria itu hmm? Tolong jawab aku.." mohon Sehun pada Luhan. Tetesan air mata Luhan membuat hati Sehun sakit.
"K-Kau,Melihatnya denganku ta-tapi kau tidak menyelamatkanku?" suara Luhan gemetar,matanya yang berkaca-kaca menatap Sehun tidak percaya.
"Kau melihatnya! Tapi tidak melakukan apapun!Kau jahat Sehun!" teriak Luhan sambil memukul keras tubuh Sehun. Sehun meringis sakit saat menerima pukulan keras Luhan. Dengan cepat ia memegang tangan Luhan untuk menghentikkan pukulannya. Luhan terengah-engah dan dengan cepat menepis tangan Sehun yang sedang menggenggamnya.
"Apa yang kau maksud Luhan?! Aku tidak mengerti!"
"D-dia menyakitiku! A-aku.. Ia memaksaku. Ia menyentuhku.." lirih Luhan. Ia memeluk tubuhnya erat,kuku-kukunya menancap keras di kedua belah lengannya menyisakkan bekas-bekas kemerahan.
"Ia memaksaku Sehun.. Ia menggunakan tubuhku." Luhan meraung ,tangannya memukul-mukul tubuhnya keras. Ingatannya tentang kejadian itu membuatnya merasa kotor. Sehun tertegun,air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya melesat jatuh juga.
"A-apa,dia.. Dia memperkosamu?" tanya Sehun. Luhan tidak menjawab,ia meraung dan terus memukul-mukul tubuhnya keras. Tanpa menunggu lagi Sehun memeluk tubuh Luhan erat. Walaupun Luhan meronta dan sempat memukul Sehun ia tetap memeluk Luhan erat.
"Tolong berhenti melukai dirimu sendiri.. Kau menyakitiku Luhan.." lirih Sehun sambil terisak.
"Maafkan aku..Tolong maafkan Aku.." ucap Sehun berkali-kali. Tubuh mereka berdua sudah merosot jatuh terduduk dilantai dapur. Luhan masih menangis dengan keras sementara Sehun terus menenangkan Luhan walau dirinya juga berlinangan air mata.
Ziyu dan Haowen melihat semuanya. Ziyu memeluk Haowen dengan takut. Mereka sedari tadi berdiri dipintu dapur ketika mendengar keributan dari sana. Haowen menenangkan Ziyu dengan mengusap-usap kepala Ziyu.
"Baba dan appa tidak akan berpisah kan hyung?" tanya Ziyu dengan pelan. Mata Haowen yang tajam memandangi Sehun yang masih memeluk Luhan,mengayun-ayunkan tubuhnya kedepan dan kebelakang untuk menenangkan Luhan.
"Tentu saja tidak Ziyu,mereka saling menyayangi. Appa tidak akan meninggalkan Baba. Jangan khawatir.." ucap Haowen yakin sambil memperhatikan Sehun yang terus menenangkan Luhan.
Sehun tidak tahu sudah berapa lama mereka berdua terduduk dilantai dapur. Dan ia juga tidak tahu kapan Luhan berhenti menangis dan akhirnya tertidur didekapannya. Matanya yang sembab memandang wajah Luhan yang berada didekapannya. Hidungnya memerah,jejak air mata masih membasahi pipinya,sementara kelopak matanya sudah tertutup rapat. Sehun mencium pucuk kepala Luhan lalu mencium kedua belah mata Luhan yang tertutup.
"Maafkan aku sayang.." lirihnya.
Ia mengangkat tubuh Luhan dan membawanya kekamar. Dengan perlahan ia membaringkan Luhan agar ia tidak membangunkan Luhan, tapi tetap saja Luhan terbangun. Luhan membuka kelopak matanya pelan,tangannya yang lemas meraih pergelangan tangan Sehun.
"Sehun-ah.." lirih Luhan. Air mata menetes lagi dari sudut matanya.
"Kenapa kau meninggalkanku?Kenapa kau memilih orang lain?"
Sehun tersenyum kecil lalu mengusap pipi Luhan yang memerah dan panas karena demam tinggi yang kembali menerpanya.
"Kau salah. Jika aku bisa memilih siapapun,aku akan tetap memilihmu.." jawab Sehun pelan.
"Tidurlah Luhan. Tubuhmu panas." Sehun mencium dahi Luhan lalu menyelimuti Luhan.
Luhan sudah kembali tertidur saat Sehun datang lagi dengan membawa kompres.
Malam itu Sehun tidak tertidur,ia memilih untuk menjaga Luhan. Memberikan waktunya untuk Luhan sepenuhnya. Membayar semua kesalahannya dengan waktu,dengan porsi hidupnya yang tak akan pernah kembali.
TBC
VISIT PAGE AUTHOR YANG BARU DI:
Facebook: SeLuminati
AsianFanfics: SeLuminati
