Ditulis oleh teman seperjuangan (hiks) Author Park Haneul.
Terima kasih untuk ceritanya yang keren ini dan terima kasih sudah menjadi teman curhat dan teman seperjuangan (PJTS), menjadi shippers dari duo nista SeLu.
xoxo
P.S: Mari bertemu dan menggalau bersama sampe SeLu balikkan lagi (?) hihihi.
The Reunion and the Revealed truth
.
.
Pagi itu tidak disangka-sangka oleh Sehun, Ia mendapatkan pesan bahwa teman-temannya semasa SMA akan mengadakan reuni, tetapi bukan berarti reuni besar-besaran satu angkatan melainkan hanya reuni kelas Sehun saja.
Berhubung Sehun baru saja pindah ke rumahnya yang baru, ia menawarkan diri untuk menjadikan rumah barunya sebagai tempat untuk mengadakan reuni tersebut. Keputusan Sehun disambut dengan sangat baik oleh sang kordinator Kang Jaeun, Jaeun merupakan ketua kelas Sehun semasa itu.
Luhan, Ziyu dan Haowen juga menyambut dengan gembira keputusan Sehun, mereka berencana untuk memperkenalkan keluarga kecil mereka kepada teman-teman Sehun. Luhan sebenarnya iri karena ia pun ingin bertemu kembali dengan teman-teman semasa SMA nya dulu, tetapi apa daya mereka sangat sulit untuk dihubungi. Mungkin beberapa sudah ada yang pindah ke kota lain atau mungkin sampai ke luar negeri.
Sehun dan Luhan memang berasal dari SMA yang sama namun berbeda kelas karena Luhan berstatus sebagai senior, ia berada dua tingkat diatas Sehun. Walaupun Luhan termasuk senior bukan berarti Luhan mengenal semua teman-teman Sehun, terkadang ia merasa canggung untuk mendekati Sehun jika Sehun sedang bersama teman-temannya. Alhasil saat sekolah dulu, ia selalu bersembunyi di balik tembok lalu memperhatikan apakah percakapan mereka sudah selesai atau belum. Jika sudah selesai, maka Luhan akan keluar dari tempat persembunyiannya lalu menghampiri Sehun dan mengajaknya ke kantin untuk makan siang bersama.
"Sehun-ah" panggil Luhan ketika mereka sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Ia mendongakkan kepalanya untuk memandang Sehun yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV sementara Luhan duduk di karpet ruang keluarga dengan posisi tubuhnya menyandar di kaki Sehun. Ziyu dan Haowen sibuk dengan permainan mereka, sekali-sekali suara tawa meluncur dari bibir mereka.
"Hm? Ada apa Lu?" tanya Sehun lalu menundukkan kepala sedikit agar bisa melihat wajah Luhan dengan jelas.
"Kira-kira apa saja yang harus kita siapkan untuk pesta reuni nanti? Apakah harus ada balon-balon dan juga sesi permainan seperti pesta ulang tahun?" pertanyaan polos Luhan mau tak mau membuat Sehun tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa kau tertawa puas sekali huh? Apa pertanyaanku terdengar begitu bodoh? Aku mengerti, memang aku bodoh. Luhan bodoh.. Luhan bodoh!" ujar Luhan lalu memukul-mukul kepalanya frustasi.
"Hei hei hei… jangan memukul kepalamu seperti itu sayang, itu tidak baik. Dan rasanya pasti sakit kan?" Sehun menahan pergelangan tangan Luhan lalu memberikannya kecupan manis di bibir.
"Habisnya kau menertawakanku seperti itu, aku merasa seperti seorang idiot tahu," protes Luhan dengan bibir yang masih dipoutkan.
"Aku bukan menertawakanmu karena menganggap pertanyaanmu bodoh, tetapi aku tertawa karena kau begitu polos Luhannie. Dan itu sangat menggemaskan," jelas Sehun lalu mengusap pelan helai rambut Luhan.
"Lalu apa yang harus kita persiapkan untuk pesta nanti Sehun-ah?" tanya Luhan dengan ekspresi penasarannya.
"Sepertinya tidak usah berlebihan Lu, cukup makanan dan minuman saja. Karena biasanya reuni akan dihabiskan untuk berbagi cerita dan mengenang masa lalu" ujar Sehun tersenyum lembut.
"Dan akan lebih baik lagi jika makanan dan minumannya adalah buatan baba! Benar kan Ziyu?" timpal Haowen yang dihadiahi anggukan antusias oleh Ziyu.
"Baiklah kalau begitu! Bagaimana jika besok kita berbelanja untuk kebutuhan pesta? Apa semuanya setuju?"
"SETUJU!"
Siang begitu terik dan keluarga kecil Oh baru saja pulang dari acara berbelanja mereka. Ziyu tertidur dipangkuan Sehun sementara Haowen berjalan dengan lemas mengikuti langkah appa'nya menuju kamar. Haowen tertidur dikasurnya dan Sehun sudah merebahkan Ziyu di kasurnya sendiri. Setelah itu Sehun kembali menuju mobilnya yang terparkir dihalaman untuk membawakan barang belanjaan ke dapur dimana Luhan sedang mempersiapkan alat-alat untuk memasak.
Setelah semua bahan disiapkan, tangan lihai Luhan mulai bekerja. Luhan mulai membuat makanan-makanan andalannya yang membuat siapa saja akan langsung tergiur bahkan saat baru melihat tampilannya saja.
Sehun yang memperhatikan punggung mungil Luhan sejak tadi mulai mendekat. Ia bawa kedua lengannya untuk memeluk erat sang suami dari belakang dan ia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan, menghirup aroma vanilla yang menguar alami dari tubuh Luhan.
"Sehunnie lepaskan. Aku sedang memasak," ujar Luhan yang kesulitan untuk bergerak.
"Tidak mau!" rajuk Sehun sambil menhentakkan kakinya layaknya Ziyu saat sedang merajuk.
Luhan tertawa kecil lalu menghela nafas, "Sehunnie."
"Sebentar saja sayang, aku mengantuk dan sebelum aku tidur aku ingin menghirup wangimu ." jelas Sehun sambil menenggelamkan wajahnya lebih dalam.
"Tetapi setelah itu kau harus tidur, mengerti? Kau pasti lelah setelah berkeliling untuk berbelanja dan mengangkat semua barang belanjaan tadi," Luhan menolehkan kepalanya sedikit lalu mencium pipi Sehun dan membawa tangannya ke pipi Sehun, mengusapnya lembut.
"Nanti akan ku bangunkan semuanya, termasuk Ziyu dan Haowen lalu kalian harus mandi dan bersiap untuk menyambut tamu-tamu kita nanti," tambah Luhan.
Sehun hanya mengangguk kecil dan melepaskan pelukannya dari tubuh Luhan. Matanya sudah benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dengan langkah satu-satu, Sehun pergi menuju kamarnya dan Luhan lalu mengistirahatkan tubuhnya. Menunggu Luhan membangunkannya saat waktunya sudah tiba.
Luhan melanjutkan kembali kegiatan memasaknya yang sempat tertunda akibat sifat manja Sehun yang mendadak kambuh. Tetapi setelah hampir menyelesaikan semua masakannya tiba-tiba Luhan merasa kepalanya sangat pusing, ia sempat berhenti sejenak untuk meminum aspirin dari kotak obat lalu duduk di kursi yang berada di meja makan mencoba untuk memijit kepalanya pelan.
Dirasa sudah cukup baik, Luhan mulai menyelesaikan masakannya. Dan menjelang sore hari seluruh hidangan sudah siap dan ditata dengan sangat cantik diatas meja. Luhan melepaskan apronnya dan dengan perlahan masuk ke kamar Ziyu dan Haowen untuk menyiapkan baju, setelah itu ia kembali ke kamarnya dan Sehun lalu menyiapkan baju yang cocok digunakan untuk dirinya dan juga Sehun saat pesta nanti.
Persiapan baju sudah selesai, waktunya untuk membangunkan seluruh anggota keluarga kecilnya tersebut.
"Sehun-ah bangun, sudah sore waktunya mandi dan bersiap-siap." Luhan menggoyangkan bahu suaminya yang masih tertidur itu.
Dengan malas dan mata setengah terpejam, Sehun mendudukkan dirinya di kasur. Luhan berinisiatif untuk mencium Sehun agar Sehun terbangun sepenuhnya, dan memang hasilnya tidak sia-sia.
"Cepatlah mandi, aku akan membangunkan anak-anak dan menyuruh mereka untuk bersiap-siap," ujar Luhan sambil mengusap punggung Sehun.
"Bisakah kau menciumku sekali lagi Luhannie? Agar kesadaranku cepat terkumpul," ucap Sehun masih belum bergerak dari kasurnya.
Luhan menghampiri Sehun dan mencubit hidungnya keras-keras membuat Sehun memekik kesakitan.
"Dasar manja."
Pukul 8 malam teman-teman Sehun mulai berdatangan, sebagian besar langsung melangkahkan kakinya menuju Ziyu dan Haowen karena menurut mereka Ziyu dan Haowen sangatlah manis. Tak lupa mereka menyapa Luhan, mereka tidak terkejut bahwa Sehun menikah dengan Luhan karena sejak SMA Sehun dan Luhan sudah berpacaran. Hanya saja mereka tidak mengetahui bahwa rumah tangga Sehun dan Luhan dulu pernah diterpa masalah.
Bahkan Kim Jongin atau yang sering kita kenal dengan Kai pun datang ke acara tersebut. Semua terlihat gembira dan saling menyapa satu sama lain, dan benar saja kenangan-kenangan masa lalu pun tak luput untuk menjadi buah bibir diacara reuni ini.
Luhan sibuk menyiapkan stok makanan mengingat teman-teman Sehun yang datang cukup banyak, membuat makanan yang sudah dihidangkan pun lebih cepat habis.
Sedangkan Ziyu dan Haowen sedang berada di pangkuan teman-teman perempuan Sehun, mereka begitu gemas dengan Ziyu dan Haowen sehingga sulit untuk tidak mencubit pipi atau memberikan permen kepada Ziyu dan Haowen. Untung saja Ziyu dan Haowen bukanlah tipe anak yang sulit untuk didekati, malah mereka dengan senang hati melakukan aegyo (kecuali Haowen yang ekspresinya tetap sama walupun sedang melakukan aegyo,sama seperti Sehun) dan membuat pekikan para gadis itu semakin nyaring.
Tiba-tiba seseorang menghampiri Sehun yang sedang asik mengobrol dengan Kai. Lelaki itu termasuk kedalam kategori lelaki manis dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi, ia bernama Lee Hyunwoo salah satu teman sekelas Sehun juga.
"Hei Sehun!" panggilnya dengan ceria.
Sehun yang merasa dirinya dipanggil, berbalik dan matanya membulat begitu mengetahui siapa yang memanggilnya tadi.
"Hyunwoo-ya? Astaga sudah lama sekali" Sehun segera membawa Hyunwoo kepelukannya lalu menepuk-nepuk pundak temannya itu. Tanpa Sehun sadari wajah Hyunwoo bersemu merah.
"Oh apakah acara reuni ini termasuk reuni mantan juga? Hahahaha." Kai tidak menyadari bahwa ucapannya terlampau keras dan membuat seisi ruangan terkejut.
Tentu saja mereka terkejut
Apakah mereka tadi mendengar kata "mantan"?
Dan masalah terbesarnya adalah
SEJAK KAPAN SEORANG OH SEHUN DAN LEE HYUNWOO BERPACARAN?
"APAAAA?" teriak mereka serempak kecuali Luhan, Ziyu dan Haowen. Luhan begitu terkejut (tetapi tidak sampai berteriak histeris seperti teman-teman Sehun) dan menghentikan pekerjaannya menaruh kue-kue di piring yang kosong.
Kai hanya terdiam begitu menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Hubungan Sehun dan Hyunwoo memang tidak pernah diketahui siapapun kecuali Kai dan mereka benar-benar menyembunyikan masa lalu hubungan mereka dengan sangat rapi bahkan sampai hari ini!
"Hyunwoo apakah itu benar?! Kau dan Sehun?!" tanya Mijoo heboh.
Hyunwoo –yang saat ini sudah melepaskan pelukannya dengan Sehun- terlihat salah tingkah. Ia menggigit bibirnya gusar, matanya menerawang ke sudut-sudut ruangan yang menurutnya menarik.
"Hyunwoo jawablah, Mijoo bertanya padamu." Bahkan sang ketua kelas, Jaeun pun penasaran dengan hal yang satu ini.
Hyunwoo mencoba memberanikan diri lalu menarik nafas dalam-dalam, bersiap untuk menjawab pandangan penuh tanya dari teman-teman semasa SMA nya itu.
"Ti-tidak" jawabnya pelan.
Hening
"HIK"
Sampai akhirnya terdengar suara yang seketika mampu memecahkan keheningan tersebut. Suara itu berasal dari Hyunwoo yang kini berusaha menahan cegukannya yang semakin keras terdengar.
"Ya ampun ternyata sindrom Pinocchio*mu belum sembuh juga Hyunwoo-ya? Dan ternyata benar kau pernah berpacaran dengan Sehun! Kalian hebat sekali dalam menyembunyikan hubungan kalian, bahkan aku mengira jika Luhan sunbae lah pacar pertama Sehun," ujar Mijoo panjang lebar. Ia bahkan sampai tidak merasakan cubitan Sujong di pinggangnya, memberikan sinyal bahwa Luhan masih berada disana.
"Tapi aku benar-benar tidak pernah berpacaran dengan Sehun! Benar kan Sehun? Hik! Oh astaga." Hyunwoo bersusah payah menahan cegukannya lalu menyambar minuman Kai yang menganggur. Sementara Sehun, ekspresinya begitu shock. Ia mengalihkan pandangannya kepada Luhan dan hanya menemukan tatapan sendu milik suami cantiknya.
"Ehm sudah sudah.. lebih baik kita lanjutkan saja pestanya bagaimana?" ujar Jaeun yang berhasil membaca situasi dan sepertinya semuanya setuju. Lebih baik mereka melanjutkan pesta daripada membuat suasana semakin keruh.
Hyunwoo menatap Sehun dengan tatapan 'Aku minta maaf' tetapi Sehun hanya membalasnya dengan ucapan "Tidak apa-apa" lalu tersenyum.
Pinocchio adalah suatu sindrom dimana para penderita tidak bisa berkata bohong. Jika sang penderita berbohong maka mereka akan cegukan dalam jangka waktu yang cukup lama. Dan itu termasuk hal yang merugikan menurut mereka.
Apalagi jika dalam situasi seperti ini
Terlihat Luhan yang sedang berjalan menghampiri Hyunwoo. Sehun menegang, ia menerka-nerka apa yang akan Luhan lakukan pada Hyunwoo. Sementara Kai menyesali kebodohannya yang tidak sadar akan situasi dan dengan seenaknya berbicara.
Luhan kini sedang berhadapan dengan Hyunwoo, ia memperhatikan penampilan Hyunwoo dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Hyunwoo hanya berdoa agar lantai yang saat ini dipijaknya dapat retak lalu membuatnya terjatuh dan menghilang dengan segera dari tempat ini.
Dengan Senyum dibibirnya Luhan memberikan segelas air putih untuk Hyunwoo, dan dengan ragu Hyunwoo mengambilnya dan mengucapkan terima kasih sebelum meneguknya dengan cepat.
"Hai Hyunwoo-ssi, apakah kau pernah mengenalku sebelumnya?" tanya Luhan dengan suara yang begitu lembut.
"Te-tentu saja Luhan sunbae, mana mungkin aku tidak tahu Luhan sunbae yang sangat manis ini," jawab Hyunwoo dengan senyum dipaksakan (karena sesungguhnya saat ini ia benar-benar ketakutan).
"Tidak, kau lebih manis Hyunwoo. Tidak heran mengapa Sehun memilihmu untuk menjadi kekasih pertamanya," ucap Luhan tersenyum.
Sehun yang berada disana hanya bisa mematung dan menelan ludahnya yang terasa seperti karang.
"Kau pasti sangat mencintai Sehun ya?" tanya Luhan lagi.
"Ti-tidak sunbae! Hik!" Hyunwoo menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya. Merutuki penyakitnya yang benar-benar menyebalkan di saat-saat tertentu.
Lagi-lagi Luhan tersenyum, ia menarik tangan Hyunwoo lalu menggenggamnya dengan erat.
"Maafkan aku, karena aku hubungan kalian harus berakhir. Mungkin jika aku tidak pernah masuk ke kehidupan Sehun, kau dan Sehun saat ini sudah bersama dan bahagia," lirih Luhan.
Sehun merasa hatinya sakit mendengar kata-kata Luhan. Luhan salah paham. Kenyataannya hubungan Sehun dan Hyunwoo tidak seperti apa yang Luhan pikirkan saat ini. Ini semua bukan salah Luhan maupun Hyunwoo,melainkan dirinya. Dirinya yang tidak pernah menceritakan masa lalunya itu kepada Luhan.
"Sunbae jangan meminta maaf, ini semua sudah takdir dan bukan salah siapapun. Jika memang aku tidak bisa bersama Sehun saat ini, itu berarti Sehun bukanlah seseorang yang tepat untukku" jelas Hyunwoo lalu memeluk Luhan erat.
"Lagipula aku senang, karena keluarga kalian benar-benar sangat manis sunbae! Apalagi dengan Ziyu dan Haowen sebagai pelengkapnya." Hyunwoo tersenyum. Senyum yang tulus.
"Terima kasih Hyunwoo-ah. Kau benar-benar baik, siapapun yang mendapatkanmu nanti pasti akan sangat beruntung," ucap Luhan yang dibalas dengan senyuman lebar oleh Hyunwoo.
Sementara Sehun hanya tertegun melihat adegan di hadapannya ini
Pesta berakhir tepat pukul 11 malam. Seluruh teman-teman Sehun sudah pulang,dengan Kai yang terlalu mabuk hingga harus dijemput oleh Kyungsoo yang terus mengomel. Ziyu juga Haowen sudah memasuki kamar mereka lalu tertidur karena mereka benar-benar lelah dan mengantuk (setelah menjadi bintang untuk semua teman wanita Sehun).
Kini hanya tersisa Sehun yang sedang membereskan ruangan serta Luhan yang berada di dapur untuk mencuci piring.
Keadaan benar-benar hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan sama sekali.
Dengan langkah pelan Sehun mendekati Luhan lalu memeluk tubuh mungil itu dari belakang, membuat pipi keduanya bersentuhan.
"Maafkan aku Lu," bisik Sehun.
"….."
"Maafkan aku karena tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu sebelumnya," ujar Sehun lagi.
Luhan tidak menanggapi perkataan Sehun, ia menyimpan piring terakhir di rak penyimpanan lalu melepaskan dengan paksa pelukan Sehun. Langkahnya ia bawa menuju kamar mereka.
"LU KENAPA KAU BEGITU MEMPERMASALAHKAN HAL INI HAH?! ITU HANYA BAGIAN DARI MASA LALUKU!" teriakan Sehun menghentikan langkah Luhan.
"Mengapa aku mempermasalahkan hal ini katamu? Apa kau tidak berpikir Oh Sehun? Kau menyembunyikan hal ini dariku selama belasan tahun! Dan dengan mudahnya juga kau selalu berkata jika aku adalah yang pertama untukmu, apakah itu adalah lelucon yang begitu lucu bagimu?" Luhan berbalik dan Sehun begitu menyesal karena telah berteriak dengan bodohnya tadi.
Kini ia ini harus dihadapkan dengan Luhan yang sedang menangis, dan ia benar-benar tidak suka dengan hal itu
"Dan kemungkinan bahwa kedatanganku di hidupmu itu merusak hubunganmu dengan Hyunwoo adalah hal yang benar-benar membuatku merasa berdosa Oh Sehun!" isak Luhan.
"Tapi saat itu aku dan Hyunwoo sudah pu-"
"Simpan penjelasanmu itu, aku lelah. Aku ingin tidur" Luhan berlalu dan memasuki kamarnya meninggalkan Sehun dengan segala penjelasannya yang tertahan.
"Kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku Lu? Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya kepadamu," lirih Sehun.
Sehun memutuskan untuk memberikan Luhan waktu sendiri. Jadi disinilah ia sekarang, tertidur di sofa ruang tengah dengan segala pikiran yang berkecamuk di otaknya.
Sehun mengernyitkan dahinya, merasakan tangan tangan mungil mencubit kecil pipinya. Dengan malas ia membuka mata dan pemandangan pertama yang masuk ke retina matanya adalah Ziyu dan Haowen yang saat ini duduk diatas perutnya.
"Appa, Ziyu lapar! Kenapa Baba belum bangun juga? Padahal Ziyu sudah mencubit-cubit pipi Baba seperti Ziyu mencubit Appa tadi" protes Ziyu dengan bibir yang dikerucutkan.
Sehun terkekeh lalu menurunkan kedua anaknya itu dari atas perutnya.
"Mungkin Baba masih mengantuk. Ayo duduk dulu, biar Appa buatkan sarapan" ujar Sehun setelah mereka bertiga sampai di meja makan.
Sehun menggendong Ziyu lalu mendudukkannya di kursi sedangkan Haowen duduk tepat di sebelah Ziyu.
Hanya sarapan sederhana, sandwich dan juga segelas susu namun cukup membuat kedua anaknya itu makan dengan lahap.
Sehun merasa aneh, tidak biasanya Luhan belum bangun. Biasanya Luhan selalu bangun pagi dan membuatkan sarapan untuk Sehun, Ziyu dan juga Haowen.
"Habiskan sarapan kalian, Appa akan ke kamar dulu membangunkan Baba mengerti?" tanya Sehun yang dibalas anggukan mengerti dari Ziyu dan Haowen.
Sehun membuka pintu kamarnya dan Luhan. Menemukan suaminya itu masih tidur dengan posisi memunggungi dirinya.
Sehun menghampiri Luhan lalu mengguncang bahu Luhan pelan.
"Lu bangunlah, ini sudah siang"
Tidak ada respon
"Lu?" Sehun yang merasa aneh mencoba membalikkan tubuh Luhan.
DEG
Wajah Luhan begitu pucat, bibirnya pun tak kalah pucat dari wajahnya.
"Lu bangun! Luhan apakah kau mendengarku?! Luhan!" Sehun menepuk pipi Luhan dengan panik. Tak kunjung mendapat respon, Sehun langsung menggendong Luhan keluar membuat Ziyu dan Haowen bingung.
"Haowen, Appa titip Ziyu. Kau harus jaga Ziyu baik-baik, Appa akan pergi dulu sebentar" ujar Sehun.
Haowen ingin bertanya apalagi melihat kondisi Babanya yang berada di gendongan Appanya, Haowen merasa ada yang tidak beres. Tetapi ia urungkan niatnya untuk bertanya karena sang Appa terlihat begitu terburu-buru.
"Baik Appa" setelah mendapatkan jawaban dari Haowen, Sehun segera melesat menuju mobilnya lalu mendudukkan Luhan dengan hati-hati di kursi depan.
Tanpa pikir panjang Sehun menancap gas mobilnya menuju rumah sakit.
"Suami anda kelelahan Tuan Oh. Anda tahu kan bahwa suami anda pernah mengalami gagal ginjal dan saat ini ginjalnya hanya satu? Seharusnya anda benar-benar menjaga kondisinya, jangan sampai ia kelelahan atau resikonya akan sangat fatal. Dan anda sendiri pun tidak boleh terlalu kelelahan Tuan Oh, karena kondisi anda juga sama. Hanya mempunyai satu ginjal" jelas dokter Kim, dokter yang menangani operasi Luhan dan Sehun dulu.
"Saat ini kondisinya sudah cukup stabil, mungkin sebentar lagi akan sadar. Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Oh" dokter Kim pamit, meninggalkan Sehun yang saat ini berdiri di depan pintu ruang rawat Luhan.
Ia membuka pintu ruang rawat dan menemukan Luhan yang berbaring di ranjang rumah sakit dengan infus yang menghiasi tangan mungilnya.
Sehun menarik kursi dan memposisikan dirinya tepat disamping ranjang Luhan. Ia bawa tangan mungil Luhan kedalam genggamannya lalu menciumnya terus menerus sambil menggumamkan kata maaf, bahkan tanpa Sehun sadari air matanya ikut menetes dan membasahi tangan mungil itu.
"Eung…" Luhan melenguh. Perlahan mata rusanya terbuka.
GREP
Sehun memeluk Luhan erat seakan tidak ingin melepasnya sedetikpun.
"Sehunnie?" tanya Luhan dengan suara seraknya. Ia merasa tubuhnya begitu lemas saat ini.
"Maafkan aku Lu. Maafkan kebodohanku.. maaf" lirih Sehun sambil terus mengeratkan pelukannya.
"Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena telah bersikap buruk kepadamu tadi malam Sehunnie. Aku terlalu berlebihan menanggapi ini semua. Kau benar, semua hanyalah bagian dari masa lalumu dan seharusnya aku tidak memikirkannya terlalu jauh" ujar Luhan. Tangan mungilnya mengusap lembut punggung Sehun, menenangkannya.
Sehun melonggarkan pelukannya lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan sehingga hidung mereka berdua bersentuhan. Sehun menatap dalam sepasang mata yang selalu menjadi favoritnya itu.
"Kau 'mungkin' bukan yang pertama bagiku bahkan Hyemi pun pernah masuk ke dalam kehidupan kita dan membuat semuanya berubah. Aku akui jika itu salahku, salahku meninggalkanmu dan memilih bersama Hyemi, salahku tidak pernah memberitahumu tentang semua yang terjadi di masa laluku, tentang Hyunwoo. Tetapi sesulit apapun hal yang kita lalui di masa lampau, takdir tetap membawaku kembali padamu Lu. Itu artinya kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama, kau ditakdirkan untukku begitu juga sebaliknya" jelas Sehun. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum ketika melihat mata favoritnya itu tertutup kembali, meresapi setiap kata demi kata yang ia ucapkan.
"Kau mungkin bukan yang pertama tetapi kau pasti yang terakhir untukku Oh Luhan. Ingatlah jika menjadi yang terakhir itu sama artinya dengan menjadi pengatur masa depan. Pengatur hal-hal apa saja yang akan kita capai di kemudian hari atau bagaimana jalan cerita dan sisa hidup ini akan dihabiskan nantinya. Dan aku sangat-sangat bahagia karena kau lah akhir dari perjalanan panjangku selama ini" tambah Sehun.
Luhan tersenyum karena semua perkataan Sehun begitu menyentuh hatinya dan perkataan Sehun memang benar adanya.
Menjadi yang terakhir sama artinya dengan menjadi pengatur masa depan
Dan Luhan pun bahagia karena Sehun lah akhir dari perjalanan hidupnya, Sehun lah yang akan menjadi pengatur masa depannya.
Setelah itu Sehun menangkup pipi Luhan lalu menariknya. Mempertemukan kedua belah bibirnya dengan bibir Luhan dan menyatukannya dalam ciuman yang lembut dan penuh makna.
"Aku mencintaimu Sehun"
"Aku lebih mencintaimu Luhan. Aku yang paling mencintaimu," ujar Sehun posesif.
Luhan tertawa kecil lalu menangkup pipi Sehun dan menyatukan dahi mereka, "Ya hanya kau yang paling mencintaiku."
Flashback
"Jadi kau belum yakin bahwa dirimu ini adalah seorang gay?" tanya Kai pada Sehun. Saat ini mereka berada di kantin karena bel tanda istirahat sudah berdering sejak 5 menit yang lalu.
"Aku yakin aku masih straight, tetapi entahlah aku bingung" jawab Sehun lalu memasukkan satu potongan sushi ke mulutnya.
"Kau tersenyum-senyum seperti orang gila saat melihat Luhan sunbae, tiada hari tanpa membicarakannya dan membuat telingaku benar-benar panas. Apakah itu yang disebut straight huh?" ujar Kai malas. Ia benar-benar heran dengan sahabatnya ini. Sudah jelas ia menyukai Luhan yang berstatus sunbae mereka tetapi tetap saja masih menyangkalnya dengan alasan dirinya masih straight.
Menggelikan
"Aku tidak pernah seperti itu Kim Jongin!" bantah Sehun.
"Terserahmu sajalah. Kalau kau belum yakin kenapa tidak mencoba saja berpacaran dengan seorang lelaki? Persiapan sebelum kau benar-benar berpacaran dengan Luhan sunbae"
BLUSH
Rona merah menghiasi pipi Sehun. Membayangkan dirinya berpacaran dengan Luhan lalu berkencan dan bergandengan tangan membuat dirinya malu sekaligus bahagia dalam waktu yang bersamaan.
"Cih, aku benar-benar kasihan padamu. Kau pasti membayangkan dirimu berkencan dan bergandengan tangan dengan Luhan sunbae kan? Sampai-sampai wajahmu memerah seperti tomat busuk" ucap Jongin malas.
"Kenapa kau bisa ta-"
"Sudahlah jangan hanya menghayal, kau harus mewujudkannya! Setidaknya jika kau masih ragu cobalah saranku, cari laki-laki yang bisa kau pacari dan berlatih sebelum mewujudkannya bersama Luhan sunbae" jelas Jongin lagi.
"Tapi siapa?!" Sehun mengacak rambutnya frustasi. Ia benar-benar blank saat ini.
"Apakah aku boleh duduk disini? Semua meja penuh, hanya meja ini yang masih tersisa satu tempat" suara itu menginterupsi kegiatan berpikir Sehun dan Kai. Mereka mendongak dan mendapati teman sekelas mereka, Lee Hyunwoo sedang membawa nampan berisi makan siangnya.
"Oh kau Hyunwoo-ya, silahkan saja toh daripada dibiarkan menganggur" Kai mempersilahkan Hyunwoo untuk duduk disebelahnya, tepat berhadapan dengan Sehun.
"Terima Kasih!" ujar Hyunwoo senang lalu mulai memakan makanan siangnya.
Sehun masih terus berpikir hingga tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otaknya. Ia menatap Hyunwoo dalam. Ia tahu, Hyunwoo adalah seseorang yang sangat baik hati dan pasti ia mau membantu Sehun.
"Hyunwoo-ya" panggil Sehun.
"Hmm?" Hyunwoo membalas sekena nya karena mulutnya saat ini terisi penuh dengan makanan.
"Maukah kau menjadi pacarku?"
UHUK
BYUUURRR
Hyunwoo tersedak hamburger miliknya sementara Kai menyemburkan colanya ke wajah Sehun.
"YA! APA-APAAN KAU KAI?!" bentak Sehun. Ia mengambil tisu lalu mengelap wajahnya yang terkena semburan cola milik Kai.
Hyunwoo masih memukul-mukul pelan dadanya berharap makanan yang tersangkut di tenggorokannya dapat turun ke lambung dengan aman.
"Aku tidak menyangka jika kau memilih Hyunwoo" ujar Kai sambil geleng-geleng kepala.
Hyunwoo merona. Ia bahagia karena sebenarnya sudah lama dirinya mempunyai perasaan khusus kepada Sehun dan hari ini adalah hari bersejarah untuknya. Sehun memintanya untuk menjadi kekasihnya!
"Aku ma-" belum sempat Hyunwoo menjawab, perkataannya sudah terpotong oleh Sehun.
"Sebenarnya aku yakin diriku ini masih straight tetapi entah kenapa jika melihat Luhan sunbae aku merasakan perasaan yang aneh. Maka dari itu aku memintamu untuk menjadi kekasihku agar aku tahu rasanya berpacaran dengan sesama…. Errr… lelaki? Jadi bisakah kau membantuku Hyunwoo? Pleaseee~" ucap Sehun dengan wajah memelas dan mata yang berbinar penuh harap.
Hyunwoo tersenyum getir. 'Ternyata hanya membantu saja ya? Bodoh, sampai kapanpun Sehun tidak mungkin menyukaimu Lee Hyunwoo!' batinnya.
Sesungguhnya Hyunwoo ingin menolak karena ia tahu pasti ini akan menyakitkan, tetapi jika dipikir kembali itu artinya ia bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan Sehun kan?
Walaupun nantinya hanya akan berpacaran tanpa perasaan cinta yang sesungguhnya, setidaknya ia bisa merasakan bagaimana rasanya berada di samping orang yang ia cintai sejak lama.
Dan akhirnya ia pun mengambil sebuah keputusan, keputusan yang benar-benar sudah ia pikirkan matang-matang.
"Baiklah aku akan membantumu Sehun-ah!"
End of Flashback
Jadi sekarang kalian semua tahu kan siapa sebenarnya cinta pertama Sehun yang sesungguhnya?
Luhan memang bukan kekasih pertama Sehun.
Tapi Luhan tetap menjadi Cinta yang pertama untuk Sehun.
THE END
* Sindrom ini hanya fiktif yang terinspirasi dari drama pinocchio.
OKE SIP INI APAAAA? /terjun/
Ya ampun aku malu banget sebenernya, ff ini ancur banget TvT
Tapi karena aku udah setuju mau ikut projectnya author Seluminati jadilah jeng jeng jeng ff nista ini dibuat
Makasih buat author kesayangan aku alias tempat curhat aku juga hahahaha sudah membiarkan author abal ini ikut dalam projectmu kak :")
Oh iya kalian ga bakal nemu aku di ffn karena aku ga punya akun ffn, aku aktif di blog pribadiku (atau mungkin ada yang pernah denger nama penaku atau baca ff aku sebelumnya?) #ketauanpromosi
Udah ah cuap-cuapnya, semoga kak seluminati ga kecewa ya sama ff buatan aku ini dan jangan kapok buat ngajakin aku ikut project HAHAHAHA *menghilang bareng anginnya Sehun*
Seluminati's Note: Yang mau baca ff author park haneul minta aja linknya ke aku ya ;p
