.
.
Title: Run Devil Run
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Pairing: SasukexHinataxSai
Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll
.
Run Devil Run
Chapter 5
.
Uchiha Sasuke: 16 tahun.
Hyuuga Hinata: 16 tahun.
Uchiha Sai: 17 tahun.
Hyuuga Neji: 17 tahun.
Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.
Haruno Sakura; Tenten: 16 tahun.
Konan (Ibu Sai): 40 tahun.
"[percakapan]"
'[bicara dalam hati]'
.
.
Happy reading
.
.
Di sebuah taman …
Malam yang mendung di Konoha. Langit berwarna hitam kelam tanpa kerlap-kerlip bintang. Hujan yang mengguyur kota sejak sore hari memang telah berhenti sejak setengah jam lalu, namun aroma khas hujan masih menyelimuti bumi.
Sebuah taman yang biasanya ramai karena sering dimanfaatkan penduduk sekitar untuk bermain atau sekedar bersantai kini tampak lengang. Bangku-bangku taman tampak tersusun rapi, lampu-lampu taman sebagai penerang berjajar di sisi-sisi bangku. Sebuah arena khusus anak-anak untuk bermain juga terletak di salah satu sudut taman.
Di salah satu bangku taman terlihat dua sosok pemuda pemudi sedang duduk termenung. Seorang pemuda berambut raven dan gadis berambut indigo. Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan dan hewan-hewan malam. Hinata menoleh ke samping perlahan, memperhatikan Sasuke yang masih terhanyut dalam pikirannya sendiri. Wajahnya memerah begitu ingat beberapa saat lalu mereka baru saja berpelukan. Yah, walaupun bukan pelukan romantis, tapi tetap saja itu pertama kalinya Hinata berpelukan dengan anak laki-laki selain kakaknya. Ia segera memalingkan kembali wajahnya.
"Aku antar kau pulang," kata Sasuke memecah keheningan sambil beranjak dari duduknya.
"A-ano… tidak usah repot-repot, Sasuke-kun. Aku bisa pulang sendiri," tolak Hinata halus.
Sasuke menatapnya datar, namun Hinata bisa melihat raut mata yang belum pernah ia lihat selama ini. Walaupun ekspresi wajahnya datar, namun sorot matanya benar-benar menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Tidak baik seorang gadis pulang sendiri malam-malam begini," lanjut Sasuke.
Merasa bukan waktu yang tepat untuk berdebat, akhirnya Hinata mengiyakan. "Baiklah…"
Sasuke segera melangkahkan kakinya, kembali ke kompleks sekolah karena mobilnya masih di sana. Hinata berjalan di belakang Sasuke, mengikutinya. Tiba-tiba pemuda itu berhenti, membuat Hinata menabrak punggungnya.
"Aak.." rintihnya pelan.
"Berjalanlah di sampingku!"
"Huh?"
Sasuke berbalik, dengan cepat ia meraih jemari Hinata dalam genggamannya dan mengajak gadis itu beranjak pergi.
Hinata sedikit terkejut menyadari tangannya kini berada di genggaman Sasuke. Ia merasakan hatinya kembali berdebar-debar seperti saat melihat pemuda itu tersenyum tempo hari.
'Kenapa jantungku berdebar-debar lagi…'
.
.
*****RDR*****
.
.
Konoha Gakuen, keesokan harinya…
Suasana saat istirahat di kelas 2-4 terasa lebih sepi dari biasanya, meski masih banyak siswa-siswi yang mendiami kelas tersebut. Hinata melirik bangku di sampingnya yang kosong sejak pagi. Salah satu penyebab keramaian di kelas yaitu Uchiha Sasuke ternyata tidak masuk sekolah. Murid-murid perempuan tampak lesu karena sang pangeran kelas tidak hadir.
'Apa dia sakit, ya?'
Semalam saat mengantarnya pulang, wajah Sasuke memang sedikit pucat. Sepertinya pemuda itu terlalu lama kehujanan.
'Harusnya kemarin aku mencarinya lebih cepat…' sesalnya dalam hati.
Semakin penasaran akan kondisi Sasuke, Hinata memutuskan untuk bertanya pada salah satu sahabat pemuda itu yang duduk tepat di depannya.
"G-gaara-san…" panggilnya pelan.
Pemuda berambut merah yang tengah memainkan permainan terbaru di ponselnya itu lantas membalikkan badan saat mendengar namanya dipanggil.
"Hn?"
"K-kenapa… Sasuke tidak masuk?"
Gaara tampak mengernyitkan dahi, kemudian menyeringai tipis. "Dia demam."
Hinata sedikit terkejut mendengarnya. 'Benar,kan dia sakit…' ujarnya dalam hati.
"A-apa Gaara-san tau tempat tinggal Sasuke?"
"Kami bertetangga. Aku, Naruto dan Sasuke," sahut pemuda beriris azure itu.
Hinata mengangguk perlahan. "Bolehkah… sepulang sekolah nanti aku ikut kalian? A-aku ingin menjenguknya…"
"Hn." Setelah menjawab singkat Gaara kembali membalikkan badannya, berkonsentrasi lagi pada game ponselnya.
"Arigatou…"
.
.
*****RDR*****
.
.
Konoha Gakuen, pulang sekolah…
Hinata berjalan bersama kedua sahabatnya –Tenten dan Sakura– di lorong gedung khusus klub sekolah. Seperti biasa, karena Neji ada latihan karate, Hinata harus mengantarkan bekal pada kakaknya itu. Rencananya pulang sekolah ini ia akan menjenguk Sasuke bersama Naruto dan Gaara. Tapi karena kedua pemuda tersebut harus latihan di klub masing-masing dulu, maka Hinata memutuskan untuk menunggu mereka selesai latihan. Gaara beberapa hari lagi harus mengikuti lomba renang antar sekolah se-Konoha, sedangkan Naruto juga akan ada pertandingan penting lusa, jadi mereka berdua tidak bisa bolos latihan.
"Hinata-chan… kenapa selalu mengantar bekal ke kakakmu, sih?" tanya Sakura heran.
Hinata tersenyum mendengar pertanyaan Sakura. "Neji-niisan tidak suka membawa-bawa bekal… katanya itu merepotkan. Makanya aku yang bawakan," jelasnya.
"Tidak apa-apa. Aku mau kok menemanimu tiap hari," seru Tenten sambil mengedipkan mata.
"Kau sih… cuma ingin ketemu Neji-senpai," sahut Sakura.
Hinata hanya tersenyum menanggapi kedua temannya itu. Tiba-tiba telinga gadis berambut indigo itu menangkap suara dari ruang lapangan tenis indoor yang baru saja mereka lewati. Langsung saja bayangan senpai berkulit pucat yang ia kagumi muncul.
'Ah… aku belum mengucapkan bela sungkawa pada Sai-senpai,' batinnya.
Segera saja gadis itu menghentikan langkahnya. Sakura dan Tenten ikut berhenti.
"Ada apa, Hinata?" tanya Tenten.
"Ah! Aku ada urusan sebentar… kalian duluan saja," jawabnya.
"Benarkah? Tidak apa kalau kami tinggal?" Sakura ikut bertanya yang dibalas anggukan oleh Hinata.
"Ya sudah. Kami duluan, ya. Jaa…" Tenten dan Sakura berlalu meninggalkan Hinata setelah melambaikan tangan.
"Jaa…"
Hinata membalikkan badannya, kemudian melangkahkan kaki mendekati lapangan tenis. Ia membuka pintunya sedikit, mendapati Sai yang sedang memukul-mukul bola tenis ke dinding di pojok ruangan. Hinata memasuki lapangan perlahan, supaya Sai tidak menyadari kehadirannya.
Duk Duk Duk
Satu bola tenis dipukul lagi oleh Sai. Peluh tampak membasahi wajah dan tubuh pemuda berkulit pucat wajahnya berbeda dari biasanya. Hinata belum pernah melihat seniornya berekspresi seperti itu. Frustasi, kesal, lelah, sedih dan marah yang bercampur menjadi satu.
Sepertinya Sai sudah berada di sana sejak tadi. Hinata bisa melihat puluhan bola tenis tergeletak di sekitar pemuda itu berdiri. Baju tenis berwarna hitam yang dikenakan senpai-nya itu juga tampak basah.
Duk Duk Duk
Bunyi pantulan bola tenis yang dipukul Sai terdengar bersahutan. Pemuda bermata onyx itu terus memukul bola tenis tanpa henti. Pukulannya tampak semakin keras dan cepat. Ia berlari kesana kemari mengejar bola. Jika bola jatuh ke lantai, ia segera mengambil bola lagi dari keranjang yang terletak di belakangnya.
Hosh hosh hosh
Samar-samar Hinata bisa mendengar suara nafas terengah-engah pemuda itu. Namun tampaknya pemuda itu tak begitu peduli. Ia terus berlari mengejar bola dan memukulnya dengan keras.
Tiga puluh menit berlalu. Keringat makin membanjiri tubuh sang pemuda. Nafasnya makin terengah-engah. Langkahnya mulai melambat.
BRUK
Tiba-tiba tubuh Sai jatuh tersungkur. Raket yang ia pegang terlepas begitu saja. Hinata kaget bukan main. Ia segera berlari menghampiri senpai-nya itu.
"Senpai!" teriaknya panik.
Belum sampai lima langkah Hinata berlari, pemuda itu berusaha untuk bangkit berdiri sambil menyambar raketnya. Ia mengambil bola dari keranjang, kemudian memukulnya lagi dengan sangat keras.
Duagh
BRUK
Pemuda berambut hitam itu terjatuh lagi bersamaan dengan memantulnya bola yang ia pukul. Hinata segera menghampirinya.
"Senpai! Sudah… hentikan…" pintanya sambil memegangi tangan pemuda itu, membantunya untuk duduk.
Kedua onyx milik Sai menatap lemah tangan yang dipegang kohai-nya itu.
"Apa kau tahu… rasanya menjadi anak yang tak dianggap, Hinata?"tanyanya lirih. Hinata terkejut mendengar pertanyaan senpai-nya itu.
"S-senpai…"
"Aku selalu… mencoba menjadi anak yang sempurna untuknya. Aku tidak pernah membangkang…" Sai berhenti sejenak, menghela nafas berat. Dadanya terasa sakit mengingat ayahnya.
"Tapi ayah tidak pernah memandangku. Dia tidak peduli padaku. Saat aku memperlihatkan prestasi-prestasiku, dia tidak pernah terlihat bahagia. Di matanya hanya ada Sasuke. Bahkan disaat terakhirnya… yang dipikirkannya hanya Sasuke," lanjutnya lirih.
"Aku iri padanya! Tapi bagaimanapun, dia itu adikku… dan aku tahu dia juga menderita…"
'Kami-sama… sebenarnya apa yang terjadi di keluarga Uchiha? Kenapa baik Sasuke maupun Sai-senpai sama-sama terluka…'
Kedua manik lavender Hinata menatap sendu pemuda di hadapannya yang terluka itu. Ia menggenggam kedua tangan Sai.
"Senpai… jangan bersedih…" kata Hinata pelan. "Tidak mungkin ayah Senpai tidak mengharapkanmu. Pasti ada alasan kenapa beliau begitu," lanjutnya.
Sai tersenyum simpul mendengar perkataan kohai-nya.
"Maaf, Hinata. Aku merepotkanmu, tiba-tiba mengatakan hal seperti itu."
Hinata menggeleng pelan. "Tidak, Senpai. Tak apa… a-aku memang tidak tahu bagaimana rasanya. Tapi… Senpai juga tidak boleh seperti ini… " ujarnya sambil tersenyum lembut.
Tatapan Sai ke kohai yang duduk di sampingnya melembut. Pemuda itu menggeser tubuhnya mendekat pada Hinata, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu. Tangannya yang tadi digenggam Hinata kini berbalik menggenggam tangan gadis itu.
"S-senpai…" panggil Hinata gugup saat merasakan kepala Sai di pundaknya.
"Aku lelah…" gumam Sai pelan.
Pipi Hinata langsung merona. Ia bisa merasakan aroma maskulin senpai-nya itu. Senyum terkembang di wajahnya. Keheningan yang tenang menyelimuti keduanya selama beberapa saat. Sai tampak memejamkan mata onyx-nya. Wangi lavender yang dihirupnya dari tubuh Hinata membuatnya lebih tenang.
Oh Oh Oh oppareul saranghae
Ah ah ah ah manhi manhihae
Mendengar nada pesan ponselnya berbunyi, Hinata segera mengambil ponsel ungunya dari dalam tas.
1 message received
Hinata, kau dimana? Aku dan Naruto sudah selesai. Kami tunggu di gerbang.
From: Sabaku Gaara
"Ada apa?" tanya Sai penasaran seraya mendongakkan kepalanya.
Wajah Hinata semakin memerah karena jarak mereka begitu dekat. "A-ano… aku ada janji dengan teman, Senpai. Gomen, sepertinya aku harus pergi," jawabnya pelan.
"Oh." Sai kembali duduk tegak, tidak lagi bersandar pada pundak Hinata. "Tidak apa. Pergilah," lanjutnya.
Gadis itu mengangguk singkat, kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyerahkan sebotol air putih dan juga sapu tangan.
"A-ano, Senpai… istirahatlah. Aku permisi dulu." Hinata segera berdiri dan membungkuk, kemudian berjalan keluar lapangan.
Sai menatap benda-benda yang diberikan Hinata sejenak, kemudian beralih menatap punggung gadis mungil yang berjalan menjauh itu. Sebuah senyum terukir di wajah tampannya.
"Arigatou, Hinata-chan," gumamnya pelan.
.
.
*****RDR*****
.
.
Apartemen Konoha…
Hinata berdiri diam di depan pintu apartemen Sasuke. Tadinya ia mengira Naruto dan Gaara akan menemaninya, tapi karena kedua pemuda berambut jabrik itu ada acara keluarga, akhirnya ia harus menemui Sasuke sendiri. Wajahnya menunjukkan ekspresi cemas yang bercampur dengan gugup. Cemas karena keadaan Sasuke yang katanya demam. Gugup karena bingung harus bersikap bagaimana saat bertemu pemuda itu. Setelah menarik dan menghembuskan nafas untuk menghilangkan kegugupan, Hinata menekan bel pintu di hadapannya itu perlahan.
Gadis berambut indigo itu menunggu beberapa saat sebelum akhirnya terdengar langkah kaki mendekat kearah pintu.
Cklek
Pintu apartemen berwarna coklat itu terbuka. Menampakkan sesosok pemuda berambut raven yang terlihat berantakan. Wajah putih pemuda itu tampak pucat dan memerah. Sasuke seharian ini memang hanya tiduran. Pemuda itu mengusap-usap matanya sejenak, kemudian melihat siapa tamu yang mengunjunginya. Mata onyx-nya sedikit melebar saat tahu siapa sosok yang berdiri di hadapannya.
"Kau… kenapa kesini?" tanyanya.
Hinata tercengang melihat kondisi Sasuke. Rambut model pantat ayam-nya, kemejanya maupun celananya berantakan. Tapi entah mengapa gadis itu merasa Sasuke malah terlihat keren.
"Hei!"
Suara Sasuke menyadarkan Hinata dari lamunannya. "G-gomen… a-aku mau menjengukmu…" katanya pelan.
Sasuke menatap Hinata dari atas ke bawah, mengamati gadis di hadapannya yang tampak gugup itu.
"Kau tidak seharusnya kesini. Pulanglah. Nanti tertular."
Hinata menggembungkan pipinya, cemberut sambil menggeleng. "T-tidak mau," tukasnya.
"A-aku mau merawatmu!" tambahnya.
"Huh?"
"A-aku bilang mau merawatmu!" jawab Hinata bersikeras. Ia merasa harus membantu Sasuke yang terlihat kesepian, apalagi sedang sakit.
Sasuke menghela nafas. "Masuklah," gumam pemuda itu pelan. Ia masuk ke dalam apartemen diikuti Hinata.
Hinata mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat tinggal Sasuke. Ruangan itu berukuran sedang dan didominasi oleh warna putih. Apartemen itu terdiri dari ruang tamu, sebuah kamar tidur, dapur yang juga dilengkapi ruang makan, dan juga kamar mandi.
"K-kau tiduran saja, Sasuke!" ujar Hinata dengan nada memerintah. Sasuke menyeringai mendengarnya.
"Kau bisa memerintah juga, eh?" sahutnya seraya merebahkan diri di sofa.
"T-tidur saja di kamarmu!"
HATCHI
Sasuke baru saja akan menyahut tapi terpotong oleh bersinan keras. Ia segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Hinata terkikik melihat tingkah laku pemuda yang biasanya angkuh itu.
"M-makanya… cepat kembali ke kamarmu. Di sana lebih hangat."
"Kalau begitu bantu," pinta Sasuke dengan wajah innocent.
Hinata mengernyitkan dahinya tanda keheranan mendengar permintaan Sasuke. "A-apa?"
"Tidak mau ya sudah. Aku tetap disini."
Hinata menghela nafas. Ia menggembungkan pipinya lagi, cemberut. Meski begitu ia tetap berjalan menghampiri Sasuke, menggandeng lengannya dan membimbingnya menuju kamar. Setibanya di dalam kamar, pemuda itu segera merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Sasuke memejamkan matanya, tangannya terkulai lemas di samping tubuhnya.
"Aku benci sakit…" gumamnya.
Hinata tersenyum, kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Sasuke.
"Panas sekali. Kau sudah minum obat, Sasuke?" tanyanya khawatir yang ditanggapi dengan gelengan kepala.
"Sudah makan?"
Sasuke menggeleng pelan lagi.
Hinata mengambil kompresan yang terletak di samping tempat tidur Sasuke, kemudian menempelkan kain tersebut di dahinya.
"Tunggu ya… aku buatkan bubur dulu," ucapnya seraya meletakkan tas sekolahnya di samping tempat tidur dan beranjak ke dapur. Karena sekarang tinggal berdua dengan kakaknya, memasak bukanlah hal yang sulit untuk Hinata.
Sasuke menatap punggung Hinata yang menjauh sambil tersenyum tipis. Ia menghela nafas panjang. Selama ini ia tidak pernah sakit hanya karena kehujanan. Ia memejamkan lagi matanya saat merasakan suhu tubuhnya semakin meningkat dan sakit yang menjalar di kepalanya.
Hinata mengecek bahan-bahan yang tersedia, kemudian memutuskan untuk membuat bubur ayam sayur sederhana. Setelah mengikat rambutnya agar tak merepotkan, dengan terampil gadis itu segera mengolah bahan-bahan makanan tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama hingga bubur yang diinginkan selesai dibuat. Gadis itu meletakkan semangkuk bubur ayam sayur yang hangat dan segelas air putih di atas nampan, kemudian membawanya ke kamar Sasuke.
Melihat Hinata memasuki kamarnya, Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk perlahan-lahan, kemudian bersandar di kepala tempat tidur. Hinata meletakkan nampan di samping tempat kompresan.
Melihat Sasuke yang sepertinya kurang nyaman dengan posisinya, Hinata meraih salah satu bantal di ranjang kemudian meletakkannya di belakang kepala Sasuke agar pemuda itu lebih nyaman.
"B-bisa makan sendiri?" tanya Hinata pelan. Sekali lagi Sasuke menggeleng.
"Aku suapi, ya?"
Kini Sasuke mengangguk semangat.
Hinata tersenyum melihat tingkah Sasuke. Rasanya seperti sedang merawat anak balita yang sedang sakit. Ia segera mengambil bubur tersebut, menyendoki buburnya dan mengarahkan ke mulut Sasuke.
Sasuke mengunyah bubur itu perlahan-lahan, mencoba merasakan bagaimana rasa bubur buatan Hinata kemudian menelannya.
"Lumayan. Lagi," gumamnya.
Senyuman terkembang di wajah Hinata. Ia pernah diberi tahu Naruto kalau Sasuke bukan tipe orang yang mudah memuji sesuatu. Kalau dia bilang lumayan, itu artinya sangat enak. Hinata menyuapinya lagi, sampai akhirnya bubur itu habis.
"Minum obat, ya? Dimana kau simpan obatnya, Sasuke?" tanya Hinata seraya meletakkan kembali mangkuk bubur yang sudah kosong itu.
"Itu…" sahutnya sambil menunjukkan tangannya kearah kotak obat kecil di atas meja belajar. Hinata segera mengambil obat flu yang ada di dalamnya.
Hinata menyerahkan sebutir obat ke tangan Sasuke. Pemuda itu mengulurkan tangannya, bermaksud meminta segelas air putih yang terletak di meja. Setelah Hinata meyerahkan gelas yang dimaksud, pemuda itu langsung memasukkan obat flu ke dalam mulutnya, disusul tegukan air agar obat bisa masuk ke dalam kerongkongannya. Sasuke menyerahkan kembali gelas yang kini kosong itu pada Hinata.
"Nah, sekarang Sasuke-kun istirahat saja. Aku mau mencuci mangkuk dan gelas ini dulu," ujarnya seraya bangkit dan berjalan keluar kamar.
Sasuke merubah lagi posisinya perlahan-lahan menjadi berbaring. Rasa kantuk mulai menyerangnya.
"Hinata…" gumamnya pelan sebelum akhirnya matanya menutup perlahan. Sasuke tertidur dengan lelap. Wajahnya tampak datar seperti biasa. Bibirnya sedikit terbuka karena nafasnya sedikit terhambat oleh flu.
.
.
*****RDR*****
.
.
Sasuke memasuki ruangan serba putih yang cukup besar. Bau khas obat-obatan rumah sakit langsung menyambutnya. Mata onyx-nya meneliti ruangan tersebut. Tatapannya terkunci pada sosok seorang pria paruh baya yang terbaring tak berdaya dengan berbagai peralatan menempel di tubuhnya. Sosok yang sepuluh tahun lalu sangat dikagumi dan dihormatinya. Namun kini merupakan sosok orang yang paling membuatnya menderita.
Uchiha Fugaku.
Pria yang terbaring tak berdaya itu tak lain adalah ayahnya. Orang yang telah menelantarkan dirinya, ibunya dan kakaknya. Orang yang telah membuat ibu dan kakaknya meninggalkan dunia ini selamanya. Setidaknya itulah anggapan Sasuke pada ayahnya.
Sasuke melangkahkan kaki, mendekati ayahnya. Fugaku membuka matanya perlahan, menatap sang anak sendu.
"S-sasuke…" kata sang ayah lirih.
Sasuke diam, tidak membalas panggilan ayahnya. Pemuda itu hanya menatap ayahnya denga tatapan benci dan penuh luka.
"Maafkan ayah… Sasuke…"
Sasuke masih diam.
"Ayah… menyayangi ibumu, itachi… dan kau."
Bayangan-bayangan saat menemui ayahnya di rumah sakit muncul dalam tidur Sasuke. Raut wajah tidur Sasuke yang tadinya tenang kini menegang.
"Itachi-nii! Ibu kenapa? Kenapa ibu tidak bergerak?"
Sasuke kecil tengah memandang sosok ibunya yang terbujur kaku di ranjang rumah sakit.
Itachi memegang bahu adiknya. "Sasuke, adikku. I-ibu… sudah tiada…"
Mata Sasuke melebar. Airmata langsung membanjiri wajahnya. "A-apa? Tidak!"
"Sudah, Sasuke. Kakak akan menjagamu," ujar Itachi sambil memeluk erat adiknya.
"Kenapa semuanya meninggalkan kita, Kak?" tanya Sasuke semakin tersedu.
Itachi mengelus lembut kepala Sasuke. "Kakak tidak akan meninggalkanmu."
Keringat dingin mulai membasahi kening Sasuke. Tubuhnya bergerak-gerak tak nyaman melihat mimpi yang membuka luka lamanya itu.
"Dokter! Bagaimana keadaan Itachi?"
"Maaf, Sasuke. Penyakitnya sudah tidak bisa ditolong lagi. Kami sangat menyesal."
Nafas Sasuke makin memburu. Tangan pemuda itu menggenggam erat sprei biru tempatnya tidur.
Hinata kembali memasuki kamar Sasuke setelah menyelesaikan cuci piring. Ia sedikit terkejut melihat pemuda itu kini tertidur dengan tidak nyaman. Gadis itu segera melangkahkan kaki mendekati sang pemuda.
"S-sasuke… k-kau mimpi buruk?" tanyanya pelan.
Hinata bisa melihat tubuh Sasuke yang menegang dan keringat yang semakin banyak. Tangannya terulur mengambil handuk kecil yang ada di atas meja lalu mengusap keringat di kening Sasuke. Raut wajah tidur Sasuke masih tampak gelisah. Jemari Hinata perlahan menyentuh pundak pemuda itu, kemudian bergerak mengelusnya, berharap mimpi buruk Sasuke menghilang.
Satu tangan Hinata yang bebas segera menggenggam tangan Sasuke. Sedangkan tangan yang lain masih mengusap-usap pundak pemuda itu. Setelah beberapa saat, Sasuke kembali tertidur dengan tenang. Wajahnya tak lagi tegang dan gelisah. Hinata terus mengamati pemuda itu.
"Kalau sedang tidur seperti ini… wajahnya tampan sekali," gumamnya tanpa sadar.
Setelah memastikan Sasuke benar-benar terlelap lagi, Hinata bangkit untuk membersihkan dapur yang tadi dipakainya.
Greb
"Eeh?"
Belum sempat gadis itu melangkahkan kakinya, tangannya telah dipegang dan ditarik oleh Sasuke hingga gadis itu terjatuh menimpanya.
"S-sa-sasuke… apa yang kau lakukan?" tanyanya panik begitu menyadari dirinya ada di pelukan Sasuke. Ia meronta-ronta, berharap pemuda itu mau melepasnya. Namun pelukan Sasuke malah semakin erat.
"Jangan… pergi…" kata Sasuke lirih.
"Eh?" Seketika wajah Hinata merona merah. Ia mendongak, menemukan mata onyx Sasuke sedang menatapnya dalam.
"Tinggalah… disisiku…" bisik Sasuke lagi. Hembusan nafasnya yang terasa panas menerpa wajah Hinata.
"S-sasuke… k-kau bicara apa?" tanya Hinata gugup sambil menundukkan wajahnya, tak kuasa melihat mata onyx Sasuke.
"Kau milikku… Hinata."
Hinata terdiam mendengarnya. Ia ingin berontak, tapi lengan Sasuke terasa seperti membelenggu tubuhnya. Pikirannya menyuruh untuk bergerak, namun sepertinya tubuhnya tidak mau menuruti. Dan lagi suara berat Sasuke yang seperti menjeratnya. Gadis itu mendongak, melihat wajah Sasuke yang kembali terlelap.
'S-sasuke…'
Wajah Hinata semakin menunduk mengingat bagaimana dekatnya posisi mereka. Ia bisa merasakan wajahnya memanas. Tak sanggup bertahan lagi, akhirnya Hinata pingsan dalam pelukan Sasuke.
.
.
*****RDR*****
.
.
Sebuah mobil Lamborghini Murcielago merah memasuki parkiran kompleks apartemen Konoha. Dua orang pemuda keluar dari mobil sport tersebut dan berjalan memasuki apartemen.
"Hinata sudah pulang belum, ya?" tanya Naruto sambil menekan tombol lift.
"Entah. Cepat masuk."
Pintu-pintu lift yang terbuat dari aluminium mengkilat di sebelah kiri mereka bergeser membuka. Kedua pemuda itu langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam lift. Naruto menekan tombol lantai tujuan mereka dan pintu lift kembali tertutup.
"Hei, Gaara. Menurutmu… apa Sasuke menyukai Hinata? Akhir-akhir ini mereka terlihat lebih dekat. Sasuke kan anti perempuan," tanya Naruto dengan tatapan menerawang.
"Mungkin. Aku belum pernah melihat Sasuke seperti itu."
"Hei! Tadi ayahmu mengatakan sesuatu tentang perusahaan Uchiha tidak?"
"Hn."
"Sasuke… kita beritahu tidak ya?"
"Jangan dulu. Kondisinya sedang begitu. Lagipula… bukankah harusnya yang diberitahu itu si Sai?"
"Benar juga… Haaah."
Naruto menghela nafas panjang. Naruto dan Gaara sama-sama pewaris perusahaan ayah mereka. Naruto adalah pewaris Namikaze Corp, sedangkan Gaara adalah pewaris Sabaku Corp. kedua perusahaan itu memang menjalin hubungan kerja sama yang baik. Beberapa saat tadi ada pertemuan penting antar perusahaan, dan sebagai latihan mereka berdua harus menghadiri rapat tersebut.
Ting
Pintu-pintu lift kembali terbuka. Gaara serta Naruto segera berjalan keluar, menuju ruang apartemen teman mereka yang kini sedang sakit yaitu Sasuke.
Cklek
"Wah! Pintunya tidak dikunci!" seru pemuda berambut pirang itu seraya memasuki ruangan.
Gaara hanya diam sambil mengikuti langkah Naruto. Seperti biasa, mereka melepas sepatu sebelum memasuki ruangan Sasuke lebih dalam lagi.
"Hinata masih disini," gumam Gaara.
Naruto menoleh kearah Gaara. "Eh? Tahu darimana, Gar?"
Pemuda berambut merah itu hanya menunjuk kearah rak sepatu dimana sepatu Hinata terletak di sana.
"Ah! Benar juga!"
Gaara memutar bola matanya melihat tingkah Naruto, kemudian berjalan masuk. Karena mereka bertiga bertetangga, tentunya Gaara serta Naruto sudah hafal dengan ruangan-ruangan di apartemen Sasuke. Bahkan barang-barang Sasuke terletak dimana pun mereka berdua tahu.
Mata azure Gaara meneliti setiap sudut apartemen, mencari-cari sosok Sasuke. Tapi ia tidak menemukan temannya itu. Kemudian pandangannya berhenti di pintu kamar Sasuke yang sedikit terbuka. Gaara mendekati kamar itu perlahan-lahan. Ia menengok sedikit ke dalam kamar Sasuke, matanya melebar seketika. Dibukanya pintu berwarna coklat tua itu lebih lebar untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Sekali lagi mata azure-nya melebar tak percaya dengan pemandangan di depannya.
"What –the –hell…"
"Gaara! Ada apa? Mana si Teme?" tanya Naruto sambil berjalan kearahnya.
"Hei Ga-" perkataan Naruto terhenti karena isyarat tangan Gaara menyuruhnya untuk diam. Naruto menyipitkan matanya, heran dengan tingkah Gaara.
"Ada apa sih?" pemuda blonde itu mendekati Gaara dan melayangkan pandangannya ke kamar Sasuke. Mata sapphire-nya langsung melotot seakan-akan mau keluar.
Di hadapan kedua pemuda itu, kawan mereka –Sasuke sedang tidur sambil memeluk Hinata yang tampaknya juga terlelap. Posisi mereka miring, saling berhadapan dengan tangan Sasuke merengkuh tubuh Hinata erat.
"T-T-T-T-TEMEEE! KAU BISA DIBUNUH NEJI!" teriak Naruto sangat keras.
Sasuke membuka matanya perlahan-lahan karena mendengar teriakan cempreng Naruto. Awalnya pandangannya masih buram, namun lama-lama normal kembali. Pemuda itu mendecih melihat kedua orang berambut merah dan pirang berdiri memandangnya dengan wajah horror. Bahkan Gaara yang minim ekspresi pun menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Kalian berdua… ada apa sih?" tanyanya pelan. Sasuke berusaha menggerakkan tubuhnya, namun gerakannya terhenti begitu merasakan tangannya memeluk sesuatu yang hangat.
"Ngh…"
Terdengar suara erangan pelan dari sesuatu yang dipeluknya –lebih tepatnya seseorang. Wajah Sasuke menegang seketika. Ia menengok perlahan kearah orang yang dipeluknya. Mata onyx Sasuke terbelalak melihat Hinata berada di pelukannya. Dengan cepat ia melepas pelukan itu dan bangkit dari tidurnya.
Sasuke menutupi mulutnya dengan satu tangan, berusaha menutupi semburat merah di pipinya.
"Mau apa kalian berdua?" tanya Sasuke ketus.
Gaara menyeringai, kemudian menarik Naruto keluar dari ruangan itu.
"Eh! Gaara! Mau kemana?"
"Diam!" sahut Gaara sambil menyeret Naruto.
Sasuke menghela nafas, kemudian menatap gadis yang masih tertidur itu.
'Dia… terasa begitu lembut.'
Plak!
Sasuke menepuk dahinya, merutuki pikirannya yang melantur. Ia bergegas keluar dari kamar agar pikirannya tidak lagi melantur kemana-mana.
"Badanku sudah tidak panas…" gumamnya pelan saat merasakan badannya tidak lagi panas.
Sasuke membalikkan badan sebelum keluar kamarnya, menatap Hinata yang masih tertidur pulas. Ia tersenyum simpul sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.
.
.
*****RDR*****
.
.
Kediaman Uchiha…
Sebuah ruang tamu bernuansa putih, seorang wanita berambut biru tua tampak duduk dengan gelisah. Di hadapannya tergeletak berlembar-lembar kertas. Wanita itu menyesap tehnya untuk mengurangi kegelisahan di hatinya. Di seberang wanita itu duduk seorang laki-laki berambut abu-abu dengan penampilan sangat rapi.
"Kau yakin… keadaan perusahaan Uchiha sekarang seperti ini, Hidan?"
"Benar, Nyonya Konan… tapi kita bisa menghubungi Tuan Obito yang ada di luar negeri untuk meminta bantuan," sahut laki-laki yang dipanggil Hidan tersebut.
SRAK
Konan melemparkan kertas-kertas yang dipegannya ke meja. Hidan terlonjak kaget karenanya.
"Menghubungi Obito? Dia yang mengurus Shisui Corp, kan? Kau tahu kalau perusahaan itu diwariskan ke Sasuke saat anak itu berusia 18 tahun, kan?" tanyanya sinis. "Aku tidak mau terlibat dengan mereka!"
'Kalau orang itu tahu perusahaan bangkrut, pasti dia akan mencari tahu penyebabnya. Dan juga, orang itu pasti akan menyelidiki warisan yang diberikan Fugaku. Aku tidak bisa membiarkan ini. Bagaimanapun, Sai harus tetap menjadi pewaris Uchiha.'
"Tapi, Nyonya. Bagaimana kelangsungan perusahaan kita?"
Konan menatap Hidan tajam. "Pergilah. Aku akan mencari solusinya."
"B-baik, Nyonya. Permisi."
Konan menatap kepergian anak buahnya datar, kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ia memijit pelipisnya. Tidak menyangka musibah akan menimpanya berturut-turut.
"Aku pulang, Ibu."
Wanita berambut biru itu menoleh kearah anaknya yang baru saja pulang. "Oh, Sai. Kau pulang, Nak?"
"Hm. Ibu… kau tampak pucat. Ada apa?" tanya Sai khawatir seraya mendekati ibunya.
Konan menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ibu baik-baik saja. Kau istirahatlah, sepertinya kau lelah."
"Hm… baiklah. Aku ke kamar, Bu." Sai membungkukkan badan sebelum berlalu ke kamarnya.
.
.
*****RDR*****
.
.
Konoha Apartemen…
"Mmm…"
Hinata menggeliat pelan. Mata lavender-nya membuka perlahan-lahan. Gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Setelah beberapa saat, akhirnya gadis itu sadar sedang berada dimana. Wajahnya sontak memerah mengingat apa yang terjadi tadi. Gadis itu kembali memejamkan matanya.
'Dia hanya mengigau… pasti hanya mengigau…'
Kedua matanya membuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
You better run, run, run, run, run, deoneun mot bwa geodeo cha jullae
You better run, run, run, run, run, nal but jabado gwanshim kkeo dullae
Hinata segera bangkit dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, kemudian melihat siapa yang menelponnya.
Sai-senpai
'Tidak biasanya Senpai menelponku…' pikirnya dalam hati seraya menekan tombol untuk menjawab telepon.
"H-halo?"
"Halo… Hinata?"
"Ya… ada apa Senpai?"
"Emm… sabtu besok apa kau luang? Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."
Hinata merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. "A-ah… luang, Senpai."
"Baguslah. Aku jemput jam 11 siang, ya?"
"I-iya…"
"Hn. Yasudah, sampai jumpa besok."
"I-iya. Bye, Senpai."
Pipi gadis itu kembali dihiasi warna merah.
'Sai-senpai…'batinnya seraya tersenyum.
Hinata masih sibuk di dunianya sendiri, tidak menyadari bahwa pemilik kamar itu kini telah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada hal yang membuatmu gembira, eh?"
Hinata segera tersadar dari lamunannya. Ia mengarahkan pandangannya pada Sasuke yang tengah menatapnya heran dengan satu alis terangkat.
Deg
Hinata merasakan wajahnya semakin panas saat melihat Sasuke. Pemuda itu hanya mengenakan handuk di pinggangnya dan rambutnya masih terlihat basah. Tubuhnya juga masih terlihat sedikit basah. Hinata harus mengakui bahwa Sasuke memiliki tubuh ideal kaum adam. Dada yang bidang, otot-otot yang terbentuk sempurna, benar-benar bentuk tubuh laki-laki yang mendekati sempurna.
"B-bukankah… k-kau sedang sakit? K-kenapa… m-malah mandi?" tanya Hinata terbata-bata seraya menundukkan pandangannya.
"Aku sudah sembuh," jawabnya singkat.
"O-oh…" Hinata masih menunduk.
Sasuke hanya mendengus melihat kegugupan gadis itu. Ia sedang tidak mood untuk menggoda Hinata seperti biasanya, jadi pemuda itu hanya diam.
"Minggir. Aku mau ganti baju," ucapnya datar.
Hinata mendongak, menatap Sasuke. "Huh?"
Sasuke menghela nafas. Ia berjalan maju, bermaksud menyingkirkan Hinata yang berdiri di depan almarinya. Tapi sayang, baru dua langkah pemuda itu melangkah, satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya terlepas.
Wajah Hinata benar-benar seperti kepiting rebus.
Sasuke terdiam membatu.
"KYAAAAAA!"
"AAAAAAAA"
Bruk
.
.
*****T.B.C*****
.
.
Pertama-tama.. mohon maaf lahir bathin semuanya . Gomen kalo saya banyak salah.
Sebenernya pgn apdet sebelum lebaran, tapi pan saya lebarannya awal jadinya ga sempet. Jd gomen apdetnya telat. Hehe :DD
Maap juga word nya banyak banget . moga ngga bosan ya
Ok, saatnya mengucapkan terima kasih banyak pada :::
Keira Miyako: makasih RnR nya. N selamat anda jadi yg pertamax komen chap 4 *plakk ga penting*. Hhe. Oke chap depan tambah romen2nya. Disini hina masi bingung. Gomen… .
[no name]: tengs RnR nya… gomen apdet ngga kilat. :D
Sora no Aoi: umm.. ntar di chap depan ya :D. arigatou RnR nya ^^
Ai HinataLawliet: iya. T_T sasu emang kasian bgt. Ini terinspirasi kisah tetangga saya. *plakk* hhe. Makasih RnR nya.
Ulva-chan: arigatou ulva… ini ku apdet. Gomen nelat bgt
M.B Kise-chan -MK: wahaha fa. Aku sutradaranya aja gak diajak kok. kekeke :DD. Makasi bgt yaa RnR nya.
lollytha-chan gak login: ini saya apdet. Arigatou ^^
Aiiko Aiiyhumi: iya. Ini saya apdet. Arigatou ^^
keiKo-buu89: wah. Saya pun blum tau. *dobelplak*. Hehe. Makasih RnR nyaa ^^
YamanakaemO: hoho… mungkin. :DD. Eh fic apa yg om hia meninggal? Err… iya sih. Tapi yg Hello… itu ngga sengaja. Sadarnya malah pas kamu komen ini. Kekeke :D. arigatou yaa RnR nya ^^
Mery chan: hahaha. Saya ketawa baca ripiumu. Unyu banget. Kekekeke :DD. Arigatou RnR nya. Map telat apdet.
Metatromagi: wah,, ooc banget kah? Emm… jujur chara sasuke di manga itu saya gak begitu suka, malah sukanya sm gaara, naruto, hinata, dll. saya suka ama chara sasuke gara2 baca fic sasuhina. Jadi maaf bgt kalo ooc-nya keterlaluan . . ya.. tapi akan saya coba memahami lagi chara asli sasuke itu gimana. Mungkin di fic2 saya yg lain kedepannya bisa lebih minim ooc-nya. Hehe :DD. Arigatou RnR nya ^^
Nerazzuri: nera-chan . . arigatou RnR nya yaaa :DD
Miss Lavender: hoho… ini ada bobo barengnya malah *dijyuuken hinata*. gomen gomen. Chap depan iaa romen2nya. Biar ngga kecepetan. Arigatou RnR nya ^^
Kimidori hana: iya. T_T innalillahi. Kalo yg sasu punya keluarga lgkp, itu di fic saya satunya. *Plakplak* :DD. Hha. Makasih yaaa RnR nya. ^^
uchihyuu nagisa: uwah.. makasih byk mau ripiu n fave. . hho… gak juga kok. pokoknya saya blum mau sasu bahagia disini *disaringan*. Hehe :DD
Crimson Fruit: hho.. benarkah? Wah… makasih banyak yaaa ^^
Deani Shiroonna Hyouichiffer: iya.. emang kasian… kalau begitu tetep baca ya ;D *plak*. Hehe . makasiiih
U-know Maxiah: haa? S-senpai? Gyaa saya pun masih newbie kok . . makasih banget yaaa ^^. Itu TR nya bentar lagi saya apdet kok. kekeke :DD
Firah-chan: waa gomen telat apdet. Ini saya apdet. Hehe :DD. Makasih yaa
chibi tsukiko chan: saya kasih pelukan lagi ni di fic ini. Kekeke :D . arigatou ^^
kuronekomaru: ini saya apdet. Arigatouu ^^
Thi3x: thie-chan! Arigatou gozaimasu udah ripiu n … gak juga kok . fic mu lebih bagus2. Itachi gak mati kok di fic ku yg The Rhapsody. Malah dia punya peran lmyn banyak di sana. *plakkk* gomen malah promosi. Hha :DD .
Ryu Uchiha: wah, Ryu-san… hhe makasih banyak ^^
Fujisawa Yukito: hoho… iya sasu emang ganteng kok . . ini saya apdet. Ah iya! Suka banget kpop. Arigatou gozaimasuuu ^^.
Untuk para silent reader… arigatou gozaimasu juga yaaa ^^
Jangan bosan-bosan baca fic saya ^^
Akhir kata…
.
.
.
Silahkan tinggalkan jejak anda :DD
.
