.

Title: Run Devil Run

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

Pairing: SasukexHinata, SaiXHinata slight SaiXIno

Warning: AU, OOC, crack pair, misstype, dll

.

Run Devil Run

Chapter 8

.

Uchiha Sasuke: 16 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Uchiha Sai: 17 tahun.

Hyuuga Neji: 17 tahun.

Uzumaki Naruto; Sabaku Gaara: 16 tahun.

Haruno Sakura; Tenten: 16 tahun.

"[percakapan]"

'[bicara dalam hati]'

.

.

Happy reading ^^

.

.

"Ah! Aku telat lagi," gumam seorang gadis cantik berambut pink.

Sakura berjalan sedikit terburu-buru menyusuri koridor gedung serbaguna Konoha Gakuen—menuju ruang klub judo. Gadis itu memang merupakan salah satu anggota klub judo. Langkah kakinya semakin cepat mengingat ini sudah lebih sepuluh menit dari waktu dimulainya latihan judo. Sambil menggerutu, gadis itu terus berjalan melewati lorong-lorong gedung olahraga yang terbilang cukup sepi.

Hiks

Tiba-tiba indra pendengarnya menangkap suara tangis samar-samar. Langkah Sakura, ia mersasa mengenal suara isakan itu. Gadis berambut bubblegum itu mengernyitkan dahi. Mata emerald-nya melirik keadaan sekitar, mencoba mencari darimana suara tersebut berasal.

Hiks

Terdengar lagi samar-samar. Pandangannya kini terarah ke ruang klub basket. Pintu ruangan itu sedikit terbuka. Dan setahunya, hari ini klub basket memang tidak mengadakan latihan. Dengan langkah ragu-ragu, gadis itu berjalan mendekat. Suara isakan semakin terdengar jelas.

'Siapa ya, yang sedang galau siang-siang begini?'

Penasaran, Sakura mengintip ke dalam ruang basket—melihat siapa yang sedang menangis. Ruangan itu terlihat lengang. Namun iris emerald-nya langsung melebar terkejut saat mendapati siluet sahabatnya sedang meringkuk di tengah-tengah lapangan.

"Hinata. Ya, Tuhan! Apa yang terjadi?" tanya Sakura panik. Ia segera berlari menghampiri sahabatnya tersebut.

Sepertinya Hinata terlalu larut dalam kesedihannya hingga tak menyadari namanya dipanggil. Sakura merendahkan badannya hingga berada sejajar dengan Hinata. Gadis ceria itu kemudian menyentuh pundak sahabatnya lembut.

"Ada apa?"

Merasakan usapan di pundak dan suara Sakura, Hinata mendongakkan kepalanya. Matanya yang seharusnya sebening mutiara itu kini memerah. Pipinya basah oleh airmata, dan ekspresinya tampak sedih.

"S-Sakura…" lirihnya. Ia langsung menghambur ke pelukan gadis berambut merah muda tersebut, menangis di bahunya.

Sakura terkejut, namun ia segera mengatasinya dan mencoba menenangkan Hinata. "Dimana Sasuke dan yang lainnya? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?" tanyanya hati-hati.

Tangisan Hinata terdengar semakin kencang. Menghela nafas, tangan gadis bermata hijau bening itu bergerak mengusap rambut panjang Hinata dengan lembut. Yang dibutuhkan Hinata saat ini adalah sandaran, dan Sakura tahu itu. Ia membiarkan sahabat yang disayanginya tersebut menangis di pundaknya, menumpahkan segala kegalauan ia rasakan.

"Menangislah… tidak apa. Menangislah sepuasmu, Hinata-chan."

.

_RDR_

.

Sasuke langsung memasuki Lamborghini-nya, diikuti Gaara dan Naruto—yang terlalu malas untuk membawa mobil ke sekolah. Menghidupkan mesin mobil, pemuda berambut raven itu langsung menginjak pedal gas kuat-kuat—keluar dari kompleks Konoha Gakuen.

Sasuke melajukan mobil sport hitamnya dengan kecepatan tinggi tanpa memasang sabuk pengaman terlebih dulu. Ia terlihat sangat emosi. Mata onyx-nya berkilat-kilat, menunjukkan kalau bungsu Uchiha itu sedang marah. Naruto yang kebetulan duduk di depan segera memasang safety belt, melingkari tubuhnya.

Tak ada satu pun yang bersuara. Yang terdengar hanya raungan mesin mobil yang mereka tumpangi. Keheningan menyelimuti ketiga pemuda yang bersahabat sedari kecil tersebut. Bahkan Naruto yang biasanya berisik pun kini membisu. Kadang kala, diam memang lebih baik daripada memperburuk suasana. Bukannya takut, tapi bagi Naruto maupun Gaara, berurusan dengan Sasuke yang sedang kalap berada di urutan terakhir.

Merasa mobil yang ditumpanginya semakin cepat, Naruto memberanikan diri untuk protes. "Sasuke… pelankan sedikit mobilnya," ucapnya. Mereka kini memasuki daerah yang terbilang rawan. Jalan raya itu memang sepi, namun adanya tikungan-tikungan yang tajam membuat petugas lalu-lintas harus memasang tanda bahaya di kanan kiri jalan.

"Diam," sahut Sasuke dingin. Pemuda itu malah menambah lagi kecepatan mobilnya dan membuat temannya yang berambut kuning berjengit.

Mobil mendecit sewaktu menikung tajam. Lalu melesat maju lagi dengan kecepatan tinggi. Naruto menoleh ke belakang, menatap Gaara dengan pandangan memohon. Sayang, orang yang ditatap hanya mengendikkan bahu—tak mau ambil pusing. Lagipula Gaara menyukai tantangan, sesuatu yang mendebarkan. Wajah Naruto benar-benar terlihat helpless.

'Kami sama. Selamatkan kami.'

Baru saja Naruto selesai berdoa dalam hati, hal yang ia takutkan terjadi. Mobil kembali menikung secara tajam, mengakibatkan tubuhnya terhempas dan menghantam pintu. Mata shappire-nya terbelalak. Dilihatnya tiba-tiba sebuah mobil melintas dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi. Sasuke langsung menginjal pedal rem sekuatnya.

"TEME, AWAS!"

Ckiiitt

BRAKK!

.

_RDR_

.

Tak

Tak

Suara pantulan bola tenis yang menghantam dinding terdengar memenuhi ruang latihan tenis indoor Konoha Gakuen. Beberapa bola tenis tergeletak di lantai. Seorang pemuda berambut hitam dengan mata obsidian terus memukul bola-bola berwarna hijau itu.

Hari ini memang bukan jadwalnya kegiatan klub tenis, jadi Sai hanya berlatih seorang diri. Turnamen yang beberapa minggu lagi akan diikutinya membuatnya harus berlatih lebih ekstra. Lelah yang terasa di tubuhnya ia acuhkan. Konsentrasi penuh pada pukulan-pukulannya, pemuda itu tak menyadari ada langkah kaki mendekat.

"Jadi ini sekolahmu sekarang?"

Suara lembut itu langsung memasuki telinga Sai, membuatnya tak jadi memukul bola. Raket yang sudah siap berayun itu terpaksa diturunkan. Suara yang terdengar tadi adalah milik gadis yang sangat dikenalnya. Ditolehkan kepalanya ke belakang, seperti yang ia duga—Ino tengah berdiri sambil menatapnya.

"Kau—mau apa kesini?" tanyanya pelan. Canggung dan enggan masih ia rasakan bila berhadapan dengan mantan kekasihnya tersebut. Sampai saat ini, ia masih tak mengerti maksud kedatangan Ino. Ibunya hanya berpesan untuk memperlakukan Ino dengan baik, makanya pemuda itu menahan diri untuk pergi jika Ino menghampirinya. Sai memang sudah memaafkan Ino, tapi bukan berarti sakit hatinya sudah sembuh.

"Apa tidak boleh? Aku hanya ingin melihat-lihat, kok." Ino menyahut sambil tersenyum getir. Pemuda di hadapannya itu belum memaafkannya, pikirnya.

Ino berjalan mendekati Sai, kemudian berjongkok untuk mengambil sebuah bola tenis. Ia mengamati bola tersebut, seakan-akan menganalisis apa yang ada di dalamnya.

"Tenis, ya. Hm… kau pasti lebih hebat dari dulu." Gadis cantik itu kemudian berdiri dan memutar-mutar bola tenis di tangannya.

"Suatu kehormatan bagiku mendapat pujian dari pemain tenis dari Amerika," kata Sai dengan sarkastik. Ia sendiri tak yakin kata-kata itu keluar dari mulutnya. Merasakan mood berlatihnya menguap bersamaan dengan hadirnya Ino, pemuda berambut hitam itu mulai memunguti bola-bola tenis yang berceceran.

Ino tertawa miris. Dibiarkannya bola tenis yang tadi dipegangnya jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi pantul yang lemah. "Begitukah aku di matamu sekarang, Sai? Apa karena ada gadis berambut indigo itu?"

Pertanyaan dari gadis bermata biru cerah itu sontak membuat Sai terkejut. 'Darimana ia tahu tentang Hinata?' herannya. Pemuda itu berdiri dari posisi jongkoknya, lalu memasukkan bola-bola tenis ke troli dengan posisi memunggungi Ino.

"Ini tak ada hubungannya dengan Hinata," sahut Sai dingin tanpa merubah posisinya. Memang benar, Hinata tak tahu apa-apa, jadi ini tak ada hubungannya dengan kohai-nya itu. Ino sendirilah yang membuat pemuda pucat itu seperti ini. "Kau yang memulai segalanya."

"Apa maksudnya?"

Sai berbalik, matanya bertemu pandang dengan mata Ino. "Apa kau tahu rasanya ditinggal oleh orang yang kau sayangi di saat kau membutuhkan dukungannya? Kau tahu rasanya? Aku tahu ini bukan salahmu saat lebih memilih cita-citamu dibanding aku. Tapi itu bukan berarti kalau aku benar-benar bisa menerima keputusan sepihakmu lalu menunggumu dengan tetap mencintaimu."

Memutuskan pandangan dari mata kelam milik Sai, Ino lebih memilih memandang dinding ruang tenis itu. Gadis itu menghela nafas. "Apa jika aku tetap ada di sini, kau juga akan tetap mencintaiku walau bertemu gadis itu?"

Sai tertegun mendapat pertanyaan seperti itu dari gadis yang pernah mengisi hatinya. Tapi, ia sendiri tak yakin. Apa benar ia takkan menyukai Hinata kalau Ino tetap di sisinya? "Aku tidak tahu," jawabnya.

"Bukan karena aku pergi, tapi memang kau yang tidak bisa menjaga perasaanmu. Kita bahkan belum resmi putus. Apa kau pikir aku tak terluka saat harus pergi meninggalkanmu?" tanya Ino sedikit meninggikan nada suaranya.

Seandainya Sai tahu kalau setelah memutuskan untuk berangkat ke Amerika gadis itu selalu menangis setiap malam. Bahkan butuh waktu sekitar 6 bulan hanya untuk menghentikan mimpi buruknya. Mimpi akan kenangan-kenangan indah bersama Sai, namun saat terbangun itu semua menjadi mimpi buruk yang akan membuatnya lagi-lagi menangis.

Pemuda berkulit pucat itu menunduk. "Maaf, Ino. Tapi semua sudah terlambat. Aku sudah menyatakan perasaanku pada Hinata."

Ino tersentak karena syok. "A-apa?"

Untuk kedua kalinya pandangan mereka beradu. "Aku tidak bisa kembali lagi padamu."

.

_RDR_

.

BUGH

"BRENGSEK! Kau mau kita semua mati, hah?"

Naruto melayangkan tinjunya secara cuma-cuma di wajah mulus Sasuke, membuatnya jatuh tersungkur. Kesabarannya sudah habis. Apa yang baru saja dilakukan temannya itu benar-benar membuatnya kalang kabut. Sasuke mengelap bibirnya yang berdarah.

Tak jauh dari keduanya, mobil sport berwarna hitam mulus milik Sasuke itu menabrak sebuah pohon. Mobil yang mereka kendarai hampir saja bertabrakan dengan mobil lain. Kalau saja Sasuke tidak segesit itu, mungkin mereka semua sudah ada di rumah sakit. Beruntung sekitar jalan yang mereka lalui itu hanyalah tanah lapang dengan beberapa pohon. Walaupun sempat senam jantung, setidaknya mereka tak terluka.

"Hanya karena seorang perempuan kau menjadi seperti ini? Kau menyedihkan!" cibir Naruto yang langsung mendapat deathglare dari Sasuke.

"Naruto, sudahlah." Gaara berusaha melerai. Walaupun sejujurnya pemuda itu juga kesal, tapi menurutnya tak ada gunanya menyalahkan Sasuke. Bagaimanapun ia tahu rasanya patah hati. "Tidak ada gunanya kita bertengkar seperti ini," lanjutnya.

Ketiga pemuda itu lalu melirik Lamborghini Sasuke yang terlihat lumayan berantakan. "Selamat. Mobil kesayanganmu yang mahal itu harus masuk bengkel," ucap Naruto sarkastik. Rupanya pemuda penyuka ramen tersebut masih marah pada Sasuke.

Sasuke mendecih. Ingin rasanya ia membungkam mulut Naruto yang terkadang bisa menyebalkan seperti saat ini. Kalau saja tak ingat Naruto adalah sahabatnya, ia pasti sudah melakukannya. Ia mengamati mobilnya. Mobil pemberian kakek Madara yang ia sayangi, kini rusak karena kecerobohannya. Membutuhkan biaya yang tentunya tidak sedikit untuk memperbaiki mobil produksi Italia tersebut. Sasuke menggerutu dalam hati. Hari ini sepertinya merupakan hari sialnya.

Gaara menghela nafas. Diantara mereka bertiga memang pemuda inilah yang paling tenang saat menghadapi suatu masalah. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel.

"Aku akan menghubungi Kankurou agar menjemput kita," tuturnya dengan tenang. Mata jade-nya kemudian melirik Sasuke. "Kau, hubungilah bengkel langganan kita untuk mengurus mobilmu," katanya pada Sasuke.

"Hn."

.

_RDR_

.

Kediaman Hyuuga

"Kami-sama… apa yang harus kulakukan…" gumam Hinata seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tangan kananya bergerak pelan, meraih bantal empuk dengan model hati berwarna ungu –pemberian Hanabi saat ulang tahunnya. Sembari memeluk bantal ungu, gadis itu memejamkan mata lavender-nya.

Airmata merembes keluar dari kelopak matanya yang tertutup. Gadis bersurai indigo itu merasakan dadanya sesak. Menyesal telah membohongi Sasuke, namun hal itu tidak ada gunanya saat ini. Nasi sudah berubah menjadi bubur. Ia harus menanggung konsekuensi atas perbuatannya.

Bring the boys out

Girls' generation make you feel the heat

Jeon segyega neoreul jumogae

B-Bring the boys out
Wiipungdo dangdanghaji ppyeossokbuteo
Neon wonrae meotjyeosseo
You know the girls

Ringtone ponsel kesayangannya berbunyi. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas tersebut. Kedua manik lavender-nya melirik layar ponsel, mengecek siapa yang menelponnya.

Sai-senpai calling…

Hinata mendesah. Panik menyerang gadis berambut panjang itu. Ingin sekali ia mengangkat panggilan dari seniornya yang baik hati tersebut, namun kondisinya sedang tidak memungkinkan. Pikirannya kalut dan tidak tenang. Hinata masih galau karena Sasuke marah padanya.

Merasa saat ini belum siap untuk menerima telepon dari Sai, dengan berat hati Hinata membiarkannya. Setelah ringtone panggilan berakhir, ia segera mematikan ponselnya.

'Gomenasai, senpai …'

Perlahan, Hinata menghapus airmatanya. Tidak ada gunanya menangis seperti ini, pikirnya. Itu hanya aka menambah kegalauannya, dan tidak menyelesaikan masalah. Dua permasalahan harus ia hadapi. Pertama pernyataan Sai, dan kedua adalah kemarahan Sasuke.

Mengingat tentang kemarahan Sasuke lagi, perkataan pemuda itu muncul lagi di benaknya.

"Jadi itu alasanmu telat kemarin?"

"Lalu apa maksudnya pernyataan? Apa dia menyatakan cintanya padamu?"

"Dari awal aku memang sudah mengira kau baik padaku hanya karena kasihan. Sepertinya aku benar."

"Kau membuatku muak, Hyuuga!"

Bayangan Uchiha Sasuke yang menatapnya sinis kembali terbayang di pelupuk matanya, membuat hatinya bagai diiris sembilu. Sakura menyarankan untuk meminta maaf, dan bersikap seperti biasa besok pagi. Mungkin saja kemarahan Sasuke sudah mereda. Ia akan membuatkan bekal kesukaan pemuda penyuka tomat itu, mengajaknya makan siang bersama, meminta maaf dan mereka akan kembali berteman seperti sebelumnya. Hinata mengangguk mantap. Ya, Hinata akan mencobanya.

'Lalu, masalah pernyataan Sai-senpai …'

Sebenarnya sampai saat ini, Hinata belum mengerti kenapa ia tidak bisa langsung menjawab perasaan Sai.

"Sai-senpai itu baik… perhatian… tampan… dan juga hebat bermain tenis. Aku juga menyukainya sejak masuk Konoha Gakuen. Mungkin aku akan menerimanya." Irisnya kembali terpejam, mencoba membayangkan bagaimana seandainya ia dan Sai menjadi kekasih. Tapi tiba-tiba bayangan itu berubah.

'Sasuke.'

Ya, kini bayangan Sasuke yang muncul. Sosoknya saat mereka pertama kali berjumpa yang bagaikan malaikat, sosoknya yang menyeringai hingga Hinata menyebutnya Lucifer, sosoknya yang tertawa, sosoknya yang menangis saat kematian ayahnya dan juga sosoknya yang sedang marah. Berbagai ekspresi wajah Sasuke memenuhi pikirannya.

"Uuhh, Sasukeee…" desah Hinata seraya membalikkan tubuh dan membenamkan wajahnya ke bantal.

Cklek

Tiba-tiba pintu kamar Hinata terbuka dan muncullah sosok Neji. Sang kakak berambut panjang itu menatap adiknya heran.

"Hinata, kau sedang apa? Aku seperti mendengarmu menyebut nama Sasuke," tanya Neji dengan curiga. Sedari sekolah menengah pertama Neji memang tak pernah akur dengan Sasuke.

Hinata langsung duduk begitu mendengar suara kakaknya. "E-eh … Neji-nii …" ucapnya gugup.

Mendengar jawaban Hinata yang terbata-bata, Neji semakin curiga. "Ada apa? Sasuke kenapa? Dia tidak mengganggumu, kan?" tanya si kakak yang memang overprotective itu bertubi-tubi.

"T-ti-tidak ada apa-apa, Nii-san. Sungguh." Hinata berusaha meyakinkan kakaknya. Jangan sampai kakaknya tahu apa yang dilakukan Sasuke padanya. Ia tak mau menambah rumit masalah yang sudah ada.

Neji menyipitkan mata pearl-nya, semakin curiga. "Yakin?" tanyanya lagi karena tak puas dengan jawaban adiknya. Hinata mengangguk cepat. Neji hanya menghela nafas. "Kalau begitu tidurlah, sudah malam."

"I-iya, Nii-san."

.

_RDR_

.

Konoha Gakuen

Bersiap-siap untuk kelas, Hinata menuju ruang lokernya terlebih dahulu. Setelah mengganti sepatunya dengan uwabaki dan mengambil beberapa keperluan untuk hari ini, gadis itu berniat kembali ke kelas.

"Teme! Pokoknya kau tidak boleh menyetir hari ini!"

Deg

Hinata bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Teme? Ia tahu siapa orang yang baru saja disebut dan siapa yang mengatakannya. Menguatkan hatinya, gadis bersurai midnight blue tersebut berbalik. Dilihatnya tiga orang pemuda yang sudah familiar berjalan ke arahnya.

"Selamat pagi," ucap Hinata pada ketiganya.

Sasuke, Naruto dan Gaara terdiam melihat sikap gadis di depan mereka tersebut. Naruto ingin membalas sapaan Hinata—karena sebenarnya ia sendiri tak punya masalah dengan gadis itu, namun merasakan suasana canggung menyelimuti membuat pemuda itu memilih diam. Gaara yang memang aslinya pendiam juga tak mengatakan apapun.

Hinata menatap takut-takut ke arah Sasuke. Pemuda itu sedang menatapnya dengan pandangan sinis. Tak bisa berlama-lama beradu pandang, Hinata pun menunduk.

Duk

Iris Hinata melebar, namun tak ada satupun kata terucap dari bibir mungil gadis itu. Bahunya bergetar. Bukan karena baru saja ditabrak oleh bahu Sasuke, namun karena pemuda itu menunjukkan kalau ia belum memaafkannya. Sasuke melewatinya tanpa mengucapkan apapun. Hinata yakin, bahkan memandangnya pun sepertinya Sasuke enggan.

Sakit. Itulah yang dirasakan Hinata. Bohong kalau ia hatinya tidak gundah dengan kelakuan Sasuke. Perasaan bersalah lagi-lagi menggelayuti gadis itu.

Hinata menghirup nafas sambil memejamkan matanya—berusaha untuk tetap tenang. Bagaimanapun, ia harus menunjukkan kalau ia kuat.

'Aku tidak lemah. Aku pasti bisa bertahan.'

Cukup berat Hinata melalui jam-jam selanjutnya. Duduk berdekatan dengan orang yang sedang marah dengannya tentu tidak nyaman. Sasuke mendiamkannya, sama sekali tak mau bicara. Bahkan setiap Hinata berusaha mengajaknya bicara, pemuda itu selalu mengacuhkannya. Berusaha tegar, hanya itulah yang bisa Hinata lakukan.

Hinata menatap buku pelajarannya dengan wajah yang bisa dikatakan muram. Bukan karena pelajaran sosial yang memang tak terlalu disukainya, bukan juga karena yang mengajar di kelas adalah Mitarashi Anko yang terkenal galak, tapi karena apa yang baru saja dikatakan Anko-sensei.

"Kerjakan tugas secara berpasangan dengan teman sebangku kalian," seru Anko keras. Semua murid langsung terlihat sibuk bersiap-siap mengerjakan.

Hinata bisa melihat dari sudut matanya kalau Sasuke menaikkan tangan. Perhatian kelas langsung tertuju ke arah pemuda tampan itu.

"Ada apa, Uchiha Sasuke?" tanya Anko sambil kembali duduk di bangkunya.

Tanpa basa-basi, Sasuke langsung berdiri. "Aku ingin tukar bangku."

Anko mengernyitkan dahi. "Tidak usah macam-macam. Cepat kerjakan tugasmu! Tidak ada tukar-menukar tempat duduk."

Sasuke mendesah kesal. Berurusan dengan Anko-sensei memang tidak mudah. Merasa tak ada jalan keluar, bungsu Uchiha itu lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar—tanpa rasa bersalah.

"Tunggu. Kau mau kemana?" guru cantik yang galak itu langsung berdiri, menahan Sasuke.

"Lebih baik aku membolos daripada satu kelompok dengan orang itu." Sasuke mengendikkan kepalanya, mengarah ke Hinata. Seisi kelas langsung menoleh ke arah gadis malang tersebut. Beberapa siswa terlihat berbisik-bisik.

"Aku tak peduli apa masalahmu. Yang aku mau tahu, sekarang kerjakan tugasmu dengan pasanganmu. Tidak ada bantah-membantah atau aku akan menghukummu, Tuan Uchiha." Anko-sensei memberikan penekanan saat mengucapkan kata 'Tuan Uchiha', namun Sasuke lagi-lagi terlihat tak peduli.

Gadis bersurai indigo itu semakin menunduk saat berpasang-pasang mata terarah padanya. Tangan mungil Hinata meremas roknya sangat kuat, berusaha sekuat tenaga menahan airmata yang siap tumpah kapan saja. Sakit sekali rasanya mendengar Sasuke mengatakan hal itu. Secara jelas ia bisa mendengar teriakan Anko-sensei yang menyuruh Sasuke kembali ke tempat duduk, yang tentunya tak dipatuhi pemuda itu.

"Jangan menangis. Kalau marah dia memang seperti itu."

Hinata mendongak. Mata lavender-nya yang berkaca-kaca beradu dengan mata jade Gaara. Sahabat Sasuke itu memberikan pandangan yang seolah-olah mengatakan ia mendukung Hinata. Sebuah senyuman akhirnya muncul di wajah gadis tersebut. "Te-terima kasih, Gaara-kun."

.

_RDR_

.

Selama beberapa hari selanjutnya tak banyak yang berubah. Sasuke tetap enggan berbicara dengan Hinata. Bahkan pemuda itu sering membolos pelajaran hanya untuk menghindar. Sudah lebih dari tiga hari, Hinata merasakan tekanan karena sikap Sasuke. Sakura menyarankan agar Hinata membiarkannya dulu, tapi Ia tidak bisa membiarkan semua ini lebih lama lagi.

Dan disinilah Hinata sekarang. Di depan pintu apartemen Sasuke, menunggu kepulangan pemuda itu. Mengikuti saran yang didapat dari kedua sahabat Sasuke—yaitu Naruto dan Gaara— akhirnya membuat Hinata memutuskan untuk menemuinya secara pribadi.

Flashback

Ketiganya sedang duduk di sebuah kafe dekat Konoha Gakuen. Hinata yang meminta Naruto dan Gaara menemuinyasecara rahasia tentunya. Ia menjelaskan awal mula permasalahannya dengan Sasuke. Tapi tentu saja Hinata tidak menceritakan bagian dimana Sai menyatakan persaannya. Sesuatu terkadang memang lebih baik disembunyikan.

"Tolong aku, Gaara-kun, Naruto-kun." Hinata berujar pelan.

Naruto meneguk minuman yang dipesannya, segelas choco shake untuk menghilangkan dahaga setelah bermain bola. Kedua mata sapphire-nya kemudian menatap Hinata dengan serius. "Sasuke itudia paling benci dibohongi. Kau sendiri tahu 'kan, bagaimana permasalahan keluarganya? Semua berawal dari kebohongan ayahnya."

Hinata menunduk mendengar penuturan Naruto. Benar. Sasuke pernah menceritakan permasalahan keluarganya. Ia juga tahu bagaimana tersiksanya Sasuke mengetahui ayahnya seperti itu.

"Lebih baik kau menemuinya secara langsung," saran Gaara sembari menyesap iced mocca float miliknya.

"Buktikan padanya kalau kau menyesal, Hinata!" sambung Naruto lagi.

Hinata mengangguk. "I-iya. Terima kasih."

End of flashback

Kegiatan sekolah sudah berakhir sejak dua jam yang lalu. Setahunya, Sasuke tidak mengikuti kegiatan klub apapun, tapi mengapa pemuda itu belum pulang?

Hinata melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 5 sore. Menghela nafas, gadis itu berjalan menuju sebuah sofa yang terletak tak jauh dari kamar Sasuke.

'Aku harus menunggu sampai ia pulang,' tekadnya dalam hati.

Mengeluarkan ipod-nya, Hinata memutuskan untuk mendengarkan lagu sembari menunggu kedatangan Sasuke. Sesabar apapun gadis itu, yang namanya menunggu pasti sedikit membosankan. Hinata mulai memasang earphone di kedua sisi telinganya, dan mulai menghidupkan ipod berwarna soft pink tersebut. Kedua manik mutiaranya menelusuri layar yang menampilak daftar lagu yang tersimpan.

Bukan ide yang bagus kalau mendengarkan lagu-lagu galau yang malah akan membuatnya menangis, pikirnya. Jemarinya menekan ikon play, dan musik yang menurutnya mampu membuat semangatnya bangkit pun mengalun.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun belum ada tanda-tanda kepulangan Sasuke. Sambil bersandar, Hinata memejamkan matanya.

"Aku harus menunggunya…" gumam Hinata sebelum akhirnya terlelap—menuju alam mimpi.

.

_RDR_

.

BRAK!

Pintu lapangan tenis Konoha Gakuen terbuka, menampakkan sosok Sasuke yang terlihat berbeda dari biasanya—ia memakai baju tenis dengan tas raket di bahunya. Mata elangnya menyapu ruangan. Ia menyeringai melihat orang yang dicarinya tepat berada di dalam lapangan. Setidaknya ia tak perlu repot-repot.

"Sasuke, ada apa?" tanya Sai tenang. Tidak biasanya adiknya itu mau mengunjungi lapangan tenis. Bahkan menyapa saja Sasuke tidak pernah.

Pemuda berambut model spike itu menatap sinis kakak tirinya. "Aku ingin bertanding denganmu."

"Apa maksudmu Sasuke?" tanya Sai tak mengerti. Sebelah alisnya terangkat, menandakan pemuda itu sedang bingung.

"Karena kau menyebalkan. Dan aku membencimu," sahut Sasuke seenaknya.

Sasuke langsung mengeluarkan raketnya dan berjalan menuju ke tengah lapangan—bersiap untuk bertanding. Sai yang sebenarnya tak mengerti hanya mengangat bahu. Meladeni permintaan—atau lebih tepatnya paksaan adik tirinya, akhirnya Sai juga maju ke tengah lapangan. Kebetulan di sana juga ada Kiba yang merupakan salah satu anggota klub tenis. Setelah memintanya untuk menjadi wasit, keduanya mulai bertanding.

Tak!

Sasuke melakukan servis terlebih dulu. Sai yang memang merupakan atlet tenis memukul balik bola hijau itu tanpa kesulitan. Walaupun begitu, tapi permainan Sasuke juga tak kalah bagus dalam bermain tenis. Awal pertandingan berlangsung tanpa masalah, keduanya saling mengimbangi.

"Out! 12 – 13. Poin untuk Uchiha Sai." Kiba berkata selaku wasit.

Satu poin bertambah untuk Sai. Sasuke tak membiarkannya begitu saja. Pertandingan berlangsung dengan ketat. Berniat mendapatkan net point, Sasuke memukul balik bola yang baru saja di-serve oleh Sai.

"13 – 13. Poin untuk Uchiha Sasuke."

Sasuke menyeringai, ia tidak akan semudah itu dikalahkan. Walaupun tahu reputasi kakaknya, tapi ia tak gentar sama sekali. Selanjutnya, pertandingan berjalan dengan ketat. Keduanya saling susul-menyusul skor. Kiba sampai dibuat heran karenanya.

Tiga set permainan akhirnya berakhir. Dua set dimenangkan oleh Sai, yang artinya ia menjadi pemenangnya. Sasuke hanya menyeringai saat tahu dirinya kalah. Sejak awal, ia memang tidak berniat untuk menang. Ia menantang Sai hanya untuk memastikan sesuatu.

"Jadi, apa tujuanmu melakukan semua ini?" tanya Sai setelah pertandingan usai.

Sasuke hanya menatap kakak tirinya dengan datar. "Hanya ingin memastikan apa kau pantas menjadi kekasih Hinata atau tidak," jawabnya enteng. Dalam hati, Sasuke bisa merasakan dadanya sesak saat mengingat Hinata yang akan menjadi kekasih Sai.

Raut wajah Sai tampak terkejut, namun kemudian ia tersenyum. Ia mulai mengerti apa maksud Sasuke mengajaknya bertanding. "Apa kau tahu? Sampai sekarang, dia belum menjawab pernyataanku. Bahkan akhir-akhir ini Hinata seperti menghindariku."

"Apa?" Kali ini giliran Sasuke yang terkejut. 'Kupikir Hinata sudah menerimanya.'

Sai tersenyum lagi. "Mungkin, nanti malam aku akan menagih jawabannya."

.

_RDR_

.

Insiden yang terjadi beberapa hari lalu hingga Lamborghini hitamnya masuk ke bengkel membuat Sasuke harus menumpang mobil Gaara hari ini. Naruto juga melarangnya untuk menyetir beberapa hari ini, sampai pikirannya tenang. Sampai di kompleks apartemen Konoha, ketiganya bergegas turun dari mobil dan menuju ke ruangan masing-masing—yang memang berdekatan.

Melewati lobi apartemen mewah tersebut, Sasuke, Gaara dan Naruto kemudian memasuki elevator yang membawa mereka ke lantai tempat ruangan ketiganya berada. Penampilan Naruto terlihat berantakan karena tadi bermain bola dengan teman-teman sekelasnya. Gaara juga tak jauh berbeda, kemeja sekolahnya tak beraturan. Dasi yang tadi pagi masih terpasang rapi kini juga sudah tak ada. Sedangkan Sasuke, masih dengan pakaian tenisnya yang basah setelah bertanding dengan Sai. Melawan kakak tirinya itu ternyata menghabiskan energi yang banyak.

Begitu pintu elevator terbuka, ketiganya segera keluar menuju kamar masing-masing. Baru beberapa langkah,namun gerakan mereka terhenti saat melihat pemandangan tak biasa yang menyambut mereka. Biasanya yang mereka lihat setelah pintu elevator terbuka hanyalah ruang tunggu dengan sofa yang kosong. Sekarang, di salah satu sofa tersebut, seorang gadis yang bagitu familiar sedang tertidur tanpa pertahanan.

"Teme, sepertinya aku dan Gaara ada urusan." Naruto langsung menarik Gaara pergi—memanfaatkan kesempatan selagi Sasuke masih bengong.

"Brengsek," umpatnya begitu tahu Naruto dan Gaara sudah kabur. Pemuda itu menghela nafas, mengamati sosok gadis mungil yang tengah tertidur di sofa ruang tunggu. Ia baru saja berniat akan membiarkan gadis itu, namun perkataan Sai beberapa saat lalu membuatnya mengurungkan niat.

"Apa kau tahu? Sampai sekarang, dia belum menjawab pernyataanku. Bahkan akhir-akhir ini dia seperti menghindariku."

Dengan sedikit ragu, Sasuke mendekati Hinata yang masih terlelap. Earphone masih terpasang di kedua telinga gadis bersurai indigo tersebut. Wajahnya terlihat begitu damai. Satu helaan nafas menyusul, Sasuke mengangkat tubuh Hinata—menggendongnya dengan gaya yang sering disebut bridal style.

Sasuke sedikit kerepotan saat membuka pintu apartemennya, namun bukan Uchiha Sasuke namanya jika tak berhasil. Setelahnya ia langsung mendorong pintu berwarna coklat tua itu dengan kakinya. Sasuke membawa Hinata menuju kamarnya, berencana untuk membaringkan gadis itu di tempat tidurnya.

"Sepertinya tubuhnya lebih ringan dibanding dulu," gumam pemuda raven itu tanpa sadar. Sebelumnya ia memang pernah menggendong Hinata, saat Hinata pingsan karen tak sengaja melihatnya telanjang. Seandainya Sasuke tahu kalau beberapa hari ini Hinata jarang makan karena dirinya.

Baru saja Sasuke mamsuki kamarnya, ia merasakan kepala Hinata bergerak-gerak menggelitik dada bidangnya. Onyx-nya melirik gadis di pelukannya itu. Kelopak mata gadis itu perlahan-lahan terbuka, menampakkan iris lavender-nya.

"Engh …" lenguh Hinata, belum menyadari keadaannya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya bertatapan langsung dengan onyx milik Sasuke. Setelah beberapa detik, ia memejamkan lagi matanya. "Sepertinya aku bermimpi …" gumamnya.

"Cepat bangun, bodoh! Kau itu berat."

Snap

Kelopak mata gadis pemalu itu terbuka lagi dengan cepat. Sekali lagi manik matanya beradu pandang dengan milik Sasuke. Ia juga bisa merasakan kalau tubuhnya tak menapak tanah. Sadar kalau tubuhnya sedang digendong oleh Sasuke, wajahnya langsung memerah.

"S-S-Sasuke—"

Bruk

"Auw!" Hinata menjerit kecil saat Sasuke melemparnya ke ranjang—walaupun tidak cukup keras.

Memandangnya bosan, Sasuke melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya seolah meminta penjelasan kenapa gadis itu bisa tertidur di depan apartemennya.

"A-aku minta maaf," lirihnya. Ia menghirup nafas sejenak untuk menghilangkan kegugupan. "Aku memang bersalah, tapi—tapi aku tak bermaksud menyakitimu, Sasuke. A-aku juga tidak pernah mengasihanimu. Aku tidak tahu kenapa, t-tapi saat melihatmu terluka, aku merasa sakit. Aku hanya ingin membuatmu bahagia, s-seperti yang dirasakan teman-teman yang lain," jelas Hinata dengan susah payah.

"Hn," balas Sasuke datar. Ia lalu berjalan keluar, meninggalkan Hinata.

"Sa-Sasuke mau kemana?" tanya Hinata sedikit cemas.

"Mandi. Mau ikut?" seringai jahil muncul di wajahnya. Hinata menggeleng kuat seraya mengerucutkan bibirnya. Sasuke mendengus, kemudian keluar ruangan.

Hinata tersenyum, lega karena Sasuke memaafkannya. Ia mengingatkan dirinya agar besok berterima kasih pada Naruto dan Gaara.

Bosan karena tak melakukan apapun, Hinata memutuskan untuk memasak. Sepertinya Sasuke belum makan. Ia segera menuju dapur apartemen Sasuke. Beruntung Hinata pernah kemari sebelumnya, jadi ia sudah tahu ruangan-ruangan di sini.

Hinata sedikit mengeluh saat melihat isi kulkas Sasuke yang hanya berisi makanan siap saji. Ini benar-benar tidak sehat, pikirnya. Ia harus memberitahu Sasuke kalau makanan seperti itu tidak sehat nanti. Hinata segera memilah bahan-bahan yang bisa digunakan.

'Mungkin aku bisa membuat pancake,'

Dengan cekatan, Hinata mencampur beberapa bahan adonan untuk pancake. Ia tersenyum getir mengingat kalau selama ini Sasuke hidup sendirian.

Setelah adonan selesai, Hinata mulai menyalakan kompor. Ia mengoleskan minyak goreng di panci penggorengan anti lengket sebelum meletakkannya di atas kompor. Setelah cukup panas, dengan hati-hati gadis itu menuangkan adonan.

Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga Hinata menyelesaikan pancake-nya. Gadis itu kini mengoleskan selau blueberry untuk menambah rasa, kemudian menyajikannya di meja makan.

"Siapa yang mengizinkanmu memasak di dapurku?"

Suara yang tiba-tiba terdengar membuat Hinata sedikit berjengit kaget. Ia buru-buru menunduk, takut Sasuke marah lagi. "Maaf…"

"Yah … aku juga sedang lapar," ujar Sasuke datar.

Mendengar respon positif dari sang pemilik apartemen, Hinata pun mendongak. Déjà vu rasanya muncul di pikiran gadis itu. Sasuke, hanya berbalutkan handuk putih yang melilit di pinggangnya, dengan rambut yang masih basah. Hinata bersumpah, seandainya ia tidak menderita anemia pasti gadis itu sudah mimisan.

"S-Sasuke, pakai bajumu!" kata Hinata sambil mengalihkan pandangannya.

"Berisik," sungut Sasuke. Walaupun begitu ia tetap masuk ke kamarnya untuk memakai baju.

Hah

Hinata bernafas lega. Ia tak mau kejadian nista beberapa waktu lalu terjadi lagi. Cukup satu kali saja ia melihat keseksian Sasuke. Tunggu—

Apa Hinata baru saja memikirkan kalau Sasuke seksi?

"Kami-sama!" Hinata menutupi wajahnya yang memerah karena membayangkan yang tidak-tidak. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Drrt drrt drrt

Getaran ponselnya membuat Hinata segera menguasai dirinya agar tak panik. Ia mengecek siapa peneleponnya, nafasnya terasa tercekat melihat sebuah nama. Memejamkan mata, gadis itu berbisik. "Mungkin ini saatnya."

Ia menekan tombol terima dan langsung mendekatkan handphone tersebut ke telinganya. "Halo…"

"Hinata. Apa kau ada waktu sekarang?" tanya seseorang di seberang.

Hinata menatap meja makan yang tak lagi kosong. "Hm… mungkin. Ada apa, Senpai?"

"Aku tunggu di taman dekat rumahmu, ya?"

Jeda beberapa saat sebelum Hinata menjawab. Hinata membulatkan tekad, mungkin sekaranglah saatnya ia menyelesaikan masalah-masalahnya. Setelah menghadapi Sasuke, setelah ini giliran ia harus berhadapan dengan kakak tiri pemuda itu. Gadis itu mengangguk walaupun si penelepon jelas tak bisa melihatnya. "Baiklah. Aku akan kesana, Senpai."

"Terima kasih. Sampai jumpa nanti." Setelah mengatakan itu Sai memutuskan sambungan.

Hinata memasukkan ponselnya ke saku lagi. Ia berbalik dan tersentak mendapati Sasuke yang sudah berdiri di hadapannya. Hinata tidak bodoh, begitu juga dengan Sasuke. Ia yakin kalau Sasuke mendengar pembicaraannya dengan Sai.

"Aku harus pergi sekarang, Sasuke," ucap Hinata sambil berjalan pelan melewati Sasuke.

Greb

Tangan Sasuke dengan cepat langsung meraih tubuh mungil Hinata, memeluknya erat dari arah belakang. "Jangan pergi!" perintahnya.

Hinata berusaha melepaskan diri dari pelukan teman sekelasnya tersebut. Gadis itu meronta, namun kekuatan Sasuke tentu tak sebanding. "S-Sasuke—"

"JANGAN PERGI!" bentak Sasuke keras. Merasakan tubuh Hinata menegang, Sasuke mempererat pelukannya, seakan tak ingin melepaskan gadis tersebut. Ia harus mengatakannya sekarang, mengesampingkan harga diri, sebelum semua terlambat. Sasuke menunduk, berbisik tepat di telinga Hinata. "Tetaplah di sini. Jangan pergi—ke tempat Sai."

Hinata menggeleng pelan. Ia harus pergi, harus menjawab pernyataan dari Sai. Ia tidak mungkin membiarkan senpai-nya tersebut menunggu lebih lama lagi.

"Gomenasai…"

.

.

T.B.C

.

.

Yahai… fiuh *ngelap keringat*. Chapter yg panjang ya? Sebenarnya scene yg hinata tidur2 di kamar mau saya ilangin, tapi jiwa SONE saya mengatakan jangan , hohoho. Gomen ne …

Hm… apa ya kira-kira jawaban Hinata buat si Sai? ada yang mau nebak? ^.~

Aaa… tiba-tiba jadi ingat. Reviewer rdr berkurang banyak,, apa gara2 kelamaan apdet jadi pada bosen ya? Hikss *pundung di pojokan*.

Well, gapapa yang penting masih pada baca. ^^ Hoho. Balesin ripiu dulu ya :3

Yamanaka Emo: ohohoho… aku emang seneng bikin si sasu galau ^,~ . wele… bisa ngga ya si ama ino? keke. Ditunggu aja yaaa. Ino-nya bikin si sai sakit hati sih. :P . err… iyakah kaya gitu? Aku liat di buku adikku kok ngga dipisah ya?*plak*. Ah ngga papalah ya eyd nya salah2 dilit? Ehehe. Makasih ya dah ripiu emo-chaan ^^

Mizuki Kana: Iya! Si sasu emang ngga sabaran. ayo kita jitak bareng-bareng *dichidori*. Ahahahaa :DD. Liat nanti yaa. Makasih udah review. :D

Yanagi Xenophellish Hinagiku: Iya nih, sasu lagi pms sih jadi sensi banget gitu *diamaterasu*. Hoho, itu ide bagus. Tunggu aja yaa :DD. Tengso reviewnya.^^

Ai HinataLawliet: Hmm… iya emang Hina blum bisa tegas. Okee, ini udah di update. Makasih dah review Ai-chan ^^

Hyou Hyouichiffer: iyap… begitulah Hina. Dia pan lemot gitu *dichidori n dijyuken*. Aaa, jangan panggil senpai . Panggil Nee-chan aja :D *ngarep*. Ehehe :DD. Makasih udah review ^^

Animea Lover Ya-ha: Wah, nggapapa kok ^^. Benarkah? Makasih banyak yaa :D. ini udah ku apdet,makasih banyak review n favenyaa :D

Lollytha-chan: Ini udah ku updet kok ^^. Makasih reviewnya loli-chan :D

Yukio Hisa: ehehe, gomen lama apdet. Ini dah update kok. makasih reviewnyaa ^^

SuHi-18: hinata nya masih bingung… hehe. Nanti chap2 depan semoga dia udah sadar. :D makasih udah review ^^

Thi3x: Ngga telat kok Thieee . eits, Hina blum jawab lhooo. Keke :DD. Wah, makasih konkritnya. Dah lupa ama nih aku *plak* . oke, tunggu yaa. makasih banyak dah ripiu Thie-chan senpaiii :D

RK-Hime: bagus? Makasiii :* . hoho, sekarang udah ganti jadi The Boys! Pan Hinata tuh Sone. :DD . pertanyaannya gak aneh kok. makasih dah ripiuu ^^

Crimson Fruit: iya, sasu pan harga drinya tinggi , . ini udah update ^^. Makasih yaa ripiunya :D

Nakashima Yumi: iyaa. Ini udah update kok :D. makasih reviewnyaa ^^

Z: ini udah di updet kok ^^. Makasih reviewnyaaa ^^

Miwaki-chan: ini udah di update kok ^^. Jangan panggil senpai, aku blum senpai kok. hehe :D . makasih ya reviewnyaaa ^^

Untuk semua silent reader, makasih banyak juga yaa sudah mau baca ^^. Tapi alangkah baiknya kalau mau ikutan ripiu *digetok*. Hhe :D

Oke,, sekian dulu yaa. semoga chap ini pada ngga kecewa. Maap kalo mungkin ada typo, salah tanda baca dsb. ^^

Seperti biasa, komen, kritik, saran, konkrik dan sebagainya sangat diharapkan author demi kemajuan fanfic ini. hehe :DD

Jaa mate neee ~~~~

.

.

Silahkan tinggalkan jejak anda :DD