FF ini ditulis oleh teman sesama author,author shinminmi:D
terima kasih sudah menulis cerita sebagus ini !
Ohya buat yang bingung. Cerita Metanoia ditulis oleh saya SeLuminati.
Tapi Cerita ekstra yang saya post kemarin dan sekarang ditulis oleh Author lain :)
Bukan Berarti Authornya banyak atau saya punya banyak akun ya!
Where's Haowen hyung, appa?
.
.
.
.
.
.
Seoul, Maret 2015
Tahun ajaran barupun telah tiba.
Saatnya untuk peserta didik baru memulai sekolahnya. Saatnya liburan panjang berakhir. Saatnya membuka buku dan kembali berkutat dengan pelajaran. Dan untuk para orang tua, Saatnya untuk mereka bekerja ekstra dipagi hari—membangunkan putra atau putri mereka yang sudah terbiasa bangun siang, menyiapkan sarapan dan kadang pula ada yang harus mengantar putra atau putri mereka sampai sekolah.
Kegiatan diatas tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang terjadi dari salah satu keluarga mungil yang hidup bahagia di rumah baru milik mereka.
Suara teriakaan terdengar sampai kesetiap penjuru ruangan di rumah tersebut.
"Haowen! Bangun! Astaga! Ini hari pertamamu untuk masuk ke tingkat sekolah dasar! Cepat bangun! Atau kau mau baba menyirammu dengan air, heh?!" teriak sang baba dari arah dapur yang berdekatan dengan kamar Haowen.
Luhan begitu sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya. Untuk sang suami yang harus bekerja dan sang anak Sulung yang akan memulai hari pertamanya di sekolah.
"Lu, jangan berlebihan." Ucap seorang pria tampan yang sudah rapi dengan Kemeja putih yang lengannya sedang ia kancingkan sambil memberikan jatahciuman selamat pagi untuk pasangannya.
"APA?! Apa maksudmu dengan berlebihan, Sehun? Hei! Ini sudah jam 6 lewat 33 menit! Dan Haowen harus masuk sekolah pada pukul 8." ucap Luhan berapi-api,tangannya masih cekatan memasak bekal untuk Haowen dan meletakkannya beserta buah-buahan di kotak bekal.
Sehun yang melihat itu hanya terkekeh. Luhan sungguh terlihat seperti ibu-ibu rumah tangga yang cerewet.—Batin Sehun yang sibuk menonton Luhan yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
Luhan Melirik jam yang tergantung ditembok dan membelalak kaget.
"ASTAGA! HAOWEN!" teriak Luhan lagi dan sekarang lebih garang dari sebelumnya.
"Ne, baba." Jawab Haowen malas-malasan sambil keluar dari kamarnya dengan handuk yang mengalung indah dipundaknya. Sehun terkekeh melihat langkah lucu anaknya yang masih mengantuk.
"Mana ucapan selamat pagi untuk appa dan baba hmm?" tanya Sehun gemas.
"Ah, ya. Selamat pagi, appa." —chu. Haowen mencium pipi Sehun sayang.
"Pagi, baby. Ziyu masih tidur?" tanya Sehun sambil mengacak-acak rambut anaknya.
"Ne, dia tidur seperti orang pingsan appa. Masa' baba sudah teriak seperti itu dia masih bisa tidur lelap dan berpelukan dengan boneka rusanya." Tutur Haowen sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sepertinya, itu menurun dari babamu." ucap Sehun tapi dengan suara yang pelan.
"SEHUN!" teriak Luhan yang ternyata masih mendengarnya.
"Hahahahaha.." tawa ayah dan anak itupun meledak sudah,setelah mendengar sang korban 'Gosip' berteriak sebal.
"Haowen, berhentilah tertawa dan cepat mandi! Jangan dengarkan appamu!" ucap Luhan berang.
"Eh? Hee, iya baba." ucap Haowen patuh sambil menahan tawanya.
.
.
.
Luhan sedang mengancingkan seragam Haowen dan memasang dasi dengan rapi di kerahnya.
"Nah! Sekarang anak baba sudah tampan. Ayo, cepat makan sarapanmu. Baba sudah membuatkanmu sereal. Dan ini bekal untuk kau bawa nanti, sayang." Ucap Luhan riang.
"Ah! Ne! Gamsamhamnida, baba!" ucap Haowen senang dan langsung memeluk dan mencium pipi Luhan.
"Hoam—annyeong ,Selamat pagi." Ucap suara serak yang baru saja keluar dari kamarnya dan sedang berdiri diambang pintu dapur sambil mengucek-ngucek matanya lucu.
"Pagi, Ziyu sayang." Ucap Luhan senang langsung menghampiri anak bungsunya dan mengendongnya.
"Ziyu mau sarapan?" tanya Luhan sayang.
"Ne, baba. Ziyu lapar." Ucap Ziyu sambil mengerucutkan bibirnya dan menepuk-nepuk perutnya.
"Omo! Anak baba lucu sekali, eoh!" tutur Luhan sambil mencubiti pipi Ziyu yang sekarang terlihat sedikit gembul.
"Baba! Sakit!" Ziyu sudah siap merengek kalau saja suara tawa menjengkelkan tidak mengalihkan perhatian Ziyu dan Luhan.
"Eoh? Kenapa kalian tertawa?" tanya Luhan garang.
"Pfft. Tidak. Memangnya kenapa?" tanya Sehun balik sambil menahan tawanya.
"Appa bilang kalian seperti Rusa liar di kartun bambi!" Sehun buru-buru menutup bibir Haowen dengan tangannya sebelum Haowen melanjutkan perkataannya.
"Appa dan hyung menyebalkan!" tutur Ziyu sambil memeluk Luhan.
"Iya kau benar baby. Mereka memang menyebalkan!" ucap Luhan sambil menyentuh hidung kecil Ziyu dengan hidungnya.
"Ne, ne. Mianhae ne, Ziyu sayang? Maafkan appa dan hyung." Ucap Sehun sambil menampakan wajah bersalahnya.
Ziyu hanya merespon dengan dengusan singkat dan meminta Luhan untuk menyuapinya.
Ya, Seperti Itulah keributan kecil saat pagi hari dikeluarga Oh. Sungguh keluarga yang harmonis, bukan?—jangan melihat masa lalu keluarga itu yang rumit pastinya. Oh dan jangan pikirkan keributan kecil tidak penting yang baru saja mereka lakukan.
.
.
.
"Cha! Sudah sampai. Ini sekolah barumu, Haowen." Ucap Luhan sambil tersenyum dan memakirkan mobilnya didepan gedung sekolah Haowen.
"Wah, sekolah hyung bagus. Ziyu juga mau masuk disekolah ini, baba." rengek Ziyu sambil menarik-narik baju Luhan.
"Oh, tentu saja. Baba akan menyekolahkan Ziyu disini juga agar Ziyu ada yang melindungi nantinya." Ucap Luhan riang sambil mengusap kepala Ziyu. Ziyu terlihat sangat senang.
"Baiklah, nanti siang akan baba jemput. Jangan nakal ya, Haowen. Jadilah anak manis yang baik, arra?" titah Luhan.
"Ne, arra baba. Tapi baba, baba tidak usah menjemput Haowen. Haowen tahu jalan pulang kok. Dan Haowen tahu pasti baba sibuk di kedai kopi." Ucap Haowen tulus.
"Hmm apa tidak apa-apa?" tanya Luhan. Raut wajah Luhan menyiratkan kekhawatiran yang sangat pada putra sulungnya ini.
"Tidak apa-apa, baba. Haowen sudah besar." Ucap Haowen sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.
Kring. Kring.
"Baiklah. Nah, sekarang saatnya masuk. Sana masuk, baba akan menunggu sampai kau masuk sekolah. Ingat pesan baba, ne?" ucap Luhan riang.
"Ne! Dadah, baba. dadah, Ziyu." Pamit Haowen sambil berlari memasuki sekolah barunya. Tapi, baru beberapa langkah, Haowen berhenti dan berlari kembali untuk mengecup pipi baba dan adiknya.
.
Dari jauh, tampak seorang wanita setengah baya yang memperhatikan gerak-gerik Luhan dan anak-anaknya daritadi. Sesekali bibir tebalnya memperlihatkan seringaian menyebalkan.
"Kau sudah bahagia rupanya. Ck." Ucap wanita setengah baya itu sambil mendengus keras
.
.
.
Seharian ini Haowen sangat senang. Haowen belajar hal-hal baru dan juga mendapatkan banyak teman baru. Terlihat sekali bahwa Haowen menikmati harinya disekolah barunya itu.
Saat tiba waktu istarahat Haowen memakan bekal yang sudah disiapkan babanya bersama teman-temannya di taman dekat kantin sekolahnya. Masakan babanya sungguh lezat. Teman-teman Haowen sampai iri melihat bekal Haowen. Dan dengan bangganya Haowen mengatakan "Tentu saja makanan ini lezat, karna babaku memasaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang."
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang, itu tandanya sekolah Haowen sudah berakhir. Dan waktunya Haowen untuk pulang.
Anak-anak tingkat satu sekolah dasar itu sangat senang menyambut datangnya jam pulang. Tidak terkecuali Haowen, dia teramat sangat senang. Itu tandanya dia akan segera bertemu dan bermain dengan adiknya.
.
Langkah-langkah kaki kecil Haowen menuntunnya untuk pulang, tapi sebelum Haowen sampai didepan gerbang sekolahnya, langkah kakinya sudah dihadang oleh seseorang.
Haowen terpaksa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang menghalangi jalannya itu. Saat sudah melihat wajah si penghalang, Haowen langsung mendengus kesal.
"Hallo, anakku sayang. Apa kabar?" tanya si penghalang itu.
"Apa maumu?" tanya Haowen dingin.
"Hei, jangan begitu. Aku ini ibumu. Apa kau sudah lupa pada ibu yang sudah membesarkanmu selama 6 tahun ini?" tanya orang itu dengan suara memelas.
"Ya, dan setelah itu kau membuangku." Jawab Haowen santai. Sungguh Haowen sebal menghadapi wanita tidak bertanggung jawab ini.
"Aigo! Kasar sekali ucapanmu, nak. Apa orang tua barumu mengajarimu berkata sekasar ini pada ibu kandungmu, Haewon?" tanya wanita itu lagi yang ternyata adalah ibu kandung Haowen.
Tiba-tiba Haowen membeku mendengar perkataan —mantan—ibu kandungnya ini.
"Jangan bicara yang tidak-tidak tentang keluarga baruku!" ucap Haowen berang. Sungguh Haowen ingin sekali memukul wajah wanita tua ini. Tidak ada yang boleh menghina keluarga kecilnya. Bahkan jika yang menghina itu adalah ibu kandungnya sendiri.
"Dan namaku bukan Haewon tapi Ha-o-wen!"
Wanita itu tertawa jahat, membuat Haowen mengernyit kesal mendengarnya.
"Oh, begitukah?" Tanya wanita itu sambil membungkuk menyetarakan wajahnya dengan wajah Haowen.
"Jadi Lelaki penyuka sesama jenis menjijikan itu memberi nama baru untukmu?"
Amarah Haowen bergejolak, hatinya sesak bukan main. Ia tidak akan pernah terima jika keluarga kecilnya dihina seperti itu.
"APA MAUMU WANITA TUA?!" bentak Haowen kasar. Haowen sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Wow, santai Haewon sayang. Eomma hanya ingin kau melakukan sesuatu untuk eomma."
"Cih," Haowen mendecih tidak suka. Sejak kapan wanita tua itu memanggil dirinya sendiri eomma? Menjijikan!
"Jangan begitu sayang—"
"Jangan menyentuhku, wanita tua!" sentak Haowen saat tangan wanita itu akan menyentuhnya.
"Haha kau tumbuh menjadi anak yang sangat manis ternyata." Kekehan wanita tua itu sungguh terdengar menyebalkan ditelinga Haowen.
"Bagaimana kalau aku,melaporkan ayah kesayangan Haewon ke polisi?Apa Haewon masih bisa bersikap seperti itu pada eomma?" ancam wanita itu.
"Untuk apa kau melaporkan ayah-ayahku ! Mereka tidak melakukan kesalahan apapun!" Bela Haowen.
"Hahahaha benarkah? Seingatku mereka mengambilmu tanpa seizinku. Bukankah itu namanya sebuah penculikkan?"
Haowen terdiam. Benar juga yang dikatakan penyihir tua ini. Tadi disekolah,Haowen baru saja belajar tentang mencuri. Kalau seseorang mengambil barang tanpa izin itu namanya mencuri dan orang itu harus dihukum dan dipenjara di kantor polisi. Jadi,karena baba tidak pernah meminta izin kepada penyihir ini apakah artinya baba juga seorang pencuri?
"Apa maumu? Cepat katakan!" sentak Haowen lagi.
"Oh, kau tidak sabaran rupanya. Tenang ini permintaan yang sungguh mudah.."
.
.
.
Haowen melangkahkan kaki kecilnya dengan gontai menuju rumahnya. Setelah pertemuan singkatnya dengan wanita tua itu, wajah Haowen tidak lagi bersinar. Ini semua menyangkut permintaan wanita tua sialan itu.
Saat sudah berdiri didepan pintu rumahnya, Haowen kembali teringat dengan permintaan—ancaman wanita tua itu.
"Berikan aku uang setiap hari. Maka, keluarga barumu akan selamat."
Sialan ini namanya pemerasan!
Haowen bisa saja mengadu pada baba dan appanya kalau dia diancam oleh wanita itu hanya saja . . .
"Ku peringatkan kau, jangan sampai keluarga barumu itu tahu bahwa aku meminta uang darimu. Awas saja . Kau dan keluargamu akan tamat!"
.
.
"Ah, hyung! Selamat datang!" sambut Ziyu riang sambil menghampiri Haowen dan bersiap untuk memberi pelukan selamat datang.
"Hyung capek Ziyu. Hyung ingin istirahat. Jangan ganggu Hyung." Ucap Haowen dingin.
Ziyu hanya mengerjapkan matanya lucu. Berbagai pertanyaan tentang hyungnya yang tidak biasanya bersikap dingin seperti ini terlintas diotaknya. Tidak biasanya sang kakak menolak ajakannya. Ini sangat aneh.
Sebenarnya Ziyu ingin bertanya tapi setelah mendengar ucapan Haowen barusan, Ziyu hanya bisa diam didepan tv sambil mengerucutkan bibirnya.
—Hft. Padahal aku ingin mengajak Haowen hyung bermain lagi. Aku dari tadi sudah kebosanan dirumah!— batin Ziyu merana.
.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 1 siang, tapi Haowen masih mendudukan tubuh kecilnya dipinggir jendela kamar. Dia masih merenungkan perkataan mantan ibunya itu. Berbagai pertanyaan menari-nari didalam kepalanya. Bagaimana dia bisa mendapatkan uang? Haruskah dia bekerja? Tapi siapa yang mau menerima pegawai seorang bocah yang bahkan baru sehari menjadi siswa tingkat satu sekolah dasar. Haruskah Haowen. . .
Mencuri uang baba dan appanya?
Astaga! Itu hal yang tidak mungkin. Tapi itu juga satu-satunya jalan untuk menyelamatkan orang tuanya dari jeruji besi.
Haruskah?
.
.
Pukul8:10pm KST
"Ziyu, tolong panggilkan hyungmu. Tidak biasanya anak itu jam segini masih didalam kamarnya." Ucap Luhan tenang.
Bukannya menuruti perkataan Luhan,Sang anak malah merengek,
"Eumm baba.." Ziyu memanggil Luhan sambil mengisyaratkan agar Luhan mendekat dengan tangannya.
"Hm? Ada apa, sayang?" tanya Luhan yang sekarang sudah duduk disebelah Ziyu.
"Hari ini hyung tidak seperti biasanya, baba. Tadi setelah pulang sekolah hyung langsung tidur. Hyung bilang kalau hyung lelah. Wajah Haowen hyung juga tidak secerah biasanya. Sepertinya hyung ada masalah baba.." adu Ziyu sedih.
"Baiklah, baba akan berbicara dengan hyungmu. Jangan khawatir, arra? Sekarang tolong temui Appa diruang kerja ya? Dan katakan kalau makan malam sudah siap. " Ucap Luhan lalu berjalan menuju kamar Haowen.
.
.
Tok Tok Tok
"Haowen, ini baba. Makan malam sudah siap. Bolehkah baba masuk?" sudah beberapa kali Luhan mengetuk pintu kamar anaknya tapi tidak ada tanggapan.
—Cklek
Terbuka sudah pintu kamar Haowen, tapi Luhan tidak melihat adanya kehidupan dikamar tersebut. Kamar anaknya ini sungguh sunyi, gelap dan dingin. Tempat tidur Haowen pun masih terlihat rapi seperti terakhir kali Luhan membersihkannya tadi pagi. Tidak ada gundukkan diatas sana. Di tempat tidur Ziyu yang ada disamping tempat tidur Haowen pun juga masih sama rapinya..
Seketika Luhan langsung keluar dari kamar anaknya dan menghampiri Sehun yang sudah berada didapur bersama Ziyu secara tergesa-gesa.
"Sehun!" panggil Luhan tidak sabaran.
Sehun yang sedang menata meja makan mendongak.
"Ya Baby?"
Wajah Luhan terlihat pucat,tangannya meremas erat lengan kaos Sehun.
"Haowen." Ucap Luhan lemah.
"Ada apa dengan Haowen?" tanya Sehun sambil membelai pundak Luhan dan membimbing Luhan agar duduk dimeja makan. Sehun dan Ziyu ikut duduk disamping kanan dan kiri Luhan.
"Zi-ziyu, apa seharian ini Ziyu tidak bermain dengan hyung?" tanya Luhan khawatir. Sebagai jawaban Ziyu hanya menggeleng sambil menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya ada apa, Lu?" tanya Sehun gusar. Pasalnya, dia tidak tahu apa-apa. Sehun baru saja pulang dari kantor dan langsung berkutat dengan pekerjaannya diruang kerja,ia baru keluar setelah Ziyu berlari-berlari sambil berteriak agar ia cepat keluar untuk makan.
"Ziyu bilang Haowen terlihat aneh setelah pulang sekolah.." pandangan Luhan menerawang. "Hun, apa menurutmu Haowen tidak menyukai sekolah barunya atau ia tidak suka tinggal dengan ki—" ucapan Luhan terputus saat Sehun memeluk tubuhnya. Dan akhirnya tangisannya pecah.
Luhan selalu mempunyai pemikiran itu selama satu tahun mereka tinggal bersama. Luhan selalu mempunyai ketakutan jika suatu saat Haowen akan pergi karena ia sudah bosan atau tidak suka tinggal bersama mereka.
"Mana mungkin, Lu. Kau sendiri yang tadi meneleponku kalau Haowen sangat menyukai sekolah barunya." Ucap Sehun menenangkan Luhan. "Dan lagi,ia tidak mungkin membenci keluarga ini. Apakah kau Lupa kebiasaan Haowen sebelum tidur?"
Luhan ingat kebiasaan kecil Haowen sebelum tidur. Haowen akan berlutut disamping kasurnya,berbisik sambil memanjatkan Doa. Luhan pernah menguping doa Haowen karena ia penasaran. Dan doa Haowen sontak membuat ia terenyuh.
"Tuhan terimakasih kau telah menjodohkanku dengan ayah Sebaik Baba Luhan dan Sehun appa. Terima kasih karena kau telah memberikanku adik imut seperti Ziyu. Kumohon jagalah mereka,buatlah mereka menyayangiku selamanya seperti aku menyayangi mereka."
" Tunggu, Lu. Kau belum menyelesaikan kalimatmu. Apa sebenarnya yang terjadi? " Tuntut Sehun.
"Haowen tidak ada dikamarnya, Hun!" Isak Luhan makin menjadi.
"APA?!" Ziyu berteriak histeris dan berlangsung berlari menuju kamarnya.
"APPA! BABA! KEMANA HAOWEN HYUNG?!" terdengar teriakan memilukan Ziyu dari arah kamarnya. Luhan dan Sehun langsung sigap menyusul Ziyu.
.
.
"Aish Kemana sih perginya anak itu!" geram Sehun frustasi saat ia menutup telepon. Sudah banyak orang yang ia telepon untuk menanyakan apakah Haowen ada dirumah mereka. Ia menelepon Pasangan BaekYeol,KaiSoo,Chen,Xiumin bahkan Hyemi. Tapi jawaban mereka tetap sama, Haowen tidak bersama mereka. Luhan dan Ziyu hanya menangis sesenggukan sambil berpelukkan di kamar Ziyu dan Haowen.
"Sehun,bagaimana ini?Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Haowen?" Ucap Luhan akhirnya dengan suara serak.
"Apa Ziyu yang membuat Haowen hyung pergi? Apa karena Ziyu selalu mengganggu Hyung? Ap—"
"Ssstt. Tidak. Hyung tidak pergi karena Ziyu kok. Sudah Ziyu jangan menangis lagi." Ucap Sehun menenangkan Ziyu. "Lu, kau jaga Ziyu dulu. Aku akan pergi untuk mencari Haowen. Sudah jangan menangis lagi." Ucap Sehun akhirnya. Saat hendak meninggalkan kamar Sehun mencium pipi Luhan dan Ziyu terlebih dahulu dan pergi ke kamarnya untuk mengambil uang dan jaket.
.
.
Saat memasuki kamarnya, Sehun baru tersadar kalau kunci lemari tempatnya dan Luhan menyimpan uang itu telah tergantung disana. Pasalnya, Sehun dan Luhan tidak pernah lupa untuk langsung mencabut kunci itu dan mengembalikan ketempat kunci itu biasanya disimpan setelah menaruh atau mengambil uang didalam sana. —Apa Luhan lupa untuk mencabut kunci itu? Tapi tidak biasanya. Dan lagi ini belum memasuki bulan gajiannya. Lalu jika tidak untuk menaruh uang, apa Luhan mengambil uang? Tapi untuk keperluan apa? Bukankah seharusnya uang yang ku berikan bulan ini masih ada untuk membeli keperluan dapur. Dan biasanya Luhan akan membahasnya dulu denganku jika ingin mengambil uang. Aneh sekali. Batin Sehun sambil mengernyitkan dahinya.
Setelah melalui perdebatan batin yang cukup lama. Akhirnya Sehun memutuskan untuk menanyakannya nanti pada Luhan. Yang penting sekarang adalah mencari anak sulungnya,Haowen.
.
.
Setelah beberapa jam mencari,dan menanyakan apakah orang-orang disekitar pernah Haowen, akhirnya Sehun pulang dengan tangan kosong. Haowen tidak ada dimanapun,dan orang-orang tidak melihat Haowen pada hari itu.
Saat Sehun pulang,Luhan dan Ziyu langsung menghambur menanyakan bagaimana hasilnya mencari Haowen. Dan dengan menyesal Sehun hanya menggeleng.
"Sayang, makanlah dulu. Nanti kita pikirkan untuk mencari Haowen." Bujuk Sehun pada Luhan dan Ziyu. "Lu, ayolah jangan bersikap seperti ini. Kasihan Ziyu. Kalian sudah menangis selama beberapa jam dan Ziyu belum makan apapun." Seakan sadar dengan tindakkan kekanak-kanakannya Luhan langsung menghapus lelehan air matanya dan menatap Ziyu yang masih menenggelamkan kepalanya di dada Luhan.
"Ziyu, ayo makan dulu. Baba suapi ya?" bujuk Luhan akhirnya.
Ziyu mengangkat kepalanya dan menatap Luhan. Luhan tersenyum amat manis dan mencoba menyalurkan ketegaran pada Ziyu lewat senyumannya itu. Ziyu akhirnya mengangguk dan membuka mulutnya. Sehun akhirnya ikut tersenyum melihat sumber kekuatannya juga tersenyum.
.
.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Ziyu sudah terlelap dipelukkan Luhan. Luhan masih setia membelai rambut Ziyu sayang. Sehun berdiri diambang pintu sambil melipat tangannya. Untuk sesaat Sehun melupakan tujuannya menyuruh Luhan untuk segera menidurkan Ziyu dan langsung tersadar dengan rencananya untuk menanyakan suatu hal pada Luhan.
"Lu, bisa kita bicara?" ucap Sehun pelan yang dijawab anggukan lucu oleh Luhan. Luhan dengan hati-hati merebahkan Ziyu di ranjang saat Sehun bergumam kalau dirinya akan pergi ke kamar lebih dulu dan akan menunggu Luhan disana.
Sebelum pergi meninggalkan Ziyu, Luhan membenarkan letak selimut Ziyu. Dan mencium dahi anaknya. Ia lalu berbalik menatap tempat tidur Haowen yang kosong. Ia kembali menghela napas. Rasanya sangat aneh ia harus meninggalkan kamar anak-anaknya tanpa mendengar Doa sederhana Haowen sebelum tidur dan mengecup dahinya.
.
Luhan memasuki kamarnya. Sehun terlihat duduk ditepi tempat tidur mereka sambil membaca sesuatu. Dan lemari tempat mereka menyimpan uang dalam keadaan terbuka.
Mata tajam Sehun masih terfokus pada surat yang ia remas dengan erat dalam tangannya itu
Luhan yang sedang gelisah langsung mendekati Sehun.
"Ada apa, Hun?" tanya Luhan was-was.
"Baca saja sendiri!" Ucap Sehun sambil memberikan surat itu kasar pada Luhan. Sehun langsung berdiri berkacak pinggang,menghela napas berkali kali sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.
Luhan memegang kertas itu dan membacanya. Betapa terkejutnya Luhan setelah membaca kalimat-kalimat yang tertulis berantakkan diatas kertas itu.
Appa Sehun dan Baba Luhan maafkan Haowen ya.
Haowen memang bukan anak yang baik
Haowen tidak pantas mejadi anak kalian.
Maafkan Haowen karena tidak bisa menjadi anak yang baik.
Haowen harus pergi.
Selamat tinggal Baba,Appa,Ziyu.
Mianhae.
Luhan sudah tidak mampu menahan air matanya. Surat itu begitu singkat namun dengan tepat menusuk hati Luhan.
"Kau tahu, Haowen juga pergi membawa seluruh uang kita yang ada dilemari!" ucap Sehun frustasi.
Apa maksud dari semua ini? Kenapa Haowen berbuat seperti ini?
"Bagaimana kalau dia memanfaatkan kita?Bagaimana kalau dulu dia tidak benar-benar dibuang oleh ibunya! Dia ber—"
"Tidak, Sehun!" Sentak Luhan, "Tidak! Haowen bukan anak seperti itu!" elak Luhan masih membela dan menggenggam surat Haowen erat. Padalah fakta yang ada didepan matanya sudah menjelaskan semuanya. Tapi, entah mengapa Luhan masih tidak percaya Haowen yang telah melakukan ini. Ia sangat mengenal anaknya,walaupun Haowen bukan darah dagingnya, Luhan bisa tahu Pasti ada sesuatu yang membuat Haowen berbuat seperti itu.
"Kau masih bisa bilang tidak, Lu?" ucap Sehun tak percaya sambil menatap Luhan putus asa.
"Hatiku mengatakan ini bukan tindakkan Haowen, Hun." Bela Luhan lagi. "Uang itu—"
"Aku tidak mempermasalahkan tentang uang, Lu!.." potong Sehun cepat. "Persetan dengan uang!Tapi, tindakkan yang Haowen lakukan!Haowen Lu!Anak yang sudah kubangga-banggakan berani-beraninya ia membohongi kita. Damn!" umpat Sehun akhirnya yang sudah tidak tahan apabila terus menahan amarahnya. Sehun begitu menyayangi dan bangga pada Haowen. Sehun bahkan sudah mempercayai Haowen untuk meneruskan jabatannya di Hotel kelak. Ia percaya Haowen akan membanggakan dirinya. Tapi hal ini membuat kepercayaan Sehun runtuh seketika. Anak yang ia banggakan berani-beraninya mencuri dan sekarang kabur meninggalkan mereka.
"Haowen tidak mungkin membohongi kita, Hun. Tenanglah dulu. Kumohon." Cicit Luhan takut.
"Ah Sayang,Maaf. Maafkan aku." Ungkap Sehun dengan suara yang dibuat sehalus mungkin dan merengkuh Luhan kedalam pelukan hangatnya.
"Jangan berkata seperti itu tentang Haowen. Ia anak kita Sehun!" rengek Luhan sambil menangis keras didada Sehun.
"Iya,Iya maafkan aku. Besok kita pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Haowen ya? Sekarang tidurlah." Ucap Sehun final. Luhan yang sudah mulai tenang hanya menurut saja.
Dan malam itu Luhan terlelap dipelukkan Sehun dengan berbagai pikiran yang masih berkecamuk dibenaknya.
.
.
Terlihat seorang anak kecil yang sedang berjalan gontai ditengah ramainya jalanan kota Seoul. Anak kecil itu terlihat sedang menggendong tas kecil dipunggungnya yang terlihat sangat penuh. Dibagian tulang pipi sebelah kanannya terlihat ada luka pukulan yang sekarang sudah membiru meninggalkan bekas. Luka itu ia dapat saat berkunjung ke rumah mantan ibunya.
Ya, anak kecil itu ada Haowen.
.
Setelah mengambil semua uang yang ada di lemari orang tua angkatnya, Haowen memutuskan untuk pergi dari rumah. Karna ia sudah tidak sanggup tinggal di rumah itu. Haowen merasa gagal menjadi seorang anak. Haowen merasa ia sudah tidak pantas menjadi bagian keluarga ini. Sebenarnya dia juga tidak tahu setelah ini harus tinggal dimana. Tapi, sepertinya keluar dari rumah lebih baik daripada harus terus-terusan berbohong kepada kedua orang tua angkatnya yang tulus menyayangi dan mencintai dirinya sepenuh hati. Haowen tidak sanggup melihat raut kecewa yang terpatri dengan sempurna di wajah kedua orang tua angkatnya.
Saat akan melangkah keluar, Haowen melihat adiknya yang tertidur dengan lelap disofa yang ada didepan tv itu. Haowen sungguh sayang pada adiknya. Haowen menatap sedih adiknya dan mencium pipi Ziyu dan bergumam 'Selamat tinggal, Ziyu sayang. Hyung sayang padamu.' Dan Haowen akhirnya pergi meninggalkan rumah yang selama satu tahun lebih ini ia tempati bersama keluarga kecilnya.
.
Haowen sudah tiba disebuah rumah kumuh. Rumah itu adalah rumahnya dulu. Rumah yang sungguh tidak layak untuk disebut 'tempat berlindung' untuknya. Haowen memberanikan diri untuk mengetuk pintu yang hanya terbuat dari papan tipis itu.
Dari luar sini Haowen dapat mendengar suara gaduh yang ada didalam. Nyalinya semakin ciut saat melihat seorang pria besar yang membukakannya pintu.
"Hik..kau siapa? Hik.." tanya pria itu. Dari aromanya saja Haowen sudah tahu kalau pria ini sedang mabuk.
"Siapa yang berkunjung?" tanya seorang wanita dari arah dalam. Haowen hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak tahu hik.. Kau saja yang bertanya padanya hik.." akhirnya pria mabuk tadi pergi dari hadapan Haowen dan meninggalkannya bersama wanita sialan itu.
"Eoh? Sayang, ada apa berkunjung malam-malam? Apa kau sebegitu merindukan eomma?" tanya wanita itu menyebalkan. Haowen sungguh kesal mendengar suara wanita itu.
"Aku hanya ingin memberikan sesuatu." Jawab Haowen singkat.
"Apa itu?" tanya wanita itu penasaran.
"Uang. Bukankah itu yang kau mau?" ucap Haowen galak, "Tapi Sebelumnya, ijinkan aku untuk tinggal disini." Ucap Haowen memberi penawaran.
"Kau?! Ingin tinggal disini?" Tanya wanita itu tak percaya sambil tertawa, "Membiayai hidupku sendiri saja sulit!Bagaimana aku bisa membiayaimu?!"
"Lagipula jika kau pergi dari rumah itu. Lalu siapa yang akan memberiku uang setiap hari? Bodoh!" maki wanita tua itu.
Haowen kesal bukan main. Ternyata keputusannya untuk kesini benar-benar salah. Perempuan sialan ini hanya memikirkan uang,uang dan uang. Tidak heran kenapa ia tega meninggalkan Haowen di kafe Luhan dulu.
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBERIKAN SEPESERPUN UANG BABA DAN APPAKU KEPADA WANITA JAHAT SEPERTIMU!" teriak Haowen berang.
"HEH! BERANINYA KAU!" wanita tua itu juga berteriak berang dan mendaratkan sebuah pukulan ditulang pipi sebelah kanan Haowen.
"KAU NENEK SIHIR JAHAT!AKU AKAN MELAPORKANMU KEPADA POLISI!" umpat Haowen dan langsung berlari meninggalkan tempat sialan itu.
Haowen tidak menghiraukan umpatan dan teriakkan wanita itu yang memanggil-manggil namanya. Haowen terus berlari dan berlari sejauh mungkin agar si nenek sihir tidak bisa lagi mengejarnya. Haowen berhenti saat napasnya mulai habis dan kaki kecilnya kelelahan. Ia menyenderkan tubuh kecilnya ditembok sebuah ruko dan duduk merosot disana. Pipinya yang habis terkena pukulan berdenyut sakit. Dan Haowen menangis.
.
.
Keesokan harinya. . .
Luhan dan Sehun baru saja keluar dari kantor polisi. Sesuai janji Sehun semalam, pagi ini Luhan dan Sehun menuju kantor polisi untuk melaporkan hilangnya Haowen.
Sehun dan Luhan sudah memberi penjelasan yang cukup panjang kepada polisi yang bertugas dalam pencarian anak hilang.
Setelah dari kantor polisi. Sehun dan Luhan berencana untuk mencari Haowen ketempat yang sering mereka kunjungi sebelum terdengar suara tabrakan yang sangat kencang dan teriakkan panik dari orang-orang disekitar jalan raya . Sehun dan Luhan berhenti sesaat untuk memperhatikan.
"Hun,sepertinya ada yang tertabrak disana.."
"Sudahlah Lu,jangan dipikirkan.. Nanti pasti ada yang menyelamatkannya. Ayo." Ajak Sehun sambil meraih jemari Luhan.
"Tunggu Hun.." ucap Luhan sambil menarik tangan Sehun.
"A-aku ingin melihatnya." Gumam Luhan pelan sambil menarik Sehun menuju tempat yang ramai dikerumuni pejalan kaki itu. Entah kenapa hatinya tertarik untuk pergi kesana.
.
.
.
Haowen berjalan terseok-seok melewati jalanan kota Seoul yang entah mengapa hari ini terasa sangat padat. Nasibnya sungguh malang setelah keluar dari rumah appa dan babanya.
Kemarin malam ia mendapatkan pukulan telak di tulang pipi bagian kanannya, lalu berlari menyusuri jalanan Seoul yang semalam terasa dingin—ditambah Haowen lupa membawa coatnya—, setelah capek berlari, Haowen merasa mengantuk dan tidak tahu harus tidur dimana, alhasil Haowen tidur didepan sebuah ruko yang sudah tutup bersama para gelandangan lainnya. Haowen tidur hanya beralaskan beberapa lembar koran, menggunakan tasnya sebagai bantal dan memeluk dirinya sendiri untuk menghilangkan hawa dingin yang menusuk.
Malam itu Haowen juga bermimpi tentang keluarganya. Di mimpi itu Baba Luhan menggenggam tangannya erat sambil menggandeng Sehun appa disebelahnya,adiknya Ziyu digendong oleh Sehun appa. Di mimpi itu,Haowen begitu bahagia.
Paginya, Haowen bangun dengan sebuah pukulan yang bersarang dipunggungnya. Haowen meringis sakit. Saat Haowen membuka mata, ia menemukan sang pemilik ruko sedang memegang sapu yang tadi menghantam tubuh kecil Haowen sambil memarahinya karena sudah berani tidur di depan ruko milik orang tersebut. Haowen cepat-cepat bangun dan langsung berlari meninggalkan pemilik ruko yang terus teriak menyumpahinya.
.
Pikiran Haowen melayang kemana-mana saat ia sedang berjalan. Anak berumur 8 tahun ini, sudah seperti mayat hidup.
Perut Haowen bersuara,menandakan ia lapar. Biasanya pagi-pagi seperti ini Baba Luhan akan membuatkan sereal untuknya,atau Spesial untuk hari minggu baba Luhan akan membuatkan pancake sirup maple kesukaannya dan Ziyu.
Wajah Haowen yang tertekuk mendadak cerah ketika melihat kantor polisi tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan sekuat tenaga ia berlari kesana. Ia harus melaporkan kelakuan nenek Sihir itu terhadapnya.
Langkah Haowen terhenti saat ia melihat Baba Luhan dan Sehun appa baru saja keluar dari kantor polisi yang ia tuju dan berjalan kearahnya. Dengan panik Haowen berlari menjauh,ia berpikir untuk menyeberangi jalan menjauhi ayah-ayahnya.
Haowen berdiri dipinggir jalan dengan gelisah saat warna lampu untuk pejalan kaki menyebrang hampir berubah merah.
Saat ia menoleh,ayah-ayahnya semakin mendekat,Ketika lampu penyeberang jalan sudah merah, Haowen malah berlari untuk menyeberang. Sesaat, Haowen mendengar orang-orang disekitarnya berteriak-teriak kearahnya menyuruhnya untuk cepat menghindar. Suara klakson yang memekakan telinga terus terdengar. Sampai Haowen melihat ke sebelah kananya,terdapat sebuah minibus yang melaju dengan kecepatan tinggi. Haowen tidak tahu harus berbuat apa. Jadi, Haowen hanya diam dan memejamkan matanya.
.
.
Tabrakan pagi itu sudah tidak dapat terelakan. Walaupun minibus itu sempat berhenti tapi bagian depan dari mobil itu masih menghantam tubuh kecil didepannya. Haowen terhempas dan berguling dijalan. Para pejalan kaki berteriak dan langsung mengerumuni tubuh Haowen dan minibus yang menabrak tubuh kecilnya itu. Pengendara minibus itu langsung dipaksa keluar oleh pejalan kaki lainnya dan dimintai pertanggung jawabannya.
Tubuh Haowen sudah tidak bergerak, pemilik mini bus itu langsung panik dan segera menghubungi 911.
.
.
Betapa terkejutnya Luhan mendapati tubuh Haowen tergeletak ditengah jalan dengan darah yang keluar dari kepalanya. Tubuh Luhan langsung merosot jatuh beserta buliran air matanya. Sehun yang mengikuti Luhan dari belakang hanya berdiri mematung ditempatnya.
Tanpa pikir panjang, Sehun langsung meraih tubuh Haowen dalam gendongannya.
"Oh tidak. Tidak tidak tidak.." Gumam Sehun panik sambil mengeratkan dekapannya ditubuh sang anak, "Ha-Haowen,sayang. Bangun.."
"Haowen!" tangisan Luhan pecah. Ia terus menggenggam tangan Haowen yang terkulai lemas,mengusap-usap wajahnya yang terlihat pucat.
"APA KALIAN SUDAH MENGHUBUNGI 911?" teriak Sehun kalap. Semua orang disana menjawab sudah dan dari kejauhan terdengar suara ambulans.
"Lu! Ambulans sudah datang. Ini kunci mobil. Kau bawa mobil dan jemput Ziyu dirumah. Aku yang akan menjaga Haowen. CEPAT!" perintah Sehun yang langsung dituruti oleh Luhan.
Luhan berlari kearah mobilnya sambil menangis sesenggukan. Sesekali dia menabrak pejalan kaki,tidak memperdulikan umpatan dari mereka karena yang ada dipikirannya hanya Haowen,sang anak .
.
.
Setelah menjemput Ziyu, Luhan langsung menuju ke Rumah Sakit yang diberitahu Sehun lewat telepon tadi. Luhan lari tergopoh-gopoh sambil menggenggam tangan Ziyu.
Ziyu yang memang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti kemana baba membawanya pergi.
Saat sampai dihadapan Sehun, Luhan langsung memeluk tubuh Sehun dan tangisannya kembali pecah. Ziyu hanya memandang bingung kearah babanya yang tiba-tiba menangis.
"Semua akan baik-baik saja Lu. Minseok sudah menangani Haowen. Ia akan baik-baik saja." Ucap Sehun sambil mengelus-elus punggung Luhan.
"Appa, ada apa ini?" tanya Ziyu yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya. Sehun melepas pelukannya dari tubuh Luhan dan menggendong Ziyu ditangannya.
"Haowen hyung terluka dan sedang dirawat dokter di dalam. Ziyu berdoa ya supaya Haowen hyung cepat keluar dan sembuh." ucap Sehun menenangkan Ziyu. Tiga anggota keluarga itu duduk dan saling berpelukkan.
Ziyu menenggelamkan wajahnya didada Sehun dan menangis terisak. Ziyu tidak ingin Haowen terluka. Ziyu ingin Haowen cepat sembuh dan kembali bermain dengannya.
.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Minseok,dokter yang menangani Haowen keluar juga. Luhan langsung memberondongi Minseok dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi, Minseok tidak kunjung menjawab. Ia malah memberikkan senyum pada Luhan. Luhan yang muak akan tingkah sang sahabat hanya berbalik untuk duduk sambil memeluk Ziyu dan menangis lagi.
"Bagaimana keadaan Haowen?" tanya Sehun tenang. Walaupun tidak dapat dihiraukan bahwa ekspresi dan nada bicaranya terdengar sangat khawatir.
"Haowen baik-baik saja." Ucap Minseok, "Hanya saja ia mengalami retak tulang dibagian tangan dan kakinya, ada juga luka lebam dipahanya karena terhantam mobil dengan keras. Dan untungnya darah dikepalanya keluar, jadi tidak ada penggumpalan di dalam otaknya. Sejauh ini tidak ada yang terlalu dikhawatirkan. Pastikan tiap minggu dia mengikuti terapi agar proses penyembuahannya berjalan lancar."
Sehun menghela napas. Setidaknya sang anak sulung masih bisa selamat walaupun tidak dengan kaki dan tangannya. Well,itu bisa sembuh seiring berjalan waktu dan bantuan terapi.
"Tapi ada luka lebam dipipinya.." Bisik Minseok, "Aku tidak ingin Luhan mendengar ini karena kemungkinan besar Luka itu diakibatkan oleh pukulan seseorang."
Sehun mengernyit. Lebam bekas pukulan seseorang?
Coba ulangi lagi.
LEBAM BEKAS PUKULAN SESEORANG?!
—FUCK!
Batin Sehun.
Siapa yang berani melukai anaknya?!
"Sehun aku tahu kau emosi tapi lebih baik kau simpan dulu amarahmu itu dan segera bawa Luhan dan Ziyu untuk menemui Haowen dikamar Ok?" usul Minseok buru-buru saat ia melihat amarah sudah bergejolak merebus wajah Sehun. Oh Kalian tidak akan suka melihat seorang Oh Sehun marah.
Sehun menghela napas,mengontrol emosinya. Ia harus tenang agar Luhan tidak curiga. Luhan tidak boleh tahu masalah ini kalau ia tahu bisa-bisa rumah sakit ini akan hancur. Bahkan Oh Sehun yang menyeramkan—kalau sedang marah— akan bertekuk lutut jika Luhan sudah marah.
"Baiklah Minseok, thanks..." ucap Sehun tulus.
"Sayang, ayo kita masuk ke kamar Haowen. Minseok bilang ia baik-baik saja."
Luhan mendongak dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah. Ziyu pun mempunyai kondisi yang sama. Jika tidak sedang dirundung kesedihan seperti ini,mungkin Sehun sudah mencubit pipi kedua orang tercintanya itu gemas.
Sehun langsung menuntun Luhan ke kamar Haowen yang sudah Minseok beritahu tempatnya. Saat mereka masuk Haowen masih tertidur ditempat tidurnya. Haowen begitu kecil,dengan perban yang menyelimuti tangan dan kakinya.
"Haowen..." Lirih Luhan sambil duduk ditepi ranjang Haowen.
Ziyu yang berada digendongan Sehun tidak tega lagi melihat kondisi kakaknya, ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya di bahu Sehun sambil menangis.
Haowen membuka mata pelan. Matanya langsung menangkap sosok Baba Luhan yang sedang duduk disebelahnya dan Sehun appa yang berdiri tidak jauh dari kasurnya.
"Baba..."
Luhan mendongak saat mendengar suara kecil Haowen memanggilnya.
"Kau!" pekik Luhan yang membuat Sehun,Ziyu,dan Haowen terkejut.
"Kau! Jangan pernah dan tidak diijinkan pergi dariku! Jangan pernah lagi meninggalkan Baba seperti ini Mengerti?!" Luhan langsung merengkuh tubuh Haowen dan menangis sejadi-jadinya.
"Apa Haowen tidak tahu seberapa khawatir baba saat melihat Haowen tidak ada dikamar!"
Haowen meringis dan ikut menangis. Tangannya yang tidak terluka langsung memeluk Luhan erat.
"Mianhae Baba, Haowen pasti sudah membuat Baba dan Appa kecewa. "
"Tidak Haowen tidak pernah membuat Baba dan Appa kecewa. Haowen anak yang baik. Baba bersyukur mempunyai anak seperti Haowen..." Ucap Luhan sambil mengusap wajah Haowen dengan sayang.
"Baba dan Appa masih menyayangi Haowen Kan?" Tanya Haowen. Pertanyaan yang sederhana namun begitu penting untuk Haowen. Satu yang ditakuti Haowen, yaitu Baba dan Appa berhenti menyayanginya.
"Tentu saja baby. Kami akan selalu menyayangi Haowen.." Ucap Sehun sambil ikut duduk ditepi ranjang. Ziyu turun dari gendongan Sehun dan langsung menghambur memeluk kakaknya.
"Aww!" ringis Haowen karena dengan tidak sengaja Ziyu menyentuh tangannya yang retak.
"Ziyu! Hyung sedang terluka!" omel Luhan sambil menarik Ziyu menjauh. Ziyu merengek dan merentangkan tangannya pada Haowen.
"Peluk! Ziyu ingin memeluk Hyung!"
Haowen tertawa kecil melihat tingkah lucu adiknya.
"Tidak apa-apa Baba. Sini Ziyu peluk Hyung!"
Luhan ragu tapi akhirnya membiarkan Ziyu memeluk kakaknya.
"Pelan-pelan Ziyu! Hyung masih sakit!"
Ziyu menurut ia perlahan mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Haowen dan dengan sangat pelan melingkarkan tangannya dileher sang kakak. Sehun tertawa melihat aksi 'Slow motion' anak bungsunya.
"Hyunngg! Janga tinggalkan Ziyu lagi ya! Ziyu sedih kalau Hyung tidak ada!" Ucap Ziyu mengerucutkan bibirnya. Saat Haowen meninggalkan dia untuk sekolah saja Ziyu sedih apalagi ditinggal kabur seperti kemarin? Kasihan boneka rusanya harus menjadi pelampiasan rasa sedih Ziyu –menjadi alas tempat Ziyu meredam isakkannya-
Haowen hanya mengangguk. Sambil mengusap rambut halus adiknya. Luhan sedang menikmati pemandangan indah didepannya ketika ia menyadari sesuatu.
"ADA APA DENGAN PIPIMU HAOWEN?!"
Sehun meneguk salivanya susah payah.
—Ough! Kiamat akan datang dikamar ini. Batin Sehun sarkastik.
Siap-siap saja sebentar lagi tanduk iblis Luhan akan muncul.
Melihat mata babanya yang berapi-api Haowen akhirnya menjelaskan semuanya. Haowen tidak akan berani berbohong kepada sang ayah yang sedang dalam mode galaknya. Haowen berceritasangat detail—sampai kejadian terpaksa pipis dipinggir jalanpun Haowen ceritakan .
"Maafkan Haowen Baba.." ucapnya sambil menunduk "Haowen melakukan itu Semua karena Haowen tidak ingin ibu Haowen melaporkan Baba dan Appa ke kantor polisi. Haowen tidak mau kalian berdua dipenjara."
"Wanita sialan.." geram Luhan. Ia tidak peduli jika wanita sialan itu mengambil seluruh uangnya.
Tapi Fuck! Wanita itu berani-beraninya memukul anak tercintanya.
Sehun sebenarnya juga kesal mendengar penjelasan Haowen tapi ia berpikir lebih rasional ketimbang suaminya yang sekarang sedang mengepalkan tangannya kesal.
"Babe, tenang. Sebaiknya kita lapor-"
"Aku bersumpah akan kubunuh wanita itu."
"Babe, berpikir lebih jernih. Kau tak serius ka-"
"AKU BERSUMPAH AKU AKAN MEMBUNUH WANITA ITU!"
Luhan keluar dari kamar Haowen meninggalkan Suami dan kedua anaknya yang tercengang.
"Appa, bukankah sebaiknya kau mengejar Baba?" usul Haowen.
"Iya appa. Ziyu takut Baba akan membuat orang-orang ketakutan.." ucap Ziyu sambil merengkuh erat lengan kakanya yang tidak terluka.
Dan Sehun mengejar suaminya yang sedang mengamuk.
"Babe!" panggilnya pada Luhan yang berjalan dengan cepat menuju mobil.
"Tunggu Babe kau mau kemana?!"
Sehun akhirnya berhasil mengejar Luhan dan menarik lengan Luhan.
"Aku akan menemui wanita sialan itu." Ucap Luhan dengan mata yang berkilat penuh amarah. Wajah cantiknya menekuk dan memerah. Luhan. Sangat. Marah.
"Tapi Babe, kau tidak tahu dimana wanita itu tinggal."
Bagai alarm yang berdering dikepalanya, perkataan Sehun menyadarkan Luhan pada satu hal.
Ia tidak tahu dimana rumah ibu Haowen. —Ha!Ibu?Cih!.
Luhan mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kalau begitu ayo cari dimana alamatnya Sehun!"
"Lu tenanglah. Lebih baik kita laporkan dia kepada polisi ya?" ucap Sehun sambil mengusap-usap punggung Luhan.
"Tapi aku ingin menghajar wanita itu! Enak saja dia sudah memukul wajah Haowen yang tampan!" ucap Luhan berapi-api sambil mendengus.
Sehun tersenyum melihat suaminya yang sedang cemberut.
"Aku tidak akan pernah memaafkan wanita itu!" gerutuan Luhan masih berlanjut membuat Sehun tertawa melihatnya.
"Kenapa tertawa?! Apanya yang Lucu?!" Omel Luhan sambil memelototi Sehun.
"Kau Lucu kalau sedang marah." Ucap Sehun sambil memeluk Luhan dari samping.
"Tenanglah sayang. Lebih baik kita serahkan semuanya ke tangan polisi hmm?" Luhan membuang muka. Ia masih kesal bukan main.
"Akan kucari wanita itu kemanapun ia pergi! Sampai ujung dunia sekalipun." Gerutu Luhan sambil melipat tangannya didada.
Sehun terkekeh lalu mencium pipi Luhan dengan gemas.
"Luhanku betul-betul kejam ya. Tidak heran Kami selalu menurut padamu dirumah.."
Luhan langsung memelototi Sehun.
"Sehun ini bukan waktunya untuk bercanda ok!"
"Oke maaf.." ucap Sehun menyerah. Ia harus hati-hati agar tanduk Luhan tidak muncul lagi.
"Aku hanya ingin kau sedikit rileks baby.." ucap Sehun sambil meletakkan dagunya dibahu Luhan sambil menciumi pipi Luhan.
"Kalau kau menghajar wanita itu bukankah kau sama saja dengan dia?" Tanya Sehun, "Kau juga tidak mau kan menjadi contoh yang buruk untuk Haowen dan Ziyu?"
Luhan menghela napas dan akhirnya menyerah. Ia membalas pelukkan Sehun,melingkarkan tangannya dipinggang sang suami.
"Baiklah baiklah aku tidak akan melakukan apapun." ucap Luhan sambil menghirup wangi parfum Sehun didadanya , "Tapi sebaiknya kita melaporkan wanita bajingan itu sekarang juga!"
"Tapi babe-"
"Sekarang."
"Haowen belum semb-"
"Sehun. Sekarang."
Sehun akhirnya menyerah dan menjawab 'Ya ya kita akan melaporkannya sekarang.' Membuat Luhan tersenyum puas.
Akhirnya Sehun melaporkan wanita itu ke polisi. Mereka datang ke rumah sakit untuk mendapatkan keterangan dari Haowen. Haowen, dengan detail menceritakan semuanya. Dari ancaman sang Ibu sampai kekerasan yang ia dapatkan. Haowen juga menambahkan bahwa sang (mantan) ibu tidak pernah membayar tagihan Koran, yang menurut Haowen itu adalah tindakan kriminal. Berdasarkan keterangan dan bukti yang mereka dapat akhirnya Polisi menangkap Ibu Haowen danmencebloskan wanita tua itu kedalam penjara esok hari. Wanita itu sempat membela diri dengan mengatakan Luhan juga bersalah karena dengan tanpa izin membawa anaknya, tapi pembelaan wanita itu dipatahkan dengan bukti tanda kepengasuhan sah milik Luhan dan surat yang wanita itu tulis saat ia meninggalkan Haowen.
Haowen akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia digendong oleh Sehun menuju rumah dan Haowen senang bukan main. Ia juga mengembalikkan uang yang ia ambil dari lemari milik orangtuanya. Mereka kembali berkumpul bersama diruang TV. Sehun dan Luhan sengaja memilih cuti untuk menemani anak-anaknya. Hari itu, Haowen dan Ziyu berjanji akan selalu terbuka kepada baba dan appanya. Tidak boleh ada rahasia diantara keluarga bahagia mereka.
.
.
.
EPILOG
Setelah menyikat gigi,Haowen dengan riang berjalan menuju ranjangnya. Kaki dan tangannya sudah sembuh sehingga pergerakkannya tidak terbatas lagi. Haowen berlutut didepan kasurnya lalu memejamkan mata untuk berdoa. Sebelum memulai doanya tiba-tiba ia merasakkan seseorang berada disamping kanannya. Saat ia membuka mata ia melihat Baba Luhan berlutut dan disampingnya ada Sehun appa yang juga sedang berlutut. Ziyu adiknya langsung berlari dan ikut berlutut disamping kirinya.
"Mulai sekarang,kita berdoa bersama-sama ya?" ucap Luhan lembut.
"Ayo!Haowen yang memimpin doa." perintah Sehun.
Haowen mengangguk lalu memejamkan mata,
"Tuhan terima kasih karena kau telah memberikan Haowen keluarga yang baik. Berikanlah kebahagiaan untuk kami. Jangan Biarkan keluarga kami berpisah. Selamanya. "
END
Maaf kalau alurnya terlalu cepat dan terdapat banyak typo.
Maaf kalau ff ini kurang sempurna hehe.
—S-M-M
Gimana? Bagus kan cerita yang ditulis author shinminmi?
Readers yang belum baca ff2 karya author shinminmi ayo cari akunnya sekarang dan baca ff2 serunya :D
