.

.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinataxSai

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 6

.

Uchiha Sasuke: 16 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Uchiha Sai: 17 tahun.

Hyuuga Neji: 17 tahun.

Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.

Haruno Sakura; Tenten: 16 tahun.

"[percakapan]"

'[bicara dalam hati]'

.

.

Happy reading ^^

.

.

Apartemen Konoha…

Pemuda berambut gelap itu sedang duduk di kursi yang menghadap ke tempat tidurnya. Tempat tidur berukuran king size dengan seorang gadis berambut indigo panjang berbaring di atasnya. Gadis itu masih memakai seragam sekolahnya. Gadis yang dikenalnya beberapa bulan lalu dengan pertemuan pertama yang menurutnya sangat menarik. Entah mengapa, saat melihat sikap Hinata yang malu-malu dan blushing, pemuda itu jadi ingin menggodanya. Benar-benar tidak seperti dirinya yang biasanya tidak pernah tertarik menggoda kaum hawa.

Sasuke kini sedang memandang sosok Hinata yang tengah tertidur –lebih tepatnya pingsan di ranjang empuknya itu. Ia memijit pelipisnya pelan mengingat kejadian paling memalukan yang pernah dialaminya seumur hidup beberapa waktu lalu.

Flashback

Sasuke baru saja selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Tubuhnya masih agak basah. Dada bidangnya serta perut sixpack-nya terekspos dengan sempurna.

Memasuki kamarnya untuk berpakaian, Sasuke malah mendapati Hinata yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Perasaan kesal langsung menyerangnya. Ia tahu Hinata baru saja menerima telepon dari kakak tirinya.

'Tch. Menyebalkan!'

Sasuke bersandar di pintu kamarnya, kedua tangannya bersilangan di dada. Mata onyx-nya menatap Hinata heran bercampur kesal, satu alisnya terangkat.

"Kenapa senyum-senyum sendiri? Ada hal yang membuatmu gembira, eh?"

Hinata segera tersadar dari lamunannya. Ia mengarahkan pandangannya pada Sasuke yang tengah menatapnya. Pipi gadis itu langsung merona begitu melihat Sasuke hanya memakai handuk di pinggangnya.

"B-bukankah… k-kau sedang sakit? K-kenapa… m-malah mandi?" tanya Hinata terbata-bata seraya menundukkan pandangannya.

"Aku sudah sembuh," jawab Sasuke singkat.

"O-oh…" Hinata masih menunduk.

Sasuke hanya mendengus melihat kegugupan gadis itu. Ia sedang tidak mood untuk menggoda Hinata seperti biasanya, jadi pemuda itu hanya diam.

"Minggir. Aku mau ganti baju," ucapnya datar.

Hinata mendongak, menatap Sasuke. "Huh?"

Sasuke menghela nafas. Ia berjalan maju, bermaksud menyingkirkan Hinata yang berdiri di depan almarinya. Tapi sayang, baru dua langkah pemuda itu melangkah, satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya terlepas.

Wajah Hinata benar-benar seperti kepiting rebus.

Sasuke terdiam membatu.

"KYAAAAAA!"

Hinata berteriak karena melihat sesuatu yang seharusnya haram untuk ia lihat.

"AAAAAAAA!"

Sasuke ikut berteriak karena barang berharga miliknya ikut terekspos dan malah dilihat oleh gadis paling pemalu yang pernah ditemuinya.

Bruk

Hinata langsung pingsan dengan wajah benar-benar seperti tomat merah. Sasuke segera mengambil handuknya, melilitkannya lagi di pinggang dan membaringkan tubuh Hinata ke tempat tidur.

Seandainya saja Sasuke punya sifat seperti Naruto, ia pasti sudah menjambak rambutnya dan berteriak gara-gara frustasi.

Flashback off

Sasuke menghela nafas. Bagaimana caranya membangunkan gadis yang sudah lebih dari setengah jam pingsan itu? Ia sudah mencoba banyak cara, tapi gadis itu tak sadar juga. Waktu semakin sore. Ia benar-benar bisa dibunuh Neji kalau tahu adiknya kesayangannya pingsan seperti ini.

Putri tidur hanya akan bangun jika mendapat ciuman dari sang pangeran.

Manik berwarna onyx Sasuke berkedip cepat saat bisikan itu tiba-tiba muncul. Ia memandang Hinata yang masih terbaring tenang, mengamati gadis itu dengan seksama. Bibirnya membentuk seringai. Well, mungkin tadi itu malaikat yang membisikinya. Atau mungkin malah devil? Sasuke tidak mau ambil pusing.

Pemuda itu mendekati Hinata perlahan. Ditatapnya wajah ayu gadis itu sejenak, lalu menundukkan kepalanya hingga berada di atas wajah Hinata. Ia semakin menunduk dan…

Chu

Perlahan, bibirnya menyentuh bibir merah gadis itu. Dikecupnya sosok gadis yang selalu membuat hatinya menghangat itu dengan lembut. Setelah beberapa detik kedua bibir itu menyatu, Sasuke segera menjauh.

'Manis'

Hinata menggeliat pelan, mata lavender-nya membuka perlahan.

Benar, kan? Kau adalah pangerannya.

Suara itu muncul lagi di pikirannya. Bibirnya membentuk seulas senyum yang lebih mirip seringai. Mata elangnya masih betah memperhatikan gadis yang kini mulai sadar dari pingsannya.

"Hinata…" panggil Sasuke pelan.

"Enngg…" Hinata bergumam seraya mengerjap-ngerjapkan matanya. Gadis itu menoleh, "S-sa-sasuke?" seru Hinata kaget melihat Sasuke ada di sampingnya.

Hinata masih belum sepenuhnya sadar. Ia masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Seketika wajahnya memerah begitu ingat kejadian-kejadian hari ini.

"Tidak usah diingat-ingat! Nanti kau pingsan lagi," ucap Sasuke santai sambil menyerahkan segelas air putih kearah Hinata.

"A-arigatou…" Hinata menerima pemberian Sasuke dan meminumnya perlahan. "G-gomen…" ujarnya lirih seraya meletakkan gelas air itu ke meja.

"Untuk apa?"

Hinata kembali menunduk. "A-aku merepotkan Sasuke… p-padahal harusnya aku merawatmu."

"Tidak apa," jawab pemuda itu santai.

Hinata tersenyum lega. Tadinya ia pikir Sasuke akan marah. "Um… Sasuke sudah sembuh?"

"Mungkin," sahut Sasuke seraya berdiri dan mengulurkan tangan kearah Hinata. "Ayo!" lanjutnya.

Hinata memiringkan kepalanya, kebiasaan gadis itu kalau bingung atau heran. "Huh? M-mau kemana, Sasuke?"

"Kita cari makan. Kau pasti lapar." Sasuke masih mengulurkan tangannya.

Hinata menggeleng pelan. "A-aku tidak la-"

Kruyuukk

"-par…"

Wajah Hinata memerah. Ia memutus kontak pandangannya dengan Sasuke. Benar-benar memalukan. Dalam hati gadis itu menggerutu karena perutnya tidak mau diajak kompromi.

Sebenarnya Sasuke ingin sekali tertawa, tapi bagaimanapun ia harus menjaga ke-cool-annya di depan Hinata. Ia hanya menyeringai tipis, kemudian menarik tangan Hinata. Sedangkan gadis itu hanya pasrah saat Sasuke menyeretnya.

.

.

.

Kediaman Uchiha…

Sai tengah duduk sambil membaca dan mencoret-coret lembar kertas yang menumpuk di meja belajarnya. Kertas-kertas berisi tugas-tugas yang diberikan para sensei mengingat kelas tiga akan ada ujian kelulusan. Satu-persatu soal-soal itu ia kerjakan, sampai akhirnya Sai menemukan sebuah foto terselip diantara tumpukan kertas-kertas itu. Tangan kanannya bergerak mengambil sebuah foto berukuran 4x6 itu.

Sebuah senyum tipis muncul di wajah tampannya. Foto close up dari dada sampai kepala seorang gadis berambut indigo sedang tersenyum lembut dengan alami. Pose yang tak berlebihan, namun malah membuat gadis itu semakin terlihat manis.

'Hinata…'

Sai mengambil buku sketsanya, kemudian membalik-balik lembaran kertas gambar tersebut, mencari sisi yang masih kosong. Tangannya mulai bergerak menggoreskan pensil kayu itu di atas kertas sketsanya. Selain tenis, pemuda berusia 17 tahun ini juga suka menggambar.

Srek srek srek

Bunyi pensil yang ia goreskan menjadi satu-satunya suara di ruangan itu. Tangannya benar-benar sibuk membuat sketsa, menghapus bagian yang salah, kemudian memperbaikinya. Pikirannya yang tadinya penuh dengan soal-soal aljabar, bahasa Inggris, IPA dan semacamnya kini terfokus pada gadis yang ada di foto itu.

Iris hitam Sai serius memandangi sketsa yang kini sudah jadi. Hasilnya benar-benar mirip dengan objek yang ada di foto. Sai segera memasukkan foto close up Hinata ke dalam dompetnya. Ia tersenyum lagi mengingat bagaimana caranya bisa mendapatkan foto itu.

'Mungkin besok aku harus pinjam dompet Neji lagi.'

.

.

.

Shinwa Korean Food…

Sebuah rumah makan yang menyajikan menu khas negeri gingseng –Korea. Rumah makan itu tampak sepi malam ini, hanya ada beberapa pelanggan. Di salah satu meja yang terletak di dekat dinding kaca, tampak empat orang sedang asyik bercakap-cakap. Hinata, Naruto dan Gaara tampak terlibat pembicaraan seru, namun Sasuke hanya diam sambil menatap kedua temannya –Naruto dan Gaara- dengan pandangan kesal.

Rencananya, untuk membalas budi Hinata yang merawatnya seharian, Sasuke berniat mengajak makan gadis itu di restoran Korea. Tapi rencananya gagal karena mereka berpapasan dengan duo rambut ngejreng itu di lobi apartemen. Hinata tentunya senang karena ia jadi tidak harus berduaan saja dengan Sasuke. Tapi Sasuke, pemuda itu rasanya ingin menjitak kepala merah Gaara dan kuning Naruto karena mengganggu acaranya.

"Hinata-chan! Uwaa… kau punya video SNSD juga di ponselmu? Aku minta semuanya, ya!" seru Naruto girang sambil melihat-lihat isi ponsel Hinata.

"Silahkan, Naruto-kun," jawab Hinata lembut sambil tersenyum.

"Aku minta yang KARA," ucap Gaara singkat sambil ikut melihat-lihat video di ponsel Hinata bersama Naruto.

"Eh? Iya. Silahkan, Gaara-kun." Hinata agak terkejut, tidak menyangka Gaara juga menyukai musik-musik korea.

Sasuke memutar matanya sweatdrop. Dua temannya itu benar-benar memalukan.

Suasana rumah makan yang tadinya hening kini menjadi lebih hidup karena percakapan mereka. Sampai akhirnya pelayan datang membawa berbagai makanan khas Korea yang mereka pesan.

"Wah! Jajamyeon!" ujar Naruto ceria sambil mengambil semangkuk mie dengan saus hitam porsi besar. Tidak ada ramen, jajamyeon pun jadi. Begitulah pendapat pemuda bermata biru cerah itu.

Berbagai hidangan kini memenuhi meja persegi yang cukup luas itu. Jajamyeon, kimchi, kimbap, bulgogi dan yang lainnya.

Kalau Sasuke sedari tadi tampak kesal, Hinata malah tersenyum senang. Ia sudah lama ingin makan masakan Korea, tapi karena kakaknya sangat nasionalis maka keinginan gadis itu tidak pernah kesampaian. Ia melirik Sasuke yang duduk di sampingnya.

Sebelum menyantap hidangannya, Hinata sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Sasuke. "Sasuke… arigatou," ucapnya pelan.

"Hn."

.

.

.

Mobil sedan mewah Sasuke melaju kencang di jalanan. Sasuke masih betah dengan ekspresi kesalnya, sedangkan Hinata tampak gelisah.

"S-sasuke…" panggilnya pelan.

"Hn?"

"A-apa tidak apa-apa kita meninggalkan Naruto dan Gaara? Kasian mereka…" tanya Hinata penuh sesal. Ia memang gadis berhati lembut. Seharusnya tadi ia lebih tegas menolak saat tiba-tiba Sasuke menyeretnya keluar ruangan. Ia baru saja keluar dari kamar mandi saat mendapati Sasuke yang sudah menunggunya dan langsung menyeret gadis itu menuju parkiran. Padahal Naruto dan Gaara menumpang mobil Sasuke.

"Mereka bukan anak kecil lagi. Jadi tidak perlu cemas," sahut Sasuke santai. 'Salah siapa tidak mau bawa mobil sendiri,' gerutunya dalam hati.

Yah, Naruto terlalu malas mengeluarkan Lexus LFA silver-nya yang terparkir dengan rapi di ujung parkiran apartemen. Gaara juga malas membawa Lamborghini Murcielago merah-nya karena baru saja ia pakai. Jadilah mereka numpang mobil Sasuke.

Namun Hinata tetap saja merasa cemas. Kedua teman Sasuke itu selama ini selalu baik padanya, dan ia juga sudah menganggap mereka sebagai temannya. "Uh… tapi kan-"

"Ini salahmu yang membolehkan mereka ikut," potong Sasuke.

Hinata menunduk, tidak membantah lagi. "Uh… gomen…"

Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Hingga akhirnya mobil Sasuke berhenti tepat di depan rumah Hinata. Gadis itu turun dari mobil Sasuke.

"Arigatou… Sasuke. Sudah mau repot-repot mengantarku," ujarnya pelan.

Sasuke membuka kaca mobilnya. "Ini tidak gratis."

"Huh?"

"Kemari!" Sasuke mengisyaratkan Hinata agar mendekat. Gadis itu menurut tanpa curiga apapun.

Chu

"Eehh?" Hinata refleks bergerak mundur.

Sasuke menyeringai, lalu segera melaju meninggalkan Hinata yang masih shock.

Gadis itu memegang pipinya pelan. Pipi yang merona itu masih bisa merasakan sentuhan bibir Sasuke.

'L-lucifer!'

.

.

.

Konoha Gakuen, keesokan harinya…

"Kyaaaaaaaa!"

Ramai

Satu kata yang tepat untuk menggambarkan suasana lapangan olahraga Konoha Gakuen. Pelajaran olahraga akhir-akhir ini –tepatnya setelah Sasuke masuk Konoha Gakuen menjadi lebih ribut dari biasanya. Hari ini jadwal kelas 2-3 dan 2-4 untuk berolahraga. Seperti biasa, Sasuke, Gaara dan Naruto akan menjadi pusat perhatian.

Ketiga flower boys itu memasuki sport hall Konoha Gakuen dengan langkah santai. Sasuke seperti biasa memasang wajah stoic-nya, begitu juga dengan Gaara. Sedangkan Naruto terlihat ramah menyapa teman-temannya.

Priiiiiit

Begitu mendengar peluit dibunyikan dan suara teriakan Gai-sensei yang menyuruh anak-anak didiknya untuk melakukan pemanasan, trio pemuda tampan itu segera memposisikan diri. Sasuke melakukan peregangan agar otot-ototnya tidak kaku. Naruto serta Gaara juga melakukan hal yang sama.

Materi olahraga hari ini adalah basket. Beberapa anak yang dimintai tolong Gai-sensei terlihat sibuk membawa bola-bola basket ke dalam lapangan indoor itu.

"Kalian bertiga! Karena kalian punya kemampuan olahraga yang bagus, kalian harus memberi contoh pada teman-teman kalian," ucap guru berambut model mangkuk dan alis tebal itu pada Sasuke, Gaara dan Naruto. Sasuke serta Gaara hanya mengangguk, sedangkan Naruto berteriak senang. "Baik, Sensei!"

Setelah merasa siap, Sasuke maju terlebih dulu. Ia men-dribble bola basket sambil berjalan kearah ring dan …

Hoop

"Kyaaaaaa! Sasuke-kuuuunn!"

Teriakan dari para siswi terdengar saat bola yang dilempar Sasuke tepat masuk ke ring. Dengan gayanya yang serba cuek pemuda itu berjalan santai menuju tempatnya semula, berganti posisi dengan Gaara yang kini memegang bola.

Duk duk duk

Gaara mulai men-dribble bola, kemudian memposisikan kedua tangannya, bersiap melempar.

Srak

Bola basket berwarna orange itu masuk dengan suara pelan.

"Kyaaaaaa! Gaara-kuuuunn!"

Teriakan para fan-girls Gaara membahana memenuhi sport hall. Sedangkan Gaara sendiri tampak tidak peduli.

"Tch. Apa sih bagusnya mereka itu," cibir Tenten yang sedang duduk di pinggir lapangan bersama Hinata dan Sakura. Sakura tentu saja ikut berteriak-teriak seperti yang lainnya. Bukannya tergila-gila pada makhluk-makhluk tampan itu, tapi hanya ingin tambah meramaikan suasana. Menurutnya itu lucu.

"Iya… entahlah," sahut Hinata lesu. Gadis itu paling lemah di pelajaran olahraga.

Kini giliran Naruto yang memegang bola. Dari tempatnya berdiri, ia melempar bola sambil melompat.

Three point

"Kyyaaaaaaa! Naruto-kuuuunn!" Para penggemar Naruto berteriak tidak kalah keras dari yang sebelumnya.

Kedua manik hitam Uchiha Sasuke kini terfokus pada teman sekelasnya yang kemarin merawatnya seharian. Gadis pemalu itu kini tengah tertawa dengan kedua temannya –Sakura dan Tenten- sembari berjalan menuju ring sebelah. Sakura dan Tenten berhasil memasukkan bola, namun sepertinya Hinata kurang sukses.

Sasuke tersenyum sangat tipis melihat ekspresi Hinata yang lucu saat menggembungkan pipinya karena kesal bola yang dilemparnya belum ada yang masuk. Bola itu kini malah menggelinding kearah Sasuke.

"Belum bisa memasukkan bola, eh? Butuh bantuan?" tanya Sasuke saat Hinata memungut bola.

"Uh… Sasuke…" gadis itu menunduk malu.

"Kata Gai-sensei, minggu depan akan ada penilaian."

"Um…" Hinata masih menunduk.

Tak sabar dengan tingkah Hinata, akhirnya Sasuke mendekati gadis itu. "Pulang sekolah nanti, datang ke sini. Sen-di-ri!" bisiknya.

"A-apa?" Hinata menoleh, menatap Sasuke heran. Pemuda itu hanya mendengus.

"Awas kalau telat! Pokoknya pulang sekolah kutunggu di sini!"

Hinata hanya bisa menghela nafas pasrah.

.

.

.

Riiiinnngg

Bel tanda pulang berbunyi. Murid-murid Konoha Gakuen yang tidak memiliki kegiatan di sekolah lagi mulai berhamburan keluar kelas, menuju gerbang sekolah maupun parkiran untuk pulang. Namun gadis berambut indigo itu nampaknya harus menahan keinginannya untuk pulang karena janjinya dengan Sasuke. Gadis itu berjalan menuju sport hall yang terletak di dalam gedung sebelah.

"Hinata-chan! Kami duluan, ya!" seru Sakura dan Tenten bersamaan. Hinata hanya mengangguk. Gadis itu pun melanjutkan berjalan menuju ruang olahraga.

Kedua iris lavender-nya tampak celingukan ke kanan dan kiri, mencari-cari sosok Sasuke.

"Cepat ganti baju!"

Tiba-tiba Sasuke muncul di belakangnya, membuat gadis itu sedikit kaget.

"S-sasuke…" kata Hinata sambil berbalik dan menoleh kearah Sasuke. Dilihatnya pemuda itu sudah memakai baju olahraga.

"Cepat ganti baju. Masa mau latihan dengan baju seperti itu," kata Sasuke lagi dengan datar.

"I-iya…" Hinata segera berlalu ke ruang ganti. Tak lama kemudian ia keluar dengan memakai pakaian olahraganya saat pagi tadi. Sebuah kaos olahraga pendek berwarna putih dengan tulisan Konoha Gakuen di punggung dan celana selutut berwarna biru.

Sasuke mendorong troli berisi banyak bola basket. Ia mengambil sebuah bola, kemudian men-dribblenya seraya berjalan mendekati Hinata.

"Sudah bisa cara men-dribble, kan?" tanyanya.

"Iya," sahut Hinata lirih.

"Kuajari cara melempar bola. Perhatikan."

"Umm… baik, Sasuke."

Sasuke berjalan mendekat kearah ring. Tepat berada di wilayah untuk tembakan satu poin. Hinata berjalan mendekat, menyimak penjelasan Sasuke.

"Jari telunjuk, jari tengah dan jari manis letakkan di atas bola. Sedangkan jempol dan kelingking menyangga di samping bawah." Sasuke memperagakan apa yang ia jelaskan pada Hinata. "Fokuskan pandangan ke papan ring, tarik bola ke belakang, lalu lemparkan." Sasuke melemparkan bola dan berhasil masuk ring.

"Uwaaa…" gumam Hinata kagum.

"Sekarang lakukan!" Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada.

"Um… iya."

Hinata memperagakan apa yang Sasuke ajari. Ia memposisikan tangannya kemudian melempar bola orange itu.

Duk duk duk duk

Hinata menggembungkan pipinya. Lemparannya bahkan tak mengenai ring sedikitpun. Ia menunduk lesu. Nilai olahraganya pasti akan sama seperti yang dulu-dulu. C alias cukup.

"Baru juga sekali mencoba. Cepat coba lagi!" Sejujurnya Sasuke bermaksud memberi semangat, namun entah mengapa kata-kata yang keluar dari bibirnya malah seperti itu.

Hinata memungut bola yang tidak berhasil masuk, kemudian mencoba melempar lagi.

"Lemparanmu kurang kuat."

Hinata terus mencoba sampai berkali-kali. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Sasuke sedikit tertegun melihat ekspresi Hinata yang tampak serius berusaha.

Srak

Setelah sekian kali melempar, akhirnya bola berhasil masuk ke ring. Hinata tersenyum senang. Ia menoleh kearah Sasuke yang berdiri tak jauh di belakangnya.

"Sasuke! Berhasil!" ujarnya senang.

Sasuke tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Hinata tak menyadarinya. "Jangan senang dulu. Ulangi lagi," lanjutnya.

Hinata mengangguk semangat. Ia men-dribble bola sebelum melemparnya lagi. Tembakannya meleset. Tapi gadis itu tak menyerah. Ia berlari mengambil bola lagi, dan melemparnya lagi. Tak terasa mereka sudah hampir dua jam berlatih. Kaos olahraga Hinata basah karena keringat.

"Sudah sore. Lebih baik kau pulang," ujar Sasuke sambil mengemasi barang-barangnya.

Hinata tersenyum manis seraya mengembalikan bola ke troli. "Iya."

"Pulang naik apa?"

"Um… naik mobil dengan Neji-nii…"

"Oh. Aku duluan!" Sasuke berjalan keluar sambil mendorong troli, namun sebelum membuka pintu, ia menoleh. "Besok jam 3 kutunggu di kafe pertama kali kita bertemu. Awas kalau telat!"

"Huh?" sebelum Hinata sempat menjawab, Sasuke sudah berlalu. Gadis itu terdiam sejenak, lalu teringat janjinya dengan Sai di hari yang sama.

"Ah! Bagaimana ini?" katanya gelisah.

.

.

.

Kediaman Hyuuga, malam hari…

Hinata menghempaskan tubuhnya yang letih di tempat tidurnya. Ia memejamkan matanya, menghirup aroma lavender dari pengharum ruangan di kamarnya dan itu membuatnya sedikit rileks. Tiba-tiba gadis itu teringat ajakan Sai dan Sasuke. Ia menghela nafas. Bingung bagaimana cara menghadapi keduanya.

'Sai-senpai mengajakku lebih dulu. Jadi harusnya aku menolak Sasuke.'

Hinata menatap langit-lagit kamarnya sambil memeluk guling biru kesayangannya.

'Tapi kenapa aku merasa bersalah kalau mau menolak Sasuke…'

Gadis itu membalik tubuhnya hingga tengkurap, lalu membenamkan kepalanya di bantal. Ia tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, ia ingin sekali pergi dengan senpai yang disukainya. Namun di sisi lain, ia tak tega menolak ajakan Sasuke.

Mr. Taxi, Taxi, Taxi soutou jeukshi jeukshi jeukshi
Oitsukenai supiido de
Nee tsuite kureru no?
Mr. Taxi, Taxi, Taxi soutou jeukshi jeukshi jeukshi
Hikari kagayaku
Kedo furerarenai no
Masani Supersonic n' hypertonic

Ringtone ponsel Hinata yang baru ia ganti beberapa saat lalu berbunyi. Gadis itu segera bangun dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja belajar.

Sai-senpai…

"Moshi-moshi," sapa Hinata sopan setelah menekan tombol accept.

"Hinata?" panggil suara maskulin di seberang sana.

"Y-ya… Senpai?" sahut Hinata seraya duduk di kasurnya.

"Besok… aku jemput di rumahmu. Aku sudah bilang pada Neji tadi, jadi tak usah cemas dia tidak mengizinkan."

"Oh… i-iya, Senpai. Arigatou…"

Jeda beberapa saat sampai Sai kembali bertanya. "Sedang apa, Hinata?"

"Em… istirahat,"

"Aku mengganggu, ya? Gomen."

Hinata menggeleng pelan walaupun tidak bisa dilihat lawan bicaranya. "Ti-tidak. Hanya saja, sedikit kelelahan karena tadi olahraga."

Obrolan mereka terus berlanjut. Menceritakan kegiatan masing-masing di sekolah. Sai yang semakin sibuk dengan klub tenisnya dan mengikuti banyak turnamen. Sedangkan Hinata menceritakan Neji yang tadi hampir membakar dapur gara-gara mencoba memasak. Mereka juga menceritakan suasana kelas masing-masing dan lainnya. Tak terasa, malam semakin larut. Hinata sudah tertidur namun ponselnya masih menyala. Sai belum menutup sambungannya walaupun ia tahu gadis itu tertidur.

Di seberang telepon, pemuda bermanik hitam dan berkulit pucat ini tengah tersenyum. Ia berbaring dengan headset terpasang di kedua telinganya. Bukan musik yang ia dengarkan, melainkan suara nafas Hinata yang tertidur. Ia memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya memutuskan menutup sambungan.

"OyasumiHime."

.

.

.

Konoha Land…

Mobil sport Honda NSX hitam milik Uchiha Sai berhenti dengan mulus di parkiran Konoha Land –sebuah taman hiburan besar di Konoha. Tak lama kemudian pintu mobil terbuka, pemilik mobil dan seorang gadis berambut indigo keluar dari mobil mewah tersebut.

"Aku belum pernah ke taman hiburan…" Sai berkata pelan sambil mendekati Hinata.

"Eh? Benarkah, Senpai?" tanya Hinata tak percaya.

"Hn. Sewaktu kecil, aku selalu ingin ke tempat ini. Tapi orangtuaku selalu sibuk. Lalu aku punya cita-cita, suatu saat aku akan mengajak gadis yeng berharga untukku ke tempat ini." Sai tersenyum sembari menatap Hinata.

Gadis itu tampak terkejut. Bernarkah ia gadis yang berharga untuk senpai-nya itu?

"S-senpai…" ujarnya pelan.

"Ayo! Kita bersenang-senang hari ini!" Sai segera menyambar tangan Hinata sebelum gadis itu menjawab. Rona merah langsung menjalar ke pipinya yang agak tembam.

Taman hiburan terlihat lumayan ramai karena akhir pekan. Konoha Land ini terdiri dari empat bagian, Western Land, Adventure Land, Fantasy Land dan Town Land. Sai tahu kouhai-nya itu lemah lembut, maka pemuda itu mengajak Hinata masuk ke kawasan Fantasy Land. Mata lavender Hinata langsung berbinar-binar melihat wahana-wahana yang tersedia.

Hinata berhenti ketika melewati Alice's Tea Party –sebuah wahana standar di taman-taman bermain di dunia dengan cangkir besar yang berputar-putar.

"Mau naik itu?" tanya Sai lembut yang ditanggapi dengan anggukan kepala Hinata. Mereka pun bergabung dengan antrian yang akan naik wahana tersebut. Hinata terlihat sangat menikmati ketika cangkir besar dengan motif cantik itu berputar-putar dan bergerak. Senyum tak lepas dari bibir gadis itu. Sai tersenyum melihat Hinata yang kini ceria karena saat perjalanan tadi, gadis itu hanya diam saja dan tampak sedikit gelisah.

Setelah naik wahana Alice's Tea Party, mereka memutuskan untuk mencoba Snow White's Adventure. Sebuah wahana yang akan membawa pengunjung dengan kereta memasuki dunia Snow White. Karena keadaan dalam ruangan gelap, Hinata tanpa sengaja menggenggam tangan Sai erat.

"Lalu… mau kemana lagi?"

"Um… itu!" seru Hinata sambil menunjuk wahana bernama Peter Pan's World. Wahana yang hampir mirip dengan Snow White's Adventure. Mereka pun segera masuk ke wahana itu. Perjalanan dengan kereta memasuki dunia kisah Peter Pan.

Keduanya tampak benar-benar menikmati hari mereka. Mencoba berbagai wahana yang menarik.

"A-aku tidak mau masuk wahana itu lagi!" ujar Hinata sambil mengerucutkan bibirnya saat keluar dari wahana Haunted Mansion. Wahana bertema hantu yang sering disebut-sebut rumah hantu.

"Haha." Sai tidak bisa mehanan lagi tawanya, geli melihat Hinata yang kini pucat pasi. Sedangkan Hinata semakin cemberut ditertawai seperti itu.

Sai yang sudah bisa mengontrol tawanya, kembali menggandeng tangan Hinata. "Baiklah… mau es krim?" tanyanya lembut sambil membawa Hinata menuju kedai es krim.

"M-mau," jawabnya sambil mengangguk.

Setelah membeli es krim, Sai mengajak Hinata naik Funny Wheel –sebuah wahana yang sering disebut bianglala.

Keheningan melingkupi keduanya yang kini duduk saling berhadapan di dalam Funny Wheel. Hinata masih menikmati es krimnya, sedangkan Sai melihat keluar jendela.

"Hinata… ada yang ingin kukatakan," kata Sai memecah keheningan. Mata kelamnya kini memandang Hinata serius.

"Eh? A-ada apa, Senpai?"

Diam beberapa saat, namun mata onyx Sai masih memandang Hinata. "Selama ini, aku selalu menganggapmu adik. Tapi akhir-akhir ini, aku menyadari sesuatu. Kau bukan sekedar adik yang ingin kulindungi," kata pemuda itu pelan.

Hinata merasakan pipinya memanas dan jantungnya berdegup makin kencang. Ia tidak pernah menyangka Sai akan mengatakan hal seperti itu. "S-senpai…"

Pemuda itu menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan. "Aku menyukaimu, Hinata. Jadilah kekasihku."

.

.

.

Tidak jauh dari keduanya, ada seorang gadis yang tengah mengamati mereka.

"Sai… kau bisa mengeluarkan berbagai ekspresi di depan gadis itu? Benar-benar menyebalkan."

Gadis berambut panjang yang diikat ponytail. Gadis itu melepaskan kacamata hitamnya, menampakkan mata shappire yang indah.

"Well… tunggu kejutan dariku."

.

.

.

~~~~~T.B.C~~~~~

.

.

Ouww… I know … chapter ini aneh banget ya? Gyaaaa gomen banget semuanya .

Sejak masuk kul, di pikiran yg ada cuman masalah kul. Ini nih kalo kuliah di jurusan ipa tuh, bener2 sibuk .

Jadi gomen banget kalo hasilnya gaje gini. T_T . maaf juga kalo typo bertebaran…

Chap depan Insya Allah lebih jelas lagi. *semoga* hehe

Saya mau bales ripiu dulu. *gomen gak bisa repp PM. Gak ada waktu* m(_ _)m

Hyou Hyouichiffer: gomen, chap 4 emang flashbacknya ru dikit. Besok di chap 6 baru lengkap. N ntar konan ama obitonya diungkap di chap depan. *gayanya* haha :D. pas sasu meluk, setengah sadar dia. Dia blum sadar kalo suka ama hinata. Hehe. Arigatou yaa ^^

Ica Youichi-chan: waha… fave? Monggo… makasih banyak ^^

keiKo-buu89: ohoho … keiko-san. Sabar yaaa. Hinata masi bimbang ini. Keke :D. arigatou ^^

mery chan: ahaha. Sasu dodol sih. *ditimpuk sasu FC* ^^v . iya.. T_T . aku juga mau kok ama Sai. Arigatou yaaa :D

lonelyclover: aku juga mau jadi Hinata. apalagi di chap ini. Sejujurnya chap ini ada yg khayalan pribadi. *plakkk* . iya sih… agak antagonis dia. Waaa.. makasih banyak yaaa ;D

U-know Maxiah: haha. Masa? Sone juga dong? Kekeke. :D . iya… doain aja biar dia ga bingung ya. ;) . arigatou ^^

ulva-chan: wewleh… ulva-chan. Padahal bener2 gak niat bikin itu adegan jd lucu lho. . ni ku apdet. Arigatou ya ^^

Lollytha-chan: hoho… kaya reader lainnya . . tapi emang asik sih bayangin sasu kek gitu. Wkwk. Ini ku apdet. Arigatou ^^

Kaka: emang blum diungkap kok. mohon sabar ya :D. arigatouu ^^

Kise Tachibana: kekeke. Pada suka ya adegan akhir itu. , awaw. Ni ak apdet. Arigatou yaa ^^

Hizuka Miyuki: gyaa gomen… pas hari itu entah napa bisa nulis bagian ecchi ini. . kekeke. Arigatou ya ^^

harunaru chan muach: haru-chan . . ntar ya di chap depan. Makasii dah nyempetin ripiu :D

Yamanakaemo: kekeke. sasu sih yg maksa. Iye.. Konan jadi maminya sai. Kayanya cocok sih. :D. makasih banyak yaa ^^

kuronekomaru: kuro-san… jangan ikutan pingsaan . . hhe :DD . ni ak apdet. Tapi gaje, gomen. Arigatou yaa ^^

Seobb: uwaa chingu! Aku SONE banget . . makanya Hinata kutularin. Ohohoho. Naru juga sone lho! *plakk* ini saya apdet. Hhe. Chap ni ripiu lagi ya! *dobelplak*. khamsahamnida chingu ^^

Firah-chan: iya pingsan. Haha. Ini ku apdet. Makasih byk yaa ^^

Kimidori hana: oho… arigatouuuu :D

uchihyuu nagisa: iya. Saya blum tega sih kalo mau nyiksa hinata. ahaha :D. arigatouuu ^^

Ai HinataLawliet: ai-san… harap sabar ya… ntar di chap depan flashbacknya kok. chap ini pan sasu baru sembuh, jadi kupikir blum saatnya diungkap. Wkwk. Makasih banyak ya ^^

Himeka Kyousuke: hoho… Hina gampang shock sih. ini ku apdet. Arigatouu ^^

chibi tsukiko chan: aa gakpapa. :D. hhe… arigatouu ^^

Keira Miyako: waa sukur deh kalo puas. Hhe :D. ini ak apdet.. tapi dah SaiXHina. Gapapa ya? *maksa* hehe. Arigatouu chingu^^

Shyoul lavaen: hinata memang masih bingung… ntar di chap depan yaa… semoga dia ga bingung lagi. Hhe :D . arigatouu^^

Mei Anna AiHina: iya. Salam kenal. Bagus lho Run Devil Run videonya… ada yg versi jepang juga. :D . arigatouuu ^^

ve Degirl: waaa… benerkah? Makasih banyaak ^^

Thi3x: thie-chan .. eh, benerkah? Aku lupa . . itu malah dpt ide adegannya dr drama korea. Keke :D . waa iya di fic yg TR sasuhinagaa. Habisnya bingung mau ama sapa. Pan ntar gaara sama aku, jadi dia gak sedih2 bgt. :DD *plakk*. Okeee… arigatou yah ^^

Little QueenZhezad: Quu-chan… hoho. Ni ku apdet. Makasi banyaakk :DD

….

Yak sekian dulu… yg minta apdet kilat,, map sekali mungkin apdetnya gak kilat. Tapi ini dah secepat yg saya bisa. Hehe :DD

Sekedar info… SNSD comeback tanggal 4 oct. ayoo pada download videonya ya. :DD kekeke

Untuk para silent reader juga makasiiiiiih banget. :D

Jangan bosan2 baca fic ini ya… kritik, saran, review, flame(asal dgn alasan jelas) monggo saya persilahkan,, krn saya juga bth bgt komen dari para pembaca. *ceileh* :DD

Akhir kata…

.

.

.

Silahkan tinggalkan jejak anda :DD