FF Ini ditulis oleh author aria. sweden!

Terima kasih sudah menulis FF sekeren ini dan terima kasih karena sudah membagi ilmu menulisnya :D


Title: Hunhan metanoia; World Cup VS Me

Pairing: metanoia!Sehun/Luhan

Rating: Mature

Genre: married life!AU, Romance, smut.

Words count: 2050 words

Disclaimer: All characters is belong to their self

Metanoia originally belongs to SeLuminati

Summary: Luhan keranjingan bola sampai mengacuhkan Sehun (dan jatah malamnya.) sex by Slutty!Luhan and Angry!Sehun.

.

.

"GOAAAALLLLLLL!"

Sehun menatap bosan ke samping, memutar bola matanya dan menggerutu kecil. Ini sudah seminggu lebih dan Sehun benar-benar tidak tahan lagi.

Luhan sibuk sendiri dengan bola dan dunianya. Mengabaikan Sehun dan hormonnya yang meledak-ledak. Sehun terheran-heran bagaimana bisa Luhan benar-benar disibukkan oleh urusan bola. Memang, mulai dari minggu kemarin pertandingan bola dunia memang sudah digelar. Sehun juga bisa tolerir jika Luhan sampai keranjingan bola, yang memang Sehun sudah tahu dari dulu bahwa Luhan, yang terlihat imut dan manis itu, ternyata gila bola juga. Jongin dan Chanyeol juga begitu. Tapi Sehun benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa urusan pertandingan sepak bola membuat Luhan menjadi lupa segalanya. Bahkan Sehun masih ingat bagaimana Luhan salah meletakkan buku pelajaran Ziyu ke tas Haowen tiga hari yang lalu karena matanya yang hanya menatap ke layar televisi dan komputer sepanjang hari. Sampai anak itu dihukum gurunya karena tidak membawa buku pr-nya. Sehun pikir dia sudah cukup bersabar untuk Luhan, harusnya pria manis itu mengerti.

"Luhan-ah."

"..."

"Luhan-ah."

"..."

"Sayang, kau mendengarku?!"

Luhan mendelik kesal ke arah Sehun, lalu berdecih pelan. "Aku mendengarmu, Sehun-ah. Jangan berteriak. Aku tidak tuli."

Oh, sekarang Sehun yang mendelik kesal. Sehun tentu tahu Luhan tidak tuli, tapi Luhan tidak menjawabnya. "Kalau tidak tuli kenapa tidak menjawab ku?!"

Luhan akhirnya berbalik menghadap ke samping, berhadapan dengan Sehun di atas sofa merah ruang tengahnya. Oh, akhirnya dia memberi perhatian juga pada Sehun.

"Maaf Sehun-ah. Tapi aku sedang menonton, kau tidak lihat?" Ucap Luhan sambil menunjuk TV mereka, "Belanda; tim favoritku, sedang berjuang untuk menjadi pemenang. Jadi jangan ganggu aku. Okay?"

Sehun terkejut melihat Luhan kembali berbalik menatap ke arah LCD televisi mereka.

"Iya, tapi kau harus menyiapkan seragam sekolah Haowen dan Zi-"

"Sudah aku siapkan sejak tadi sore."

"Tapi kau juga ha-"

Luhan menoleh ke arah Sehun cepat.

"Sehun-ah!" Rengeknya manja, "Berhenti menggangguku, tim kesayanganku sedang bertanding. Aku tidak bisa fokus!" Sehun benar-benar kaget, bagaimana bisa Luhan mengacuhnya karena masalah sepele seperti pertandingan sepak bola?

Oh, sepertinya supporter bola satu ini harus diberi pelajaran.

Sehun menatap Luhan lama-lama, tapi yang dijadikan objek tatapan pura-pura tidak peduli. Tidak sampai tangan Sehun mengusap-usap penis Luhan dari luar celana kain selututnya. Sehun tersenyum saat mendengar Luhan mendesah pelan. Sehun pikir ia berhasil mendapatkan kembali perhatian Luhan tapi Luhan malah mempelototinya dan menjauhkan tangan Sehun dari daerah terlarangnya.

"Berhenti Oh Sehun! Atau aku akan benar-benar marah padamu."

"Oh, begitukah? Baiklah, mari kita lihat siapa yang sepatutnya harus marah tentang ini." Sehun mendorong kedua bahu Luhan kuat hingga Luhan terlentang di sofa. Luhan berusaha menegakkan badannya kembali tapi Sehun tetap menahan bahunya kuat. "Lepas Oh Sehun! Kau mulai keterlaluan! Kau menyakiti tanganku!" Sehun tiba-tiba berhenti saat sadar dia menyakiti Luhan. Oh, tidak.

"Maaf." Ucap Sehun datar.

Sehun segera berdiri dan menjauh dari Luhan, berpindah ke sofa di sisi lain ruangan, mengambil buku yang diacuhkannya sejak tadi sore, dan kembali membacanya. Membiarkan Luhan meliriknya khawatir.

Sehun tetap pada posisinya; bersandar pada sandaran sofa sambil membaca buku. Sehun bisa melihat dari ekor matanya saat Luhan berjalan ke arahnya.

"Sehun-ah."

"Hm?"

"Kau marah padaku?"

"Menurut mu?!"

Luhan menatap aneh pada Sehun, sebelum akhirnya duduk di pangkuan Sehun.

"Menurutku kau marah padaku." Luhan menyandarkan kepalanya ke bahu Sehun. Sehun masih tetap pada posisi awalnya; membaca buku dengan tenang. Luhan mendengus saat hanya mendapat gumaman kecil dari Sehun. "Sehun-ah, kau benar-benar marah?"

Sehun tetap membaca buku manajemen bisnis yang sudah pernah dia baca berkali-kali itu. Dan masih setia menatap rentetan kalimat di kertas itu tanpa menatap Luhan. "Sudahlah Luhan. Tadi kau yang tidak ingin diganggu. Tonton saja tim kesayanganmu itu." Sehun menarik nafas perlahan. Berusaha membaca kembali buku yang ada di tangannya dan mencoba mengacuhkan si manis Luhan yang sedang bergerak-gerak diatas pahanya.

Luhan yang dari tadi bersandar pada bahu Sehun menegakkan badannya segera. Bertanya-tanya kenapa Sehun menjadi sangat pemarah sekali. "Kau mengusirku?"

"Luhan, aku tidak ingin membicarakan ini. Mulai sekarang kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Jangan memperdulikan aku." Ucap Sehun dingin.

Oh, jadi benar si tuan Oh Sehun ini marah padanya.

"Sehun-ah."

"..."

"Sehun-ah."

"..."

Sehun mengacuhkannya, dan Luhan tidak pernah suka itu. Dia menyayangi Sehun dan tidak ingin masalah kecil seperti ini membuat hubungan mereka berantakan. Luhan menatap Sehun dari samping sekilas sebelum mencuri kecupan kecil di bibir Sehun. Sehun terkejut namun tetap berusaha mengabaikan Luhan.

Oh, hebat juga pertahanan Oh Sehun ini.

Luhan mendekatkan tubuhnya ke arah Sehun; menghembuskan napas ke telinga Sehun.

"Sehun-aaah." Luhan berbisik sambil mendesah ke telinga Sehun. Merapatkan tubuh mereka dan menggesek-gesekkan bokongnya yang menduduki penis Sehun yang masih tertutup celana. Luhan tersenyum nakal saat dia merasakan tonjolan besar menyodok bokongnya.

"Sehun-ah... Kau marah padaku? Maafkan aku ya, Sehunie baby.. Hmm?" Ucap Luhan manja sambil menggesek-gesek hidung Sehun dengan hidungnya. Sehun sempat berdeham, berusaha menata kembali 'pertahanan'nya yang hampir hancur.

Luhan mendelik kesal karena pertahanan Sehun yang hampir hancur kini sudah berdiri tegak lagi, Sehun sudah kembali membaca, mengabaikan Luhan yang membuat kabar selangkangannya buruk sekali.

"Oh Sehun!"

Luhan yang tidak tahan diacuhkan akhirnya meremas penis besar Sehun dari luar celana jeans panjangnya. Membuat Sehun tidak lagi bisa membaca apapun dari buku di tangannya. Sehun akhirnya berbalik menghadap Luhan, melempar buku yang tadi di genggamannya hingga ke lantai dan mencium bibir Luhan ganas. Sehun menekan tengkuk Luhan agar lebih dekat dengannya, melumat bibir penuh Luhan kuat-kuat sampai Luhan mendesah. Sehun melepaskan ciuman mereka , membiarkan Luhan mengambil napas sebanyak-banyaknya sambil memperhatikan wajah manis Luhan yang sudah merah sekali.

"Kau nakal sekali, Luhan. Mau main-main denganku, eoh?"

"Iya, tuan Oh Sehun yang tampan."

"Ah, tapi aku masih marah padamu. Bagaimana ini?" Sehun menolehkan wajahnya ke arah lain pura-pura tidak peduli. Luhan mendengus pelan, tapi sesaat kemudian dia tersenyum nakal.

"Kalau begitu hukum aku, tuan Oh."

Luhan kembali mendekat ke arah Sehun, dan melingkarkan tangannya ke leher Sehun. Menjilat-jilat telinga dan rahang keras Sehun seperti anak kucing. Oh, Sehun selalu suka sisi lain dari Luhan yang ini. Sehun selalu tahu, terkadang Luhan bisa menjadi sangat baik, sangat ramah, terlalu polos, atau bahkan nakal dan liar seperti ini. Sehun selalu suka saat-saat Luhan bisa menempatkan sifatnya di saat yang tepat. Sehun juga merasa beruntung karena bisa menjadi orang yang mendapatkan si cantik Luhan; juga menjadi orang yang memiliki semua yang ada pada diri Luhan.

Sehun mengangkat tubuh Luhan lalu menghempaskan tubuh itu ke sofa mereka yang lebih panjang, membuat punggung Luhan bertubrukan dengan sofa. Dia menarik kaos putih milik Luhan dengan cepat, membuangnya ke lantai dengan kasar. Sehun bahkan tidak mempedulikan teriakan Luhan yang menyuruh mereka pindah ke kamar. Otaknya sudah terlanjur dibutakan oleh nafsu dan niat untuk 'menghabisi' Luhan malam ini .

"Sehun, jangan di sini. Nanti-uhh.. oh!"

Luhan rasa Sehun sudah benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa mereka bercinta di ruang tengah? Bisa-bisa kedua anak mereka yang sudah tertidur bisa terbangun -mengingat Luhan seorang vokal aktif di ranjang-. Luhan ingin memberi tahu Sehun kalau mereka harus pindah, tapi suaminya itu sudah lebih dulu menciumi dan meraba setiap inci kulit tubuhnya, membuat Luhan hilang akal dan akhirnya mendesah pelan.

Hancur sudah rencananya malam ini untuk mendukung tim Belanda di semi final. Ia harap Belanda masih bisa menang walaupun salah satu supporter-nya malah sibuk menikmati sentuhan yang diberikan pasangannya.

Luhan sibuk mendesah-desah karena Sehun yang menggigiti leher dan bahunya dari tadi. Sehun dengan cepat membalik tubuh Luhan, berbalik membelakanginya. Sehun meremas-remas bokong Luhan sebelum menanggalkan celana Luhan dari kaki rampingnya.

"Sehun, celana dalamku masih tersangkut di pergelangan kaki kiriku." Luhan merengek dan berusaha menendang celana dalamnya agar terlepas dari kaki kirinya; berharap celana dalam warna putih itu terjatuh dari pergelangan kakinya. Tapi dia tidak merasa ada pergerakan atau tanda-tanda dari Sehun untuk menolongnya menarik celana dalamnya. Sehun malah sibuk menciumi dan menjilati punggungnya yang mulus.

"Sehun!"

"Maaf Luhan, tapi kita tidak punya waktu untuk itu." Dengan secepat kilat jari tengah laki-laki yang lebih muda itu meraba-raba ke bokong Luhan, mencari-cari lubang anusnya. Gerutuan Luhan terganti dengan desahan-desahan keras karena jari Sehun yang panjang mulai memasukki lubang anusnya.

"Lu-Lube.. Sehun.." gumam Luhan saat merasakan dua jari Sehun yang tanpa 'pelicin' bergerak-gerak dilubangnya.

"Sehun, sudah ku bilang pakai lubrikan. Ki-kita sudah menyepakatinya, kan?"

Tangan Luhan masih sempat-sempatnya bergerak ke belakang hendak menarik jari-jari Sehun yang membuatnya agak kesakitan. Tapi Sehun lebih ahli, Luhan selalu tahu. Jari-jari Sehun semakin ditekannya ke prostat Luhan sampai Luhan menggelinjang. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan Sehun erat.

"Maaf Luhan-ah, tapi kau harus dihukum karena sudah mengacuhkanku dan jatah malamku seminggu terakhir ini." Luhan hanya meringis karena jari-jari itu semakin cepat menyodok prostatnya membuat perutnya serasa teraduk. Tapi suara datar dan dingin Sehun lebih membuat hatinya lebih menyesal. Luhan tahu, dibalik nada suara itu, Sehun betul-betul sedih. Kalau dipikir-pikir memang seminggu ini dia hanya fokus pada menonton pertandingan sepak bola hingga dini hari, atau mencari tentang info tim kesayangannya di internet. Dia suungguh-sungguh menyesal tentang itu. Luhan pikir mungkin dengan di 'hukum' seperti inilah ia bisa memperbaiki kesalahannya.

Luhan bergerak lebih cepat, berbalik menghadap ke belakang dan melepas jari-jari Sehun dari lubang analnya. "Apa lagi? Mau melanjutkan nonton bolamu itu?!" Sehun berkata dengan gusar tapi terdiam setelah tiba-tiba Luhan terlentang sambil mengangkat kakinya hingga dada, mempertontonkan lubangnya yang sudah memerah.

"Sehun-ah, lihat lubangku..." ucapnya sambil melebarkan lubang anus itu dengan kedua jarinya "Lihat ia sudah lapar ingin memakan penismu.."

Luhan menatap Sehun dengan mata sayu. Ugh ini benar-benar murahan, pikir Luhan. Tapi dia harus menebus kesalahannya.

Sehun meneguk saliva-nya dengan kasar.

Ia sungguh menyukai sisi Luhan yang seperti ini. Membuat gairahnya tersulut cepat hingga celana katun longgarnya terasa menyesakkan.

Sehun dengan cepat membuka celananya hingga penis besarnya 'terbebas' dari celana yang mengurungnya. Sehun merangkak lalu berlutut diantara kaki Luhan yang melebar. Dengan seringai diwajah tampannya ia memasukkan penisnya kedalam lubang anus Luhan. Luhan menggigit bibir bawahnya, menahan perih yang mulai melanda. Sehun kembali memasukkan penisnya membuat Luhan dengan otomatis mencengkeram tangan Sehun, mencakarnya untuk mengalihkan sakit yang ia rasakan. Kejantanan Sehun sudah masuk sempurna dalam lubang anus Luhan. Sehun membungkuk, mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan.

"Maafkan aku babe." Ucapnya sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi Luhan. Seberapa besarpun rasa nafsu yang memenuhi diri Sehun, ia tetap tidak akan tega melihat Luhan kesakitan karena dirinya. Luhan menyentuh tangan Sehun yang sedang mengusap pipinya lalu mengangguk, mengisyaratkan Sehun bahwa ia tidak apa-apa. Demi Sehun, ia akan menahan segala rasa sakit yang dirasakannya.

Sehun dengan perlahan menggenjot penisnya keluar masuk di lubang Luhan. Hingga gerakkan semakin cepat saat mendengar rintihan sakit Luhan menjadi desahan yang menggema keras ke penjuru rumah mereka.

"Oh baby, kau begitu hangat, ahhh begitu ketat." Racau Sehun sambil terus menggenjot keras lubang Luhan. Sementara Luhan yang tidak bisa lagi menahan rasa nikmat menolehkan kepalanya ke samping, dan saat ia membuka mata, tepat di layar TV tim favoritnya hampir mencetak gol kedalam jaring gawang lawan.

"AH SIALAN! HAMPIR SAJA SNEIJDER MENCETAK GOAL!" teriaknya kesal pada striker andalan tim favoritnya yang gagal mencetak gol.

Sehun yang sedang memejamkan matanya menikmati lubang anus Luhan, langsung membuka matanya. Terkejut mendengar teriakkan kesal Luhan. Ia langsung menatap Luhan yang sedang merengut sambil menonton TV dengan kesal. Sehun terdiam tak percaya.

Tanpa mengatakan apapun ia mengeluarkan batang penisnya dari lubang Luhan lalu memakai lagi celananya. Mengabaikan pertanyaan bingung Luhan dan meninggalkannya menuju kamar. Luhan yang bingung, segera berubah menjadi takut ketika ia mendengar pintu kamarnya dibanting dan ditutup dengan keras.

.

.

.

Saat Luhan masuk kekamar –Setelah melalui perdebatan batin apakah ia harus menghampiri Sehun yang sedang marah atau tidak- lampu sudah dimatikan dan Sehun sudah menyelimuti dirinya dengan Selimut tebal mereka. Luhan berjalan perlahan dan dengan hati-hati naik ke atas kasur. Sehun membelakanginya dan tampak sudah tertidur. Luhan bisa melihat alis tebal Sehun mengkerut walau dirinya tertidur, itu berarti Sehun sangat kesal. Luhan meneguk saliva-nya dan dengan perlahan tangan gemetarnya menyentuh tubuh Sehun.

"Se-sehun.." panggilnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sehun pelan.

"Sehun, apa kau sudah tertidur?"

Tidak ada jawaban.

Dan dengan berat hati Luhan merebahkan dirinya sambil menatap punggung Sehun yang lebar. Menyesal karena sekarang, akibat ulahnya, ia harus tidur tanpa tangan Sehun yang memeluknya protektif setiap malam.

Luhan membuka mata saat mentari pagi yang hangat menembus jendela kamarnya. Ia beranjak dan menggeliat, mengedarkan pandangannya hanya untuk mendapati dirinya sudah sendiri di dalam kamar.

Ia menghela nafas berat.

Saat ia melirik jam, jam sudah menunjuk pukul 9 itu berarti Sehun dan anak-anak mereka sudah berangkat menuju kantor dan sekolah. Tidak ada pesan atau notes lucu dari Sehun. Luhan bisa memastikan kalau Sehun masih marah padanya.

Saat Sehun pulang ia tidak menggubris Luhan yang menyambutnya dengan hangat. Sehun langsung menuju kamar Haowen dan Ziyu untuk menemani dan mengajari mereka membuat PR. Saat makan malampun Sehun tidak mengatakan apapun, atau memulai pembicaraan dengan Luhan. Sehun hanya mengobrol dengan Ziyu dan Haowen yang terkadang menanyakannya beberapa pertanyaan. Luhan cemberut.

Sesudah menidurkan Haowen dan Ziyu, Luhan kembali kekamarnya. Sesaat sebelum masuk, ia diam, kembali melakukan perdebatan di pikirannya.

Bagaimana jika Sehun masih marah?

Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia perbuat agar Sehun tidak marah lagi?

Mengenyahkan semua kemungkinan yang membuat kepalanya pusing, Luhan memberanikan diri untuk masuk ke kamar. Sehun sedang duduk bersandar diranjang, tangannya yang panjang sibuk mengetik pesan di ponselnya.

"Sehun-ah," panggil Luhan takut-takut sambil berdiri didepan ranjang.

Sehun berhenti dari kegiatannya lalu menatap Luhan dengan dingin.

"Mmm Begini," ucap Luhan ragu, "A-aku ingin meminta maaf. Aku tahu kemarin aku keterlaluan. Aku benar-benar meminta maaf.."

Sehun tidak mengatakan apapun dan terus memandangi Luhan.

"Tolong jangan mengacuhkan aku lagi. Aku tahu aku salah tapi sikapmu betul-betul membuatku sedih. Aku benar-benar menyesal Sehun-ah..."

"Kau menyesal?" tanya Sehun dengan nada datar. Luhan dengan ragu-ragu mengangguk.

Sehun meletakkan ponselnya di nakas lalu melipat tangannya di dada.

"Buatlah aku percaya kalau kau benar- benar menyesali perbuatanmu."

Luhan terperangah. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menyanyikan sebuah lagu untuk Sehun? Tidak, jika ia menyanyi suaranya akan bergetar karena gugup.

Haruskah ia memberi bunga pada Sehun? Ini sudah malam,Toko bunga sudah tutup Luhan.

Lalu ia harus apa?

Luhan dengan perlahan melucuti semua pakaiannya hingga ia telanjang. Perlahan ia naik keatas kasur. Tidak ada pilihan lain, hal ini adalah satu-satunya cara yang ia bisa lakukan.

Luhan naik ke pangkuan Sehun dan melingkarkan kakinya di pinggang Sehun. Sehun hanya diam sambil menatap Luhan intens. Luhan mendorong dada bidang Sehun ke belakang; membuat Sehun menyandar di papan ranjang.

"Maafkan aku sayang. Hari ini biar aku yang bekerja. Silahkan nikmati hidanganmu." Luhan menurunkan badannya membuat tubuh mereka berhimpitan. Luhan menjilat-jilat telinga kanan Sehun membuat Sehun bergetar pelan. Kedua tangan Luhan sudah turun ke bawah, meremas-remas penis Sehun. Luhan tersenyum penuh kemenangan ketika mendengar Sehun mulai mendesah pelan. Uh, anak ini selalu tidak mau mendesah keras, harga dirinya tinggi sekali.

Luhan sudah menggenggam ujung kaos Polo biru tua Sehun saat tangan pucat Sehun menahan pergelangan tangannya. Luhan mengernyitkan dahi tanda bingung. Sekarang apa Sehun yang tidak mau bercinta?

"Tidak, aku tidak mau melepaskan apa-apa dari badanku. Buka saja zipper celananya." Luhan menatap Sehun tidak percaya. Apa-apaan itu? Hanya melepaskan resleting celananya saja? Lalu Luhan bagaimana? Dia sudah nyaris telanjang kecuali kakinya yang masih terbungkus kaus kaki dengan merek Disney di pinggiran atasnya. Sekarang Luhan benar-benar merasa murahan.

"Itu hukuman untukmu." Sehun menjawab seolah bisa membaca pikiran Luhan. Luhan nyaris mengamuk kalau saja Sehun tidak gantian meremas penis mungilnya dan mengusap-usapnya pelan. Membuat Luhan mendesah-desah. Luhan tetap berusaha menciumi leher Sehun saat Sehun kembali menusuk lubang anus Luhan dengan jari-jarinya tanpa persiapan apapun. Sehun mengaduk-aduk lubang anusnya dengan jari-jari panjangnya. Sesekali tubuh Luhan menegang dan merinding.

"Sepertinya sudah cukup, atau kau masih akan melakukan sesuatu untuk membuatku percaya hmm Luhan?" Luhan hanya menganggukan kepalanya karena lemas. Ini bahkan belum dimulai, ugh.

Luhan berusaha menurunkan tubuhnya saat penis Sehun sudah diposisikan dibawah lubang anusnya. Luhan dengan pelan menurunkan tubuhnya, memasukkan penis Sehun kedalam lubangnya. Luhan meringis saat sakit mulai dirasakannya. Tapi lama-kelamaan ia mulai terbiasa. Luhan mendesah nikmat sambil menaik-turunkan tubuhnya. Sehun hanya menggeram sedikit tapi wajahnya tidak bisa berbohong; kalau sebenarnya dia juga sangat menikmati ini.

"Kemari."

Sehun menarik lengan Luhan dan membuat tubuhnya mendekat ke arah Sehun. Sehun meraup dan menciumi bibir mungil Luhan ganas; melumat-lumatnya dengan cepat. Luhan dari tadi hanya sibuk mendesah-desah. Tubuhnya sudah naik-turun makin cepat tidak beraturan. Gerakannya semakin cepat, dia bahkan berteriak kencang sekali. Luhan mendongakan kepalanya saat Sehun makin menekan prostatnya.

"Jadi sekarang tim bolamu masih penting dibanding aku, Lu?" tanya Sehun sambil mencium leher Luhan yang sedang mendongak.

"Ahh ti-tidak. Kau yang lebih penting Sehun, ngghh. Kau lebih penting dari segalanya babyyhh le-lebih cepat Sehun ngghhh..."

Luhan kembali menggumamkan kata-kata tidak jelas yang bahkan sudah tidak bisa Sehun mengerti. Tapi biar saja, toh Luhan tetap meneriakan namanya saat klimaks. Bukan nama tim sepak bola atau striker favoritnya.

Luhan terjatuh ke dada Sehun saat dia sudah mencapai klimaksnya. Dadanya naik-turun mencari oksigen sebanyak yang dia bisa. Tapi dia tahu ini belum berakhir. Sehun membalikkan posisi, dia merebahkan Luhan dan menaik-turunkan tubuhnya cepat, mencari kesenangannya sendiri. Luhan yang sudah lemas hanya diam saat tubuhnya terhentak-hentak kuat oleh gerakan Sehun; membuat kasur mereka berguncang hebat. Setelah beberapa saat-yang bagi Luhan serasa berabad-abad-, Sehun mencapai klimaksnya, membuatnya tersungkur ke bawah. Sehun menindih Luhan sesaat lalu mulai menegakkan tubuhnya; bermaksud melepaskan penyatuan tubuh mereka. Tapi Luhan menarik Sehun hingga Sehun kembali menindih Luhan.

"Maafkan aku sayang. Aku tidak akan mengacuhkanmu lagi. Aku tidak akan mementingkan segala hal kecuali dirimu dan anak-anak. Maafkan aku." Ucap Luhan sambil mengelus wajah Sehun. Sehun tersenyum,Oh akhirnya. Ia lalu mencium bibir Luhan dengan lembut.

"Ya baby, kau ku maafkan. Aku mencintaimu Luhan."

Luhan tersenyum. Sehunnya sudah tidak marah,usahanya berhasil.

"Aku juga mencintaimu Se- AHHHHHHHHHHHH!"

Luhan Melotot horor kearah pintu kamar. Di situ sudah berdiri dua anak polosnya; Haowen dan Ziyu yang menatap mereka terdiam. Haowen segera menutup mata adiknya dengan kedua tangan walaupun tahu itu sudah terlambat. Haowen dan Ziyu buru-buru pergi dari ke kamar tidurnya lalu masuk ke kamar mereka.

"Se-sehun! Aku lupa mengunci pintu! Bagaimana ini?! Kita telah merusak pikiran polos mereka!" ucap Luhan panik. Sehun hanya mengedikkan bahu lalu menyeringai ketika ia mendapat sebuah ide.

"Well, well Luhan. Dasar ayah yang nakal. Ckck! Mencontohkan hal yang tidak baik pada anak-anaknya. Bukankah ayah yang nakal juga harus mendapat hukuman, hmm?" Sehun menyeringai dan Luhan meneguk salivanya kasar.

Ronde kedua Luhan, Semoga berhasil.

.

.

.

"Tadi itu Baba dan Appa sedang melakukan apa, hyung?"

Haowen tergagap dengan pertanyaaan polos adiknya. Dia hanya gelagapan dan melihat ke segala arah asal bukan ke arah adiknya yang memasang tampang penasaran.

"U-uh, Baba dan Appa sedang.. A-ah, bermain kuda-kudaan!" Haowen sedikit bernapas lega karena adiknya hanya mengangguk-anggukan kepala.

"Oh, jadi Baba yang jadi Cowboy-nya ya?" Dan pertanyaan Ziyu membuat Haowen semakin membuat kepalanya pusing.

"Ya, Baba yang jadi Cowboy-nya."

"Tapi kenapa Baba tidak pakai baju? Setahu Ziyu Woody si koboi di kartun Toy Story memakai baju sheriff dan sepatu koboi tapi kenapa Baba malah telanjang?"

"U-uh, i-itu.. Ah, sudahlah. Sekarang cepat tidur, sudah malam. Besok kita harus sekolah." Haowen mencoba mencari cara agar adiknya ini tidak bertanya yang aneh-aneh padanya lagi. Dia menidurkan adiknya di ranjang mereka dan memakaikannya selimut. Setelah memastikan adiknya aman, Haowen merebahkan diri disebelah adiknya. Ia mencoba memejamkan mata ketika suara adiknya terdengar pelan.

"Uhm..hyung..."

"Ya?"

"Nanti kita main kuda-kudaan seperti baba dan appa, yuk! Pasti seru!"

Haowen menatap Ziyu yang matanya berbinar dan wajahnya terlihat antusias. Haowen rasanya ingin berteriak dan menangis.

.

-end-

.

a/n: wah, ga nyangka bakal bikin NC se-eksplisit ini. maaf ya kalau enggak hot, tangan saya gemetaran ini ngetiknya. Terimakasih sudah menyempatkan membaca. And big thanks for SeLuminati who'd let me to join in his/her? project.

Wow terima kasih kembali untuk author karena sudah menulis FF dengan NC se-eksplisit itu! (And im a 'Her' by the way:p )

Yang belum baca FF karya author aria. sweden aku rekomendasiin FF2 karya dia bakal lebih bagus daripada metanoia! :D