.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinataxSai

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 3

.

Happy reading ^^

.

.

Konoha Gakuen

"Sasuke-kun… benarkah kau datang dari luar negeri?"

"Sasuke-kun, bagaimana kalau nanti siang kita karaoke?"

"Iya… pasti menyenangkan!"

"Mau tidak Sasuke-kuuuun?"

"BERISIK!"

Perkataan sang pemuda berambut raven itu berhasil membuat suara-suara centil nan manja dari siswi-siswi yang mengerumuni dirinya berhenti. Namun ternyata hal itu tidak bertahan lama, beberapa menit kemudian terdengar lagi suara-suara para gadis yang terpesona oleh feromon yang dikeluarkan sang pemuda yang bernama Sasuke itu.

Kedatangan Uchiha Sasuke sebagai siswa pindahan sukses membuat heboh Konoha Gakuen. Dalam waktu sehari saja, kelas 2-4 berhasil mendapatkan gelar sebagai kelas paling berisik. Ketampanannya dan sifat angkuhnya justru membuat banyak kaum hawa di sekolah terpesona.

Hinata mengedarkan pandangannya ke kelas barunya. Ia tidak menyangka akan satu kelas dengan Sasuke. Dipandanginya pemuda yang sekarang sedang dikelilingi siswi-siswi itu. Tadinya Hinata penasaran siapa anak yang duduk di bangku itu, karena sejak pagi sebelum pemilik bangku datang banyak siswi yang sudah mengerumuni bangku tersebut. Ada siswi yang memberikan hadiah dengan meletakkannya di laci, bahkan ada juga yang membersihkan meja dan kursi tersebut.

Hinata masih mamandangi Sasuke dengan heran. Sebenarnya apa bagusnya si Uchiha itu? Banyak sekali yang mengaguminya. Ia benar-benar bingung. Memang Sasuke itu lumayan tampan —ralat— sangat tampan sebenarnya, tapi di mata Hinata ketampanannya luntur karena kearogansiannya.

Sasuke menoleh ke arah Hinata dan mendapati Hinata sedang memandangnya dengan kedua alis yang bertaut. Sasuke menyeringai ke arah Hinata, membuat Hinata langsung mengalihkan pandangannya.

Hinata yang tertangkap basah sedang mengamati Sasuke langsung mengalihkan pandangannya keluar jendela. Matanya menerawang kebawah, melihat siswa-siswa lain berkeliaran di halaman sekolah. Hinata menjadi teringat kejadian mengejutkan kemarin siang.

Flashback

"Kalian… saling… kenal?"

"Hinata… dia adikku," kata Sai pelan.

"Adik tiri," ujar Sasuke dingin.

"Sasuke... kapan kau kembali? Kenapa tidak memberi kabar? Kau tinggal dimana?" tanya Sai sambil mendekati Sasuke.

"Apa pedulimu?" sahut Sasuke masih dengan nada yang dingin.

"Sasuke…" Sai memandang sedih kearah Sasuke.

"Aku-masih-membencimu!" ucap Sasuke sambil berlalu.

Sai hanya menatap kepergian Sasuke nanar. Ia mengalihkan pandangannya, berpaling menatap Hinata yang sedari tadi hanya diam.

"Maaf, Hinata. Kau harus menyaksikan hal yang tidak mengenakkan begini," kata Sai dengan wajah sedikit muram.

"Aaa… tidak apa-apa, Senpai."

"Kalau begitu, ayo kuantar ketempat Neji. Sebentar lagi dia pasti selesai," ujar Sai kemudian berjalan keluar lapangan. Hinata hanya menangguk dan mengikutinya.

Ends of flashback

Hinata menghela nafas panjang. Ia penasaran dengan Sasuke, sepertinya ia punya masalah keluarga yang tidak bisa dibilang ringan. Sasuke pun tidak tinggal dengan keluarganya. Tampaknya Sasuke juga benar-benar membenci Sai. Mereka saudara tiri, tapi mirip seperti anak kembar.

'Banyak sekali hal yang membuatku penasaran,' gerutu Hinata dalam hati.

"Hinata-chan… kau dulunya sekolah di sekolah putri ya?" sebuah suara membuat Hinata tersadar dari lamunanya. Ia menoleh kearah siswa yang duduk di sebelahnya, pemuda berambut coklat dengan tato segitiga merah di kedua pipinya.

"I-iya… Inuzuka-san," jawab Hinata lembut.

"Panggil saja aku Kiba," ujar pemuda itu sambil mengedipkan salah satu matanya.

"Ah… iya," sahut Hinata sambil mengangguk.

"Ne… kudengar siswi disana cantik-cantik dan manis-manis ya?" tanya Kiba seraya mengeluarkan cengiran lebarnya.

"A-ah… entahlah…"

"Pantas saja kau juga ma-"

BRUK

Belum sempat Kiba menyelesaikan kalimatnya, sebuah tas melayang dan jatuh tepat diatas meja Kiba. Dengan wajah kesal Kiba segera berdiri, bermaksud memberi pelajaran pada orang yang mengganggu percakapannya dengan Hinata. Namun nyalinya menciut begitu melihat Sasuke berjalan dengan aura membunuh kearahnya.

Hinata yang polos hanya diam melihat kejadian itu.

"Pergi, Inuzuka! Aku mau duduk disini!" perintah Sasuke dengan tatapan tajam.

"Ta-tapi Uchiha, tempat duduk kan diatur oleh guru," kata Kiba berusaha mempertahankan posisinya.

"Kubilang pergi ya pergi! Cepat! Atau harus kupaksa?!" perintah Sasuke lagi.

"Ba-baiklah… aku pindah." Kiba bergegas mengemasi barangnya dan pindah ke bangku lain.

"Gaara! Duduk di depan Hinata!" seru Sasuke sambil menatap Gaara.

"E-eeh?" Hinata menatap Sasuke heran.

"Untuk apa?" tanya Gaara dengan tampang malas, walaupun begitu ia tetap berjalan menuju kearah Sasuke.

"Bocah! Kau pindah ke tempat Gaara!" perintah Sasuke pada siswa yang duduk di depan Hinata.

"He-hei! A-apa-apaan kau? Kenapa kalian tiba-tiba pindah?" tanya Hinata yang masih bingung.

Sasuke menatap Hinata sejenak, kemudian menyeringai.

"Kursi disana terlalu depan, kalau tidur gampang ketahuan guru."

Hinata menatap Sasuke tak percaya. "T-tapi kan posisi disini sejajar dengan tempat dudukmu."

Sasuke mencondongkan tubuhnya mendekati Hinata dan berbisik, "Berisik! Kau ingin aku memberitahu semua orang bahwa kamu mengambil gambarku diam-diam?"

Hinata merasakan hawa membunuh tertuju padanya. Benar saja, kini fan-girls Sasuke tengah menatapnya dengan pandangan yang menusuk. Seandainya tatapan bisa membunuh, pasti Hinata sudah mati. Ia segera bergerak mundur dan menundukkan wajahnya.

'Dia iblis! Dia iblis!' rutuknya dalam hati.

Sasuke hanya menyeringai sambil terus Gaara tampak menikmati kelakuan aneh temannya itu, tidak biasanya Sasuke tertarik duduk bersebelahan dengan gadis.

.

*****RDR*****

.

Waktu terasa begitu lama bagi Hinata. Ia benar-benar berharap bel yang berbunyi 5 menit yang lalu adalah bel pulang sekolah. Duduk di sebelah orang macam Sasuke membuatnya kesusahan. Sepanjang pelajaran Sasuke tidak berhenti mengganggunya, entah sengaja menjatuhkan pensil atau penghapus di dekat meja Hinata, atau berpura-pura tidak membawa buku Matematika sehingga mereka berdua harus berbagi. Hinata jelas-jelas melihat Sasuke membawa buku itu ditasnya, tapi entah apa yang membuat Sasuke berbohong seperti itu. Tapi anehnya, saat sensei menyuruh Sasuke untuk mengerjakan soal di papan tulis, jawabannya sempurna. Hinata benar-benar dibuat terkejut oleh pemuda itu. Setahunya, Sasuke sama sekali tidak fokus.

Hinata menghela nafas panjang. Akhirnya sekarang ia bisa terbebas dari makhluk adam berambut raven itu. Disinilah Hinata berada sekarang, ruangan di sekolah yang menyediakan berbagai makanan dan minuman untuk siswa maupun karyawan sekolah yang lapar, atau biasa disebut kantin. Beruntung dua teman barunya —Tenten dan Sakura— berbaik hati mau mengajaknya makan di kantin, sehingga ia bisa menghindari Sasuke.

"Hinata-chan, kau sudah memesan makanan?" tanya Sakura yang baru saja selesai memesan makanan.

"S-sudah, Sakura-san," jawab Hinata pelan.

"Tidak perlu seformal itu dengan kami, Hinata," kata Tenten sambil memainkan sedotan di gelasnya yang berisi orange juice.

Hinata mengangguk senang. Tidak lama kemudian makanan pesanan Hinata datang.

"Arigatou," kata Hinata lembut pada waitress mengantarkan makanannya.

"Ne, Hinata-chan. Kulihat kau akrab dengan Sasuke… kalian ada hubungan apa?" tanya Sakura dengan mata menyipit dan tersenyum menggoda.

"Aaa… ti-tidak seperti yang kalian bayangkan…" kata Hinata sambil menunduk. Sasuke itu benar-benar menyebalkan, pikirnya.

"Hinata, apa Neji-senpai sudah punya pacar?" kini giliran Tenten yang menanyai Hinata.

"Sepertinya belum," jawab Hinata sambil menatap Tenten heran. "Tenten-chan… k-kau menyukai kakakku?" tanyanya curiga.

"A-ah… tidak juga," jawab Tenten sambil salah tingkah.

"Kapan-kapan kami main kerumahmu boleh tidak Hinata-chan?" tanya Sakura sambil mengedipkan matanya pada Tenten.

"Tentu saja," jawab Hinata seraya tersenyum.

"Hei. Itu Sasuke! Tapi kenapa dia selalu bersama Naruto dan Gaara, ya?" ujar Sakura seraya menunjuk kearah pintu masuk kantin.

Hinata menoleh kearah yang dimaksud Sakura. Ia melihat tiga murid laki-laki sedang berdiri di pintu masuk kantin. Hinata tahu dua orang diantara mereka , siapa lagi kalau bukan Sasuke dan Gaara. Namun ia belum pernah melihat pemuda berambut pirang jabrik yang berdiri diantara Gaara dan Sasuke.

"Yang pirang itukah Naruto?" tanya Hinata pada kedua temannya dan dijawab dengan anggukan. "Me-memangnya kenapa dengan mereka?"

"Mereka itu semacam troublemaker di sekolah," jawab Sakura pelan. Walaupun termasuk pembuat onar di sekolah, Naruto dan Gaara punya banyak penggemar.

Naruto memang tidak memiliki wajah serupawan Sasuke, tapi pemuda itu sangat manis. Ditambah lagi dia adalah kapten basket andalan Konoha Gakuen, itu membuatnya memiliki banyak fans. Sedangkan Gaara, dengan wajah tampan, sifatnya yang dingin dan termasuk atlet renang terbaik sekolah tentu membuatnya juga mempunyai banyak penggemar.

Pandangan Hinata bertemu dengan Naruto. Melihat adik Neji —seniornya sejak SMP— itu memperhatikannya, pemuda itu segera menghampiri meja mereka Hinata.

"Oh! Hei anak baru! Namamu Hinata kan? Salam kenal, aku Uzumaki Naruto! Panggil saja Naruto!" seru Naruto setelah duduk disamping Hinata. Sedangkan Hinata hanya menunduk sejak mengetahui Naruto menghampirinya.

"Haaahh, dia datang…" keluh Sakura.

"Sa-salam kenal…" jawab Hinata sambil menatap takut-takut pada pemuda hyperaktif disampingnya itu.

"Kau membuatnya takut, Naruto!" suara berat milik Gaara membuat Naruto mengerucutkan bibirnya.

Hinata tersenyum melihat pemuda berambut kuning jabrik itu merengut. Tanpa disadarinya, sepasang mata oniks Sasuke mengamatinya sedari tadi.

"Akhirnya makananku datang!" pekik Sakura senang saat melihat waitress kantin menghampiri mereka. Saat pelayan tersebut hendak meletakkan ramen Sakura, tidak sengaja ada murid yang menabraknya dari belakang membuat ramen panas itu tumpah di rok Hinata.

DUK

"Kyaa!" teriak Hinata saat merasakan paha kirinya terkena sesuatu yang panas.

"Ma-maafkan aku… aku tidak sengaja," ucap waitress itu panik.

"I-iya… tidak apa, hanya sedikit panas," ucap Hinata sambil tersenyum, berusaha menahan rasa sakitnya.

"E-eeh?" Hinata merasakan ada sepasang tangan mengangkat tubuhnya.

Tanpa berkata apa-apa Sasuke langsung menggendong Hinata ala bridal style dan membawanya menjauh dari kantin. Semua orang di kantin yang menyaksikan adegan itu hanya bisa menganga.

"Wow," ucap Naruto dan Gaara bersamaan.

.

*****RDR*****

.

Sasuke membawa Hinata ke kamar mandi terdekat. Setelah menurunkan Hinata di dekat keran air, ia segera menaikkan sedikit rok Hinata dan mengalirkan air dari keran ke kaki Hinata yang terkena ramen panas.

"Kyaa mesum!" pekik Hinata seraya berusaha melepaskan kakinya yang dipegang Sasuke.

"Bodoh! Kalau terkena air panas, harus segera didinginkan!" seru Sasuke sengit.

"E-eh…" Hinata hanya bisa tertegun melihat Sasuke yang merawat lukanya dengan serius. Ia tidak menyangka Sasuke mau berbaik hati padanya.

"Apa masih sakit?" tanya Sasuke sambil menatap Hinata.

"Ti-tidak… " ucap Hinata pelan sambil memalingkan wajahnya.

"Kyaa! Kau mau membawaku kemana lagi?" teriak Hinata saat Sasuke kembali menggendongnya.

"Be-ri-sik! Kau mau ke kelas tidak?!" kata Sasuke dingin, membuat Hinata terdiam.

.

*****RDR*****

.

Hinata berjalan santai di koridor sekolahnya, bel pulang sekolah sudah berbunyi sedari tadi tapi ia baru keluar dari kelas sekarang. Ia tidak suka pulang terburu-buru, karena pasti koridor akan ramai dan ia tidak bisa berjalan dengan santai. Sakura dan Tenten sudah pulang sedari tadi. Sasuke dan Gaara langsung menghilang begitu bel berbunyi, sepertinya untuk menghindari para fan-girls mereka.

"Hinata!"

Langkah Hinata terhenti begitu mendengar namanya dipanggil. Hinata mengangkat wajahnya, menatap kearah orang yang memanggilnya.

"Oh… h-hai, Sai-senpai," ucap Hinata sedikit gugup.

"Neji menyuruhku mengantarmu pulang, dia ada rapat OSIS," kata Sai setelah berdiri di hadapan Hinata. Sai memang dekat dengan Neji, kakak Hinata. Mereka selalu satu kelas dari tahun pertama di Konoha Gakuen.

"Aaa… b-baiklah, Senpai," ujar Hinata sambil tersenyum. Dalam hati ia merasa senang karena bertemu lagi dengan pemuda tampan yang menurutnya sangat baik hati itu.

"Ayo."

Hinata berjalan mengikuti Sai menuju tempat parkir.

"Berjalanlah disampingku, Hinata," kata Sai karena sedari tadi Hinata berjalan di belakangnya. Ia sudah memperlambat langkahnya, namun langkah Hinata juga semakin melambat.

"E-eh?"

Sai langsung menggenggam tangan Hinata agar gadis itu berjalan di sampingnya dan bergegas menuju tempat parkir. Hinata merasakan wajahnya memanas, jantungnya berdetak tak karuan karena genggaman pemuda tampan yang menjadi senpai-nya itu.

.

*****RDR*****

.

Mobil Honda NSX hitam milik Sai melaju dengan lancar di jalan raya. Suasana hening menyelimuti mereka sejak beranjak dari sekolah tadi. Sesekali Hinata melirik kearah senpai-nya yang sedang fokus menyetir itu.

"Hinata, bagaimana hari ini? Apa menyenangkan?" tanya Sai membuka pembicaraan.

"A-aa… lumayan Senpai… aku sekelas dengan Sasuke," jawab Hinata. Pandangannya yang tadi terarah keluar sekarang berpaling untuk menatap senpai-nya.

"Benarkah? Bagaimana dia?" tanya Sai lagi.

Hinata terlihat berpikir. "Dia… aneh," sahut Hinata sambil membayangkan tingkah laku Sasuke yang tidak bisa ditebak.

Sai hanya tertawa mendengar perkataan Hinata.

"Tapi Senpai, kenapa kalian bisa mirip sekali? Seperti anak kembar…" ungkap Hinata tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Kami memiliki ayah yang sama, namun ibu yang berbeda," jelas Sai, matanya masih fokus menatap jalanan di depan.

"Um… lalu… ano… kenapa Sasuke sepertinya membenci Senpai?" tanya Hinata dengan hati-hati.

Raut wajah Sai langsung berubah muram, sepertinya ia menyimpan kesedihan mendalam karena dibenci adik tirinya. Hinata menatap senpai-nya itu, menyadari perubahan ekspresi Sai membuatnya juga ikut sedih. Dia jadi menyesal menanyakan hal seperti itu.

"Itu… lebih baik kau tanyakan langsung padanya, Hinata," setelah hening sejenak, akhirnya Sai menjawab pelan.

"Gomen, Senpai…" ucapnya menyesal.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Hinata kembali mengalihkan pandangannya keluar jendela. Menatap kendaraan-kendaraan lain berlalu-lalang, bangunan-bangunan yang seolah-olah berjalan, sampai akhirnya mobil Sai berhenti di depan sebuah pagar rumah putih bertingkat dua. Hinata segera turun dari mobil hitam Sai.

"Terimakasih, Senpai," kata Hinata seraya membungkukkan badannya.

"Sama-sama, Hinata."

"Apa Senpai mau mampir dulu?" tawar Hinata untuk kesopanan.

"Tidak… aku masih banyak pekerjaan. Kalau begitu sampai jumpa," kata Sai sambil tersenyum.

"Sampai jumpa," kata Hinata seraya melambaikan tangannya.

"Oh iya. Kau terlihat manis mengenakan seragam itu."

Setelah mengatakan hal itu Sai langsung menutup jendela mobil dan menginjak pedal gas kuat-kuat. Mobil sedan itu melaju dengan cukup kencang, meninggalkan Hinata yang terpaku dengan wajah sangat merah.

'Ma-manis?'

.

*****RDR*****

.

Kediaman Hyuuga, 7 pm…

"Nii-san, aku sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Ayo kita makan malam dulu." Ajak Hinata pada kakak laki-lakinya.

"Baiklah, Hinata."

Neji merapikan tumpukan kertas di depannya, kemudian berdiri, mengikuti Hinata untuk memasuki ruang makan. Hidangan lezat sudah tersaji di meja makan. Mereka pun duduk berhadapan. Setelah berdoa, mereka menyantap makan malam dengan tenang. Sudah menjadi peraturan tak tertulis di keluarga Hyuuga apabila sedang makan harus tenang.

"Nii-san, sedang mengerjakan apa tadi?" tanya Hinata setelah mereka selesai makan malam.

"Oh… itu laporan penelitian," jawab Neji singkat.

"Nii-san… ada yang ingin aku tanyakan," kata Hinata pelan.

"Apa?"

"A-ano… apa Nii-san dulu satu sekolah dengan Sasuke dan Sai-senpai? M-mereka mirip sekali, seperti anak kembar kan," ucap Hinata sembari memainkan kedua jarinya.

Neji menatap adiknya sejenak, kemudian segera menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.

"Sasuke itu juniorku di SMP, kudengar dia murid baru dikelasmu juga ya?" Hinata mengangguk sambil tersenyum, kemudian Neji melanjutkan, "Kalau Sai, aku baru bertemu dengannya saat SMA ini."

"Nii-san dulu dekat dengan Sasuke?"

"Dia rivalku di klub karate. Tapi dia pindah ke luar negeri setelah kakaknya meninggal," kata Neji sambil menyesap minumannya.

Hinata tampak terkejut, ia memandang kakaknya dengan penuh rasa penasaran.

"E-eh? Meninggal? Sasuke punya kakak selain Sai-senpai?" tanyanya lagi.

"Hn. Yang meninggal ini kakak kandungnya. Setahuku, kakaknya punya penyakit yang parah."

"Oh…" gumam Hinata, raut wajahnya berubah muram. Ia tahu bagaimana rasanya ditinggal oleh orang yang disayangi. Neji yang melihat perubahan raut wajah adik kesayangannya menjadi semakin penasaran.

"Tidak biasanya kau menjadi ingin tahu seperti ini, Hinata," ucap Neji sambil mengernyitkan dahinya.

"Aaa… tidak kok… a-aku harus mencuci piring, Nii-san."

Hinata bergegas mengumpulkan piring yang kotor dan membawanya ke dapur untuk dicuci. Neji yang masih penasaran akhirnya kembali ke kamarnya untuk melanjutkan aktivitasnya.

.

*****RDR*****

.

Konoha Gakuen High, 11 am

Sudah tiga hari berlalu sejak percakapannya dengan kakaknya dan itu malah membuat Hinata semakin penasaran. Tidak mungkin menanyakan pada Sai, mengingat ekspresinya langsung muram begitu membicarakan Sasuke. Menanyakan langsung pada Sasuke rasanya juga tidak mungkin.

Kedua manik lavender Hinata menyusuri tiap-tiap judul yang tertera pada buku yang berjajar di rak perpustakaan Konoha. Ia mendapatkan hukuman untuk merangkum tentang sejarah Jepang pada zaman Edo karena ketahuan melamun. Hinata masih memikirkan tentang Sasuke dan itu membuatnya tidak bisa fokus pada pelajaran.

"Ah ketemu!" gumamnya gembira karena akhirnya menemukan buku yang dicarinya.

"Aduh… tinggi sekali," keluh Hinata, tangannya tidak sampai untuk mengambil buku yang terletak di rak paling atas itu.

Hinata berjinjit untuk menggapai buku berjudul The Great Edo Period, namun letak buku itu terlalu tinggi.

"Eeep!" Hinata merasakan kakinya tidak lagi menapak lantai dan tubuhnya terangkat, sontak ia langsung menoleh untuk melihat siapa orang yang mengangkatnya.

"Mau ambil apa, adik kecil?" Sasuke menyeringai begitu melihat wajah Hinata memerah.

"Kyaa mesum! Turunkan aku!" teriak Hinata tiba-tiba, namun tangan Sasuke masih memegangi pinggangnya dan tetap mengangkatnya.

"Berisik! Cepat ambil buku yang kau mau!" kata Sasuke seraya mengeluarkan seringainya lebih lebar.

"Kyaa lepaskan!" teriak Hinata lagi.

"Ini perpustakaan, bodoh! Hentikan kyaa kyaa-mu itu!"

Hinata mengembungkan pipinya, kemudian bergegas mengambil buku yang dicarinya tadi. Benar juga, dia tidak boleh ribut di tempat ini.

"Su-sudah! Sekarang turunkan aku," kata Hinata sambil menghilangkan kegugupannya.

Sasuke menurunkan Hinata, kemudian melirik buku tebal yang dipegang gadis berambut indigo itu.

"Kau dihukum, ya? Makanya jangan melamun terus," ucap Sasuke mengejek.

Sekali lagi Hinata menggembungkan pipinya. Iris lavendernya menatap laki-laki di hadapannya dengan kesal. "A-aku kan sedang penasaran," ujarnya pelan.

"Tentang apa?"

"K-kenapa kau membenci Sai-senpai?" tanya Hinata seraya menatap Sasuke dengan pandangan sendu.

"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke dingin.

"T-tapi, Sai-senpai terlihat muram saat mengingatmu. Berbaikanlah dengannya… " kata Hinata lagi.

"Tidak mau!"

"Ku-kurasa Sai-senpai menyayangimu."

Sasuke menatap Hinata tajam, kemudian mendekati Hinata, memojokkan gadis itu hingga punggungnya menempel pada rak buku. Dengan cepat Sasuke mengurung tubuh mungil Hinata hingga tak bisa bergerak dengan kedua tangannya yang panjang. Ia menatap mata lavender Hinata dengan tajam.

"Berisik! Dari tadi membicarakan Sai, itu membuatku tambah membencinya!" bentak Sasuke membuat Hinata takut.

'Kenapa dia tiba-tiba marah,' kata Hinata dalam hati. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.

"Jangan membicarakan namanya lagi didepanku, itu membuatku muak!" bisik Sasuke, tangannya mengangkat dagu Hinata sehingga wajahnya berada tepat di depan Hinata.

"Ta-tapi kenapa?" Hinata berusaha untuk tetap tenang. Ia memberanikan menatap mata onyx Sasuke.

Sasuke terdiam melihat ekspresi wajah Hinata yang tampak berkaca-kaca dan sendu. Tatapannya pada mata lavender Hinata berubah melembut.

"Hinata?! Sasuke?! Apa yang kalian lakukan?" sebuah suara membuat mereka mengalihkan pandangan.

"Sai-senpai!"

"Cih!"

Melihat Hinata yang tersenyum dan berusaha melepaskan diri darinya untuk menghampiri Sai membuat Sasuke benar-benar kesal.

Greb

"Eh?"

Dengan sigap Sasuke segera memeluk tubuh Hinata dan menciumnya. Hinata refleks berusaha mendorong tubuh Sasuke, namun tenaganya tak cukup kuat.

"Wah… kita ketahuan, Hime. Ayo pergi. Sampai jumpa, Aniki," kata Sasuke sambil menyunggingkan seringainya kearah Sai dan pergi meninggalkan tempat itu. Hinata yang mulutnya dibungkam oleh tangan Sasuke hanya pasrah saat Sasuke membawanya pergi.

Sai tertegun dengan pemandangan yang ia saksikan, ekspresi terkejut kentara sekali di wajahnya. "Tadi… Sasuke dan Hinata…"

.

~~~~TBC~~~~

.

.

a-ano… apa masih membingungkan? Hahaha *plak*

ini,, rate nya perlu dinaikin gak ya? Aduh gomen-ne ,,, tapi sebenernya gak ada yg lebih dari ciuman sih… saya blum nulis diatas itu sasuke nyium apa lho . khekhekhe :D

masalah knp sasu benci sai, biar nanti Sasu yg jelasin. Gak seru kalo ditulis sekarang. *plakk* hhe :D

dan kalau ada yg penasaran kenapa ngga ada Ino,, nanti dia muncul di tengah-tengah, dan peran dia penting banget. :DD

gomen juga Itachi saya bikin mati, hhu T_T

oia.. adegan2 diatas ada yg terinspirasi dari drama asia n komik2 jepun, tapi saya lupa judulnya karna dah lama banget T_T

Special thanks to: Tsubasa XasllitaDioz, ulva-chan, Mamizu mei, Deani Shiroonna Hyouichiffer, keiKo-buu89, Hachiko' miiko, Ai HinataLawliet, sora no aoi, Crimson Fruit, uchihyuu nagisa, hina-chan, Lollytha-chan, Kise, U-know Maxiah, Botol Pasir, Firah-chan, Kimidori hana, YamanakaemO, harunaru chan muach, Haruka Hime, Nerazzuri, M.B Kise-chan -MK, chibi tsukiko chan, Rials Al, Aiiko Aiiyhumi:: terimakasih banyak semuanya m(._.)m *bungkuk2* . Kalian membuat saya semangat . sekali lagi trimakasih banyak …

Bagi yang mau member kritik, saran, comment, concrit atau flame monggo silahkan ^^ . tapi jangan flame crack pair / ke-OOC-annya,, karna sudah saya cantumkan di warning . ^^

Akhir kata …

Mind to read n review? Gomawo ^^