Chapter 2: my umbrella, my rain

Previously:

Luhan menunggu di kamar ketika Sehun turun kebawah menyimpan sendok dan piring kecil yang tadi ia pakai untuk menaruh stroberi cheese cakenya.

Drrrt drrrt. Hp sehun bergetar.

Miranda? Luhan membaca nama kontak yang berada pada layar.

Luhan mengangkat telpon, namun sebelum ia mulai berbicara, seseorang dari sebrang sana berbicara lebih dulu;

"Sehuna, bisakah kau menjemputku? Aku kedinginan.."

Cklek. Suara pintu kamar terbuka.

Luhan yang terkagetpun buru-buru mematikan telpon dan menaruh handphone sehun di atas meja.

"Lu, kau kenapa? Kau terlihat pucat." Sehun menghampiri luhan dan memegang dahinya.

"Astaga badanmu hangat, sepetinya kau terkena flu gara-gara kehujanan tadi." Ucap sehun.

Drrrt drrrt. Hp sehun kembali bergetar. Iapun lalu mengangkatnya.

"Yeoboseo?"

"Apa?"

"Astaga, dimana kamu sekarang?"

"Iya aku mengerti. Tunggu sebentar"

Sehun hendak pergi namun seseorang memegang pergelangan tangannya.

"sehuna,

Hajima."

.

~oOo~

.

Luhan menahan kepergian Sehun dengan menggenggam tangan Sehun, lalu menunggu jawabannya. Sehun menoleh ke arah Luhan.

"Aku harus pergi."

Luhan terdiam, tidak berkata apa-apa-dengan bibirnya. Namun ia menatap Sehun dengan tatapan "jangan pergi, Sehun-ah. Jangan pergi." Berharap Sehun dapat melihat dan mengerti yang Luhan katakan dari pancaran , Luhan melihat tatapan khawatir dari mata Sehun.

"Aku mengerti." Ucap Luhan sambil tersenyum perih dan melepaskan genggamannya.

"Pergilah." Ucap Luhan dengan berat.

Sehun keluar dari kamar, menuruni tangga terburu-buru dan mengambil payung biru langit di balik pintu keluar rumah, kemudian berlari keluar.

.

~oOo~

.

Miranda. Gadis pindahan dari Australia. Ia pindah ke SMA Damyang sejak tahun lalu. Rambut blonde terurai sepinggang, mata biru, dan kedua pipinya berlesung. Belum lagi badannya yang tinggi, ramping, dan berlekuk. Sejak pertama datang ke sekolah, banyak murid yang membicarakannya. Ia kemudian jadi sangat populer. Bukan karena ini merupakan kali pertama SMA Damyang mendapat murid pindahan seorang foreigner, Amber; gadis tomboy yang sekarang duduk di tingkat dua di kelas Sehun juga merupakan murid pindahan dari Europe. Amber juga populer, karena karakternya yang tomboy. Sedangkan Miranda, populer karena ia cantik. Banyak anak laki-laki sekolah itu yang berpikir—bahkan mengakui— bahwa Miranda adalah tipe gadis idealnya. Sehun salah satunya.

.

~oOo~

.

Flashback: Sejak gadis itu datang.

"Hey apa kalian sudah lihat anak baru kelas 3-1 itu? Cantik dan sexy!" Kai yang baru masuk kelas langsung membawa berita baru pada Sehun dan Chanyeol.

"Kai sudahlah otakmu memang sudah kotor, mbak-mbak penjual batagor saja pasti kau bilang sexy kalau pakai rok pendek." Balas Sehun.

"Seperti apa penampilannya?" tanya Chanyeol.

"Cantik. Ada lesung pipinya, matanya biru, bule-bule gitu. Liat aja sendiri. Hot pokoknya!" ujar Kai.

"Wah pasti jadi hits ya dia, boleh nih jadi topik di radio sekolah. Kantinlah yuk, siapa tau ketemu." Ujar Chanyeol.

"Ya ya terserah kalian, aku tidak peduli." Sehun berkata sambil meninggalkan kelas diikuti kedua temannya.

Sesampainya di kantin.

"Yak, Oh Sehun! Berhenti menatapnya! Tadi kau yang bilang tidak akan suka!"

"Sexy." Ujan Sehun dalam bengongnya.

"Sudah ku bilang kan? Berhenti menatapnya seperti itu nanti dia merasa diperhatikan." Balas Kai.

"Hey Baek, Lu, duduklah dengan kami!" Chanyeol yang melihat Luhan dan Baekhyun baru memasuki kantin langsung menyapa.

"Dia kenapa?" tanya Luhan menunjuk ke arah Sehun. "Oh anak baru itu." Luhan memaksakan tersenyum dan menjawab sendiri pertanyaannya ketika melihat apa yang diperhatikan Sehun.

"Lu, sepertinya aku meninggalkan dompetku, antar aku mengambilnya yuk?" Baekhyun yang menghawatirkan Luhan mencoba membawa Luhan pergi dari tempat ini.

.

~oOo~

.

Flashback: suatu hari di kediaman Chen.

"Bagaimana kalau kita bermain kartu dan truth or dare? Yang kalah harus menjawab satu pertanyaan dari yang lain ya!"

Hari itu, Chanyeol, Baekhyun, Luhan, Sehun dan Chen sedang bermain game di rumah Chen, salah satu teman di ekskul radio Luhan, yang juga dekat dengan mereka.

"aaah giliranmu yang kalah, Luhan hyung!"

"Baiklah, tanyakan yang kalian ingin tau." Kata Luhan, dengan raut muka please-jangan-tanya-yang-aneh-aneh.

"Aku menang jadi aku yang tanya ya." Ucap Chen.

"mmmm, apa ya. Ah ini, apa saat ini kau sedang menyukai seseorang, hyung?"

"Hah? A-aku.." Sekilas ia melirik ke arah Sehun.

"ya.. ada.." jawab Luhan terbata-bata.

"Siapa hyung? Siapa gadis itu?" Tanya Chen lagi.

"itu sudah termasuk dua pertanyaan ya. Perjanjiannya kan hanya satu pertanyaan!" Luhan sewot.

"Baiklah, ayo lanjutkan."

"Haaah aku kalah." Teriak Sehun.

"Haha! Kena kau Sehun. Sekarang jawab pertanyaanku." Kali ini Chanyeol yang menguasai permainan.

"Baiklah apa tanya tanya tanya"

"Siapa menurutmu gadis senior paling hot di sekolah kita?" Tanya Yeol.

"Miranda noona. Siapa lagi?" Jawab Sehun.

Deg. Luhan's heart skips a beat.

"Dia juga sangat cantik."

Deg.

"Apa menurut kalian aku harus mengejarnya? Sepertinya dia juga tertarik padaku."

Luhan merasa dunianya runtuh.

.

~oOo~

.

Sehun, sejak menyukai Miranda, sangat sering diejek oleh teman-temannya (biasalah anak SMA ngecengin gitu kan).

Teman-teman dekat Sehun; Chanyeol, Kai, Luhan dan Chen, sangat suka menggoda Sehun tentang Miranda. Baekhyun tidak suka ikut menggoda Sehun karena ia tau perasaan Luhan. Dan Luhan, tentu saja hanya pura-pura ikut menggoda dan mentertawakan.

Luhan harus pura-pura ikut tertawa saat mengejek Sehun menyukai Miranda, ikut menyoraki Sehun ketika Miranda lewat (dan ketika Sehun tersipu malu dengan ejekannya, it breaks Luhan's heart to pieces), mengiyakan bahwa Miranda adalah murid paling cantik di sekolah, dan masih banyak hal lainnya. Apalagi wanita itu juga terlihat menyukai Sehunnya,

eh wait, Sehun; teman dekatnya.

Miranda, Miranda, Miranda. Heuh. Pikirnya setiap ia harus berpura-pura tertawa. Ya, Kai, Chen dan Yeol memang bercanda, tapi perasaannya, perasaan yang dimilikinya sejak beberapa tahun lalu, tidak sebercanda itu.

.

~oOo~

.

"Astaga apa yang kau lakukan disini?!" Sehun menghampiri Miranda yang sedang duduk memeluk lututnya di depan sebuah gedung yang lampunya redup.

"Kau menggigil, bangunlah, noona. Pakai ini."

Miranda tetap diam, tidak beranjak dari duduknya, sehingga Sehun harus ikut berjongkok dan memakaikan jaketnya pada gadis itu.

"Noona.. apa kau menangis?" "apa yang terjadi?" tanya Sehun.

"Lihat aku." Sehun menarik dagu Miranda.

"Ayo kita pergi dari sini, ini sudah malam dan aku pikir ini bukan tempat yang aman. Aku akan mengantarmu pulang, ya?"

Miranda mengangguk perlahan. Mereka akhirnya pergi dengan taksi.

"Sudah malam, istirahatlah. Aku pergi." Ucap Sehun setelah mereka sampai di apartemen Miranda.

Miranda berhambur ke pelukan Sehun. "Jangan pergi, Sehun-ah. Aku tidak mau sendirian. Hiks.." ucapnya, kemudian mempererat pelukannya.

"Tapi aku harus ke sekolah besok, noona."

Miranda tidak melepaskan pelukannya dan tetap menangis.

"Baiklah, aku akan menemanimu sampai kau tidur ya." Sehun akhirnya mengalah.

Miranda melepaskan pelukannya, berbaring di tempat tidur. Sehun menarik selimut hingga menutupi tubuh gadis itu dan menyisakan wajahnya. Kemudian berjongkok di sebelah tempat tidur dan melihat wajah Miranda.

"Tidurlah, selamat malam."

Miranda kemudian memejamkan matanya.

Di depan gedung apartemen, sepasang mata yang melihat Sehun dan Miranda masuk ke kamar apartemen, masih menatap pintu apartemen yang dimasuki kedua orang tadi —sejak tiga puluh menit yang lalu— dengan sorot sedih di matanya.

Mata yang sama yang melihat Sehun menjemput Miranda di depan gedung tua, memasangkan jaketnya pada Miranda, memayunginya hingga masuk ke dalam taksi. Setiap perlakuannya, setiap gerak-geriknya, dia melihat semuanya, dengan sedih, dengan menahan bulir-bulir bening jatuh dari matanya. Ya, mata itu,

.

mata Luhan.

.

~oOo~

.

Pagi akhirnya tiba, Luhan bangun dari tidurnya, dan mendapati bahwa sisi ranjang yang ia tiduri masih kosong dan dingin. Sehun belum pulang, gumamnya. Luhan kemudian beranjak dari tempat tidur.

Luhan menghela nafas, masih terlalu pagi untuk sedih. Ia membuka gorden kamar, di luar matahari bahkan belum terbit. Langit masih hitam, jalan-jalan kota masih sepi.

"Kenapa dia belum juga pulang." Tanya Luhan dalam hati, lalu ia mengucek matanya yang berat dan sembab karena menangis semalaman hingga tertidur.

Satu jam kemudian. Luhan sudah siap pergi ke sekolah. Namun Sehun belum datang. Ya sudah aku akan berangkat sendiri, pikirnya. Ia meraih tas, kemudian menarik gagang pintu, keluar dari kamar Sehun. Namun, ketika ia keluar dari kamar ia hampir menabrak Sehun yang di hadapan pintu. Sepertinya Sehun baru saja akan masuk.

"Kau baru datang?" tanya Luhan.

"i..iya hy-"

"Sehuuuun, Luhaaan. Cepat berangkat kalian nanti terlambat." Teriak ibu Sehun dari tangga.

Luhan membalikkan badan Sehun dari hadapannya dan mendorongnya. "Go go." Bisik Luhan memerintah pada Sehun.

"Daee eomma ka haike." Luhan berteriak sambil menarik tangan Sehun dan menuju pintu keluar rumah.

"Sehun, apa kau tidak pakai seragammu?" tanya ayah Sehun yang sedang membaca koran di ruang tamu.

"i..itu-"

"Hari ini pelajaran olah raga, seragamnya sudah ia bawa dalam tas, Appa. Kami pergi." Jawab Luhan kemudian menutup pintu dan keluar dari rumah.

.

~oOo~

.

"Ini." Luhan mengeluarkan bungkusan dari ranselnya ketika mereka sudah menaiki bis.

"Kau benar membawa seragamku? Gumawo, Hyung."

"ya." Jawab Luhan singkat kemudian memasang headsetnya.

"Hyung.." panggil Sehun.

"Apa?"

"Apa semalam menungguku?"

"Tidak, aku langsung tidur. Kepalaku sakit semalam."

"Oh iya, semalam badanmu agak hangat, apa sudah baik-baik saja?" tanya Sehun sambil menyentuh dahi Luhan.

'Oh iya?' Dia bahkan tidak menghawatirkanku.

"Ya. Tidak apa-apa, tidak usah menghawatirkanku." Jawab Luhan, menepis tangan Sehun dari dahinya lalu menutup matanya dan menyilangkan tangan di dadanya.

Sehun tidak lagi bertanya karna Luhan terlihat ketus. Bis melaju dan mereka duduk bersebelahan dalam diam. Sehun menatap Luhan yang sedang memejamkan matanya, menunggu kedua mata itu terbuka, agar mereka bisa mengobrol dan bercanda, atau sekedar membagi headset dan mendengarkan lagu kesukaan mereka bersama selama perjalanan, seperti yang mereka biasa lakukan, tapi mungkin kebiasaan itu tidak terjadi hari ini.

Sehun menghela napas, melempar pandangannya ke jendela. Di luar hujan, namun tidak sederas kemarin.

Di hati Luhan, lain lagi. Hujannya semakin deras sejak kemarin.

.

~oOo~

.

"Lalu apa dia tidak mengatakan atau memberi penjelasan apapun setelah kalian berciuman? Dan malah pergi menemui gadis itu?"

"Sssst! Kecilkan suaramu, Baek. Lagi pula itu bukan ciuman, itu hanya kecupan kecil seperti seorang adik kepada kakaknya."

"Tidak mungkin. Apa kau pernah melihat dia dan Top hyung seperti itu? Jelas-jelas itu tidak kan! Apa kau juga tidak membahas kejadian itu setelahnya?"

"Tidak, tidak."

"Yak! Astaga, Luhan. Kau pintar di berbagai pelajaran tapi kau tidak mengerti hal seperti itu? Otakmu sangat aneh."

"Dia sangat cantik, Baek. Dia juga gadis paling populer di sekolah." Ucap Luhan. Mereka sedang mengobrol di taman sekolah.

"Apanya yang cantik? Lesung pipinya? Atau matanya yang biru? Dagunya yang terbelah? Atau pipinya yang chub-"

"Baek..." Luhan mengerutkan dahinya kesal karena Baekhyun malah menyebut semua kelebihan Miranda.

"Oh iya.. Bukan itu.. maksudku, Itu karena make-upnya yang super tebaaaaal dan dadanya yang mon-"

Luhan menutup mulut Baekhyun dengan tangannya.

"Yak! Tidak perlu berteriak, orang-orang akan tau siapa yang sedang kita bicarakan."

"Iya maaf." Jawab Baekhyun.

"Lalu, apa lagi yang kau lihat semalam setelah kau mengikutinya?" Baekhyun kembali bertanya.

"Tidak ada, aku kesal menunggu berjam-jam, dia tidak juga keluar dari apartemen itu. Mungkin mereka.."

"Hey! Jangan berpikir macam-macam, aku yakin Sehun tidak begitu. Kalian juga sudah berciuman. Wanita itu kan yang menelponnya duluan? Dia memang sengaja menggoda Sehun, dasar wanita ular. Kau juga kalau berdandan terlihat lebih cantik dari siluman rubah itu! Aku akan mengajarimu!" Baekhun menggerutu dengan berapi-api.

"Jadi dia wanita ular atau siluman rubah, Baek?"

"Ish, itukan bukan intinya! Phabo yak?"

"Haha iya-iya. Tapi bagaimana aku bisa berdandan? Aku ini laki-laki. Tidak cocok." ucap Luhan.

"Asal kau melakukannya dengan rapi maka tidak akan terlihat aneh. Ini? lihat mataku! Baguskaaan pakai eyeliner gini?" Baekhyun mengedip-ngedipkan matanya.

"Ish dasar cabe"

"Biarin. Yang penting Yeol jadi tidak berpaling pada wanita lain apalagi sampai mengantar wanita ke apartemennya dan menginap. Seperti seseorang yang kita kenal. Hiiiy menyeramkan." Baekhyun menggoda Luhan, menjulurkan lidah, lalu beranjak dari duduknya dan berlari kecil karena ia tahu pasti luhan akan memukul kepalanya.

"Yak! Baekhyun! teman macam apa kau ini? Kemari, jangan lari!"

Luhan menyusul Baekhyun dan mereka tertawa bersama sambil berjalan menuju kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi.

"Oh ya, Lu. Apa kau ingin memiliki Sehun?" Tanya Baekhyun ketika mereka melalui koridor-koridor kelas.

"Apa maksudmu, Baek? A-ah.. Sudahlah, itu tidak mungkin."

"Bukankah kemarin Sehun yang menciummu?"

"mmm, iya sih tapi kan sudah ku bilang itu hanya kecupan seorang ad-"

"Cukup, Lu..

Aku punya rencana."

.

~oOo~

.

"Hey." Sapa Sehun ketika Luhan yang berjalan dengan Baekhyun keluar dari kelas. Sehun sudah menunggunya.

Luhan berjalan menghampiri Sehun, kemudian ia menoleh pada Baekhyun.

"Hati-hati, Baek. Aku pulang duluan ya."

"Iya, kau juga jangan sampai kehujanan lagi. Kalau sakit telpon aku, aku akan datang menemani dan tidak akan membiarkanmu sendirian." Jawab Baekhyun sambil menatap tajam pada Sehun, menyindirnya. Sehun menyadari perkataan Baekhyun ditujukan padanya, ia lalu menatap Luhan yang terlihat agak pucat dengan rasa bersalah.

"Eoh, araseo. Sampai besok." Luhan melambaikan tangannya pada Baekhyun.

"Apa sakitmu tambah parah?" Sehun bertanya pada Luhan. Luhan hanya menggelengkan kepala dan berjalan mendahului Sehun.

"Anak tingkat dua yang ada di ekskul dance itu kan? Yang dipanggil es batu? Kenapa dia bisa begitu romantis? Astaga, Miranda, kau sangat beruntung. Lalu apa lagi yang kalian lakukan?"

"Ia menemaniku sampai tidur"

"aaaaaaaaa manisnyaa"

Tiga orang gadis yang sedang bergosip itu berjalan melewati Luhan.

"Eh itu orangnya" salah satu diantara mereka berbisik ketika melihat Sehun.

"eh, S-sehun" ucap Miranda.

"Noona."

"ya ampun cool ya, dan tampan sekali astagaaa" Dua orang teman Miranda yang lainpun kembali saling berbisik (dengan keras, ala cewe-cewe geng rempong), dan didengar oleh Luhan yang sedang mematung di atas kakinya. Miranda berjalan menghampiri Sehun.

"Sehuna malam itu.. terima kasih."

"Iya, tidak usah berterimakasih noona."

Ia sudah tidak tahan lagi. Luhan pun berlari meninggalkan mereka.

"Apa tadi pagi kau terla-"

"Aku pergi dulu, Noona." Sehun yang melihat Luhan pergi memotong percakapannya dengan Miranda dan berlari mengejar Luhan.

"Cool tapi pemalu ya, dia pasti grogi, Mira. Aaa cute sekali."

Ucap dua orang gadis itu lagi.

.

~oOo~

.

Luhan berlari di tengah hujan. Kemudian Sehun menarik tangannya.

"LEPASKAN!" Luhan berteriak ketika Sehun menarik tangannya dan menggiringnya untuk meneduh.

"Kau sudah sakit, Xi Luhan! Apa kau ingin sakitmu tambah parah?!"

"Kau kenapa?! Sejak pagi tadi kau jutek, apa kau marah karna aku meninggalkanmu semalam?"

"TENTU SAJA AKU MARAH, AKU SAKIT, AKU CEMBURU, DAN AKU MENYUKAIMU." Teriaknya. Dalam hati. Mana mungkin ia mengatakan itu semua? Aslinya Luhan hanya menghela nafas.

"Tidak, Sehun. Maaf. Ayo pulang." Jawab Luhan dengan suara yang pelan.

Sehun membuka payung yang dibawanya dan mereka kemudian berjalan dibawah payung dalam hujan.

"Payungku.."

"Iya hyung, ini payungmu. Aku buru-buru semalam jadi tidak sempat bilang."

Ish payung yang dipakai untuk melindungi Miranda juga, kalau aku ngambek sekarang dan tidak mau pakai payung ini, apakah akan terlalu kentara kalau aku menyukainya? Pikir Luhan.

"Ah aku bisa gila." Luhan berbicara memecah diam diantara keduanya.

"Kau kenapa hyung? Apa kepalamu sakit lagi? Mendekatlah supaya kau tidak kena cipratan hujan." Sehun menarik tangan Luhan agar mereka mendekat.

"Iya aku baik-baik saja."

"Aku bilang mendekat." Sehun merangkul Luhan. Luhan tersipu malu dalam dekapan Sehun.

TIIIIIIIIIIIIIIIINNN.

Bunyi klakson mobil melaju kencang di belakang mereka. Luhan yang bersebelahan langsung dengan jalan hampir terserempet dan ia sudah bersiap untuk basah karena cipratan air dari mobil sialan yang dengan tidak tahu diri melaju kencang ditengah hujan deras seperti ini. Luhan menutup matanya takut. Beberapa saat kemudian, tubuhnya seharusnya sudah basah sejadi-jadinya, namun ia tidak merasa begitu basah. Ia lalu membuka mata, dan terkejut ketika Sehun yang mendekapnya basah kuyup.

~oOo~

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sehun dengan napas terengah-engah. Dialah yang tadi menarik tubuh Luhan menjauhi mobil dan menutupi Luhan dengan tubuhnya sehingga Luhan tidak begitu basah kuyup.

Luhan mengangguk.

Sehun melihat Luhan dari atas hingga bawah dan mendapati bahwa Luhan hanya sedikit basah.

"Ah lega sekali." Ucap Sehun sambil tersenyum.

Pipi Luhan bersemu merah. Hari ini memang mendung seharian, namun senyum lega Sehun yang tulus karena menghawatirkan Luhan hangatnya tidak jauh berbeda dengan sinar matahari. Sehun memang menyakiti hatinya semalam, namun ia seolah mengobatinya lagi hari ini dengan senyuman dan kekhawatiran yang ia tunjukan itu. Dia yang bisa melukainya, tapi hanya dia juga yang bisa menyembuhkannya. Lukanya, juga obatnya.

Hujannya, juga payungnya.

"Astaga Sehun kau basah kuyup."

"Tidak apa-apa hyung. Yang penting kau, kau kan sedang sakit. Nanti demammu bisa tambah parah kalau basah kuyup."

Luhan cemberut dan menatap Sehun yang basah kuyup dengan tatapan tidak suka.

"kenapa menatapku seperti itu? Aku baik-baik saja. Nanti kalau kau yang sakit aku malas menggendongmu ke sekolah. Berat."

"Yak!" Kesal Luhan.

Sehun hanya tertawa.

"Hyung.." Panggil sehun.

"Ya?"

"Kenapa kau tadi pagi tiba-tiba baik; membungkusi seragamku, tapi tiba-tiba mendiamiku di bis. Tadi juga tiba-tiba berlajan duluan tidak menghiraukanku setelah aku menunggu satu jam di depan kelasmu, tiba-tiba berteriak 'lepaskan!', tapi kemudian nada bicaramu lembut lagi."

"Oh ya, dan lagi, tadi juga kau melamun dan tiba-tiba berkata; 'aku bisa gila' kau kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini?"

"a-aku.." Luhan bingung dan grogi. Apa dia menyadari bahwa aku cemburu? Aku harus jawab apa?! Stay cool, stay cool.

"k-kau tau, emh.. kelas tiga sangat sibuk dan aku, harus mempersiapkan untuk ujian akhir dan ujian masuk universitas!" jawab Luhan. Binggo, Luhan. Sibuk UN. Jawaban yang cerdas. Pikirnya.

"Bukankah ujian akhir dan ujian masuk universitas masih 10 bulan lagi? ini masih september."

"OH, iya ya.. Haha.. tapikan tentu saja aku harus mempersiapkan dari sekarang."

"yasudah terserah."

Fyuh.Pikir Luhan.

"Hyung, itu bisnya. Ayo naik."

.

~oOo~

.

"Dah Sehunnie~"

"kau yakin tidak mau aku antar sampai rumah?"

"iyaa aku bisa sendiri. Sehunnie masuk sana" Luhan merebut payung dari tangan Sehun.

"sini sini aku lihat dulu." Sehun menarik Luhan, lalu menjepit kedua pipi Luhan dengan kedua tangannya hingga bibir Luhan jadi seperti bebek.

"Daisy duck benar bisa pulang sendiri?" tanya Sehun.

"Eoh. Sehunnie lepas ih. Lagi pula aku Donald duck bukan Daisy duck!"

"Daisy duck lebih cocok." Sehun menggoda Luhan.

Luhan mengerucutkan bibirnya.

Walaupun bebek suka hujan tapi sekarang bebeknya sakit. Jangan lepas payungnya ya? Jangan hujan-hujanan ya?"

"Jawab aku Luluuu" Sehun menggeleng-gelengkan kepala Luhan.

"Iya iya lepas ih gimana mau jawab coba kalo pipiku dijepit seperti ini?" Luhan mengerucutkan bibirnya dan melepas tangan Sehun.

"bye Sehunnie~" Luhan berjalan mundur.

"Hati-hati ya" Sehun melambaikan tangan pada Luhan.

"Iyaaaa. Sana masuk, jangan berdiri di depan pintu ini masih gerimis" Luhan berteriak karna ia sudah berjalan agak jauh dan suaranya terendam hujan. Luhan lalu membalikkan badannya dan terus berjalan.

Luhan kembali menengok ke belakang, mengecek apakah Sehun masih disana.

"Aku bilang jangan berdiri di bawah gerimis, Sehuuuun."

"Iya-iya aku masuk."

Luhan kemudian berjalan lagi.

"Luuu. Lu haaan hyung!" teriak Sehun.

"Iyaaaa, apa lagi?" Luhan menengok ke belakang.

"daah Luhan hyung" Sehun melambaikan tangannya dengan semangat.

"ish dasar. Iyaaa, Sehuuun" Jawab Luhan sambil tersenyum senang. Kemudian berbalik dan berjalan lagi

.

~oOo~

.

Sehun hanya tersenyum dan memandangi punggung Luhan yang terus menjauh. Setelah Punggung itu hilang dari pandangannya, Sehun hendak memasuki pagar rumahnya. Namun...

"Uwuwu~ Bye Luluu~" Seseorang mengagetkan Sehun dari balik pintu pagarnya.

"Heh. Sejak kapan kau ada disini?" teriak Sehun.

"Sejak kau berdadah-dadah mesra dan menatap punggungnya lama-lama" jawab lelaki dengan kulit yang agak gelap itu.

"ish ayo masuk lah."

"dan sejak kau menjepit pipinya dengan kedua tanganmu." Tambahnya lagi.

"Kai masuklah, ini hujan. Kau boleh mengejekku nanti sampai di dalam." Perintah Sehun.

"iya iya. Karna Lulu bilang jangan berdiri di bawah gerimis ya?"

"Diam." Sehun menatapnya tajam.

"o-okay" jawab Kai. Dasar es batu mengerikan, gumamnya.

.

~oOo~

.

Beberapa menit kemudian.

"toktoktoktoktok." Pintu rumah Sehun berbunyi ketukan yang terburu-buru.

"Astaga siapa lagi sih." Ucap Sehun menuruni tangga lalu membuka pintu rumahnya

"Hiks.. Sehunniee.." rengek seseorang dari balik pintu.

"Astaga, Lu. Apa yang terjadi?"

"Huaaaa. Sakiiit."

"Apa kau terjatuh? Apa tadi kau berlari? Terpeleset?"

Luhan mengangguk.

"Tadi aku mau teruskan jalan ke rumah, tapi masih jauh, lebih dekat kesini. Hiks."

"Sini aku akan menggedongmu." Sehun lalu menggendong Luhan ke kamarnya. Luhan tetap menangis di gendongan Sehun.

"Ya ampun ada apa, Lu? Jatuh ya?" Tanya Kai.

"Kai sana pergi ambil kapas dan obat dibawah. Tolong."

Kai turun ke bawah. Sehun meniup-niup luka Luhan yang ada di telapak tangan dan lututnya.

"Kenapa bisa seperti ini sih? Aku kan sudah bilang hati-hati! Kau ini kenapa ceroboh sekali? Tadi hampir tertabrak mobil, sekarang jatuh. Aku sudah bilang akan mengantarmu, kenapa tadi menolak? Kalau aku ikut denganmu kau tidak akan jatuh seperti ini!"

"Sakit malah dimarahiiin. Sehunnie jahaat. Huaa" Rengek Luhan.

"i-iya-iya. Jangan berteriak seperti itu. Aku ambil baju dulu, bajumu basah dan kotor."

Sehun kemudan beranjak ke lemari, mengambil sepotong baju dan celana untuk Luhan.

"Ini."

"Shireoo. Susah, ini telapak tanganku kan ada lukanya. Nanti sakit kalau kena. Basahnya juga cuma sedikit."

"Jangan membantah, Lu. Kalau kau tidak mau, aku yang gantikan."

Sehun menanggalkan satu persatu kancing seragam kemeja sekolah Luhan. Luhan terdiam menunggu dalam canggung. Setelah seluruh kancing itu selesai ditanggalkan, Sehun hendak membuka kancing celana Luhan.

"Aku bisa sendiri." Pipi Luhan merona.

"Sudah kau diam saja. Kalau kau yang melakukannya kau bisa menyenggol lukamu dan berteriak lagi. Berisik."

"Ish." Luhan menjawab dengan kesal. Ia masih ragu untuk membiarkan Sehun melakukan ini, ia terlalu canggung.

"S-sehun-ah." Panggilnya.

"Hm? Angkat sedikit pinggangmu." Pinta Sehun yang kesulitan.

"A-ah, baiklah."

Paha Luhan yang putih bersih tersekspos. Sehun menelan air liurnya sendiri ketika melihat Luhan telanjang dada dan hanya memakai boxer super pendek serta celana panjang luhan yang baru setengahnya ditanggalkan.

"Lu.." Panggil Sehun.

"Ya?"

Kedua mata mereka bertemu.

"Tidak." Jawab Sehun. Ia menepis beberapa pikirian yang terlintas di otaknya, kemudian hendak meneruskan membuka celana Luhan namun...

"A-apa yang kalian lakukan?!" Ucap seseorang dari pintu.

Luhan dan Sehun terkaget.

"Top hyung!" Teriak keduanya bersamaan.

"Hyung i-ini t-tidak..."

.

TBC

.

~oOo~

~oOo~

~oOo~

.

Hallo, terimakasih sudah membaca!

Ini pertama kalinya aku nulis. Iya, pertama kalinya. Haha.

Apa ceritanya terlalu fluffy? Hehe maaf ya...

Info: jadi disini Baek sama Yeol udah pacaran, tapi ga banyak yang tau, dan untuk moment-monent mereka yang berdua baru aku ceritain nanti ya, mereka baru sekilas-sekilas aja karna main pairingnya Hunhan.

Terus Yeol itu ceritanya temen satu ekskulnya Luhan juga di radio, di radio sekolah mereka biasa, muter lagu, wawancara murid yang hits gitu, atau ngasih info-info sekolah lainnya.

Dan aku bikin FF ini nyoba ngebayangin di atmosfir kehidupan sehari-hari, dimana yaoi masih agak awkward untuk bebas dibicarakan, bahkan kalo ada yang ngerasa suka sama sesama jenis gitu juga ga serta merta terang-terangan, mereka malah cenderung meredam prasaannya gitu. jadi aku ga bisa semisal "wah luhan cantik tuh hun langsung aja lah gaet". aku nyoba nulis mereka jatuh cinta pelan-pelan gitu.

Kalo mereka masih polos gini kapan ncnya? Haha. kalo itu pertanyaanya, nanti aku post mungkin di next chapter ya. Heeehe

Happy reading! Terimakasih reviewnya. Seneng banget loh kalo ada yang ngereview dan kasih saran. Terimakasih banyak! :3

Special thanks buat:

Aria F: terimakasih sekali review dan sarannya! Nice to see your comment Udah aku perbaiki ya hehe

Guest, mrs. Oh, bambii, Seravin509, Arifahohse, deerhanhuniie, terimakasih sekali!