CHAPTER 3
-Tok!Tok!-
Sehun mengerang kesal,mengabaikan ketukan pintu di rumahnya. Namun pintu rumahnya diketuk lagi hingga berkali-kali dan dengan terpaksa ia harus bangun walaupun kepalanya terasa sangat pusing akibat 3 botol soju yang ia teguk habis tadi malam.
Dengan uring-uringan Sehun menuju pintu utama dan membukanya. Kyungsoo sudah berdiri didepannya dengan melipat tangan didada,terlihat tidak sabar.
"Ada apa kau kemari?" tanya Sehun sinis (walaupun ia tidak bermaksud untuk terdengar sinis) , "Luhan tidak ada disini."
"Aku tahu," jawab Kyungsoo, "Aku kemari untuk mengambil laptop Luhan yang tertinggal."
Tanpa menunggu izin dari Sehun, Kyungsoo masuk kedalam rumah,mendorong tubuh Sehun keras dengan bahunya. Sehun meringis sambil melihat pergerakkan Kyungsoo. Kyungsoo dengan cepat masuk ke kamar Luhan, membereskan barang-barang yang Luhan perlukan dan memasukannya kedalam tas yang ia bawa.
"Kau tahu dimana Luhan?" tanya Sehun yang berdiri di ambang pintu.
Kyungsoo tidak bergeming, masih berkutat dengan laptop Luhan yang ia nyalakan.
"Kyungsoo-ssi, kau pasti tahu dimana Luhan sekarang. Tolong beritahu aku keberadaannya. Ada yang harus kubicarakan dengannya."
Kyungsoo menarik flash disk yang tersambung ke laptop Luhan dan memberikannya pada Sehun, "Sebelum menemui Luhan, sebaiknya kau buka file yang tersimpan didalam. Kalau kau sudah mengerti,aku akan memberitahu dimana Luhan."
Sehun mengambil flash disk itu dari tangan Kyungsoo, Dan memperhatikan benda itu dengan bingung.
"Semua barang yang Luhan perlukan sudah kubawa," ucap Kyungsoo, "Aku pergi dulu."
Kyungsoo berlalu mengabaikan Sehun, dan keluar dari rumah,meninggalkan Sehun yang masih kebingungan.
Setelah Kyungsoo pergi, Sehun menghubungkan flash disk tersebut ke Laptopnya. Di dalam flash disk tersebut hanya ada satu file berjudul 'My Knights,in the shining armor' yang tanpa pikir panjang Sehun buka.
Didalamnya ada sebuah tulisan seperti skrip novel hingga berpuluh-puluh halaman.
Dan ketika Sehun melihat namanya disebut dalam tulisan itu,ia memutuskan untuk membacanya.
Hari ke-5 dibulan maret.
Dimusim Semi yang dingin, dan satu hal yang bisa menghangatkanku
Yaitu senyummu.
Kau tertidur pulas seperti biasa. Menyelimuti tubuhmu hingga kau terlihat seperti ulat raksasa. Jam sudah menunjuk pukul 11 , dan kau belum bangun juga. Kulirik meja kerjamu yang penuh dengan gambar gedung-gedung modern,yang bisa kutebak,baru kau selesaikan tadi malam. Pasti kau lembur lagi ya kan?
Aku menghela nafas. Memang pekerjaan kita berdua tidaklah baik untuk kesehatan.
Aku ingin sekali memberitahumu bahwa kebiasaan bekerja hingga mengabaikan waktu tidur tidaklah baik, walaupun aku juga melakukan hal yang sama. Tapi untukku,jika aku menulis hingga aku jatuh sakit sekalipun aku akan baik-baik saja,karena ada kau yang akan mengurusku.
Tapi Bagaimana kalau kita berdua sakit Sehun-ah?
Bagaimana kalau kau sakit?
Kau tahu benar,aku bukanlah pengurus yang baik.
.
Kau mendengkur. Menyadarkanku dari pemikiranku yang mulai mengarah kemana-mana.
Kau tertidur pulas,dengan bibir yang mengerucut.
Hey, Apa yang kau impikan hmm?
Kalau saja kau tahu, wajahmu ketika kau tidur sangat menggemaskan!
Kalau saja kau tahu,aku sengaja bangun beberapa menit lebih awal darimu hanya untuk menatapmu seperti ini.
Setiap harinya.
.
Kau mengernyitkan dahi ketika aku menusuk-nusuk pipimu. Apakah aku mengganggumu?
Kupanggil namamu berkali-kali. Tanganku yang jahil masih betah menusuk-nusuk pipimu. Cepatlah bangun Sehun!Aku tidak akan berhenti mengganggumu hingga kau terbangun!
Dan akhirnya kau terbangun.
Kau menggerutu masih sambil menutup matamu.
Dan aku berusaha menahan tawa.
Tapi untung saja kau masih menutup matamu hingga kau tidak menyadari kalau aku masih terpana menatapmu.
Aku memperhatikan semua ukiran wajahmu. Dari alis tebalmu yang berkerut, hingga rahang tajam yang sering kau banggakan. Kau terlihat begitu sempurna untukku.
Aku mencintaimu Sehun.
Aku ingin mengatakannya.
Tapi tidak sekarang.
Karena kau mungkin akan terkejut.
Dan aku tidak ingin mengambil resiko yang bisa membuat kau pergi meninggalkanku.
.
.
Akhirnya kau menepati janjimu untuk menemaniku meminum kopi di kafe langgananku.
Tentu saja kau tidak akan lupa. Kau adalah Oh Sehun! Sahabat terbaik sepanjang hidupku! Bagaimana aku bisa meragukanmu?
Jantungku berdegup cepat ketika akhirnya aku menunjukkan naskah novel baruku padamu. Aku sudah membayangkan bagaimana ekspresimu ketika kau tahu sekarang aku menulis novel percintaan. Kau pasti akan menertawaiku,hingga matamu membentuk bulan sabit. Kau akan mengejekku sambil bertepuk tangan heboh.
Walaupun kau akan menggodaku,tapi aku tetap ingin kau membacanya.
Karena novel ini kubuat setelah aku menyadari perasaanku padamu.
Novel ini, adalah cerita tentang kita.
Dugaanku salah, kau tidak mengejekku. Kau membacanya dalam diam, lalu tersenyum.
Jantungku bedegup lebih cepat.
.
Sehun-ah, Kalau aku menyatakan perasaanku, Apa kau akan tersenyum seperti itu?
Pukul 12 lewat 25 menit. Bulan bersinar cantik malam ini.
Dan Aku berjanji pada bulan itu,
Aku akan mengatakannya padamu.
Aku berbaring dikasurku sambil memandang langit. Bulan terlihat begitu indah.
Saat aku memandang bulan itu,menikmati sinarnya yang begitu indah,tiba-tiba aku berpikir.
Bagaimana rasanya kalau aku menatap langit dengan kau yang berada disisiku?
Aku ingin menatap bulan itu didalam pelukanmu Sehun-ah.
Apa yang harus kulakukan agar aku bisa mewujudkannya?
Apakah aku harus menyatakan perasaanku padamu?
Mungkin besok hari yang tepat. Tidak perlu mengajamu untuk makan malam di tempat yang romantis, aku cukup memintamu untuk menemuiku di taman. Tidak akan ada adegan-adegan menggemparkan seperti menerbangkan beribu balon atau merangkai kata "I LOVE YOU" dengan beribu tangkai bunga mawar, kita hanya akan membicarakan semuanya.
Aku hanya akan menyatakan semua yang aku rasakan untukmu selama ini dengan jujur.
Entah kau akan menerima atau menolak.
Aku akan tetap mengatakan bahwa Aku mencintaimu.
Sakit Sehun.
Aku hancur. Rasanya aku ingin mati.
Kenapa?
Bagaimana bisa?
Harusnya hari ini aku menemuimu di taman Sehun-ah.
Tapi tubuh ini terasa begitu lemas, kepala ini terasa berputar.
Aku ingin tetap melangkah menemuimu,namun kaki ini terasa lemas.
Bahkan aku tidak bisa membalas lambaian tangan Minseok yang memanggilku dari seberang jalan. Tubuh ini terasa begitu lemas, Kepalaku terasa sakit hingga aku merasa tidak berdaya untuk melakukan apa-apa. Minseok memanggilku sekali lagi, tapi kali ini suara Minseok tidak kudengar dan digantikan dengan lengkingan yang menulikan telingaku. Pandanganku mulai kabur,tapi masih bisa Kulihat bayang-bayang Minseok berlari mendekatiku. Kurasakkan tangan Minseok menopangku. Aku menatap wajah Minseok yang panik. Lalu mataku terasa berat.
Minseok-ah, aku ingin bertemu Sehun.
Aku ingin mengatakan itu pada Minseok,tapi semuanya terasa gelap dan setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, hingga aku terbangun di rumah sakit beberapa jam yang lalu. Kau tahu kan seberapa benci aku menghirup bau obat-obatan? Maka dari itu aku memaksa Minseok untuk membawaku pulang.
Tapi dokter melarangku, ia bilang aku harus menjalani beberapa tes seperti MRI, CT scan dan beberapa tes lainnya yang sulit kuingat namanya.
Aku baik-baik saja! Aku yakin dengan hal itu. Tapi aku tetap menjalankan pemeriksaan agar Minseok berhenti merengek. Ia bilang tes-tes itu hanya untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Maka dari itu aku setuju untuk melakukannya.
Saat aku melangkahkan kaki ke ruang pemeriksaan tiba-tiba aku merasa gugup dan takut. Mesin MRI yang berada disana sangat besar, seperti lubang cacing raksasa yang gelap. Aku takut kegelapan dan ruang sempit.
Apa kau ingat ketika listrik dirumah kita tiba-tiba padam? Kau menemaniku yang bergetar ketakutan. Kau menenangkanku hingga aku tertidur.
Aku sekarang membutuhkanmu Sehun. Aku ingin Kau berada disini. Aku ingin kau selalu ada disisiku.
Tapi Aku berusaha untuk mengontrol rasa takutku. Aku harus menyelesaikan pemeriksaan ini,memastikan aku baik-baik saja dan kembali ke sisimu.
Entah sudah berapa lama aku menunggu di lorong bersama Minseok.
Aku bosan.
Aku ingin menemuimu.
Aku merindukanmu.
Ketika suster mengatakan bahwa giliranku sudah datang, aku masuk kedalam ruang dokter dan aku tidak bisa menyangkal kalau sebenarnya aku merasa cemas.
Dokter itu memegang sebuah kertas foto hitam dan beberapa lembar kertas yang bisa kupastikan hasil pemeriksaanku. Aku tidak mengerti apa yang tergambar dan tertulis disana.
Tapi ketika aku melihat wajahnya, aku mengerti.
Ada yang salah dalam diriku.
Kondisiku tidak baik-baik saja.
Kanker otak.
Apakah kau percaya dengan hal ini Sehun?
Ya,Aku menderita kanker otak. Sebuah tumor memicu kanker di otak primerku.
Sehun-ah, Apakah aku akan mati?
Sebelum bertemu dirimu aku tidak takut pada kematian. Karena manusia memang ditakdirkan untuk mati.
Tapi setelah mengenalmu, hal terbesar yang kutakuti adalah berpisah denganmu.
Dan mati artinya berpisah denganmu.
.
.
.
Saat aku sampai rumah,aku lega kau belum datang Sehun. Aku tidak tahu harus melakukan apa ketika kau bertanya ada apa denganku. Karena sebaik apapun aktingku,selebar apapun senyumku untuk menutupi kesedihan ini, kau akan mengetahuinya.
Rumah begitu sunyi dan gelap tanpa kehadiranmu.
Dengan ruang gelap dan sunyi seperti ini, aku merasa seperti sudah mati.
Kalau aku mati, bukankah akan sesunyi ini Sehun-ah?
Aku menangis.
Aku tidak ingin mati dan meninggalkanmu.
Dan saat kau datang, aku menangis lebih keras dan memelukmu erat.
"Ada apa Lu?" Tanyamu sambil mengelusku dengan tanganmu yang hangat.
Aku Sakit Sehun.
Aku sekarat.
Bukannya menjawab pertanyaanmu tiba-tiba saja aku ingin tahu apa yang kau inginkan dalam hidupmu dan aku menanyakannya.
Kau berpikir sebentar sambil mengayun-ngayunkan tubuhku seperti sedang menimang bayi.
Lalu kau bertanya kembali apa yang kuinginkan dihidupku.
Kalau boleh jujur,
Aku ingin hidup bersamamu.
Aku ingin berada disisimu selamanya.
Aku memintamu untuk menyanyikan lagu favoritku. Lagu yang kau pasang ketika kau menyelamatkanku dari para penindas itu. Kau ingat?
Kau memasangkan headphone ditelingaku sambil tersenyum, menghalangi kata-kata kasar terdengar ditelingaku.
Namun aku lebih menyukai lagu itu ketika kau sendiri yang menyanyikannya Sehun-ah.
Suaramu memang tidak begitu bagus, tapi suaramu dapat menenangkan hatiku.
.
"Sehun,Saranghae," ucapku pelan.
"Nado," Balasmu.
Tidak Sehun, Kau salah paham.
Aku benar-benar mencintaimu.
Sangat mencintaimu.
Pagi ini, aku kehilangan keberanianku untuk menceritakan semuanya kepadamu. Aku tidak ingin menambah beban hidupmu. Aku tidak ingin membuatmu sedih.
Tapi tindakanku malah membuatmu begitu kesal.
Kau bilang aku lebih mementingkan Minseok dibandingkan dirimu karena kau kira aku melupakan janji kita ditaman dan kau menyuruhku untuk tinggal bersamanya.
Kau meninggalkanku lalu membanting pintu kamarmu dengan keras.
Kenapa kau harus semarah itu?
Bodoh,
Aku tidak mau hidup dengan Minseok atau siapapun kecuali dirimu.
Aku ingin bersama dirimu. Kenapa kau tidak pernah mengerti?
Kau adalah segalanya untukku.
Sehun bodoh,kau kira aku sengaja melupakan janji kita berdua?
Janji itu juga penting untukku. Karena hari itu aku berencana untuk menyatakan perasaanku padamu.
Kau kembali dari kantormu, membawa sebuah kotak kue dari toko langgananku yang bisa kutebak untuk menyuapku agar bisa memaafkanmu. Aku menahan tawa melihat kau dengan hati-hati mendekatiku seperti aku ini binatang liar lalu duduk disisiku. Kau menyuruhku untuk memakan kue yang kau belikan,tapi aku tetap bersikeras untuk diam.
Kau harus tahu,kalau aku masih marah kepadamu!
Lalu kau meminta maaf dan mengatakan bahwa kau hanya ingin aku membagi kesedihanku padamu.
Sehun Bodoh, apakah kau pikir aku akan menceritakan kesedihanku padamu?
Aku tidak mau membuatmu sedih bodoh.
Akhirnya aku menyerah dan membuka kotak kue itu. Aku tidak tega melihatmu memohon seperti itu!
Aku tidak akan pernah bisa berlama-lama mengabaikanmu,kau tahu kan?
Karena pada akhirnya yang akan merasa kesepian adalah aku.
Aku memakan kue itu dengan lahap dan kau tersenyum dengan lebar.
Sehun bodoh,apakah kau tidak tahu senyummu itu membuat jantungku berdebar lebih cepat?
Apakah kau tidak tahu aku akan melakukan hal apapun,bahkan hal bodoh sekalipun hanya untuk melihat senyum itu?
Karena tidak ada hal apapun yang membuatku merasa lebih bahagia kecuali senyummu.
Hari ini,aku menjalani beberapa tes,lagi. Rasa pusing dikepalaku memburuk hingga aku tidak bisa tidur tadi malam. Saat kembali ke rumah sakit, dokter tidak membiarkanku pergi begitu saja dengan obat yang ia resepkan padaku. Ia juga mengusulkan beberapa terapi ringan dan dengan terpaksa aku menurutinya.
Saat aku pulang, kau sedang duduk didepan jendela rumah kita yang terbuka lebar. Dengan selimut yang membungkus tubuhmu. Kau menyadari keberadaanku dan kau mengajakku untuk duduk disisimu. Saat aku sudah duduk disisimu, dan memeluk tubuhmu erat,semua beban ditubuhku terasa hilang. Tidak ada lagi rasa lelah akibat terapi yang kulakukan,tidak ada lagi penyakit yang mengkhawatirkanku,karena yang kurasakan hanya hangat tubuhmu.
Kau bercerita bahwa kau ingin menjadi arsitektur yang hebat dan membangun rumah untuk kita huni bersama. Kenyataan bahwa kau berencana untuk membangun rumah untuk kita membuatku merasa senang.
Sehun-ah,
Apa di masa depan kau akan tetap disisiku?
Apa di masa depan aku masih bisa berada disisimu?
Semua pertanyaan diotakku kau jawab dengan satu tindakkan.
Kau menciumku.
Dan kau mengatakan bahwa kau menyukaiku.
Aku menatapmu tidak percaya.
Aku kira kau hanya mempermainkaku.
Tapi aku melihat ketulusan dimatamu.
Aku mengenalmu sejak lama,
Dan aku tahu saat kau mengatakannya ada ketulusan disana.
Sehun-ah! Aku juga menyukaimu! Aku mencintaimu!
Tapi aku tidak bisa.
Aku tidak boleh.
Rasanya hatiku begitu perih ketika melihat kekecewaan diwajahmu.
"Ya aku tahu," Kau bilang.
Tidak,Kau tidak tahu Sehun.
Kau tidak boleh mencintaiku.
Karena suatu saat aku akan meninggalkanmu,
Dan ketika itu terjadi kau akan tersakiti.
Aku tidak bisa berlama-lama berada didekatmu,maka dari itu aku meninggalkanmu sendiri disana.
Maafkan aku Sehun-ah,
Aku tidak ingin kau tersiksa.
Aku lebih baik mencintaimu dalam diam.
Daripada aku harus meninggalkan luka dihatimu.
Aku bertemu dengan editor novelku beberapa hari sebelumnya dan ia sekarang berada dirumah kita. Namanya Do Kyungsoo. Kyungsoo adalah orang yang baik dan pengertian. Itulah mengapa aku merasa nyaman dan dekat dengannya walaupun kami baru saja bertemu.
Kau ingat saat ia ke rumah kita untuk menemaniku menulis? Ia menanyakan apakah aku menyukaimu karena aku terus membicarakanmu, aku terus mengalihkan perhatianku dari pekerjaan dan menemuimu disetiap kesempatan. Dan karena aku mempercayai Kyungsoo aku menceritakan semuanya. Aku bercerita padanya betapa bahagianya diriku ketika aku tahu kau mempunyai rasa yang sama denganku. Aku bercerita betapa sakit hatiku karena aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu. Ia tahu bahwa aku tidak mau membalas cintamu karena aku menderita penyakit yang serius. Ia bilang aku bodoh, dan ya aku menyetujuinya. Aku memang bodoh.
Tapi Aku lebih baik terlihat bodoh daripada harus menyakitimu Sehun-ah.
Hari ini kita berencana untuk jalan-jalan bersama. Aku senang sekaligus merasa sedih. Aku senang karena setelah lama tidak bermain denganmu,akhirnya hari ini kita bisa bermain seperti masa sekolah dulu. Namun aku sedih karena hari ini, aku harus merelakanmu. Ya, aku berencana untuk mengenalkanmu pada seorang teman. Gadis itu bernama Yerin. Ia temanku dikampus, dan ia wanita yang baik. Aku tidak mau memilih dengan asal wanita yang akan menjadi kekasihmu. Wanita itu harus menjagamu, harus mengerti dirimu dan harus mencintaimu lebih dari aku.
Yerin memenuhi sebagian besar kriteria tersebut dan kuharap rencana ini berjalan dengan lancar.
Sehun-ah,apakah kau akan marah padaku?
Maafkan aku.
Aku tahu kau akan merasa kesal, tapi ini semua untuk melindungi perasaanmu.
Hari ini berjalan dengan baik. Aku sangat bahagia ketika tanganmu menggenggam tanganku erat seharian. Aku tidak bisa menahan diri untuk membayangkan, bahwa ini adalah kencan pertama kita.
Ya Sehun,untukku hari ini adalah hari kencan kita untuk yang pertama dan yang terakhir.
Sesuai rencana aku membawamu ke restoran dimana kita akan menemui Yerin.
Melihat Kau berbicara berdua dengan Yerin membuat hatiku begitu sedih. Bukankah miris Sehun-ah? Aku yang menjodohkanmu dengan Yerin tapi aku juga yang merasa cemburu. Bukankah itu hal yang konyol?
Aku meninggalkanmu dengan Yerin dan pergi ke rumah sakit bersama Minseok. Aku kembali ke rumah sakit karena malam sebelum kita pergi jalan-jalan kepalaku kembali terasa sakit dan hal itu membuatku mual. Aku memuntahkan isi perutku hingga kosong bahkan ada darah yang ikut terbuang.
Apakah itu berarti penyakitku bertambah parah?
Dokter bilang aku harus melakukan radioterapi dan kemoterapi untuk menghancurkan sel kanker diotakku.
Kau tahu apa yang mereka lakukan saat kemoterapi?
Mereka akan menyuntikkan obat-obatan ketubuhku.
Aku membenci suntikkan Sehun!
Dan saat obat-obatan itu disuntikan, Akan timbul alergi pada tubuhku dan rambutku akan rontok.
Sehun-ah bukankah itu terdengar menjijikkan?
Apakah kau akan tetap mengatakan kau menyukaiku ketika rambutku sudah habis? Dan ketika kulitku penuh dengan bintik dan luka?
Maka dari itu aku menunda terapi-terapi itu dan memutuskan untuk mengambil obat yang diresepkan dokter.
Aku tidak ingin kau pergi dariku. Maaf kalau aku terdengar egois,tapi aku tidak ingin kau berhenti mencintaiku.
Saat aku kembali, aku terkejut ketika melihatmu sudah pulang mendahuluiku. Kau berdiri disana dengan tangan terkepal erat dan wajah yang memerah.
Kau pasti begitu kesal terhadapku.
Aku tahu kau akan seperti ini.
Kau menyentakku, mendesakku dengan pertanyaan yang membuat kepalaku berputar dan pusing hingga tanpa disadari aku menjawab pertanyaanmu dengan jawaban yang menyakitkan.
Aku mengatakan bahwa perasaanmu mengusikku.
Ekspresimu saat aku mengatakan itu,membuatku merasa bersalah. Membuat hatiku terasa sakit.
Apakah kau benar-benar percaya bahwa perasaanmu mengusikku Sehun? Apakah kau percaya dengan kata-kataku?
Kau bilang aku melakukan ini semua karena aku menyukai Minseok.
Tidakkah kau sadari? Dari pertama kali kita bertemu,ketika kau melindungiku dari para penindas disekolah dan tersenyum kepadaku, aku telah menyukaimu Sehun.
Tidak pernahkah kau sadari itu?
Hanya kau satu-satunya orang yang kucintai sedari dulu.
Kau akhirnya meninggalkanku lagi. Dan aku menangis terisak seperti bayi berharap kau akan kembali dan menenangkanku.
Tapi kau benar-benar marah hingga kau tak kembali sampai larut malam.
Aku mendengar suara pintu terbuka dan kutahu pasti kau sudah kembali.
Aku berlari untuk menemuimu,untuk meminta maaf,untuk menjelaskan semuanya,untuk menata kembali hubungan kita. Tapi ternyata kau tidak sendiri, kau bersama seorang wanita yang kau cium dengan begitu mesra.
Sehun.
Aku tidak sadar aku memanggilmu dengan jelas ketika kau dan wanita itu berhenti berciuman dan menatapku secara bersamaan.
Aku berdiri mematung disana. Kau dan wanita itu menatapku seperti hantu.
Sehun, bukankah kau seharusnya menghampiriku?
Menjelaskan bahwa ini semua hanya kesalah pahaman?
Dan wanita itu bukan siapa-siapa untukmu?
Tapi kau berlalu meninggalkanku. Dan aku menangkap tatapan dingin yang kau tujukan padaku hingga hatiku membeku.
Sehun-ah, Kau kenapa?
Kenapa kau menatapku seperti itu?
Dari kamarku aku bisa mendengar semua yang kau lakukan dan bicarakan dengan wanita itu.
Kau menggodanya.
Kau menyentuhnya dengan tangan yang biasa kau pakai untuk memelukku.
Kau mencium wanita itu dengan bibir yang juga menciumku.
Lenguhan wanita itu membuatku tersiksa.
Suaramu ketika kau merayunya membuat jantungku serasa dihantam dengan keras.
Aku memasang headphone pemberianmu dan menyetel lagu favoritku.
Aku tidak lagi mendengar suara lenguhan wanita itu.
Atau suaramu ketika kau menggoda wanita itu dengan rayuanmu.
Tapi kenapa tangisanku tidak ingin berhenti Sehun-ah?
Kenapa dada ini begitu sesak?
Kau dan wanita itu (yang baru kutahu bernama Jungmin) akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih sebulan setelah kejadian itu. Aku turut merasa senang untukmu Sehun. Tapi tak bisa kupungkiri rasa sakit yang terasa didadaku.
Aku sakit Sehun. Hati ini terasa kosong.
Aku akhirnya kehilangan dirimu.
Aku jarang bertemu denganmu karena kau menghabiskan waktumu dengannya.
Kau tidak akan pernah tahu seberapa besar rinduku kepada keberadaanmu dirumah kita.
Malam ini kau pulang dengan keadaan mabuk. Aku begitu sedih melihatmu seperti ini. Ternyata aku salah,Jungmin bukan wanita yang baik untukmu. Tapi apa hakku untuk mengeluh? Aku tidak bisa mencampuri urusanmu. Jadi alih-alih mengeluh tentang Jungmin, aku mengeluhkan kebiasaan mabukmu yang akhir-akhir ini bertambah parah. Kau mendorongku hingga aku membentur tembok keras dan mencengkeram tanganku. Matamu yang memerah menusukku. Aku begitu takut. Kau terlihat seperti orang-orang yang pernah menindasku.
Kau bukan Sehunku.
Semenjak malam itu,aku tidak lagi mengeluh. Saat kau pulang aku tetap membantumu tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku sering melihat bercak merah dilehermu. Aku ingin sekali menghapusnya karena setiap satu bercak merah dikulitmu menggores satu luka dihatiku.
Malam ini,Aku seperti biasa merebahkan diri dikasur dan menunggumu untuk pulang. Aku mendengar pintu rumah dibuka tapi aku tidak mendengar suara serakmu memanggilku untuk meminta bantuan, bahkan aku tidak tahu bahwa kau sudah masuk kekamarku.
Kau merebahkan diri disisiku dan bau alkohol menyerang indera penciumanku. Aku berbalik dan wajahmu begitu dekat dengan wajahku.
Kalau aku tidak bisa mengontrol diri,mungkin aku sudah mencium bibirmu.
Kau meminta maaf padaku. Walaupun kau berada dibawah pengaruh alkohol,tapi aku senang mendengarnya. Setidaknya masih ada Sisi Sehun yang dulu, yang mementingkan diriku. Kau menarikku kedalam pelukanmu dan kau bilang kau mencintaiku.
Kata-kata itu membuat air mataku mengalir.
Dan ketika kau tertidur,aku membalas pelukanmu dengan erat.
Kupeluk tubuhmu erat,merasakan kehangatanmu. Dan untuk semalam saja aku ingin memilikimu seutuhnya hanya untukku.
Aku juga mencintaimu Sehun.
Aku ingin selamanya berada dipelukanmu.
Disetiap isakkan tangisku aku mengatakan bahwa aku mencintaimu hingga berkali-kali,tapi kau tertidur lelap hingga kau tak bisa mendengarnya.
Tuhan, Kalau memang kau akan mengambil nyawaku,ambilah sekarang.
Aku tidak yakin aku bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
Ini terlalu menyakitkan.
Setidaknya,aku sudah tahu perasaannya padaku.
Dan aku sudah menyatakan perasaanku padanya.
Ini sudah cukup.
Jadi bisakah kau mengambil nyawaku sekarang?
Ketika Sehun sudah memiliki seseorang untuk memeluknya ketika aku sudah tidak ada.
.
Tangan Sehun gemetar ketika ia menggerakkan kursor dengan mouse yang ia genggam.
Kanker?
Sehun memegang mouse dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia mengerang sakit dan menangis.
Selama ini,ia kira Luhan yang menyakitinya. Namun setelah ia mengetahui semuanya, ia sadar ialah yang menyakiti perasaan Luhan.
Sahabat macam apa dirinya?
Tidak menyadari kesedihan Luhan. Tidak menyadari penderitaan Luhan selama ini.
Sehun membayangkan Luhan yang begitu rapuh memeluk lututnya erat,bergetar dan terisak sambil mendengarkan Lagu dari headphonenya ketika Sehun membawa Jungmin.
Kau bilang kau mencintainya Sehun. Tapi kenapa kau melakukan itu semua?
Sehun menyambar ponselnya dan menghubungi Kyungsoo. Kyungsoo mengangkat telepon itu dengan cepat dan Sehun berkata bahwa ia sudah mengerti. Ia akhirnya mengerti.
Dan Kyungsoo akhirnya memberitahukan keberadaan Luhan padanya. Luhan sudah pulang ke Beijing.
Setelah Luhan pergi dari rumah yang ia bagi bersama Sehun, ia menginap di rumah Kyungsoo. Disana ia mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Kyungsoo sambil menangis didekapan sahabatnya. Esoknya Luhan memutuskan untuk pulang ke Beijing. Orang tua Luhan menyambutnya dengan senang. Namun kesenangan itu tidak berlangsung lama ketika Luhan menceritakan penyakitnya kepada mereka.
Pagi itu, orang tua Luhan sedang pergi bekerja dan ia memilih untuk bersantai sambil menonton TV. Sebuah ketukan keras terdengar dari pintu rumahnya. Luhan berpikir yang datang adalah kurir yang membawa barang-barangnya yang dikirim oleh Kyungsoo maka dari itu dengan gesit ia berlari untuk membukanya.
Saat ia membuka pintu, ia membelalak kaget ketika melihat Sehun berada dihadapannya. Nafas Sehun memburu ,pipi dan hidungnya memerah karena kedinginan.
"Se-" ucapan Luhan terpotong ketika Sehun mencium bibir Luhan dan menarik tubuh Luhan lebih dekat.
Luhan yang masih terkejut berusaha meronta dan Sehun melepaskan ciumannya dari bibir Luhan.
"Kenapa kau lari dariku Luhan?" tanya Sehun sambil menangkup pipi Luhan, "Kau pikir dengan meninggalkanku seperti ini kau membuatku bahagia?"
Luhan tidak menjawab. Ia mengigit bibir bawahnya keras untuk menahan tangis yang memaksa keluar.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Sehun sambil menyatukan dahi mereka.
"Aku sakit Sehun," jawab Luhan dengan suara yang pelan, "Aku sekarat."
Luhan akhirnya menangis lalu menggenggam tangan Sehun yang menangkup wajahnya.
"A-aku tidak tahu lagi seberapa lama aku bisa bertahan hidup. Mungkin setahun, beberapa bulan,beberapa minggu atau-"
"Hey,Dengar," ucap Sehun menatap Luhan, "Kau akan baik-baik saja. Kau akan tetap hidup. Kita akan hidup bersama lagi. Hanya Kau dan Aku."
Sehun terlihat begitu sedih dan hancur meskipun ia memasang senyum tipis untuk Luhan. Hal ini membuat Luhan menyerah dan membiarkan saja Sehun menciumnya kembali dan mendorong tubuhnya hingga mereka berdua masuk kedalam rumah.
Luhan tidak ingat kenapa ia sudah berada didalam kamarnya dengan Sehun yang menindih tubuhnya. Luhan mati-matian menahan desahan keluar dari bibirnya ketika tangan Sehun meraba bagian paling sensitif dari tubuhnya.
"I will make love to you Luhan," bisik Sehun sambil mencium pipi Luhan, "Aku akan memberikan cintaku untukmu."
Air mata Luhan menetes dari sudut matanya dan Sehun menjilatnya. Mengusap pipi Luhan dengan sayang, "Jangan bersedih lagi Luhan. Aku ada disini untuk melindungimu."
Sehun tersenyum lalu mencium bibir Luhan lagi, "Aku mencintaimu Luhan."
Luhan menarik Sehun untuk menyatukan bibir mereka lagi. Lidah Sehun menjilat bibir Luhan untuk meminta akses kedalam rongga mulut Luhan yang luhan penuhi permintaannya dengan cepat. Bibir mereka berciuman dengan panas, kasar,terburu-buru tapi Luhan menyukainya.
Tubuh telanjang mereka bersatu,bergerak berirama. Tangan Luhan mencengkeram bahu Sehun keras hingga menyisakkan tanda kemerahan disana.
Luhan melenguh,mendesah dengan keringat yang membanjiri tubuhnya yang terasa panas. Sehun bergerak maju-mundur didalam tubuhnya, Sehun menciumi leher dan wajahnya, Sehun membisikkan namanya berkali-berkali. Luhan merasa hangat dan lengkap.
Sehun melengkapi semua bagian dari dirinya.
.
.
Selimut Luhan menyelimuti tubuh telanjang mereka berdua. Sehun memeluk Luhan, memainkan rambutnya sambil bersenandung.
"Lu."
"Hmm?"
"Beri nilai dari 1 hingga 10. Seberapa sakit yang kau rasakan saat ini?"
Luhan memainkan jari-jari Sehun lalu melipat satu jari Sehun,membentuk angka 4 dan menambahkan kelima jarinya, "9."
"10,ketika kau mengusirku." Lanjutnya.
Sehun tertawa lalu mencium kepala Luhan, "Maafkan aku Luhan,aku menyakitimu."
"Kau menyakitiku," ucap Luhan, "Dan aku juga menyakitimu. Kita impas?"
Luhan menatap Sehun dengan senyuman jahil dibibirnya. Sehun tertawa lalu mencium bibir Luhan gemas, "Ya kita impas."
"Uhm Jadi, bagaimana dengan hubungan kita?" tanya Luhan ragu.
"Aku akan tetap menjadi Knight in shining armor-mu."
"Aku sedang single saat ini. Mantan kekasihku memutuskan hubungan kami karena ia tahu aku mencintai orang lain. Dan jika orang lain itu mau, aku bisa menjadi kekasihnya juga," lanjut Sehun.
Luhan tertawa kecil lalu berguling,menindih tubuh Sehun, "Ya,aku mau."
Luhan mencium bibir Sehun, "Aku mencintaimu Sehun."
"Aku juga mencintaimu Luhan," ucap Sehun sambil mengusap pipi Luhan, "Kita akan melalui ini bersama. Kau tidak perlu takut. Aku akan selalu melindungi dan menemanimu."
"Ya, Luhan tidak akan takut. Karena Sehun adalah Knight in shining armor untuk Luhan."
Luhan memeluk tubuh Sehun yang ia tindih, kepalanya beristirahat di dada bidang Sehun.
"Luhan benar, Sehun akan selalu menjadi Knight in shining armor untuk Luhan. Sehun berjanji akan melindungi Luhan sampai kapanpun." Ucap Sehun sambil mengusap-usap rambut Luhan.
.
.
Saat orang tua Luhan pulang,mereka begitu senang ketika melihat ada Sehun dirumah mereka. Orang tua Luhan sudah mengenal Sehun sejak Luhan dan Sehun hidup bersama. Mereka sangat menyukai Sehun dan percaya kepadanya. Untuk Mereka,Sehun seperti anak mereka sendiri.
Saat makan malam,Sehun tiba-tiba mengumumkan tentang hubungannya dengan Luhan. Walaupun awalnya orang tua Luhan terkejut dan terlihat ragu, namun Sehun memastikan kepada mereka bahwa Ia akan melindungi Luhan dan menjaga Luhan sebaik mungkin. Dengan senyum yang merekah di wajah mereka berdua, mereka merestui hubungan Luhan dan Sehun berharap hubungan Sehun dan Luhan dipenuhi kebahagiaan.
Sehun tinggal selama beberapa hari di rumah Luhan, dan ketika ia memutuskan untuk membawa Luhan pulang ke Korea bersama dirinya, otang tua Luhan melarangnya. Mereka ingin Luhan tinggal dengan mereka dan menjalani perawatan di Beijing. Mereka tidak ingin berpisah dengan Luhan dan Sehun mengerti akan hal itu.
"Aku harus pulang," ucap Sehun sambil memperhatikan Luhan yang sedang meminum obat-obatanya.
"Oh? Kenapa kau baru mengatakannya? Aku belum membereskan pakaianku!" ucap Luhan panik sambil beranjak dari sofa.
Sehun menghela nafas lalu menahan Luhan dan menariknya untuk kembali duduk dihadapan Sehun.
"Aku akan pulang," tegas Sehun, "Kau tetap disini."
Luhan mengernyit, "Kenapa?"
"Karena terapimu lebih baik dilakukan disini bersama orang tuamu. Kau membutuhkan mereka," Ucap Sehun
"Tapi aku membutuhkanmu juga."
Luhan cemberut,bibirnya mengerucut lucu.
"Aku tahu,tapi aku mempunyai pekerjaan yang tidak bisa kutinggalkan di Seoul Luhan."
"Jadi kau mementingkan pekerjaanmu daripada aku?" tanya Luhan kesal.
"Bukan begitu tap-"
"Kalau begitu pergi! Tidak usah mengkhawatirkanku!" Luhan beranjak dan pergi meninggalkannya menuju kamar. Membanting Pintu kamar dengan keras hingga Sehun mengernyit.
Sehun duduk membeku disana, bingung dengan Luhan yang tiba-tiba marah kepadanya. Karena setelah 10 tahun berteman dengan Luhan, ini pertama kalinya Luhan marah padanya.
Ok mungkin Luhan pernah marah, beberapa kali, tapi tidak seemosional ini.
.
.
Esoknya Sehun sudah berdiri di depan pintu rumah Luhan dengan koper hitamnya. Kedua orang tua Luhan mengantarnya hingga pintu depan. Sehun mengintip ke pintu kamar Luhan yang tertutup. Luhan masih marah dan mengurung diri di kamarnya.
"Ia akan baik-baik saja," ucap ibu Luhan menenangkan Sehun.
Sehun tersenyum, walaupun ia sedih karena Luhan masih marah dan tidak ingin menemuinya. Padahal Ia ingin sekali memeluk Luhan sebelum pulang ke Seoul. Menghirup harum parfum Luhan dilehernya dan-
"Sehun!"
Sehun terkesiap saat Luhan tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat. Luhan menenggelamkan wajahnya didada Sehun, tidak mengizinkan Sehun untuk melihat air mata yang berlinang dipipinya.
"Maafkan aku! Maafkan aku!" ucap Luhan, "Aku tahu sikapku benar benar menyebalkan tapi aku bersikap seperti itu karena aku tidak ingin kau pergi!"
"Sehun,Please jangan pergi!" isak Luhan mempererat pelukannya ditubuh Sehun.
Sehun tersenyum.
"Baiklah,baiklah aku akan tinggal disini," ucap Sehun sambil memeluk Luhan dan mengusap kepala Luhan, "Aku akan terus berada disisimu Lu."
Luhan begitu senang karena Sehun tetap tinggal dan memeluknya erat,mencium pipinya berkali-kali sambil berteriak 'Aku mencintaimu Sehun!' yang diberi gelengan kepala heran dari kedua orang tua Luhan.
"Maafkan kami Sehun. Luhan terkadang keras kepala dan kekanak-kanakan," ucap Ayah Luhan penuh sesal.
Sehun tertawa, mengetahui hal itu dengan (terlalu) baik, "Ya,aku tahu. Itu bukan masalah bagiku tuan Lu. Jadi anda tidak perlu meminta maaf."
"Itu karena ayahnya terlalu memanjakan dirinya," bisik Ibu Luhan kepada Sehun membuat Sehun tertawa dan Luhan cemberut.
Hari itu Sehun tetap pulang ke Seoul untuk mengurus cuti di kantornya dan membawa perlengkapan untuknya tinggal di Beijing. Luhan sebagai kekasih yang 'baik' tentu merelakan Sehun pergi walaupun bibirnya terus mengerucut hingga Mereka berdua berpisah di bandara. Walaupun Sehun berjanji akan kembali esok hari,hal itu tetap tidak menghentikkan Luhan untuk menelepon Sehun setiap menit.
Luhan kekanakan dan posesif, ya Sehun tahu. Tapi Sehun tetap mencintainya.
.
.
Luhan kembali menatap jam didinding dengan resah. Sehun bilang ia akan tiba di Beijing pada pukul 4 sore dan ini sudah pukul 4, dan kekasihnya belum datang juga!
Luhan menghentakkan kakinya kesal.
Berapa lama lagi ia harus menunggu? Luhan tidak suka menunggu, dan seharusnya Sehun tahu akan hal itu!
Lihat saja nanti, Kalau Sehun datang Luhan tidak akan menghampirinya bahkan menatapnya sekalipun. Luhan akan mengabaikan Sehun seharian dan-
Luhan mendengar pintu rumahnya diketuk dan dengan cekatan ia berlari dan membukanya dengan antusias.
"Sehun!" teriaknya dan melompat kedalam pelukkan Sehun, "Aku merindukanmu Sehun-ah."
Sehun mencium pucuk kepala Luhan dan membalas pelukkan Luhan, "Nado baby."
Rencana Luhan untuk mengabaikan Sehun gagal total. Well,tidak apa-apa karena rencana barunya untuk bercinta dengan Sehun sore itu lebih menyenangkan.
Hari itu Sehun dan Luhan sedang berada diruang TV. Orang tua Luhan pergi bekerja meninggalkan mereka berdua di rumah. Luhan sedang menonton kartun favoritnya sambil merebahkan kepalanya di paha Sehun,sementara Sehun sibuk membaca buku arsitektur yang ia bawa dengannya.
"Sehun!"
"Hmm?"
"Aku ingin Jalan-jalan!"
Sehun menutup buku yang dibacanya lalu menatap Luhan, "Jalan-jalan?"
Luhan mengangguk antusias lalu bangun dari posisinya, "Ya! Aku ingin mengajakmu untuk mengitari Beijing! Kau pasti menyukainya!"
Luhan terlihat begitu bersemangat hingga rasanya Sehun tidak bisa menolak.
"Baiklah ayo kita jalan-jalan," Ucap Sehun sambil mencium bibir Luhan.
.
.
Sehun dan Luhan mengitari kota Beijing hari itu. Luhan sebagai 'pemandu wisata' sangat bersemangat dan menarik Sehun untuk ikut bersamanya ke tempat-tempat yang terkenal di Beijing. Mereka sedang berjalan santai sambil berpegangan tangan erat ketika mereka melewati salah satu gereja yang sedang dipakai untuk upacara pernikahan.
"Sehun-ah! Ada sebuah pernikahan disana!" Luhan menarik Sehun (lagi) untuk melihat lebih dekat pengantin yang sudah berada didepan gereja, hendak pergi menuju tempat bulan madu mereka karena upacara pernikahan sudah selesai. Luhan memandangnya dengan kagum, seperti melihat adegan dalam dongeng yang orang tuanya sering ceritakan. Pengantin wanitanya terlihat cantik, dan pengantin prianya begitu tampan. Mereka terlihat begitu bahagia,begitupun orang-orang disekitarnya.
"Aku ingin menikah.." ucapnya pelan,tetap tertegun dengan apa yang terjadi didepan matanya dan tidak menyadari bahwa Sehun mendengar perkataannya.
Tiga anggota keluarga Lu duduk dihadapan Sehun dengan bingung. Malam itu setelah mengunjungi rumah sakit untuk terapi penyakit Luhan,tiba-tiba saja Sehun mengumpulkan mereka di ruang keluarga mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu yang penting.
Sehun duduk dengan tegap,senyum cerah menghiasi wajahnya yang tampan.
"Tuan dan Nyonya Lu," ucap Sehun ramah, "Izinkan aku meminang Luhan untuk menikah denganku."
Ketiga anggota keluarga Lu terkejut. Bibir nyonya Lu terbuka lebar membentuk huruf 'O!' seperti Luhan.
Mirip.
Sehun pikir.
"Apa yang barusan kau katakan Sehun?" pertanyaan itu keluar dari bibir Luhan.
"Aku akan menikahimu," Jawab Sehun, "Apakah kau mau menikah denganku?"
"Kenapa?" tanya Luhan lagi. Matanya berkedip-kedip dengan cepat.
Oh Luhan begitu menggemaskan.
"Kenapa? Karena aku mencintaimu." Sehun membersihkan tenggorokannya dan memandang kedua orang tua Luhan dengan serius, "Maaf kalau aku mengatakan hal ini dengan tiba-tiba. Tapi aku serius untuk mengajak Luhan menikah. Aku mencintainya. Aku akan melindunginya seumur hidupku."
Sehun memindahkan tatapannya kepada Luhan dan tersenyum , "Maaf kalau aku tidak melamarmu dengan cara yang romantis."
Sehun panik ketika mendengar Luhan terisak dan air mata menetes dari matanya yang berkilau, "Ini adalah cara yang terbaik Sehun-ah. Ini cukup. Aku mau menikah denganmu."
Luhan beranjak dari sofanya dan memeluk Sehun. Ia hendak mencium bibir Sehun ketika Sehun menghentikannya dan mengisyaratkan Luhan bahwa orang tua Luhan masih disini dan mereka belum menjawab apapun tentang lamarannya pada Luhan. Luhan mengangguk mengerti lalu duduk dipangkuan Sehun sambil menatap kedua orang tuanya,menunggu mereka untuk berbicara.
"Uhm, Well ini sangat tiba-tiba dan pernikahan adalah hal yang sangat sakral. Jadi-" Luhan merengut dan menatap ayahnya tajam.
Ayah Luhan meneguk salivanya kasar.
Yep,aku memang terlalu memanjakan anak ini.
Ayah Luhan membersihkan tenggorokannya dan menatap Sehun dengan senyuman tulus, "Ya aku mengizinkan kalian untuk menikah."
Luhan memekik senang dan melompat kepangkuan ayahnya, "Aku menyayangimu Baba! Mama!"
"Bagaimana dengan orang tuamu Sehun? Apa mereka sudah mengetahuinya?" tanya Ibu Luhan.
Senyum Sehun memudar.
Orang tua?
Sehun tersenyum tipis, "Ibuku sudah meninggal."
"Bagaimana dengan ayahmu?" tanya ibu Luhan lagi.
Sehun diam.
Luhan tahu Sehun tidak akan menjawab maka dari itu ia mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan tanggal pernikahan mereka. Ia tahu masalah diantara Sehun dan Ayahnya. Sehun bercerita dulu ayahnya sering mengabaikan Sehun dan ibunya. Ayahnya adalah orang yang dingin dan hanya peduli kepada pekerjaan. Bahkan saat ibunya meninggal,sang ayah tidak menunjukkan batang hidungnya. Maka dari itu Sehun sangant membenci ayahnya.
Sehun tidak suka membicarakan ayahnya. Ia selalu menghindari topik tentang ayahnya, jadi Luhan tahu ia lebih baik tidak membicarakan ayah Sehun daripada menghancurkan Mood Sehun.
.
.
Sehun baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya di kamar. Luhan dengan perlahan masuk kekamarnya dan memeluk Sehun dari belakang.
Sehun terkejut dan memandang Luhan yang sedang terkikik geli dengan sengit.
"Hi Yeobo," Panggil Luhan malu-malu
Yeobo. Hati Sehun berdebar-debar mendengar panggilan itu. Ia tersenyum senang mendengarnya.
"Hi Baby." Sehun mengambil tangan Luhan yang melingkar dipinggangya,lalu menyatukan jari mereka.
"Kita akan menikah sebentar lagi?" tanya Luhan.
Sehun tertawa lalu mencium tangan Luhan yang ia genggam, "Kita akan menikah sebentar lagi."
Seminggu lagi, lebih tepatnya.
Di gereja yang mereka lalui bersama beberapa hari yang lalu.
Sehun menunggu didepan altar dengan gugup,tangannya tak henti-hentinya menyentuh rambut coklatnya yang sudah rapih membuat Tao yang duduk dibarisan depan mendesis dan memelototinya. Di barisan depan sebelah kanan,ia melihat orang tua Luhan tersenyum ke arahnya dan ia membalas senyuman itu. Kyungsoo,editor Luhan yang menyempatkan diri terbang ke Beijing disela kesibukannya mengedit novel Luhan,duduk di barisan kedua dengan bibir yang berbentuk hati itu selalu tersenyum walaupun ia lelah. Piano di mainkan menandakan Luhan akan segera masuk. Pintu gereja dibuka dan Luhan berdiri disana, dengan Jas Hitam yang sangat pas dengan tubuh kecilnya dan rambut coklat pekat yang ia tata keatas. Buket bunga ia genggam dikedua tangannya dan ia tersenyum.
Sempurna.
Luhan berjalan dengan pelan, matanya masih menatap Sehun.
Sehun berbisik 'Aku mencintaimu' sambil mengerucutkan bibirnya seperti mencium Luhan dari jauh membuat Luhan tertawa dibuatnya. Setelah beberapa langkah berjalan,tiba-tiba Luhan berhenti ditempatnya. Alisnya mengerut menandakan bahwa ia sedang kesakitan. Tangannya mencengkeram kepalanya erat dan Sehun dengan cepat berlari kearahnya.
"Luhan?"
Luhan merasakan Sehun memegang erat kedua lengannya namun ia tidak bisa memandang jelas sosok Sehun. Orang-orang yang berada di gereja berbisik-bisik,Luhan mendengar orang tuanya mendekat dan berteriak panik, kepalanya terasa lebih sakit.
"Se-Sehun," panggilnya sebelum ia pingsan dipelukkan Sehun.
.
.
Luhan membuka matanya dan terbangun dikasur rumah sakit. Ia mengerutkan hidungnya ketika mencium bau obat-obatan yang ia tidak suka.
Sehun tersenyum tipis disisinya,wajahnya terlihat lelah tapi ia tetap tersenyum untuk Luhan, "Hey."
"Hey," jawab Luhan sambil tersenyum dengan lemah. Luhan memperhatikan Sehun. Sehun masih menggunakan Jas pernikahannya.
Jas pernikahan.
Luhan mulai panik, matanya membuka lebar, "Sehun pernikahannya-"
"Hey,tidak apa-apa," ucap Sehun menenangkannya, "Kita bisa mengadakan upacara pernikahan lagi setelah kau sehat. Sekarang kau harus istirahat,ok?"
Tangan Sehun mengelus tangannya Lembut dan ia mulai tenang.
"Lalu bagaimana dengan kondisiku?" tanyanya.
"Kau baik-baik saja."
Luhan tertawa. Sebenarnya tidak ada yang lucu dari jawaban Sehun. Tapi itu terdengar konyol, sangat konyol. Bagaimana bisa ia baik-baik saja jika ia sampai pingsan di pernikahannya sendiri?
"Jawab dengan jujur Sehun,"
"Kau ingin jawaban yang jujur?"
Luhan mengangguk.
Sehun menghela nafas dan berbisik 'dasar keras kepala' membuat Luhan terkikik geli.
"Dokter mengatakan kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan dan ia mengusulkan agar kau menjalani kemoterapi."
Luhan mencengkeram tangan Sehun erat dan menggeleng dengan keras.
"Luhan-"
"Aku tidak mau menjalani kemoterapi Sehun! Cukup dengan obat-obatan dan terapi yang kulakukan selama ini. Aku tidak mau menjalani kemoterapi!"
"Tapi kau harus melakukannya. Terapi itu tidak lagi cukup untuk menyembuhkan penyakitmu dan Untuk menahannya menyerangmu,Luhan."
"Aku tetap tidak mau! Kemoterapi akan membuat rambutku rontok Sehun-ah bagaimana kalau aku terlihat jelek dan kau tidak menyukaiku lagi? Bagaimana ka-"
"Aku tidak peduli!" teriak Sehun, "Aku mencintaimu Luhan. Kenapa kau berpikir aku akan berhenti mencintaimu hanya karena rambutmu habis? Aku mencintaimu. Aku mencintai segalanya dari dirimu. Kenapa kau meragukan perasaanku?"
Luhan terdiam,merasa bersalah karena sudah berpikir seperti itu tentang Sehun.
"K-kau mau kemana Sehun?" tanya Luhan saat ia melihat Sehun hendak pergi meninggalkan dirinya.
"Aku akan pergi. Aku tidak akan kembali kesini sebelum kau setuju untuk melakukan Kemoterapi."
Sehun lalu pergi meninggalkan Luhan di kamar rawatnya. Sehun mengepalkan tangannya erat saat ia mendengar Luhan meneriakkan namanya dan merengek agar ia kembali. Ia tahu ia kejam dengan memperlakukan Luhan seperti ini. Tapi ia tidak bisa hanya diam saja melihat orang yang ia cintai digerogoti penyakit yang ada didalam tubuhnya. Ia ingin Luhan sembuh. Ia tidak ingin Luhan menderita lagi.
.
.
Sehun duduk di lobi utama,menunggu kabar dari orang tua Luhan yang sekarang berada di kamar rawat Luhan.
"Sehun."
Sehun mendongak dan menatap ayah Luhan yang sedang tersenyum kearahnya.
"Temui Luhan sekarang. Ia setuju untuk melakukan kemoterapi."
Sehun berjalan dengan perlahan menuju kamar rawat Luhan. Dengan pelan ia membuka pintu kamar dan melihat Luhan duduk dengan gelisah dikasurnya.
"Hey," ucap Sehun sambil mendekati Luhan, "Aku benar-benar meminta maaf karena aku telah menyentakmu, meninggalkanmu dan membuatmu bersedih."
Luhan menatap Sehun dengan matanya yang berkaca-kaca dan merentangkan tangannya, "Cium Aku,Sehun."
Sehun menurut dan mencium bibir Luhan, "Maaf telah memaksamu untuk menjalani terapi itu. Tapi ini semua demi kebaikanmu Luhan."
Luhan mengangguk. Ia memejamkan mata menikmati Sentuhan Sehun dipipinya.
"Kita tidak jadi Menikah," ucapnya tiba-tiba.
Sehun tertawa kecil lalu menyatukan dahi mereka, "Tertunda. Hanya tertunda."
"Bagaimana dengan bulan madunya?" tanya Luhan sambil menatap Sehun dengan tatapan polosnya, "Kita tidak bisa menunda hal itu kan?"
Sehun tertawa lalu mencium bibir Luhan. Jemari Luhan mulai membuka kancing jas Sehun dan kancing kemeja didalamya.
"Stop. Kita harus menunggu sampai kondisimu membaik. Kita tidak bisa melakukannya disini," ucap Sehun sambil menghentikkan jemari Luhan.
"Aku menginginkanmu Sehun-ah," desahnya ditelinga Sehun.
"Please?" tanya Luhan sambil menatap Sehun dengan mata rusanya.
Sehun tenggelam di mata Luhan yang berkilau hingga ia tidak menyadari tangan Luhan yang sudah menelusup kecelananya hingga Luhan meremas kejantanannya.
"Luhan," erang Sehun.
Luhan segera menyambar bibir Sehun. Mereka berciuman dengan intens,bibir mereka saling berpagut menciptakan suara kecupan yang keras dan lenguhan yang samar-samar.
Luhan menarik tubuh Sehun untuk naik keatas ranjang. Ranjang rumah sakit yang kecil memaksa Sehun untuk berada diatas Luhan yang sedang berbaring. Luhan menarik dasi Sehun untuk mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir Sehun. Tangan kanan Sehun menahan tubuhnya agar tidak menindih Luhan dan tangan kirinya mengelus pipi Luhan lembut. Luhan mengambil nafas dalam-dalam ketika bibir Sehun meninggalkan bibirnya dan berpindah mencium rahang dan leher Luhan.
"Ah,Sehun," desah Luhan pelan. Desahan itu membuat gairah Sehun membara, ciuman yang ia berikan dileher Luhan berpindah kedaun telinga Luhan.
"Kau milikku Luhan," ucapnya sambil menggigiti kuping Luhan.
Udara dingin langsung menusuk kulit Luhan ketika Sehun membuka piyamanya dan membuangnya asal. Sehun segera menempatkan ciuman-ciuman kecil di dada dan sekujur tubuh Luhan untuk menghangatkannya. Kedua tangan Luhan melingkar dipinggang Sehun dan menarik tubuh Sehun agar lebih dekat dengan tubuhnya yang telanjang.
"Sehun-ah,lepaskan pakaianmu," pinta Luhan sambil menggesekan tubuh mereka berdua. Sehun mengerang dan dengan cepat menuruti permintaan Luhan. Ia beranjak, kedua kakinya bertumpu disisi paha Luhan. Luhan membantu Sehun melepas celananya ketika Sehun membuka satu persatu kancing kemejanya.
Sehun kembali mencium Luhan dan tubuh telanjang mereka kembali bersatu. Keduanya mendesah saat merasakan kulit hangat mereka bersentuhan,menyulut gairah yang semakin membara.
Sehun melebarkan kaki Luhan yang menekuk dan menghimpit tubuhnya. Ia memposisikan diri agar lebih nyaman ditengah kaki Luhan.
Jari-jari panjangnya sudah berada dibokong Luhan. Mengelusnya lembut dan memisahkan kedua bongkahan bokong Luhan untuk mengelus lubang Luhan. Luhan mendesah,kulitnya meremang saat ia merasakan jari Sehun bermain-main di ujung Lubangnya. Perlahan Sehun memasukkan kedua jarinya ke Lubang Luhan dan Luhan menegang. Tangan Sehun yang bebas mengelus pinggang Luhan untuk menenangkannya.
Luhan kembali tenang,ia membuka matanya perlahan dan tersenyum lemah. Ia mengangguk,mengisyaratkan Sehun untuk menggerakkan jarinya. Awalnya Sehun ragu, namun setelah mendengar desahan dari bibir Luhan,Sehun akhirnya menggerakkan jarinya lebih cepat didalam lubang Luhan.
Akhirnya Sehun mengeluarkan jarinya lalu mencium bibir Luhan.
"Kau siap?" tanya Sehun dan diberi anggukan kepala oleh Luhan yang sedang mengelus-elus wajahnya.
Luhan meringis dan tangannya mencengkeram bahu Sehun erat ketika Sehun memasukkan kejantanannya.
"Se-hun," gumam Luhan. Sehun kembali mencium bibir Luhan lalu pipinya dan telinganya sambil berbisik 'Tenang Luhan.' , 'Aku tidak akan menyakitimu.' , 'Aku mencintaimu Luhan.'
Sehun mulai menggerakkan tubuhnya dan Luhan memejamkan matanya rapat-rapat. Wajahnya memerah,menahan sakit. Sehun mengalihkan Luhan dari rasa sakitnya dengan menciumi wajah dan dada Luhan. Menjilat puting kecil Luhan hingga membuat Luhan melenguh kegelian. Luhan akhirnya mendesahkan nama Sehun,menandakan rasa sakit yang ia rasakan sudah terganti dengan kenikmatan. Ia terus mendesahkan nama Sehun.
Sehun, Sehun, Sehun.
Yang terdengar seperti mantra untuk Sehun dan membuatnya tersihir dan mencintai Luhan lagi dan lagi.
Sehun bergerak lebih cepat dan Kuku Luhan menancap dipunggungnya semakin dalam. Kaki Luhan melingkar dipinggangnya membuat kejantanannya lebih dalam masuk ke lubang Luhan.
Luhan akhirnya mencapai klimaks dengan meneriakkan nama Sehun. Sehun menyusul setelah ia memaju mundurkan kejantanannya beberapa kali kedalam lubang Luhan.
"Aku mencintaimu Luhan,"
"Aku juga mencintaimu Sehun," ucap Luhan sambil memainkan rambut Sehun. Sehun meringkuk lebih dekat dengan tubuh Luhan. Tangannya terlingkar posesif di pinggang Luhan.
"Kau harus bertahan hidup untukku. Aku mohon."
Sehun tidak tahu kenapa ia menangis. Ia menenggelamkan wajahnya didada Luhan dan terisak. Membayangkan tubuh yang ia peluk ini hilang, dan tidak bisa ia peluk lagi membuat dada Sehun sesak. Baru kali ini kenyataan memukulnya telak. Kenyataan bahwa ia bisa saja kehilangan Luhan. Sehun tidak berpikir tentang hal itu sebelumnya. Tapi ketika sekarang hal itu terpikir olehnya ia begitu Sedih. Hatinya begitu hancur. Ia juga baru menyadari bahwa hidup tanpa Luhan tidak akan pernah terbayangkan olehnya. Hal itu terlalu mengerikan.
Luhan yang mendengarnya hanya tersenyum tipis sambil menyisir rambut coklat Sehun. Ia tidak berani menjanjikan apapun. Karena ia juga tidak tahu apa yang akan terjadi esok dan hari-hari selanjutnya. Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah menenangkan Sehun, hidup bersama Sehun dengan bahagia selagi ia bisa.
Luhan bersenandung,menyanyikan lagu favoritnya. Sekarang saatnya ia yang menenangkan Sehun. Yang melindungi Sehun dari pikiran buruk apapun yang sedang berputar diotaknya.
Suara Luhan sangat merdu, membuat hati Sehun perlahan teras tenang. Ia menyamankan diri dikasur rumah sakit yang kecil. Tangannya masih terlingkar di pinggang Luhan saat matanya perlahan menutup. Ia akhirnya tertidur didada Luhan sambil mendengarkan nyanyian Luhan yang begitu lembut.
Luhan sudah pulang dari rumah sakit ketika Chanyeol, Bos sekaligus teman dari Sehun, meneleponnya meminta ia untuk pulang. Seorang pengusaha besar ingin Sehun mendesain Hotel yang akan ia bangun di Jeju. Sehun awalnya menolak,walaupun ia tidak ingin melewatkan kesempatan besar ini tapi Luhan tetap lebih penting untuknya. Chanyeol kembali membujuknya tapi Sehun tetap bersikeras. Ia bahkan mengabaikan telepon dari Chanyeol seharian penuh.
"Ponselmu terus berdering, Kau tidak ingin mengangkatnya?" tanya Luhan sambil menyisir rambut Sehun yang sedang berbaring dipahanya.
"Tidak,aku tahu itu Chanyeol. Aku sudah mengatakan dengan jelas padanya kalau aku tidak ingin ikut serta dalam proyek ini," jawab Sehun tidak mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.
Luhan menghela nafas. Ia tahu sebenarnya Sehun ingin sekali menerima pekerjaan tersebut. Sehun pernah mengatakan bahwa ia ingin sekali bekerja sama dengan Wu enterprise. Ia ingin sekali mendesain Hotel-hotel mewah Wu enterprise. Luhan heran kenapa disaat kesempatan itu datang, Sehun malah bersikeras untuk menolaknya.
"Kenapa kau menolaknya? Apakah itu karena aku?"
Kalau alasan Sehun menolak tawaran itu karena dirinya, Luhan akan selalu merasa bersalah. Ia memang tidak ingin Sehun meninggalkan dirinya, tapi Luhan lebih tidak ingin Sehun mengorbankan mimpinya untuk Luhan.
Sehun menutup bukunya lalu beranjak duduk dan menatap Luhan.
"Ini bukan karena dirimu sayang," ucap Sehun sambil mengelus pipi Luhan, "Jangan merasa bersalah."
Luhan menggigit bibirnya. Rasa bersalah kian terasa ketika Sehun memperlakukannya dengan begitu mesra,ketika Sehun tetap tersenyum dan tidak menyalahkan dirinya.
"Kalau begitu, angkat telepon dari Chanyeol dan jelaskan alasanmu tidak menerima tarawan kerjanya. Chanyeol berhak tahu,karena ia temanmu."
Sehun menghela nafas dan akhirnya menyambar ponselnya yang terus berdering di meja disebelah tempat tidur Luhan.
"Yeoboseyo? Chanyeol Hyung aku sudah mengatakan bahwa aku tid-"
"Chanyeol-ssi? Ah maaf Sehun baru mengangkat teleponnya karena ia menemaniku ke rumah sakit tanpa membawa ponselnya," ucap Luhan setelah menyambar ponsel Sehun dari tangannya, "Dan ya, ia menerima pekerjaan itu. Besok ia akan pulang ke Seoul."
Sehun membulatkan matanya,menatap Luhan tak percaya.
"Ne, terima kasih sudah mempercayai Sehun Chanyeol-ssi. Selamat malam." Luhan menutup teleponnya dan menatap Sehun sambil tersenyum.
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa lagi? Aku membantumu untuk mewujudkan mimpimu Sehun-ah. Bukankah ini kesempatan besar untukmu? Aku tidak ingin kau melewatkan kesempatan ini hanya karena diriku."
"Bukankah sebenarnya kau ingin menerima pekerjaan ini?" lanjut Luhan, "Aku melihatmu menggambar sebuah bangunan malam kemarin. Aku tahu kau ingin sekali mendesain hotel untuk perusahaan itu."
Sehun menunduk,ia memang ingin sekali mendesain hotel untuk Wu enterprise. Chanyeol sudah mati-matian membantunya untuk mempromosikan dirinya kepada Wu enterprise. Sehun sebenarnya merasa begitu bersalah karena ia menolak walaupun ia tahu Chanyeol sudah bekerja keras demi dirinya. Tapi ia tidak bisa meninggalkan Luhan sendiri. Bagaimana kalau Luhan kesakitan dan ia tidak ada disana untuk merawatnya? Kenyataan itu membuat Sehun merasa takut. Penyakit Luhan pernah kambuh pada malam hari saat semua orang tertidur termasuk Sehun. Dari kamarnya,ia samar-samar mendengar teriakkan Luhan. Saat ia memeriksa Luhan, Luhan sudah berbaring di lantai sambil mencengkeram kepalanya. Dengan cepat Sehun menghampirinya dan mengangkat Luhan keatas kasur. Sehun memberikan Luhan obat penahan rasa sakit,menenangkan dan memeluknya hingga rasa sakit Luhan mereda. Ia berhenti berteriak dan kembali tertidur. Semenjak itu Sehun tidak pernah meninggalkan Luhan,ia tidur dikamar Luhan, menjaganya hingga pagi menjelang.
"Hey," panggil Luhan lembut membuyarkan lamunan Sehun, "Aku tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja. Masih ada baba dan mama yang akan merawatku ketika kau pergi."
Sehun menggenggam tangan Luhan yang sedang mengelus wajahnya dan mencium telapak tangan Luhan.
"Aku akan menjadi lebih sehat ketika kau kembali. Aku berjanji."
Tanpa berkata apapun Sehun memeluk tubuh Luhan erat, menenggelamkan wajahnya diceruk leher Luhan.
"Aku mencintaimu Sehun."
Sehun memeluk Luhan lebih erat.
Tuhan,dia benar-benar mencintai Luhan.
Sangat mencintainya.
"Aku juga mencintaimu Luhan."
Esoknya Sehun pulang ke Seoul,walaupun begitu berat untuknya meninggalkan Luhan yang tersenyum melambaikan tangannya didepan rumah. Sehun berjanji akan menelepon Luhan setelah ia mendarat di Seoul dan ia menepati janji itu tidak lama setelah ia menapaki bandara Incheon. Sehun langsung pergi menuju rapat yang diadakan oleh Chanyeol dengan CEO Wu enterprise, Wu yi fan. Setelah berjam-jam mengadakan rapat, mereka akhirnya membuat kesepakatan dan Sehun ditunjuk untuk menjadi pemimpin proyek pembangunan hotel Wu enterprise di Jeju.
Dalam Sebulan,pekerjaan Sehun begitu banyak dan ia dengan giat mengerjakannya tanpa mengenal lelah. Ia harus bulak-balik dari Seoul ke Jeju untuk membangun hotel 'Dragon flame' milik Wu enterprise. Wuyifan, sang bos, sangat puas dengan pekerjaan Sehun hingga ia menunjuk Sehun lagi untuk mendesain kamar-kamar di Dragon Flame. Walaupun lelah, Sehun tetap mengerjakan pekerjaan yang diberikan padanya. Ia sesekali menghubungi Luhan,menanyakan kondisi Luhan dan bagaimana kemoterapi yang Luhan lakukan. Namun seminggu sebelum pekerjaannya selesai,Sehun lebih sibuk dari hari-hari sebelumnya. Chanyeol berjanji untuk memberikan cuti yang banyak untuknya jika ia menyelesaikan pekerjaannya hingga akhir minggu nanti. Maka dari itu ia begitu sibuk dan tidak sempat untuk menghubungi Luhan. Demi bisa berada disisi kekasihnya (yang sangat ia rindukan) lagi Sehun harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin.
"Akhirnya!" teriak Sehun sambil meregangkan tangannya. Akhirnya laporan pertanggung jawaban pekerjaannya selesai dan ia bisa kembali ke Beijing untuk menemui Luhan.
"Kau yakin tidak akan ikut pesta pembukaan Dragon flame?" tanya Chanyeol yang duduk disebelahnya.
Sehun mengangguk cepat matanya masih terfokus kepada layar komputer,mengecek jadwal penerbangan dari Seoul ke Beijing.
"4 bulan aku tidak bertemu dengan Luhan, apakah menurutmu aku akan membuang waktuku untuk berpesta?" ucapnya sambil memesan tiket pesawat yang paling awal terbang ke Beijing.
Chanyeol tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Sehun, "Helpless." Ledek Chanyeol.
Sehun mendesis sebal sambil menyingkirkan tangan Chanyeol dibahunya.
"Ah ya bagaimana kondisi Luhan?" tanya Chanyeol.
Sehun menghela nafas berat, "Terakhir kali aku menghubunginya adalah minggu lalu, terima kasih karena bosku yang menyuruhku untuk lembur hingga aku tidak sempat menghubunginya." sindir Sehun sambil menatap tajam Chanyeol.
Chanyeol terkekeh dan meminta maaf.
Sehun mengedikkan bahunya, "Tapi semakin hari ia terlihat begitu kurus dan pucat. Orang tuanya bilang ia selalu memuntahkan kembali makanan yang masuk , dan penyakitnya lebih sering kambuh."
Chanyeol mengusap punggung Sehun berusaha menguatkan temannya itu.
"Hey, Ia akan baik-baik saja. Dunia medis sekarang sudah canggih, penyakit apapun bisa mereka sembuhkan dengan teknologi-teknologi yang mereka punya sekarang. Jangan khawatir."
"Kapanpun kau butuh bantuan, kau bisa menghubungiku Hun." Lanjut Chanyeol
Sehun tersenyum,merasa berterima kasih kepada Chanyeol yang begitu baik kepadanya.
.
.
Sehun kembali ke Beijing tanpa memberitahu Luhan dan orang tuanya. Ia membawa banyak makanan favorit Luhan untuk membuatnya senang. Sehun dengan antusias berlari kecil menuju rumah Luhan. Ia mengetuk rumah Luhan namun tidak ada yang membuka pintu. Ia kembali mengetuk pintu rumah Luhan namun hasilnya tetap sama.
Karena penasaran ia akhirnya menelepon Luhan namun Luhan tidak menjawabnya. Ia akhirnya menelepon ponsel ibu Luhan dan setelah beberapa menit ibu Luhan mengangkatnya.
"Halo? nyonya Lu , Aku berada didepan rumah. Apakah kalian sedang perg?"
"Sehun?" tanya nyonya Lu dari seberang, "Sehun? Syukurlah kau menelepon! Ka-kami ada dirumah sakit. Bisakah kau kesini?"
Suara ibu Luhan yang gemetar dan panik membuat jantung Sehun berdegup cepat.
"Aku akan kesana sekarang juga," Ucap Sehun setelah Ibu Luhan memberikan nomor kamar Luhan di rumah sakit yang sering mereka kunjungi.
Sehun langsung berlari menuju jalan raya dan memanggil taksi. Disepanjang perjalanan ia begitu gelisah. Ada apa dengan Luhan? Apa ia baik-baik saja?
Saat Sehun sudah sampai dirumah sakit ia segera menanyakan letak kamar Luhan dan segera berlari untuk menemuinya. Langkah Sehun berhenti ketika ia mendengar teriakkan dari suara yang begitu ia kenal.
"Tidak! Lepaskan aku!"
Kaki Sehun tiba-tiba terasa lemas mendengar jeritan Luhan. Dengan perlahan ia mendekati kamar Luhan. Tangannya yang dingin meraih gagang pintu. Sehun merasa begitu gugup jantungnya berdegup cepat. Setelah menenangkan diri dan menarik nafas ,Sehun akhirnya membuka pintu kamar Luhan.
Sehun menggenggam gagang pintu dengan keras. Hatinya bagai dipukul berton-ton batu saat ia melihat sosok yang ia rindukan selama ini sedang mengamuk di kasurnya dengan air mata yang membanjiri wajah pucatnya. Seorang suster dengan susah payah menggenggam tangan Luhan yang bergerak kesana-kemari. Seorang suster laki-laki sedang memegang kedua kaki Luhan yang terus menendang-nendang dengan keras.
"Luhan."
Luhan berhenti bergerak ketika namanya dipanggil. Ia menatap Sehun yang berdiri mematung didepan pintu.
"Sehun," panggilnya lemah air mata menetes lagi dari sudut matanya.
"Sehun-ah."
Ya sayang, Aku disini.
Knight in shining armor-mu ada disini.
TBC
Wah dua twin tower (+ suami author) muncul! ehehehe
Thanks udh support FF ini :')
Semoga chapter depan sudah selesai!
ohya jangan lupa like facebook aku : SeLuminati
