.

.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 7

.

Uchiha Sasuke: 16 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Uchiha Sai: 17 tahun.

Hyuuga Neji: 17 tahun.

Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.

Haruno Sakura; Tenten: 16 tahun.

"[percakapan]"

'[bicara dalam hati]'

.

.

Happy reading ^^

.

.

Seorang gadis berambut indigo terlihat duduk tak nyaman di dalam sebuah taksi. Raut wajahnya menampakkan kegugupan. Kedua tangan mungil gadis itu meremas-remas roknya. Sesekali ia meminta agar supir taksi mempercepat laju kendaraannya.

'Bagaimana kalau dia marah?'

Gadis itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari dua puluh menit dari waktu yang menjadi kesepakatannya dengan Sasuke. Kecemasan semakin menyergapnya.

Hinata menghela nafas, berharap bisa mengurangi kegugupannya. Dalam hati ia merutuki kecerobohannya. Terlalu senang bermain di taman hiburan membuatnya lupa waktu.

Flashback

"Aku menyukaimu, Hinata. Jadilah kekasihku." Sai menatap Hinata dengan serius.

Wajah Hinata semakin memerah. Ia tak menyangka akan mendapatkan pengakuan dari senpai yang menjadi pujaannya secepat ini. Hinata hanya menunduk, tak berani menatap mata obsidian yang mengawasi tiap gerak-geriknya.

"Um… a-ano… um…" Kegagapannya muncul kembali, membuat gadis itu tak bisa mengeluarkan kata-kata.

Hinata meremas-remas rok yang dipakainya, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia memang menyukai Sai. Tapi… kenapa rasanya ada yang mengganjal hatinya? Ada sesuatu yang membuat gadis itu belum bisa menjawab iya.

Melihat ketidaknyamanan gadis di hadapannya karena pernyataan yang tiba-tiba membuat Sai merasa bersalah.

"Tidak perlu buru-buru. Aku akan menunggumu." Tangannya terulur mengelus puncak kepala Hinata.

"Um… go-gomen ne, Senpai… a-aku belum bisa menjawab sekarang," ucap Hinata lirih.

Sai masih tetap mengelus surai Hinata, merasakan lembutnya helaian rambut itu di telapak tangannya. "Tak masalah. Maaf membuatmu tak nyaman."

Hinata menggeleng. "Tidak, kok."

Tiba-tiba pintu sangkar bianglala mereka terbuka. Sai langsung melepaskan tangannya dari kepala Hinata. Ia turun terlebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya ke arah Hinata – yang disambut sang gadis dengan malu-malu. Penjaga bianglala hanya geleng-geleng melihat kedua pengunjung tersebut.

"Arigatou." Hinata tersenyum lembut dengan rona merah masih menghiasi pipinya.

"Sama-sama," sahut Sai sambil mempererat pegangannya pada tangan Hinata.

Merasakan genggaman yang semakin erat di tangannya membuat perhatian gadis itu beralih. Ia melirik tangan mungilnya yang digenggam tangan Sai yang lebih besar. Tanpa sengaja, iris lavender-nya menangkap jam tangan khas laki-laki yang dipakai senpai-nya tersebut.

15.10

Mata Hinata sontak langsung melebar – teringat akan janji yang ia buat dengan Sasuke. Ia menghentikan langkahnya – dan tanpa pikir panjang gadis itu melepaskan tangannya dari genggaman Sai.

"Ada apa?" tanya Sai heran.

Wajah Hinata terlihat pucat – namun bukan karena sakit. "Gomen, Senpai. Aku harus pergi sekarang. Ini sangat penting. Maaf tidak bisa menemani lagi."

Tanpa menunggu tanggapan dari Sai, gadis itu langsung berlari menuju pintu keluar – tanpa menoleh lagi. Sai yang terlalu kaget hanya terdiam tanpa sempat mencegah gadis itu pergi. Setelah menyadari apa yang terjadi, ia menghela nafas – sedikit kecewa dengan sikap Hinata yang tiba-tiba meninggalkannya.

Flashback off

"Sudah sampai, Nona."

"Ah! Terima kasih, Paman." Hinata segera memberikan beberapa lembar uang untuk ongkos taksi sebelum melesat keluar. "Ambil saja kembaliannya, Paman."

"Terima kasih, Nona."

Hinata masih bisa mendengar ucapan terima kasih dari supir taksi tersebut sebelum berlari sekuat tenaga menuju kafe tempat janjiannya dengan Sasuke. Dalam hati gadis itu terus berdoa semoga sifat ke –lucifer –an pemuda berambut spike tersebut tidak kambuh.

.

-RDR-

.

Tuk tuk tuk

Sasuke mengetuk-ngetukkan jari-jari tangannya di meja dengan bosan. Sudah lebih dari setengah jam ia duduk sendirian di kafe ini, menunggu kedatangan seseorang. Kedua alisnya bertaut, menandakan pemuda itu sedang tidak dalam mood yang baik. Mata onyx-nya melirik jam dinding di sudut ruangan.

'Kemana, sih, gadis itu? Awas saja kalau tidak datang.'

Pemuda berambut raven itu menggerutu dalam hati. Ia benar-benar bukan tipe laki-laki yang sabar menunggu. Kalau gadis yang ditunggunya belum muncul sampai sepuluh menit lagi, ia pastikan gadis itu akan menyesal.

Satu helaan nafas menyusul. Ia mencoba menelpon gadis itu, namun sepertinya ponselnya tidak aktif. Pemuda itu makin bersungut kesal.

Sasuke mengarahkan pandangannya ke luar kafe. Tiba-tiba sesosok gadis berambut panjang terlihat berlari-lari menuju kafe. Sasuke memutar matanya bosan.

'Akhirnya datang juga.'

Dilihatnya gadis itu tampak sedang mencari-cari keberadaannya – dan Sasuke membiarkannya. Setelah membuatnya menunggu selama setengah jam, Sasuke harus menyapanya terlebih dulu? Jangan harap! Ia tidak akan sebaik itu, bahkan pada seorang gadis.

Kedua manik lavender Hinata masih terus menyapu seisi kafe. Setelah menemukan sosok Sasuke yang tengah duduk dan memandangnya dengan tatapan kesal, Hinata segera menghampirinya. Ia melangkah pelan, sedikit takut dengan ekspresi yang dikeluarkan pemuda itu.

"Go-gomen, Sasuke," ucap Hinata pelan sambil melirik pemuda tersebut.

Alis kanan Sasuke terangkat, matanya menatap Hinata tajam. Gadis beriris pearl-lavender tersebut langsung menunduk.

"Sebaiknya kau punya alasan yang masuk akal, atau aku akan menghukummu." Nada suara Sasuke menunjukkan kekesalan.

Glek

Hinata menelan ludah dengan susah payah. Ternyata doanya tadi tak terkabul. Pemuda di hadapannya tersebut benar-benar kambuh sifat ke-lucifer-annya. Ia masih menunduk sambil memainkan jari-jarinya.

"A-ano… a-aku… um…"

Sasuke menunggu jawaban Hinata tidak sabar. "Hn?"

"Uh…"

Hinata tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tidak mungkin ia memberitahu Sasuke kalau ia baru saja pergi bersama kakak tiri yang dibencinya. Tidak mungkin, karena Hinata tahu itu akan menyakitinya. Tapi ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat mengapa ia terlambat. Ditambah dengan tatapan mengintimidasi yang dikeluarkan Sasuke.

"Sudahlah. Cepat duduk!" sela Sasuke yang tak tahan melihat raut wajah tersiksa Hinata.

Hinata menghela nafas lega. Gadis itu lalu menggeser kursi perlahan dan duduk di seberang Sasuke. Tapi rasa bersalah masih hinggap di hatinya. "Maaf…"

"Hn."

Sasuke mengisyaratkan salah satu waiter agar membawakan menu yang dipesannya sedari tadi. Tak lama setelah itu si waiter kembali muncul membawa nampan dengan beberapa kue dan minuman di atasnya.

"Eh? Sudah dipesankan?" Hinata sedikit terkejut saat mendapati pramusaji sedang meletakkan beberapa kue dan minuman di meja tersebut.

"Selamat menikmati," kata waiter tersebut sebelum beranjak pergi.

"Hn. Cepat minum." Sasuke mengambil secangkir cappucino hangat.

Hinata mengangguk, kemudian mengambil segelas moccacino float dingin. Ia menyesap pipetnya perlahan, merasakan dinginnya minuman tersebut melewati tenggorokannya yang kering. Sejenak kecemasannya akan kemarahan Sasuke langsung hilang. Lagipula sepertinya pemuda itu tidak jadi marah.

"Ahh… minuman di kafe ini memang selalu nikmat," ujarnya sambil tersenyum.

"Hn. Sekarang makan cake-nya!" perintah Sasuke.

Hinata menatap berbagai cake di depannya dengan mata berbinar. Ia sudah lama tidak mengunjungi kafe ini. Brownies cheese, kue brownies dengan taburan keju di atasnya yang sangat menggoda. Chocolate delight cake, kue coklat asli tanpa tepung yang terlihat sangat lezat. Chocoberry cup cake, cup cake coklat dengan krim strawberry di atasnya. Ia memutuskan untuk menikmati cup cake terlebih dulu.

"Sasuke tidak makan?" tanyanya saat melihat Sasuke yang tak menyentuh satu kue pun.

"Aku tidak suka makanan manis." Pemuda tersebut menjawab dengan nada datar seperti biasa.

"Aaa… aku mengerti." Hinata kembali memakan cup cake-nya. "Lalu, a-apa kita… um… hanya akan di sini?" tanya Hinata ragu-ragu.

Sasuke mengerjapkan mata beberapa kali mendengar pertanyaan Hinata. Sedetik kemudian seringai khasnya muncul.

"Jadi kau mengharapkan kita kencan, huh?"

Hinata segera berpaling – menghindari tatapan jahil dari Sasuke. Kedua maniknya berpura-pura sibuk memperhatikan keadaan luar kafe.

"Ti-tidak," elaknya.

Sasuke makin menyeringai melihat sikap Hinata yang salah tingkah. "Benarkah? Kenapa tidak jujur saja, sih?

"A-aku jujur, kok." Pandangan Hinata masih belum beralih.

"Tch. Selesaikan dulu makanmu, baru kita pergi."

Mendengarnya membuat Hinata mengangguk semangat, kemudian melanjutkan menikmati cake-cake yang begitu menggoda itu. Kejadian beberapa saat lalu bersama Sai sama sekali tak diingatnya. Tanpa Hinata sadari, kehadiran Sasuke memberikan pengaruh besar bagi gadis itu.

Sedangkan Sasuke… ia terus memperhatikan gadis di depannya dengan seksama. Kulitnya yang putih, matanya yang besar dan berwarna sangat kontras dengan miliknya, juga rambut indigo panjangnya. Terbersit keinginan untuk bisa membelai rambut indigo itu.

Hinata seharusnya duduk di sampingnya, bersandar di bahunya dan membiarkannya memainkan helain rambut lurus itu. Dan saat pandangan mereka bertemu, pelan-pelan Sasuke akan mendekatkan wajahnya. Lalu pipi gadis itu akan merona, dan ia akan terus mendekat – menghilangkan jarak di antara keduanya dan langsung menci –

Sadar apa yang dilamunkannya, onyx pemuda tersebut langsung melebar. "Damn it!" Sasuke mengutuk dirinya yang larut dalam suasana dan membayangkan hal yang tidak-tidak. Pemuda itu memijit pelipisnya, malu. Gadis itu… tidak… dia bukan miliknya. Sasuke memang menginginkannya, tapi… tidak mungkin gadis itu menyukainya untuk saat ini.

"S-Sasuke… ada apa?" Hinata menatap Sasuke khawatir karena pemuda itu tiba-tiba bersikap aneh.

"Tidak ada. Lanjutkan saja makanmu," sahutnya, masih tetap memijit pelipisnya.

Hinata yang kebingungan hanya mengangguk – melanjutkan santapannya tanpa curiga sedikitpun.

.

-RDR-

.

Kediaman Uchiha

Sai memasuki rumahnya dengan langkah tenang seperti biasa. Hari ini menyenangkan sekaligus melelahkan. Sejujurnya, pemuda itu masih ingin melewatkan waktunya bersama Hinata. Sayang sang gadis malah meninggalkannya begitu saja.

Sai berniat langsung naik ke lantai dua – tempat kamarnya berada. Melewati ruang santai, samar-samar ia mendengar ibunya bercakap-cakap dengan seseorang. Ia ingin mengabaikannya, namun saat mendengar suara familiar langkahnya pun terhenti.

'Sepertinya aku kenal suara ini…'

Pemuda itu mengerjapkan matanya, berusaha mengingat siapa pemilik suara feminin tersebut. Dengan langkah ragu-ragu, Sai berjalan mendekati ruang santai. Dilihatnya siapa lawan bicara ibunya. Iris obsidian-nya tiba-tiba melebar.

"Ino…" gumamnya lirih.

Konan yang sadar Sai menghampiri mereka langsung berdiri. "Anakku, kau sudah pulang? Kemarilah." Ibu satu anak tersebut menyambut ramah.

"Iya… aku pulang, Bu," sahutnya lirih. Pandangan Sai tidak lepas pada sosok gadis berambut blonde yang kini telah berdiri – balas menatap kearahnya.

Gadis itu tersenyum, tubuhnya yang tinggi semampai mulai bergerak – melangkah mendekati Sai.

"Lama sekali kita tak bertemu, Sai-kun. Aku rindu sekali." Begitu berada di depan pemuda berkulit pucat tersebut, Ino langsung memeluknya erat. Melepaskan semua kerinduan yang ia pendam selama ini.

Sai hanya terdiam. Ia masih berusaha mencerna semuanya.

"Ino…" gumamnya tanpa sadar.

Merasakan tidak mendapat respon, Ino melepaskan pelukannya. "Hei! Kau tak rindu padaku, ya? Jahat sekali…" rajuk gadis itu sambil memasang wajah sedihnya.

Konan mencubit pelan tangan putranya. "Sai! Apa-apaan kau ini?"

"Ah… gomen. Aku… aku sedikit lelah." Akhirnya Sai bisa menguasai dirinya. Ia menatap sosok gadis di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Baiklah, cepatlah mandi dan bergabung untuk makan malam."

Sai mengangguk singkat, kemudian melangkah – menaiki tangga, menuju ke kamarnya. Langkahnya terlihat lesu. Tanpa ia sadari, Ino tengah menatapnya dengan sedih.

"Bibi… benar, kan, apa yang aku bilang. Sai sepertinya belum memaafkanku."

"Ssstt, Ino. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Sai hanya terlalu shock. Nanti juga dia akan kembali padamu."

Ino hanya mengangguk lesu. Dalam hati, gadis berparas cantik itu berharap bisa memperbaiki kesalahannya di masa lalu.

.

-RDR-

.

Mobil kesayangan Sasuke – Lamborghini Gallardo LP 560-4 Spyder – berhenti dengan mulus di area parkir gedung Konoha Art Center. Salah satu bangunan kota yang megah dan sangat artistik – sesuai dengan namanya – dan berfungsi untuk segala kegiatan seni di kota Konoha.

Setelah mematikan mesin mobil, Sasuke keluar terlebih dulu. Melihat Hinata yang belum juga turun, ia segera membukakan pintu. Rupanya gadis itu tengah asyik memperhatikan keindahan gedung di hadapannya.

"Ayo."

Hinata segera keluar dari mobil saat mendapati Sasuke yang telah membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih," ucapnya sembari tersenyum lembut.

"Hn." Sasuke menyahut sambil berjalan mendahului.

"Kenapa kita kesini, Sasuke?" tanya Hinata dengan nada heran. Ia pikir Sasuke bukan tipe laki-laki yang suka hal-hal berbau seni.

Sasuke menoleh – memandangnya setengah tak percaya."Kau tak tahu kalau ada pameran fotografi di sini?"

Hinata menggeleng. "A-ah… a-aku tak tahu. Gomen," sesalnya. Akhir-akhir ini ia memang kurang up-to-date dengan event di Konoha.

Sasuke hanya mengangkat bahu, kemudian menggenggam tangan mungil Hinata karena dirasanya langkah gadis itu lambat. Wajah gadis berambut indigo itu tentu saja langsung merona. Hatinya kian berdebar. Sayang, ia belum tahu apa arti debaran itu.

Setelah membayar karcis, keduanya memasuki hall luas yang telah ditata untuk pameran tersebut. Dinding-dinding non-permanen didirikan sebagai tempat memasang ratusan figura. Hinata terkesiap melihat pemandangan di ruang tersebut.

"Wah… ini hebat!"

Hinata langsung menghambur – mendekati bingkai-bingkai berisi foto-foto yang dipamerkan. Gadis bermata lavender itu seakan melupakan kalau Sasuke-lah yang mengajaknya kemari. Sasuke hanya terkekeh dalam hati melihat tingkah Hinata yang mendadak seperti anak kecil jika menemukan hal kesukaannya.

"Tidak hanya fotografer handal yang ikut dalam pameran ini, tapi ada beberapa fotografer amatir juga."

Suara maskulin Sasuke membuat Hinata menoleh. Lelaki tersebut ternyata telah berdiri di sampingnya. Tinggi Hinata yang memang hanya termasuk rata-rata membuat gadis itu harus mendongak untuk melihat wajah Sasuke.

"Benarkah? Darimana kau tahu, Sasuke?" Hinata tiba-tiba kagum akan pengetahuan pemuda di sampingnya itu.

"Makanya, jangan hanya baca artikel girlband atau boyband negeri tetangga!" sahut Sasuke sarkastik.

Hinata menggembungkan pipinya, bibirnya juga mengerucut. Bagaimanapun, membaca berita tentang idola-idolanya juga penting – menurut Hinata.

"Seharusnya kau ikut," kata Sasuke seraya mencubit pipi tembam Hinata.

Hinata mengelus pipinya yang baru saja dicubit. "Um… aku suka fotografi hanya karena hobi. Aku belum berfikir untuk benar-benar menekuninya." Pandangan Hinata beralih ke foto di hadapannya.

Sasuke agak menunduk, kemudian merangkul pundak gadis mungil tersebut. "Hmm… Aku jadi ingat. Dulu, kenapa kau tiba-tiba memotretku?"

Tubuh Hinata sedikit menegang, namun ia tidak menepis tangan kekar Sasuke. "Ti-tidak tahu. Mungkin karena setiap melihat sesuatu yang indah aku jadi langsung ingin memotretnya."

"Jadi menurutmu aku indah?" Pemuda itu mengeratkan rangkulannya, disertai seringai yang muncul di wajah tampannya.

"Te-tentu saja tidak. Wa-waktu itu, suasana kafe yang indah. Kau hanya pelengkap." Hinata tetap berdalih. Ia tak mau mengakui kalau saat itu menurutnya Sasuke memang indah.

Seringai Sasuke makin kentara setelah melihat pipi Hinata kini mirip buah kesukaannya. Ah… pemuda itu jadi ingin menggodanya lebih lama.

"Benarkah?" bisiknya di telinga sang gadis. "Akui saja. menurutmu aku tampann, kan?" lidah Sasuke terjulur – menjilat pipi Hinata.

Manik lavender Hinata terbelalak merasakan sesuatu yang basah menjilat Sasuke. Ia langsung beringsut menjauh. "A-aku mau lihat yang lain."

Sasuke tersenyum melihat gadis itu berjalan menjauh dengan wajah merah padam.

'Hmm… lain kali kau takkan bisa menghindar, Uchiha Hinata soon-to-be.'

.

-RDR-

.

Kediaman Uchiha

Berbaring di atas tempat tidurnya, Sai berusaha memejamkan matanya – yang tampaknya sia-sia. Tubuhnya memang lelah, tapi entah mengapa matanya sulit terpejam.

Baru saja beberapa jam yang lalu ia menyatakan perasaannya pada kohai yang menarik hatinya, dan sekarang mantan kekasihnya sekaligus cinta pertamanya berada di rumahnya.

Kekasih yang dua tahun lalu sangat ia sayangi, tapi memutuskan pergi ke Amerika untuk mengejar cita-cita. Sai yang saat itu benar-benar membutuhkannya tentulah sangat terluka.

Flashback

"Ino, apa maksudmu? Apa maksud semua ini?"

Sai menatap penuh tanya gadis cantik di hadapannya. Perkataan gadis itu terlalu membuatnya shock. Bagaimana mungkin kekasih yang setiap hari berada di sampingnya tiba-tiba berkata akan pergi ke Amerika.

"Ayahku akhirnya mendapatkan tempat pelatihan tenis untukku, Sai-kun. Aku tak mungkin menolaknya."

Keduanya sama-sama pemain tenis, walaupun belum sampai menjadi atlet nasional. Keduanya sama-sama memenangkan juara pertama kejuaraan tenis tingkat kota. Keduanya juga sama-sama punya impian suatu saat akan menjadi atlet tenis bersama-sama.

"Jadi kau akan meninggalkanku?" Sai berusaha tetap tenang, walaupun hatinya menjerit – memohon agar gadis itu mengubah pikirannya.

"Bukan begitu, Sai-kun. Aku bisa meminta ayahku mendapatkan tempat untukmu juga kalau –"

"Tak perlu. Aku tidak mungkin meninggalkan ibuku."

Ino menunduk. Ia tahu Sai punya masalah keluarga, dan pemuda itu tak mungkin meninggalkan ibunya sendirian. Gadis berambut pirang itu menggigit bibirnya, menahan agar airmatanya tak tumpah. Rasanya sakit harus meninggalkan pemuda yang ia sayangi untuk menggapai impiannya. Tapi setelah semua perjuangannya ia akhirnya mendapatkan kesempatan ke Amerika, Ino tak mungkin melepasnya begitu saja.

"Sai-kun… gomenasai…"

Sai terdiam, tak membalas permintaan maaf dari Ino. Hanya gadis itu yang mempu membuatnya ceria dan merasakan hidupnya tidaklah terlalu buruk. Masalah keluarga yang rumit membuat pemuda itu menjadi pemurung dan tertutup. Tapi kehadiran Ino yang ceria membuat hari-hari Sai lebih berwarna. Tapi ia tahu kalau dirinya tak berhak menahan Ino.

"Gomenasai…" ucap Ino lirih sebelum berbalik pergi – meninggalkan Sai yang hanya bisa menatapnya nanar.

End of flashback

Lagi-lagi Sai menghela nafas. Ino meninggalkan luka yang mendalam di hatinya. Dan setelah sekian lama akhirnya ia bisa melupakan gadis itu, Ino malah muncul kembali. Padahal ia sedang berusaha mendapatkan Hinata. Ya… kalau ingat Hinata, Sai jadi penasaran kenapa kohai pemalu itu tiba-tiba meninggalkannya.

Rasa penasaran yang semakin besar membuat Sai berniat menghubungi gadis tersebut. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak si atas nakas. Ia mencari sebuah nama, kemudia menekan tombol call.

Calling Hinata-chan

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan –

Tuut

Sai langsung memutus hubungan saat ponsel Hinata tak aktif. Tak biasanya Hinata mematikan ponselnya dan itu membuatnya sedikit cemas. Semua memang terjadi tiba-tiba. Saat melihat kedekatan Sasuke dengan Hinata, hatinya menjadi resah. Walaupun ia menyayangi Sasuke seperti adik kandungnya sendiri, tapi untuk urusan wanita ia tak mau kalah.

'Ah… ini berat.'

.

-RDR-

.

Konoha Gakuen

Keesokan hari, Hinata menjalani rutinitas seperti biasa, namun kali ini lebih menyenangkan. Ia lebih dekat dengan Sasuke, Gaara dan Naruto. Awalnya mungkin lebih tepatnya terpaksa dekat. Sasuke tiba-tiba menariknya ke atap – untuk makan siang bersama. Sedangkan Naruto dan Gaara tak lupa mengekor. Dari kebersamaan mereka akhir-akhir ini, Hinata menjadi tahu kalau sebenarnya ketiga pemuda ini sebenarnya hanya anak-anak yang kesepian, terutama Sasuke.

Tanpa sadar Hinata tersenyum melihat ketiganya makan dengan begitu lahap. Hari ini ia membawa bekal untuk mereka bertiga, dan ternyata respon ketiganya memuaskan. Naruto yang memang tidak segan-segan mengutarakan isi hatinya memuji masakan Hinata. Gaara yang sifatnya 11 – 12 dengan Sasuke hanya berkata 'enak' satu kali. Sedangkan Sasuke, pemuda itu sedari tadi diam. Gadis itu tahu, Sasuke hanya terlalu gengsi mengakui masakannya.

'Dasar Lucifer.'

Hinata menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawanya. Rasanya lucu membayangkan Sasuke menjadi Lucifer.

"Untuk bekal besok… um… kalian mau lauk apa?" Tiga pasang mata dengan warna berbeda kini memandangnya.

"Ramen!" jawab Naruto keras. Hinata jadi terkikik.

"Mana ada lauk ramen, Dobe!" Sasuke menatap seakan Naruto kurang waras.

Naruto menoleh dan menatap Sasuke sengit. "Berisik, Teme!" balas Naruto.

"Jangan dengarkan dia, Hinata. Kau buat apapun aku suka," Gaara berkata dengan sambil mengelus pela pipi Hinata – menyalurkan bakat playboy yang ia miliki. Kebetulan ia duduk di samping gadis itu.

Sontak pipi Hinata memerah. Sasuke segera mendelik ke arah pemuda berambut merah tersebut. "Panda! No touchy-touchy! Jangan dekat-dekat dia, Hinata!"

"Apa, sih? Pantat ayam!" Gaara menatap Sasuke dengan pandangan mengejek. Dan ketiganya pun terlibat adu mulut yang sangat out-of-character.

Hinata tersenyum melihat pertengkaran aneh di hadapannya tersebut. Kalau diperhatikan, ketiganya benar-benar seperti anak kecil.

"Ah! Sasuke, apa nanti latihan basket lagi?" Hinata teringat dengan janji Sasuke yang akan melatihnya basket. Pelajaran olahraga memang semakin dekat.

"Hn," sahut Sasuke singkat.

"Eh? Basket apa? Aku ikut!" seru Naruto yang hanya disambut decihan Sasuke.

'Lagi-lagi bocah ini menggagalkan rencanaku berduaan dengan Hinata.'

.

-RDR-

.

Hinata duduk di lantai lapangan basket indoor sembari memantul-mantulkan bola basket yang dipegangnya. Ketiga pemuda yang bilang ingin melatihnya sedang berada di ruang ganti. Entah apa yang membuat ketiganya lama.

"Hinata?"

Mendengar namanya dipanggil, gadis itu mendongak. Dilihatnya Sai sedang berdiri di ambang pintu. Seperti biasa, senpai-nya bermata obsidian itu terlihat tampan dalam pakaian tenisnya.

"Senpai…" gumam Hinata seraya berdiri.

Hinata terlihat sedikit gugup saat Sai berjalan mendekatinya. Ia belum siap untuk menjawab pernyataan Sai. Kedua manik pearl-nya menatap lantai tempatnya berdiri.

"Kau tak mengangkat teleponku semalam," tegur Sai setelah Hinata ada di hadapannya.

Hinata mendongak sejenak sebelum menunduk lagi. "Gomen… ponselku mati, Senpai."

"Hm. Tak apa. Jadi, kenapa kemarin buru-buru?" Rasa penasaran apa yang membuat kohai-nya tiba-tiba meninggalkannya membuat Sai tak bisa menahan keinginannya untuk bertanya.

"Um… a-ano… ada urusan," sahut Hinata pelan.

Merasa kalau gadis di depannya tersebut tak terlalu nyaman, Sai mengabaikan rasa penasarannya."Oh… kau bermain basket, Hinata-chan?" Sai mengamati baju olahraga yang dikenakan Hinata.

"Um… sebenarnya hanya latihan karena aku payah dalam olahraga, padahal sebentar lagi ada penilaian," jelas gadis itu.

Sai mengangguk. "Aaa… kalau begitu, selamat berjuang!" Setelah mengusap-usap kepala Hinata, pemuda itu beranjak keluar menuju ruang tenis.

"Terima kasih, Senpai."

Sai berbalik, sepertinya teringat sesuatu. "Ah. Kemarin sangat menyenangkan. Terima kasih. Dan tentang pernyataanku, aku harap jangan terlalu berat memikirkannya. Aku akan menunggu."

Wajah Hinata sontak memerah mengingat pengakuan senpai-nya tersebut. "Iya, Senpai."

"Aku pergi dulu." Lambaian tangan Sai menutup perjumpaan keduanya, meninggalkan Hinata yang masih merona.

Gadis berambut panjang itu menatap punggung Sai yang menjauh dalam diam. Punggung yang begitu ia kagumi.

"Jadi itu alasanmu telat kemarin?"

Hinata bisa merasakan tubuhnya menegang. Suara yang baru saja terdengar… ia jelas tahu siapa pemiliknya. Tapi suara itu terdengar lebih berat… dan terdengar seperti menyimpan kemarahan yang besar. Hinata menghirup nafas, bersiap-siap untuk menghadapi kemarahan teman sekelasnya itu.

"S-Sasuke…" Hinata kini berbalik menghadap Sasuke, namun tak berani bertemu pandang dengannya.

"Lalu apa maksudnya pernyataan? Apa dia menyatakan cintanya padamu?" tanya Sasuke lagi. Kali ini suaranya terdengar semakin kelam.

Hinata memberanikan diri menatap Sasuke. Benar saja, pemuda itu kini tengah menatapnya sangat tajam. Gaara dan Naruto yang berdiri di belakangnya juga tengah menatapnya, seolah meminta penjelasan apa yang terjadi.

"S-Sasuke… bukan begitu…"

"LALU APA?" Mata onyx Sasuke kini bercampur merah. "Dari awal aku memang sudah mengira kau baik padaku hanya karena kasihan. Sepertinya aku benar."

Kasihan? Tidak… Hinata tidak pernah kasihan. Ia tulus memberikan dukungannya saat kematian ayah Sasuke. Tapi sebelum gadis itu menjawab…

DUAKH!

Sasuke melempar bola basket yang dipegangnya dengan sangat keras, tepat di samping Hinata. Naruto terlihat ingin mencegah Sasuke, namun Gaara menahannya. Mereka jelas tahu kalau Sasuke paling tidak suka diganggu saat marah. Hanya akan memperburuk keadaan kalau mereka ikut campur.

Hinata langsung menciut. Tubuhnya bergetar. Matanya terasa panas. Baru kali ini ia melihat Sasuke yang benar-benar marah. Membayangkannya saja Hinata tidak pernah.

"Kau membuatku muak, Hyuuga!" Kata-kata tajam pemuda itu membuat Hinata terbelalak.

Sasuke berjalan melewatinya, diikuti Naruto serta Gaara yang sedari tadi hanya menjadi penonton.

'Muak? Aku memuakkan?'

Pandangan Hinata kosong. Bulir-bulir airmatanya tak dapat ditahan lagi untuk keluar. Dalam sekejap. Wajahnya basah oleh airmata. Hatinya terasa sangat sakit, bahkan lebih sakit daripada saat sang ayah meremehkannya. Kata-kata yang diucapkan pemuda itu terus terngiang di kepalanya.

Tangannya tergerak, memegang bagian depan bajunya, tepat di daerah jantung. Airmata masih mengalir deras, hingga membuat lantai yang ia pijak menjadi basah. Ia tak tahu, efek kecerobohannya bisa berakibat sefatal ini. Dibenci oleh Sasuke… ia tidak mau itu terjadi. Tidak mau…

Brukh

Hinata terjatuh. Tangannya memegang dadanya yang terasa sakit dengan kencang. Menyesali kecerobohannya, namun sudah terlambat.

"Maaf… maafkan aku, Sasuke… maaf…" ucapnya lirih, berharap Sasuke mendengarnya dan mau memaafkannya.

.

.

-T.B.C-

.

.

Minna-san… gomenasai fic ini updatenya lama banget o(_ _)o

Gomen gomen gomeeennn…

Biasa, urusan kuliah bikin fic terhambat. N malah kena writer block buat fic ini. :DD

Semoga teman-teman semua nggak kecewa dengan chap ini…

Sebenernya ngga mau mutus sampe bagian mreka berantem, tapi kalo dilanjutin bisa panjang banget. Jadi akhirnya saya bagi 2 chap. Inshaallah apdetnya ngga akan lama kok chap 8 nya. ^^

Jadi, jangan bosen baca rundevilrun ini yaaa ;)

Oke.. saya mau salam-salam dulu

Special thanks to ::

Hyou Hyouichiffer, n, keiKo-buu89, Lollytha-chan, U-know Maxiah, uchihyuu nagisa, Hana 'Reira' Misaki, Seobb, Hizuka Miyuki, Ai HinataLawliet, Mei Anna AiHina, Yukio Hisa, Himeka Kyousuke, chibi tsukiko chan, ulva-chan, Shyoul lavaen, Thi3x, Yamanaka Emo.. and all silent reader ^^.

Jangan bosan-bosan mampir yaaa :DD

Thathaaa~~~

With luv :3

Ayuzawa Shia

.

.

Silahkan tinggalkan jejak anda :DD