Side Story: Sehuna's Revenge

Pagi itu Sehun bangun dari tidurnya dengan rasa kosong dan rindu didadanya. Tapi ia tetap berusaha bangun,berusaha mengenyahkan rasa sedih dihatinya.
Kepalanya masih terasa pusing akibat bergelas-gelas minuman beralkohol yang ia teguk tadi malam. Sejak pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu dan mendapatkan hari cuti dari perusahaan yang dipimpinnya,Sehun mengisi harinya dengan melakukan hal yang sama terus menerus. Kadang ia akan melamun,sesekali sampai air matanya menetes. Ia juga minum minuman beralkohol sampai ia mabuk dan dihadiahi omelan dari Hyemi.

Ia mendecak sebal ketika mendengar ponselnya berdering lagi, menambah rasa pusing dikepalanya. Dengan kasar ia menyambar ponselnya di nakas.

"Ya?Ada apa?" tanyanya dengan nada ketus.

"Tuan,Aku sudah mendapatkan data-data yang telah kau minta.." Ucap Jumyoon,sekretaris Sehun dari balik telepon, "Apa Kau mau memeriksanya?"

"Ya,Tolong kirimkan ke E-mailku.." Ucap Sehun sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan malas.

"Sudah ku kirim,Kau bisa mengeceknya tuan.."

Sehun berjalan dengan malas ke ruang kerjanya lalu menyalakan PCnya yang terletak di Meja. Ia membuka E-mailnya dan melihat beberapa foto yang dikirimkan oleh Junmyoon.

"Aku sudah membukanya.." Ucapnya sambil mengecek foto-foto yang dikirimkan Junmyoon, "Jelaskan padaku Informasi yang terdapat dalam foto ini."

"Ah Ya,seperti yang kau lihat, Foto pertama adalah foto nyonya Gong pemilik apartemenmu yang lama. Ia tidak pernah meninggalkan gedung apartemennya,kecuali untuk berbelanja di pasar."

Sehun bergumam,lalu menyuruh Junmyoon untuk melanjutkan penjelasannya.

"Sementara Foto kedua adalah Tuan Gong ketika ia masuk ke Sebuah Klub malam di daerah tempat tinggal mereka. Tuan Gong kesana untuk berjudi,dan bartender klub itu bilang Tuan Gong selalu bertaruh dengan uang yang banyak dan menang. " Sehun mengangguk-angguk mengerti sambil menyelidik foto yang berada dilayar komputernya. Lalu sebuah Ide muncul diotak Sehun.

"Ah! Bisakah kau bawa Daesung,Sungwoo,Woohyun dan Hyunbin datang ke rumahku hari ini?" Perintah Sehun. Dan tanpa penolakkan (karena memang Junmyoon tidak bisa menolak permintaan sang bos) Joonmyun berjanji akan datang bersama keempat penjaga keamanan perusahaan yang di pimpin Sehun.

Malamnya, Junmyoon datang ke rumah Sehun dengan keempat orang tersebut sesuai dengan permintaan Sehun. Mereka Berempat dibawa keruang kerja Sehun untuk menemui Sehun yang sudah menunggu mereka disana.

"Ah kalian sudah datang! Silahkan masuk.."

"Apa kau baik-baik saja sajangnim?" tanya Junmyoon saat melihat wajah Sehun yang pucat.

"Ne,Aku baik-baik saja.." balas Sehun dengan senyum kecil. Walaupun sebenarnya kondisinya masih belum pulih benar.

"Silahkan duduk tuan-tuan.."

"Ada apa kau memanggil kami kemari bos?" tanya Hyunbin.

"Begini, Aku ingin kalian membantuku dalam menyelesaikan suatu hal yang penting.." ucap Sehun sambil mengetuk-ngetukkan jarinya diatas Meja kerjanya.

"Hal penting apa bos?" tanya Woohyun.

Sehun menyeringai.

"Balas dendam," Ucapnya dingin, "Aku ingin kalian membantuku untuk membalas dendam kepada orang-orang keparat yang sudah menyakiti orang yang kusayangi.."


Suatu malam mereka menjalankan rencana 'balas-dendam-sehun' yang sudah mereka rancang dari malam-malam sebelumnya. Ke empat anak buah Sehun sudah berada di Klub malam yang tuan Gong sering kunjungi. Mereka berempat bermain Judi dengan tuan Gong dan bermaksud untuk membuat Tuan Gong kalah. Sementara Sehun sedang dalam perjalanan menuju Klub malam tersebut.

"Bagaimana kondisi disana?" Tanya Sehun saat ia sedang menelepon Sungwoo,salah satu anak buahnya.

"Semuanya berjalan sesuai rencana Bos. Ia sudah kalah berkali-kali dan kami sudah menguras habis semua kantungnya,tidak ada yang tersisa.."

Sehun tersenyum puas mendengarnya. Sepertinya rencananya akan berjalan mulus malam ini.

"Bagus, terus buat ia kalah dalam permainan. Aku akan berada disana sebentar lagi."

Sehun lalu menutup teleponnya dan duduk dengan kaki jenjangnya yang menyilang dan seringaian menyeramkan (namun tidak bisa dipungkiri,tetap tampan) di Mobil Limo hitamnya.

"Kita sudah sampai tuan.." Ucap sopirnya sambil berhenti didepan sebuah Klub malam dipinggiran kota Seoul. Sehun keluar dari mobilnya. Penampilannya yang berkelas ditambah wajah yang tampan langsung mendapat perhatian dari semua orang yang melihatnya. Para wanita pekerja seks langsung menawarkan diri pada Sehun dan ditolakya dengan halus. Sementara para remaja memekik sambil mengambil foto dirinya.
Sehun lalu masuk dan langsung mencari keempat anak buahnya yang sudah terlebih dahulu ada disini. Saat ia melihat anak-anak buahnya sedang duduk melingkar dengan seorang pria disudut ruangan,Sehun dengan langkah bak model pria berjalan di catwalk langsung menghampiri mereka. Sehun berjalan melewati tubuh-tubuh berkeringat yang sedang meliuk-liuk,berdansa mengikuti musik yang menggelegar kesemua penjuru klub. Bau alkohol dan asap rokok langsung menghinggapi indra penciumannya yang mancung.

"Hei! Kalau kau kalah kenapa kau masih main huh Brengsek!" ucap Daesung kasar sambil menarik kerah Tuan Gong yang duduk disebelahnya.

"Ma-Maaf A-aku akan membayar kekalahanku,tapi kumohon beri aku waktu!"

Hyunbin mendecih sebal lalu membanting kartu poker yang ada ditanganya.

"Waktu?! Waktu bokongmu hah?! Bagaimana kalau kau berikan waktu hidupmu saja pada kami hmm?!" ancam Hyunbin sambil menodongkan pistol (mainan) pada laki-laki tua itu.

Sehun tertawa melihat akting sempurna para anak buahnya. Ia mengingatkan dirinya untuk melipat gandakan bayarannya nanti.

Keempat anak buahnya mulai menyerang Tuan Gong dan ini saatnya Sehun masuk kedalam pertunjukan.

"Hey!Hentikkan!" perintahnya, "Ada masalah apa ini tuan-tuan?" tanyanya polos.

"Tuan Gong?" tuan Gong langsung melirik Sehun, ia mengerutkan dahinya,berusaha mengingat-ingat pria yang berdiri disampingnya ini.

"Aku Sehun. Aku pernah menyewa apartemenmu beberapa tahun yang lalu."

Tuan Gong mengucapkan "Oh.." sambil mengangguk-angguk ketika akhirnya ia mengingat Sehun,remaja penyuka sesama jenis yang pernah tinggal digedung apartemennya.

"Hey! Hey! Ini bukan waktunya mengadakan reuni! Ini waktunya kau membayar uang yang kau pertaruhkan kepada kami!" teriak Sungwoo menyela percakapan Sehun dan Tuan Gong.

"Tuan-tuan tenang, Aku adalah teman dari tuan Gong. Sebenarnya ada apa?" tanyanya sambil duduk disalah satu kursi.

"Pria brengsek ini bertaruh 20 juta won pada kami dan saat ia kalah,ia tidak mau membayarnya!" jawab Daesung sambil menunjuk-nunjuk kasar tuan Gong.

"He-Hey! Aku bukan tidak ingin membayarnya! Hanya saja sekarang uangku habis!" Bela tuan Gong takut-takut.

"Cih! Tutup mulutmu atau kusumpal dengan moncong pistolku!" ancam Hyunbin membuat tuan Gong kembali mengerut takut.

"Aku akan membayar uang taruhan tuan Gong.." Ucap Sehun santai. Tuan Gong menatap Sehun penuh harap. Sehun menjentikkan jarinya kebelakang,dan Junmyoon pun muncul dengan koper kerja Sehun ditangannya.

"Berikan aku lembar Cek ku.." perintah Sehun. Dan secepat kilat lembar cek sudah berada ditangannya. Dengan santai ia menulis jumlah uang dan namanya di cek itu. Terakhir, ia menanda tangani cek itu lalu menyodorkannya kehadapan Sungwoo.

"Ini Cek sebesar 20 Juta Won.." Ucap Sehun santai. Woohyun mengambil cek itu lalu memeriksanya. Ia mengangguk-angguk puas dan memperlihatkan cek itu pada teman-temannya.

"Baiklah kalau begitu hutangmu Lunas Gong! Sebaiknya kau berterima kasih karena kami sekarang melepaskanmu!"

Keempat anak buah Sehun'pun pergi dan keluar dari 'pertunjukkan'.

"Te-terima kasih Sehun-ssi! Jika tidak ada dirimu mungkin aku sudah habis babak belur dipukuli oleh mereka."

Sehun tertawa ,lalu menyenderkan tubuh tegapnya dikursi.

"Sama-sama tuan Gong. Well,Sebenarnya aku mempunyai sebuah penawaran yang lebih menarik untukmu ketimbang cek 20 juta itu.." Sehun tersenyum licik saat melihat tuan Gong yang terlihat tertarik, "Aku akan memberikan 3kali lipat.. Ah tidak 10 kali lipat dari 20 Juta won.."

Tuan Gong menganga tak percaya.

"Asal kau memberikan sesuatu padaku.."

"Apa?Apa yang kau mau?" tanya Tuan gong antusias. Sehun melipat tangannya didada dan menyeringai puas.

Rencananya berjalan lebih mulus dibanding dengan yang ia kira.


Sehun tersenyum kecil ketika ia sampai disebuah gedung apartemen Lusuh dipinggiran kota Seoul.
Ia membuka kacamata hitamnya lalu menyampirkannya disaku dada yang ada di jasnya.
Sudah hampir 5 tahun ia tidak menapaki Apartemen ini. Apartemen pertamanya bersama Luhan. Kenangannya selama tinggal disini,yang baik maupun yang buruk terlintas lagi didalam otaknya seperti tak akan pernah bosan mengingatkannya bahwa ia dan Luhan pernah mempunyai kenangan bersama.
Sehun membetulkan jas biru pekat yang membalut badan tegapnya sebentar sebelum akhirnya dengan langkah angkuh ia masuk bersama sekretarisnya yang mengikuti dari belakang.
Sehun berdiri dikamar utama lantai dasar,tempat pemilik apartemennya yang menyebalkan tinggal. Sehun mengetuk pintu lusuh itu beberapa kali sampai seorang wanita tua membukanya dengan kasar.

"Annyeonghaseyo Nyonya Gong." Nyonya Gong menatap Sehun dengan bingung . Ia meneliti Sehun dari kaki sampai kepala hingga akhirnya ia mengenali Sehun. Sehun remaja yang tinggal digedung apartemennya bersama kekasihnya dulu. Sehun yang sekarang ia lihat begitu berbeda jauh dengan Sehun yang dulu tinggal diapartemennya. Dulu Sehun hanyalah seorang remaja berbadan tinggi dan kurus yang sering kali memakai pakaian kasual seadanya. Tapi sekarang,Sehun yang berdiri didepannya begitu berbeda. Sehun sudah menjadi laki-laki dewasa yang tampan. Rambutnya yang berwarna coklat (senada dengan alis tebalnya yang juga begitu menggoda) dinaikkan keatas,Rahangnya menjadi lebih tegas dan bahunya melebar. Badannya cukup atletis dibalut Jas bermerk yang bisa Nyonya Gong tebak, harganya melampaui harga sewa apartemennya.

"Oh! Kau Sehun kan?"

"Ya.." Jawab Sehun sambil tersenyum tipis, "Aku Sehun, Seorang Homo menjijikkan yang tinggal di lantai dua apartemenmu.."

Sehun mengatakannya dengan nada sarkastik. Dulu,Nyonya Gong sering kali memanggilnya dengan sebutan 'Homo menjijikkan' dan tentu saja Nyonya Gong masih mengingat kelakuannya itu.

"Aigo! Nak Sehun kenapa kau berbicara seperti itu!" Ucapnya sambil tertawa menyebalkan, "Ada apa Kau kemari nak?" Ucap Nyonya Gong dengan sangat ramah. Sehun tertawa. Oh kenapa perempuan tua menyebalkan ini tiba-tiba bertingkah terlampau ramah padanya. Bukannya dulu nyonya Gong memperlakukannya seperti sampah?

"Aku hanya ingin mengatakan bahwa tanah dan gedung apartemenmu ini sudah menjadi milikku.."

"A-Apa?!" tanya Nyonya Gong tak percaya, matanya melotot seperti burung hantu ditengah malam.

"Aku adalah pemilik baru gedung apartemenmu ini." Sehun mengulurkan tangannya kebelakang,dan dengan sigap sekretarisnya memberikan selembar kertas kontrak pada Sehun, "Pemilik yang Sah."

Nyonya Gong mengambil kertas itu dari Sehun dan dengan cepat ia membaca isinya. Nyonya Gong menutup bibirnya yang terbuka lebar dengan tangannya yang keriput.

"A-aku tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi," ucap Nyonya Gong tak percaya

"Bukankah disitu sudah tertulis jelas? Pemilik tanah ini menjual tanah ini padaku."

"Aku pemilik tanah ini!Dan aku tidak pernah merasa aku menjualnya padamu!"

"Kalau boleh aku koreksi, Suamimulah yang memiliki tanah ini. Dan ia telah menjual tanah ini padaku," Jelas Sehun sambil tersenyum licik, "Tepatnya tadi malam.."

Nyonya Gong masih menatap Sehun tak percaya. Sementara Sehun,dengan satu tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya masih tersenyum penuh kemenangan.

"Dimana Suamiku sekarang?" tanya Nyonya Gong pelan. Sehun mengedikkan bahu.

"Aku sebenarnya tidak yakin," Ucapnya sambil menimang-nimang, "Tapi mungkin sekarang ia sudah pergi ke Jeju bersama selingkuhannya membawa uang 200 Juta Won yang kuberikan untuk membayar tanah ini.."

Nyonya Gong membeku. Tangannya yang sedang meremas surat sertifikat tanahnya (yang sekarang menjadi sertifikat tanah milik Sehun) terasa dingin dan gemetar.

"Sebaiknya kau keluar dari sini secepatnya. Karena dalam 30 menit anak buahku akan kesini untuk mendekorasi ulang tempatmu yang menjijikkan ini. Kalau kau belum pergi juga,aku sendiri yang akan mengusirmu. Dan aku tidak menjamin,aku masih bisa berlaku sopan padamu Nyonya Gong.." Sehun menyeringai lalu berbalik meninggalkan Nyonya Gong yang masih gemetar takut.

.

.

.

Sehun memandangi kota Seoul dari balkon apartemennya bersama Luhan dulu. Ia tersenyum kecil saat ia mengingat kenangan yang terjadi di Balkon ini. Tepat disini, setiap malam setelah Sehun bekerja,Sehun dan Luhan akan duduk di Sofa yang mereka tarik dari ruang TV. Luhan akan duduk diantara kaki Sehun dan Sehun akan memeluknya dari belakang. Atau jika sedang manja,Luhan akan duduk dipangkuannya. Mereka akan saling menggenggam dan berciuman. Membicarakan tentang masa depan mereka yang bahkan mereka belum tahu arahnya akan kemana. Merajut mimpi bersama dan terkadang tertidur dengan selimut yang membalut tubuh mereka berdua. Mereka juga pernah melakukan seks di balkon ini. Dan saat Sehun mengingatnya wajahnya merona merah karena malu.

"Tuan,pemilik apartemen itu sudah pergi," ucap anak buah Sehun,membuyarkan lamunannya.

Sehun berdeham kikuk,ia yakin anak buahnya menyadari wajah Sehun yang memerah.

"Bagus. Ah!Apakah kau sudah memberitahu orang-orang yang tinggal diapartemen ini kalau gedung ini akan kubuat menjadi sebuah hotel?"

"Ya sudah. Mereka juga sudah menerima uang ganti rugi dan siap pindah di hari Minggu."

"Ya kerja yang bagus," ucap Sehun sambil tersenyum puas, "Ah sebentar!"

"Saat kalian memperbaiki gedung ini,aku ingin kamar ini tidak berubah sedikitpun. Perbaiki agar lebih bagus tapi jangan ada yang diubah. Balkon,letak dapur,ruang Tv dan lain-lain harus tetap seperti ini. Dan kamar ini tidak akan kusewakan karena kamar ini khusus untukku dan keluargaku jika kami berkunjung kesini. "

Anak buah Sehun mengangguk mengerti lalu meninggalkan Sehun yang kembali mengenang masa lalunya bersama Luhan dibalkon apartemennya.

1 Poin untukmu Luhan. 2 Lagi dan semua penderitaanmu akan terbayar..


Sehun tersenyum miris saat melihat rumah kecil yang dulu ia tempati bersama Luhan di Bucheon. Rumah berwarna putih pucat itu sudah menjadi saksi bisu kehidupan mereka yang rumit. Rumah itu menjadi pendengar setia setiap kata cinta yang mereka saling utarakan,dan juga kata-kata pahit penuh amarah saat mereka bertengkar.

Rumah kecil itu terlihat kosong dan lusuh. Debu menyelimuti jendela –jendela hingga menghalangi cahaya matahari menembus kedalam rumah tersebut. Digerbang tergantung sebuah papan kayu bertuliskan "FOR RENTED" yang dituliskan dengan asal memakai cat hitam. Sehun menghubungi nomor ponsel yang tertera dipapan. Tanpa menunggu lama telepon diangkat. Suara wanita terdengar menyapanya dibalik telepon.

Sehun menyeringai. Ia mengenali suara itu.

"Dahae-ssi sudah lama tidak berjumpa.."

.

.

.

Sehun duduk dengan angkuh,tangannya terlipat didada,Senyum kecil yang mengintimidasi menghiasi wajah tampannya. Ia terus memandang Dahae yang duduk tertunduk diseberang kursinya. Terus menusuk tubuh wanita tersebut dengan tatapan tajamnya. Jika sepasang mata bisa membunuh, Dahae mungkin sudah tewas bersimbah darah.

"Jadi Dahae, Apakah kau menjaga Luhan dengan baik saat aku tidak ada?"

Dahae meneguk salivanya dengan susah payah. Sesaat setelah (Mantan) tetangganya ini meneleponnya dan meminta untuk bertemu,Dahae sudah merasa hal buruk akan terjadi padanya. Saat melihat sosok Sehun duduk disalah satu meja di kafe tempat mereka berjanji untuk bertemu,Dahae tahu Hal burk akan terjadi padanya. Aura disekeliling Sehun begitu mengintimidasi. Tubuh Sehun tak begitu besar,ia ramping dengan bahu yang lebar. Tapi entah kenapa Dahae lebih takut melihat Sehun ketimbang Penjaga keamanan berotot besar yang menjaga Klub malam tempat ia bekerja.

"Kenapa tidak menjawab?" Medengar suara berat dan sengau milik Sehun,Dahae tersentak kaget, "Apa Kau menjaganya seperti apa yang kupinta?"

"I-iya te-tentu saja Sehun-ssi.." Dahae sadar suaranya terdengar gemetar,tapi ia tidak bisa menahannya. Mata tajam Sehun membuat Dahae takut hingga rasanya ia ingin mengompol dicelana jeans ketatnya.

"Oh Benarkah? Wah kau memang baik Dahae-ssi.. Terima kasih.."

Dahae hanya tersenyum memaksa. Ia ingin Cepat-cepat pergi dari sini, dari hadapan Sehun. Selamanya. Ia kira Sehun masih tidak tahu soal kejadian buruk yang menimpa Luhan. Maka dari itu sebelum terlambat,ia harus segera pergi dari hadapan Sehun.

"Sehun-ssi aku perm-"

"Kau tahu?" Ucap Sehun memotong, "Luhan adalah segalanya untukku. Ia milikku."

Oh,tetapi Dahae, semuanya sudah terlambat. Berdoalah semoga Oh Sehun tidak menguliti tubuhmu.

"Jika seseorang menyentuhnya dan menyakitinya. Sedikit saja. Aku tidak segan-segan melukai orang itu berkali-kali lipat. Hingga ia tidak tahan dengan rasa sakit yang ia terima dan akhirnya memilih untuk mati saja."

"Apa kau pikir aku hanya membual?" Sehun bertanya dan Dahae menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, "Ah apa harus kuberikan contoh?"

"Saat kami SMA dulu. Seseorang menggodanya dan menyentuh tubuhnya. Dia menangis. Dan saat aku mengetahuinya,amarah membutakanku hingga akhirnya kuhabisi orang brengsek itu.." cerita Sehun sambil menerawang, dan tertawa sinis.

"Untung saja ia tidak mati. Well,Hampir saja."

"Dan aku dengar,saat aku pergi seseorang telah menyentuh dan menyakiti tubuhnya.." Dahae,lagi-lagi meneguk salivanya dengan susah payah.

"Bahkan ia menidurinya.. Apa benar?" Emosi Sehun sudah diambang batas saat ia mengatupkan rahangnya dengan keras. Dahae hanya terdiam dan semakin tertunduk. Ia berharap bumi menelannya sekarang juga. Ia lebih baik terbakar bara api perut bumi daripada terbakar oleh pandangan dan mulut tajam Oh Sehun.

"Oh dan aku juga tidak menyukai orang yang berbohong.." tubuh Dahae menegang,rasa takut terpancar dari wajahnya yang memucat.

"Berbohong padaku. Memperlakukanku seperti orang tolol dan menyangka aku tidak mengetahui kebenarannya..."

"Jika ia menyakiti Luhanku dan berbohong padaku. Apa yang harus kulakukan padanya?" tanya Sehun pada Dahae yang terdiam, "Apakah aku harus membunuhnya?"

"Aku tidak takut oleh polisi. Persetan jika aku harus ditangkap karena membunuh orang. Asalkan orang-orang yang menyakiti Luhan mendapat ganjaran yang setimpa." Lanjut Sehun sambil mendecih.

"Dahae-ssi.."

Nada suara Sehun terdengar begitu rendah,dan menyeramkan ditelinga Dahae. Rasanya jiwanya ingin merangkak pergi dari hadapan Sehun sekarang juga.

"Aku rasanya ingin membunuhmu sekarang juga..."

"Sehun! Maafkan aku!" ucap Dahae sambil berlutut didepan Sehun.

"Tolong jangan bunuh aku.. Tolong.." Dahae mencium sepatu mengkilat Sehun sambil menangis. Sehun memandang Dahae dengan jijik.

"Kau sudah dengar kan?Aku tidak suka dibohongi. Jadi tolong ceritakan padaku tentang kejadian itu.."

Dahae melirik Sehun dengan takut-takut. Dan dengan bibir dan suara gemetar ia menceritakan semuanya pada Sehun.

Dahae menceritakan semuanya kepada Sehun, Sehun mendengar dengan baik, tangannya terkepal menahan amarah.

"Kau tidak memberikan uang yang kukirim untuk Luhan?!" Sehun bertanya dengan galak,matanya terpejam saat tangannya mengurut-urut dahinya yang mengkerut.

Dahae mengatakan "Ya" dengan suara yang begitu pelan sambil tetap menunduk dan duduk melipat kakinya dihadapan Sehun.

"Dan Kau menjual Luhan pada orang lain?! LUHANKU?!" Sentak Sehun sambil beranjak dari duduknya dengan kasar. Dahae tersentak kaget sampai ia terjatuh kebelakang.

"Ma-Maafkan aku Sehun.. Maaf.. " Tangannya menyatu,memohon sambil terus bersujud didepan Sehun.

"Harusnya kau meminta maaf pada Luhan.. Bukan padaku. Karena sudah jelas,aku tidak akan memaafkanmu," ucap Sehun dingin.

"Tolong Sehun.. Akan kulakukan apapun untukmu dan Luhan. Tapi tolong,jangan membunuhku.."

Sehun melangkah mendekat kearah Dahae dengan perlahan. Sepatu hitamnya mengeluarkan suara ketukkan yang terdengar menyeramkan ditelinga Dahae hingga membuatnya beringsut mundur.

"Kau tidak akan kubunuh. Tidak sekarang. Hanya dengan satu syarat."

"Temui aku dengan laki-laki yang telah memperkosa Luhan."

.

.

.

Hari itu pukul 10 malam,Dahae duduk dengan resah disebuah ruang VIP di klub tempatnya bekerja. Dahae melirik keatas sebentar dan mendapati 3 kamera tersembunyi yang dipasang Sehun disudut atas ruangan tersebut sedang mengawasinya seperti elang. Dahae memegang ponselnya yang ia pakai untuk menghubungi Asami,pria yang membeli atau lebih tepatnya memperkosa Luhan beberapa tahun lalu. Dahae mendapatkan nomor ponsel Asami dari bosnya. Dan dengan berani (atau karena terpaksa) ia menghubungi Asami dan memberitahunya bahwa Luhan telah kembali. Dan tentu saja,Asami pengusaha muda dari jepang yang sudah tertarik dengan Luhan itu,terpancing dengan kebohongan Dahae. Asami tanpa ragu mengajak Dahae bertemu di ruang VIP Klub tempat Dahae bekerja malam ini tanpa tahu bahwa sebenarnya yang akan ia temui adalah Sehun dan rasa dendamnya.

Pintu ruangan itu terbuka dan Dahae melihat Asami masuk dengan dua bodyguardnya.

Dahae meneguk salivanya kasar.

Jika ia tidak mati ditangan Sehun pilihan lainnya adalah ia akan mati ditangan Asami.

"Hey! Mana Pria kecil yang cantik itu hmm? Kau bilang ia ada disini?"

"Ya,ia memang ada disini.." bohong Dahae, "Tapi ia pergi ke toilet sebentar,ia bilang ia mau menyiapkan pertunjukan spesial untukmu.."

Asami hanya mengedikkan bahu lalu menghempaskan tubuhnya dengan nyaman ke sofa. Seorang pelayan masuk keruangannya dengan membawa senampan minuman untuknya. Asami terlihat bingung dan akan menanyakan kenapa ia diberikan Minuman tanpa ia memesan sebelumnya tepat saat seseorang berjubah hitam masuk kedalam ruangannya.

"It's Showtime.." Bisik Dahae pada Asami.

Orang berjubah hitam itu berdiri didepan Asami dan Asami tersenyum jahat saat melihatnya. Oh membayangkan Luhan yang manis dan imut ternyata ada dibalik jubah hitam itu dan mendadak membuka jubah dihadapannya sudah membuat Asami terangsang. Tapi Asami harus mengenyahkan bayangan-bayangan nakalnya itu karena yang muncul dari balik jubah itu bukan Luhan.

"Kejutan keparat!" teriak Woohyun sambil membuka jubah hitamnya. Dua pistol sudah berada ditangannya dan dengan cepat ia menembak bodyguard Asami yang berjaga disamping Asami. Asami yang terkejut,langsung berdiri dan mengeluarkan pistolnya tapi pelayan yang membawakannya minum dengan tangkas memukulkan gelas kaca kekepala Asami. Darah keluar dari Luka yang diakibatkan goresan kaca tajam dikepala Asami. Dan dengan satu pukulan telak Asami akhirnya ambruk.

"Ouch sepertinya sakit," Ucap Woohyun pada Dongwoo yang menyamar sebagai pelayan itu.

"Tidak cukup sakit untuk penjahat seukuran keparat ini," ucap Sehun yang tiba-tiba muncul diruangan itu.

"Bawa mereka ke gudang." Perintah Sehun sambil berjalan keluar diikuti dengan beberapa anak buahnya yang membopong Asami dan bodyguardnya menuju gudang yang telah disewa Sehun untuk rencana 'balas dendam'nya.

Sehun berdiri dengan angkuh didepan Asami yang berlutut dengan kedua tangan terentang dan diikat kuat ke sebuah tiang besi disebelahnya. Sehun sebenarnya sudah tidak kuat menahan hasratnya untuk membunuh pria brengsek yang telah melukai Luhannya ini. Tapi jika Asami langsung mati,ia tidak akan merasakan penderitaan yang dialami Luhan. Jadi dengan alasan itu,Sehun tetap bersabar dan mengubur niatnya untuk membunuh Asami dalam-dalam.

Asami menggeliat dan dengan susah payah membuka matanya. Kepalanya yang terus mengucurkan darah terasa perih hingga saat ia mendongak, kepalanya terasa pusing. Ia memicingkan mata saat bayangan seseorang berdiri dihadapannya,dan saat matanya bisa melihat dengan lebih jelas ia melihat sesosok Pria berdiri didepannya dengan kedua tangan yang ia selipkan kesaku celananya.

"Oh! Kau sudah bangun Asami-ssi," sapa Sehun seramah mungkin saat melihat Asami sudah tersadar dari pingsannya.

"Siapa kau?" tanya Asami galak, "Apa yang kau inginkan dariku?!"

Sehun tertawa lalu berjalan mendekat menuju Asami.

"Siapa Aku? Kau ingin tahu siapa aku dan apa yang kuinginkan darimu?" Sehun menarik rambut Asami hingga Asami mendongak dan bertemu pandang dengannya.

"Aku kekasih Luhan dan Aku ingin kau mati.."

Sehun mundur lalu mengambil tongkat baseball yang dipegang Sungwoo yang berdiri dibelakangnya. Sambil menimang-nimang tongkat besi itu Sehun berjalan mendekati Asami lagi.

"Kau masih ingat Luhan kan? Oh tentu saja kau ingat, alasanmu ada disini adalah karena kau mengira akan bertemu lagi dengan Luhan." Sehun berhenti didepan Asami dan menatapnya dengan tajam, "Lu-han-ku." Ucapnya mengeja setiap suku kata.

Asami tertawa meremehkan.

"Ya aku masih ingat dengan Luhan.." ucap Asami, "Dan aku juga masih mengingat bagaimana rasa tubuhnya."

Asami menyeringai jahat. Sehun yang kesal akhirnya mengibaskan tongkat baseball ditangannya hingga membentur keras tulang rusuk Asami. Asami terbatuk dan menyemburkan bercak-bercak darah.

"Maka dari itu,karena kau telah menyentuhnya,menyentuh milikku,kau harus mendapatkan ganjaran yang setimpal." Ucap Sehun.

"Ini untuk tubuh kotormu yang telah merasakkan setiap inci kulit tubuhnya." Sehun melayangkan pukulan keras keperut Asami hingga ia tertohok dan mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Ini untuk tiap tetes airmata yang ia keluarkan ketika kau memaksanya untuk melayanimu." Ucap Sehun sambil memukul dan menohok keras alat kelamin Asami dengan tongkat baseball berkali-kali hingga ia berteriak kesakitan dan darah merembes dari celananya.

Sehun berhenti memukuli Asami ketika Junmyoon menghampirinya dan memberitahunya bahwa seseorang tamu dari Las Vegas meneleponnya.

"Hello Mr. Barney. Yes this is me, Oh Sehun,." Sapa Sehun.

"Kau sudah sampai? Ya anak buahku akan menjemputmu dan mengantarkanmu kesini." Ucap Sehun dengan bahasa inggris yang fasih, "Ya ,ia sudah siap. Sesuai dengan yang kau minta.."

Sehun Melirik Asami sebentar lalu tersenyum jahat.

"Maaf ia tidak akan semulus yang kau kira," Ucap Sehun sambil menatap tubuh Asami yang penuh luka lebam akibat pukulan darinya, "Yah Luka-lukanya tidak terlalu parah. Aku yakin Kau bisa memperbaikinya sendiri.."

"Kalau begitu sampai bertemu ," ucap Sehun mengakhiri sambungan teleponnya.

"Dengar," Ucap Sehun pada Asami "Tuan Barney,akan menjemputmu untuk memberimu pekerjaan baru.."

"Pekerjaan yang baru? Apa maksudmu keparat?!" Tanya Asami marah.

"Ah ya!" Seru Sehun sambil menjentikkan jarinya, "Aku lupa memberitahumu,bahwa aku sudah melaporkanmu kepada Polisi. Perusahaanmu baik yang Legal ataupun tidak,sudah disegel. Para Polisi sudah menangkap kaki tanganmu. Dan kau Asami-sama, diberitakan sudah mati ,terjatuh dari gedung perusahaanmu saat berusaha untuk melarikan diri."

Sehun tersenyum licik saat melihat Asami terdiam dan tercengang kaget.

"Sialan kau! Brengsek! Apa yang kau lakukan padaku hah?!" amuk Asami sambil menarik-narik tangannya agar terlepas dari ikatan yang erat.

"Sudah kubilang. Aku akan membuatmu menderita, merasa tersiksa seperti yang kau lakukan pada Luhanku.."

"Karena aku terlalu baik," Lanjut Sehun, "Aku sengaja memanipulasi kematianmu dan membawamu kesini lalu mencarikan sebuah pekerjaan baru karena, ya bisa dibilang kau sudah bangkrut.."

"Mr. Barney adalah pemilik klub gay sekaligus mucikari di Las Vegas.." Sehun menggunakan ujung tongkat baseball untuk mengangkat wajah Asami yang sudah menunduk lemah agar menatap dirinya, "Kau akan bekerja disana,menjadi pemuas nafsu para pemuja seks di Las vegas. Bersiaplah.."

"Oh dan maaf aku memukul organ vitalmu dengan keras.. Sepertinya ia tidak akan bisa berfungsi dengan baik lagi.." Asami meringis saat ujung tongkat Baseball bersentuhan dengan kenjantannya yang terluka.

"Bos,Mr. Barney sudah sampai disini.." ucap HyunBin. Seorang pria Asing bertubuh gempal masuk kegudang dengan beberapa bodyguard disisinya.

"Welcome to Korea Mr. Barney," Sambut Sehun sambil menghampiri dan menyalaminya.

"Hi Mr. Sehun," Sapa Mr. barney sambil tersenyum, "Well,jadi dimana ia ? Aku sudah tidak sabar ingin melihat pekerja baruku."

Sehun dengan senang hati mengantar Mr. barney untuk bertemu Asami yang sedang terikat dan berlutut lemah di tengah gudang.

"Sempurna.." Gumam saat melihat Asami. "Bagaimana energi dan endurance-nya ?"

Sehun tertawa mendengar pertanyaan Mr. Barney padanya.

"Well Let's found out," Ucap Sehun sambil memberikan tongkat baseball pada Mr. Barney , "Silahkan kau bisa mengetes daya tahan lubangnya dengan tongkat ini.."

Mr. Barney tertawa lalu mengangguk-angguk setuju dengan perkataan Sehun.

"Ah Maaf aku tidak bisa menemanimu bersenang-senang. Aku masih mempunyai banyak pekerjaan.."

"No,it's Ok. Terima kasih atas kerja samanya Mr. Sehun." Ucap Mr. Barney sambil bersalaman dengan Sehun.

"Kalau begitu aku pergi dulu.. Selamat bersenang-senang.."

Sehun melirik sebentar kepada Asami dan memberikannya seringai penuh kemenangan. Sehun pergi meninggalkan Asami yang dengan marah berteriak memanggilnya.

2 Poin kemenangan untukmu Luhanku sayang. Kau menang.


Sehun duduk diam dimobilnya,memandangi pohon-pohon yang berkelebat cepat dibalik jendela mobil limo'nya.

"Tuan?" Panggil Junmyoon pada Sehun yang duduk disebelahnya.

"Ya?" Ucap Sehun setelah tersadar dari lamunannya.

"Dokter kim sedang ada dibandara Incheon untuk pulang ke Thailand. Apa kau tetap ingin menemuinya?"

Sehun tersenyum dan menjawab, "Ya.." Dengan pelan.

.

.

Sehun berjalan disepanjang lorong menuju ruang tunggu keberangkatan di bandara. Junymyoon menunjuk seseorang yang duduk di sofa tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Sehun tersenyum, dan dengan percaya diri menghampiri pria tersebut.

"Dokter Kim?"

Dokter Kim mendongak lalu terlonjak kaget saat melihat Sehun berdiri dibelakangnya.

"Sehun?!" tanyanya tak percaya.

"Hai Dokter Kim,sudah lama kita tidak bertemu.. Bolehkah aku duduk disini?"

Dokter Kim mengangguk lalu duduk bersama dengan Sehun disebuah Sofa.

Mereka terdiam lama. Dokter Kim duduk resah disebelah Sehun sambil memainkan jemarinya.

"Jadi.. Bagaimana kabarmu?" tanya Dokter Kim dengan canggung.

"Aku baik," Ucap Sehun.

"Bagaimana dengan Luhan?"

"Keadannya juga baik," jawab Sehun. Dokter Kim mengangguk-angguk lalu kembali terdiam.

"Sehun," Panggil dokter Kim setelah beberapa lama ia terdiam.

"Maafkan aku," ucap Dokter Kim akhirnya.

"Maaf karena aku telah memperlakukanmu dan Luhan dengan buruk waktu itu," ucap Dokter Kim sambil tersenyum miris, "Harusnya aku memperlakukan kalian dengan lebih baik karena bagaimanapun juga kalian telah membantuku. Aku benar-benar tidak tahu diri. Bahkan bayaran dariku kau kembalikan. Membuatku lebih merasa bersalah."

"Sepertinya Aku mendapat karma karena sudah memperlakukan kalian dengan tidak adil.."

Sehun memandangi dokter Kim dan masih mendengarkan Dokter Kim dengan baik.

"Setelah aku mempertunjukkan hasil kerjaku,banyak kalangan masyarakat yang menentangku dan mencaci makiku. Mereka tidak pernah menerima male-pregnancy yang sudah kuciptakan dengan susah payah. Aku menderita. Dan saat itu aku teringat perlakuanku pada kalian. Aku akhirnya merasakan penderitaan yang sama dengan yang kalian terima akibat ulahku," cerita Dokter Kim. Matanya berkaca-kaca dan rasa bersalah kembali merasuk kedalam hatinya.

"Tidak apa Dokter Kim. Aku dan Luhan memaafkanmu. Bagaimanapun juga kau yang telah membuat kami bisa mendapat Anak yang luar biasa seperti Ziyu."

"Ziyu? Apa itu nama anakmu?" tanya Dokter Kim.

"Ya,Ziyu adalah nama anak laki-laki yang lahir dari Luhan berkat kerja kerasmu," jawab Sehun sambil tersenyum, "Ia sekarang berumur 4 tahun,ia cerdas,periang dan sehat.."

"Bisa aku melihat foto Ziyu?" pinta Dokter Kim. Sehun dengan senang hati menunjukkan foto Ziyu beserta Luhan yang ia simpan (dengan diam-diam) di ponselnya. Dokter Kim tercengang takjub melihat foto Ziyu yang sedang dipeluk oleh Luhan. Anak yang ia 'hasilkan' pertama kali terlihat begitu Lucu dan sehat. Ternyata, percobaannya telah berhasil dengan sempurna sejak lama.

"Ia sangat sempurna," Ucap Dokter Kim takjub, "Boleh aku meminta foto ini? Untukku memajangnya di klinikku?"

"Aku ingin semua pasienku tahu bahwa Luhan adalah pasien pertamaku. Dan aku menghargainya. Bolehkah?" Sehun mengangguk dan mengirimkan foto Luhan dan Ziyu kepada ponsel Dokter Kim.

"Terima kasih Sehun. Kalian akan selalu menjadi pasien pertamaku yang akan selalu kubanggakan.."

"Ah sepertinya pesawatku sudah akan berangkat," Ucap dokter Kim saat mendengar pengumuman dari speaker yang dipasang disudut ruangan.

"Aku pergi dulu Sehun-ssi. Terima kasih dan sekali lagi maaf."

Sehun tertawa lalu menepuk pundak Dokter Kim.

"Tidak apa-apa dokter Kim."

"Sampaikan salamku untuk Luhan ya?" Sehun mengangguk dan tersenyum.

"Oh dan aku berharap kalian akan terus bersama.." ucap Dokter Kim tulus, "Pertama aku melihatmu,aku langsung bisa menebak seberapa besar rasa cintamu padanya.."

Mendengar ucapan dokter Kim,Sehun tersenyum pahit.

"Saat kau melindunginya aku tahu bahwa kau memang ditakdirkan untuk dirinya.."

Sehun tersenyum lagi, hatinya terasa perih mendengar kata-kata dokter Kim. Karena semua yang dikatakan Dokter Kim terdengar klise,terdengar dibuat-buat ditelinga Sehun. Karena ia sadar bahwa ia bukan takdir Luhan.

Setelah Sehun mengantar kepergian Dokter Kim ia kembali menaikki mobilnya dan pergi meninggalkan bandara. Sehun bersandar di kursi mobilnya dengan malas. Junmyoon tahu suasana hati Sehun sedang tidak bagus maka dari itu ia memilih diam dan membiarkan Sehun bergelut dengan pikirannya sendiri.

Telepon Sehun berdering,memecah keheningan.

"Ada apa Kyungsoo?" tanya Sehun malas setelah mengangkat telepon dari Kyungsoo.

"Luhan sudah sadar," Jawab Kyungsoo.

Hati Sehun mencelos. Dan rasa senang menyelimuti dirinya.

"Apa kau tidak ingin menemuinya?" Tanya Kyungsoo.

Ya!

Ya!Ya!Ya!

Aku ingin menemuinya!

Tentu saja ia ingin menemui Luhan. Rasa rindunya sudah diambang batas hingga ia tidak dapat lagi mengontrolnya. Terkadang ia terlalu rindu hingga rasanya ia ingin menangis dan berlari menghampiri Luhan. Terlalu sering hingga dipikirannya selalu ada Luhan dan semakin membuatnya ingin bertemu dengan Luhan.

Sehun ingin sekali bertemu Luhan.

"Tidak Bisa," Ucap Sehun, "Aku tidak bisa menemuinya. Aku masih banyak pekerjaan.."

Sehun mendengar Kyungsoo mendesah pelan.

"Kau yakin?" Tanya Kyungsoo lagi, "Semenitpun kau tidak bisa?"

"Tidak Kyung. Aku baru saja pulang dari Bucheon. Aku lelah.."

"Sehun?Astaga Sehun! Jangan bilang kau-" Kyungsoo menghentikkan kata-katanya dan menghela nafas lagi, "Kau benar-benar melakukan rencana balas dendam konyolmu itu?" tanya Kyungsoo kesal.

"Ya. Aku melakukannya," jawab Sehun jujur.

"Astaga Sehun! Apa kau kehilangan akal sehatmu?! Rencanamu itu sangat Gila!" Kyungsoo tentu tahu rencana balas dendam Sehun dan ia mengecam berat rencana gila tersebut. Bagaimana tidak? Rencana yang dijelaskan Sehun bisa membuatnya ditangkap polisi atau lebih parahnya terbunuh ditangan Asami,pengusaha Jepang yang memperkosa Luhan.

"Aku akan lebih gila jika aku tidak melakukan apapun untuk membalas penderitaan Luhan.."

"Tapi tidak begini caranya Sehun!" ucap Kyungsoo, "Dasar manusia lilin!"

Sehun mengerutkan dahinya bingung, "Manusia Lilin? Maksudmu?"

"Iya kau manusia lilin. Kau membakar dirimu sendiri hingga habis hanya untuk menerangi Luhan. Manusia lilin yang bodoh."

Sehun tertawa kecil, "Manusia Lilin. Ya aku menyukainya.."

Jadi Lilin . Jadi apapun, Sehun bersedia.

Bukannya sudah dikatakan sebelumnya? Sehun akan menjadi apapun demi Luhan.

"Aish Sehun aku serius!" ucap Kyungsoo sebal.

"Kau kira aku tidak serius?" tanya Sehun, "Aku serius menjalani rencana itu dan kau tidak usah khawatir karena rencana itu sudah kujalankan dan berhasil."

"Sudah ya Kyungsoo. Jaga Luhan untukku. Bye."

Sehun menutup teleponnya lalu kembali menyandarkan kepalanya dikursi mobilnya.

"Tuan," Panggil sopir Sehun, "Jadi kemana tujuan kita sekarang?"

"Rumah Sakit S." Jawab Sehun, "Rumah sakit tempat tuan Luhan dirawat.."

Sehun dengan hati-hati berdiri didepan pintu kamar Luhan. Mengintip kedalam dari kaca kecil dipintu kamar Luhan. Didalam,terlihat Luhan sedang duduk diranjangnya. Ziyu duduk dipangkuannya sementara Haowen duduk disebelahnya. Luhan sedang bercanda tawa dengan teman-temannya termasuk Minseok. Sehun tersenyum lega melihatnya. Ia bersyukur tidak ada penolakan dari tubuh Luhan terhadap organ yang didonorkannya.
Untuk Sehun,walaupun tidak bertemu pandang dengan Luhan, melihat Luhan tersenyum seperti ini saja sudah cukup.

4 poin kemenangan untukmu Luhan.

1 Poin dari nyonya Gong. Sekarang ia tidak akan lagi menghinamu karena ia sudah tidak punya apa-apa lagi selain mulut busuknya.

1 Poin dari Dahae. Ia sudah jera dan sekarang sampai selamanya akan hidup diliputi rasa bersalah.

1 Poin dari si brengsek Asami. Ia sudah mendapat akibatnya sayang. Ia sekarang merasakan betapa tersiksanya dririmu saat ia menyentuh tubuhmu dengan paksa.

Dan untuk poin tambahan.

1 Poin dariku. Yang akan selalu kalah, dan mengalah karena pesonamu.

Luhan tertawa saat mendengar candaan yang dilontarkan Baekhyun. Sesekali ia melirik kearah pintu untuk mengecek kedatangan Sehun.
Iya, Luhan sangat berharap Sehun datang.
Ia mendesah kecewa karena pintu kamarnya tidak terbuka. Atau jika pintu itu terbuka,yang muncul bukan Sehun melainkan perawat atau teman-temannya yang ingin menjenguk.

Saat ia masih dalam keadaan tidak sadar,Luhan selalu memimpikan Sehun. Ia bermimpi duduk dipelukkan Sehun dan Sehun memeluknya protektif. Ia juga bermimpi Sehun mencium bibirnya sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Luhan. Dalam mimpi itu Luhan ingin berteriak 'Jangan pergi!' namun suaranya tidak terdengar dan Sehun tetap menjauh. Dan ketika ia bangun,ia berharap wajah yang pertama ia lihat adalah wajah Sehun. Bukan wajah Minseok.

TBC

AHAHAHAH SEHUN GONE MAD!
YEHET!

Jadi gimana gimana? Puas kah? hehehehe

One more Chapter dan Metanoia akan segera berakhir huhu

tapi tenang saja masih banyak Proyek dari author yang akan memuaskan hasrat para byuntae readers tercinta ini!

LOL

Ok kl begitu aku pamit!

Yang mau tanya-tanya,chit chat bisa like fb page aku : SeLuminati