.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinataxSai

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 4

Uchiha Sasuke: 16 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Uchiha Sai: 17 tahun.

Hyuuga Neji: 17 tahun.

Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.

Haruno Sakura; Tenten: 16 tahun.

.

Happy reading

.

.

Konoha Gakuen High…

Seminggu berlalu setelah insiden di perpustakaan. Hinata yang masih marah pada Sasuke memutuskan untuk tidak berbicara dengan pemuda berambut raven itu. Tiap kali Sasuke mengajaknya bicara, Hinata selalu menghindar. Setiap istirahat tiba, Hinata langsung menuju ke teman-temannya. Sudah seminggu ini pula ia tidak bertemu dengan Sai. Neji bilang Sai mengikuti turnamen tenis di Tokyo selama satu minggu.

Namun rupanya hari ini adalah hari dimana Hinata tidak bisa menghindar dari Sasuke. Hinata melirik jam dinding yang terletak di depan kelas.

4 pm

Biasanya jam segini Hinata sudah berada di rumah. Namun, nilai ulangan matematikanya yang memprihatinkan membuatnya harus tetap berada di sekolah. Disinilah gadis itu sekarang, ruangan kelas 2-4 yang telah sepi karena sekolah memang sudah bubar sejak dua ham yang lalu. Hanya ada dirinya dan murid laki-laki berambut raven yang menjadi tutornya. Yah, Sasuke-lah yang ditunjuk oleh sensei mereka untuk menjadi tutor Hinata.

Sasuke menahan keinginannya untuk menggaruk bagian belakang kepalanya seperti yang biasa dilakukan oleh Naruto. Ia merasa frustasi dengan gadis di depannya ini.

"Kau mau jawab atau tidak?" tanya Sasuke sambil melirik jam tangannya. Sudah dua jam mereka disini dan Hinata belum berhasil mengerjakan satu soal pun.

Hinata hanya mengangguk untuk membalas pertanyaan Sasuke. Namun tangannya masih diam di tempat, tidak bergerak sama sekali untuk menuliskan jawaban soal-soal di hadapannya itu.

Sasuke menghela nafas panjang. Ia sudah menjelaskan lebih dari lima kali. Setiap ia bertanya apa Hinata mengerti, gadis itu selalu mengangguk. Namun saat disuruh mengerjakan soal, jawaban Hinata selalu salah.

"Bilang saja kalau butuh bantuan!"

Hinata menelan ludah, namun dia menggelengkan kepalanya. Ia memang lemah di pelajaran ini. Apalagi dengan Sasuke menjadi tutornya, rasanya ia ingin menyalahkan siapa yang menciptakan pelajaran matematika itu.

Sasuke bisa melihat soal-soal yang ia berikan pada Hinata masih bersih. Ia menghela nafas sekali lagi sambil memijat keningnya. Ia benar-benar frustasi sekarang.

BRAKK

Kehilangan kesabarannya, Sasuke menggebrak meja dengan keras membuat Hinata terlonjak. Namun Hinata segera menunduk begitu melihat aura gelap mengelilingi tutornya itu.

"Tatap aku!" perintahnya.

Hinata semakin menundukkan wajahnya, ia benar-benar tidak mengerti dengan pemuda di depannya itu.

'Lucifer-nya keluar… Kami-sama tolong aku' batinnya. Tangannya menggenggam ujung roknya kuat-kuat.

"Kubilang tatap aku!" desis Sasuke seraya mengangkat dagu Hinata, membuat gadis itu bertatapan dengannya.

"Kau masih marah denganku?"

Hinata mengangguk pelan.

"Tch. Aku hanya menciummu di pipi. Kenapa reaksimu berlebihan begitu?" kata Sasuke kesal sambil menjauhkan dirinya dari Hinata.

"T-tapi… tetap saja… itu ciuman pertamaku," sahut Hinata pelan, wajahnya memerah.

"Jadi, apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah lagi?"

Hinata tampak berpikir keras, kemudian tiba-tiba wajahnya berubah cerah. Sepertinya ia mendapatkan sebuah ide.

"Berbaikan dengan Sai-senpai!" kata gadis itu mantap.

Sasuke menatap Hinata dengan tatapan apa-kau-gila , membuat Hinata kembali menunduk dengan wajah muram.

"Yasudah, kalau tidak mau. Aku juga tidak mau berbicara lagi denganmu," kata Hinata lirih, tapi Sasuke masih bisa mendengarnya.

"Kemasi barangmu!"

"E-eh?" Hinata menatap Sasuke heran.

"Cepat!"

Hinata menggembungkan pipinya. Orang ini, suka sekali main perintah, batinnya. Sasuke segera menyeret Hinata begitu gadis itu selesai mengemasi barang-barangnya.

"Eeehh .. mau kemana?"

Sasuke tidak menggubris pertanyaan Hinata, ia terus membawa Hinata keluar kelas, menuruni tangga, melewati gedung utama sekolah dan berakhir di tempat parkir. Mereka berhenti di samping mobil Lamborghini Gallardo LP 560-4 Spyder berwarna hitam. Hinata menatap mobil itu tanpa berkedip.

"W-wow…" gumamnya.

Sasuke menyeringai, kemudian membukakan pintu dan mendorong Hinata untuk masuk.

"Ini mobilmu?" tanya Hinata tak percaya. Kalau tidak salah, ia dengar dari Gaara bahwa Sasuke tinggal sendiri. Bagaimana caranya pemuda ini bisa mempunyai mobil semewah ini.

"Tidak perlu menatapku curiga begitu. Ini hadiah ulangtahun dari kakekku dulu."

Hinata hanya mengangguk. Setelah memastikan Hinata memakai sabuk pengaman, Sasuke melajukan mobilnya, menjauhi komplek Konoha Gakuen.

Hinata yang tersadar langsung membelalak. "Eh! Aku mau dibawa kemana?"

"Duduk dan diamlah!"

Hinata hanya menggembungkan pipinya sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Sasuke tersenyum tipis.

.

*****RDR*****

.

Satu jam kemudian, mobil hitam milik Sasuke sampai ke tempat tujuannya. Hinata mengarahkan pandangannya ke depan. Matanya melebar takjub meilhat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Laut biru yang luas, pasir pantai berwarna putih, pohon kelapa yang bergerak-gerak diterpa angin, membuatnya lupa akan kekesalannya pada Sasuke. Dan yang lebih membuat Hinata senang, pantai ini sepi. Seakan hanya untuk dinikmati mereka berdua.

"Kau mau turun atau tetap disini?" tanya Sasuke membuyarkan lamunan Hinata.

Mereka turun dari mobil, Hinata segera berlari kearah pantai. Sasuke tersenyum melihat gadis berambut indigo itu, ia berjalan menuju pantai dan duduk di pasir tak jauh dari Hinata.

Hinata masih tetap berlari-lari di pantai, menyambut ombak yang datang, kemudian berlari menjauh saat ombak itu mengejarnya. Wajahnya tampak ceria sekarang. Sejujurnya, ia sudah lama sekali tidak ke pantai. Sekalinya ke pantai, pantai itu pasti ramai. Sehingga Hinata yang pemalu tidak bisa bermain sepuasnya.

Tanpa sadar, untuk pertama kalinya Sasuke tersenyum dengan tulus saat melihat gadis itu berlarian seperti anak kecil. Ia mengeluarkan kamera digital dari sakunya, kemudian memotret gadis itu diam-diam.

Merasa lelah, Hinata berhenti berlari dan menghampiri Sasuke. Kemudain ia mendudukkan diri di dekat pemuda raven itu.

"Sudah puas?" tanya Sasuke.

"Hmm… l-lumayan."

Mereka duduk dalam diam sambil menikmati suasana pantai di sore hari. Warna langit yang kemerah-merahan membuat suasana semakin indah.

"Lihat disana!" kata Sasuke sambil menunjuk kearah barat.

"Wah… sunset," gumam Hinata senang. "Ah… aku tidak membawa kamera," lanjutnya dengan wajah menyesal.

"Berdiri disana!" perintah Sasuke.

"A-apa?"

Melihat Hinata yang lambat dalam merespon membuat Sasuke terpaksa menarik gadis itu untuk berdiri.

"Berdiri disitu, dan tersenyumlah yang alami!"

"Huh?" Hinata memiringkan kepalanya karena tak mengerti. Tapi melihat deathglare Sasuke membuatnya menuruti kata-kata pemuda itu.

Hinata berdiri menghadap Sasuke, kemudian tersenyum lembut.

Klik

Sasuke berhasil memotret Hinata yang tersenyum dengan latar belakang langit kemerahan dan matahari terbenam.

Blush

Wajah Hinata memerah mengetahui ia baru saja dipotret pemuda bermata onyx itu. Ia memang suka dengan fotografi, tapi gadis itu tidak terbiasa dipotret.

Sasuke mendekati Hinata, kemudian mengarahkan kamera untuk memotret mereka berdua.

Klik

Satu foto lagi berhasil tertangkap oleh lensa kamera Sasuke. Gambar dirinya yang merangkul Hinata yang sedang blushing dan terkejut. Sasuke benar-benar puas dengan gambar yang berhasil ia dapatkan.

"Eeehh?"

"Kita impas," kata Sasuke sambil tersenyum. Kali ini Sasuke benar-benar tersenyum, bukan menyeringai.

Deg

'Kenapa aku berdebar-debar…' kata Hinata dalam hati. Ia memandang Sasuke yang sedang berjalan membelakanginya. Pemuda itu benar-benar tampak seperti malaikat kalau sedang tersenyum, bukan lagi seperti Lucifer.

"Sini," ucap Sasuke sambil melambaikan tangan, menyuruh Hinata untuk duduk di dekatnya lagi. Hinata pun menurut.

"S-sasuke-san…" panggil Hinata lirih.

"Sasuke."

"A-apa?"

"Panggil aku Sasuke. Tak usah pakai embel-embel," sahutnya.

"Aaa… baiklah… Sasuke. Kau… terlihat baik saat tersenyum," ujar Hinata tanpa menatap Sasuke.

"Kau ingin tahu kenapa aku tidak terbiasa tersenyum?"

Hinata menatap Sasuke. "Eh?"

"Dulu… saat kecil, aku sangat menyayangi keluargaku. Keluarga kami bahagia." Sasuke memulai ceritanya. Matanya menerawang menatap langit yang mulai gelap.

"Saat aku berumur tujuh tahun, tiba-tiba ada seorang wanita datang dengan membawa anak laki-laki yang mirip denganku. Ternyata ia adalah istri kedua ayahku yang selama ini disembunyikan."

Hinata mendengar penuturan Sasuke dengan seksama.

"Karena ayah harus bertanggung jawab, maka ayah membuatkan rumah untuk wanita itu dan anaknya. Kami jarang bertemu, tapi saat itu aku tak membenci mereka. Tapi lama-lama, ayah lebih sering menginap di rumah wanita itu. Ibuku menjadi sakit-sakitan, dan saat berumur delapan tahun… ibuku meninggal."

Sasuke berhenti sejenak, kemudian melanjutkan.

"Aku masih mempunyai kakakku yang selalu menyayangiku dan mendukungku, jadi kami melanjutkan kehidupan berdua. Orang itu tidak pernah lagi berkunjung ke rumah setelah itu, tapi dia memberi kami banyak uang. Tapi saat aku SMP, kakakku pun meninggal karena penyakit paru-paru. Aku yang sendirian, ditawari Kakek Madara untuk tinggal di London. Dan sebulan yang lalu, kakekku meninggal karena memang sudah tua."

"Sejak aku kehilangan kakakku, aku membenci Sai, ibunya dan juga ayahku. Dia bahkan tidak datang saat pemakaman ibu dan kakakku. Aku benar-benar… membenci… orang itu."

Hinata terdiam mendengar cerita Sasuke. Ia tidak tahu kehidupan Sasuke begitu berat. Dalam hati ia bersyukur, walaupun ibunya meninggal, tapi ia masih memiliki ayah, kakak dan adik yang menyayanginya.

"T-tapi… kau masih punya sahabat seperti Naruto-san da Gaara-san… kau tidak sendiri, Sasuke."

"Lalu kau bagaimana?" tanya Sasuke tiba-tiba sambil menatap Hinata lekat.

"Huh?"

"Kau… bukan temanku?"

Hinata terkesiap mendengar pertanyaan Sasuke. "K-kalau kau tidak jahil… aku mau jadi temanmu," jawab Hinata sambil menunduk.

"Salahmu sendiri, kan? Habis… wajahmu selalu memerah. Itu membuatku senang mengusilimu."

Hinata lagi-lagi menggembungkan pipinya. Melihat ekspresi lucu gadis di sebelahnya itu, mambuat Sasuke tanpa pikir panjang mencubit kedua pipi chubby Hinata.

"Ah!" Hinata menatap kesal Sasuke, namun Uchiha muda itu malah tersenyum.

Lagi-lagi Hinata merasa berdebar-debar melihat senyum asli Sasuke. Ia segera mengalihkan pandangannya.

Mereka melanjutkan menikmati pemandangan dalam keheningan. Namun bagi mereka, keheningan ini tidak terasa canggung. Justru suasana seperti ini membuat mereka merasa nyaman.

.

*****RDR*****

.

Kediaman Hyuuga…

"HINATA!"

Neji berdiri di depan gerbang sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap kearah Hinata dengan pandangan menyelidik.

Glek

Hinata menelan ludah,kemudian melangkahkan kaki turun dari mobil Sasuke dengan takut-takut. Dalam hati ia merutuk dirinya yang sampai lupa waktu karena menikmati pemandangan pantai.

"N-nii-sang-gomen… ponselku baterainya habis…" ujarnya pelan.

"Hai, Neji!" sapa Sasuke sambil menyeringai kearah Neji.

"Darimana kalian jam segini baru pulang?" tanya Neji dengan nada menginterogasi.

"Tch. Ini belum ada jam delapan, Ji!"

Neji menggeram kesal, melemparkan deathglare pada Sasuke kemudian berjalan menghampirinya.

"N-nii-san… t-tadi Sasuke hanya mengajariku matematika… k-karena nilaiku jelek," ujar Hinata berusaha menjelaskan. Ia tahu kakaknya tidak akan suka bila dirinya pulang malam dengan laki-laki.

Neji terus mendekati Sasuke. Sasuke pun maju dan menatap Neji sinis.

Neji langsung mengarahkan tendangan kearah Sasuke. Dengan gesit Sasuke menangkis tendangan seniornya itu. Neji melayangkan tinju ke wajah Sasuke dengan kecepatan tinggi, namun Sasuke berhasil berkelit. Hinata menutup matanya rapat-rapat, terlalu takut untuk melihat adegan itu.

"Heh. Kau lumayan berkembang," kata Neji sinis.

"Terima kasih pujiannya."

"Tch. Sana pulang!" Neji mengalihkan pandangan ke Hinata. "Hinata, cepat masuk!"

Hinata hanya mengangguk dan mengikuti Neji masuk ke dalam rumahnya.

Sebelum memasuki rumah, Hinata menoleh untuk melihat Sasuke. Pemuda itu sudah duduk di dalam mobilnya. Ia balas menatap Hinata, kemudian menyeringai. Hinata segera memalingkan wajahnya kembali ke depan, berharap Sasuke tidak melihat wajahnya yang memerah.

.

*****RDR*****

.

Konoha Gakuen…

Hinata melangkahkan kakinya di lorong gedung klub sekolah setelah menyerahkan bekal pada kakaknya yang sedang berlatih karate. Ia menunduk saat melewati lapangan tenis. Ia dengar kemarin Sai sudah pulang, tapi entah kenapa ia merasa malu jika harus bertemu senpai-nya itu sekarang.

BRUK

"A-ah!"

"Hati-hati, dong! Eh… Hinata?"

Hinata mendongakkan kepalanya, matanya melebar melihat sosok di depannya. Sai berdiri di hadapannya dengan mengenakan seragam tenis berwarna putih dan tas raket tersampir di bahunya, membuatnya terlihat sangat keren.

"S-se-senpai…" gumam Hinata tanpa sadar.

"Lama tak jumpa. Mau temani aku minum di kafe dekat sini?"

Hinata mengangguk semangat, kemudian berjalan mengikuti senpai-nya itu.

"Kalau berjalan denganku, kau harus disampingku!"

"E-ehh?"

Lagi, Sai menggenggam tangan Hinata agar gadis berambut indigo itu tidak lagi berjalan di belakangnya.

.

*****RDR*****

.

Kona Coffe House…

"Ice caffe latte dan ice cappucinno, selamat menikmati," kata pelayan kafe sambil menghidangkan pesanan Hinata dan Sai.

"Arigatou," ucap Hinata sambil tersenyum ramah.

Hinata menyesap minumannya pelan dan memandang keluar jendela, kebiasaan yang sering dilakukannya jika duduk di dekat jendela. Mengamati jalanan yang ramai karena orang-orang berlalu lalang.

Sai mengamati kouhai-nya itu sambil tersenyum, kemudian meminum ice caffe latte-nya untuk menghilangkan dahaga karena latihan tenis tadi.

"Hinata…" panggil Sai pelan.

"E-eh! Senpaigomen…" Hinata menunduk malu begitu menyadari dirinya malah mengacuhkan senpai yang mengajaknya kemari.

"Tak apa… bagaimana kabarmu seminggu ini?"

"Um… lumayan…"

"Hmm… oh iya… apa kau dan Sasuke… punya hubungan khusus?" Sai menatap Hinata dengan curiga.

"Ah! T-tidak! K-kami tidak begitu… dia hanya sering mengerjaiku. S-seperti… kejadian di perpustakaan itu! Gomen, Senpai." Hinata menyeruput lagi minumannya, berharap kegugupannya karena pertanyaan Sai hilang.

"Oooh… iya… aku mengerti," balas Sai seraya tersenyum.

Pembicaraan mereka terus berlanjut. Hinata menceritakan hobinya yang suka memotret, kegiatannya sepulang sekolah, dan tentang keluarganya. Sedangkan Sai, menceritakan pengalamannya saat mengikuti turnamen tenis di Tokyo selama seminggu kemarin. Hinata menjadi tahu, bahwa pemuda di depannya ini bercita-cita menjadi pemain tenis yang handal.

"Senpai… pasti bisa menjadi pemain tenis yang hebat."

Sai tersenyum mendengarnya. "Kau… dukung aku ya?" pintanya. Hinata segera mengangguk diiringi senyumnya yang manis.

Sai terdiam melihat Hinata tersenyum lembut seperti itu. Ia merasakan hatinya menjadi hangat.

Ringdingdong ringdingdong ring diggi ding diggiding ding ding

Ponsel Sai berbunyi, ia pun segera menjawab panggilan masuk untuknya.

"Hallo…"

"Ya, Kaa-san. Aku sedang bersama temanku. Ada apa?"

"Baik… aku segera kesana."

Merasakan perubahan raut wajah Sai yang terkejut, Hinata memberanikan diri untuk bertanya.

"A-ada apa, Senpai?"

"Ayahku jatuh sakit… aku harus ke rumah sakit sekarang. Maaf, Hinata," kata Sai sambil berdiri.

"Biar aku yang bayar bill-nya. Kau habiskan saja minumanmu, gomen."

Hinata hanya bisa mengangguk. "Iya, Senpai. Tidak apa… Arigatou…"

Sai tersenyum kaku, kemudian berlalu pergi meninggalkan Hinata.

.

*****RDR*****

.

Konoha Apartement…

"Hoaem…"

Mulut Naruto membuka lebar, sebelum satu tangannya menutupi karena mendapat deathglare dari Sasuke dan Gaara.

"Kenapa kalian tidak kembali ke kamar kalian saja, sih?"

Sasuke menatap kesal pada dua pemuda berambut kuning dan merah yang sedang bermain catur di kamarnya itu.

"Mau bagaimana lagi, dikamarku sepertinya ada hantunya," jawab Naruto sekenanya.

"Tch. Baka!"

Sasuke menutup laptopnya, kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia memejamkan matanya. Bayangan Hinata yang berlarian saat di pantai kembali muncul. Rasanya itu pertama kalinya gadis itu terlihat ceria di depannya.

Ting tong

Suara bel yang berbunyi membuat Sasuke membuka matanya, dengan malas ia berjalan kearah pintu dan membukanya. Matanya melebar saat tahu siapa yang berkunjung.

"Sasuke."

"Mau apa kesini?" tanya Sasuke dingin.

Sasuke memandang kakak tirinya sinis, sedangkan Sai hanya memasang wajah datar.

"Ikutlah denganku, ke rumah sakit."

"Tidak akan!" jawab Sasuke ketus. Sasuke sudah akan menutup pintu apartemennya kalau Sai tidak menahannya.

"Sasuke! Ayah ingin bertemu denganmu…"

"AKU TIDAK SUDI BERTEMU ORANG ITU!" bentak Sasuke membuat Naruto dan Gaara menghampirinya.

"Ada apa ini?" tanya Naruto.

"Mungkin… ini adalah kesempatan terakhir kalian untuk saling bicara, Sasuke. Aku sangat mengharapkan kau datang." Sai segera pergi setelah mengatakan hal itu.

Gaara menatap Sasuke yang tampak emosional.

"Kau harus bertemu ayahmu, Sasuke." kata Gaara menasehati.

"Tidak usah ikut campur!" balas Sasuke dingin.

"Aku dulu juga sama sepertimu. Aku sangat membenci ayahku karena dia tidak pernah peduli padaku. Tapi saat aku tahu yang sebenarnya, aku menyesal tidak meu bertemu dengannya di saat-saat terakhirnya…" Gaara berhenti sejenak, kemudian melanjutkan "…bagaimanapun, dia adalah ayahmu."

Gaara menarik Naruto untuk keluar dari ruangan Sasuke. Memberi privasi temannya itu agar bisa berpikir dengan jernih.

"Argh!"

Tangan putih Sasuke meraih jaketnya yang tergantung begitu saja, menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja dan segera berangkat menuju rumah sakit.

.

*****RDR*****

.

Konoha Gakuen High, pulang sekolah…

Hinata, Sakura dan Tenten sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Hari ini ada kelas tambahan sehingga mereka pulang sampai sore.

"Aaah… aku pulang sendirian, deh," keluh Sakura sambil menghela nafas.

"Memangnya Temari-senpai kemana? Biasanya kau pulang bersamanya kan karena rumah kalian dekat?" tanya Tenten.

"Itu… Temari-senpai mau ke kediaman Uchiha, katanya Uchiha Fugaku, ayah Sai-senpai meninggal," jelas Sakura.

Hinata tersentak mendengarnya.

'Ayah Sai-senpai… berarti ayah Sasuke.'

Tadi pagi Sasuke memang berangkat sekolah, namun setelah pelajaran ketiga pemuda itu tidak menampakkan batang hidungnya lagi. Tapi Sasuke bilang dia tidak akan menginjakkan kaki di kediaman Uchiha.

Drrtt drrtt drrtt

Merasakan ponselnya bergetar, Hinata segera mengeluarkan handphone ungu kesayangannya itu.

1 message received

From: Neji-niisan

Hinata, gomen tidak bisa mengatarmu pulang. Aku harus ke rumah Sai karena ayahnya meninggal. Kau naik bus saja ya… gomen…

Hinata segera membalas pesan dari kakaknya itu kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. Gadis itu menghela nafas, kemudian memutuskan untuk mencari Sasuke sekarang.

"Sakura-chan, Tenten-chan, kalian tahu tidak dimana biasanya Naruto-san dan Gaara-san berkumpul?"

"Biasanya mereka diatap," jawab Sakura.

"Kalau begitu, aku duluan. Jaa!"

Hinata segera berlari menuju atap sekolah. Ia harus mencari tahu dimana Sasuke berada. Setelah mendengar cerita pemuda itu, entah kenapa ia merasa bahwa seharusnya ia berteman dengan Sasuke.

"Ah! Naruto-san… Gaara-san… a-apa kalian tahu dimana Sasuke sekarang?" tanya Hinata saat berpapasan dengan kedua pemuda itu di tangga.

"Kami juga mau mencarinya, Hinata. Kau sudah dengar beritanya, ya?" Naruto bertanya balik. Hinata menjawabnya dengan anggukan.

"Ponselnya tidak aktif," ujar Gaara.

"Kalau begitu, kita berpencar saja," usul Naruto.

Hinata mengangguk dan segera berlalu. Gaara dan Naruto terdiam melihat gadis yang sering diganggu Sasuke itu kini menjadi orang yang paling antusias mencari Sasuke.

"Sepertinya teman Sasuke sudah bertambah, eh?"

"Hn."

.

*****RDR*****

.

Hinata terus berjalan tergesa-gesa menyusuri jalanan di sekitar sekolah. Tujuannya hanya satu, menemukan pemuda berambut raven bernama Sasuke. Ia tidak tahu kemana harus mencari Sasuke, Hinata hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Diliriknya jam yang ada di pergelangan tangannya, sudah hampir tiga puluh menit ia berjalan namun belum menemukan dimana Sasuke berada.

Begitu mendengar berita Uchiha Fugaku meninggal, ia merasa harus menemui Sasuke sekarang. Ia sudah mencari ke seluruh ruangan di sekolah, tapi hasilnya nihil. Mobil hitam Sasuke masih terparkir rapi, jadi kemungkinan Sasuke berada tak jauh dari lingkungan sekolah.

'Sasuke-kun… kau dimana?'

Tes tes tes

Tiba-tiba hujan turun. Hinata merasakan tetes-tetes air mengenai rambutnya. Ia berhenti sejenak dan menengadah ke langit. Menatap tetes-tetes air berwarna keperakan jatuh membasahi bumi. Titik-titik air itu makin lama berubah menjadi besar. Hinata yang merasakan ini bukan gerimis lagi langsung mengeluarkan payung dan membukanya.

Hinata melangkahkan lagi kakinya, ia semakin khawatir dengan Sasuke. Merasakan hujan semakin deras, Hinata segera mempercepat langkahnya. Saat melewati taman bermain, tiba-tiba mata lavender-nya menangkap seorang pemuda yang tengah berdiri di tengah taman bermain anak-anak itu.

Hinata segera menghampiri Sasuke yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.

"S-sasuke…" Hinata mengangkat tangannya lebih tinggi, sehingga payung yang dipegangnya dapat melindungi Sasuke yang berdiri di hadapannya. Sasuke merasakan air hujan yang sedari tadi menerpanya kini berhenti.

"Kenapa kesini?" Sasuke bertaya dengan nada dingin.

"A-aku… aku… khawatir…" jawab Hinata.

Sasuke menoleh, menatap Hinata dengan sendu. Tanpa pikir panjang Sasuke langsung memeluknya dengan erat. Hinata berusaha melepaskan diri, namun tenaga Sasuke lebih besar.

"Sebentar saja… tolong," bisiknya.

Hinata menghentikan usahanya untuk melepaskan pelukan Sasuke. Perlahan-lahan, gadis itu balas memeluk Sasuke. Ia menepuk-nepuk pelan bahu pemuda itu, berharap bisa mengurangi beban yang dirasakan Sasuke. Tanpa disadari, Sasuke menitikkan airmatanya. Merasakan tubuh Sasuke yang bergetar, Hinata semakin mengeratkan pelukannya. Membiarkan pemuda itu menangis di bahunya.

'Dia terlihat kuat dari luar, tapi ternyata dia hanya anak berumur 16 tahun biasa. Yang akan merasa galau jika satu-satunya keluarga yang dimilikinya pergi meninggalkannya… selamanya.'

.

~~~~~T.B.C~~~~~

.

Fiuh… akhirnya selesai chap ini.

Saya pikir cuman 2ribuan kata, ternyata ampe 3ribu. Gomen … kalo kepanjangan …

Tentang sasuke yg ketemu babenya, akan dibahas di chap dpn. Hhe :D

Oia… tau mobil yang dipake Taeyang Bigbang di MV Tonight? Itulah mobilnya sasu .. haha ^^v

Gomen juga kalo byk salah2 tulis ato kurang sesuai eyd … nile bhs indo saya wkt sma pas-pasan pula. :D

Oke… special thanks dulu

To:: Deidara Crack Remix, Yuichan desu, Keira Miyako, ulva-chan, demikooo, M.B Kise-chan -MK, Dobe sifujo, keiKo-buu89, YamanakaemO, atacchan, uchihyuu nagisa, Kimidori hana, harunaru chan muach, chibi tsukiko chan, n, Ai HinataLawliet, Sora no Aoi, lonelyclover, Fujiawa Yukito, Firah-chan, Aiiko Aiiyhumi, Haru3173, ryu Uchiha, Ainni No Gaara, Lollytha-chan, fyori nogi n silent reader::

Arigatou gozaimasu semua… yg bersedia baca fic ini… gomen ga bisa bls satu2… apalagi yg fav,,, trimakasih banyak . m(._. )m

Yosh … monggo silahkan tinggalkan jejak kawan-kawan dengan review, kritik, saran dll .

^^v

Sampai ketemu di fic saya yg The Rhapsody. *plakk* mungkin 2 hari lg apdet. ^^

Akhir kata …

Mind to RnR?

Arigatou(^人^)