.
Title: Run Devil Run
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing: SasukeXHinataXSai
Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll
Don't like? Don't read, please. ^^
.
Uchiha Sasuke: 16 tahun.
Hyuuga Hinata: 16 tahun.
Uchiha Sai: 17 tahun.
Hyuuga Neji: 17 tahun.
Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.
Supaya teman-teman tidak bingung, di cerita ini, Naruto, Gaara, Neji n Sasuke udah saling kenal karna dulu mereka satu sekolahan. Disini nanti Naruto beda kelas dgn Gaara n Sasuke. Semoga chapter ini tidak mengecewakan teman-teman. ^^
.
~~~~Selamat membaca (^.^)~~~~
.
*****RDR*****
Chapter 2
.
Taman Konoha…
Langit sore yang tadinya berwarna lembayung kini berubah menjadi gelap saat bola merah matahari menurun hingga ke balik gedung-gedung bertingkat. Terlihat gadis berambut indigo panjang berjalan menyusuri trotoar dengan langkah gontai. Sesekali ia berhenti, menghela nafas panjang sambil menatap langit malam yang diterangi oleh bulan dan bintang dengan cahaya yang gemerlapan. Gadis mungil berambut indigo itu kemudian melanjutkan berjalan di atas trotoar yang hanya diterangi oleh lampu jalan. Ia berhenti begitu sampai di halte bus, kemudian duduk menunggu kendaraan berukuran cukup besar itu datang menjemputnya.
Halte bus itu terlihat sepi, hanya ada dirinya, beberapa kursi halte berwarna biru, dan sebuah papan berbentuk bulat dengan gambar bus ditengahnya. Ia mengeluarkan ponsel berwarna ungu dari saku jaketnya, kemudian melirikkan mata lavender-nya , melihat angka-angka yang tertera pada layar ponsel. Pukul enam lewat dua puluh menit. Bus yang ditunggunya akan datang sepuluh menit lagi. Ia memasukkan kembali ponselnya.
Tap tap tap
Terdengar suara langkah kaki yang beradu dengan trotoar, mendekat kearah Hinata. Ia mengalihkan pandangan dari jalanan di depannya kearah seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Hinata tertegun, kedua mata lavendernya membelalak. Bibirnya membuka tak percaya. Ia mengamati sosok yang sekarang duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berada.
Pemuda yang kira-kira sebaya dengannya, berkulit putih, mata onyx dan rambut hitam.
Merasa diperhatikan, sang pemuda pun menoleh kearah Hinata.
"Kau!" teriak Hinata seraya berdiri dan tangannya menunjuk kearah pemuda berkulit putih itu.
Sang pemuda hanya menatap Hinata heran. "Apa aku mengenalmu?" tanyanya sopan.
"Dasar cowok mesum!" teriak Hinata frustasi, tangannya masih menunjuk kearah sang pemuda.
Kini giliran mata onyx pemuda itu yang membelalak, terkejut dengan perkataan gadis yang baru saja ditemuinya. Ia pun ikut berdiri.
"Tunggu… aku bahkan tidak mengenalmu. Jangan sembarangan," sergahnya.
"Tidak mengenalku? Kau lupa apa yang kau lakukan tadi sore di café?" Hinata memandangnya tak percaya.
Sang pemuda terlihat bingung, dahinya mengernyit. "Aku baru bertemu denganmu sekarang," serunya.
"Kau… jangan belaga lupa!" teriak Hinata lagi.
"Aku sudah bilang aku tidak mengenalmu. Kita baru bertemu sekarang. Jangan menuduh orang sembarangan, Nona!" pemuda itu menjawab dengan nada kesal.
"T-tapi… tidak mungkin! Kau pasti berpura-pura kan? Dasar menyebalkan!"
" Aku tidak mengenalmu!" kata pemuda itu dingin, tampaknya ia benar-benar kesal sekarang.
"Ta-tapi…" Hinata tidak melanjutkan kalimatnya, mata onyx pemuda itu memandangnya tajam. Ia kembali duduk di kursi halte, begitu pula dengan pemuda berkulit pucat tersebut.
Hening beberapa saat, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Hinata mencuri-curi pandang, mengamati pemuda itu dari atas sampai bawah. Memang wajahnya mirip, namun ada yang berbeda. Gaya rambut pemuda ini rapi, tidak seperti gaya rambut aneh si pemuda yang ditemuinya di café tadi.
"Rambutnya bukan pantat ayam, mungkin aku memang salah orang," gumam Hinata pelan. Sadar dirinya sedang diperhatikan, pemuda berambut gelap itu pun menoleh.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya pemuda itu dingin.
Hinata tersadar dari lamunannya. "Aaa… ma-maaf. Maafkan aku," jawabnya terbata-bata.
"Jangan menuduh orang sembarangan. Tidak semua orang yang kau temui adalah orang yang mudah memaafkan," kata pemuda itu lagi.
"I-iya… maaf," Hinata hanya bisa menunduk, dalam hal ini dirinya memang salah.
Beberapa saat kemudian, terlihat dua buah cahaya bulat bergerak mendekati mereka. Sebuah bus berhenti di depan mereka dan pintunya terbuka. Pemuda itu segera melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam bus. Tidak mau ketinggalan bus, Hinata pun mengikuti pemuda itu masuk.
Keadaan bus ternyata penuh dan padat, membuat para penumpang berdesak-desakkan. Hinata tak bisa memegang apa-apa, membuat keseimbangannya tak beraturan. Bus yang tiba-tiba melaju membuat Hinata hampir terjatuh. Sebuah tangan dengan sigap melingkari pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh. Hinata menatap sang penolong, yang ternyata adalah pemuda yang tadi teriyaki mesum. Pemuda itu lalu menarik Hinata untuk berdiri di dekat jendela, sedangkan dirinya berdiri di depan Hinata, menutupinya.
"Jangan berpikir aku mesum lagi, ini supaya kau tidak jatuh," ujarnya saat merasakan tatapan heran Hinata terarah padanya.
"Um… a-arigatou," jawab Hinata lirih.
Wajah Hinata sedikit memerah, dia tertunduk malu. Jaraknya sangat dekat dengan sang pemuda berkulit pucat itu. Hinata memang bertubuh mungil, tingginya hanya mencapai dada pemuda itu. Ia sedikit terkejut mendapati bahwa pemuda itu menolongnya, mengingat apa yang ia perbuat beberapa saat lalu. Tiba-tiba meneriakinya mesum, untung saja keadaan halte itu sepi.
'Dia ternyata orang baik,' kata Hinata dalam hati. 'Aku menyesal memanggilnya mesum.'
"Siapa namamu?" pertanyaan dari pemuda tersebut menyadarkan Hinata dari lamunannya.
"Ah… H-Hyuuga Hinata ," ucap Hinata sambil mengarahkan pandangannya menatap sang pemuda.
Pandangan mereka bertemu. Pemuda itu menatap Hinata datar. Hinata segera menundukkan kepalanya lagi. Wajahnya semakin memerah.
"Hyuuga ya… Kau kenal Neji?" tanyanya lagi.
"Oh… dia kakakku. Bagaimana kau bisa mengenal Neji-nii?"
"Dia teman sekelasku," jawab sang pemuda.
Pembicaraan mereka berhenti sampai disitu. Hinata memang tidak biasa berbicara dengan lawan jenis, apalagi orang asing. Tidak terasa bus sudah sampai di tempat tujuan Hinata.
"Senpai, aku harus turun. Terimakasih sudah menolongku, dan maaf karena tadi tidak sopan," ucap Hinata masih sambil menundukkan kepalanya.
"Ya," pemuda itu menyingkir dari depan Hinata, memberikan jarak agar gadis itu bisa turun.
Hinata bergegas menuju pintu keluar bus. Sebelum turun, ia membalikkan badan dan menoleh kearah sang pemuda.
"Nama Senpai siapa?" tanyanya.
"Uchiha Sai."
Hinata tersenyum. "Arigatou," ucapnya lalu segera melangkah turun dari bis.
.
*****RDR*****
.
Konoha Gakuen High, 08.00 am
Suasana pagi hari di kelas 2-4 tampak gaduh seperti biasa. Terlihat beberapa siswa sedang mengerjakan tugas yang seharusnya mereka kerjakan di rumah. Di sisi kelas yang lain terlihat sekelompok siswa sedang mengobrol dengan seru.
"Apa kalian sudah dengar? Katanya akan ada dua anak baru di kelas kita," ujar salah seorang siswi berambut merah muda dengan riang.
"Benarkah Sakura? Laki-laki atau perempuan?" siswi lain berambut coklat gelap dengan model rambut cepol menimpali.
"Entahlah. Semoga tampan kalau ada yang laki-laki," ujar siswi yang bernama Sakura tersebut.
"Dan semoga cantik kalau perempuan," ujar seorang siswa berambut coklat dengan tato segitiga terbalik di pipinya.
"Dasar kau Kiba, mata keranjang," sahut gadis bercepol dua tadi sambil memutar kedua bola matanya.
"Hei Tenten, kalian perempuan juga sama saja kan? Suka sekali melihat laki-laki tampan. Hah…" ujar Kiba membela diri.
"Tidak… buatku, lelaki tampan hanya ada satu," Tenten tampak merona saat mengatakannya.
"Ya… ya… kami tahu. Dasar maniak Neji!" Sakura ikut menimpali.
"Ha? A-aku tidak begitu…"
Pembicaraan mereka terhenti begitu bel masuk berbunyi. Suasana kelas mendadak menjadi tenang. Tampak seorang laki-laki berambut perak dengan masker menutupi wajahnya berjalan santai menuju ke dalam kelas. Di belakangnya seorang pemuda berambut raven berjalan mengikuti masuk ke dalam kelas.
"Kakashi-sensei, apa dia siswa baru?" teriak Kiba dengan kencang.
Suasana kelas kembali gaduh, terdengar bisik-bisik para murid disana-sini. Laki-laki berambut perak yang ternyata guru tersebut memberi isyarat agar para murid tenang, kelaspun menjadi hening.
"Baiklah, seperti yang kalian lihat. Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru," kata Kakashi Hatake, guru berambut perak tersebut seraya mengalihkan pandangannya kepada siswa baru disampingnya. "Perkenalkan dirimu," lanjutnya.
"Uchiha Sasuke," ucap Sasuke dengan ekspresi datar.
Bisik-bisik kembali terdengar, kali ini datang dari gadis-gadis yang terpesona akan ketampanan Sasuke. Sedangkan yang dikagumi hanya memasang tampang bosan.
"Tenang semuanya. Baiklah Uchiha, kau duduk di dekat Sabaku Gaara. Sabaku Gaara, tunjukkan dirimu!" perintah Kakashi.
Pemuda berambut merah dengan tato kanji Ai di dahi mengangkat tangannya dengan malas. Sasuke berjalan menghampirinya kemudian duduk di bangku sebelah pemuda yang dipanggil Gaara itu.
"Lama tak jumpa Uchiha,"
"Tch… Sabaku," sahut Sasuke sambil menyeringai tipis.
.
*****RDR*****
.
Konoha International Airport , 10.00 am
"Tou-san, Hanabi… jaga kesehatan ya… kami akan sangat merindukan kalian," ucap Hinata saat ayah dan adiknya bersiap memasuki pemeriksaan.
"Nee-chan juga ya… sering-sering telepon aku," sahut adiknya. Hanabi masih kecil, sehingga ayahnya bersikeras membawanya ke Korea, padahal ia ingin tetap di Jepang.
"Neji, jaga adikmu ya. Baik-baiklah dirumah," Hiashi berkata sambil menatap lurus kearah Neji.
"Iya Tou-san. Hati-hati," jawab Neji.
Hinata memandang sendu kepergian ayah dan adiknya. Rumahnya pasti akan benar –benar terasa sepi sekarang. Ia jadi merasa sedih.
"Sudahlah Hinata, kau bisa mengundang temanmu kalau kau kesepian," ujar Neji sambil menatap lembut adiknya. Hinata membalasnya dengan anggukan. Kakaknya itu selalu tahu apa yang ada di pikirannya.
"Jadi kita akan langsung menuju sekolah eh?" tanya sang kakak lagi.
"Iya Nii-san. Aku tidak sabar melihat seperti apa sekolahku nanti," ucap Hinata sambil tersenyum lembut.
Merasa urusannya sudah selesai, mereka segera melangkahkan kaki menyusuri lobi menuju keluar bandara.
.
*****RDR*****
.
Konoha Gakuen High, 10.30 am
-Hinata POV-
Akhirnya sampai juga kami di depan gerbang Konoha Gakuen High. Dilihat dari luar, sekolah ini lumayan luas. Disana aku melihat dua satpam sedang berjaga. Setelah menunjukkan kartu identitas kendaraan, Neji-nii segera menuju ke tempat parkir untuk memarkirkan Mitsubishi Eclipse biru miliknya. Sepertinya ini waktu istirahat sekolah, dari dalam mobil aku bisa melihat murid-murid yang berlalu-lalang. Aku segera keluar dari mobil.
"Kau tidak apa-apa Hinata?" tanya Neji-nii sambil berjalan mendekatiku. Ia tahu kalau aku tipe orang yang mudah gugup dan agak sulit menyesuaikan diri di lingkungan baru.
"Iya Nii-san. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku tak apa-apa," jawabku sambil tersenyum.
"Baiklah. Kita harus ke ruang kepala sekolah," ujar Neji-nii seraya menarik tanganku agar berjalan mengikutinya.
Kami masuk ke dalam gedung sekolah. Aku memperhatikan sekolah baruku ini. Bangunannya terlihat mewah, sepertinya banyak anak orang kaya yang bersekolah disini. Aku dan Neji-nii berjalan menyusuri koridor sekolah. Di koridor, banyak sekali murid-murid yang sedang berbincang-bincang, tertawa dengan keras, dan lain sebagainya. Saat kami melewati mereka, banyak yang memperhatikan kami. Mungkin karena aku tidak memakai seragam. Kepindahanku mendadak, sehingga banyak yang belum dipersiapkan. Tapi setelah kuperhatikan, rupanya mereka memperhatikan Neji-nii. Terlihat dari wajah mereka yang blushing sambil berbisik-bisik dan memandang kakakku. Ternyata kakakku populer juga disini, kukira hanya di kalangan ibu-ibu kompleks rumah kami saja.
Ketika sampai di depan ruangan bertuliskan Headmistress, Neji-nii segera mengetuk pintu dengan keras. Aku mengernyitkan dahi sambil menatap kearahnya.
"Kan tidak sopan kalau seperti itu Nii-san," tegurku.
"Kepala sekolah disini hobi tidur Hinata, kalau tidak keras beliau tidak akan dengar," jelas Neji-nii.
"Masuk," suara wanita yang cukup keras terdengar. Aku mengikuti Neji-nii masuk ke dalam ruang kepala sekolah.
"Oh, Hyuuga. Selamat datang di Konoha Gakuen, aku Tsunade, kepala sekolah," kata seorang wanita cantik berambut pirang.
"Terimakasih, saya Hyuuga Hinata," kataku memperkenalkan diri.
"Baiklah, ini jadwalmu, kunci loker dan seragam-seragammu. Kulihat kau belum siap belajar hari ini, tidak apa. Kau boleh melihat-lihat sekolah dulu," kata Tsunade-sensei seraya menyerahkan selembar kertas, kunci dan kantong plastik besar berisi seragamku.
"Terimakasih, Tsunade-sensei." Kami pun pamit dan berjalan keluar ruangan.
.
.
Setelah meletakkan barang-barangku di mobil, aku dan Neji-nii memutuskan untuk berkeliling sekolah. Konoha Gakuen ini ternyata memang luas. Aku menatap bangunan yang berdiri kokoh di depanku, bangunan tingkat tiga bercat putih. Kata Neji-nii, itu adalah gedung utama untuk kegiatan belajar-mengajar. Kemudian aku melihat gedung tingkat dua yang juga berwarna putih. Disana terdapat papan bertuliskan School Club.
"Gedung yang itu, untuk kegiatan klub," kata Neji-nii menjelaskan.
"Oh… " jawabku sambil mengangguk.
Gedung klub dan gedung utama dipisahkan oleh semacam taman sekolah. Sebuah taman berbentuk persegi yang terlihat asri dengan semak-semak yang tertata rapi sebagai pagar. Banyak tanaman bunga yang cantik menghiasi taman tersebut. Terdapat empat gazebo, bangunan sederhana yang difungsikan untuk tempat bersantai, berukuran 2x2 di masing-masing pojok taman. Dipusat taman terdapat kolam air mancur berukuran mini yang menambah keindahan taman. Terdapat juga beberapa pohon rindang yang membuat suasana taman semakin teduh. Aku benar-benar kagum melihat taman sekolah ini.
"Neji," sebuah suara membuyarkan lamunanku. Aku segera memalingkan wajahku kearah sumber suara yang memanggil kakakku.
"Hinata… hai" sapanya padaku saat melihatku.
Aku tak menyangka akan bertemu dengannya secepat ini. Dia, pemuda tampan yang aku temui tadi malam, Uchiha Sai.
"Hai… Senpai," jawabku pelan.
"Kalian saling kenal?" tanya Neji-nii keheranan.
"Tadi malam Senpai ini yang menolongku saat mau terjatuh di bus Nii-san," jawabku cepat, takut kalau Sai-senpai akan menceritakan kejadian di halte.
"Oh…" Neji-nii mengangguk.
"Senang berjumpa lagi denganmu Hinata."
"Aaa… iya Senpai. A-aku juga, senang berjumpa lagi," jawabku dengan gugup.
"Neji, Shikamaru dan Temari mencarimu. Mereka menunggu di ruang OSIS, sepertinya sesuatu yang sangat penting," kata Sai-senpai pada kakakku.
"Hm… kalau begitu, kau bisa menemani adikku keliling sekolah? Dia murid baru disini."
"Baiklah," jawab Sai-senpai singkat.
"Hinata, kalau urusanku sudah selesai, akan kutelpon," aku hanya mengangguk. Setelah itu Neji-nii pergi meninggalkan kami, menuju gedung klub.
"Jadi kau akan bersekolah disini, eh?" tanya Sai-senpai sambil tersenyum, mengarahkan mata onyx-nya ke mata lavender-ku.
Aku terperangah melihat senyumnya, ia terlihat begitu tampan. Dengan senyuman yang tersungging di bibirnya, membuat jantungku berdetak lebih cepat selama beberapa saat.
"Hinata?" tanyanya lagi karena aku tak kunjung menjawab.
"Aaa… i-iya…" jawabku salah tingkah. Aku segera menunduk, berusaha menutupi wajahku yang sepertinya sudah memerah.
Sai-senpai hanya tertawa.
"Kalau begitu, ayo kita segera keliling sekolah," ajaknya sambil masih tersenyum. Aku membalas senyumnya dan mengangguk, kemudian berjalan mengikutinya.
Sepertinya, bersekolah disini akan menyenangkan.
-Ends of Hinata POV-
.
*****RDR*****
.
Sementara itu, di atap Konoha Gakuen High…
"Hei lihat! Sepertinya ada anak baru lagi," teriak Naruto sambil menunjuk kebawah, tepatnya kearah gadis berambut indigo yang sedang mengobrol dengan pemuda berambut coklat panjang.
"Mana?" tanya Gaara yang berdiri di samping Naruto.
"Itu yang bersama Neji," jawab Naruto, tangannya masih menunjuk kearah Hinata.
"Apa Neji punya adik?" tanya Gaara lagi.
"Entah, tapi mereka mirip sih."
Sasuke yang sedang berbaring tiba-tiba bangkit begitu mendengar nama Neji disebut. Rivalnya di klub karate semasa sekolah menengah pertama. Ia pun melangkahkan kakinya mendekati kedua temannya yang berdiri di dekat pagar pembatas atap sekolah itu. Mata onyx-nya tampak mencari-cari sosok yang dimaksud Naruto. Sasuke mendecih begitu melihat sosok Neji. Namun ia langsung menyeringai begitu menemukan sosok gadis berambut indigo yang berdiri disamping rivalnya tersebut.
"Bukankah itu Sai?" ujar Naruto saat mereka melihat seseorang yang mirip dengan Sasuke menghampiri Neji dan Hinata.
Raut wajah Sasuke mengeras, tiba-tiba rasa kesal memenuhi dirinya.
"Aku pergi dulu," kata Sasuke dingin sambil berlalu meninggalkan kedua temannya.
Naruto menatap Gaara. "Sepertinya mereka belum akur," ujarnya.
Gaara hanya mengangkat bahu, tidak mau ambil pusing dengan sesuatu yang bukan urusannya.
.
*****RDR*****
.
Di belakang gedung utama KGH…
"Ini adalah lapangan untuk sepakbola, disampingnya itu lapangan untuk pelajaran olahraga, sedangkan yang di sebelah sana lapangan basket," ujar Sai menjelaskan pada Hinata.
"Aaa, apa tidak ada lapangan indoor senpai?"
"Lapangan indoor-nya hanya lapangan tenis dan bulutangkis," sahut Sai.
Hinata membalasnya dengan anggukan. Mereka memasuki lapangan sepakbola, melihat beberapa siswa yang sedang bermain sepakbola di tengah lapangan. Sedangkan siswi-siswi tampak berdiri di pinggir lapangan sambil berteriak-teriak menyemangati. Tiba-tiba para siswi itu berhenti berteriak, kemudian mengarahkan pandangan mereka pada seseorang yang berjalan kearah Hinata dan Sai berdiri.
"Siapa itu? tampan sekali… " pekik salah satu siswi.
"Iya… ketampanannya tingkat dewa!" sahut siswi yang lain.
"Dia seperti pangeraaan… " Perhatian gadis-gadis itu benar-benar teralih sepenuhnya.
Melihat siswi-siswi histeris tersebut, membuat Hinata dan Sai menoleh kearah yang dimaksud gadis-gadis itu.
Mata lavender Hinata membulat, membelalak kaget. Ia memandang pemuda yang kini berada di hadapannya dengan wajah yang sangat terkejut. Raut wajah Sai juga menampakkan keterkejutan.
Sedangkan pemuda di hadapan mereka hanya mengeluarkan seringainya.
"Kita bertemu lagi, Nona," ujarnya masih dengan menunjukkan seringai khas miliknya. Mata onyx-nya menatap lurus ke lavender Hinata.
"Sasuke," ucap Sai sambil memandang Sasuke dengan pandangan terkejut sekaligus senang.
Pandangan Sasuke beralih pada Sai. "Lama tak jumpa, Aniki."
Mulut Hinata tampak menganga mendengar apa yang diucapkan pemuda berambut raven itu.
"Kalian… saling… kenal?"
.
~~~~TBC~~~~
.
Haaa… akhirnya kelar… =,=
Kepanjangan ndak ya? Adegannya aneh ndak? Fufu,, gomen saya masih kurang pengalaman. T_T
Oia,,, ini judul Run Devil Run memang saya ambil dari mvnya SNSD-RDR. Heheee :DD . Itu GB korea yg paling saya cintai. Istilah Lucifer juga taunya dari mvnya Shinee-lucifer. Hehe (^.^)
Adakah yang kpop lover juga? #abaikan
Baiklah… sekian dulu… seperti biasa, bagi reader yang berkenan memberikan review, kritik, saran, konkrit, dll saya berterimakasih sekali. o(_ _)o
Untuk silent reader juga terimakasih banyak . (^,^)
Special thanks to: Mamizu Mei, Deani Shiroonna Hyouichiffer, Lollytha-chan, MB Kise-chan, mery chan, sasuhina always in my heart, hina-chan, Azalea Ungu, ulva-chan, Asa no hikari, fyori nogi, Firah-chan, like hinata, n, Zaskey-chan, Lilith Noir Lawliet, keiKo-buu89, uchihyuu nagisa, Nina . Tanalina, Nerazzuri, Kimidori hana, Ai HinataLawliet, Hizuka Miruyuki, Lady Spain, sora no aoi, sabaku no ligaara non log in, tiffany90, harunaru chan muach, Miyuki D Blue, Kino lolly, Flamer baek hati, chibi tsukiko chan, Thi3x, Sukie 'Suu' Foxie, Haru3173, [no name], Menik SukaSasuHina. Arigatou gozaimasu teman-teman, senpai-senpai semua… itu membuat saya semangat update. ^_^
.
Mind to RnR? m(._.)m *bow* arigatou
.
