Chapter ini sudah aku simpan promptnya dari dulu dan baru bisa terealisasikan sekarang HAHAHAHA
Anyway, Chap ini diisi dengan Humor dan a sprinkle angst in the end :p
Kenapa ada angst? Karena aku sdh lama gak nulis angst
AND I WANT ANGST.
HEHE Happy reading!
xoxo
Little Sunshine
"Lu,Aku ingin anak perempuan.."
Butuh beberapa menit untuk Luhan meresap kata-kata Sehun. Jangan salahkan tubuhnya yang kelelahan karena 'Bermain-main' semalaman dengan Sehun hingga ia terlalu letih bahkan hanya untuk berpikir.
Luhan membuka matanya pelan, lalu menatap Sehun yang sedari tadi sudah menatapnya lekat.
Luhan berkedip, "Apa?"
"Aku ingin mempunyai anak perempuan."
Luhan berkedip sekali lagi.
"Aku punya nomor telepon Dr. Kim. Kita bisa memulai program kehamilan lagi jika kau mau. Ya?"
Luhan berkedip untuk kedua kalinya.
Lalu tiga kali. Empat kali.
"Sehun," ucap Luhan akhirnya, "Kau tahu benar kan kalau kehamilan itu betul-betul menyusahkan?"
Butuh waktu yang lama, tenaga yang keras, serta kesabaran penuh untuk membujuk Luhan agar mau mempunyai anak lagi.
Luhan bilang, tidak apa-apa jika mereka mempunyai anak lagi jika Sehun memang ingin. Mereka bisa mengadopsi anak di sebuah panti. Tapi Sehun bersikeras ingin mempunyai anak dari kehamilan Luhan.
Hal ini tentu saja ditolak oleh Luhan. Bukan ia tidak ingin mempunyai anak, tapi ia tidak ingin melewati masa-masa sulit kehamilan seperti dulu. Membayangkannya saja membuat tubuhnya merinding.
"Kau tidak perlu takut. Dulu Memang hidup kita tidak sebaik sekarang hingga kau kekurangan gizi dikehamilanmu," ucap Sehun, "Tapi sekarang aku bisa menjagamu. Memberikan makanan yang Sehat dan bergizi untukmu dan anak kita. Kau tidak perlu khawatir."
"Luhan, Aku ingin membayar waktu yang kubuang karena aku meninggalkanmu. Aku ingin mengurus bayi kita dan menjaganya bersamamu. Jadi,berikanlah aku kesempatan itu, ya?"
Dengan ini, Hati Luhan luluh dan ia setuju untuk mempunyai anak lagi dan hamil untuk kedua kalinya.
.
.
Luhan dan Sehun terbang ke thailand untuk menemui dan menjalankan prosedur kehamilannya. Haowen dan Ziyu tinggal bersama pasangan -yang sebentar lagi akan menikah- Kai dan Kyungsoo. Mereka berdua dengan senang hati melepas Baba dan Appanya pergi sambil berseru, "Semoga berhasil! Bawa adik untuk kami ya Baba appa!" ditengah-tengah bandara membuat Luhan menunduk malu dan Sehun tertawa terpingkal-pingkal.
Ketika sampai di rumah sakit bersalin tempat dokter Kim bekerja, Luhan menganga takjub melihat fotonya yang diambil semasa hamil Ziyu dulu terpajang dilorong menuju ruang praktek .
"Wow ternyata kau cukup populer juga tuan," Bisik Sehun jahil.
Luhan mendengus, "Diam! Aku benar-benar malu! Kau lihat fotoku yang barusan? Aku telanjang dengan perut dan pipi yang besar. Astaga! Aku terlihat seperti beruang kutub!"
"Kau memang beruang kutub."
Sehun mati-matian berusaha menahan tawa sementara Luhan menatap Sehun dengan galak.
Mereka menemui Dr. Kim untuk membicarakan proses yang akan Luhan lalui. Luhan terlihat gugup mendengarkan semua penjelasan walaupun ia pernah menjalaninya. Melihat suaminya yang gugup, Sehun mengangkat tangannya dan menaruhnya diatas tangan Luhan yang terasa dingin. Sehun meremas tangan Luhan,menggenggamnya erat.
.
.
Setelah proses kehamilan yang Luhan lalui, Penanaman hormon,pembuahan (dibantu oleh Oh Sehun, Dikamar hotel berbintang lima), dan prosedur kehamilan lainnya, Luhan dan Sehun akhirnya pulang ke Korea.
Belum ada tanda-tanda kehamilan Luhan sejak saat itu namun Sehun tetap bersabar.
Tidak sampai Baekhyun datang membawa makanan yang dibuatnya pada sabtu malam.
Luhan mengeluh mual setelah makan dan memuntahkan makanannya. Sehun pikir Luhan keracunan makanan yang dibuat Baekhyun (dihadiahi tatapan tajam dan sosok Baekhyun yang pergi menghentak-hentakkan kakinya karena kesal) namun setelah mengingat Luhan pernah mengalami gejala seperti itu sebelumnya Sehun memutuskan untuk membeli pregnancy kit.Sehun senang bukan main ketika alat tes kehamilan itu menunjukkan kalau Luhan positif hamil.
.
.
Sehun, sebagai suami yang pengertian serta ayah yang penyayang, memutuskan untuk membuat sebuah jurnal yang ia tulis di buku diari berwarna putih mutiara –yang Sehun titip kepada Ziyu di toko buku sebelah sekolah Ziyu- dan memberikan judul 'Jurnal kehamilan My baby,Luhan' dengan gambar hati disebelahnya.
Jadi, Seperti inilah isi dari diary yang ditulis Sehun selama Luhan hamil.
Bulan pertama,
Bulan yang berat.
Siapapun... TOLONG AKU!
Oh uhm ini tulisan pertama yang kubuat setelah aku tahu Luhan akhirnya mengandung (YEHET!) . Dan aku sungguh menyesal karena pertama kali mengisi buku ini aku harus mengisinya dengan cerita penderitaanku:(
Aku mempunyai kabar baik dan kabar buruk.
Kabar baiknya, Luhanku Hamil! Ohorat!
Kabar buruknya, Luhan hamil.
Dan Luhan yang hamil adalah Luhan yang tidak menyenangkan.
Aku harusnya sudah tahu, trisemester pertama kehamilan tidak akan pernah menyenangkan untukku maupun untuk Luhan.
1. Nafsu makan yang menurun.
Luhan kehilangan nafsu makannya (yang bisa dibilang itu adalah hal yang paling aneh) bahkan ia tidak memakan kue red velvet favoritnya.
Aku ulang (dengan tulisan yang lebih besar) KUE RED VELVET.
Wow.
2. Morning sick.
Dari minggu pertama ia hamil, setiap pagi aku bangun dengan tidak melihat Luhan disebelahku. Ia pasti sudah berada di kamar mandi, memuntahkan semua yang ada diperutnya (bahkan ketika malamnya ia tidak makan, membuat Luhanku bertambah kurus :( ). Aku tidak keberatan jika harus selalu memijati punggungnya,selama itu membuat dirinya merasa lebih baik. Melihat ia bertambah pucat,kurus dan kantung matanya besar membuatku sedih.
Kalau saja aku bisa menggantikan semua rasa sakit yang ia alami.
3. Mood Swing.
Ya, ini adalah hal yang paling buruk. PERUBAHAN MOOD LUHAN YANG SANGAT PARAH (dan Cepat). Seperti pagi tadi, Ia masih bahagia seperti biasanya, membuatkan sarapan untukku dan anak-anak. Memberikan morning kiss (oh ini hal favoritku) sebelum aku pergi bekerja. Dan disinilah cerita serunya. Saat aku pulang, aku menemukan Luhan berdiri dibalik pintu. Tangannya terlipat di dada (oh asal kau tahu, jika ia sudah melipat tangan didada hal tidak akan berjalan dengan baik) dengan pipi yang mengembung.
Ia marah, demi tuhan ia marah. Bukan marah seperti mengomel dan melotot,tidak, lebih parah daripada itu. Ia Marah padaku, melemparkan semua barang dikamar kepadaku (Yap benjolan biru dikepalaku adalah karya Luhan) hanya karena aku terlambat pulang,7 menit 48 detik (ia yang menghitung).
Dan ketika aku bilang ia bersikap berlebihan, ia menangis. TUHAN KENAPA IA HARUS MENANGIS?!
Tapi akhirnya aku tidak akan pernah bisa merasa kesal dengan semua mood swing yang sedang ia alami. Pada akhirnya aku akan memeluk Luhan, dan mengatakan aku mencintai ia berkali-kali hingga ia kembali kesal mendengarnya (he he..)
Bulan ke 5,
Bye bye awful Presemester months!
And Hi for My baby girl :D
YeS! My Baby is a girl!
Yeah, Kami baru saja pergi mengecek kondisi kehamilan Luhan ke dokter. Luhan melakukan USG 4 Dimensi, oh terimakasih untuk siapapun yang mengembangkan teknologi hingga bisa secanggih ini, Aku bisa melihat putri kecilku! Putri kecilku yang sangat manis (ya, bahkan aku sudah bisa menebak secantik apa ia kelak, tolon jangan protes) ,mata berkilaunya yang tertutup, bibirnya yang kecil dan merah,hidungnya yang mancung (fine aku memang berlebihan, tidak sejelas itu terlihat, tapi aku sudah bisa menebaknya!).
Appa sudah tidak sabar menunggumu untuk lahir! bahkan Kakak-kakakmu Haowen dan Ziyu dengan antusias sudah mulai merancang kamarmu kelak baby.
Bulan ke 6 atau bisa dibilang bulan '69'
Karena , God! he's so horny.
Bulan ke 6 nafsu makan Luhan membaik, bahkan ia lebih rakus dari ia ketika belum hamil (ia bilang pengaruh hormon, tapi sebenarnya ia hanya rakus). Aku tidak bisa lebih senang daripada melihat Luhan makan dengan lahap bahkan aku rela porsi makanku dimakan olehnya ketika kami ber4 makan direstoran favoritnya (Bahkan ia makan sisa makanan Haowen dan Ziyu ckckck).
Bulan ke 6 adalah bulan favoritku! OH YES!
Karena selain Luhan kembali Sehat dan berisi, ia juga semakin... Horny? HAHAHAHA YEHET!
Libidonya mungkin meningkat hingga 1000% LUAR BIASA!
Tidak jarang-jarang ia menuntut 'kinky' sex. Dari roleplay hingga fetish aneh (seperti saat ia meminta aku memasukan jempol kakiku saat foreplay). Aku tidak keberatan, SAMA SEKALI TIDAK KEBERATAN. Apalagi ketika aku bangun dan hal yang pertama kali kulihat adalah malaikatku sedang membungkus kejantananku dengan bibirnya yang merah .
Oh Shit tidak seharusnya aku menceritakan itu, DIARY INI HARUSNYA AMAN UNTUK ANAK KECIL. Sekarang aku harus menggolongkannya menjadi PG-15 ! Shit.
Bulan ke 8,
Tinggal menghitung hari hingga keluargaku akan menyambut anggota baru!
Tidak terasa, 1 bulan lagi bayi mungilku akan lahir.
Aku dan semuanya sangat bahagia, mengantisipasi bayi kecil kami yang akan lahir. Bahkan Haowen dan Ziyu sudah menyiapkan nama untuknya (setelah berdebat hingga seminggu penuh). Mereka bilang nama yang mereka siapkan adalah rahasia, mereka akan mengatakan siapa nama untuk adik mereka ketika ia sudah lahir (padahal sebenarnya aku sudah tahu mereka akan menamakan adiknya dengan nama Ahra).
Luhan,bagaimanapun juga perlu istirahat yang cukup. Ia tidak boleh kelelahan. Tapi memang dasar keras kepala, ia selalu membantah dan masih saja bekerja. Aku sudah memperingatkannya berkali-kali, tapi ia tidak mendengar. Bahkan ketika aku mengatakannya dengan lebih tegas ia malah sengaja membantah perkataanku.
Tuhan, Apakah keras kepala ini disebabkan karena ia hamil? Hormon apa yang membuatnya keras kepala seperti ini?!
Aku mencintaimu Luhan, tapi bisakah kau menurut sedikit saja padaku?
Ini untuk kebaikanmu juga sayang.
Oh Shit, aku hampir menangis. Ini pasti pengaruh kehamilan.
Sehun menutup buku diarinya sambil menghela nafas. Ia berada diruang kerjanya sekarang, setelah bertengkar dengan Luhan. Sebenarnya ia tidak mau bertengkar, ia hanya ingin menegaskan pada Luhan kalau kondisinya tidak memungkinkan Luhan untuk bekerja dan pergi ke Daegu. Ia sedang hamil besar dan cuaca disana buruk. Salju lebat masih menutupi hampir seluruh wilayah Korea Selatan,termasuk Daegu. Tapi Luhan tetap bersikeras untuk berangkat dan Sehun sudah tidak bisa bersabar menghadapi suaminya yang keras kepala itu. Maka dari itu ia menyentak Luhan dan membuat suaminya itu semakin marah dan mengurung diri dikamar.
"Appa.." Suara kecil Ziyu membuat Sehun menoleh ke pintu ruang kerjanya.
"Hai sayang, kemari."
Ziyu berjalan mendekati Sehun dengan lemas, "Baba belum keluar kamar juga?"
Sehun mengangkat Ziyu keatas pahanya, "Belum. Baba juga belum makan malam."
Ziyu cemberut, ia lalu menyender didada Sehun dan memeluk Appanya itu. Sehun tersenyum sambil mencium dan mengelus kepala Ziyu. Jika sedang bermanja-manja seperti itu Ziyu mirip sekali dengan Luhan.
"Bagaimana ini?Baba biasanya menghabiskan 3 piring makan malam sekaligus, bagaimana kalau ia lapar dan memakan bantal Appa?"
Sehun sebenarnya ingin sekali tertawa mendengar kekhawatiran Ziyu, tapi saat anaknya menatap Sehun dengan polos dan mengatakan, "Bagaimana jika adik bayi lapar? Appa tolong bujuk baba untuk makan." Sehun tidak punya pilihan lain selain mengalah (lagi) dan membujuk Luhan untuk makan.
.
.
"Sayang?" Sehun kembali mengetuk pintu kamar dengan lembut, "Aku membawakanmu makanan. Buka pintunya please?"
Lagi-lagi tidak ada respon dari Luhan dan hal itu membuat Sehun menghela nafas, "Sayang, dengar, Maafkan aku. Maaf karena aku telah memarahimu tapi kau harus tahu aku melakukannya karena aku begitu menyayangimu dan little sunshine."
Sehun mendengar suara isakkan kecil. Sehun tahu benar Luhan 'lemah' dengan panggilan little sunshine untuk bayi yang dikandungnya.
"Sayang, kau harus makan ok? Aku,Haowen dan Ziyu khawatir. Kau juga harus memberi Little sunshine makan."
Akhirnya pintu dibuka, dan munculah Luhan, dengan perut yang membesar,pipi yang mengembung dan basah karena air mata serta mata yang sembab.
Sehun tersenyum tipis, "Lihat aku membuatkan makanan kesukaanmu!"
.
.
Luhan memakan makanannya dengan lahap. Sudah berjam-jam ia tidak makan membuatnya kelaparan.
Luhan mendongak ketika ia rasa sepasang mata Sehun sedang memperhatikannya.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanyanya dengan mulut penuh dengan makanan.
"Memangnya kenapa?" tanya Sehun lembut sambil mengelap makanan di sudut bibir Luhan, "Kau terlihat sangat mempesona aku tidak bisa melepaskan pandanganku darimu."
Luhan mendesis, "Jangan bohong! Berat badanku naik hingga 20kilogram dan aku terlihat jelek."
Sehun tertawa, "Sayang, Aku tidak peduli, kau tetap indah untukku."
Luhan tersipu malu, dan kembali memakan makanannya dengan pipi yang bersemu merah.
"Hey," panggil Sehun sambil mengangkat dagu Luhan, "Kau berjanji kan akan selalu berhati-hati dan menjaga kondisimu dan kondisi bayi kita?"
Luhan memejamkan mata,menikmati usapan lembut tangan Sehun dipipinya, "Ya aku berjanji."
Pagi itu sebelum berangkat kerja,Sehun menatap Luhan yang dengan serius sedang memakaikan dasinya.
"Sehun, Sudah berapa kali aku bilang? Berhenti menatapku seperti itu!"
"Kenapa aku tidak boleh menatap suamiku sendiri hmm?" tanya Sehun sambil mengecup hidung Luhan.
"Aku berangkat dulu ya? Kau jaga diri baik-baik. Aku sudah meminta Kyungsoo agar terus memperhatikanmu selama perjalanan dan kegiatan kalian di Daegu dan juga-"
Perkataan Sehun terhenti ketika bibir Luhan membekap bibirnya dengan ciuman yang lembut, "Ya aku mengerti tuan Oh. Jangan khawatir. Kau harus berangkat sekarang,kau hampir terlambat."
Sehun mengangguk lalu mengusap perut Luhan dan memberikannya sebuah ciuman sebelum ia berangkat menuju kantor.
.
.
Entah kenapa, hari itu konsentrasi Sehun selalu buyar. Perhatiannya selalu teralihkan. Ia juga tidak bisa menahan diri untuk menghubungi Luhan atau Kyungsoo terus menerus.
"Demi tuhan Sehun berhenti memperhatikan ponselmu kita sedang rapat dengan klien besar!" bisik Chanyeol yang duduk disebelah Sehun.
Sehun menggigit bibir bawahnya, ragu. Dan dengan terpaksa mematikan ponselnya.
Setelah rapat yang memakan waktu dua jam, Sehun dengan segera mengaktifkan kembali ponselnya. Ia menghela nafas ketika ia menerima pesan dari kyungsoo bahwa mereka sampai di daegu dengan selamat satu jam yang lalu.
Sehun hendak mengajak Chanyeol pergi membeli kopi ketika ponselnya berdering.
"Halo?"
"Sehun! Astaga! Sehun kenapa ponselmu tidak aktif hah?! Kau tidak tahu sudah berapa kali aku menghubungimu!"
Suara panik Kyungsoo membuat Sehun berhenti berjalan dan berdiri kaku.
"A-ada apa kyung?"
"Luhan! Lu-luhan terpeleset dan-"
Entah apalagi yang Kyungsoo katakan tapi Sehun tidak lagi memperdulikannya ketika ia dengan cepat berlari menuju basement dan mengendarai mobilnya menuju daegu dengan cepat.
Tiga hari setelah kejadian itu, Luhan keluar dari rumah sakit. Sehun tidak menjemputnya, dan Luhan mengerti kenapa. Kyungsoo, yang selama ini merawatnya mengantar Luhan ke rumah. Diperjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara, sangat hening didalam mobil Kyungsoo. Tapi lebih baik seperti ini,pikir Luhan, daripada Kyungsoo beerbicara dan membuat pertahanan Luhan runtuh.
Kyungsoo mengantarnya hingga pintu masuk dan memeluk Luhan erat sebelum berpamitan. Luhan masuk ke rumah dan kedua anaknya langsung menghampiri Luhan dengan wajah khawatir.
"Baba! Baba gwenchana?" tanya Haowen, "Kenapa baba tidak bilang baba akan pulang?"
Luhan hanya tersenyum lemah sambil mengelus rambut anaknya, "Baba sudah baik-baik saja."
Ziyu disatu sisi, mengelus-elus perut Luhan sambil menangis terisak.
"Little Sunshine," lirihnya.
Luhan tidak bisa lagi menahan tangisnya, ia harus segera menemui Sehun, menemui satu-satunya orang yang bisa melindunginya. Membuatnya merasa nyaman.
"Sayang, Baba harus menemui Appa dulu ya? Kalian kembali ke kamar dan belajar ok? Jangan khawatir baba baik-baik saja."
Luhan memeluk kedua anaknya sebelum ia naik keatas, dibantu oleh Haowen dan Ziyu.
.
.
Luhan menghela nafas berat sebelum akhirnya membuka pintu. Disana ada Sehun yang sedang berbaring dikasur, dengan lengan yang menutupi matanya.
Luhan mendekati Sehun dengan perlahan, lalu duduk disisi Sehun.
"Kenapa?" suara serak Sehun mengejutkan Luhan.
"Kenapa kau melakukan ini Luhan? Kenapa kau tega melakukannya?!"
"Sehun-ah, maafkan aku."
Sehun beranjak duduk, menatap tajam Luhan dengan matanya yang sembab dan berkantung, "Maaf?! Semudah itu kau meminta maaf setelah kau- Setelah kau membuat anak kita meninggal karena keteledoranmu!"
Luhan menangis ,perkataan Sehun membuat hatinya sakit. Ia terpeleset di jalanan yang licin karena Es bukan karena kesengajaan. Bukan kemauannya terjatuh dengan keras hingga membuat ia keguguran.
"Kenapa kau tidak pernah mendengarkan aku Luhan?! Kalau saja kau mendengarkanku,hal ini tidak akan terjadi.."
Sehun menangis terisak, hatinya hancur bukan main ketika dokter mengatakan ia kehilangan calon bayinya. Little Sunshine. Putri kecil yang ia tunggu-tunggu.
"Sehun aku-"
"Jangan mengatakan apapun. Aku tidak akan mendengarnya, seperti kau yang tidak pernah mendengarkan aku."
Sehun pergi meninggalkan Luhan dikamar sendiri. Meringkuk sambil menangis dengan keras.
Seharusnya Sehun tahu, bukan hanya ia yang merasa kehilangan.
.
.
Sehun berbaring dikasur Ziyu, memeluk anaknya dari belakang dan menenggelamkan isak tangisnya dipunggung Ziyu.
Ziyu hanya diam sambil menatap Haowen yang juga menatapnya dari seberang. Sehun tidak pernah lagi melakukan hal ini, memeluknya dan menenggelamkan wajahnya dipunggung Ziyu. Biasanya jika Sehun melakukan itu berarti Sehun sedang merasa sangat marah ataupun sangat sedih.
"Appa, jangan bersedih. Haowen,Ziyu dan Little Sunshine tidak ingin melihat appa menangis."
Sehun, mendengar Little Sunshine disebut merasakan hatinya terasa lebih sakit.
"Appa," Haowen akhirnya melangkah mendekat dan duduk disebelah Ziyu, "Appa pernah bilang, kalau berbagai masalah datang dengan suatu alasan,dengan maksud membuat kita bertambah baik dan bertambah kuat."
"Aku tahu Appa Kuat, dan Appa akan lebih Kuat jika Appa menghadapi masalah ini bersama-sama dengan kami. Bukan hanya Appa yang merasa kehilangan Little Sunshine. Aku dan Ziyu juga merasa kehilangan adik kecil kami. Tapi kami tahu Little sunshine tidak akan suka melihat kita semua bersedih. Little sunshine mungkin sedang bersedih disurga sana melihat Appa bersedih seperti ini,padahal ia pergi ke tempat yang lebih baik daripada disini."
Sehun menatap Haowen yang sedang tersenyum padanya. Ia lalu beranjak duduk untuk memeluk anak sulungnya itu dengan erat.
"Oh Sayang. Terima kasih. Appa akan mencoba kuat untuk kalian."
Haowen dan Ziyu memeluk Sehun erat membuat hati Sehun terenyuh.
"Appa, bukankah terasa ada yang kurang?" tanya Ziyu, "Biasanya aku dan Haowen hyung terhimpit oleh tubuhmu dan tubuh Baba ketika kita berpelukkan!"
Sehun terdiam menatap Ziyu dan Haowen.
Haowen tersenyum,"Bukankah sudah kubilang? Kita akan lebih kuat jika kita bersama?"
"Baba,"
Luhan menoleh, melihat seorang anak perempuan dengan rambut panjang dan gaun putih berdiri didepannya.
"Little sunshine? Oh astaga little sunshine kau selam-"
"Baba tidak menginginkanku!" teriak anak itu sambil menangis, "Baba membunuhku karena baba tidak menginginkanku!"
Anak kecil itu berlari meninggalkan Luhan dan Luhan mengejarnya.
"Tidak! Bukan seperti itu! A-aku menginginkanmu! Kembalilah!"
Luhan tersandung dan terjatuh. Dan ketika ia mendongak ia sudah melihat Sehun berada didepannya.
"Sehun.." lirihnya lemah.
"Kau membunuh anakku! Pembunuh!"
Sehun terlihat sangat marah sebelum ia berbalik meninggalkan Luhan.
"Sehun-ah!" teriak Luhan sambl terisak. Namun Sehun tidak berpaling dan terus pergi menjauh.
Maafkan aku Sehun.
Maafkan Baba Little sunshine.
.
.
"Luhan?"
Luhan membuka matanya pelan , tidak terasa ia tertidur kelelahan karena menangis.
"Sehun?"
Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat Sehun berada dihadapannya.
"Sehun-ah!" seru Luhan sambil memeluk Sehun, "A-aku membunuh anak kita. Maafkan aku. Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku, Kumohon Sehun. Aku mencintaimu."
Bahu Luhan berguncang dan tubuhnya bergetar ketika ia menangis.
Sehun membalas pelukan Luhan, "Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu sayang. Maafkan aku karena telah menyalahkanmu. Ini bukan salahmu Luhan."
"Ini salahku," isak Luhan, "Salahku. Little sunshine.."
"Ssstt.. Ini bukan salahmu," ucap Sehun mempererat pelukannya ditubuh Luhan, "Maafkan perkataanku. Aku mencintaimu Luhan. Maafkan aku."
Sehun kembali menangis,menenggelamkan wajahnya dibahu Luhan.
Tidak seharusnya ia menyalahkan Luhan.
Harusnya ia bersyukur, walaupun ia harus kehilangan Little sunshine, tapi ia tetap memiliki Luhan, Haowen dan Ziyu.
.
.
Luhan tertidur dipaha Sehun setelah ia menangis hingga kelelahan.
Sehun tersenyum sambil mengusap lembut kepala Luhan.
Ia lalu mengambil buku diary yang terletak dinakas lalu mulai menulis.
Little sunshine,
Kami memang tidak sempat merasakan kehadiranmu disini.
Bahkan kau belum sempat menerima kehidupan bersama kami.
Kau terlihat cantik, seperti yang telah kutebak.
Kau mempunyai bibir dan mata yang sama dengan babamu.
Walau kau tak sempat membukanya.
Anakku sayang,
Mungkin tuhan mengambilmu karena ia tahu, dunia tidak lebih baik untukmu daripada tempat disurga sana.
Terima kasih karena kau telah mengajarkan nilai-nilai tentang keluarga yang belum Appa ketahui sebelumnya.
Aku mengerti, adakalanya keluarga kita menemukan rintangan didalam kehidupan. Dan ketika kami disana, aku akan menjadi lebih kuat dan membantu Baba dan kakak-kakakmu untuk melangkah melewatinya.
Keluarga bukan untuk menyalahkan satu sama lain, tapi membimbingnya untuk menyelesaikan masalah itu bersama-sama.
Terima kasih karena kau telah membuat Appamu ini lebih kuat.
Little Sunshine, Appa tahu kau pasti sedang melihat kita dari atas sana.
Appa akan berusaha hidup dengan bahagia bersama Baba dan Kakak-kakakmu agar kau bahagia juga ketika melihatnya.
Kami menyayangimu.
My Little Sunshine.
End
WOOHH!
Gimana gimana?
xP
Jangan Lupa like FB page aku: SeLuminati
Follow tumblr: poemforselu
