Luhan's terrible memories


Hati hancur berkali-kali

dan tetap bertahan.

Kita harus melalui

kegelapan yang makin pekat

dan tidak gentar karenanya.

- "The Testing-Tree",Stanley Kunitz

Luhan terbangun pagi itu,menyipitkan matanya yang perih saat sinar matahari menusuk. Luhan memegang kepalanya yang sakit,yang berdenyut seperti dihantam oleh palu besar. Luhan beranjak duduk dikasurnya dan ia tersadar bahwa sisi tempat tidurnya yang lain masih kosong dan dingin.

Sehun tidak kembali lagi.

Sudah dua malam Sehun tidak pulang dan hal itu membuat kepala Luhan pusing dan hatinya terasa perih. Luhan melipat selimutnya dengan rapi,merapihkan sprei yang membalut kasurnya dan mengatur ulang bantal yang ia tiduri. Saat Luhan mengambil bantal Sehun, ia mengernyit saat sebuah amplop terletak dibalik bantal itu. Luhan mengambilnya dan terkejut saat mendapati beberapa lembar uang berjumlah 100.000 won dan sepucuk surat didalamnya. Luhan mengambil surat yang terlipat itu,membukanya perlahan dan hatinya terasa perih (lagi) saat melihat tulisan tangan yang ia begitu kenal.

Untuk Luhanku tersayang,

Maaf,

Apakah kata itu cukup untukmu memaafkan diriku Luhan?

Maafkan aku karena aku tidak bisa membahagiakanmu,maafkan aku karena selalu membuatmu sedih dan terluka dengan perkataan dan perbuatanku,maafkan aku karena aku meninggalkanmu.

Aku sadar akulah yang salah,Aku bukan suami yang berguna untukmu dan itu membuatku merasa kesal. Dan tidak seharusnya aku melampiaskan kekesalanku padamu.

Luhan,Apakah kau akan memaafkan aku jika kubilang sekarang aku sedang dalam perjalanan menuju Seoul?Aku bertemu Jongin,dan ia menawarkanku sebuah pekerjaan yang aku impikan sejak dulu. Apa kau ingat impianku? Kau tentu ingat, Kita sering membicarakannya sebelum tertidur,hingga akhirnya hanya bisa mewujudkannya dalam mimpi. Aku ingin menjadi penari profesional,maka ketika kesempatan itu datang aku tidak akan menyia-nyiakannya. Maafkan aku karena aku bersikap egois,dan meninggalkanmu dan Ziyu. Tapi aku berjanji,aku akan tetap membiayai hidupmu dengan Ziyu.

Dan ketika aku sukses nanti,aku akan menjemput kalian berdua. Kita akan hidup lebih bahagia di Seoul.

Kau bersedia menungguku kan Luhan?

Percayalah padaku.

Aku mencintaimu Lu.

Dari Suamimu,Sehun

Mata Luhan terasa perih dan terbakar ketika (lagi-lagi) air mata mengalir dari sudut matanya. Ya,Luhan mempercayai Sehun. Dan ya,ia akan menunggu. Walaupun sulit untuknya hidup tanpa Sehun,ia akan menunggu. Sehun tidak akan pernah melanggar janjinya,bukankah begitu?

Namun, semakin lama Luhan menunggu,Semakin memudar Janji Sehun dan akhirnya menghilang. Sudah enam bulan lebih setelah Sehun pergi tapi ia tidak memberi kabar maupun uang padanya. Sebenarnya Luhan tidak begitu membutuhkan uang dari Sehun,karena ia bisa mencarinya sendiri. Tapi ia butuh keberadaan Sehun disisinya. Walaupun mereka kesulitan secara materi tapi jika mereka hidup berdua,Luhan akan tetap bertahan.

Luhan memutuskan untuk bekerja disebuah restoran cina. Ia tidak bisa hanya menunggu dan menunggu. Ziyu butuh asupan Gizi untuk ia tumbuh dengan baik dan Luhan juga harus memenuhi biaya hidup mereka.

Pada jam kerjanya,Luhan akan menitipkan Ziyu kepada tetangga sekaligus pemilik rumah sewaan yang ia tempati. Seperti biasa,pagi itu ia menggendong Ziyu untuk menitipkannya dirumah Dahae. Setelah Luhan mengetuk pintu rumah Dahae,tetangganya itu membukanya dengan malas-malasan dan Luhan memberinya senyum simpatik,merasa bersalah karena selalu membuat tetangganya itu kesusahan.

"Maafkan karena selalu merepotkanmu Dahae-ssi," ucap Luhan sambill memberikan Ziyu ke gendongan Dahae.

"Ya tidak apa,memangnya kau bisa apa? Kau harus bekerja untuk membayar uang sewa rumahmu padaku." Luhan hanya bisa tersenyum,ia sudah kebal dengan kata-kata tajam Dahae.

"Sekali lagi maaf,aku akan segera membayarnya bulan ini." Luhan membungkuk sedikit,dengan tidak sengaja ia melihat arloji yang Dahae kenakan.

"Kenapa? Kau suka dengan arloji baruku?" ucap Dahae dengan senyum sombong menghiasi wajahnya.

"Ah ya," ucap Luhan kikuk. "Arloji itu sangat bagus dan pas dikenakan olehmu."

"Ya tentu saja arloji ini bagus. Harganya sangat mahal,kau pasti tidak akan bisa membelinya."

Luhan tersenyum , "Ah kalau begitu aku pergi dulu Dahae-ssi terima kasih karena sudah menjaga Ziyu untukku."

Setelah Luhan pergi,Dahae membawa Ziyu kedalam rumah. Ziyu memainkan arloji yang dikenakan Dahae dan dengan gemas Dahae mengangkat Ziyu tinggi hingga bayi berumur 8 bulan itu tersenyum geli.

"Aigoo Ziyu-ya,Apa kau menyukai arlojiku juga?" tanya Dahae dengan gemas saat melihat Ziyu memainkan arloji dipergelangan tangannya.

"Aku berterima kasih pada Appamu. Dia yang membelikanku arloji ini dengan uangnya yang ia kirimkan kepadaku setiap bulan." Dahae menyeringai.

Sehun selalu mengirimkan uang untuk Luhan dan ia mengirimkannya ke rekening tabungan Dahae karena Luhan tidak mempunyai rekening tabungan di Bank. Tiap Bulan Sehun mengirimkan uang dengan jumlah yang tidak sedikit,menitip pesan kepada Dahae agar Luhan memakainya dengan baik. Tapi Sehun tidak tahu bahwa Dahae tidak pernah memberikan uang itu pada Luhan. Dahae juga tidak pernah menyampaikan pesan-pesan Sehun kepada Luhan. Ia juga tidak merasa berdosa telah memakai semua uang yang dikirimkan Sehun untuk Luhan. Ia beralasan bahwa uang yang dikirimkan Sehun kepada Luhan sama saja dengan bayarannya menjaga Ziyu selama ini. Toh Luhan juga bekerja jadi ia tidak membutuhkan uang dari Sehun. Dan siapa yang menyuruh Sehun untuk mempercayai Dahae seutuhnya? Salahkan Sehun yang tidak berani menghubungi Luhan,hingga ia tertipu oleh Dahae dan terus mengirimkan uang tanpa tahu Luhan tidak mendapatkan uang itu sepeserpun.

Dahae tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar Ziyu mulai merengek. Nafas Ziyu mulai tersengal dan wajahnya memerah. Dadanya naik turun berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Astaga! Kau kenapa Ziyu-ya?!" tanya Dahae panik sambil mengayunkan Ziyu. Namun Ziyu tetap merengek. Suara yang ia keluarkan begitu kecil seperti tercekik. Dahae dengan panik menelepon Luhan yang sedang bekerja.

"Luhan-ah!" teriak Dahae saat Luhan mengangkat telepon, "Anakmu sulit bernafas! Apa yang harus kulakukan?"

Luhan yang sedang mengelap sebuah meja kosong,terkejut. Ia bisa mendengar rengekan kecil dari bibir Ziyu.

"To-tolong bawa ia ke rumah sakit! Aku akan segera menyusul dari sini! Tolong ya Dahae!" Luhan menutup teleponnya dan segera berlari keluar restoran.

"Ya! Luhan! Kau mau kemana!?" teriak pemilik restoran yang melihat Luhan hendak pergi meninggalkan restoran.

"Anakku sakit," Jawab Luhan, "Aku harus segera menemuinya!"

"Hey! Kau pikir restoran ini milik orang tuamu sehingga kau bebas pergi kemana saja?!"

"Ma-maafkan aku! Tapi ini keadaan darurat,anakku harus segera dibawa kerumah sakit," Mohon Luhan pada bosnya.

"Aku butuh tenagamu untuk melayani tamu yang datang! Apa kau tidak melihat restoran kita sedang banyak pengunjung?" tanya pemilik restoran itu sambil berkacak pinggang, "Jika kau keluar dari restoranku sekarang,Jangan pernah kembali lagi karena kau kupecat."

Luhan mengepalkan tangannya.

Persetan! Batinnya.

Luhan dengan secepat kilat berlari keluar dan memanggil taksi menuju rumah sakit yang juga dituju Dahae dan Ziyu.


"Anakmu menderita penyakit Asma."

"Asma?!" tanya Luhan tak percaya, "Bagaimana bisa? Keluargaku tidak mempunyai riwayat penyakit asma."

"Asma bisa disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat untuk saluran pernafasannya. Bisa jadi karena udara lingkungan anda yang lembab tuan."

Luhan mendengar penjelasan dokter didepannya sambil menggigit bibir bawahnya,cemas. Ziyu tertidur tenang dipangkuannya,dengan matanya yang sembab serta hidung yang memerah. Dokter itu memberi surat resep untuk Luhan yang ditebusnya dengan harga yang sukses menguras habis isi dompetnya.

Setelah dari rumah sakit, Luhan berjalan pulang dengan gontai. Ziyu masih tertidur lelap dipangkuannya. Luhan sangat sedih karena ia tahu Ziyu,buah hatinya,harus menderita penyakit yang disebabkan oleh ketidak mampuannya memberi hidup yang baik untuk Ziyu. Kalau saja ia bisa memberikan tempat tinggal yang baik dan makanan yang bergizi untuk Ziyu,mungkin Ziyu sedang bermain dengan riang seperti bayi-bayi seumurannya yang lain.

Perut Luhan terasa lapar,tapi ia memilih untuk tidak makan dan menghabiskan uangnya untuk membeli obat yang terbaik untuk kesehatan Ziyu. Luhan menghela nafas, apa yang harus ia lakukan untuk bertahan hidup? Ia yakin ia sudah tidak ada hak untuk bekerja direstoran ,karena ia sudah melanggar perintah bos-nya. Tidak ada yang bisa ia pikirkan sekarang selain ia membutuhkan Sehun. Kalau saja Sehun ada disampingnya,Sehun pasti akan mencari jalan keluar dan memastikan pada Luhan bahwa hidup mereka akan baik-baik saja.

Hal itu membuat Luhan semakin merindukan Sehun. Rasanya ia ingin sekali melihat Sehun berada dirumah,menunggunya pulang sambil duduk disofa hitam yang biasa ia duduki. Lalu Luhan akan memeluk Sehun erat. Mengadu kepada Sehun tentang hal-hal yang ia lalui hari ini. Pasti Sehun akan tertawa. Walaupun Sehun tertawa,Luhan tahu pasti sang suami juga khawatir. Tapi Sehun berusaha tegar dan kuat untuk Luhan. Maka dari itu Sehun akan memeluk Luhan erat. Dan akhirnya menenangkan Luhan dengan kata-kata cinta yang sukses membuat Luhan semakin mencintai Sehun.

Tapi Luhan harus menelan kekecewaan ketika ia sampai dirumah dan saat ia menyalakan lampu,tidak ada sosok Sehun yang menunggunya pulang. Rumahnya begitu sepi seperti biasa. Luhan langsung menuju kamarnya,menaruh Ziyu di kasur dengan perlahan. Tanpa mengganti pakaiannya,Luhan ikut berbaring disebelah Ziyu. Dan ia mulai menangis.

Rasa rindu Luhan kepada Sehun sudah tidak tertahankan lagi. Luhan sadar bahwa ia semakin menyakiti perasannya sendiri dengan bersikap seolah ia baik-baik saja tanpa Sehun. Bagaimana bisa ia hidup dengan baik tanpa belahan jiwanya? Terkadang Luhan tidur dengan memeluk bantal yang dipakai Sehun,berharap saat ia membuka mata bantal yang ia peluk digantikan dengan sosok Suaminya yang akan menyapanya dengan senyuman. Walaupun sepertinya tidak mungkin Sehun kembali dan menepati janjinya, Luhan tetap memegang janji itu erat. Walaupun ia harus terluka karena janji itu,Luhan akan tetap memegang janji Sehun. Ia mempercayai Sehun seutuhnya.

Ia percaya bahwa Sehunnya akan kembali.


Pagi itu Luhan terbangun karena mendengar ketukan keras dari pintu rumahnya. Dengan gontai ia menuju pintu dan membuka pintunya perlahan.

"Luhan,ini tagihan listrik dan air rumahmu," Ucap Dahae sambil memberikan dua amplop kepada Luhan.

"Mereka mengirimnya kerumahku tadi pagi. Dan mereka bilang kalau kau tidak membayar tagihannya dalam waktu seminggu,mereka akan memutus listrik dan saluran airmu." Jelas Dahae.

Luhan membelalakkan matanya, "Ta-tapi aku tidak bisa mengumpulkan uang sebanyak ini dalam waktu seminggu," Ucap Luhan lemah saat ia memeriksa jumlah tagihan listrik dan air rumahnya.

Dahae mengedikkan bahu, "Aku tidak bisa apa-apa. Walaupun aku pemilik rumah sewaan ini aku tidak bertanggung jawab akan hal itu."

Luhan menggeram frustasi, "Apa yang harus kulakukan? Aku baru saja kehilangan pekerjaanku."

"Kenapa kau menanyakannya padaku?" tanya Dahae sambil melipat kedua tangannya didada, "Jangan berharap aku akan meminjamkan uangku padamu. Aku juga mempunyai kebutuhan hidupku sendiri."

"Aku mengerti Dahae-ssi. Tapi bisakah kau menolongku mencari sebuah pekerjaan dengan cepat?" mohon Luhan.

Dahae tertawa sinis, "Bagaimana kau bisa mendapat pekerjaan dengan cepat jika kau tidak mempunyai kemampuan apapun?Lihatlah dirimu! Kau tidak mempunyai kemampuan apapun kecuali wajahmu yang terlihat tampan."

Dahae menjentikkan jarinya saat ia mendapatkan sebuah ide.

"Ah! Sebenarnya ada pekerjaan yang cocok denganmu." Luhan mendongak,menatap Dahae penuh harap.

"Temanku sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi pelayan. Gajinya pun lumayan besar. Apa kau mau mencobanya?"

Luhan tanpa berpikir panjang mengangguk dengan antusias.

"Baiklah,aku akan menelepon temanku dulu. Aku akan menghubungimu nanti."

Setelah Luhan mengucapkan beribu terima kasih padanya, Dahae akhirnya pulang. Dan Malam itu Dahae mengirimkan pesan pada Luhan yang berisi alamat restoran tempat Luhan akan bertemu dengan orang yang akan mempekerjakannya.

Luhan berpakaian dengan rapi malam itu. Dengan kemeja polo berwarna biru dan celana jeans yang pas dikenakan olehnya. Dahae duduk disampingnya sambil menggendong Ziyu, sementara Luhan merasa sangat gugup. Apalagi saat mengetahui restoran yang menjadi tempatnya bertemu dengan calon bos adalah restoran mewah. Berbagai pemikiran melintas dibenaknya. Bagaimana jika bosnya mengira Luhan tidak menghargai pertemuan mereka? Bagaimana jika ia tidak diterima menjadi pekerja karena sang bos tidak menyukainya?

Dahae menepuk pundak Luhan dan menyuruhnya untuk tenang dan tidak gugup. Luhan tersenyum,bersyukur karena Dahae mau menemaninya. Ternyata Dahae mempunyai sisi baik juga. Bahkan Dahae memesankan segelas Jus untuknya. Luhan meminum Jus itu dengan sekali teguk karena ia terlalu gugup. Setelah menunggu sepuluh menit,Luhan tiba-tiba merasa lelah dan mengantuk. Dahae menyuruhnya untuk tidur dan berjanji akan membangunkan Luhan ketika temannya sudah datang. Luhan mengangguk pelan dan langsung tertidur.

.

Dahae menyeringai,dengan cepat ia menelepon seseorang dan langsung terhubung padanya.

"Mmm Oppa! Ya Luhan sudah siap,Pelangganmu bisa menjemputnya sekarang juga," Ucapnya bersemangat, "Baiklah! Berikan uang bagianku besok ok!"

Dahae menutup teleponnya dan kembali menatap Luhan yang sedang tertidur pulas.

"Luhan,kau akan berterima kasih padaku karena besok kau akan mendapatkan banyak uang dari pekerjaan yang kuberi,"

Dahae tersenyum sinis lalu pergi meninggalkan Luhan yang masih tertidur direstoran tersebut.


"Baby.."

Luhan membuka mata mendengar suara itu dan merasakan sebuah tangan mengelus pipinya lembut.

"Sehun?"

Sehun tersenyum dan mengelus rambut Luhan dengan sayang, "Ya ini aku."

Luhan tersenyum senang melihat Sehun akhirnya pulang. Ia melingkarkan tangannya diseputar leher Sehun dan menarik suaminya itu mendekat.

"Sehun-ah aku merindukanmu."

Bibir Sehun menyentuh bibirnya lembut,dan sebelum Sehun memperdalam ciumannya ia berbisik,

"Kau sangat cantik baby."

Luhan membuka mata saat ia merasakan perih di bibirnya. Saat ia menatap seseorang yang sedang menciumnya,Ia terkejut dan berusaha mendorong seorang lelaki yang tidak dikenal menindih tubuhnya.

"Lepaskan aku!" teriaknya dan berhasil menghentikan kegiatan pria itu, "K-kau siapa?!"

Pria itu menyeringai lalu menangkup kasar pipi Luhan dengan tangannya, "Aku adalah pemilikmu malam ini! Dan sebagai budakku kau harus memuaskan aku!"

Pria itu mencium bibir Luhan lagi. Namun Luhan dengan sekuat tenaga mendorong pria itu dan mencakar tubuhnya. Luhan berhasil mendorong pria itu menjauh dan berlari sejauh mungkin dari pria itu, namun karena kepalanya yang pusing,Luhan dengan segera memilih untuk masuk ke ruangan yang paling dekat dengan tempat ia berdiri.

Luhan masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu.

Dengan tangan gemetar,Luhan mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan menghubungi satu-satunya nomor telepon yang terlintas diotaknya.

"Yeoboseyo?"

Hati Luhan berdesir saat mendengar suara itu lagi.

"Sehun," panggil Luhan Lirih. Luhan kehabisan kata-kata. Banyak hal yang ingin ia katakan saat itu hingga ia tidak mampu berucap.

"Lu?Ada apa?" tanya Sehun khawatir..

"Sehun," panggil Luhan lagi. Isak tangis mulai meluncur dari bibirnya. Rasa rindu,sedih, dan rasa takut menyelimuti dirinya hingga yang ia bisa lakukan hanya menangis.

"Ya!"

Luhan terkejut mendengar teriakkan pria yang hampir memperkosanya itu dan dengan tidak sengaja menjatuhkan ponselnya dari tangannya yang gemetar.

"Buka pintunya kalau tidak akan kuhancurkan pintu ini!"

Luhan dengan panik segera mengambil ponselnya yang hancur berantakkan dan hendak menyusun kembali ponselnya ketika ia mendengar suara kayu yang hancur dengan keras dan tangan besar menarik rambutnya dengan kasar.

"Beraninya kau lari dariku!" ucap pria itu sambil menghantam wajah Luhan dengan knop pintu yang ia genggam. Luhan tersungkur dan merasakan sakit di wajahnya,bibir bawahnya robek dan mengeluarkan darah. Pria itu menarik tubuh Luhan keluar dan menghempaskannya ke tempat tidur.

"Kali ini,kupastikan kau tidak akan bisa lari lagi dariku." Pria itu menyeringai lalu kembali menindih tubuh Luhan. Luhan meronta dan berteriak namun ia tetap tidak bisa lari dari pria tersebut. Hatinya terasa sakit saat tangan itu menyentuh seluruh bagian tubuhnya. Ia lebih baik dibakar hidup-hidup daripada harus disentuh orang lain selain Sehun.

Malam itu,pertama kalinya ia menyatu dengan orang lain selain dengan Sehun, orang yang ia cintai.


Mentari pagi masuk kedalam kamar hotel,memantul dikulit Luhan yang putih. Luhan masih duduk melipat kakinya didada sambil gemetar ketakutan. Lubang anusnya terasa perih dan bau anyir darah tercium dari sprei yang mengalasi kasur yang ia duduki. Luhan memeluk tubuhnya erat,bayangan-bayangan kejadian tadi malam terus menghantui pikirannya membuat ia kembali menangis dan membenturkan kepalanya dengan keras ke dinding.

Pria itu sudah meninggalkannya tadi malam,melempar setumpuk uang ke kasur dan mengatakan bahwa ia akan kembali kepada Luhan.

Rasanya ingin sekali ia mengakhiri hidupnya. Dengan membenturkan kepalanya kedinding hingga kepalanya bocor atau melompat dari gedung yang tinggi hingga tubuhnya hancur. Luhan lebih baik merasa sakit karena tubuhnya hancur daripada harus merasa sakit karena bayang-bayang kejadian tadi malam.

Namun ia teringat tentang Ziyu,anak Luhan satu-satunya. Kalau ia mati,siapa yang akan menjaga dan menyayangi Ziyu? Ziyu masih membutuhkan dirinya.

Luhan sadar, sekarang ia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri,tapi juga untuk Ziyu. Dengan perlahan ia beranjak dari ranjang lalu memakai pakaiannya kembali. Dengan terpaksa ia mengambil setumpuk uang yang tergeletak di kasur. Luhan tidak munafik,ia membutuhkan uang itu untuk membeli kebutuhan Ziyu. Walaupun harga dirinya hancur,Demi Ziyu, Luhan akan menerima uang itu.

.

Luhan berjalan dengan lemas menuju rumah Dahae. Tangannya yang mengetuk pintu rumah Dahae bergetar karena menahan amarah yang mengancam untuk meluap. Dahae membuka pintu rumahnya dengan malas-malasan.

"Kau menjebakku!" teriak Luhan pada Dahae.

"Apa maksudmu?" tanya Dahae dengan melipat tangannya didada.

"Kau!K-kau menjual tubuhku kepada seorang pria!A-aku, dia memperkosaku!"

"Apa yang kau bicarakan?! Aku memberimu sebuah pekerjaan yang bisa kau lakukan dengan mudah! Lagipula bayaran yang kau terima juga tidak kecil! Seharusnya kau bersyukur!"

"Sudahlah," ucap Luhan pasrah, "Dimana Ziyu?"

Dahae mendecak sebal dan berbalik meninggalkan Luhan sambil menggerutu, "Cih sudah bagus kuberi pekerjaan, dasar tidak tahu terima kasih."

Luhan hanya menghela nafas,mencoba sabar. Ia harus sabar.

Tapi Kenapa harus dirinya yang selalu bersabar?

Luhan menggigit bibir bawahnya,berusaha untuk menahan tangis. Dahae kembali dengan menggendong Ziyu. Ziyu tertawa senang melihat Luhan, tangannya yang kecil terentang berusaha meraih Luhan. Tindakan menggemaskan Ziyu membuat Luhan tersenyum, Ia juga merentangkan tangannya untuk menggendong Ziyu.

"Aigo, anakku , apa kau merindukan baba hmm?"

Ziyu tertawa dan Langsung memeluk Luhan, merebahkan kepala kecilnya dibahu Luhan.

"Mmmm Baba juga merindukan Ziyu," ucap Luhan sambil mengusap punggung Ziyu.

"Aku permisi dulu Dahae. Terima kasih sudah merawat Ziyu selama ini."

Luhan pergi meninggalkan rumah Dahae. Ia bersumpah,ia tidak akan menginjak lantai rumah Dahae lagi. Tidak akan pernah.

Selama seminggu, yang Luhan lakukan hanyalah diam dikamarnya,mengurung diri dari lingkungan luar, dan bergulung diselimutnya. Terkadang, setelah memastikan Ziyu tidur lelap, Luhan akan mengurung diri dikamar mandi. Menangis sambil berteriak histeris, membersihkan tubuhnya dengan air shower yang dingin. Karena setelah kejadian itu, Luhan selalu merasa tubuhnya kotor.

.

Bulan Juni sudah datang, dan hari itu Ziyu berulang tahun yang pertama. Luhan dengan semangat membuat kue coklat untuk sang anak. Setelah selesai mengoles krim di kue tersebut. Luhan dengan senyuman riang melangkah menuju ruang tengah, dimana Ziyu sedang duduk didepan meja kayu yang rendah.

"Ta-da! Ini kue ulang tahun Ziyu!" ucap Luhan bangga sambil menaruh kue itu dihadapan Ziyu.

"Bambam!Bam-bam!" ucap Ziyu senang sambil menunjuk gambar bambi yang Luhan buat dengan memakai krim diatas kue ulang tahun Ziyu.

"Bambi. Bam- Bi," eja Luhan.

Ziyu mengikuti gerak bibir baba-nya, berusaha untuk mengatakan bambi. Tapi pada akhirnya ia tetap gagal dan tetap mengucapkan 'Bambam, bambam.' Hingga akhirnya Luhan menyerah dan mencubit pipi anaknya gemas.

"Tidak terasa ya Ziyu sekarang sudah satu tahun," ucap Luhan sambil menyuapi Ziyu dengan kue buatannya.

Ia tersenyum tipis, "Apa Appa ingat sekarang ulang tahun Ziyu?"

Apakah Sehun ingat ia mempunyai keluarga?

Pemikiran itu membuat Luhan menghela nafas sedih. Apakah Sehun tidak mau pulang?

Walaupun sekarang hari ulang tahun anak mereka?

Luhan harap Sehun datang walaupun untuk satu hari,atau satu jam, satu menit. Ia ingin Sehun berada disini, duduk bersila disampingnya sambil memakan kue buatan Luhan. Kalau Sehun ada disini mungkin ia sedang berpura-pura merengek minta disuapi seperti Luhan menyuapi Ziyu.

Luhan tersenyum. Ia sudah bisa membayangkan adegan itu. Pasti sangat menyenangkan,walaupun mereka tidak bisa merayakan ulang tahun Ziyu dengan meriah. Yang penting mereka bisa bersama hingga perayaan ulang tahun Ziyu yang lain.

-Tok Tok-

Luhan membeku ditempatnya. Ia diam,mencoba memastikan pendengarannya. Pintu rumah Luhan diketuk lagi.

Tidak mungkin.

Luhan mengulum senyumnya dan dengan segera berlari menuju pintu. Luhan membukanya dengan semangat dan saat ia melihat lelaki yang berdiri didepan pintunya, rasa takut kembali muncul dalam hatinya.

"A-apa yang kau lakukan disini?!" tanya Luhan dengan suara gemetar. Tangannya dengan erat menggenggam gagang pintu hingga warna buku jarinya menjadi putih.

"Aku ingin bertemu dengan pelacurku. Apa tidak boleh?" ucap laki-laki itu sambil tersenyum jahat.

"Aku bukan pelacurmu," ucap Luhan mencoba untuk memberanikan diri.

"Cih Jangan berpura-pura jual mahal seperti itu manis," ucap laki-laki itu sambil mengelus dagu Luhan.

Luhan mengerang tidak suka.

"Kalau kau bukan pelacurku, kau tidak akan menerima uangku dan menghabiskannya."

Luhan terdiam.

Laki-laki itu benar. Luhan memang mengambil uang itu. Dan menggunakannya untuk membeli keperluan Ziyu.

"A-aku akan mengembalikannya!"

Lelaki itu tertawa, "Bagaimana bisa? Bahkan kau tidak mempunyai pekerjaan sekarang."

Luhan mengernyit. Kenapa lelaki itu tahu semua hal tentang Luhan?

Ah,Dahae. Pasti ia yang memberi tahu pria brengsek ini dimana Luhan tinggal dan bagaimana kondisi Luhan.

"Uangmu habis kan?"

Luhan tidak menjawab, ia mencoba menutup pintu namun pria itu menahannya.

"Ow Jangan kasar seperti itu sayang,aku masih bersikap baik padamu."

"Kau tidak mau kan aku bermain kasar dan menyakitimu?" ancam pria itu.

Luhan meneguk salivanya. Tubuhnya gemetar membayangkan kembali kejadian pada malam itu.

"Lalu apa yang kau inginkan?"

"Tubuhmu," jawab pria itu enteng, "Tidak sekarang. Aku masih sibuk dan tidak bisa bermain-main denganmu."

"Tapi aku akan kembali nanti, dan kau harus bersiap-siap. Kau tidak bisa menolak karena aku tidak suka penolakkan." Pria itu menyeringai melihat Luhan yang menciut takut.

"Hey aku akan memberimu uang," ucap pria itu sambil mengeluarkan beberapa lembar uang, "Asalkan kau mau menciumku."

Luhan membulatkan matanya.

Tidak sudi. Sampai matipun Luhan tidak akan sudi.

Bibirnya hanya milik Sehun seorang.

"Kau tidak butuh uang? Bukankah anakmu ulang tahun."

Benar.

Sekarang Ziyu sedang ulang tahun. Luhan ingin sekali membelikan hadiah untuk Ziyu,tapi ia tidak mempunyai uang.

Luhan melepaskan genggamannya digagang pintu,hingga pintu rumahnya terbuka lebih lebar. Ia menutup matanya rapat.

Pria itu menyeringai lalu mencengkeram pipi Luhan dan menciumnya.

Kau,menjijikkan Luhan.

Apa bedanya dirimu dengan seorang pelacur?

Pikirnya.

Pria itu menyelipkan beberapa lembar uang disaku celana Luhan lalu melepaskan ciumannya.

"Aku akan kembali sayang, jangan rindukan aku."

Pria itu akhirnya pergi meninggalkan rumah Luhan.

Luhan dengan cepat menutup pintunya rapat.

Dengan kasar ia melap bibirnya. Berusaha menghapus jejak bibir pria brengsek itu walaupun ia tahu ia tidak bisa.

Pintu rumahnya kembali diketuk. Namun sekarang ketukkannya lebih kencang dan kasar.

Luhan menegang.

Apa pria itu datang lagi? Kenapa?

Dengan perlahan ia membuka pintu. Dan saat ia melihat sosok tinggi dengan hoodie putih dan tas hitam yang Luhan kenal (tentu saja,ia yang membeli tas itu), hatinya terasa lega.

"Sehun?"

Akhirnya Sehun pulang, akhirnya ada seseorang yang akan melindunginya,memeluknya, dan kembali menjalani hidup bersama dirinya.

Luhan tersenyum lebar, ingin sekali ia memeluk Sosok Sehun,Tapi ia mengurungkan niatnya karena tatapan mata Sehun yang tajam serasa membunuhnya.

"Ada apa?" tanya Luhan. Sehun masih tersengal,napasnya memburu. Sehun sedang marah, Luhan tahu itu. Tapi karena apa?

Tanpa menjawab,Sehun mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan menyerahkannya pada Luhan, "Aku kemari hanya untuk memberikan ini pada Ziyu.."

Luhan mengamati boneka ditangannya, boneka bambi. Sehun mengingat ulang tahun Ziyu.

"Dan juga menyatakan bahwa aku ingin bercerai.."

Apa?

Kata-kata Sehun seperti anak panah yang menusuk hatinya.

Bercerai? Kenapa?

Sebelum Luhan bisa bertanya,Sehun sudah berbalik meninggalkannya.

"Se-Sehun," panggilnya sambil berjalan mengikuti Sehun.

"Sehun-ah!" teriak Luhan dengan air mata yang keluar dari sudut matanya.

Luhan berhenti mengejar sosok Sehun yang semakin menjauh. Entah kenapa kakinya terasa lemas.

Semuanya sudah berakhir.

Sehun ingin berpisah dengannya. Apapun alasannya,Luhan tidak akan menyalahkan Sehun.

Semuanya memang sudah berakhir. Kenapa Luhan tidak sadar juga?

Kisahnya dengan Sehun memang sudah berakhir sejak Sehun meninggalkannya beberapa bulan yang lalu.

Luhan bisa melaluinya.

Namun kenyataannya, Luhan tidak tahu apakah ia bisa bertahan sekali lagi dari penolakan,perpisahan,sakit hati,kekosongan, atau kecemasan karena ia tahu ia tidak cukup baik untuk siapapun bahkan untuk suaminya sendiri, Sehun.

Karena Luhan mencintai Sehun, dengan alasan itu, cara tebaik untuk mengekspresikannya adalah membiarkan Sehun pergi dan hidup lebih baik dari sebelumnya.


Setelah Sehun pergi, sulit untuk Luhan hidup seperti biasa, seperti tidak ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Luhan terkadang bangun dipagi buta, memandangi kasur disebelahnya yang kosong. Ia lalu membuka ponselnya dan menatap fotonya bersama Sehun dan Ziyu yang menjadi wallpaper ponselnya.

Tanpa ia sadari,ia menyakiti dirinya sendiri,mengingat memori yang ia punya bersama Sehun lalu menangis tersedu-sedu. Ia mengingat memori dimana Sehun mencintainya seperti ia mencintai Sehun. Dan sekarang Ia ditinggalkan sendiri. Tersakiti.

Suatu hari pria yang menidurinya malam itu kembali lagi. Luhan berusaha menghindarinya dengan mematikan semua lampu rumahnya dan bersembunyi dikamar bersama Ziyu. Pria itu datang berkali-kali dan Luhan melakukan hal yang sama. Ia hanya bisa memeluk Ziyu sambil berdoa agar pria itu tidak memaksa masuk.

Setahun berlalu dan kehidupan Luhan sudah membaik. Pria itu tidak pernah kembali ke rumah Luhan setelah Luhan dengan sengaja menempelkan tanda bahwa rumah itu dijual didepan gerbang rumahnya. Luhan bekerja menjadi kasir disebuah supermarket. Walaupun gajinya tidak terlalu banyak,Luhan masih bersyukur karena setidaknya Ziyu tidak akan kelaparan.

"Apakah ada tambahan lain?" tanyanya kepada pelanggan laki-laki yang menyodorkan keranjang belanja ke meja kasirnya.

"Tidak," Jawab laki-laki itu.

Luhan tersenyum lalu mulai mengeluarkan barang-barang yang berada diranjang dan menghitungnya dimesin kasir.

"Namamu Luhan?" tanya pelanggan itu.

"Ya tuan,namaku Luhan," jawab Luhan dengan ramah.

"Aku Kyungsoo," ucap pria itu, "Maukah kau membantuku?"

"Ini pertama kalinya aku pergi ke Bucheon. Aku butuh pemandu wisata. Apakah kau mau membantuku?"

Luhan menatap Kyungsoo lama. Kyungsoo tidak terlihat jahat. Bahkan kalau boleh jujur, Kyungsoo sangat imut seperti siswa sekolah dasar. Membuat Luhan ingin memeluknya,mengambilnya dan merawatnya seperti anak sendiri.

"Tentu," jawab Luhan, "Pekerjaanku akan selesai pukul 3 nanti. Kalau kau mau,kau bisa menungguku didepan supermarket."

Kyungsoo benar-benar menunggu Luhan didepan supermarket tepat pukul 3. Dengan bibirnya yang berbentuk seperti hati ia tersenyum kearah Luhan dan Luhan membalas senyuman itu sambil melambaikan tangannya.

.

Dua hari menjadi pemandu wisata Kyungsoo di Bucheon, Luhan mengetahui bahwa Kyungsoo adalah penulis novel yang sedang mencari referensi di Bucheon. Kyungsoo juga bilang kekasihnya membuatnya penat hingga ia memutuskan untuk menulis diluar.

Luhan juga mengetahui sifat Kyungsoo. Kyungsoo adalah orang yang sangat baik dan perhatian, bahkan ia menawarkan pekerjaan untuk Luhan di Seoul dengan gaji yang besar.

"Kenapa aku?" tanya Luhan.

"Karena kau mengerti aku," jawab Kyungsoo sambil tersenyum bodoh, "Aku butuh asisten yang mengerti diriku. Dan ini pertama kalinya aku merasa nyaman berbicara dengan orang lain. Bahkan orang lain itu baru bertemu denganku dua hari yang lalu."

Luhan percaya bahwa niat Kyungsoo benar-benar tulus untuk menolongnya. Jadi tanpa ragu ia menyetujui penawaran Kyungsoo.

Esoknya, Kyungsoo sudah menunggunya didepan rumah dengan mengendarai sebuah mobil yang ia sewa untuk mengangkut barang-barang Luhan.

Hari itu Luhan dan Ziyu pergi meninggalkan Bucheon, meninggalkan hidup mereka untuk pergi ke Seoul, ke kehidupan baru mereka yang lebih cerah.


Menjadi asisten Kyungsoo adalah pekerjaan termudah yang pernah Luhan lakukan. Pekerjaannya hanyalah membuatkan Kyungsoo kopi kesukaannya, menemani Kyungsoo menulis atau berlibur, dan mendengarkan curahan hati Kyungsoo tentang Jongin, kekasihnya. Dengan pekerjaan semudah itu Kyungsoo masih menggaji Luhan dengan jumlah besar, bahkan membelikannya sebuah apartemen yang tidak jauh dari rumah Kyungsoo. Dengan gaji yang besar, Luhan bisa menabung untuk membangun kafe yang selalu ia impikan.

Setelah uangnya cukup untuk menyewa sebuah bangunan bertingkat satu,Luhan membuka kafe'nya sendiri. Bahkan Kyungsoo membantunya dengan (lagi-lagi) berinvestasi dengan jumlah yang banyak.

Di hari pertama pembukaan kafenya, pelanggan yang datang sangat banyak. Dan dari sekian banyak pelanggan yang datang, Sehun adalah salah satu diantaranya.

"Se-sehun?"

"Hi Hyung," sapa Sehun sambil tersenyum, "Ini kafemu?"

Luhan mengangguk dengan linglung. Masih tidak percaya,setelah sekian lama, dengan sekian banyak kemungkinan yang terjadi, dan tanpa disangka, ia bertemu Sehun disini.

"Wah akhirnya impianmu tercapai juga, selamat hyung!"

Luhan tersenyum.

Sehun masih mengingat impiannya?

"Well kalau begitu aku memesan satu Americano,"

Luhan mencatat pesanan Sehun dan oleh dirinya sendiri,ia membuatkan pesanan Sehun.

"Ini Americano pesananmu," ucap Luhan berusaha tenang, walaupun jantungnya sudah berdegup dengan kencang.

"Thanks," ucap Sehun sambil membayar kopi'nya, "Bagaimana kabar Ziyu?"

Luhan mengepalkan tangannya erat.

"Ia baik-baik saja,"

"Syukurlah kalau begitu," ucap Sehun, "Lain kali, bisakah aku menemuinya?"

"Tentu, ia anakmu."

Mereka berdua terdiam beberapa saat,keadaan begitu canggung. Luhan yang menunduk,mencuri pandang pada Sehun. Sehun masih berdiri didepan kasir sambil menikmati kopi buatannya. Penampilannya berbeda 180 derajat dari Sehun yang ia kenal dulu. Rambutnya ia pangkas pendek dan ia cat dengan warna coklat pekat, ia memakai Jas abu dan kemeja hitam yang terlihat mahal.

Sehun berubah.

Tapi ia tetap tampan.

Lebih tepatnya, Semakin tampan.

Tiba-tiba ponsel Luhan berdering disaku celemek yang ia pakai, Luhan mengambilnya dan melihat nomor yang tidak ia kenal meneleponnya.

"Itu nomorku," Ucap Sehun lalu menutup teleponnya, "Ah kalau begitu aku pergi dulu Hyung. Aku akan menghubungimu nanti."

Sehun melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Luhan.

Tunggu dulu.

Luhan mengernyitkan dahi.

Bagaimana bisa Sehun menelepon Luhan?

Rasanya Luhan belum memberikan Sehun nomor telepon barunya.

Darimana Sehun mendapatkan nomornya?


EPILOG

Sehun sedang menyender dipintu mobilnya sambil menyesap kopi buatan Luhan ketika seseorang memukul kepalanya dengan sebuah map tebal.

"Ouch!" pekik Sehun sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit.

"Kau memang hebat Oh Sehun. Setelah tiga tahun tidak bertemu yang kau lakukan hanya memesan Americano?"

Sehun menghela nafas, "Aku tahu. Aku sangat bodoh kan? Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa. Melihat wajahnya setelah tiga tahun,membuat aku susah untuk berkata-kata."

"Ia begitu menawan,Kyung."

"Yeah aku tahu,apa sekarang kau menyesal meninggalkannya? Apakah kau ingin kembali bersatu dengannya?"

"Tidak mungkin Kyung," ucap Sehun, "Tidak mungkin."

"Ah iya. Kau seorang pengecut,bagaimana bisa aku lupa? Yang kau bisa lakukan hanyalah marah dan pergi begitu saja."

"Kyungsoo-ah."

"Aku tidak tahu kenapa kau begitu tega meninggalkan Luhan ketika ia membutuhkanmu."

Sehun tidak menjawab. Rasa bersalah sudah membebaninya selama tiga tahun,haruskah Kyungsoo menambah bebannya lagi?

"Sudahlah,aku pulang dulu. Kalau kau kembali hanya untuk menyakitinya lagi,kau lebih baik pergi dan menyerah."

Sehun menghela nafas berat.

Kalau saja Luhan tidak membuatnya terpesona tadi, mungkin Sehun sudah menyelesaikan masalahnya dengan Luhan. Mungkin hubungan mereka tidak akan setegang dulu.

Kalau saja ia tidak terpesona oleh wajah Luhan, Mungkin dadanya tidak akan berdebar kencang seperti ini.

-TBC-

Ini ceritanya pas Sehun pergi dari Luhan sampai pas Sebelum Sehun ngajak Ziyu untuk ketemu dan tinggal sama dia selama sebulan ! :3

di chapter selanjutnya bakal diceritain pertemuan pertama Ziyu sama Sehun Appa /Yippie!/

Jangan lupa like page FB aku: SeLuminati